KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah Jawa dan luar Jawa yang terdiri dari lima provinsi sentra padi nasional, yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan). Penelitian pada tesis ini mengambil data yang dikumpulkan dari 10 Kabupaten terpilih, 10 Kecamatan dan 10 Desa.
Tabel 2. Sebaran responden, menurut Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa.
Propinsi Kabupaten Kecamatan Desa
Sumut Batu Bara Lima Puluh Kwala Gunung
Serdang Bedagai Perbaungan Lidah Tanah
Jabar Indramayu Lelea Tugu
Karawang Kutawaluya Sindangsari
Jateng Sragen Karang Malang Mojorejo
Pati Jakenan Tambah Mulyo
Jatim Jember Jombang Padomasan
Banyuwangi Genteng Kaligundo
Sulsel Sidrap Watang Pulu Carawali
Luwu Lamasi Salujambu
Petani responden adalah petani yang melakukan usahataninya pada sawah irigasi berbasis padi (tipe desa 1) menurut masing-masing wilayah. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian primer PATANAS (Panel Petani Nasional) yang telah dilaksanakan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) Badan Litbang Pertanian pada tahun 2010 untuk musim tanam MK I, MK II dan MH. Peneliti mengambil data yang tersedia yaitu hanya pada musim hujan tahun 2010.
Jenis dan Sumber Data
Data utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder yang berasal dari penelitian PATANAS tahun 2010 yang telah dilakukan oleh PSE-KP (Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian) Badan Litbang Kementerian Pertanian Bogor. Data yang digunakan mencakup kondisi sosio-ekonomi responden, keragaan usahatani, pengunaan input produksi, pendapatan usahatani, keanggotaan petani pada program pertanian dan keterangan lainnya. Data tersebut digunakan untuk bisa menentukan tingkat efisiensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani padi.
Data sekunder lain sebagai data pendukung diperoleh dari berbagai sumber baik secara langsung yaitu, PUSLITBANGTAN (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan), PUSTAKA (Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian), BP2TP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian), PSE-KP (Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian), penelusuran tidak langsung ke BPS (Badan Pusat Statistik), dan FAO.
Metode Penentuan Sampel
Data yang digunakan pada penelitian ini mencakup skala wilayah Jawa dan luar Jawa dengan pilihan 5 provinsi sentra. Penentuan sampel dipilih secara purposive sampling.
Metode purposive sampling yaitu pemilihan petani yang dijadikan sebagai sampel secara sengaja dengan kriteria yang sesuai pada penelitian ini. Kriteria sampel pada penelitian ini adalah rumahtangga petani yang melakukan kegiatan usahatani padi pada sawah irigasi, yang memiliki pekarjaan utama sebagai petani. Total respoden yang tersaring dari pola musim tanam hujan sebanyak 303 responden, kemudian disaring kembali berdasarkan kriteria yang dipilih sesuai dengan variabel yang akan dianalisis dalam penelitian ini, hingga jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 189 orang petani padi yang masih aktif melakukan kegiatan usahatani padi di Jawa dan luar Jawa. Dari jumlah responden sebanyak 189 petani sebarannya terdiri dari 95 petani responden di Jawa dan 94 petani responden di luar Jawa.
Metode Pengolahan dan Analisis Data
Analisis kualitatif dan kuantitatif dilakukan berdasarkan data yang diperoleh. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui gambaran karakteristik usahatani padi di Jawa dan luar Jawa. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisa efisiensi teknis usahatani padi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani padi dengan menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) dan Regresi Tobit. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan bantuan komputer (program Microsoft Excel 2013, DEAP versi 2.1, dan SAS 9.1.3.) untuk masing-masing provinsi. Hasil pengolahan data primer disajikan dalam bentuk tabel yang kemudian diinterpretasikan dalam bentuk pembahasan.
MetodeData Envelopment Analysis(DEA)
Metode DEA adalah metode non parametrik sebagai alat evaluasi kerja suatu aktivitas yang memerlukan satu macam atau lebih dari satu input dan menghasilkan satu macamouputatau lebih, dengan menggunakan model program linier sebagai metode pengukuran efisiensi. Secara sederhana pengukuran dinyatakan dengan rasio antara output terhadap input yang merupakan satuan pengukuran efisiensi atau produktivitas yang bisa dinyatakan secara parsial (Cooper et al. 2006). Selanjutnya, Cooper et al. (2006) menjelaskan bahwa metode DEA menggunakan teknis program matematis yang dapat menangani variabel dan batasan yang banyak. Selain itu, metode DEA tidak membatasiinput dan output yang akan dipilih karena teknis yang dipakai dapat mengatasinya. Contoh output dari suatu entitas, seperti hasil penjualan satu atau lebih macam produk, produksi suatu komoditi pertanian, profit perusahan, keuntungan usahatani komoditi pertanian dan lain-lain) ataupun secara total (melibatkan semuaoutputdan semua inputpada suatu entitas kedalam pengukuran) yang dapat menunjukkan faktorinputapa yang paling berpengaruh dalam menghasilkan suatu output.
