• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem merupakan kumpulan proses-proses yang saling terkait satu sama lainnya melalui berbagai hubungan sebab akibat secara timbal balik (Grant et al. (1997). Ekosistem hutan merupakan sistem alam yang terdiri dari komponen- komponen jasad hidup (tumbuhan, hewan dan manusia) dan lingkungannya yang diantaranya terjadi pertukaran zat dan energi, yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (Soerianegara, 1995).

Pada ekosistem hutan tegakan merupakan komponen penciri utama, yang memiliki pengaruh besar terhadap komponen lainnya, yang membentuk sebagai satu kesatuan ekologis. Dari dimensi manajemen, hutan memiliki ciri khas antara lain kesatuan antara sumber (resource) dan hasil. Pada hasil hutan kayu sifat ini dikenal dengan dua sifat dalam satu wujud, yang berarti hasil kayu dan sumber atau pabrik penghasil kayu itu dalam wujud yang sama yaitu tegakan. Demikian juga dengan satwa sebagai sumber dan sekaligus sebagai hasil berupa daging satwa. Oleh karena ada saling keterkaitan secara ekologis (ecological linkages) antara sumber dan hasil hutan itu. Pemanfaatan setiap jenis hasil hutan akan berpengaruh terhadap kondisi sumber hasil hutan tersebut, dan terhadap sumber serta hasil hutan yang lain.

Berdasarkan sifat khas hutan tersebut, maka untuk memperoleh hasil hutan (manfaat) yang melekat dengan sumbernya, akan menimbulkan kerusakan atau menghilangkan sumbernya. Dampak pemanfaatan itu dapat berupa kerusakan sumber hasil hutan lainnya, yang berarti pula mengurangi atau menghilangkan hasil hutan yang lain (trade off). Panayotou & Asthon (1992) menyatakan bahwa ada empat kemungkinan interaksi ekologis di antara berbagai macam hasil hutan itu 1) interaksi negatif sempurna, 2) interaksi positif, 3) interaksi fisik dan faktor pembatas lainnya tidak ada, tetapi ada interaksi negatif dari sosial ekonomi, 4) ada interaksi positif dan negatif.

Disisi lain, nilai atau persepsi individu dipengaruhi oleh kondisi hutan, hasil hutan dan oleh faktor-faktor sosial ekonomi, yang akan memunculkan preferensi tertentu bagi individu terhadap suatu hasil hutan maupun kondisi

ekosistem secara keseluruhan. Pada hasil hutan yang ketersediaannya sangat terbatas maka kesediaan membayar akan lebih tinggi dibandingkan dengan barang atau jasa hutan yang melimpah. Kesediaan membayar terhadap ekosistem hutan yang non guna, maka kesediaan membayar semakin tinggi pada kualitas ekosistem yang lebih baik dibandingkan ekosistem yang lebih rendah. Adanya interdependensi secara ekologis dan ekonomis ini, maka NET bukan penjumlahan secara independen nilai potensial masing-masing komponen ekosistem atau hasil hutan tersebut (Suhendang, 2004). Oleh karena itu penilaian NET seharusnya memperhatikan interaksi yang ada dengan pendekatan sistem alami (ekosistem) yang mencakup komponen fisik, hayati dan manusia menjadi model ekologis ekonomis.

Konstruksi model bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan tegakan melalui intensitas penebangan terhadap perubahan NET dan dampaknya

terhadap kepentingan stakeholders. Atas dasar tujuan tersebut maka, sistem

pendugaan NET ini dibangun meliputi subsistem tegakan, subsistem hasil hutan dari tumbuhan dan satwaliar (kayu dan non kayu), subsistem fungsi hidrologis,

subsistem NET ekosistem hutan dan distribusinya pada stakeholders. Variabel

pada model ekologis yang diteliti meliputi variabel-variabel yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tegakan dan komposisi jenis vegetasi, populasi satwaliar, tata air dan erosi, sedangkan pada model ekonomi meliputi kesediaan membayar atau harga, biaya pengelolaan hutan dan industri pengolahan kayu, serta tingkat pengembalian modal (suku bunga).

