• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengemasan dan Distribusi Benih Pemasaran

Dalam dokumen Makalah Perikanan dan Ilmu Kelautan (Halaman 140-144)

141

7. Pendederan II

Pendederan II menggunakan benih ikan mas hasil panen dari pendederan I. Luas kolam pendederan II sama dengan pendederan I yaitu 9x22 m2. Penebaran dilakukan pada saat pagi hari pukul 06.00 atau sore hri pukul 17.00. ukuran benih yang ditebar yaitu 1-3 cm dengan padat tebar 50 ekor/m2. Waktu pemeliharaan 20 hari. Pakan yang diberikan berupa pellet berukuran kecil. Pemberian pakan untuk pendederan II yaitu 10% dari biomassa. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali yaitu pada pagi hari pukul 07.00, siang hari pukul 12.00, dan sore hari pukul 16.00.

8. Pengontrolan Kualitas Air

Pengukuran kualitas air dilakukan 2 kali dalam seminggu melalui pengamatan secara visual untuk mengetahui kecerahan air, melakukan pengukuran dengan menggunakan termometer batang untuk mengetahui suhu air, dan menggunakan kertas pH untuk mengetahui keasaman air. Selanjutnya air kolam diambil untuk dianalisis kandungan oksigen dan logam berat seperti Hg, Cd, Pb di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Makassar. Hal ini dilakukan enam bulan sekali, dan dilakukan pengambilan sampel ikan oleh Balai Karantina Ikan Makassar yang dilakukan persemesteran.

9. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit pada benih ikan mas selama pendederan ini yaitu melakukan pengamatan setiap hari yang berupa melihat kondisi ikan aktif atau tidak, gerakan agresif, serta apakah ditubuh ikan terdapat penykit. Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa, memburuh, dan memperngaruhi produktivitas ikan, baik secara langsung maupun secara bertahap. Hama bersifat sebagai organisme yang memangsa (predator), perusak atau kompetitor (penyaing), dan sebagai predator (pemangsa). Hama yang paling umum didapatkan dalam proses pembenihan ikan mas yaitu ucrit. Ucrit adalah larva capung yang hidup di dalam kolam. Siklus hidup ucrit dimulai dari penempelan telur capung di rerumputan dekat pinggiran kolam. Selanjutnya, telur menetas dan larva capung tersebut jatuh ke kolam. Sifat merugikan ucrit yaitu menyedot cairan larva atau benih ikan hingga mati. Kematian yang disebabkan oleh hama ini mencapai angka 70% yaitu pada saat pendederan I. Solusi pencegahan serangan hama ini yaitu selalu membersihkan sekitar kolam dari rerumputan, kegiatan tersebut dapat dilakukan pada saat pengolahan kolam sebelum tebar benih. Obat-obatan belum banyak digunakan untuk mencegahnya. Selain ucrit, udang rebon, siput, dan notonecta dapat pula menjadi hama dalam proses pendederan karena bersifat sebagai kompetitor (penyaing) dalam segi suplai oksigen dan makanan. Penyakit yang sering ditemukan adalah cacing jangkar. Cara pengendaliannya yaitu dengan merendam ikan di larutan garam selama kurang lebih 10 menit, tetapi apabila ikan sudah terkena penyakit yang parah maka langkah yang harus dilakukan adalah membawa ikan tersebut ke UPTD kesehatan ikan DKP Sulses di Kab. Pangkep untuk dianalisis penyakitnya dan di obati. Ikan yang terinfeksi penyakit dikarantinakan sampai sembuh.

10. Panen

Panen benih ikan mas dapat dilakukan sesuai dengan permintaan konsumen. Panen dapat dilakukan setelah beih mencapai ukuran 1-3 cm. Ada dua teknik pemanenan yang dilakukan di lokasi ini yaitu panen selektif dan panen total Sedangkan panen total dilakukan apabila benih dibutuhkan dalam jumlah banyak atau seluruh isi kolam. Panen selektif dilakukan apabila konsumen hanya membeli separuh atau sebagian dari isi kolam saja. Benih ditangkap dengan menggunakan waring atau seser yang mempunyai ukuran 0,10 mmm. Panen biasanya dilakukan oleh 3 orang dengan cara dua orang turun ke kolam, masing-masing memegang sudut-sudut kolam waring. Setelah benih-benih ikan masuk ke dalam waring benih tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ember yang diisi air hanya setengah saja, dan satu orang lagi mengangkut benih tersebut ke tempat penampungan benih sementara.

