• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Perumahan Taman Pagelaran, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2006. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Komplek Perumahan Taman Pagelaran merupakan salah satu permukiman di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor yang mempunyai penduduk yang beragam.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang mengkonsumsi susu (bubuk, cair atau kental) di Komplek Perumahan Taman Pagelaran. Cara pengambilan sampel dilakukan secara dua langkah, yaitu: pertama menentukan lokasi penelitian yang dilakukan secara multistage purposive sampling yaitu pengambilan contoh secara bertingkat berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Hal ini dimulai dari penentuan Perumahan Taman Pagelaran sendiri, selanjutnya memilih secara purposive lima Rukun Warga (RW) dengan jumlah penduduk terbanyak, dari masing-masing RW dipilih secara purposive dua Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah penduduk terbanyak. Selanjutnya dari sepuluh Rukun tetangga terpilih, diambil secara purposive sebanyak 60 responden dengan masing masing RW sebanyak 12 responden. Jumlah responden sebanyak 60 ini didasarkan atas pernyataan Setiady dan Husaini (1998) yang menyatakan bahwa untuk sebuah penelitian sosial deskriptif dibutuhkan minimal 30 responden. Lebih jelasnya lihat Tabel 3.

Tabel 3. Persebaran Responden Berdasarkan RT dan RW

RW Terpilih RT Terpilih Keluarga Terpilih

(KK) 08 09 10 11 12 01 dan 03 01 dan 07 02 dan 06 01 dan 04 01 dan 03 12 12 12 12 12 Total 60

Desain Penelitian

Penelitian ini didesain sebagai penelitian survei yang bersifat deskriptif dengan sampel yang digunakan adalah konsumen rumah tangga di Perumahan Taman Pagelaran, Kelurahan Padasuka, kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok.

Data dan Instrumentasi

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara wawancara dan pengisian kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya kepada responden. Data sekunder yang digunakan adalah data penunjang penelitian yang diperoleh dari kelurahan dan penelitian-penelitian yang relevan.

Analisis Data Analisis Deskriptif

Faktor-faktor yang tidak diuji secara statistik akan dianalisis secara deskriptif. Faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Analisis ini digunakan untuk menggambarkan kondisi lingkungan dan sebaran responden berdasarkan umur, jenis kelamin, status dalam keluarga, tingkat pendidikan formal, pengetahuan gizi, jumlah anggota keluarga, jumlah balita dalam rumah tangga, pendapatan keluarga, dan persentase distribusi pendapatan untuk konsumsi bahan makanan. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan wawancara dan kuesioner, data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif (rataan, persentase dan lain-lain).

Analisis Regresi Linier Berganda

Regresi Linier merupakan persamaan matematika yang menggambarkan hubungan antara variabel tak bebas dengan sejumlah variabel bebas. Analisis ini di gunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi susu bubuk, susu kental manis maupun susu cair pada konsumen rumah tangga.

Model untuk jumlah konsumsi susu bubuk adalah sebagai berikut : Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4+b5X5 + b6D1 + b7D2 + e

Dimana: Y = Jumlah konsumsi susu (gram/bulan) b0 = Intersep

b1-b9 =Koefisien variabel bebas X1 = Harga susu bubuk (Rp/gram) X2 = Tingkat pendapatan (Rp/bulan)

X3 = Pengeluaran untuk bahan makanan (Rp/bulan ) X4 = Jumlah anggota keluarga (jiwa)

X5 = Jumlah balita dalam keluarga (jiwa) D1 = Dummy tingkat pendidikan

0 = Kurang atau sama dengan SMA 1 = Lebih dari SMA D2 = Dummy Pengetahuan Gizi

0= Kurang 1= Sedang 2 = Baik e = Variabel Pengganggu

Model untuk jumlah konsumsi susu kental manis adalah sebagai berikut : Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4+b5X5 + b6D1 + b7D2 + e

Dimana: Y = Jumlah konsumsi susu (gram/bulan) b0 = Intersep

b1-b9 =Koefisien variabel bebas

X1 = Harga susu kental Manis (Rp/gram) X2 = Tingkat pendapatan (Rp/bulan)

X3 = Pengeluaran untuk bahan makanan (Rp/bulan ) X4 = Jumlah anggota keluarga (jiwa)

X5 = Jumlah balita dalam keluarga (jiwa) D1 = Dummy tingkat pendidikan

0 = Kurang atau sama dengan SMA 1 = Lebih dari SMA D2 = Dummy Pengetahuan Gizi

0= Kurang 1= Sedang 2 = Baik e = Variabel Pengganggu

Model untuk jumlah konsumsi susu cair adalah sebagai berikut : Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4+b5X5 + b6D1 + b7D2 + e

Dimana: : Y = Jumlah konsumsi susu (ml/bulan) b0 = Intersep

b1-b9 =Koefisien variabel bebas X1 = Harga susu cair (Rp/ml) X2 = Tingkat pendapatan (Rp/bulan)

X3 = Pengeluaran untuk bahan makanan (Rp/bulan ) X4 = Jumlah anggota keluarga (jiwa)

X5 = Jumlah balita dalam keluarga (jiwa) D1 = Dummy tingkat pendidikan

0 = Kurang atau sama dengan SMA 1 = Lebih dari SMA D2 = Dummy Pengetahuan Gizi

0= Kurang 1= Sedang 2 = Baik e = Variabel Pengganggu

Mencari model yang terbaik dan menyelesaikan persamaan dilakukan dengan menggunakan program SPSS 13.0 (Statisttical Product and Sevice Solutions). Model terbaik yang dipilih dalam membahas permasalahan terdiri dari koefisien determinasi yang telah disesuaikan (R2 adjusted), pengujian parameter secara serentak (Fhitung), pengujian parameter secara tunggal (thitung), kesesuaian tanda dan besar parameter regresi. Pengujian parameter regresi dilakukan secara serentak dan tunggal, SPSS selalu menggunakan α = 5% pada selang kepercayaan 95% (Santoso, 2000)