Komponen-komponen yang akan dikonstruksi dalam model ekologis dan

ekonomi dapat dikelompokkan atas lima (Grant et al. 1997) yaitu variabel

keadaan (state variable), variabel penggerak (driving variable) dan konstanta, variabel bantu (auxiliary variable), serta transfer materi dan informasi. Variabel keadaan merupakan titik akumulasi materi dalam sistem atau nilai yang menyatakan keadaan komponen sistem. Variabel penggerak merupakan komponen yang menggerakkan komponen lain, tetapi tidak dipengaruhi oleh komponen lain dari sistem tersebut. Konstanta merupakan nilai yang menggambarkan karakteristik sistem yang tidak berubah, atau tidak ada perubahan nilai untuk seluruh kondisi simulasi dalam model, berupa konstanta,

koefisien atau parameter. Variabel bantu merupakan variabel lain yang terjadi dan merupakan produk dari kalkulasi, atau sebagai bagian dari kalkulasi transfer materi. Transfer materi dan informasi merupakan transfer fisik materi dan informasi pada periode waktu tertentu yang dapat terjadi a) antara dua variabel keadaan, b) antara titik awal (source)dengan variabel keadaan, c) antara variabel keadaan dengan titik akhir (sink). Pengelompokkan variabel-variabel pendugaan NET disajikan pada Tabel 3, sedangkan kerangka pikir tentang keterkaitan dan pengaruh setiap variabel dengan tanda positif (meningkatkan) dan, atau negatif (menurunkan) terhadap variabel yang ditunjuk panah, di dalam model pendugaan NET ekosistem hutan disajikan pada Gambar 1.

Pertumbuhan tegakan diduga dengan model pertumbuhan pohon menurut kelas diameter. Penambahan stok tegakan (kerapatan tegakan) pada kelas diameter tertentu dipengaruhi oleh masuknya pohon pada kelas diameter tersebut (ingrowth), pengurangan karena berpindahnya pohon ke kelas diameter yang lebih

besar (upgrowth). Pengurangan stok tegakan bersumber juga dari penebangan

(panen) yang akan menambah besar hasil kayu, dan kematian pohon karena faktor alam dan dampak kegiatan penebangan. Dengan demikian intensitas penebangan akan berpengaruh terhadap perkembangan tegakan. Pada saat yang sama besar

ingrowth, upgrowth, yang mati dan hasil panen dipengaruhi oleh besar kerapatan tegakan.

Stok atau potensi tumbuhan dan satwaliar (pop TS non kayu) dipengaruhi oleh perkembangan stok tegakan, oleh karena itu penebangan tegakan berpengaruh negatif terhadap populasi atau potensi tumbuhan dan satwaliar penghasil non kayu. Panen hasil hutan non kayu akan meningkatkan hasil hutan non kayu, tetapi akan mengurangi potensi tumbuhan dan satwaliar. Atas dasar hal ini intenistas penebangan tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi potensi tumbuhan dan satwaliar. Di dalam konstruksi subsistem hasil hutan dari tumbuhan dan satwaliar, model matematik perkembangan stok tegakan akan didekati oleh variabel jangka waktu setelah penebangan.

Perkembangan kondisi tegakan dengan intensitas penebangan tertentu, seiring dengan jangka waktu setelah penebangan akan berpengaruh negatif terhadap besar erosi dan aliran permukaan (surface run off). Sebaliknya curah

hujan (CH) akan berpengaruh positif terhadap besar run off dan evapotranspirasi (ET). Run off akan berpengaruh positif atau meningkatkan hasil air atau debit sedangkan evapotranspirasi akan berpengaruh memperkecil hasil air. Disisi lain erosi akan berpengaruh negatif terhadap kualitas air.