DMU (Decision Making Unit) adalah organisasi atau entitas yang akan diukur efisiensinya secara relatif terhadap sekelompok entitas lainnya yang homogen. Homogen artinya adalah input dan output dari masing-masing DMU yang dievaluasi harus sama atau sejenis. Pendekatan DEA menggunakan pembobotan yang bersifat fixed pada seluruh masukan (input) dan keluaran (output) dari setiap DMU yang dievaluasi. Penggunaan bobot yang bersifat fixed yang diterapkan secara seragam pada semua input dan output dari DMU yang dievaluasi dikenal sebagai konsep Total Factor Productivily.
Konsep DEA pertama kali dilakukan oleh Farrel (1957) dan dikembangkan oleh Charnes, Cooper, dan Rhodes (1978) yang dikenal dengan model CCR. Pada model CCR asumsi yang digunakan adalah constant return to scale (CRS). Asumsi CRS mensyaratkan suatu DMU mampu menambah atau mengurangi variabel input dan output secara linear tanpa mengalami kenaikan atau penurunan nilai efisiensi. Dalam perkembangannya, DEA mengalami modifikasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Banker, Charnes, dan Cooper
(1984) yang dikenal dengan model BCC. Pada model BCC asumsi yang digunakan adalah variable return to scale (VRS). Asumsi VRS berbeda dengan CRS, dimana VRS tidak mengharuskan perubahan input dan output suatu DMU berlangsung secara linier, sehingga diperbolehkan terjadinya kenaikan (increasing return to scale) dan penurunan(decreasing return to scale)nilai efisiensi (Cooper et al.2006).
Asumsi CRS lebih tepat digunakan ketika semua DMU bekerja pada skala optimal. Sedangkan, asumsi VRS digunakan ketika tidak semua DMU berada pada skala yang optimal. Perbedaan lain antara CRS dan VRS adalah perhitungan nilai variasi efisiensi dengan ukuran skala DMU. Pada asumsi VRS, suatu DMU dapat dibandingkan dengan DMU lain yang lebih besar atau lebih kecil. Hal ini tidak diterapkan pada asumsi CRS. Perhitungan efisiensi teknis dengan model VRS akan diperoleh nilai skala efisiensi pada masing-masing DMU. Nilai skala efisiensi dari sebuah DMU dapat dihitung sebagai rasio antara efisiensi dengan asumsi CRS atau VRS dari sebuah DMU. Suatu DMU akan tidak efisien jika terdapat perbedaan nilai efisiensi teknis CRS dan VRS. Selain itu, akan tidak
efisien jika DMU hanya memiliki efisiensi teknis murni, dimana nilai efisiensi yang sama antara CRS dan VRS dan dipastikan nilai efisiensi teknis lebih kecil dari satu. Secara matematis, perhitungan efisiensi teknis dengan model variable return to scale(VRS) adalah sebagai berikut:
Minθ,λθ,
st - yi+ Y λ ≥ 0,
θ xi- X λ ≥ 0,
N 1 ‘ λ = 1 λ ≥ 0,
dimana N1‘λ=1 merupakan kendala konveksitas (convexity)
Analisis Efisiensi Teknis dengan PendekatanData Envelopment Analysis(DEA)
Pendekatan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Envelopmen Analysis (DEA). DEA merupaka alat evaluasi kerja suatu aktivitas yang menggunakan satu macam input atau lebih dan menghasilkan satu macam
ouptut atau lebih. Cooper et al. (2006), mendefinisikan DEA secara sederhana pengukuran yang dinyatakan dengan rasio antara inputterhadap output lalu dapat dinyatakan secara parsial. Kegiatan yang diamati dalam model DEA adalah membandingkan input dan output dari setiap decision making unit (DMU) atau unit pengambil keputusan. Setiap DMU akan mencerminkan keragaman karena adanya perbedaan penggunaan kombinasiinputuntuk menghasilkanoutputyang
berbeda. Perbandingan input dan output pada DMU dilakukan untuk mendapatkan skor efisiensi. Pada penelitian ini jika nilai efisiensi sama dengan satu, maka usahatani padi relatif efisien. Namun, jika nilai efisiensi kurang dari satu, maka usahatani padi relatif tidak efisien.