Uji -t

Untuk menguji ada tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas maka dilakukan uji statistik –t dengan langkah-langkah sebagai berikut:

H0 = bi = 0 H1 = bi > 0 atau bi < 0 ) ( i i b S b hitung t− = ; (n-k, t-tabel)

Dimana :

bi = Koefisien Peubah ke-i S (bi) = Standar error untuk bi

n = Jumlah pengamatan

k = Jumlah variabel dalam model Jika :

1. –ttabel < thitung < ttabel maka terima H0 yang artinya variabel-variabel bebas yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas

2. thitung < -ttabel atau thitung> ttabel maka tolak H0 yang artinya variabel-variabel bebas yang diuji berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas

Uji F

Untuk mengetahui apakah seluruh variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas pada suatu persamaan dilakukan dengan menggunakan uji-F. Langkah-langkah dalam pengujian hipotesisnya adalah :

H0 = bi = b2 = … = bk = 0 H1 = paling tidak ada satu b= 0

F hitung = Jumlah kuadrat regresi / (k-1) Jumlah kuadrat sisa / n-k Dimana :

n = Jumlah sampel k = Jumlah variabel bebas Bila:

1. Fhitung > Ftabel maka tolak H0 yang berarti semua variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata pada variabel tak bebas

2. Fhitung < Ftabel maka terima H0 yang berarti semua variabel bebas tidak berpengaruh nyata pada variabel tak bebas

Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan sebagai pengukur tingkat kebaikan model. Koefisien tersebut menjelaskan variasi total dalam seluruh varibel dependen (Y) yang dijelaskan oleh seluruh variabel independent dalam model semakin tinggi

keragaman yang dapat diterangkan oleh model tersebut, semakin besar koefisien determinasinya. JKT JKS R2 =1− Dimana :

R2 = Koefisien Determinasi JKT = Jumlah Kuadrat Total JKS = Jumlah Kuadrat Sisa

Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk menguji adanya korelasi antara kesalahan pengganggu pada suatu periode dengan kesalahan pada periode sebelumnya. Jika terjadi korelasi maka ada autokorelasi. Untuk mendeteksi autokorelasi yaitu dengan mencari nilai Durbin-Watson. Apabila nilainya di bawah -2 berarti terjadi autokorelasi positif, apabila nilainya antara -2 dan +2 maka tidak terjadi autokorelasi dan apabila nilai Durbin-Watson diatas 2 maka terjadi autokorelasi negatif.

Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinearitas. Menurut Santoso (2000), model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independent dan pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas yaitu :

• Memiliki nilai VIF (Variance Infltion Factor) di sekitar angka 1 dan memiliki nilai toleransi mendekati 1

• Koefisien korelasi antar variabel harus lemah (dibawah 0,5)

Uji Normalitas

Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Cara mendeteksi normalitas yaitu dengn melihat grafik sebaran peluang normal (normal probability) atau histogram, yaitu dengan melihat penyebaran data atau titik pada sumbu diagonal untuk grafik sebaran peluang normal sedangkan untuk histogram dengan melihat kurva yang bebentuk lonceng. Uji normalitas lebih baik menggunakan scatterplot grafik sebaran normal (normal probability plot) karena

dibandingkan menggunakan histogram (Santoso, 2000). Menurut Santoso (2000), dasar pengambilan keputusan grafik normal probability plot yaitu :

- Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

- Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk menguji ketidaksamaan varian dan residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka terjadi homokedastisitas, apabila berbeda terjadi heteroskedastisitas. Untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas yaitu dengan cara membuat scatterplot dari model persamaan regeresi. Jika membentuk pola tertentu misalnya bergelombang, melebar kemudian menyempit dan sebagainya maka terjadi heteroskedastisitas, sebaliknya jika tidak membentuk pola yang jelas, serta titik-titik tersebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Santoso, 2000).

Definisi Istilah

1. Pola Konsumsi adalah susunan ragam kebiasaan konsumsi makanan seseorang atau kelompok yang dapat dilihat dari tingkat konsumsi, pengeluaran atau belanja untuk konsumsi makanan, maupun proporsi pengeluaran untuk suatu komoditi tertentu.

2. Responden adalah orang yang menentukan pola konsumsi dalam keluarga setiap harinya.

3. Jenis susu adalah macam susu yang biasa dikonsumsi dalam bentuk cair, bubuk dan susu kental manis.

4. Jumlah anggota keluarga adalah semua orang yang menjadi tanggungan keluarga selain kepala keluarga.

5. Pendapatan keluarga adalah semua uang tunai yang diterima tiap bulan, yang berasal dari kepala keluarga dan anggota keluarga yang sudah bekerja.

6. Pengetahuan gizi adalah kemampuan reponden dalam menguasai informasi terhadap produk susu yang berkaitan dengan nilai gizinya.

7. Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal tertinggi yang dicapai oleh responden.

8. Frekuensi konsumsi adalah tingkat keseringan rumah tangga dalam mengkonsumsi susu yang diukur dalam satuan kali per hari.

9. Pengeluaran konsumsi adalah berapa jumlah pengeluaran konsumsi untuk bahan makanan yang dikonsumsi oleh rumah tangga dalam tiap bulannya.

Dokumen terkait