Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru selama 2 (dua) bulan Juni – Juli 2016 (Gambar 1.)
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini seperti terlihat pada pada Tabel 1
Tabel 1. Alat yang digunakan
No Nama Alat Kegunaan
1 Global Positioning System (GPS) Menentukan posisi penangkapan 2 Refraktometer Mengukur salinitas perairan 3 Termometer Mengukur suhu perairan
4 Kapal tangkap Sebagai transportasi/penangkapan dalam pengukuran parameter oseanografi
5 DO meter Mengukur oksigen terlarut 6 Kamera digital Dokumentasi kegiatan 7 Software Envi 4.5 Koreksi data citra
8 Software ER Mapper Mengimpor citra dari pci ke bentuk raster 9 Software ArcGIS Pembuatan layout peta
10 Stopwath Menghitung waktu
11 Layang arus Menghitung kecepatan arus 12 Seperangkat komputer Mengolah data citra
Bahan yang digunakan dalam penelitian seperti terlihat pada Tabel 2
Tabel 2. Bahan yang digunakan
34
1 Data Citra MODIS SPL dan klorofil
Menentukan daerah penangkapan ikan 2 Peta digital BAKOSURTANAL,
2004
Peta dasar/vektor 3 Data arus TOPEX Menentukan pola arus 4 Peta Batas Administrasi
Kab.Barru
Peta dasar lokasi penelitian
Prosedur Kerja
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer yaitu data yang diperoleh dengan cara mengikuti secara lansung kegiatan penangkapan ikan dan data sekunder yaitu data citra MODIS yang diperoleh dari Balai Penginderaan Jauh Pare-pare (LAPAN). Untuk mendapatkan data primer dilakukan beberapa kegiatan, yaitu
a. Persiapan
Kegiatan ini berupa studi pendahuluan yaitu studi literatur, observasi lapangan, konsultasi dengan beberapa pihak yang ahli dan menyiapkan semua peralatan pendukung kegiatan penelitian.
b. Penentuan Stasiun Pengamatan
Stasiun pengamatan mengikuti pengoperasian nelayan secara lansung dengan menggunakan GPS dalam pengambilan titik koordinat. Penentuan stasiun pengamatan dilakukan pada saat setting maupun hauling.
c. Pengambilan Data
Pada saat hauling dilakukan pengambilan data parameter oseanografi dan data hasil tangkapan dengan melakukan pengukuran langsung kemudian dilakukan pencatatan waktu masing-masing pengambilan data.
1) Pengukuran Suhu
Pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer pada saat setting alat tangkap dan menggunakan Citra MODIS untuk menggambarkan daerah penangkapan ikan.
2) Pengukuran Salinitas
Salinitas diukur dengan menggunakan refraktometer yang dilakukan pada setiap selesai melaksanakan setting dan hauling. Pengukuran tersebut dilakukan dengan mengambil satu tetes air laut yang diletakkan pada alat kemudian dilakukan analisis, batas garis antara terang dan gelap merupakan nilai salinitasnya. 3) Pengukuran Arus
Kecepatan arus diukur dengan menggunakan layangan arus yang dilakukan pada saat setting alat tangkap yang dilakukan pada beberapa titik. Kecepatan arus diukur dengan menghitung jarak yang ditempuh agar tali layangan bentang dan dibagi dengan waktu bentang tali tersebut.
4) Pengukuran Klorofil-a
Pengambilan data sebaran klorofil-a dapat diperoleh dari data citra satelit untuk memprediksi daerah potensial penangkapan ikan. Data tersebut disesuaikan dengan hari yang sama pada saat pengambilan data oseanografi sehingga bisa dijadikan data pembanding dengan hasil tangkapan.
5) Pengukuran DO
Pengukuran oksigen terlarut dilakukan dengan menggunakan DO meter pada saat setting dan hauling. Pengambilan data tersebut dilakukan beberapa kali kemudian dibagi dengan banyaknya pengambilan data pada saat setting alat tangkap agar data yang didapatkan lebih akurat.
