METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan tanggal 20 Pebruari selama 2 minggu pada Lab. Pengujian Mesin Fakultas Teknik Universitas Pattimura
3.2. Variabel penelitian
Pengertian dari variabel bebas adalah merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya variable dependent (varibel terikat). Jadi variable independent adalah variabel yang mempengaruhi. Sedangkan pengertian dari variabel terikat adalah variabel yang di pengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
1. Variabel bebas : - Viskositasnya Absolut (µ)
- Densitas fluida( )
2. Variabel terikat : - x = Osilasi ( perpindahan)
- v = kecepatan osilasi
-
a
= percepatan osilasi 3.3. Alat dan Bahan Penelitian1) Alat :
Hand-held Analyzers Type 2250 Tachometer
Personal komputer
Alat uji shock absorber (Motor 1 phase 0,4 HP Ex.Wipro) Gelas ukur (100ml)
Botol sampel (11pcs) Jangka sorong
Micrometer
Bola peluru plastik (0,0584cm) Timbangan analog
Stopwacth 2) Bahan :
Oli shock absorber (Yamalube, Jumbo)
Telescopic Shock Absorber Yamaha Jupiter 135 CC
3.4 Metode Analisa Data
Setelah data yang diperoleh, selanjutnya adalah menganalisa data dengan cara mengolah data yang sudah terkumpul untuk mendapatkan nilai variasi campuran yang ditampilkan dalam bentuk grafik-grafik.
3.5 Mekanisme Percobaan
Gambar 3.2 Mekanisme Percobaan 3.6. Prosedur Percobaan
Prosedur dari penelitian ini dapat dijelaskan :
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Pemasangan Shock Absorber pada Alat uji
3. Melakukan pemasangan alat ukur pada Telescopik Shock Absorber 4. menyeting alat ukur Analyzer dengan ketentuan yang telah ditetapkan
5. menjalankan Alat uji dan Alat ukur Hend-helds Analyzer dengan selang waku 30 detik untuk pengambilan data.
6. Setelah pengambilan data, kemudian data di konfersi ke computer dengan menggunakan Software vibrasi BZ-5503, sehingga terbaca grafik
3.7. Diagram Alir
Agar penelitian dapat berjalan secara sistematis, maka diperlukan rancangan penelitian/langkah-langkah dalam penelitian. Adapun diagram alir penelitian sebagai berikut :
Gambar 3.3 Diagram Alir Penelitian Start Studi Pustaka Perumusan Masalah Desain Peralatan Penguraian Data Pengujian Perhitungan EFISIENSI Analisa Dan Pembahasan
Kesimpulan
Stop
NO
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
4.1.1. Karkteristik respon frekuensi Yamalube Oil dalam bentuk (Peak-Peak) untuk Displacement, Velocity, dan Acceleration
hasil eksperimen redaman dengan Yamalube yakni ; 50.6 (g/ml) dengan selang waktu 30 detik, memperlihatkan perubahan respon frekuensi (Perpindahan, Kecepatan, dan Percepatan) pada Gambar (4.1) dan Gambar (4.2).
2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 60 80 100 120 140 160 [dB re 1pm]
Displacement Cursor values
X: 10.05 kHz FFT: 78.5 dB re 1pm
Gambar 4.1 Grafik nilai-nilai karakteristik respon frekuensi Yamalube Oil
dalam bentuk (RMS) untuk Displacement, Velocity, dan
Acceleration 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 100 120 140 160
[dB re 1nm/s] Velocity Cursor valuesX: 10.05 kHz FFT: 114.5 dB re 1nm/s 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 130 140 150 160 170
[dB re 1µm/s²] Acceleration Cursor values
X: 10.05 kHz
Gambar 4.2 Grafik nilai-nilai karkteristik respon frekuensi Yamalube Oil dalam bentuk (Peak-Peak) untuk Displacement, Velocity, dan
Acceleration 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 60 80 100 120 140 160 180 [dB re 1pm]
Displacement Cursor values
X: 10.05 kHz FFT: 87.5 dB re 1pm 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 100 120 140 160
[dB re 1nm/s] Velocity Cursor valuesX: 10.05 kHz
FFT: 123.5 dB re 1nm/s 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 140 150 160 170 180
[dB re 1µm/s²] Acceleration Cursor values
X: 10.05 kHz
Sebagai mana terlihat pada gambar 4.1 dan 4.2. Bahwa respon frekuensi yang terjadi dalam bentuk (RMS dan Peak-Peak) pada perlakuan Yamalube Oil, mempunyai perbedaan terhadap Displacement, velocity, dan Acceleration.
