• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi penelitian di KPP Pratama Pamekasan, Jalan R. Abdul Aziz No. 111, Rw. 02, Jungcangcang, Kec.

Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur 69317.

3.2 Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif, dimana data penelitian tersebut berupa pendapat yang diberikan oleh responden, kemudian diolah lagi menjadi angka. Menurut Nazir (1988), metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupu suatu peristiwa pada masa sekarang.

Penelitian ini akan meneliti tentang apakah persepsi keadilan pajak berpengaruh terhadap perilaku kepatuhan Wajib Pajak Badan di KPP Pratama Pamekasan.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2011;80) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajadi dan kemudian ditarik kesimpulan bahwa, populasi adalah jumlah wajib pajak badan yang terdaftar di KPP Pratama Pamekasan.

30 3.3.2 Sampel

Menurut Noor (2011;147) sampel adalah sejumlah anggota yang dipilih dari populasi. Sampel dipilih dengan menggunakan metode convenience sampling.

Metode convenience sampling adalah pengambilan sampel yang didasarkan pada ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya. Sampel diambil atau terpilih karena sampel tersebut ada pada tempat dan waktu yang tepat.

Kriteria dalam metode convenience sampling ini adalah sebagai berikut:

1. Metode ini tidak membatasi jumlah minimal dalam pengambilan sampel 2. Sampel diambil secara kebetulan

3. Pengambilan sampel didasarkan pada ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya

4. Sampel dipilih karena berada pada tempat dan waktu yang tepat

Oleh karena itu peneliti mengambil sampel penelitian sebagai berikut:

1. Wajib pajak badan berbentuk UMKM di Kabupaten Pamekasan 2. UMKM terdaftar di KPP Pratama Pamekasan pada tahun 2016-2018 3. Sampel dipilih sebanyak 35 UMKM

31 Berikut adalah data UMKM yang menjadi sampel penelitian sebagai berikut:

Tabel 3.2 Daftar Nama UMKM

No. UMKM Tahun Terdaftar

16 Bakso Perjuangan Pak Yanto 2016

17 Lesehan Perreng Keles 2016

18 Yoris Bakery 2017

25 Es Teler Durian Mondoroko 2017

26 Free Creative Photography 2017

27 Rigna Photography 2016

28 Sari Buah 2017

32 3.4 Jenis dan Sumber Data

3.4.1 Jenis data

Penelitian ini menggunakan jenis data deskriptif kuantitatif. Deskriptif kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain.

3.4.2 Sumber Data

Pada penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu, data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan pertama). Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari responden melalui kuisioner yang diberikan kepada staf-staf akuntansi Wajib Pajak Badan yang terdaftar di KPP Pratama Pamekasan.

Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Sedangkan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan jumlah Wajib Pajak Badan serta pelaporan tiap tahunnya yang terdaftar di KPP Pratama Pamekasan tahun 2016-2018.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara memberikan kuisioner dan melakukan wawancara. Kuisioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik dari beberapa Wjaib Pajak

33 Badan yang terdaftar di KPP Pratama Pamekasan. Sedangkan wawancara adalah suatu percakapan antara dua orang atau lebih yang dilakukan oleh pewawancara dan narasumber, dimana narasumber yang dituju adalah pegawai yang bekerja di KPP Pratama Pamekasan.

3.6 Definisi Operasional

3.6.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

Penelitian ini menganalisis pengaruh dari persepsi keadilan pajak terhadap perilaku kepatuhan Wajib Pajak Badan di KPP Pratama Pamekasan. Terdapat lima dimensi dalam keadilan pajak, yaitu keadilan secara umum, timbal balik dengan pemerintah, ketentuan-ketentuan yang berlaku khusus, susunan tarif pajak, dan kepentingan pribadi. Sehingga dalam penelitian ini yang bertindak sebagai variabel independen adalah keadilan secara umum, timbal balik dengan pemerintah, ketentuan-ketentuan yang berlaku khusus, susunan tarif pajak, dan kepentingan pribadi.Sedangkan variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perilaku kepatuhan Wajib Pajak Badan.