Stok tegakan (+) NFHid (-/+) Erosi (-) Ingrowth (+) Upgrowth (-) Peneb. tegakan (-/+) jwsp (+/-) Pop TS non ky (-/+) Hsl ky (+/-) NGTS (+/-) HHNK (-/+) Panen NKy (-/+) CH (+) ET (-) R off (+) Hsl air (-/+) Harga/ WtP (+)

Kehati flora & fauna (+/-) NP/NK (-/+)

Stakeholders NET

Kematian (-)

Gambar 1 Kerangka pikir model pendugaan NET ekosistem hutan alam

Perkembangan tegakan juga diharapkan akan berpengaruh positif terhadap tingkat keanekaragaman hayati sebagai hasil dari proses suksesi.Keanekaragaman hayati ini mencakup flora, pada penelitian ini adalah tegakan pada tingkat pohon

dan satwaliar. Satwa liar mencakup jenis satwa yang masuk kelompok mamalia yang ruang geraknya atau hidupnya di permukaan tanah seperti rusa dan kancil, serta satwaliar kelompok burung atau aves.

Variabel harga atau kesediaan membayar akan berpengauh positif terhadap nilai masing-masing hasil hutan, yaitu hasil hutan kayu dan non kayu dari tumbuhan dan satwaliar (NGTS); nilai fungsi hidrologis (NFHid); nilai pilihan dan keberadaan dari perlindungan keanekaragaman hayati flora dan fauna. NET adalah penjumlahan dari NGTS, NFHid dan NP/NK, setelah mempertimbangkan keterkaitan atau pengaruh yang timbul terhadap setiap jenis hasil hutan yang dinilai akibat aktivitas penebangan tegakan untuk memperoleh hasil kayu.

NET terdistribusi kepada stakeholders, dan kepentingan stakeholders

dapat disimulasi melalui intensitas penebangan tegakan. Yang dimaksudkan dengan intensitas penebangan adalah rasio tegakan yang ditebang terhadap stok tegakan yang layak tebang menurut sistem TPTI. Intensitas penebangan 100% dianggap refleksi kepentingan pengelola hutan yang ingin memproduksi kayu secara maksimal. Intensitas 0% dianggap mewakili kepentingan masyarakat lokal ataupun kelompok konservasionis, kemudian intensitas 50% adalah intensitas diantara keduanya atau menengah, dan intensitas 76% menunjukkan intensitas penebangan minimum yang dipraktikan saat kini oleh pengelola hutan di lapangan (realisasi hasil logs rata-rata 47-56 m3/ha atau tegakan 67-79 m3/ha).

Model akan digunakan untuk mengetahui perilaku atau perkembangan

NET melalui simulasi dengan variabel keputusan (decision variable) adalah

intensitas penebangan 0%, 50%, 76% dan 100%, yang implikasinya dinilai melalui variabel indikator (indicator variable). Variabel indikator pada model ekologis adalah stok tegakan, potensi tegakan penghasil non kayu, populasi satwaliar, hasil hutan kayu dan non kayu; sedangkan pada model ekonomi adalah nilai guna dari tumbuhan dan satwaliar (NGTS) berupa kayu dan non kayu, nilai fungsi hidrologis (NFHid), nilai pilihan (NP) dan nilai keberadaan keanekaragaman hayati (NKkehati), serta distribusi NET yang diperoleh

Macam variabel setiap subsistem

Kelompok Tegakan Hasil hutan dari tumbuhan &

satwaliar

Fungsi hidrologis & erosi NET ekosistem hutan

Variabel keadaan

stok tegakan dari tiang sampai pohon diameter 60 up, jangka waktu setelah penebangan (jwsp)

akumulasi hasil hutan kayu & non kayu (getah, buah, rotan, bambu, satwaliar)

stok air tanah, air sungai, akumulasi erosi hara tanah

ak. subst hara, ak. hasil air,ak. nilai guna tumb & satwa ak. nilai fungsi hidrologis, ak NET ekosistem hutan & ak. NET bagi stakeholders

