• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat penelitian yang dipilih adalah di Firma Raja Buncis dengan pertimbangan bahwa Firma Raja Buncis terletak di salah satu sentral produksi buncis yaitu di Kabupaten Bogor. Firma Raja Buncis mempunyai lokasi di Desa Tajur Halang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Hal lain yang menjadi pertimbangan pemilihan Firma Raja Buncis adalah ketidakstabilan hasil panen yang diperoleh Firma Raja Buncis serta ketersediaan data dan kesedian pihak dari pemilik Firma Raja Buncis.Pelaksanaan penelitian dan pengumpulan data di lapangan dimulai pada bulan April 2014 sampai dengan Juli 2014.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dengan didukung beberapa data sekunder. Data primer yang diperoleh melalui pengamatan, pencatatan dan wawancara langsung secara mendalam dengan pemilik Firma Raja Buncis. Untuk melakukan pendalaman lebih jauh dengan pihak yang berkepentingan di perusahaan, dilakukan wawancara kepada petani, maupun karyawan Firma Raja Buncis untuk mengetahui proses produksi, penyebab risiko yang terjadi pada budidaya buncis perancis, dan mengetahui bagaimana proses penanganan risiko yang selama ini telah dilakukan oleh Firma Raja Buncis. Data primer yang diperoleh dari penelitian ini berupa pendapatan yang diperoleh perusahaan, biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan, sumber- sumber risiko yang sering terjadi pada budidaya buncis perancis, jadwal pekerja, serta sistem tanam yang dilakukan oleh Firma Raja Buncis.

Data penunjang lainnya atau data sekunder meliputi luas lahan, keadaan geografis lahan, input yang digunakan selama proses produksi berlangsung, jumlah produksi yang diperoleh, sumber risiko yang terjadi pada proses produksi buncis perancis dan data-data lainnya yang mendukung untuk mengetahui risiko yang terjadi pada saat budidaya buncis perancis. Data diperoleh dari literatur yang terkait seperti penelitian terdahulu, Badan Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Perpustakaan LSI Institut Pertanian Bogor, berbagai situs internet, artikel majalah, surat kabar, dan bahan pustaka lain yang relevan. Data sekunder yang diperoleh dari penelitian ini berupa data pencatatan hasil panen buncis perancis dari bulan Januari 2012 hingga Juli 2014 di Firma Raja Buncis sebanyak 10 siklus produksi, dimana setiap siklus produksi dilakukan selama 3 bulan.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitan ini diperoleh dengan cara wawancara, diskusi dan pengamatan langsung yang dilakukan di sekitar perusahaan. Pengamatan langsung dilakukan dengan melihat dan mengamati secara langsung proses budidaya buncis perancis yang dilakukan pada

lahan seluas 5000 m2.Data yang digunakan adalah data dari sepuluh siklus produksi. Fluktuasi produktivitasnya di lihat dari setiap satu siklus. Perhitungan menggunakan data siklus produksi karena ingin diketahui risiko produksi secara keseluruhan proses budidaya buncis perancis, dari mulai penanaman benih sampai panen terakhir.

Wawancara dilakukan dengan pemilik dan pekerja untuk mengetahui jumlah input yang digunakan, jumlah hasil panen, jumlah penjualan, harga buncis perancis per kg dan perkembangan usaha. Wawancara dilakukan dengan menggunakan beberapa pertanyaan untuk mengetahui kondisi dan situasi di lapangan dengan pihak perusahaan. Observasi dilakukan langsung oleh peneliti dengan cara melakukan pencatatan secara langsung di lokasi penelitian tentang aktivitas produksi dan risiko yang dihadapi dalam produksi buncis perancis. Pencatatan secara langsung dimaksudkan agar di dapat data perbandingan antara hasil standar yang seharusnya diperoleh perusahaan dengan hasil aktual yang sedang dialami oleh perusahaan. Perbandingan pencatatan itu kemudian akan dilihat kemungkinan penyebab sumber risikonya dengan cara menghubungkan data yang diperoleh dari sumber-sumber lain seperti faktor curah hujan maupun perubahan suhu dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), faktor hama dan keadaan pekerja berdasarkan data pencatatan dari hasil observasi.

Metode Analisis Data Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran maupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari analisis deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan aktual mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Analisis ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi sumber risiko produksi serta alternatif manajemen perusahaan untuk meminimalkan risiko pada usaha budidaya buncis perancis di Firma Raja Buncis.

