METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metodologi penelitiaan adalah ilmu membahas tentang suatu kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan masalah ataupun sebagai pengembangkan ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah (Djaliel, Maman Abd., 1998). Dengan berdasar pada pengertian tersebut maka dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Lincoln dan Guba (1985:39) mengemukakan :
Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia pada kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan dalam peristilahannya.
Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah penelitian untuk mendiskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi, dan pemikiran orang secara individual maupun kelompok (Syaodih 2007:60). Dalam tradisi penelitian kualitatif, Creswell (1998:5) mengklarifikasikan adanya lima tradisi studi kualitatif, yaitu: penelitian biografi, fenomenologi, grounded theory, studi etnografi, dan studi kasus.
Berkaitan dengan penelitian ini maka peneliti menggunakan metode Studi Etnografi yang mana peneliti masuk ke dalam Suku Sentani dan mempelajari tentang tradisi melukis kulit Kayu Khombouw yang merupakan tradisi turun-temurun mereka.
Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai
upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya (Rosdy Ruslan, 2003:24).
Menurut Miles & Hubberman seperti yang dikutip oleh Lodico, Spaulding & Voegtle, Etnografi berasal dari bahasa Yunani ethos dan graphos. Yang berarti kajian mengenai kelompok budaya. Sedangkan Menurut Le Clompte dan Schensul etnografi adalah metode penelitian yang berguna untuk menemukan pengetahuan yang terdapat atau terkandung dalam suatu budaya atau komunitas tertentu. Le Compte dan Schensul (1999) menyebut peneliti etnografi sebagai pengumpul segala data, digunakan segala bentuk data yang mungkin saja bisa memperjelas jawaban yang menjadi pertanyaan penelitian.
Secara umum peneliti menyelenggarakan penelitian awal secara kualitatif terlebih dulu untuk mengetahui apa yang terjadi di suatu tempat tertentu. Baru kemudian mereka menentukan variabel kunci dan ranah yang akan diteliti secara kuantitatif. Pengukuran kuantitatif digunakan untuk memverifikasi penemuan kualitatif. Menurut Gay, Mills dan Airasian, penelitian etnografi adalah suatu studi mengenai pola budaya dan perspektif partisipan dalam latar alamiah (Gay, Mills dan Airasian:2009). Menurut Haris seperti yang dikutip oleh Cresswell, etnografi adalah suatu desain kualitatif di mana seorang peneliti menggambarkan dan menginterpretasikan pola nilai, perilaku, kepercayaan dan bahasa yang dipelajari dan dianut oleh suatu kelompok budaya. Menurut Cresswell etnografi berfokus pada keseluruhan kelompok. Seorang etnografer meneliti pola yang diikuti satu kelompok misalnya oleh sejumlah lebih dari 20 orang, jumlah yang lebih besar daripada yang biasa diteliti dalam grounded theory. Namun bisa juga lebih sedikit misalnya sejumlah guru dalam suatu sekolah namun tetap dalam lingkup keseluruhan kelompok besar yaitu dalam hal ini sekolah (Creswell, 2007).
Selanjutnya menurut Lodico maksud penelitian etnografi adalah untuk menggali atau menemukan esensi dari suatu kebudayaan dan keunikan beserta kompleksitas untuk bisa melukiskan interaksi dan setting suatu kelompok (Lodico, Spaulding, dan Voegtle: 2006).
Jadi suatu penelitian etnografi adalah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok itu. Penelitian etnografi meneliti suatu proses dan hasil akhir. Akhir dari penelitian adalah membuat tulisan yang kaya akan gambaran detail dan mendalam mengenai objek penelitan (thick description). Sebagai penelitian suatu proses, seorang etnografer melakukan participant observation, di mana seorang peneliti melakukan eksplorasi terhadap kegiatan hidup sehari-hari dari objek kelompoknya, melakukan pengamatan dan mewawancarai anggota kelompok dan terlibat di dalamnya. Participant obeservation juga berarti bahwa peneliti ikut terlibat dan ikut berperan dalam pengamatan. Untuk keperluan penelitian ini seorang etnografer memelukan seorang key informant atau gatekeeper yang bisa membantu menjelaskan dan masuk ke dalam kelompok tersebut. Selain itu seorang etnografer harus mempunyai sensitivitas tinggi terhadap partisipan yang sedang ditelitinya, karena bisa jadi peneliti belum familiar terhadap karakteristik mereka.