Terdapat beberapa asumsi penggunaan model DEA menurut Cooper et al.(2006), yaitu penggunaan input dan hasil output merupakan variabel pada penelitian, seluruhdecision making unit(DMU) harus memiliki variabelinput dan output yang sama jenisnya agar dapat dianalis, setiap DMU memiliki pilihan ukuran atau besaran input dan output yang berbeda untuk memaksimalkan efisiensi secara individual, semua varibael input dan ouput pada masing-masing DMU bernilai positif (>0), serta DEA digunakan sebagai alat analisis untuk mengukur kinerja pada setiap DMU. Langkah-langkah penelitian kerja penggunaan metode DEA menurut Cooper et al. (2006), yaitu mengidentifikasi DMU yang diamati dengan variabel input dan output yang telah ditentukan serta menghitung nilai efisiensi pada setiap DMU untuk mendapatkan variabel input dan output yang seharusnya agar mencapai kinerja optimal. Petani sebagai unit pengambil keputusan memiliki kontrol atas input yang digunakan dibandingkan dengan output yang dihasilkan, sehingga model DEA pada penelitian ini berorientasi pada variabelinput.
Pendekatan model DEA Variable Return to Scale lebih tepat digunakan pada penelitian ini karena usahatani padi di lokasi penelitian hampir tidak mencapai skala optimal. Asumsi dari model ini adalah bahwa rasio antara penambahan input dan output tidak sama (variable return to scale). Artinya, perubahan input dan output suatu DMU berlangsung secara linier, sehingga diperbolehkan terjadinya kenaikan (increasing returns to scale/IRS) dan penurunan (decreasing returns to scale/DRS) nilai efisiensi. Sehingga, metode ini melibatkan analisis multi input, multi output, dan variable return to scale. Variabel input yang digunakan yaitu benih padi, pupuk NPK, pupuk urea, dan tenaga kerja (tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luas keluarga). Sedangkan, variabel output yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari produksi padi dan produktivitas padi. Berikut ini adalah variabelinput danoutput yang digunakan pada penelitian ini:
a. Benih padi (input 1), yaitu jumlah benih yang digunakan untuk melakukan kegiatan usahatani padi dalam satu musim tanam (kg). Benih merupakan faktor produksi yang sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini disebabkan benih yang nantinya akan menghasilkan suatu tanaman yang berproduksi. Umumnya petani menggunakan benih bersertifikat.
b. Pupuk urea (input 2), yaitu jumlah pupuk urea yang digunakan untuk melakukan kegiatan usahatani padi dalam satu musim tanam (kg).Pupuk ini merupakan input yang digunakan petani untuk menambahkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
c. Pupuk NPK (input 3), yaitu jumlah pupuk NPK yang digunakan untuk melakukan kegiatan usahatani padi dalam satu musim tanam (kg). Pupuk ini merupakan input yang digunakan petani untuk menambahkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
d. Tenaga kerja dalam keluarga (input 4), yaitu jumlah hari kerja dari tenaga kerja dalam keluarga untuk melakukan kegiatan usahatani padi dalam satu musim tanam (HOK). Tenaga kerja menjadi faktor penting dalam kegiatan usahatani, mulai dari persiapan tanam hingga kegiatan panen dan pascapanen.
g. Tenaga kerja luar keluarga (input 5), yaitu jumlah hari kerja dari tenaga kerja luar keluarga untuk melakukan kegiatan usahatani padi dalam satu musim tanam (HOK). Tenaga kerja menjadi faktor penting dalam kegiatan usahatani, mulai dari persiapan tanam hingga kegiatan panen dan pascapanen
h. Produksi padi (output 1), yaitu jumlah produksi padi yang didapatkan dari usahatani padi dalam satu musim tanam (kg).
i. Produktivitas padi (output 2), yaitu jumlah total panen padi per hektar dari usahatani padi dalam satu musim tanam (kg/hektar).
Berdasarkan pendapat dari Cooper et al. (2006), pendekatan model DEA pada penelitian ini memiliki beberapa keunggulan dan keterbatasan dibandingkan dengan model lainnya, yaitu:
1. Model DEA dapat mengukur banyak variabelinputdanoutput.
2. Model DEA dapat membandingkan secara langsung nilai efisiensi dari beberapa DMU yang relatif efisien dengan yang tidak efisien.