Variabel penggerak & konstanta

laju ingrowth &

upgrowth, laju kematian alami, laju penebangan, jumlah pancang, siklus tebang

laju panen hasil hutan non kayu (getah buah,rotan bambu, satwaliar), vol kayu per pohon, tingkat

produktivitas getah & buah

luas areal, koef manning, lereng, curah hujan, laju evapotranspirasi, fraksi hara tanah

hasil kayu & non kayu, laju konsumsi air, harga kayu olahan, harga non kayu & pupuk, musim, nilai tukar, suku bunga, erosi hara tanah,faktor substitusi Variabel

bantu

laju kematian akibat penebangan, tebangan total

jangka waktu setelah peneb.,fungsi populasi non kayu, efek tebang, potensi non kayu

jangka waktu setelah peneb.,koef runoff, efek tebang, SDR, fungsi erosi,debit aliran sedimen

jangka waktu setelah peneb.,debit, conversion return, kualitas air, fungsi WtP air,f kehati, f WtP kehati,

stakeholders

Transfer materi

ingrowth & upgrowth

dari tiang sampai pohon diameter 60 up, tegakan mati &

ditebang

hasil hutan kayu & non kayu (getah buah, rotan bambu & satwaliar)

surface & subsurface runoff, air masuk

sungai,debit air, erosi hara tanah

PV nilai guna tumb &

satwaliar, PV nilai air & subst hara, PV nilai fungsi

hidrologis,PV nilai pilihan & keberadaan, PV NET & bagi

stakeholders

Tabel 3 Pengelompokkan variabel-variabel pada pendugaan NET ekosistem hutan alam produksi

Dalam konteks pengelolaan hutan pendugaan NET seharusnya mampu memberikan informasi untuk penetapan pilihan tentang tujuan dan bentuk pengelolaan hutan, ataupun evaluasi suatu kegiatan pengelolaan hutan. Informasi atau evaluasi ini mencakup tiga kriteria yaitu a) pertama menyangkut maksimasi NET, b) kedua adalah pencapaian kondisi ekosistem yang diinginkan atau pencapaian kelestarian sumberdaya hutan, c) ketiga adalah distribusi NET yang

dapat dicapai melalui harmonisasi kepentingan dan tanggungjawab stakeholders

atau kesejahteraan stakeholders.

Ekosistem hutan

Lokasi dan Waktu Penelitian

Pemilihan lokasi penelitian mempertimbangkan kesamaan ekosistem dengan beberapa lokasi penelitian flora fauna dan nilai hutan yang pernah dilakukan, karena hasil penelitian di lokasi lain akan digunakan sebagai data sekunder pembentukan atau pengujian model penilaian ekosistem hutan ini (pendekatan analogi maupun similaritas). Lokasi penelitian adalah ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dan bukit, pada lokasi contoh hutan alam produksi pada areal kerja PT SBK Unit Seruyan, tepatnya berada di Sub DAS Katingan. Letak geografis antara 111°39’ – 112°25’ Bujur Timur dan 00°36’ – 01°10’ Lintang Selatan. Hutan ini memiliki luas 147.600 ha, pada ketinggian tempat sebagian besar berada antara 100-500 m dpl, bagian lainnya antara 500- 1.180 m dpl. Areal lebih kurang sebesar 79% berada di Kabupaten Katingan

Gambar 2 Hubungan NET dan keputusan pengelolaan ekosistem hutan NET (NGTS + NFHid + NP + NKkehati) Kelestarian SDH Keputusan pengelolaan Kesejahteraan stakeholders NET maksimum

(bagian hulu Sub DAS Katingan) dan 21% di Kabupaten Seruyan (bagian hulu Sub DAS Seruyan).

Pengumpulan data primer dilakukan pada September – Oktober 2005 di lokasi blok hutan contoh maupun desa-desa contoh yang dipilih secara purposif, di dalam dan sekitar hutan yaitu Desa Tanjung Paku Kecamatan Seruyan Hulu, Tumbang Keburai Kecamatan Katingan Hulu, dan Desa Nanga Siai Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat (lokasi penelitian berada di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat).

PT SBK

Gambar 3 Lokasi penelitian hutan alam produksi PT SBK Unit Seruyan Kalteng

Metode Pengumpulan Data

Data yang diperlukan mencakup data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari hasil-hasil penelitian di lokasi hutan alam produksi PT SBK, dan di lokasi lain yang relevan dari segi kondisi ekosistem dan jenis informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian ekosistem hutan alam produksi ini. Jenis dan sumber data sekunder yang dikumpulkan sebagai berikut :

1) Data inventarisasi tegakan (potensi hasil kayu dan non kayu) di hutan primer dan hutan bekas tebangan berbagai lokasi menurut tahun penebangan, hasil

pengukuran pada plot ukur permanen selama delapan tahun di areal PT SBK dan data-data di lokasi lain (PT SBK, 1990-2006; Burhanuddin, 1997; Lubis, 1997; Pratiwi, 2000; Kim, 2001; Dephut, 2005).