4.1.2 Hasil Karakteristik Respon Frekuensi Untuk Perlakuan Jumbo Oil Dalam Bentuk (RMS dan Peak-Peak)
Hasil eksperimen Jumbo yakni ; 45.0 (g/ml) dengan selang waktu 30 detik,
memperlihatkan perubahan respon frekuensi (Perpindahan, Kecepatan, dan
Percepatan) pada Gambar (4.3) dan Gambar (4.4)
2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 80 120 160 200
[dB re 1pm] Displacement Cursor valuesX: 10.05 kHz FFT: 73.9 dB re 1pm 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 100 120 140 160 180 200
[dB re 1nm/s] Velocity Cursor valuesX: 10.05 kHz FFT: 109.9 dB re 1nm/s
Gambar 4.3 Grafik nilai-nilai karakteristik respon frekuensi Jumbo Oil dalam bentuk (RMS) untuk Displacement, Velocity, dan Acceleration 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 140 150 160 170 180 190 [dB re 1µm/s²]
Acceleration Cursor values
X: 10.05 kHz FFT: 145.9 dB re 1µm/s² 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 80 120 160 200
[dB re 1pm] Displacement Cursor valuesX: 10.05 kHz FFT: 83.0 dB re 1pm
Gambar 4.4 Grafik nilai-nilai karakteristik respon frekuensi Jumbo Oil dalam bentuk (Peak-Peak) untuk Displacement, Velocity, dan
Acceleration
Sebagai mana terlihat pada gambar 4.3 dan 4.4 Bahwa respon getaran yang terjadi dalam bentuk (RMS dan Peak-Peak) pada perlakuan Jumbo Oil mempunyai perbedaan terhadap Displacement, velocity, dan Acceleration.
2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 120 140 160 180 200
[dB re 1nm/s] Velocity Cursor values
X: 10.05 kHz FFT: 118.9 dB re 1nm/s 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 150 160 170 180 190 200
[dB re 1µm/s²] Acceleration Cursor valuesX: 10.05 kHz FFT: 154.9 dB re 1µm/s²
4.1.3 Hasil Karakteristik Respon Frekuensi Untuk Perlakuan Ke-1 Dalam Bentuk (RMS dan Peak-Peak)
Hasil eksperimen dengan memvariasikan campuran oli redaman Yamalube dan Jumbo yakni ; 46.1 (g/ml) dengan selang waktu 30 detik, memperlihatkan perubahan respons getaran (Perpindahan, Kecepatan, dan Percepatan) pada Gambar (4.5) dan Gambar (4.6) 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 20 40 60 80 100 120
[dB re 1pm] Displacement Cursor valuesX: 10.05 kHz
FFT: 32.9 dB re 1pm 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 60 80 100 120
[dB re 1nm/s] Velocity Cursor valuesX: 10.05 kHz FFT: 68.9 dB re 1nm/s
Gambar 4.5 Grafik nilai-nilai karakteristik respon frekuensi perlakuan Ke-1 dalam bentuk (RMS) untuk Displacement, Velocity, dan
Acceleration 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 90 100 110 120 130 [dB re 1µm/s²]
Acceleration Cursor values
X: 10.05 kHz FFT: 104.9 dB re 1µm/s² 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 20 40 60 80 100 120 140
[dB re 1pm] Displacement Cursor valuesX: 10.05 kHz
Gambar 4.6 Grafik nilai-nilai karakteristik respon frekuensi perlakuan ke-1 dalam bentuk (Peak-Peak) untuk Displacement, Velocity, dan
Acceleration.
