Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada 3 desa di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, yaitu Desa Batu Ampar, Desa Nipah Panjang dan Desa Teluk Nibung (Gambar 6). Desa Batu Ampar dipilih secara sengaja (purposive sampling) karena mewakili kawasan yang sebagian besar masyarakatnya menjalankan aktivitas proses produksi arang bakau. Desa Nipah Panjang dan Desa Teluk Nibung dipilih secara purposive sampling karena mewakili wilayah sumber bahan baku arang bakau. Penelitian dilaksanakan selama 14 bulan, mulai bulan November 2014 sampai Desember 2015.
Sumber: Kabupaten Kubu Raya dalam Angka 2009
Gambar 6 Lokasi penelitian
Desa Batu Ampar
Desa Teluk Nibung Desa Nipah Panjang
28
Rancangan Penelitian
Penelitian ini dirancang dalam bentuk kombinasi penelitian deskriptif - eksploratif. Penelitian deskriptif melakukan analisis dan menyajikan data secara sistemik, sehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan. Penelitian eksploratif yaitu metode penelitian yang mengkaji, menemukan sesuatu yang baru untuk memperoleh pamahaman yang baik terhadap suatu fakta atau masalah tertentu terkait obyek kajian penelitian (Arikunto 2002).
Rancangan penelitian disesuaikan dengan tujuan penelitian, yaitu: (a) mengidentifikasi dan menganalisis penyebab/hambatan bagi masyarakat sehingga belum/tidak memanfaatkan peluang yang disediakan oleh PP 6/2007 tentang ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dalam bentuk HTR, Hutan Desa dan HKm; (b) mengidentifikasi dan menganalisis penyebab/hambatan sehingga tidak terjadi kemitraan antara perusahaan dengan masyarakat; (c) menganalisis faktor-faktor penyebab masyarakat masih tetap melakukan illegal access dalam pengambilan kayu untuk bahan baku arang; (d) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan stakeholders pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove; (e) menganalisis rule in use masyarakat pengrajin arang bakau dalam pemanfaatan hutan mangrove di Kecamatan Batu Ampar.
Temuan-temuan berdasarkan kelima tujuan penelitian tersebut selanjutnya disintesis untuk membuat rekayasa model kebijakan pengelolaan pemanfaatan hutan mangrove berkelanjutan sebagai bahan baku arang oleh masyarakat di Kecamatan Batu Ampar.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peraturan perundang-undangan dan turunannya, data/informasi hasil verifikasi lapangan tentang implementasinya, serta data hasil wawancara. Alat yang digunakan terdiri atas kuesioner, panduan wawancara, notebook, kamera digital, global positioning system (GPS), alat rekam dan alat tulis menulis.
Jenis Data
Jenis data yang dibutuhkan berupa data pokok dan data penunjang. Data pokok terdiri dari peraturan tentang pengelolaan pemanfaatan sumberdaya hutan dan turunannya; persepsi masyarakat terhadap isi peraturan, cara pelaksanaan atau persyaratan ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu melalui HTR, Hutan Desa, HKm dan Kemitraan Kehutanan; data karakteristik masyarakat (meliputi: pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan jumlah anggota keluarga); jumlah stakeholders, data tentang tugas pokok dan fungsi lembaga formal dalam pengelolaan hutan mangrove; dan aturan tertulis maupun tidak tertulis yang berlaku di kalangan pengrajin arang bakau serta data proses produksi (alur produksi, biaya operasional, tenaga kerja, dan pemasaran).