Analisis Peluang Terjadinya Risiko

Risiko dapat diukur jika diketahui peluang terjadinya risiko (probability) dan besarnya dampak risiko terhadap perusahaan. Ukuran pertama dari risiko adalah besarnya peluang terjadinya yang mengacu pada beberapa besar peluang risiko akan terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui peluang terjadinya risiko adalah dengan menggunakan metode nilai standar (z-score). Metode ini dapat digunakan apabila ada data historis dan data berbentuk kontinus (desimal). Pada penelitian ini, yang akan dihitung adalah peluang terjadinya risiko pada kegiatan produksi buncis perancis. Langkah-langkah yang dilakukan untuk melakukan perhitungan kemungkinan terjadinya risiko adalah :

1. Menghitung rata-rata

Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata kejadian berisiko adalah:

=

Dimana:

= Nilai rata-rata dari kejadian berisiko Xi = Nilai per periode dari kejadian berisiko n = Jumlah siklus keseluruhan (10)

Nilai rata-rata yang dimaksud pada rumus ini adalah jumlah kejadian risiko yang dianggap merugikan perusahaan. Data ini diperoleh dari penentuan yang dilakukan oleh pihak expert atau pihak perusahaan untuk memberikan data produksi dari sepuluh siklus masa tanam.

2. Menghitung nilai standar deviasi

Rumus yang digunakan untuk menghitung standar deviasi adalah :

= ( )

1

Dimana:

S = Standar deviasi risiko produksi buncis perancis Xi = Nilai per periode dari kejadian berisiko

= Nilai rata-rata dari kejadian berisiko = Jumlah siklus keseluruhan (10)

3. Menghitung nilai standar (z-score) risiko

Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai standar adalah :

=

Dimana:

Z = Peluang risiko produksi buncis perancis

X = Batas kegagalan produksi yang dianggap masih menguntungkan dan ditentukan oleh pemilik perusahaan

= Nilai rata-rata dari kejadian berisiko

S = Standar deviasi dari risiko produksi buncis perancis

Jika hasilz-scoreyang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya jika nilai z-scorepossitif, maka nilai tersebut akan berada di sebelah kanan kurva distribusi Z (normal).

4. Nilai peluang (probability) terjadinya risiko produksi

Setelah nilai z-score didapat dari produksi buncis perancis, selanjutnya dapat dicari peluang terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari tabel Z (distribusi normal) sehingga diketahui persen peluang terjadinya keadaan dimana produksi buncis perancis yang mendatangkan kerugian.

Analisis Dampak Risiko

Besarnya akibat atau dampak yang disebabkan oleh risiko dapat diketahui dengan menggunakan metode value at risk(VaR). VaR merupakan metode yang

paling efektif untuk mengukur dampak risiko. VaR merupakan representatif kerugian terbesar yang mungkin terjadi rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Tahapan penghitungan VaR antara lain:

1. Menentukan kejadian yang akan diamati

2. Pengumpulan data historis tentang besarnya kerugian yang dialami dalam bentuk rupiah selama jangka waktu tertentu dari kejadian tersebut

3. Menghitung rata-rata kerugian dan standar deviasi kerugian dari rangkaian kejadian tersebut

4. Menentukan tingkat keyakinan yang diinginkan

5. Mencari nilai Z sesuai dengan tingkat keyakinan yang telah ditetapkan dan kemudian menghitung VaR

Pada penelitian ini, VaR digunakan untuk mengukur dampak serta besarnya kerugian yang ditimbulkan apabila risiko terjadi pada kegiatan produksi budidaya buncis perancis di Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor selama tahun 2012-2013. Kejadian yang dianggap merugikan berupa penurunan produksi sebagai akibat dari terjadinya sumber-sumber risiko. Menurut Kountur (2006), VaR dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

= +

Dimana:

Var = Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko

= Nilai rata-rata kerugian dari tiap sumber risiko produksi buncis perancis Z = Nilai Z yang diambil dari tabel distribusi normal dengan alfa 5 persen S = Standar deviasi kerugian risiko produksi buncis perancis

= Jumlah siklus keseluruhan (10)

Nilai Z pada metode VaR digunakan tingkat toleransi sebesar 5 persen yang berasal dari tabel distribusi normal dimana pada tingkat toleransi 5 persen atau 0,05 diperoleh nilai Z = 1,645 karena pada tabel tidak ditemukan nilai yang sama persis dengan 0,05 maka diambil nilai yang berada diantara 0,049 dan 0,051. Pemetaan Risiko

Ada beberapa strategi penanganan risiko, namun sebelum strategi penanganan digunakan, pelu dibuat terlebih dahulu status dan peta risikonya. Dalam menangani risiko, ada perbedaan penanganan antara kejadian-kejadian yang sangat berisiko dengan kejadian-kejadian yang kurang berisiko, sehingga perlu diketahui mana kejadian yang sangat berisiko dan kejadian yang tidak terlalu berisiko.