Sebagai mana terlihat pada gambar 4.5 dan 4.6 Bahwa respon getaran yang terjadi dalam bentuk (RMS dan Peak-Peak) pada perlakuan ke-1 dengan variasi campuran oli redaman yang sama, mempunyai perbedaan terhadap Displacement,
velocity, dan Acceleration.
2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 60 80 100 120 [dB re 1nm/s]
Velocity Cursor values
X: 10.05 kHz FFT: 77.9 dB re 1nm/s 2k 4k 6k 8k 10k 12k 14k 16k 18k 20k [Hz] 100 110 120 130 140
[dB re 1µm/s²] Acceleration Cursor valuesX: 10.05 kHz FFT: 113.9 dB re 1µm/s²
4.2 Pembahasan
Dari hasil karakteristik getaran respon frekuensi untuk 1050 (Hz) pada setiap perlakuan dapat diperoleh RMS (Root Mean Square) dan Peak-Peak mengalami perubahan simpangan akibat tahanan fluida karena kekentalan dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.7 Grafik Karakteristik getaran untuk FFT dalam bentuk (RMS)
Data yang diperoleh dari penelitian adalah getaran respon frekuensi dari tiap-tiap perlakuan. Kemudian data dari pengaruh fluida dibuat dalam bentuk grafik. Berdasarkan grafik yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa pada perlakuan dalam bentuk RMS (Root mean Square). Untuk RMS dalam perlakuan Displacement didapatkan FFT (Fast Fourier Transform) pada fluida jumbo oil dengan frekuensi 1050 Hz (frekuensi input dari alat ukur) sebesar 73,9 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity sebesar 109.9 m/s dan perlakuan dalam bentuk Acceleration sebesar 145.9 m/s2. Sedangkan pada fluida yamalube oil dengan frekuensi yang sama unuk
0 50 100 150 200 Jumbo oil 73.9 4.2 Pembahasan
Dari hasil karakteristik getaran respon frekuensi untuk 1050 (Hz) pada setiap perlakuan dapat diperoleh RMS (Root Mean Square) dan Peak-Peak mengalami perubahan simpangan akibat tahanan fluida karena kekentalan dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.7 Grafik Karakteristik getaran untuk FFT dalam bentuk (RMS)
Data yang diperoleh dari penelitian adalah getaran respon frekuensi dari tiap-tiap perlakuan. Kemudian data dari pengaruh fluida dibuat dalam bentuk grafik. Berdasarkan grafik yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa pada perlakuan dalam bentuk RMS (Root mean Square). Untuk RMS dalam perlakuan Displacement didapatkan FFT (Fast Fourier Transform) pada fluida jumbo oil dengan frekuensi 1050 Hz (frekuensi input dari alat ukur) sebesar 73,9 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity sebesar 109.9 m/s dan perlakuan dalam bentuk Acceleration sebesar 145.9 m/s2. Sedangkan pada fluida yamalube oil dengan frekuensi yang sama unuk
Jumbo oil yamalube oil
73.9 78.5
109.9 114.5
145 150.4
Displacement Velocity Acceleration
4.2 Pembahasan
Dari hasil karakteristik getaran respon frekuensi untuk 1050 (Hz) pada setiap perlakuan dapat diperoleh RMS (Root Mean Square) dan Peak-Peak mengalami perubahan simpangan akibat tahanan fluida karena kekentalan dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.7 Grafik Karakteristik getaran untuk FFT dalam bentuk (RMS)
Data yang diperoleh dari penelitian adalah getaran respon frekuensi dari tiap-tiap perlakuan. Kemudian data dari pengaruh fluida dibuat dalam bentuk grafik. Berdasarkan grafik yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa pada perlakuan dalam bentuk RMS (Root mean Square). Untuk RMS dalam perlakuan Displacement didapatkan FFT (Fast Fourier Transform) pada fluida jumbo oil dengan frekuensi 1050 Hz (frekuensi input dari alat ukur) sebesar 73,9 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity sebesar 109.9 m/s dan perlakuan dalam bentuk Acceleration sebesar 145.9 m/s2. Sedangkan pada fluida yamalube oil dengan frekuensi yang sama unuk
perlakuan Displacement sebesar 78.5 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity 114.5 m/s, dan perlakuan dalam bentuk Acceleration seberas 150.4 m/s2.