Data penunjang terdiri dari peta tematik seperti peta administratif, peta penunjukan kawasan hutan dan perairan Provinsi Kalimantan Barat, dan peta sebaran hutan mangrove; data-data laporan dan ijin usaha pemanfaatan hasil hutan
29 kayu oleh perusahaan; peraturan perusahaan dan peraturan desa terkait pemanfaatan sumberdaya hutan; data tata guna lahan; peraturan perundang-undangan, data laporan kegiatan atau pertemuan; dan peraturan lainnya yang relevan dengan tujuan penelitian.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam (in depth interview), telaah dokumen dan kajian literatur sebagaimana dijelaskan berikut.
a. Observasi; dilakukan dengan mengukur dan menghitung jumlah kebutuhan bahan baku arang, mendokumentasi lokasi pengambilan bahan baku dan sebaran dapur arang, dan mendeskripsikan langsung seluruh tahapan pembuatan arang.
b. Wawancara meliputi wawancara mendalam menggunakan panduan pertanyaan yang berkembang selama wawancara berlangsung. Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan kunci, terdiri dari wakil pemerintah, LSM, akademisi, perusahaan, tokoh masyarakat dan masyarakat pengrajin arang (Tabel 2). Pemilihan informan dilakukan melalui teknik snowball sampling dengan informan awal dari Dinas Perkebunan, Kehutanan dan Pertambangan Kabupaten Kubu Raya.
Tabel 2 Informan kunci yang diwawancarai
No Jabatan Instansi
1 Kepala Dinas; Kepala Bagian
Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Pertambangan
2 Kepala Bagian, Staf Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kubu Raya
3 Camat Pemerintah Kecamatan Batu Ampar
4 Kepala Bagian, Staf Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kubu Raya 5 Kepala Seksi Dinas Kehutanan
6 Staf BPPHP
7 Staf Badan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan 8 Kepala Bagian;
Kepala Seksi
Dinas Kelautan dan Perikanan 9 Penyuluh Kehutanan BP4K
10 Kepala BP DAS Kapuas
Balai Pengelolaan DAS Kapuas 11 Kepala Bagian; Staf Balai Pemantapan Kawasan Hutan 12 Anggota DPRD DPRD Kabupaten Kubu Raya 13 Karyawan PT. Kandelia/PT. BIOS
14 Staf FORDA
16 Anggota LSM
17 Staf Polisi Hutan
18 Anggota Koperasi
19 Staf Pengajar Universitas Tanjungpura
20 Kepala Desa Pemerintah Desa Batu Ampar, Nipah Panjang, dan Teluk Nibung
21 Kepala Dusun; Sekretaris Desa
Pemerintah Desa Batu Ampar 22 Tokoh Masyarakat Masyarakat
30
c. Telaah dokumen dan kajian literatur. Telaah dokumen dilakukan untuk mengkaji dokumen peraturan pemerintah dan dokumen-dokumen penunjang lainnya yang berkaitan dengan pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat. Kajian literatur dilakukan melalui studi terhadap beberapa jurnal hasil penelitian, buku, laporan hasil kegiatan, buletin, dan literatur lainnya yang relevan dengan kebutuhan penelitian.
Analisis Data
Mengidentifikasi dan menganalisis hambatan implementasi HTR, Hutan Desa dan HKm
Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif untuk mengidentifikasi dan menentukan penyebab/hambatan bagi masyarakat sehingga belum/tidak memanfaatkan peluang yang disediakan oleh PP 6/2007 tentang ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dalam bentuk HTR, Hutan Desa dan HKm. Variabel yang dianalisis mengacu pada empat faktor penghambat implementasi kebijakan, yaitu isi kebijakan, informasi, dukungan dan pembagian tupoksi (Maarse dalam Hoogerwerf 1983).
Analisis pemahaman peraturan perundang-undangan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis meliputi pemahaman terhadap ketiga aspek, yaitu: (1) persyaratan dan mekanisme perijinan; (2) hak dan kewajiban; dan (3) larangan dan sanksi. Tingkat pemahaman dibagi 3 kategori, yaitu: baik (3 aspek), cukup (2 aspek), dan kurang (paling banyak 1 aspek).
Metode analisis deskriptif menurut Sugiono (2011) adalah “metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan lebih luas”. Dengan demikian metode analisis deskriptif dalam penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan lebih lanjut hambatan/penyebab yang teridentifikasi pada masyarakat sehingga belum memanfaatkan peluang pemanfaatan hutan melalui HTR, Hutan Desa dan HKm. Mengidentikasi dan menganalisis hambatan kemitraan kehutanan
Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif untuk menjelaskan penyebab/hambatan sehingga tidak terjadi kemitraan antara perusahaan dan masyarakat dalam pengelolaan pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang. Analisis data mengacu pada keempat faktor penghambat implementasi kebijakan yaitu isi kebijakan, informasi, dukungan masyarakat dan pembagian wewenang dan tanggung jawab (Maarse dalam Hoogerwerf 1983).
