METODOLOGI PENELITIAN
B. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, di mana informasi yang diperoleh dan disajikan tidak berupa angka-angka yang dikuantifikasikan, melainkan hanya merupakan informasi yang akan dianalisis dan diorganisasi sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, dan akan dideskripsikan dalam bentuk narasi kalimat, bukan angka.
Penelitian jenis kualitatif ini memiliki beberapa ciri yang membedakan dengan penelitian jenis lainnya. Borgdan dan Biklen (1982: 27-30) mengajukan lima ciri dalam hal: latar penelitian, instrumen penelitian, metode, analisis, dan teknik penelitian yang digunakan. Mendasarkan kepada pendapat Borgdan dan Biklen tersebut, studi ini menggunakan pendekatan kualitatif karena mengandung lima ciri penelitian kualitatif.
Ciri pertama, latar penelitian ini bersifat alamiah, yang berada pada satu
konteks utuh secara alami, tanpa rekayasa, dan tidak dapat difahami jika dipisahkan dari konteksnya. Menurut Lincoln & Guba yang dikutip oleh Moleong (1995:4), latar alamiah menjadi salah satu ciri penelitian kualitatif didasarkan kepada beberapa asumsi: (1) Tindakan pengamatan memengaruhi apa yang dilihat. Oleh karena itu, peneliti dituntut mampu memposisikan diri untuk memahami konteks alami tersebut; (2) Konteks kemungkinan saling mempengaruhi terhadap konteks lain. Oleh karena itu, peneliti dituntut mampu menetapkan apakah suatu penemuan memiliki kaitan dengan kontkes lain, atau apakah suatu penemuan sangat relevan dengan fokus penelitian; (3) Sebagian struktur nilai kontekstual biasanya bersifat determinatif terhadap apa yang
akan dicari. Oleh karena itu, peneliti dituntut memiliki kecerdasan memahami nilai-nilai kontekstual yang terjadi dalam fenomena sosial.
Latar alamiah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah situasi sosial yang di RA Al-Ishlah dalam penanaman nilai-nilai keislaman bagi anak-anak didiknya.
Dalam pelaksanaan di lapangan, peneliti melakukan observasi intensif mengikuti proses pemelajaran di RA tersebut selama dua bulan, yang dilakukan minimal tiga kali dalam seminggu. Meskipun demikian, sudah dipastikan banyak kekurangan yang dapat dideskripsikan disebabkan beberapa hal: (1) Latar alamiah itu sangat dinamis, tidak sesederhana seperti latar di laboratorium, di mana setiap saat peneliti datang melakukan observasi di lokasi selalu menemui hal-hal yang berubah, berbeda, tidak dapat diprediksi, dan berkembang, sehingga hasil deskripsi lapangan terus menerus mengalami perubahan, perbaikan, penyempurnaan, yang mengakibatkan harus memakan waktu yang cukup lama; (2) Berhubung latar alamiah itu dinamis, hasil yang dideskripsikan oleh peneliti pasti berbeda dengan peneliti yang lainnya; (3) Objek latar alamiah anak usia dini merupakan objek yang cukup sulit dideskripsikan secara sederhana, karena anak usia dini belum dapat diwawancarai, sehingga informasi yang dapat dikumpulkan terbatas pada hasil observasi; (4) perlu waktu lebih lama untuk penelitian ini agar hasilnya lebih maksimal.
Ciri kedua, manusia sebagai instrumen. Dalam hal ini peneliti berperan
menjadi alat pengumpul data utama yang secara langsung terlibat dalam penelitian, dari mulai menyusun rancangan penelitian, melaksanakan penelitian, menyusun laporan, dan mempertanggung-jawabkan hasil penelitian secara formal dalam seminar proposal, seminar progress hasil penelitian, seminar akhir penelitian, maupun publikasi kepada pembaca. Peneliti sebagai instrumen dituntut mampu memahami kaitan antara berbagai situasi yang terjadi di lapangan. Berkaitan dengan ciri ini, peneliti tidak menggunakan bantuan lain selain peneliti sendiri yang bekerja secara individu, baik dalam melakukan observasi maupun wawancara.
Melaksanakan penelitian secara individu seorang diri sangat melelahkan, apalagi dengan waktu yang terbatas, padahal tema penelitian ini cukup penting dan sulit, karena peneliti hanya seorang diri harus memotret kondisi anak-anak usia dini yang sebenarnya, dengan mengandalkan teknik observasi yang dilakukan secara intensif tanpa dapat mewawancarai respondenya, ditambah lagi content yang diteliti
tentang penanaman nilai-nilai keislaman adalah termasuk hal yang tidak kasat mata (abstrak). Banyak hal yang dapat disaksikan dan diperoleh dari observasi selama dua bulan di lapangan, namun belum cukup dapat menggambarkan kondisi seutuhnya, karena keterbatasan waktu dan tenaga peneliti.