Gambar 4.8. Grafik karakteristik getaran untuk FFT dalam bentuk (Peak-Peak)
Hasil getaran respon frekuensi dari tiap-tiap perlakuan dari fluida dibuat dalam bentuk grafik. Berdasarkan grafik yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa perlakuan untuk Peak-Peak dalam bentuk Displacement didapatkan FFT (Fast
Fourier Transform) pada fluida jumbo oil dengan frekuensi 1050 Hz (frekuensi input
dari alat ukur) sebesar 83.0 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity sebesar 118.9 m/s dan perlakuan dalam bentuk Acceleration sebesar 154.9 m/s2. Sedangkan pada fluida yamalube oil dengan frekuensi yang sama unuk perlakuan Displacement sebesar 87.5 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity 123.5 m/s, dan perlakuan dalam bentuk Acceleration seberas 197.5 m/s2.
0 50 100 150 200 Jumbo oil 83 118.9 154.9
perlakuan Displacement sebesar 78.5 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity 114.5 m/s, dan perlakuan dalam bentuk Acceleration seberas 150.4 m/s2.
Gambar 4.8. Grafik karakteristik getaran untuk FFT dalam bentuk (Peak-Peak)
Hasil getaran respon frekuensi dari tiap-tiap perlakuan dari fluida dibuat dalam bentuk grafik. Berdasarkan grafik yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa perlakuan untuk Peak-Peak dalam bentuk Displacement didapatkan FFT (Fast
Fourier Transform) pada fluida jumbo oil dengan frekuensi 1050 Hz (frekuensi input
dari alat ukur) sebesar 83.0 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity sebesar 118.9 m/s dan perlakuan dalam bentuk Acceleration sebesar 154.9 m/s2. Sedangkan pada fluida yamalube oil dengan frekuensi yang sama unuk perlakuan Displacement sebesar 87.5 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity 123.5 m/s, dan perlakuan dalam bentuk Acceleration seberas 197.5 m/s2.
yamalube oil 87.5
123.5 154.9
197.5
Displacement Velocity Acceleration
perlakuan Displacement sebesar 78.5 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity 114.5 m/s, dan perlakuan dalam bentuk Acceleration seberas 150.4 m/s2.
Gambar 4.8. Grafik karakteristik getaran untuk FFT dalam bentuk (Peak-Peak)
Hasil getaran respon frekuensi dari tiap-tiap perlakuan dari fluida dibuat dalam bentuk grafik. Berdasarkan grafik yang diperoleh tersebut menunjukan bahwa perlakuan untuk Peak-Peak dalam bentuk Displacement didapatkan FFT (Fast
Fourier Transform) pada fluida jumbo oil dengan frekuensi 1050 Hz (frekuensi input
dari alat ukur) sebesar 83.0 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity sebesar 118.9 m/s dan perlakuan dalam bentuk Acceleration sebesar 154.9 m/s2. Sedangkan pada fluida yamalube oil dengan frekuensi yang sama unuk perlakuan Displacement sebesar 87.5 m, untuk perlakuan dalam bentuk Velocity 123.5 m/s, dan perlakuan dalam bentuk Acceleration seberas 197.5 m/s2.
4.2.1 Analisa Pengaruh Fluida terhadap karakteristik getaran respon frekuensi pada Perlakuan 1-9 untuk (RMS dan Peak-Peak).