3.6.2 Variabel Independen

Variabel Independen adalah variabel yang merupakan penyebab atau yang mempengaruhi variabel dependen atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel dependen. Dalam penelitian ini yang bertiondak sebagai variabel independen adalah keadilan secara umum, timbal balik dengan pemerintah, ketentuan-ketentuan yang berlaku khusus, susunan tarif pajak, dan kepentingan

34 pribadi. Penelitian ini mengguanakan dimensi keadilan pajak yang dikembangkan oleh Gerbing(1988) dan digunakan dalam penelitian Azmi dan Perumal (2008).

a. Keadilan Umum (General Fairness)

Dimensi keadilan umum berhubungan dengan keadilan secara menyeluruh atas sistem perpajakan (Undang-Undang Pajak Penghasilan) yang berlaku di Indonesia dan pendistribusian pembebanan pajak penghasilan di Indonesia.

b. Timbal Balik dengan Pemerintah (Exchange With The Government) Dimensi keadilan pajak ini berhubungan dengan timbal balik tidak langsung yang diterima pemerintah selaku pengelola penerimaan negara atas pajak yang dibayarkan oleh Wajib Pajak Badan.

c. Kepentingan Pribadi (Self Interest)

Dimensi keadilan pajak ini berkaitan dengan pendapatan dari sudut pandang Wajib Pajak Badan di Indonesia mengenai apakah pajak yang dibayarkan oleh Wajib Pajak Badan tersebut terlalu tinggi jika dibandingkan dengan pajak yang dibayarkan oleh Wajib Pajak Badan lain.

d. Ketentuan-Ketentuan Yang Berlaku Khusus (Special Provisions)

Dimensi keadilan pajak ini berhubungan dengan ketentuan-ketentuan khusus yang dihasilkan oileh kebijakan-kebijakan dalam bidang perpajakan seperti, pemberian fasilitas-fasilitas untuk Wajib Pajak Badan.

Fasilitas tersebut adalah fasilitas penurunan Pajak Penghasilan Badan, fasilitas Pajak Penghasilan untuk penanaman modal di bidang usaha tertentu.

35 e. Susunan Tarif Pajak (Tax Rate Structure)

Dimensi keadilan pajak ini berkaitan dengan susunan tarif pajak yang memberikan keadilan dari sudut pandang Wajib Pajak Badan di Indonesia, misalnya tarif pajak progresif sebagai wujud konsep ability to pay dibandingkan dengan tarif pajak sepadan / proporsional.

Variabel keadilan pajak diukur dengan menggunakan skala ordinal dimana responden diminta untuk menjawab kuisioner dan jawabannya diukur dengan menggunakan skala likert 1 sampai 5, untuk menunjukkan tingkat setuju atau atas pernyataan kuisioner.

3.6.3 Variabel Dependen

Variabel dependen adalah jenis variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Yang dimaksud dengan variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku kepatuhan Wajib Pajak Badan di KPP Pratama Pamekasan. Kriteria Wajib Pajak Patuh dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 74/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Penetapan dan Pencabutan Penetapan Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu Dalam Rangka Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak.

36 Tabel 3.3 Operasionalisasi variabel

Variabel Dimensi Indikator Skala

Pengukuran

37

38 public bersifat tidak adil (Pasal 17 ayat

39

Metode analisis digunakan untuk mendapatkan hasil yang pasti dalam mengolah data sehingga informasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan kebenanrannya. Analisis dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda, yaitu analisis untuk lebih dari satu variabel independen. Teknik analisis regresi

40 berganda dipilih untuk digunakan penelitian ini karena teknik regresi linier berganda dapat menyimpulkan secara langsung mengenai pengaruh masing-masing variabel bebas yang digunakan secara spesial ataupun bersama-sama. Hair et al.

(1998) menyatakan bahwa regresi linier berganda merupakan teknik statistik untuk menjelaskan keterkaitan antara variabel terikat dngan beberapa variabel bebas.

3.7.1 Uji Reliabilitas dan Validitas

Untuk menguji apakah konstruk (variabel yang tidak dapat diukur secara langsung, tetapi dibentuk melalui dimensi atau indicator yang diamati) yang telah dirumuskan reliabel dan valid, maka perlu dilakukan pengujian reliabilitas dan validitas.

3.7.1.1 Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas digunakan untuk menetapkan apakah instrumen kuisioner konsisten dan dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dalam penelitian ini, metode uji reliabilitas yang digunakan adalah metode Cronbach Alpha. Penentuan suatu instrumen apakah reliabel atau tidak, menggunakan batas Alpha sebesar 0,6.

3.7.1.2 Uji Validitas

Validitas diartikan sebagai ukuran untuk menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Instrumen dikatakan valid apabila menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2004).

Dapat disimpulkan bahwa instrumen yang valid adalah instrumen yang tepat utnuk mengukur apa yang hendak diukur. Dalam penelitian ini, alat ukur yang digunakan

41 adalah kuisioner, sehingga isi kuisioner harus sahih dan andal. Pada penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan metode analisis faktor. Analisis faktor akan mnghasilkan nilai Lading Factor, dimana instrumen dinyatakan valid atau layak apabila nilai loading factor lebih tinggi dari 0,30.