6) Pengukuran Kedalaman
Kedalaman diukur dengan menghitung kedalaman jaring Purse Seine yang digunakan selama penangkapan. Selain itu dapat pula menggunakan peta Bathymetri sebagai referensi tambahan untuk menganalisis kedalaman daerah penangkapan ikan dan daerah pengambilan sampel oseanografi. 7) Pencatatan Data Hasil Tangkapan
Setelah dilakukan pengukuran parameter oseanografi, kemudian dilakukan pencatatan data hasil tangkapan ikan kembung guna mengetahui berapa banyak ikan yang ditangkap setiap kali hauling.
35 a. Uji Kenormalan (Normalita)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji data yang diperoleh telah berdistribusi normal atau tidak. Asumsi yang digunakan yakni berdasarkan Histogram normal probability yang terbentuk, jika titik menyebar di sekitar garis normal, maka data tersebut dapat dikatakan telah berdistribusi normal, begitu pula sebaliknya (Santoso, 2005).
b. Analisis Cobb Douglas (Non Linear Berganda)
Untuk mengetahui hubungan parameter oseanografi dengan hasil tangkapan digunakan analisis Cobb
Douglas. Analisis Cobb Douglas ini akan menunjukkan variabel bebas (X) mana
(suhu,salinitas,arus,DO, dan kandungan klorofil-a) yang sangat berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan, sebagai variabel tak bebas (Y).
Analisis Non Linier Berganda (Cobb Douglas) diformulasikan sebagai berikut :
Y = ax1b1 x2b2 x3b3………..xnbn
Dimana :
Y = Hasil tangkapan/ trip (kg/trip) a = Koefisien potongan (Konstanta) b1 = Koefisien regresi parameter suhu b2 = Koefisien regresi klorofil-a b3 = Koefisien regresi DO b4 = Koefisien regresi salinitas b5 = Koefisien regresi kecepatan arus X1 = Suhu perairan (0C)
X2 = Klorofil-a (mgm-3) X3 = Do
X4 = Salinitas (0/00) X5 = Kecepatan arus (m/det) c. Uji-F (Uji Persamaan)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel bebas (independent) suhu, salinitas, arus, DO, klorofil secara bersama terhadap variabel tak bebas (dependent) untuk mengetahui hasil tangkapan. dimana :
F hitung < F tabel, maka berpengaruh nyata
F hitung > F tabel, ≠ berpengaruh nyata
d. Uji t (Uji Lanjutan)
Untuk mendapatkan model regresi terbaik dan untuk menguji pengaruh tiap variabel bebas (independent) terhadap variabel tak bebas (dependent) maka dilakukan uji-t dengan menggunakan rumus:
Dimana :
t = nilai hitung rxy = hasil korelasi n = jumlah data
Menerima Ho jika t hitung lebih kecil dari t tabel dan men olak Ho jika t hitung lebih besar daripada t tabel (Santosa et al., 2005).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Parameter Oseanografi dan Hasil Tangkapan 1. Uji Kenormalan (Normalitas)
r 2 xy 1 2 n rxy t36 Hasil uji kenormalan berdasarkan Histogram normal probability plot (PP) menunjukkan bahwa titik tidak menyebar di sekitar garis normal atau garis diagonal. Jika demikian maka data tersebut belum berdistribusi normal.Tetapi jika dilakukan uji normalitas Kormogorov-Smirnov untuk masing-masing parameter oseanografi, DO dan arus yang terdistribusi normal dimana nilai Asymp. Sig (2-tailed) masing-masing bernilai 0,149 > 0,05 dan 0,12 > 0,05 . Sedangkan suhu dan salinitas tidak terdistribusi normal dimana nilai (Asymp. Sig (2-tailed) < 0,05). Hasil analisis uji Kormogorov-Smirnov dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil analisis uji Kormogorov-Smirnov
Tabel 4. Variabel Dependent dan Variabel Independent
Tabel di atas menunjukkan variabel bebas (suhu, salinitas, DO, dan arus ) serta variabel tidak bebas (hasil tangkapan) yang akan diuji pengaruh antara keduanya. Pengaruh parameter oseanografi tersebut, bisa terlihat pada Tabel 3 dan Tabel 4.