Panen total benih dilakukan pada pagi hari pukul 06.30-08.00 dengan memasang saringan didepan pintu pengeluaran air. Air dikolam pendederan dikurangi secara perlhan hingga ketinggian air didepan pintu pengeluaran air sekitar di bawah 30 cm. Waring dipasang di depan pintu pengeluaran air, menggantikan saringan. Benih yang terkumpul didepan pintu pengeluaran air di tangkap dengan menggunakan seser. Kemudian dikumpulkan di dalam ember. Benih ditampung dalam bak penampungan sementara. Setelah itu dilakukan grading dengan tujuan untuk mendapatkan benih dengan ukuran yang sama.

Pengemasan dan Distribusi Benih

Benih dihitung sesuai dengan jumlah yang dipesan dengan cara dihitung langsung atau dengan cara sampling. Potong kantong plastik dengan panjang 2 m (sesuai dengan kebutuhan). Ikat bagian tengah plastik dan masukkan salah satu bagian ke bagian yang lainnya sehingga akan terbentuk kantong dua lapis. Isi kantong plastik 5-10 liter air bersih. Benih yang sudah dihitung kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik

142 packing yang berisi air. Udara di dalam kantong dibuang, lalu dimasukan oksigen dalam tabung dengan selang kecil sampai diperkirakan mencapai setengah bagian kantong tersebut. Ikat dengan karet gelang sampai rapat. Setelah benih dikemas sesuai dengan pesanan konsumen maka siap untuk di distribusikan. Pemasaran yang dilakukan di UPTD BBI Kalola ada 2 macam yaitu :

1) Pembeli hanya memesan/tidak datang ke lokasi pemasaran. Biasanya pembeli seperti ini hanya memesan beberapa jumlah benih yang mereka perlukan.

2) Pembeli langsung datang ke lokasi, biasanya pembeli yang langsung ke lokasi pemasaran ini berasal dari Kabupaten Wajo maupun luar Kabupaten Wajo. Biasanya sebelum pembeli datang mereka terlebih dahulu memesan beberapa jumlah benih yang mereka butuhkan karena terkadang benih tersebut habis disebabkan oleh banyaknya pembeli. Pemasaran di UPTD BBI Wajo sangat lancar karena kualitas benih yang cukup tinggi sehingga disukai banyak orang.

Berikut adalah Ukuran dan Harga Benih Ikan Mas di Balai Benih Ikan Kalola ditampilkan pada Tabel 1 berikut :

Tabel 1. Ukuran dan harga benih ikan mas di Balai Benih Ikan Kalola

No. Ukuran (cm) Harga (RP/ekor)

1 1-2 200

2 2-3 300

3 3-5 500

4 5-7 700

Sumber:Data UPTD BBI Kalola, Wajo 2017 Pemasaran

Pasar merupakan tujuan akhir dari sebuah bisnis, termasuk budi daya ikan mas. Kegiatan pemasaran dimulai dari memasarkan hasil pembenihan, pendederan, sampai hasil pembesaran. Pemasaran hasil pembenihan dan pendederan biasanya hanya terjadi di kalangan petani di lingkungan usaha pemeliharaan. Kalaupun ada yang diperdagangkan, umumnya hanya terjadi di pasar ikan budidaya. Sementara untuk hasil pembesaran dapat dijual langsung ke konsumen, dijual di pasar ikan komsumsi, atau dijual ke pasar umum.