3. Model DEA dapat diperoleh keterangan yang menunjukkan kecenderungan tren pada petani, apakah petani tergolong pada increasing return to scale (IRS),decreasing return to scale(DRS), atauconstant return to scale(CRS). 4. Asumsi model DEA berorientasi pada input akan menunjukkan sejumlah
input yang dapat dikurangi oleh petani untuk menghasilkan tingkat output yang sama.
5. Variabelinputdanoutputdapat memiliki satuan pengukuran yang berbeda. Sementara itu, keterbatasan model DEA pada penelitian ini berdasarkan pendapat dari Cooperet al.(2006), yaitu:
1. Kesalahan pengukuran akan berakibat fatal karena model DEA merupakan teknik titik ekstrim.
2. Pengujian hipotesis secara statistik atas hasil DEA sulit dilakukan karena model DEA merupakan pengukuran non parametrik.
3. Dalam melakukan analisis efisiensi teknis, tidak dapat ditarik kesimpulan secara general (umum) karena nilai efisiensi teknis yang diperoleh dari hasil perhitungan merupakan nilai efisiensi relatif.
4. Model tidak dapat memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi sehingga menggunakan alternatif permodelan, yaitu model regresi tobit.
Model Regresi Tobit
Model regresi ini pertama kali dikemukakan oleh Tobit pada tahun 1958, dimana Tobit menghubungkan studinya berdasarkan analisis probit. Regresi tobit mengasumsikan bahwa variabel tidak bebas terbatas nilainya (censored), hanya variabel bebas yang tidak terbatas. Semua variabel baik bebas maupun tidak bebas
diukur dengan benar sehingga tidak ada autokorelasi, heterorkeditas, dan multikolinearitas yang sempurna serta menggunakan model matematis yang tepat (Gujarati dan Dawn 2009). Model regresi tobit memiliki beberapa keunggulan, yaitu dapat menentukan intensitas faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis pada usahatani, dapat memeriksa konsistensi hasil DEA dan mengidentifikasi variabel penjelas (Cooper et al. 2006), dan pengaruh dari variabel eksternal pada proses produksi dapat diuji baik dari segi arah (sign) maupun signifikansinya (Gujarati dan Dawn 2009).
Nilai tingkat efisiensi teknis dengan analisi DEA yang dihasilkan pada penelitian ini adalah 0.00 sampai 1.00, dimana penggunaan regresi tobit akan menjelaskan hubungan antara tingkat efisiensi teknis dengan karakteristik petani responden. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis disesuaikan dengan kondisi responden di lokasi penelitian. Faktor yang diduga berpengaruh terhadap efisiensi teknis usahatani padi di Jawa dan luar Jawa, yaitu usia (AGE), pendidikan (EDU), pengalaman berusahatani padi (EXP), jumlah tanggungan keluarga (FAM), keanggotaan petani dalam kelompok tani (PROG), akses lembaga keuangan (AKSES), dan ikut penyuluhan (PENYLH). Model tobit yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
TE = β0 + β1AGE + β2EDU + β3FAM + β4PROG + β5AKSES + β6PEHYLH+ ε Keterangan:
Variabel Dependen
TE = Nilai Efisiensi Teknis Variabel Independen AGE = Usia (Tahun)
EDU = Pendidikan (Tahun)
FAM = Jumlah Tanggungan Keluarga (Jiwa)
PROG = Keanggotaan Petani dalam Kelompok Tani (1 = anggota dan 0 = tidak anggota )
AKSES= Akses lembaga keuanganP (1 = Akses dan 0 = tidak akses) PENYLH = Ikut penyuluhan (1=ikut dan 0= tidak ikut)
Variabel-variabel yang digunakan pada penelitian ini diduga dapat mempengaruhi tingkat efisiensi teknis dari usahatani padi. Terdapat beberapa hipotesis yang digunakan pada setiap variabel yaitu usia, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan keanggotaan kelompok tani, akses lembaga keuangan dalam ikut penyuluhan.
Hipotesis yang digunakan untuk model inefisiensi teknis dalam persamaan di atas adalah :
1. Umur petani: kondisi di lapangan menunjukkan bahwa umur petani dominan relative tua sehingga secara fisik lebih lemah. Hal ini menjadi masalah dalam aspek manajerial karena usahatani padi membutuhkan fisik yang kuat karena variasi dan intensitas aktivitas usahatani padi yang tanpa jeda, sehingga umur perlu untuk diuji. Semakin tua umur KK petani, diduga akan berpengaruh negatif terhadap efisiensi teknis.