3.8 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik yang digunakan meliputi uji normalitas, uji multikolonieritas, dan uji heteroskedasatisitas.

3.8.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak Ghozali (2006). Model regresi yang baik adalah memiliki data yang terdistribusi normal.

Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik atau uji statistik Ghozali (2006).

Apabila menggunakan grafik, normalitas umumnya dideteksi dengan melihat table histogram. Namun demikian, dengan hanya melihat table histogram bisa menyesatkan, khususnya untuk jumlah yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi komulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi komulatif dari distribusi normal. Dasar pemngambilan dengan menggunakan normal probability plot adalah sebagai berikut Ghozali (2006).

42 1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka mode regresi memenuhi asumsi normalitas.

2. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau garis histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan jika tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping uji grafik deilengkapi dengan uji statistik. Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji uji normalitas residual adalah uji statistik non-parametik Kolmogrov-Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis:

Ho: Data residual terdistribusi normal Ha: Data residual tidak terdistribusi normal

Data dapat dikatakan terdistribusi normal apabila nilai signifikan > 0,05, maka Ho yang diterima. Sedangkan, jika nilai signifikan < 0,05 maka data tersebut tidak terdistribusi normal dan Ha yang diterima.

3.8.2 Uji Multikolonieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak menjadi korelasi diantara variabel independent. Jika variabel independent saling berkolerasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal.

43 Variabel orthogonal adalah variabel independent yang nilai korelasi antar sesama variabel independent sama dengan nol. Model regresi yang baik adalah yang bebas dari multikolonieritas.

Multikolinieritas adalah kedaan dimana terjadi korelasi liniar yang sempurna antar variabel yang baik seharusnya terbebas dari maslah multikolieritas.

Metode uji multikolinieritas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai Tolerance & Inflaction Factor (VIF). Output terbebas dari masalah multikolieritas

apabila memiliki nilai tolerancelebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10.

3.8.3 Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedasttisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda maka disebut heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas.

3.9 Model Regresi

3.9.1 Analisis Linier Berganda

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda yaitu model regresi untuk menganalisis lebih dari satu model independen.

44 Persamaan regresi yang dirumuskan berdasarkan hipotesis yang dikembangkan adalah sebagai berikut:

Y = a +𝐵1𝑋1+𝐵2𝑋2 + 𝐵3𝑋3 + 𝐵4𝑋4 + 𝐵5𝑋5 + e

Y = Perilaku kebutuhan pajak a = Konstanta

𝑋1 = Keadilan Umum

𝑋2 = Timbal Balik dengan Pemerintah 𝑋3 = Kepentingan Pribadi

𝑋4 = Ketentuan-ketentuan khusus 𝑋5 = Struktur tarif pajak

e = Eror

3.10 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih dan untuk menunjukkan arah hubungan antar variabel dependen dengan variabel independen. Ketetapan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai actual secara statistik, dapat diukur nilai statistik t. Perhitungan statistic disebut siginifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (Ho ditolak). Sebaliknya diseabut tidak signifikan apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima.

45 3.10.1 Uji Signifikasi Parameter Individual (Uji Statistik T)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Uji t digunakan untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini secara parsial. Pengujian terhadap hasil regresi dilakukan dengan menggunakan uji t pada derajat keyakinan 95% atau α = 5%.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

a.) Menentukan formula hipotesis

1. Pengaruh keadilan secara umum, timbal balik dengan pemerintah, kepentingan pribadi, ketentuan-ketentuan yang berlaku khusus, susunan tarif pajak terhadap perilaku kepatuhan Wajib Pajak Badan :

Ho: β = 0, Keadilan seacara umum, timbal balik dengan pemerintah, kepentingan pribadi, ketentuan-ketentuan yang berlaku khusus, dan struktur tarif pajak secara parsial tidak berpengaruh signifikan secara terhadap Perilaku kepatuhan Wajib Pajak Badan

Ha: β ≠ 0, Keadilan seacara umum, timbal balik dengan pemerintah, kepentingan pribadi, ketentuan-ketentuan yang berlaku khusus, dan struktur tarif pajak secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Perilaku kepatuhan Wajib Pajak Badan (Y) b) Membandingkan probabilitas t hitung dengan tingkat signifikan tertentu

c) Membuat keputusan

46 Pengambilan keputusan uji hipotesis secara parsial didasarkan pada nilai probabilitas yang didapatkan dari hasil pengolahan data melalui program SPSS sebagai berikut :

1) Jika signifikan t < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima 2) Jika signifikan t > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.

47 BAB IV

Dokumen terkait