• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada usaha burung kenari milik Bapak Asep Permana yang berlokasi di Asrama Brimob Sukasari, Kota Bogor. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan bahwa saat pengamatan langsung ke beberapa kios burung permintaan burung kenari di Kota Bogor cukup besar sedangkan penangkarnya masih relatif sedikit. Pengumpulan dan pengolahan data dilakukan pada bulan September hingga Oktober 2014.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan dengan pengamatan (observasi) langsung serta wawancara dengan pemilik usaha atau pihak-pihak yang terkait dengan usaha tersebut. Data primer bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai burung kenari termasuk budidayanya dan informasi mengenai keuangan usaha tersebut. Data sekunder diperoleh dari berbagai literatur yang terkait dengan penelitian ini, seperti buku teks, jurnal, penelitian-penelitian sebelumnya, surat kabar dan Badan Pusat Statistik (BPS), serta internet.

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi langsung, wawancara, dan studi literatur. Observasi dan wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data primer. Observasi dan wawancara dilakukan dengan pemilik usaha dan pihak-pihak yang terkait dengan usaha tersebut, sedangkan studi literatur dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder untuk mendukung data primer. Pengumpulan data dengan studi literatur dilakukan melalui penelusuran pustaka di perpustakaan IPB, internet, dan instansi terkait.

Metode Pengolahan Data

Metode penelitian ini mengacu pada studi kasus yang mana lingkup penelitian ini terfokus pada kasus yang terjadi pada perusahaan tertentu yang dikaji secara mendalam dan menyeluruh. Menurut Nazir (1999), tujuan metode ini adalah memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu, kemudian dari sifat-sifat khas tersebut akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum. Studi kasus ini difokuskan pada penangkaran burung kenari milik Asoy D‟Canary yang terletak di Asrama Brimob Sukasari, Kota Bogor.

Metode pengolahan data yang dilakukan adalah metode secara kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk menganalisis aspek nonfinansial yang terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan hukum, serta aspek sosial dan lingkungan. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis aspek finansial dengan melakukan analisis laporan laba rugi dan

analisis kriteria penilaian investasi. Dalam hal ini data diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel dan kalkulator.

Analisis Aspek Nonfinansial

Pada penelitian ini aspek-aspek nonfinansial yang akan dianalisis adalah sebagai berikut:

1. Aspek pasar

Ada beberapa hal yang akan dianalisis pada usaha burung kenari milik Asoy

D‟Canary. Pertama, permintaan baik secara total ataupun diperinci menurut

daerah, jenis konsumen, dan proyeksi permintaan tersebut. Kedua, penawaran baik yang berasal dari dalam maupun dari luar kota. Ketiga adalah harga, apakah ada kecenderungan perubahan harga pada usaha Asoy

D‟Canary. Keempat, program pemasaran yang mencakup strategi

pemasaran dan bauran pemasaran (marketing mix). Kelima, perkiraan penjualan yang bisa dicapai oleh usaha burung kenari milik Asoy D‟Canary. Menurut Jumingan (2009) jika hasil penelitian pasar diperoleh kesimpulan tidak ada permintaan produk/jasa yang mencukupi maka proyek dinyatakan tidak layak karena diperkirakan tidak akan berhasil di masa yang akan datang.

2. Aspek teknis

Pada analisis ini hal yang perlu diperhatikan adalah perencanaan lokasi, pemilihan peralatan dan teknologi yang digunakan, serta layout. Jika lokasi usaha Asoy D‟Canary sesuai dengan kondisi lokasi usaha burung kenari pada umumnya maka usaha ini dinyatakan layak. Untuk layout, penempatan sarana dan prasarana dapat disesuaikan dengan lahan yang ada dan belum ada ketentuan yang mengatur penempatan fasilitas-fasilitas serta bentuk, ukuran, dan bahan kandang yang digunakan. Usaha ini dinyatakan layak secara aspek teknis jika masih dapat memproduksi burung kenari. Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek teknis membahas tentang lokasi bisnis, luas produksi, proses produksi, lay out, pemilihan jenis teknologi dan equipment. Aspek teknis dikatakan layak jika komponen-komponen teknis yang dianalisis dapat memberikan kemudahan, efektivitas dan efisiensi kerja untuk mengoptimalkan hasil produksi.