2. Pendidikan formal: Kemampuan manajerial yang rendah sebagai dampak dari pendidikan yang rendah menjadi masalah dalam produksi sehingga pendidikan menjadi penting untuk diuji. Semakin tinggi pendidikan petani diduga akan berpengaruh positif terhadap efisiensi teknis, karena dengan pendidikan yang
tinggi diduga akan memiliki pengetahuan dan wawasan dalam pengambian keputusan termasuk penggunaan input serta lebih adaptif terhadap informasi dan teknologi baru.
3. Jumlah tanggungan keluarga : Jumlah tanggungan keluarga merupakan banyaknya jumlah tanggungan di dalam rumah tangga petani. Jumlah tanggunan akan berpengaruh terhadap tingginya pengeluaran untuk konsumsi di dalam rumah tangga sehingga pembelian input-input produksi akan terbatas dan menyebabkan penggunaan input-input produksi menjadi tidak sesuai dengan penggunaan yang dianjurkan, terutama apabila harga input-input produksi tersebut cukup tinggi. Oleh karena itu, jumlah tanggungan keluarga rumah tangga petani perlu diuji untuk melihat pengaruhnya terhadap efisiensi teknis.
4. Penyuluhan : Sebagian besar petani tidak ikut dalam kegiatan penyuluhan, padahal diduga kegiatan penyuluhan dapat meningkatkan efisiensi melalui perubahan teknik budidaya, mekanisasi, penggunaan input baru dan unggul, jumlah input yang optimal, dan peningkatan teknologi. Dalam usahatani penyuluhan dapat diperoleh melalui lembaga kelompok tani dimana PPL sebagai agen diseminasi informasi dan teknologi.
5. Akses kredit : Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar petani tidak akses ke lembaga keuangan, padahal diduga kelembagaan keuangan dapat membantu permodalan petani sehingga dapat lebih efisien, sehingga akses ke lembaga keuangan perbankan perlu diuji apakah benar dapat meningkatkan efisiensi? Akses ke lembaga keuangan pebankan diduga berpengaruh positif terhadap efisiensi teknis, karena bank sebagai sumber modal eksternal dapat membantu penggunaaninputyang optimal.
6. Keanggotaan dalam kelompok tani : Sebagian besar petani tidak aktif dalam kelompok tani, padahal keaktifan kelompok tani diduga dapat meningkatkan manajerial skill. Hal ini menjadi masalah sehingga perlu diuji. Keaktifan dalam kelompok tani diduga berpengaruh positif terhadap efisiensi teknis, karena keaktifan tersebut dapat menambah wawasan, pengetahuan, informasi, network dan teknologi baru tentang usahatani padi mulai dari penggunaaninput sampai pemasaran.
Definisi Operasional
Beberapa variabel yang digunakan untuk mengidentifikasi keragaan usahatani padi, efisiensi teknis usahatani padi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani padi antara lain:
1. Petani pemilik adalah petani yang memiliki lahan dan mengusahakan lahannya sendiri. Petani pemilik menggunakan seluruh lahannya untuk kegiatan usahatani jagung manis.
2. Petani penggarap adalah petani yang mengusahakan lahan milik orang lain dalam melakukan kegiatan usahatani jagung manis.
3. Umur padi adalah jumlah hari atau waktu antara tanam dan panen.
4. Benih adalah benih unggul yang bersertifikat, karena benih yang unggul dapat menghasilkan produksi yang tinggi secara kuantitas dan kualitas.
5. Pupuk adalah zat tambahan yang digunakan petani untuk meningkatkan kesuburan tanaman padi. Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pupuk urea, dan pupuk NPK.
6. Tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi dalam satu musim tanam (mulai dari pengolahan lahan hingga panen), baik yang berasal dari dalam keluarga maupun luar keluarga. Dalam teknis perhitungan, digunakan konversi tenaga kerja dengan cara membandingkan tenaga kerja pria sebagai ukuran baku. Tenaga kerja wanita dikonversi ke dalam HKP dengan angka konversi yang diperoleh dari hasil pembagian antara rata-rata upah tenaga kerja wanita dengan rata-rata upah tenaga kerja pria.
7. Produksi total padi adalah total produksi pada sebidang tanah dengan luasan lahan tertentu dalam satu musim tanam, yang diukur dalam satuan kilogram.
KARAKTERISRIK DAN KERAGAAN USAHATANI RESPONDEN