Tabel 5. R Square atau koefisien determinasi (KD)
Berdasarkan tabel 5 di atas, maka terlihat bahwa variabel bebas (suhu, DO, salinitas, arus) memiliki pengaruh lemah terhadap variabel tak bebas (hasil tangkapan) dimana nilai R Square atau koefisien determinasi (KD) sebesar 10,9%. Pada tabel tersebut juga menunjukkan nilai R sebesar 0,330 sehingga hubungan antara kedua variabel tersebut dapat dikatakan berada pada pengaruh kategori lemah.
2. Uji-F (Uji Persamaan)
Tabel 6. Hasil Analisis Anova
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Suhu .339 34 .000 .784 34 .000
DO .131 34 .149 .944 34 .079
salinitas .243 34 .000 .858 34 .000
Arus .172 34 .012 .843 34 .000
hasil_tangkapan .348 34 .000 .555 34 .000
37 Berdasarkan tabel 6 di atas, maka dapat dikatakan bahwa fluktuasi variabel bebas (suhu, DO, salinitas, arus) dalam jangka pendek (30 trip penangkapan) belum mampu menjelaskan hubungannya dengan hasil tangkapan. Pada tabel tersebut juga terlihat bahwa variabel bebas (suhu, salinitas, DO, arus) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel tak bebas (hasil tangkapan) dimana nilai Sig. = 0,485 > 0,05.
Jika parameter dianalisis satu persatu seperti pada persamaan regresi pada tabel 5, maka terlihat parameter oseanografi yang paling berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan kembung hanya DO dengan nilai sig. = 0,188 dan arus dengan nilai sig.= 0,197, sedangkan suhu dan salinitas kurang berpengaruh dimana nilai sig untuk masing-masing sig. = 0,615 dan sig. = 0,402 > sig. 0,05
3. Analisis Cobb Douglas (Non Linear Berganda)
Signifikansi dari model regresi pada koefisien variabel bebas menunjukkan > 0,05 sehingga dapat disimpulkan hasil tangkapan produksi ikan kembung tidak dipengaruhi oleh variabel bebas tersebut. Berdasarkan tabel 5, diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
Y = -556.981 – 7.497X1 + 9.343X2 + 8.681X3 – 251.612X4
Tabel 7. Persamaan Regresi
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan hasil dan pembahasan maka disimpulkan sebagai berikut:
1. Pada tabel R Square menunjukkan nilai sebesar 10,9 % yang berarti bahwa pengaruh suhu, salinitas, DO, dan arus terhadap hasil tangkapan ikan kembung (Rasterlliger Spp) di Perairan Soppeng Riaja tidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan nilai sig (0,485 > 0,05).
2. Persamaan regresi menunjukkan parameter oseanografi yang paling berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan kembung (Rasterlliger Spp) adalah DO dengan nilai sig 0,188.
DAFTAR PUSTAKA
Santoso, S. 2005. Menggunakan SPSS untuk Statistik Parametrik. Seri Solusi Bisnis Berbasis TI. PT Elex Media Komputindo. Kelompok Gramedia. Jakarta.
Suhendrata B, Badrudin M. 1990. Sumberdaya perikanan demersal di perairan pantai Utara Rembang. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. 5:1-7.
38
Peran Penyuluh Dalam Agribisnis Perikanan Di Kabupaten Pinrang
Asgar*1)
1)PenyuluhPerikananMadyaBRPBAPPPMaros
,
SulawesiSelatanABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penyuluhan dan peran penyuluh dalam kegiatan agribisnis perikanan di Kabupaten Pinrang. Metode yang digunakan adalahmetode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penyuluh perikanan memiliki peran yang penting dalam penyampaian informasi perikanan, penyaluran sarana produksi perikanan serta peran penyuluh perikanan dalam proses pengolahan dan pemasaran hasil perikanan di Kabupaten Pinrang. Kegiatan penyuluhan perikanan ini tidak hanya bergantung pada kemampuan penyuluh dalam menyampaikan informasi dan inovasi yang dibawa oleh penyuluh tersebut, tetapi minat yang tinggi dari masyarakat dalam mengikuti dan mencoba menerapkan inovasi yang diberikan penyuluh akan mempengaruhi keberhasilan kegiatan penyuluhan.
Kata kunci: penyuluh perikanan, peran penyuluhan, informasi, inofasi