Analisis pemahaman peraturan perundang-undangan juga menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis pemahaman dilakukan berdasarkan ketiga aspek, yaitu: (1) persyaratan dan mekanisme perijinan; (2) hak dan kewajiban; dan (3) larangan dan sanksi.
Menganalisis faktor-faktor penyebab illegal access dalam pengambilan kayu untuk bahan baku arang
Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan Teori Akses menurut Ribot dan Peluso (2003) untuk menjelaskan faktor penyebab yang terdentifikasi menyebabkan masyarakat masih melakukan illegal access ke
31 kawasan hutan dalam pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang. Teori Akses menurut Ribot dan Peluso (2003) mendefinisikan akses sebagai kemampuan memperoleh manfaat dari sesuatu.
Mengidentifikasi dan mengklasifikasi stakeholders dalam pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku arang
Analisis data menggunakan teknik analisis stakeholders secara kualitatif (Bracke et al. 2004, Meyers 2005, Reed et al. 2009). Analisis ini bertujuan untuk menjelaskan keterlibatan stakeholders, tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholders serta perilaku dan kinerja masing-masing stakeholders dalam mendukung pencapaian tujuan pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat secara berkelanjutan.
Analisis stakeholders dilakukan melalui 3 tahap, yaitu: (i) identifikasi stakeholders; dan (ii) kategorisasi stakeholders; dan (iii) analisis perilaku dan kinerja stakeholders.
1. Identifikasi stakeholders
Analisis dimulai dengan mengidentifikasi stakeholders yang diperoleh dari hasil wawancara dengan metode snowball sampling. Identifikasi stakeholders dilakukan melalui tahapan sebagaimana dikemukakan oleh Reed et al. (2009) berikut:
a. Daftar stakeholders, sumber data yang digunakan adalah hasil pengamatan, informasi dari masyarakat serta hasil survei.
b. Kepentingan, dimana kepentingan yang dapat diidentifikasi diantaranya melalui apa yang diharapkan dan apa yang dapat diperoleh oleh stakeholders.
c. Pengaruh stakeholders terhadap sukses tidaknya kegiatan diukur dengan menggunakan parameter yang mempunyai kemampuan dalam memveto suatu keputusan (pengaruh tinggi) dan/atau tidak memiliki kemampuan mempengaruhi pencapaian tujuan (pengaruh rendah).
2. Kategorisasi stakeholders
Hasil analisis terhadap tugas pokok dan fungsi maisng-masing stakeholders digunakan untuk mengkategorisasi stakeholders berdasarkan kombinasi tingkat pengaruh dan kepentingannya ke dalam empat kelompok kategori stakeholders menurut Reed et al. (2009). Kuantifikasi tingkat kepentingan dan pengaruh menggunakan nilai 1 – 101. Keempat kategorisasi stakeholders tersebut adalah:
a. stakeholders subject, yaitu stakeholders yang memiliki tingkat kepentingan tinggi dan pengaruh rendah;
b. stakeholders key player yaitu stakeholders yang memiliki tingkat kepentingan tinggi dan pengaruh yang tinggi terhadap sebuah fenomena; c. stakeholders context setter yaitu stakeholders yang memiliki kepentingan
yang rendah dan pengaruh yang tinggi, dan
d. stakeholders crowd yaitu stakeholders yang memiliki tingkat kepentingan yang rendah dan pengaruh yang rendah. Hal ini penting untuk menentukan stakeholders mana saja yang dapat bekerja sama (Gambar 7).