Untuk membedakan tingkat risiko antara suatu kejadian dengan kejadian lainnya dapat dilihat pada dua hal, yaitu:

1. Kemungkinan 2. Akibat/dampak

Dengan menggabungkan kemungkinan dan dampak, kita dapat mengetahui status dari risiko. Status risiko menunjukkan urutan kejadian-kejadian yang

berisiko. Status yang besar menunjukkan risiko yang besar dan sebaliknya status yang kecil menunjukkan risiko yang kecil.

Status Risiko = Peluang Dampak

Satuan yang digunakan untuk kemungkinan adalah persentase, sedangkan satuan untuk dampak umumnya digunakan dalam rupiah. Namun nilai pada status risiko tidak memiliki satuan. Angka yang dihasilkan dari hasil risiko hanya menunjukkan urutan risiko saja, dimana semakin besar nilai status risikonya, semakin besar semakin berisiko kejadian tersebut.

Perhatian akan diberikan pada kejadian-kejadian yang berstatus risiko besar, karena penanganan atas risiko-risiko tersebut harus segera dilakukan. Informasi penanganan risiko, tidak dapat dilihat berdasarkan status risiko. Untuk itu kejadian-kejadian yang merugikan/risiko yang telah teridentifikasi statusnya, perlu diketahui pula posisinya menggunakan peta risiko, sehingga pemahaman akan risiko menjadi lebih baik.

Menurut Kountur (2006) peta risiko adalah suatu grafik yang menggambarkan kedudukan risiko diantara dua sumbu yaitu vertikal yang menggambarkan kemungkinan dan sumbu horizontal yang menggambarkan akibat. Grafik ini dapat dibagi ke dalam empat kuadran seperti dapat dilihat pada Gambar 5.

Sumber: Kountur (2006)

Peluang yang merupakan dimensi yang pertama menyatakan tingkat kemungkinan suatu risiko terjadi. Semakin tinggi kemungkinan terjadinya risiko terjadi, maka semakin perlu mendapat perhatian. Sebaliknya semakin rendah kemungkinan terjadi, maka semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk memberi perhatian kepada risiko yang bersangkutan. Umumnya peluang dibagi ke dalam tiga kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah.

Dimensi kedua berupa dampak, yaitu tingkat kewaspadaan atau biaya yang terjadi kalau risiko yang bersangkutan benar-benar menjadi kenyataan. Semakin tinggi dampak risiko, semakin perlu mendapat perhatian khusus. Sebaliknya,

Sedang Rendah Sangat

Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Tinggi Kuadran I

Kuadran III Kuadran IV

Dampak (Rp) Peluang (%)

Sangat Tinggi

Kuadran II

semakin rendah dampak yang terjadi dari suatu risiko, maka semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk mengalokasikan sumber daya untuk menangani risiko yang bersangkutan. Pada umunya, dimensi dampak dibagi dalam tiga tingkat yaitu tinggi, sedang dan rendah.

Pada peta risiko, kuadran III menunjukkan daerah risiko yang memiliki kemungkinan relatif kecil dan akibat yang juga dianggap kecil. Sedangkan pada kuadran II menunjukkan daerah risiko dengan akibat yang kecil namun memiliki kemungkinan risiko yang besar. Pada kuadran I menunjukkan daerah risiko yang memiliki kemungkinan dan akibat yang besar. Sedangkan pada kuadran IV menunjukkan daerah risiko yang memiliki kemungkinan yang kecil namun memiliki akibat risiko yang besar.

Batas antara peluang atau kemungkinan besar dan kecilnya terjadinya risiko umumnya ditentukan oleh manajemen. Menurut C. L. Marshall (2001) dalam Kountur (2006), kategori kemungkinan suatu risiko dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Kategori tingkat kemungkinan risiko

Tingkat kemungkinan Kemungkinan terjadi kurang dari 2%

Rendah 2-5%

Sedang 2-5%

Tinggi 10-20%

Sangat tinggi Lebih dari 20%

Sumber: Kountur (2006)

Untuk batas antara kemungkinan besar dan kemungkinan kecil ditentukan berdasarkan data peluang serta dampak yang diperoleh pada usaha budidaya buncis perancis di Firma Raja Buncis. Risiko-risiko yang peluang terjadinya di atas ambang batas yang ditentukan dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan yang dibawah ambang batas yang ditentukan dianggap sebagai kemungkinan kecil. Demikian halnya dengan batas dampak besar dan dampak kecil suatu risiko yang juga ditentukan berdasarkan data dampak yang diperoleh. Strategi Penanganan Risiko