2) Data pengukuran besar erosi di lokasi blok hutan bekas tebangan sistem TPTI selama tiga tahun dan sistem TPTJ selama 5 tahun pengukuran (PT SBK, 2001-2005). Penelitian erosi hutan bekas tebangan di lokasi hutan alam produksi Kalteng (Ether, 2002). Data koef runoff di hutan sebelum dan setelah

penebangan (Hendrayanto et al, 2003). Data evapotranspirasi hutan atau

menurut jenis (LP-IPB, 1990; Pujiharta, 1995)

3) Data inventarisasi satwaliar di berbagai lokasi blok hutan menurut tahun

penebangan atau kerapatan tegakan di lokasi penelitian (PT SBK, 2004) dan lokasi lain (Lamin, 1997; Fakultas Kehutanan IPB, 1999; Fakultas Kehutanan IPB & PT Restorasi Ekosistem Indonesia, 2006).

4) Data penelitian dinamika tegakan hutan alam produksi di lokasi lain yang

memiliki ekosistem yang relatif sama dengan lokasi penelitian yaitu di areal PT Inhutani I Propinsi Kalimantan Selatan (Indrawan, 2000) dan data efek penebangan terhadap kerusakan tegakan (Elias et al., 1993).

5) Data penelitian nilai ekonomi total di beberapa lokasi hutan alam produksi

yang memiliki kesamaan ekosistem hutan dengan lokasi penelitian (Fakultas Kehutanan IPB, 1999; Kim, 2001), di hutan konservasi (Rofiko, 2002; Bahruni et al, 2002), di agroforestry (Supriatna, 2007).

6) Data biaya pengelolaan hutan produksi dan industri pengolahan kayu serta

pendapatan penjualan kayu olahan di PT SBK dan industri terkait.

7) Data harga damar, tengkawang, jelutung, nyatoh, buah-buahan, rotan, bambu,

rusa, kijang, kancil, babi dan burung (Fakultas Kehutanan IPB & PT Restorasi Ekosistem Indonesia, 2005; Fakultas Kehutanan IPB, 1999).

8) Data kondisi sosial ekonomi penduduk Desa Tanjung Paku, Desa Tumbang

Keburai dan Desa Nanga Siai (PT SBK 2005).

Data primer dikumpulkan dengan cara pengambilan contoh, melalui kegiatan inventarisasi vegetasi, inventarisasi satwaliar dan wawancara responden rumah tangga di desa contoh. Data tentang vegetasi atau tegakan dan satwaliar diperlukan untuk mengetahui perkembangan tegakan setelah penebangan, potensi

tumbuhan penghasil non kayu dan satwaliar. Data sosial ekonomi dan nilai ekosistem diperlukan untuk menggambarkan nilai ekonomi ekologi bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Data primer yang dikumpulkan adalah :

1) Data vegetasi meliputi kerapatan tegakan, potensi tegakan, indeks nilai

penting, indeks keanekaragaman jenis.

2) Data satwaliar meliputi jenis satwaliar (rusa, kijang, kancil, babi dan

kelompok burung), populasi dan keanekaragaman jenis.

3) Data erosi hasil pengukuran pada plot erosi pada blok hutan bekas tebangan.

4) Data sosial ekonomi masyarakat meliputi jumlah anggota keluarga,

pendidikan, pendapatan, identifikasi jenis hasil hutan yang dimanfaatkan, volume pemanfaatan hasil hutan, preferensi hasil hutan, harga jual hasil hutan, kesediaan membayar hasil hutan termasuk juga simulasi kesediaan membayar air konsumsi rumah tangga menurut kualitas air.