Dari hasil karakteristik getaran respon frekuensi untuk 1050 (Hz) pada perlakuan 1-9 dapat diperoleh RMS (Root Mean Square) dan Peak-Peak mengalami perubahan simpangan akibat tahanan fluida karena kekentalan dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.9. Grafik Karakteristik getaran untuk perlakuan ke 1-9 pada
FFT dalam bentuk (RMS)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai karakteristik amplitudo pada perlakuan pertama dalam bentuk RMS untuk Displacement sebesar 32.9 m, Velocity sebesar 68.9 m/s, dan Acceleration sebesar 104.9 m/s2. Pada perlakuan ke-dua mengalami kenaikan amplitudo untuk Displacement sebesar 35.0 m, Velocity sebesar 71.0 m/s, dan Acceleration sebesar 107.0 m/s2. Perlakuan ke-tiga untuk Displacement sebesar 36.2 m, Velocity sebesar 72.2 m/s, dan Acceleration sebesar 108.2 m/s2. Pada perlakuan ke-empat mengalami penurunan amplitudo untuk Displacement sebesar 31.8 m, Velocity sebesar 67.2 m/s, dan Acceleration sebesar 103.7 m/s2. Kemudian
0 50 100 150 I II 32.9 35 68.9 71 104.9 107
4.2.1 Analisa Pengaruh Fluida terhadap karakteristik getaran respon frekuensi pada Perlakuan 1-9 untuk (RMS dan Peak-Peak).
Dari hasil karakteristik getaran respon frekuensi untuk 1050 (Hz) pada perlakuan 1-9 dapat diperoleh RMS (Root Mean Square) dan Peak-Peak mengalami perubahan simpangan akibat tahanan fluida karena kekentalan dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.9. Grafik Karakteristik getaran untuk perlakuan ke 1-9 pada
FFT dalam bentuk (RMS)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai karakteristik amplitudo pada perlakuan pertama dalam bentuk RMS untuk Displacement sebesar 32.9 m, Velocity sebesar 68.9 m/s, dan Acceleration sebesar 104.9 m/s2. Pada perlakuan ke-dua mengalami kenaikan amplitudo untuk Displacement sebesar 35.0 m, Velocity sebesar 71.0 m/s, dan Acceleration sebesar 107.0 m/s2. Perlakuan ke-tiga untuk Displacement sebesar 36.2 m, Velocity sebesar 72.2 m/s, dan Acceleration sebesar 108.2 m/s2. Pada perlakuan ke-empat mengalami penurunan amplitudo untuk Displacement sebesar 31.8 m, Velocity sebesar 67.2 m/s, dan Acceleration sebesar 103.7 m/s2. Kemudian
III IV V VI VII VIII
36.2 31.8 34.4 39.9 33.7 34.9
77.8
71 72.2 67.2 70.4 75.9 69.7 70.8
107 108.2 103.7 106.4 111.9 105.6 106.8
Displacement Velocity Acceleration
4.2.1 Analisa Pengaruh Fluida terhadap karakteristik getaran respon frekuensi pada Perlakuan 1-9 untuk (RMS dan Peak-Peak).