Penanganan risiko dilakukan karena karena adanya dampak yang akan terjadi pada aktivitas petani. Proses ini disebut juga dengan manajemen risiko yang berupa strategi perusahaan dalam pengambilan kebijakan usaha. Berdasarkan peta risiko dapat diketahui strategi penanganan risiko yang paling tepat untuk dilaksanakan. Menurut Kountur (2006) ada dua strategi penanganan risiko, yaitu :

1. Strategi pencegahan timbulnya risiko (preventif)

Strategi pencegahan timbulnya risiko (preventif) dilakukan apabila risiko yang dihadapi terlalu besar, dalam arti kemungkinan terjadinya besar dan akibat yang ditimbulkan juga besar. Selain itu, penerapan strategi ini juga dilakukan apabila risiko yang dihadapi tidak dapat dikendalikan oleh manajemen dan tidak dapat ditangani dengan strategi penanganan risiko lain. Namun tidak semua risiko dapat dihindari dan dicegah, karena terdapat situasi- situasi dimana ketika suatu risiko dihindari, terdapat risiko lain yang mungkin lebih besar yang dapat terjadi.

Untuk situasi dimana menghindar sulit dilakukan, terdapat beberapa strategi yang dilakukan yaitu:

a) Menghindari risiko

b) Mencegah timbulnya risiko untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya c) Mengurangi kerugian akibat risiko untuk meminimalkan akibat yang lebih

besar yang dapat terjadi

d) Mengalihkan risiko ke pihak lain e) Mendanai risiko sekiranya terjadi

Untuk mencegah timbulnya risiko serta kemungkinan terjadinya dapat diperkecil, dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya :

a) Memperbaiki sistem dan prosedur (sistem pengeluaran uang, sistem penerimaan barang)

b) Memperbaiki fasilitas (memasangkansmoke detector) c) Memperbaiki sumber daya manusia (pelatihan, magang)

d) Membuat aturan dan kebijakan (kebijakan insentif, kebijakan promosi) Menurut Kountur (2006), strategi preventif dilakukan apabila kemungkinan terjadinya suatu kejadian yang merugikan besar atau sangat besar. Risiko-risiko ini berada pada kuadran I dan II sebagaimana yang dapat dilihat pada Gambar 6.

Sumber: Kountur (2006)

Gambar 6 Strategi preventif

Penanganan risiko dengan strategi ini bertujuan untuk mengurangi peluang sehingga akan membuat risiko-risiko yang berada pada kuadran I bergeser ke kuadran IV, dan risiko-risiko yang berada pada kuadran II bergeser ke kuadran III. 2. Strategi pengurangan kerugian akibat risiko (mitigasi)

Kountur (2006) menyebutkan bahwa mitigasi merupakan strategi penanganan risiko yang dimaksudkan untuk mengurangi kerugian akibat risiko. Strategi mitigasi ini dikenal dengan strategi pengurangan kerugian.

Apabila suatu kejadian yang merugikan telah terjadi, diusahakan sedemikian rupa agar kerugian yang diderita akibat kejadian tersebut sekecil- kecilnya. Strategi mitigasi dimaksudkan untuk melakukan sesuatu agar sebelum terjadi suatu kejadian, kemungkinan terjadinya dibuat sekecil-kecilnya. Strategi pengurangan dimaksudkan untuk mengurangi kerugian setelah kejadian.

Pengurangan kerugian dilakukan pada risiko-risiko yang berada pada kuadran I dan IV. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak yang terjadi sehingga risiko yang berada pada kuadran I dapat bergeser ke kuadran II, dan risiko yang berada pada kuadran IV dapat bergeser ke kuadran III, seperti dapat dilihat pada Gambar 7.

. %

Kuadran I Kuadran III Kuadran IV

Dampak (Rp) Peluang (%)

0 Rp .

Sumber: Kountur (2006)

Gambar 7 Strategi mitigasi

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerugian/risiko akibat suatu kejadian yang merugikan sekiranya kejadian tersebut terjadi. Strategi pengurangan kerugian ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut : a) Menyebar (difersifikasi produk atau geografis, portfolio,back-up) b) Bergabung (merger,joint verture,alliance,cartel)

c) Memperbaiki fasilitas fisik (memperbaiki, menambah, mengganti fasilitas fisik)

d) Memperbaiki sumber daya manusia (pelatihan)

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Dokumen terkait