Ciri ketiga, metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Menurut
Moleong (1995:5), metode kualitatif memiliki beberapa kelebihan: (1) lebih fleksibel dan lebih mudah menyesuaikan dengan kenyataan ganda atau kenyataan yang lebih kompleks, (2) mampu menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, (3) lebih dapat menyesuaikan diri dengan perubahan pola-pola nilai yang dihadapi di lapangan, (4) lebih mudah melakukan penajaman pada beberapa hal yang relevan sesuai dengan kenyataan yang bergulir dan dapat berubah setiap saat.
Penelitian terhadap anak-anak usia dini, apalagi mengenai penanaman nilai-nilai keislaman, lebih tepat dengan menggunakan metode kualitatif, karena mengkuantifikasi temuan-temuan yang diperoleh dari anak usia dini sulit dilakukan, terutama mengkuantifikasi niai-nilai keislaman yang tertanam pada anak usia dini.
Dengan metode kualitatf, peneliti merasa lebih leluasa untuk mendeskripsikan secara detail data yang diperoleh di lapangan, meskipun sangat melelahkan, namun dengan harapan dapat memetakan lebih detail situasi dan keadaan di lapangan agar lebih memudahkan mengidentifikasi langkah-langkah pengembangan bagi para pihak, khususnya di lokasi itu sesuai dengan problematika yang muncul.
Ciri keempat, analisis data menggunakan analisis induktif. Teknik analisis
induktif memiliki beberapa kelebihan, yaitu: (1) analisis penelitian ini lebih akurat dan lebih aktual karena data yang diperoleh benar-benar ditemukan di lapangan atau berdasarkan dokumen yang menggambarkan kondisi objektif di lapangan, (2) hasil analisis lebih kontekstual karena menyangkut data kekinian dan terjadi di sini, (3) hasil analisis data lebih implementatif jika diperlukan untuk bahan mengambil kebijakan.
Berdasarkan kelebihan-kelebihan tersebut, penelitian ini mampu menyajikan data secara aktual karena peneliti langsung berhadapan dengan responden dan terlibat di lapangan. Hasil penelitian dapat diambil sebagai bahan kebijakan oleh pihak-pihak terkait yang berkepentingan untuk menyusun formula program penanaman nilai-nilai keislaman untuk anak usia dini yang tepat.
Penelitian ini dengan menggunakan analisis induktif, temuan dan hasilnya lebih implementatif dapat digunakan untuk perbaikan di lapangan, juga dapat berguna untuk bahan diskusi dan masukan bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA) di IAIN SNJ Cirebon khusunya, agar mereka dapat merumuskan program yang lebih tepat dalam menanamkan nilai-nilai keislaman bagi anak-anak usia dini.
Ciri kelima, penelitian ini menggunakan teknik deskriptif. Teknik deskriptif
adalah suatu teknik penelitian yang berusaha mendeskripsikan kondisi apa adanya secara alami di lapangan, tanpa memanipulasi. Data yang dikumpulkan dengan teknik deskripsi berupa kata-kata, gambar, dan keadaan nyata di lapangan. Semua data yang dikumpulkan itu berkemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang diteliti.
Teknik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini dapat dianggap teknik yang sederhana, terutama oleh para peneliti kuantitatif, namun dalam praktiknya teknik deskriptif kualitatif sangat memberatkan, karena tidak dapat digantikan oleh orang lain selain harus oleh peneliti itu sendiri sebagai instrumen, tidak dapat dibantu oleh pengolahan data program computer karena bukan berupa angka, sehingga yang menjadi otaknya adalah kepala peneliti itu sendiri dengan instrumen yang dinamis, yang melakukan pengumpulan data di lapangan mengandalkan kaki peneliti itu sendiri, dan yang menyusun deskripsi hasil penelitian adalah tangan dan otak peneliti itu sendiri.
Dengan beberapa ciri metode deskriptif kualitatif dan pelaksanaan penelitian seperti tersebut diatas, diharapkan tidak mengurangi kualitas penelitian ini dalam mendeskripsilan dan menghasilkan temuan-temuan penting bagi pengembangan lembaga PAUD dan RA, khususnya dalam program penanaman nilai-nilai keislaman.