1
Stakeholders Consultation and Participation in MSWM Planning
http://www.worldbank.org/urban/solid_wm/erm/Annexes/US%20Sizes/Annex%201.1.pdf
32
Gambar 7 Matriks kepentingan dan pengaruh stakeholders
Atribut stakeholders yang dimasukkan dalam analisis yaitu: kepentingan (interest) dan pengaruh (influence). Atribut kepentingan stakeholders yang diteliti adalah kepentingan stakeholders dalam pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang. Kepentingan-kepentingan ini mungkin positif (tujuan pemanfaatan hutan mangrove bersesuaian dengan kepentingan-kepentingan stakeholders) atau negatif (tujuan pemanfaatan hutan mangrove berlawanan dengan kepentingan-kepentingan stakeholders ini).
Atribut pengaruh adalah kekuatan yang stakeholders miliki atas pemanfaatan hutan mangrove, misalnya dalam hal mengendalikan apa kepentingan yang dibuat, memfasilitasi implementasi atau menggunakan tekanan yang mempengaruhi kegiatan pemanfaatan hutan mangrove tersebut secara negatif. Pengaruh baik dipahami sebagai kekuasaan dengan nama orang, kelompok atau organisasi (yaitu stakeholders) yang mampu membujuk atau memaksa yang lain dalam pengambilan keputusan dan mengikuti jalan tindakan tertentu. Kekuatan ini mungkin diperoleh dari sifat organisasi stakeholders (formal) atau dari posisi stakeholders dalam hubungannya dengan stakeholders lain (seperti garis kementerian yang mengontrol anggaran dan departemen yang lain). Bentuk-bentuk lain dari pengaruh mungkin lebih informal (misalnya, hubungan-hubungan personal dengan para politisi yang mengatur).
3. Menganalisis perilaku dan kinerja stakeholders
Analisis perilaku dilakukan terhadap peran masing-masing stakeholders berdasarkan tugas dan fungsi pokok serta capaian kinerjanya dalam mendukung pemanfaatan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat.
Menganalisis rule in use dalam pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat
Analisis data menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan konsep rule in use menurut Ostrom (2005) dan Ostrom et al. (2006) untuk mengidentifikasi dan menggambarkan rule in use atau aturan-aturan yang digunakan masyarakat dalam pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang di Kecamatan Batu Ampar.
PENGARUH K E P E N T I N G A N I SUBJECT II KEY PLAYERS IV CROWD III CONTEXT SETTERS
33 Sintesis Data
Perumusan masalah dan rekayasa model kebijakan pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat dilakukan secara konseptual dengan pendekatan analisis kebijakan dan pengembangan kelembagaan. Sintesis data untuk membuat rekayasa model kebijakan dilakukan berdasarkan temuan-temuan yang terungkap pada kelima tujuan khusus penelitian ini.
Rekayasa model kebijakan menggunakan pendekatan Model Rasional Komprehensif. Dunn (2013) mengemukakan penggunaan model rasional-komprehensif dalam tahap analisis rekomendasi kebijakan. Alternatif yang terpilih untuk memecahkan masalah kebijakan pemanfaatan hutan mangrove sebagai bahan baku arang oleh masyarakat harus memenuhi kondisi sebagaimana disebut Teori Rasional-Komprehensif dalam pembuatan keputusan melalui beberapa prosedur berikut:
1. pembuat keputusan individual atau kolektif harus mengidentifikasi masalah kebijakan yang diterima sebagai konsensus oleh semua pelaku kebijakan yang relevan;
2. pembuat keputusan individual atau kolektif harus mendefinisikan dan mengurutkan secara konsisten tujuan dan sasaran yang pencapaiannya mencerminkan pemecahan masalah;
3. pembuat keputusan individual atau kolektif harus mengidentifikasi semua pilihan kebijakan yang dapat memberi kontribusi terhadap pencapaian masing-masing tujuan;
4. pembuat keputusan individual atau kolektif harus meramalkan semua konsekuensi yang akan dihasilkan oleh seleksi setiap alternatif;
5. pembuat keputusan individual atau kolektif harus membandingkan setiap pilihan dalam hal akibatnya terhadap pencapaian setiap tujuan; dan
6. pembuat keputusan individual atau kolektif harus memilih alternatif yang memaksimalkan pencapaian tujuan.