Berdasarkan kebutuhan itu dilakukan pengambilan contoh blok hutan setelah penebangan dan desa contoh secara purposif. Blok hutan terpilih adalah hutan primer (blok RKT 2006) dan hutan bekas tebangan (eks penebangan TPTI tahun 1990/1991, 1995/1996, 1999/2000) dan eks penebangan TPTJ tahun 1999/2000-2004 (t=1,2,3,4,5,10,15 setelah penebangan). Pemilihan hutan bekas tebangan TPTI dan TPTJ adalah untuk memperoleh data pengaruh perbedaan intensitas penebangan, yang akan digunakan di dalam proses simulasi intensitas penebangan. Desa contoh dipilih berdasarkan pertimbangan kemudahan akses menuju desa dan berdasarkan besarnya interaksi masyarakat desa dengan hutan di sekitarnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut diambil tiga desa contoh dari sebelas desa yang ada di areal kerja PT SBK, yaitu dua desa di dalam hutan (Desa Tanjung Paku Kecamatan Seruyan Hulu dan Desa Tumbang Kaburai Kecamatan Katingan Hulu) Provinsi Kalimantan Tengah dan satu desa di luar hutan (Nanga Siai Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi Provinsi Kalimantan Barat (di perbatasan Kalimatan Tengah dan Kalimantan Barat).

Inventarisasi vegetasi dilakukan pada setiap blok hutan terpilih dengan metode kombinasi metode jalur (strip transect) untuk risalah pohon dan metode garis berpetak untuk risalah permudaan. Garis transek diletakan secara acak pada petak yang ada di blok hutan contoh tertentu. Pada garis transek sepanjang 1 km

dibuat petak-petak pengukuran vegetasi yaitu a) petak pengukuran pohon adalah 20 m x 20 m, b) petak pengukuran tiang adalah 10 m x 10 m, c) petak pengukuran pancang adalah 5 m x 5 m, d) petak pengukuran semai dan tumbuhan bawah adalah 2 m x 2 m (Soerianegara dan Indrawan, 1983).

Inventarisasi satwaliar dilakukan pada lokasi contoh yang sama dengan vegetasi, menggunakan metode transek garis (Alikodra, 2002). Waktu pengamatan dua kali yaitu pada pagi hari pukul 05.30 – 08.30 dan sore hari pukul 15.30 – 18.00.

Wawancara mendalam (deep interview) untuk mendapatkan informasi

persepsi atau preferensi terhadap manfaat hutan, perkembangan kondisi hutan, pelestarian, dan keperdulian terhadap kondisi hutan, tingkat pemanfaatan dan harga (WtP) hasil hutan. Khusus untuk penggalian WtP digunakan metode kontingensi, dan harga menggunakan informasi harga pada tingkat lokal atau desa. Khusus untuk harga kayu atau tegakan menggunakan metode nilai sisa turunan. Wawancara dilakukan kepada 31 rumah tangga (RT) responden dipilih secara acak. Jumlah responden masing-masing di Tanjung Paku 15 RT (16% penduduk), Tumbang Kaburai 6 RT (10%), Nanga Siai 10 RT (13%). Di samping itu data persepsi, pemanfaatan dan harga juga diperoleh dari data IPB dan Dephut, 1999.

Metode Analisis Data

Data primer dan sekunder dianalisis sesuai keperluannya sebagai berikut.

1) Analisis vegetasi meliputi analisis Indeks Nilai Penting (INP) dan indeks

keanekaragaman. INP = KR + FR + DR, KR adalah kerapatan relatif, FR adalah frekuensi relatif dan DR adalah dominansi relatif (Mueller-Dombois dan Ellenberg, 1974; Cox, 1975; Michael ,1985; Soerianegara dan Indrawan, 1983). Keanekaragaman jenis dianalisis dengan Indeks Keanekaragaman

Shannon-Wiener (Shannon Index of Diversity) dengan rumus

, dan

= (pi.lnpi)

H pi=ni/N , yaitu H adalah indeks keanekaragaman

jenis, ni adalah INP suatu jenis dan N adalah INP seluruh jenis (Krebs, 1989; Santoso, 1995, Thohari, 1995). Pertumbuhan atau dinamika tegakan dianalisis dengan model pertumbuhan klas diameter, yaitu Nk,t+1 = Nk,t +Ik

