• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bogor. Penelitian melibatkan petani kelapa, BP4K Wilayah Leuwiliang, UPTD Pertanian Kecamatan Ciampea dan CV Serat Kelapa yang ada di Kecamatan Cilodong, Depok. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja dengan mempertimbangkan tempat tersebut memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan dan lokasi yang strategis untuk kelancaran penelitian ini. penelitian dilakukan pada bulan Desember 2014 sampai Februari 2015 untuk pengambilan data.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari keterangan kegiatan usaha yang dilakukan oleh petani mengenai keadaan usaha dan perkembangan usaha yang dilakukan serta data lain yang berkaitan dengan penelitian. Data kuantitatif diperoleh dari hasil produksi, jumlah penjualan, harga produk dan data lain yang berkaitan dengan penelitian.

Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara wawancara dengan perusahaan/pengusahan serat sabut kelapa, petani kelapa, serta beberapa lembaga terkait seperti UPTD dan BP4K. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perdagangan, perpustakaan, internet dan literatur yang relevan dengan penelitian.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kepada para petani kelapa di Kabupaten Bogor, pihak BP4K, pihak UPTD dan perusahaan/pengusaha serat sabut kelapa. Informasi tersebut dianalisis dan kemudian dirumuskan sebagai dasar pembuatan rencana bisnis serat sabut kelapa.

Observasi dilakukan selama beberapa kali di CV Serat Kelapa di Kecamatan Cilodong Kota Depok untuk melihat proses produksi yang berjalan, tata letak bangunan pabrik dan kantor, mesin dan peralatan yang digunakan, serta pencatatan komponen biaya operasional lainnya.

Wawancara mendalam dilakukan dengan cara mewawancarai petani kelapa di Kabupaten Bogor, pihak BP4K, pihak UPTD, dan pihak CV Serat Kelapa guna memperoleh data mengenai produksi kelapa para petani tersebut, harga kelapa di tingkat petani, serta mengetahu proses dan bahan baku yang dibutuhkan dalam usaha pengolahan serat sabut kelapa.

Diskusi dilakukan dengan akademisi/pakar dalam bidang koperasi (Dr Ir Lukman Mohammad Baga), pengusaha serat sabut kelapa (Ir Antonius Sidik

20

Umar MM) dan beberapa instansi pemerintahan (BPS Kabupaten Bogor, BPS Pusat, Kementerian Perdagangan) guna memperoleh informasi mengenai pembuatan perencanaan bisnis yang baik dan benar dengan menggunakan pendekatan wirakoperasi.

Metode Analisis Data

Data yang bersifat kualitatif dianalisis untuk mengkaji aspek non finansial meliputi aspek pasar, aspek produksi, aspek organisasi dan sumber daya manusia, serta aspek kemitraan. Data yang bersifat kuantitatif dianalisis untuk mengkaji, laporan arus kas dan laba rugi. Data diolah menggunakan microsoft excel 2010.

Aspek Non Finansial

a. Aspek Pasar

Analisis terhadap aspek pasar potensial merupakan aspek utama yang dipertimbangkan oleh investor dalam memperebutkan konsumen. Sebuah bisnis yang layak secara teknis maupun finansial tak akan berarti apa – apa jika keberadaan pasar potensial tidak diketahui sebelumnya. Beberapa hal yang perlu dicermati dalam analisis pasar potensial meliputi:

1. Permintaan, baik secara total maupun terperinci berdasarkan daerah, jenis konsumen, dan perusahaan besar pemakai

2. Penawaran, meliputi penawaran dalam dan luar negeri terhadap produk perusahaan

3. Harga, dilakukan perbandingan dengan produk dalam negeri maupun produk impor dari luar negeri

4. Program pemasaran, meliputi marketing mix (bauran pemasaran) dan product life cycle

5. Perkiraan penjualan, meliputi market share yang bisa dikuasai perusahaan

b. Aspek Produksi

Aspek produksi merupakan suatu aset yang berkaitan dengan pembangunan bisnis secara teknis maupun operasionalnya. Dalam aspek ini pula dapat diketahui rancangan awal biaya investasi untuk pendirian atau pengembangan usaha terkait. Beberapa hal yang terkait di dalam aspek produksi meliputi:

1. Lokasi bisnis, yang memiliki beberapa variabel utama seperti ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, supply tenaga kerja dan fasilitas transportasi.