Dari hasil karakteristik getaran respon frekuensi untuk 1050 (Hz) pada perlakuan 1-9 dapat diperoleh RMS (Root Mean Square) dan Peak-Peak mengalami perubahan simpangan akibat tahanan fluida karena kekentalan dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 4.9. Grafik Karakteristik getaran untuk perlakuan ke 1-9 pada
FFT dalam bentuk (RMS)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai karakteristik amplitudo pada perlakuan pertama dalam bentuk RMS untuk Displacement sebesar 32.9 m, Velocity sebesar 68.9 m/s, dan Acceleration sebesar 104.9 m/s2. Pada perlakuan ke-dua mengalami kenaikan amplitudo untuk Displacement sebesar 35.0 m, Velocity sebesar 71.0 m/s, dan Acceleration sebesar 107.0 m/s2. Perlakuan ke-tiga untuk Displacement sebesar 36.2 m, Velocity sebesar 72.2 m/s, dan Acceleration sebesar 108.2 m/s2. Pada perlakuan ke-empat mengalami penurunan amplitudo untuk Displacement sebesar 31.8 m, Velocity sebesar 67.2 m/s, dan Acceleration sebesar 103.7 m/s2. Kemudian
VIII IX 77.8 70.8 113.8 106.8 149.8
pada perlakuan ke-lima kembali terjadi kenaikan Displacement sebesar 34.4 m,
Velocity sebesar 70.4 m/s, Acceleration sebesar 106.4 m/s2. Pada perlakuan ke-enam
Displacement sebesar 39.9 m, Velocity sebesar 75.9 m/s, Acceleration sebesar 111.9
m/s2. Pada perlakuan ke-tujuh kembali terjadi penurunan Displacememnt sebesar 33.7 m, Velocity sebesar 69.7 m/s, dan Acceleration sebesar 105.6 m/s2. Pada perlakuan ke-delapan terjadi kenaikan untuk Displacement sebesar 34.9, Velocity sebesar 70.8 m/s, dan Acceleration sebesar 106.8 m/s2. Pada perlakuan ke-sembilan amplitudo untuk Displacement sebesar 77.8 m, Velocity sebesar 113.8 m/s, dan Acceleration sebesar 149.8 m/s2.
Gambar 4.10. Grafik Karakteristik getaran untuk perlakuan ke 1-9 pada
FFT dalam bentuk (Peak-Peak)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai karakteristik amplitudo pada perlakuan pertama dalam bentuk RMS untuk Displacement sebesar 42.0 m, Velocity sebesar 77.9 m/s, dan Acceleration sebesar 113.9 m/s2. Pada perlakuan ke-dua mengalami kenaikan amplitudo untuk Displacement sebesar 44.0 m, Velocity sebesar
0 20 40 60 80 100 120 140 160 I II 42 44 77.9 80 113.9 116
pada perlakuan ke-lima kembali terjadi kenaikan Displacement sebesar 34.4 m,
Velocity sebesar 70.4 m/s, Acceleration sebesar 106.4 m/s2. Pada perlakuan ke-enam
Displacement sebesar 39.9 m, Velocity sebesar 75.9 m/s, Acceleration sebesar 111.9
m/s2. Pada perlakuan ke-tujuh kembali terjadi penurunan Displacememnt sebesar 33.7 m, Velocity sebesar 69.7 m/s, dan Acceleration sebesar 105.6 m/s2. Pada perlakuan ke-delapan terjadi kenaikan untuk Displacement sebesar 34.9, Velocity sebesar 70.8 m/s, dan Acceleration sebesar 106.8 m/s2. Pada perlakuan ke-sembilan amplitudo untuk Displacement sebesar 77.8 m, Velocity sebesar 113.8 m/s, dan Acceleration sebesar 149.8 m/s2.
Gambar 4.10. Grafik Karakteristik getaran untuk perlakuan ke 1-9 pada
FFT dalam bentuk (Peak-Peak)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai karakteristik amplitudo pada perlakuan pertama dalam bentuk RMS untuk Displacement sebesar 42.0 m, Velocity sebesar 77.9 m/s, dan Acceleration sebesar 113.9 m/s2. Pada perlakuan ke-dua mengalami kenaikan amplitudo untuk Displacement sebesar 44.0 m, Velocity sebesar
III IV V VI VII VIII
45.3 40.8 43.4 49 42.7 43.7
81.2 76.8 79.4 85 78.7 79.9
116 117.2 112.8 115.4 120.9 114.7 115.8
Displacement Velocity Acceleration
pada perlakuan ke-lima kembali terjadi kenaikan Displacement sebesar 34.4 m,
Velocity sebesar 70.4 m/s, Acceleration sebesar 106.4 m/s2. Pada perlakuan ke-enam
Displacement sebesar 39.9 m, Velocity sebesar 75.9 m/s, Acceleration sebesar 111.9
m/s2. Pada perlakuan ke-tujuh kembali terjadi penurunan Displacememnt sebesar 33.7 m, Velocity sebesar 69.7 m/s, dan Acceleration sebesar 105.6 m/s2. Pada perlakuan ke-delapan terjadi kenaikan untuk Displacement sebesar 34.9, Velocity sebesar 70.8 m/s, dan Acceleration sebesar 106.8 m/s2. Pada perlakuan ke-sembilan amplitudo untuk Displacement sebesar 77.8 m, Velocity sebesar 113.8 m/s, dan Acceleration sebesar 149.8 m/s2.