Benih yang dihasilkan oleh UPTD BBI Kalola dipasarkan di sekitar lokasi UPTD BBI Kalola dan daerah-daerah lain sekitar kabupaten Wajo antara lain Kabupaten Bone, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Luwu, Kabupaten Maros, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Gowa, Kabupaten Barru, dan Pare-Pare. Selain itu benih yang dihasilkan oleh UPTD BBI Kalola sudah pernah dipasarkan di luar Sulawesi Selatan yaitu di Kendari Sulawesi Tenggara. Benih dipasarkan untuk para pembudidaya ikan mas. Proses pengangkutan benih ikan mas dapat dilihat pada Gambar 3.

143 Sistem pengangkutan yang dilakukan di unit UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Kalola adalah sistem pengangkutan tertutup. Yaitu untuk konsumen yang langsung datang dilokasi maka dilakukanlan pengangkutan tertutup, maksudnya adalah seluruh kegiatan pemasaran disaksikan secara langsung oleh konsumen, mulai dari pengambilan benih dari dalam kolam, penyortiran, perhitungan benih, pengemasan sampai dengan pengangkutan benih yang diangkut dan dibawa sendiri oleh konsumen.

Pemasaran Benih Ikan Mas Saluran Pemasaran Benih Ikan Mas. Benih ikan mas tersebut setelah dipanen dipasarkan kepada konsumen dengan keadaan hidup dan masih segar. Benih ikan mas yang sudah dipanen dikemas menggunakan plastik berisi air dan oksigen. Konsumen yang datang ke Balai Benih Ikan Kalola terdiri dari pedagang pengecer dan juga pedagang pengumpul. Selanjutnya pedagang pengumpul mengedarkan kepada setiap agen pedagang pengecer yang tersebar di Sulawesi Selatan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapan disimpulkan sebagai berikut :

1. Proses produksi terdiri dari : Persiapan kolam pendederan, Pendederan, Pengontrolan kualitas air, Pengendalian hama dan penyakit, Panen, Pengemasan dan distribusi benih dan Pemasaran. Harga benih ikan mas berdasarkan ukurannya yaitu : ukuran 1-2 cm seharga Rp.200/ekor, 2-3 cm seharga Rp.300/ekor, 3-5 cm seharga Rp.500/ekor, dan 5-7 cm seharga Rp.700/ekor.

2. Benih ikan mas tersebut setelah dipanen dipasarkan kepada konsumen dengan keadaan hidup dan masih segar. Benih ikan mas yang sudah dipanen dikemas menggunakan plastik berisi air dan oksigen. Konsumen yang datang ke Balai Benih Ikan Kalola terdiri dari pedagang pengecer dan juga pedagang pengumpul. Selanjutnya pedagang pengumpul mengedarkan kepada setiap agen pedagang pengecer yang tersebar di Sulawesi Selatan.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Kabupaten Wajo. 2018. Kabupaten Wajo dalam Angka. http.//wajokab.bps.go.id

Fransiska A. 2010. Analisis efisiensi pemasaran ikan kembung (studi kasus: Muara Angke, Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara, Propinsi DKI Jakarta) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor

Husuna, Runtung, Kotambunan. 2017. Penilaian Nelayan terhadap Program Pengembangan Perikanan Tangkap Huhate di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Akulturasi Volume 5 No. 9 ISSN. 2337-4195.

Khairuman. 2013. budidaya ikan mas. Agromedia pustaka; Jakarta

Marsoedi, 2008. Upaya Pengembangan Perikanan Indonesia [Tesis]. Malang. Universitas Brawijaya. Malang UPTD Balai Benih Ikan Kalola, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo. 2018.

Sugiono 2013. Metode Penelitian Kuantitatif dan R dan D. Alfabeta. Bandung.

Supriatna, Yadi. 2013. Budi Daya Ika mas di kolam hemat air. AgroMedia Pustaka; Jakarta Sugiyono.2012. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung.

144

Pendampingan Teknik Pembesaran Ikan Bandeng (Chanos chanos forsskal) Bagi

Dalam dokumen Makalah Perikanan dan Ilmu Kelautan (Halaman 140-144)