Perumusan masalah kebijakan menggunakan metode analisis perumusan masalah menurut William Dunn (Dunn 2013). Metode ini menghasilkan informasi mengenai kondisi yang menimbulkan masalah kebijakan (policy problem), dilakukan melalui 4 tahapan; yaitu: 1) pengenalan masalah; 2) pencarian masalah; 3) pendefinisian masalah; dan 4) spesifikasi masalah (Gambar 8).
34
Sumber: Dunn (2013)
Gambar 8 Tahapan perumusan masalah kebijakan
Dunn (2003) menggambarkan analisis kebijakan sebagai proses berjenjang yang dinamis di mana metode-metode perumusan masalah mendahului dan mengambil prioritas terhadap metode-metode pemecahan masalah (Gambar 9).
Hal penting dalam analisis kebijakan adalah mengenali perbedaan masing-masing proses yang berhubungan sebagaimana dijelaskan berikut:
Pengenalan Masalah vs. Perumusan Masalah. Proses analisis kebijakan tidak berawal dengan masalah yang terartikulasi dengan jelas, tetapi suatu perasaan khawatir yang kacau dan tanda-tanda awal dari stress. Semua kondisi ini bukan masalah, tetapi situasi masalah yang dikenal atau dirasakan oleh para analis kebijakan, pembuat kebijakan, dan pelaku kebijakan. Masalah-masalah
kebijakan “adalah produk pemikiran yang dibuat pada suatu lingkungan, suatu elemen situasi masalah yang diabstraksikan dari situasi ini oleh para analis kebijakan. Dengan demikian, apa yang dialami adalah situasi masalah, bukan masalah itu sendiri.
Perumusan Masalah vs. Pemecahan Masalah. Analisis kebijakan merupakan proses yang berlapis-lapis, mencakup metode perumusan masalah pada urutan teratas dan metode pemecahan masalah pada urutan terbawah. Ketika para analis menggunakan metode di urutan terbawah untuk memecahkan masalah-masalah yang rumit, mereka beresiko melakukan kesalahan tipe ketiga atau memecahkan masalah yang salah.
Pemecahan Kembali Masalah (Problem Resolving) vs. Pementahan Solusi Masalah (Problem Unsolving) dan Pementahan Masalah (Problem Dissolving) merupakan tiga macam proses pengoreksian kesalahan. Pemecahan kembali masalah mencakup analisis ulang terhadap masalah yang dipahami secara benar untuk mengurangi kesalahan yang bersifat kalibrasional. Pementahan solusi masalah mencakup pembuangan solusi disebabkan kesalahan dalam perumusan masalah. Pementahan masalah
META MASALAH MASALAH SUBSTANTIF MASALAH FORMAL SITUASI MASALAH
35 mencakup pembuangan masalah sebelum terjadi suatu usaha untuk memecahkan masalah yang tidak tepat tersebut.
Sumber: Dunn 2013
Gambar 9 Prioritas perumusan masalah dalam analisis kebijakan
Pemilihan alternatif kebijakan terbaik dilakukan dengan pendekatan PEST analysis, yaitu penilaian alternatif kebijakan berdasarkan kelayakan politik, ekonomi (efisiensi), teknis (efektifitas), dan administrasi. Penentuan skala dan bobot dilakukan berdasarkan professional judgment. Para professional terdiri dari
Pementahan Masalah Pemecahan Kembali Masalah Pemecahan Masalah Pementahan Solusi Masalah SITUASI MASALAH MASALAH KEBIJAKAN SOLUSI KEBIJAKAN MASALAH BENAR? SOLUSI KEBIJAKAN TIDAK TIDAK YA YA Perumusan Masalah Pengenalan Masalah
36
wakil pemerintah, pemerintah daerah Kabupaten Kubu Raya, LSM, dan perguruan tinggi. Professional judgment menekankan dan menggambarkan proses seleksi berdasarkan pertimbangan dan hasil kerja secara professional (Eriyanto 2002).