Gambar 4.10. Grafik Karakteristik getaran untuk perlakuan ke 1-9 pada
FFT dalam bentuk (Peak-Peak)
Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai karakteristik amplitudo pada perlakuan pertama dalam bentuk RMS untuk Displacement sebesar 42.0 m, Velocity sebesar 77.9 m/s, dan Acceleration sebesar 113.9 m/s2. Pada perlakuan ke-dua mengalami kenaikan amplitudo untuk Displacement sebesar 44.0 m, Velocity sebesar
VIII IX 86.8 79.9 122.8 115.8 158.8
80.0 m/s, dan Acceleration sebesar 116.0 m/s2. Perlakuan ke-tiga untuk Displacement sebesar 45.3 m, Velocity sebesar 81.2 m/s, dan Acceleration sebesar 117.2 m/s2. Pada perlakuan ke-empat mengalami penurunan amplitudo untuk Displacement sebesar 40.8 m, Velocity sebesar 76.8 m/s, dan Acceleration sebesar 112.8 m/s2. Kemudian pada perlakuan ke-lima kembali terjadi kenaikan Displacement sebesar 43.4 m,
Velocity sebesar 79.4 m/s, Acceleration sebesar 115.4 m/s2. Pada perlakuan ke-enam
Displacement sebesar 49.0 m, Velocity sebesar 85.0 m/s, Acceleration sebesar 120.9
m/s2. Pada perlakuan ke-tujuh kembali terjadi penurunan Displacememnt sebesar 42.7 m, Velocity sebesar 78.7 m/s, dan Acceleration sebesar 114.7 m/s2. Pada perlakuan ke-delapan terjadi kenaikan untuk Displacement sebesar 43.7, Velocity sebesar 79.9 m/s, dan Acceleration sebesar 115.8 m/s2. Pada perlakuan ke-sembilan amplitudo untuk Displacement sebesar 86.8 m, Velocity sebesar 122.8 m/s, dan Acceleration sebesar 158.8 m/s2.
Dari grafik RMS dan Peak-Peak diatas untuk perlakuan terhadap Jumbo Oil dan Yamalube Oil diketahui bahwa pada kedua grafik terjadi kenaikan nilai FFT, dan untuk perlakuan kombinasi campuran 1-9 terjadi penurunan nilai FFT pada perlakuan ke-4 relatif kecil. Maka dari grafik tersebut dapat dibuat kesimpulan bahwa semakin kecil nilai FFT yang didapat maka semakin baik redaman yang diberikan oleh shock
absorber. Karena pada saat shock absorber diberi beban terhadap tahanan dalam
fluida atau energi yang diakitbatkan pada pergerakan pegas sebagian sudah terserap oleh fluida.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian eksperimental perlakuan berbagai variasi campuran dan tanpa campuran oli redaman Shock absorber dengan melihat pengaruh getaran respon frekuensi dalam bentuk FFT line/spectrum pada RMS (Root Mean Square) dan
Peak-Peak, untuk (displacement, velocity, dan acceleration), dan pengukuran dilakukaan
dalam selang waktu 30 detik. Dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan grafik yang didapat dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa karakteristik getaran respon frekuensi, dimana FFT frekuensinya adalah 1050 Hz terhadap fluida Yamalube oil untuk RMS yakni ; (Displacement : 78.5 dB re 1pm , Velocity : 114.5 dB re 1nm/s, Acceleration : 150.4 dB re 1 / ) dan Peak-Peak yakni ; (Displacement : 87.5 dB re 1pm, Velocity
: 123.5 dB re 1nm/s, Acceleration : 197.5 dB re 1 / ). Jumbo oil untuk
RMS yakni ; (Displacement : 73.9 dB re 1pm , Velocity : 109.9 dB re 1nm/s,
Acceleration : 145.9 dB re 1 / ) dan Peak-Peak yakni ; (Displacement
: 83.0dB re 1pm, Velocity : 118.9 dB re 1nm/s, Acceleration : 154.9 dB re
1 / ).