2. Luas produksi, merupakan jumlah produksi untuk mencapai keuntungan yang optimal. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan mencakup batas permintaan, ketersediaan kapasitas mesin-mesin, jumlag dan kemampuan tenaga kerja atau karyawan, kemampuan finansial dan manajemen bisnis, dan kemungkinan di masa depan terjadi perubahan teknologi produksi. 3. Proses produksi, terdiri dari proses produksi terputus-putus, kontinu dan

kombinasi.

4. Layout, merupakan keseluruhan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas perusahaan.

21 5. Pemilihan jenis teknologi dan equipment.

c. Aspek Manajemen Organisasi, Hukum dan Sumber Daya Manusia

Aspek manajemen organisasi mempelajari tentang manajemen dalam tahap pembangunan bisnis dan dalam tahap masa operasinya. Manajemen selama tahap pembangunan bisnis meliputi individu pelaksana bisnis, jadwal penyelesaian bisnis tersebut dan pelaku studi kelayakan bisnis.

Aspek hukum berkaitan dengan legalitas bentuk badan usaha yang digunakan serta jaminan-jaminan yang diberikan apabila menggunakan sumber dana pinjaman, atau berasala dari berbagai akta, sertifikat maupun izin lainnya.

Aspek sumber daya manusia meliputi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, deskripsi dan spesialisasi kerja, stuktur organisasi, kewajiban dan wewenang, upah dan gaji serta kemitraan yang akan dibuat.

Aspek Finansial

a) Net Present Value (NPV)

NPV merupakan selisih antara total present value manfaat dengan present value biaya atau jumlah present value dari manfaat bersih tambahan selama umur bisnis. Suatu bisnis dikatakan layak jika NPV lebih besar dari nol (NPV>0) yang berarti bisnis menguntungkan atau memberikan manfaat. Adapun secara matematis NPV dirumuskan sebagai berikut:

Ketarangan:

Bt = Manfaat pada tahun ke t Ct = Biaya pada tahun ke t

t = Tahun kegiatan bisnis (t = 0,1,2,3, ..., n) i = Tingkat Discount Rate (%)

b) Gross Benefit-Cost Ratio (Gross B/C)

Gross B/C merupakan kriteria kelayakan yang biasa digunakan dalam analisis bisnis. Kriteria ini menggambarkan pengaruh tambahan biaya terhadap tambahan manfaat yang diterima. Bisnis dikatakan layak untuk dijalankan jika Gross B/C lebih besar dari satu (Gross B/C>1) dan bisnis dikatakan tidak layak untuk dijalankan jika nilainya lebih kecil dari satu. Adapun secara matematis Gross B/C dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan:

Bt = Manfaat pada tahun ke t Ct = Biaya pada tahun ke t n = Umur bisnis

i = Discount Rate (%) c) Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)

22

Net B/C adalah rasion antara manfaat bersih yang bernilai positif dan manfaat bersih yang bernilai negatif. Suatu bisnis dikatakan layak apabila nilai Net B/C lebih besar dari satu (Net B/C>1) dan dikatakan sebaliknya jika kurang dari satu. Adapun secara matematis rumusnya sebagai berikut:

= Keterangan:

Bt = Manfaat pada tahun ke t Ct = Biaya pada tahun ke t i = Discount Rate (%) t = Tahun

d) Internat Rate of Return (IRR)

IRR merupakan tingkat discount rate yang menghasilkan NPV sama dengan nol. IRR juga merupakan nilai seberapa besar pengembalian bisnis terhadap investasi yang telah ditanamkan. Sebuah bisnis dikatakan layak apabila IRR-nya lebih besar daripada DR. Adapun secara matematis dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan:

i1 = Discount rate yang menghasilkan NPV positif i2 = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV positif

NPV2 = NPV negatif e) Payback Periode

Payback periode merupakan metode yang digunakan untuk mengukur seberapa cepat suatu investasi dapat kembali. Secara normatif tidak ada pedoman yang dapat digunakan untuk menentukan payback maksimum. Adapun secara matematis, rumusnya seperti di bawah ini:

Keterangan:

I = Biaya invetasi yang diperlukan

Ab = Manfaat bersih yang diperoleh setiap tahun

GAMBARAN UMUM BISNIS

Dokumen terkait