Sesuai dengan rumusan masalahnya, maka penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan studi etnopaedagogi pada seting siswa kelas X SMAN III Sentani Kabupaten Jayapura. Penggunaan studi etnopaedagogi menekankan pada pola pembelajaran pewarisan tradisi antar generasi yang terjadi, sehingga karakteristik suatu kampung adat memiliki daya tahan yang relatif cukup terhadap desakan berbagai perubahan. Pola pembelajaran
pewarisan tradisi (handling down), dapat disebut sebagai etnopedagogi. Menurut pandangan Alwasilah et al. (2009), yang menyatakan bahwa etnopedagogi merupakan praktik pendidikan berbasis kearifan lokal dalam berbagai ranah, serta menekankan pengetahuan atau kearifan lokal sebagai sumber inovasi dan keterampilan. Pendidikan kearifan lokal ini terkait dengan bagaimana pengetahuan dihasilkan, disimpan, diterapkan, dikelola dan diwariskan, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Kearifan (wisdom) menurut pengertian secara etimologis mengandung arti kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya untuk menyikapi suatu kejadian, objek atau situasi. Sementara lokal (local) menunjukkan ruang interaksi di mana peristiwa atau situasi tersebut terjadi. Maka kearifan lokal secara substansial merupakan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertindak dan berperilaku sehari-hari (Novio, 2012:14). Secara filosofis, kearifan lokal dapat diartikan sebagai sistim pengetahuan masyarakat lokal/pribumi (indigenous knowledge systems) yang bersifat empirik dan pragmatis. Bersifat empirik karena hasil olahan masyarakat secara lokal berangkat dari fakta-fakta yang terjadi di sekeliling kehidupan mereka. Bertujuan pragmatis karena seluruh konsep yang terbangun sebagai hasil olah pikir dalam sistem pengetahuan ini bertujuan untuk pemecahan masalah sehari-hari (daily problem solving). Menurut Antariksa (2009), kearifan lokal merupakan unsur bagian dari tradisi-budaya masyarakat suatu bangsa, yang muncul menjadi bagian-bagian yang ditempatkan pada tatanan fisik bangunan (arsitektur) dan kawasan (perkotaan) dalam geografi kenusantaraan sebuah bangsa. Kearifan lokal menurut Gobyah (Ernawi, 2010:2) mengatakan bahwa kearifan lokal merupakan kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Pada sisi lain kearifan lokal atau sering disebut (local wisdom) menurut Ridwan (Ernawi, 2010:3)
dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Kearifan lokal bangsa Indonesia merupakan kemampuan penyerapan kebudayaan asing yang datang secara selektif, artinya disesuaikan dengan suasana dan kondisi setempat.
Di samping itu dalam pembelajaran Sejarah hendaklah mewariskan antara peristiwa masa lampau dengan masa kini, yang mana keterkaitannya dengan masalah ini adalah tentang pewarisan nilai-nilai tradisi budaya turun-temurun dari generasi sebelumnya kepada generasi masa kini. Dalam hal ini komparasinya dapat dilakukan dengan menggunakan ”jembatan penghubung“ antara peristiwa masa lalu dengan situasi masa kini berupa teori atau konsep baik yang diambil dari disiplin sejarah maupun disiplin sosial lainnya. Dengan demikian, pembelajaran Sejarah seperti ini dapat dilakukan dengan pendekatan interdisipliner sehingga peristiwa Sejarah yang disajikan dapat ditempatkan tidak hanya dalam konteks jamannya melainkan juga lintas jaman, ruang geografis serta sosial budaya (Nana Supriatrna, 2007:117). Dengan demikian seorang guru dalam mengajar hendaknya dengan menggunakan komparasi linier, komparasi antar peristiwa dan komparasi dengan cara berfikir analogis yang berfokus pada isu sosial dan menata kembali pandangan lama dalam pendidikan Sejarah menjadi hal yang penting untuk menjawab masalah-masalah kontemporer. Dengan mengubah tujuan pendidikan Sejarah dari pewarisan nilai menjadi upaya membangun nilai-nilai yang relevan dengan kondisi sekarang, maka kurikulum pendidikan Sejarah diharapkan menjadi sarana untuk menjawab masalah-masalah di atas. Demikian pula materi pelajaran yang selama ini selalu merujuk pada disiplin akademik dengan pendekatan esensialis harus segera diubah dengan membangun orientasi baru pada masalah (problem oriented). Masalah
kemiskinan, kerusakan lingkungan, disparitas sosial antar berbagai kelompok, konsumeris, menurunnya moral dan etika dalam perilaku berwarga Negara, menurunnya kohesi sosial dalam berbangsa dan bernegara, dan lain-lain harus menjadi materi pokok dalam kurikulum IPS (Nana Supriatna, 2007:35).
Dalam kaitannya dengan keaktifan dalam pembelajaran siswa maka hendaklah guru jangan selalu memberikan materi pelajaran kepada siswa secara monoton tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi dirinya karena hal demikian ini tidaklah relevan di masa sekarang, pada masa sekarang siswalah yang menjadi pusat belajar untuk mengembangkan potensi dirinya sesuai dengan lingkungannya dan kebutuhan hidupnya dan dalam pembelajaran Sejarah khususnya pada masa sekarang maka siswa harus menjadi pelaku Sejarah pada jamannya karena itulah pembelajaran Sejarah yang sesuai dengan kebutuhan hidup dewasa ini.
B.Jenis, Teknik, dan Instrumen Pengumpulan Data