Metode pendekatan adalah pendekatan perundang-undangan (statue Approach)48 yaitu pendekatan menggunakan Pasal-Pasal yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan seperti Pasal-Pasal yang ada dalam KUHP dan KUHAP, namun peneliti juga tidak hanya melihat kepada bentuk perundang-undangan saja, melainkan juga menelaah materi-materi muatan yang ada di dalamnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan Yuridis Normatif yakni pendekatan terhadap masalah dengan melihat norma-norma/ketentuan hukum yang berlaku yang berhubungan dengan penelitian mengenai pertimbangan hakim dalam putusan tindak pidana korupsi berdasarkan tujuan pemidanaan.
Selain itu peneliti juga menggunakan pendekatan kasus (Case Approach) yang dikaitkan dengan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor: 54/PID.B./TPK/2012/PN.JKT.PST, Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 11/PID/TPK/2013/PT.DKI. dan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013.
2. Karakteristik Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif dan penelitian preskriptif. Bersifat deskriptif adalah suatu penelitian yang dimaksud untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, atau
48 Peter Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2006. h. 96
gejala-gejala lainnya. Maksudnya adalah terutama mempertegas hipotesa-hipotesa agar dapat membantu memperkuat teori-teori lama atau di dalam kerangka penyusunan kerangka baru49.
Berdasarkan pengertian di atas metode penelitian jenis ini dimaksudkan untuk menggambarkan semua data yang diperoleh yang berkaitan dengan pertimbangan hakim di dalam pemidanaan terhadap Terdakwa Tindak Pidana Korupsi dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor .54/PID.B/TPK/2012/PN.JKT.PST, Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 11/PID/TPK/2013/PT.DKI dan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013.
3. Sumber dan Jenis Bahan Hukum
Dalam penelitian hukum ini penulis menggunakan sumber Data Sekunder. Pengertian data sekunder adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan yakni dari buku-buku, dokumen-dokumen, dan peraturan perundang-undangan khususnya yang berkaitan dengan penelitian hukum penulis.
Sumber-sumber penelitian hukum terdiri atas dasar bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan non hukum.
a. Bahan hukum primer50 merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai otoritas, dalam penelitian ini yang menjadi bahan hukum primer adalah :
1) KUHP; 2) KUHAP;
3) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
4) Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 54/PID.B./TPK/2012/PN.JKT.PST;
5) Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 11/PID/TPK/2013/PT.DKI;
6) Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013.
b. Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi meliputi yang digunakan adalah berupa buku, jurnal-jurnal hukum berkaitan. 1) Buku-buku teks.
2) Jurnal-jurnal hukum berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.
3) Dokumen-dokumen.
c. Bahan non hukum berupa bahan yang diperoleh selain bahan hukum.
50 Peter Mahmud Marzuki. Op.Cit, h. 141
4. Pengumpulan Bahan Penelitian
Untuk data yang lengkap dan relevan dengan pokok-pokok masalah yang akan dibahas, maka dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Studi Dokumen
Mengambil data dari perundang-undangan yang berlaku yakni Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana serta dikaitkan dengan Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor
54/PID.B./TPK/2012/PN.JKT.PST, Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 11/PID/TPK/2013/PT.DKI.dan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013. b. Studi Kepustakaan
Mengambil data dari buku-buku teks yang berhubungan dengan pertimbangan hakim dalam pemidanaan terhadap Terdakwa Tindak Pidana Korupsi di dalam Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor .54/PID.B/TPK/2012/PN.JKT.PST, Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 11/PID/TPK/2013/PT.DKI dan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013.
5. Analisis Bahan Penelitian
Analisa data dilakukan secara kualitatif yang disajikan secara deskriptif analitis. Sifat deskriptif dari data penelitian ini karena ingin menggambarkan keadaan hukum ataupun fenomena hukum dari bahan penelitian yang menyangkut bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, berkaitan dengan pelaksanaan di dalam prakteknya.
Analisa kualitatif artinya menguraikan data secara bermutu dalam bentuk kalimat yang teratur, runtut, logis, tidak tumpang tindih dan selektif, sehingga memudahkan interpretasi data dan pemahaman hasil analisis. Komprehensif artinya analisis data secara mendalam dari berbagai aspek sesuai dengan lingkup penelitian. Lengkap artinya tidak ada bagian yang terlupakan, semuanya sudah masuk dalam analisis. Analisis data dan interpretasi seperti ini akan menghasilkan produk penelitian hukum normatif yang bermutu dan sempurna51.
Hasil analisis mampu mengemukakan dan menemukan kategori-kategori yang berkaitan dengan suatu disiplin, tetapi juga dikembangkan dari suatu kategori yang dikemukakan dan hubungan-hubunganya dengan data yang didapat. Hasil analisis data tersebut dapat diperlakukan kesimpulan secara deduktif, yaitu suatu cara berpikir dari hal sifatnya umum di dasrkan atas fakta-fakta dan gejala kepada sifat yang khusus.
51Ibid, h. 127
Dengan demikian, teknik analisis data yang dilakukan adalah analisis hukum. Analisis bahan hukum dilakukan dengan cara deduktif, yaitu menarik kesimpulan dari suatu permasalahan di atas dan juga analisis hukum yaitu menganalisis pertimbangan hakim di dalam pemidanaan terhadap Terdakwa tindak pidana Korupsi dalam Putusan
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor
.54/PID.B/TPK/2012/PN.JKT.PST, Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 11/PID/TPK/2013/PT.DKI dan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013.
I. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
Dalam bab ini akan dibahas tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian, lan-dasan teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka yang menjadi acuan analisia penelitian adalah mengenai Filosofi Pemidanaan, Tindak Pidana Korupsi, Pertimbangan Hakim dan Keadilan Bermartabat.
Bab III Hasil Penelitian dan Analisis
Dalam Bab III ini, penulis akan menjelaskan secara rinci mengenai hasil penelitian yakni 1) Pertimbangan hakim Mahkamah Agung di
dalam menjatuhkan putusan pemidanaan tindak pidana korupsi dalam Putusan Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013 dikaitkan dengan tujuan pemidanaan dan 2) Analisis terhadap pertimbangan hakim Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013 yang menjatuhkan pidana lebih berat dari putusan peradilan di bawahnya dikaitkan dengan tujuan pemidanaan
Bab IV Penutup
Pada Bab IV ini akan dipaparkan mengenai kesimpulan dari analisis dan saran atau masukan mengenai pertimbangan-pertimbangan hakim terhadap terdakwa tindak pidana korupsi di dalam Putusan Nomor 1616 K/Pid.Sus/2013 yang menjatuhkan pidana lebih berat dari putusan peradilan di bawahnya.