3. Aspek manajemen

Aspek manajemen yang akan dianalisis pada usaha Asoy D‟Canary, yaitu perencanaan proyek dan dasar-dasar manajemen sumber daya manusia yang terdiri dari deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan, struktur organisasi, dan pengadaan karyawan. Setiap kegiatan manajemen dibidang apa pun terdapat fungsi-fungsi manajemen. Dalam bisnis peternakan ada tiga hal yang perlu dilakukan pada manajemen, yaitu manajemen produksi, manajemen pemasaran, dan manajemen keuangan (Rahardi et al. 1993). Manajemen produksi berkaitan dengan proses produksi yang mencakup perencanaan produksi dan pengendalian proses produksi agar pengusaha dapat berproduksi secara efisien. Manajemen pemasaran berkaitan dengan kegiatan mendistribusburung hasil produksi ke tangan konsumen. Terakhir, manajemen keuangan berkaitan dengan kegiatan mengelola keuangan termasuk mendapatkan dan mengalokasikan dana untuk suatu rangkaian usaha atau bisnis. Jika usaha Asoy D‟Canary menjalankan

manajemen-manajemen tersebut sesuai dengan fungsi manajemen-manajemen maka usaha ini dinyatakan layak. Menurut Jumingan (2009) manajemen perlu diperhatikan untuk menjamin keberhasilan proyek baik manajemen selama pembangunan maupun operasi sebab, manajemen yang baik akan membuat proyek berhasil dalam jangka panjang. Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek manajemen dikatakan layak apabila alokasi pengorganisasian sumber daya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan kebutuhan serta implementasi pekerjaan yang dapat mendukung pencapaian tujuan dan target perusahaan. Aspek hukum dari suatu usaha sangat diperlukan dalam hal mempermudah dan memperlancar kegiatan usaha pada saat menjalin jaringan kerjasama dengan pihak lain.

4. Aspek hukum

Analisis ini bertujuan untuk menilai kelengkapan, keaslian, dan keabsahan dokumen-dokumen yang dimiliki perusahaan (Kasmir dan Jakfar 2003). Dalam hal ini dokumen yang diteliti adalah bentuk badan hukum, izin-izin, serta dokumen lainnya yang mendukung kegiatan usaha. Dokumen yang diteliti tergantung dari jenis usahanya. Jika usaha ini memiliki kelengkapan dokumen seperti akta, sertifikat, dan surat izin usaha maka usaha ini dinyatakan layak. Dengan adanya kelengkapan dokumen tersebut berarti usaha ini telah mendapat izin dari pemerintah untuk menjalankan usaha. 5. Aspek sosial dan lingkungan

Analisis ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesesuaian lingkungan dengan bisnis yang dijalankan serta menganalisis perbandingan dampak positif dan negatif bisnis terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar lokasi usaha. Menurut Suliyanto (2010) jika suatu bisnis yang dijalankan sesuai dengan lingkungan dan memiliki dampak positif yang lebih besar daripada dampak negatif, bisnis tersebut dinyatakan layak. Pada penelitian ini hal yang perlu dianalisis adalah manfaat yang dapat diperoleh baik masyarakat maupun lingkungan dengan adanya bisnis ini. Jika usaha ini dapat memberikan manfaat terhadap masyarakat dan lingkungan maka usaha ini dinyatakan layak.

Analisis Aspek Finansial

Analisis aspek finansial ini bertujuan untuk menilai seberapa besar biaya-biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar pendapatan yang akan diterima jika usaha burung kenari milik Asoy D‟Canary dijalankan serta menilai kelayakan usahanya. Analisis ini dilakukan dengan menganalisis laporan laba rugi, aliran kas (cash flow), dan kriteria penilaian investasi. Berikut penjelasan tentang hal yang dianalisis pada aspek finansial:

1. Analisis laporan laba rugi

Laporan ini menggambarkan kinerja perusahaan dalam upaya mencapai tujuannya selama periode tertentu (Nurmalina et al. 2010). Analisis ini terdiri dari beberapa komponen, yaitu penerimaan penjualan, biaya operasional, laba kotor atau Earning Before Interest and Tax (EBIT), biaya bunga, laba sebelum pajak atau Earning Before Tax (EBT), biaya pajak, dan laba bersih atau Earning After Interest and Tax (EAIT). Biaya operasional terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Didalam biaya tetap terdapat biaya penyusutan. Pada penelitian ini biaya penyusutan dihitung dengan

menggunakan metode garis lurus, dimana pengurangan harga pembelian dengan nilai sisa dibagi umur ekonomis. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:

Dari analisis ini akan diperoleh biaya pajak yang digunakan dalam aliran kas (cash flow) dan dari hasil perhitungannya dapat dilihat besarnya laba bersih yang diperoleh oleh perusahaan tiap tahunnya.

2. Aliran kas (cash flow)

Aliran kas berisi tentang semua penerimaan dan pengeluaran usaha burung kenari milik Asoy D‟Canary. Penerimaan yang diperoleh berasal dari nilai produksi total dan nilai sisa. Nilai produksi total dihitung dengan produksi utama dikalikan dengan harga per satuan produk tersebut, sedangkan nilai sisa dihitung dengan nilai pembelian dibagi dengan umur ekonomis dikalikan sisa umur bisnis. Pengeluaran berasal dari biaya investasi, biaya operasional, dan biaya pajak. Dari analisis ini dapat dilihat berapa besar manfaat bersih yang diperoleh oleh usaha Asoy D‟Canary.

3. Kriteria penilaian investasi

Menurut Nurmalina et al. (2010) kriteria penilaian investasi dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan apakah suatu binis layak atau tidak untuk dilaksanakan. Kriteria penilaian investasi yang digunakan adalah Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP) .

a. Net Present Value (NPV)

Perhitungan net present value menunjukkan berapa manfaat bersih yang dapat diperoleh oleh usaha Asoy D‟Canaryselama umur bisnis pada tingkat discount rate tertentu. Net present value dapat dihitung secara matematis dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Dimana:

Bt = Manfaat pada tahun t (Rp) Ct = Biaya pada tahun t (Rp)

t = Tahun kegiatan bisnis (t= 1, 2, 3, ..., n) n = Umur proyek

i = Tingkat suku bunga (%)

Jika hasil perhitungan net present value lebih besar dari nol (NPV > 0), maka usaha layak untuk dijalankan dan jika lebih kecil dari nol (NPV < 0), usaha tidak layak untuk dijalankan. Hasil perhitungan net present value yang sama dengan nol (NPV=0) menunjukkan bahwa usaha ini berada pada kondisi break even point (BEP), yaitu tidak mendapatkan keuntungan ataupun kerugian dimana pendapatan sama dengan pengeluaran.

b. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net benefit cost ratio menunjukkan manfaat bersih yang diperoleh oleh usaha Asoy D‟Canaryterhadap biaya yang telah dikeluarkan selama umur bisnis pada discount rate atau tingkat suku bunga

tertentu. Perhitungan ini merupakan perbandingan antara jumlah present value positif dengan jumlah present value negatif dan dapat ditulis dalam rumus sebagai berikut:

Dimana:

Bt = Manfaat pada tahun t Ct = Biaya pada tahun t i = Discount rate (%) t = Tahun

Jika hasil perhitungan Net B/C ratio lebih dari satu (Net B/C > 1), maka usaha layak untuk dijalankan dan jika lebih kecil dari satu (Net B/C < 1) berarti usaha tidak layak dijalankan. Hasil perhitungan Net B/C ratio yang sama dengan nol (Net B/C=0) menunjukkan bahwa cash in flows sama dengan cash out flows dimana total biaya yang dikeluarkan sama dengan total penerimaan (BEP).

c. Internal Rate of Return (IRR)

Perhitungan ini menunjukkan seberapa besar pengembalian yang bisa diterima oleh suatu usaha terhadap investasi yang akan ditanamkan selama umur bisnis dan pada discount rate tertentu. Internal rate of return dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Dimana:

i1 = Discount rate yang menghasilkan NPV positif i2 = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif NPV1 = NPV bernilai positif

NPV2 = NPV bernilai negatif

Jika hasil perhitungan internal rate of return lebih besar dari discount rate, investasi layak untuk dijalankan dan jika lebih kecil dari discount rate, investasi tidak layak untuk dijalankan. Jika hasil perhitungannya sama dengan discount rate, usaha Asoy D‟Canarytidak mendapatkan keuntungan ataupun kerugian (BEP).