2. Berdasarkan grafik yang didapat dari hasil penelitian dapat diketahui pula kombinasi oli table 3.1 (27ml+37ml) dengan redaman yang baik dengan simpangan relatif kecil adalah pada perlakuan ke-4 untuk RMS yakni ; (Displacement : 31.8 dB re 1pm , Velocity : 67.2 dB re 1nm/s, Acceleration
: 103.7 dB re 1 / ) dan Peak-Peak yakni ; (Displacement : 40.8 dB re
1pm, Velocity : 76.8 dB re 1nm/s, Acceleration : 112.8 dB re 1 / ).
5.2 Saran
Dari penelitian ini disarankan :
1. Untuk penelitian selanjutnya tentang getaran dari Shock absorber diharapkan dapat mengambil RPM yang lebih rendah putarannya untuk mengetahui respon dari getaran.
2. Untuk mengetahui karakteristik getaran Shock absorber secara lebih akurat, maka analisa getaran respon frekuensi penelitian ini sebaiknya dilanjutkan kedalam respon waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Aburass et al. Investigation of the Effect of Biodiesel Blends on Fuel Injection Pumps
based on Vibration and Pressure Measurements. 2014.
Bhushan, B., ed., Handbook of Micro/Nano Tribology, Boca Raton, Fla., 1999.
Budio Sugeng P,. Buku Ajar Dinamika Sturktur. Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil. Universitas Brawijaya. 2010.
Carlucci et al,. Block Vibration As Indicator Of Combustion Behaviour In A Direct
Injection Diesel Engine. 2005.
Chan Jefri, Diktat Getaran Mekanik. Universitas Darma Persada.
Headdquarters, Sound & Vibration Measurement Technical Documentation,
Denmark, Bruel & Kjaer. 2010.
Ishihama et al. “Camshaft Drive Torque Measuring Device Built in a Chain Sprockt”. 2010.
Khovakh, M. Motor Vehicle Engines, MIR Publisher, Moscow, 1979.
Koster, M.p., Vibration of Cam Mechanisms, Macmillan, London, 1970.
Kovacs, G. T. A.,. Micromachined Transducers Sourcebook, WCB McGraw-Hill, Boston, 1998.
Madou, M., Fundenmental of Microvabrication, CRC Press, Boca Raton., Fla., 1998.
Mitchel, D, B., “Tests On Dynamic Response Of cam-Followers-Systems,” Mechanical Engineering, June 1950.
Petersen., K., “Silico as a Mechanical Material,” Proceeding of thr IEEE, 1982.
Rothbart, H., “Cam Dynamics”Proc. Int. Conference Mechanisms, conn, 1961.
Shigley, J., and Mischke, C., Standart Handbook of Machine Design, Chap 18, D. Curtis, McGraw-Hill, New York, 1996.
Szakallas, L. E., and Savage, M., “The Characterization of Cam drive System
Windup, “ Trans, ASME., J. Mech. Des., 102, 1980.
Yipeng et al. Study on vibration control methods of Diesel engine fuel injection
system. Beijing, China, 2014.
Zhiqiang Wang. “Study On Fault Diagnosis Of Fuel Injection Based On Vibration