- Uk - Mk - Hk, Nk,t+1 adalah jumlah pohon kelas diameter k pada periode t+1;

Nk,t adalah jumlah pohon kelas diameter k pada periode t; Ik adalah ingrowth

ke kelas diameter k selama periode; Uk adalah upgrowth dari kelas diameter k

selama periode; Mk adalah mortalitas pada kelas diameter k selama periode;

Hk adalah jumlah pohon yang dipanen pada kelas diameter k selama periode

(Michie, 1985; Michie & McCandless, 1986; Davis & Johnson, 1987; Vanclay, 1994; Tarumingkeng, 1994; Suhendang, 1999). Perkembangan potensi hasil non kayu menggunakan analisis regresi linier atau non linier, yaitu Yp= f(u), Yp adalah prosentase tegakan penghasil getah dan buah dari stok tegakan, u adalah jangka waktu (umur) setelah penebangan. Potensi tegakan penghasil getah dan tengkawang dihitung dengan prosentase dari tegakan komersial berdiameter > 30 cm, sedangkan untuk tegakan penghasil buah adalah prosentase dari tegakan non komersial.

2) Analisis satwaliar meliputi analisis populasi dan keanekaragaman jenis

satwaliar menggunakan rumus pada analisis vegetasi di atas (Krebs,1989; Santosa ,1995; Thohari, 1995; Alikodra, 2002). Analisis populasi satwaliar diberbagai kondisi hutan (jangka waktu setelah penebangan) menggunakan metode regresi linier atau non linier yaitu Ys= f(u), dimana Ys populasi satwaliar per hektar, u adalah jangka waktu setelah penebangan.

3) Analisis fungsi hidrologis dan erosi dilakukan dengan regresi linier dan non linier dari data pengukuran erosi tahun 2001-2005 di areal PT SBK. Ada dua macam data erosi yaitu data erosi dengan pengukuran metode stik dan metode petak ukur erosi ukuran 2 m x 22 m. Erosi dengan metode stik diperoleh dari perkalian volume tanah dengan bulk density tanah. Volume tanah diperoleh dari selisih pengukuran tinggi stik awal dan akhir serta luas areal. Data erosi metode petak ukur diolah sebagai berikut. Data erosi bulanan contoh tahun tertentu (Ebt) diperoleh dari perkalian rata-rata erosi per milimeter curah

hujan dengan curah hujan bulanan. Pendugaan erosi bulanan pada tahun tertentu adalah fungsi erosivitas hujan bulanan pada tahun bersangkutan

. EI )

(EI30 f

Ebt = 30 dihitung dengan formula Bols yaitu

, CH adalah curah hujan bulanan dalam sentimeter, JHH adalah jumlah hari hujan per bulan, curah hujan

53 , 0 max 47 , 0 21 , 1 30 6,119 CH JHH CH EI = + b b

maksimum dalam 24 jam setiap bulan (Sinukaban, 1989). Data erosi tahunan (Ee) diperoleh dari penjumlahan Ebt pada tahun t. Model penduga erosi

tahunan dibangun dari fungsi jangka waktu setelah penebangan yaitu . Analisis hasil air dengan metode neraca air P

) (u f

Ee = g = Et + Q + ∆S,

dan Q= SR + SSR; Pg adalah curah hujan, Et adalah evapotranspirasi, Q

adalah aliran sungai, ∆S perubahan stok air tanah, SR adalah surface runoff

dan SSR adalah subsurface runoff. Kualitas air dianalisis dengan hubungan fungsional antara erosi tanah (Ee), debit air (Q), debit aliran sedimen(Qs). Qs=

SDR x Ee , , A adalah

luas areal, koefm adalah koefisien manning (Manan, 1976; Arsyad, 1992; Handayani & Tjakrawarsa, 2006).

202 , 0 202 , 0 )/(2( )] 2 868 , 0 1 ( [ − − + + −

= lereng A lereng koefm A SDR

4) Analisis nilai ekonomi ekosistem hutan menggunakan metode nilai sisa