d. Payback Period (PP)

Payback period digunakan untuk mengukur jangka waktu pengembalian investasi pada suatu usaha. Dengan ini, bisa diketahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi pada usaha tersebut terhadap biaya yang telah dikeluarkan. Semakin cepat investasi dapat dikembalburung, semakin baik usaha tersebut. Secara matematis, perhitungan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dimana:

I = Besarnya biaya investasi

Menurut Suliyanto (2010) jika payback period suatu investasi lebih panjang daripada payback maximum maka investasi tersebut dinyatakan tidak layak. Begitu sebaliknya, jika payback period suatu investasi lebih pendek daripada payback maximum maka investasi tersebut dinyatakan layak. Namun, menurut Nurmalina et al. (2010) tidak ada pedoman yang bisa dipakai untuk menentukan payback maximum, sehingga hal ini merupakan masalah utama dalam metode ini. Dengan demikian, pada penelitian ini payback period digunakan untuk melihat berapa lama usaha ini dapat mengembalikan biaya investasinya.

Analisis Switching Value

Setelah analisis kelayakan usaha dari aspek finansial dan non finansial, dilakukan analisis switching value untuk mengetahui sejauh mana tingkat perubahan inflow maupun outflow yang masih bisa ditoleransi agar usaha masih tetap layak untuk dijalankan. Analisis dilakukan pada variable-variabel yang memiliki pengaruh besar terhadap pendapatan atau keuntungan pada usaha Asoy

D‟ Canary. Variabel yang digunakan yaitu penurunan produksi anakan burung

kenari dan kenaikan biaya pakan biji-bijian.

Asumsi Dasar Penelitian

Asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian usaha ini adalah sebagai berikut:

1. Umur bisnis didasarkan pada umur ekonomis bangunan, yaitu selama 10 tahun. Hal ini berdasarkan pada umur bisnis dan biaya terbesar.

2. Tingkat diskonto didasarkan pada tingkat bunga deposito Bank Indonesia selama penelitian, yaitu pada bulan 12 November 2013 sampai 7 Oktober 2014 sebesar 7,50 persen. Tingkat suku bunga ini digunakan karena modal yang digunakan merupakan modal sendiri.

3. Produk burung kenari yang dijual yaitu anakan berusia 2 bulan, ini dikarenakan pada usia itu burung kenari sudah dapat dipisah dari induknya dan hidup mandiri.

4. Tingkat Hatching Rate (HR) dan Survival Rate (SR) tiap jenis anakan kenari hampir sama yaitu sebesar 75 dan 80 %. Penentuan ini berdasar pengalaman yang terjadi pada penangkaran Bapak Asep.

5. Harga jual anakan kenari sebesar Rp 2.000.000,00 per ekor.

6. Harga yang digunakan dalam penelitian ini merupakan harga yang berlaku saat awal tahun 2014 hingga akhir tahun 2014 baik harga input maupun harga output dan dianggap tetap selama umur bisnis.

7. Kandang soliter berbentuk seperti bujur sangkar dan berukuran 40 cm x 60 cm x 60 cm. Kandang ini digunakan untuk merawat pejantan Yorkshire setelah dan sebelum dikawinkan.

8. Kandang ternak yang digunakan berukuran 50cm x 50cm x 50cm. Kandang ternak ini digunakan untuk indukan kenari yang siap dikawinkan.

9. Kandang umbaran yang digunakan berukuran 2m x 1m x 1m. Kandang ini digunakan untuk anakan yang siap dijual.

10. Pada tahun pertama dilakukan 2 kali siklus dan untuk tahun kedua hingga tahun kesepuluh dilakukan 4 kali siklus dalam 1 tahun dengan siklus produksi selama 3 bulan.

11. Pada tahun pertama dilakukan pengadaan sarana dan prasarana produksi selama 6 bulan dan produksi baru dimulai awal bulan ketujuh.

12. Satu kali musim panen burung kenari selama 3 bulan. Setiap selesai panen dilakukan persiapan kandang untuk produksi berikutnya.

GAMBARAN UMUM

Dokumen terkait