• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

Metode penelitian tentang nilai budaya dalam proses tradisi nyongkolan adat Sasak di Desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur dilakukan dengan metode penelitian kualitatif-deskriptif. Adapun yang dimaksud dengan

40

metode penelitian kualitatif-deskriptif atau penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, atau tindakan yang kemudian dijelaskan dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode yang ada. Metode ini dimulai dengan menyusun asumsi dasar pemikiran yang kemudian digunakan secara sistematis dalam pengumpulan, pengolahan, dan analisa, dan penafsiran data yang digunakan untuk menjelaskan fenomena yang ditemukan di lapangan atau lokasi penelitian.

Menurut Sandu Soyoto terkait dengan metode penelitian kualitatif yakni :

Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalamm terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi.

Metode penelitian ini lebih suka menggunakan teknik analisis mendalam (indepth analiysis), yaitu mengkaji masalah secara kasus perkasus karena metodologi kualitatif yakin bahwa sifat suatu masalah satu akan berbeda dengan sifat masalah lainnya.26

Adapun menurut Sugiyono bahwa dalam penelitian kualitatif instrumentnya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti itu sendiri. Untuk dapat menjadi instrument, maka peneliti harus memahami teori dan memiliki wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret,dan mengkonstruksi situasi sosial yang di teliti menjadi lebih jelas dan bermakna.27

Menurut Rully Indrawan terkait dengan metode penelitian kualitatif yakni sebagai berikut:

Pendekatan kualitatif adalah pendekatan penelitian yang diarahkan untuk pencapaian tujuan memperoleh penjelasan secara mendalam atas penerapan sebuah teori. Dengan demikian lebih banyak menggunakan berfikir induktif (empiris).28

26Sandu Siyoto, Dasar Metodelogi Kualitatif. Yogyakarta : Literasi Media Publishing. 2015

27Sugiyono, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.Bandung : ALFABETA,CV.2013

28Rully Indrawan, M.Si, Prof.Dr.R.Poppy Yaniawati,M.Pd, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Campuran.Bandung : Pt Refika Aditama.2017

41

Menurut Sandu Siyoto bahwa metode penelitian kualiitatif merupakan metode baru karena popularitasnya belum lama, metode ini juga dinamakan post posivistik karena berlandaskan pada filsafat positifisme, serta sebagai metode artistik karena proses penelitian lebih berkenaan dengan interprestasi terhadap data yang ditemukan di lapangan.

Menurut Cresswell, yang dikutip oleh Sugiyono terkait dengan metode penelitian kualitatif yakni sebagai berikut :

Penelitian kualitatif berarti proses eksplorasi dan memahami makna perilaku individu dan kelompok, menggambarkan masalah sosial atau masalah kemanusiaan. Proses penelitian mencangkup membuat pertanyaan penelitian dan prosedur yang masih bersifat sementara, mengumpulkan data pada setting partisipan,, analisis data secara induktif, membangun data yang parsial kedalam tema, dan selanjutnya memberikan interpretasi terhadap makna suatu data. Kegiatan akhir adalah membuat laporan kedalam struktur yang fleksibel.29

Dilihat dari penjelasan menurut para ahli di atas dapat di simpulkan dan dapat dipahami bahwa penelitian deskriptif-kualitatif merupakan penelitian yang menekankan proses pemahaman secara mendalam terkait dengan fenomena yang dialami oleh subjek penelitian baik dalam konteks individu, kelompok, atau organisasi/lembaga, misalnya terkait perilaku, persepsi, atau tindakan yang kemudian dijelaskan dalam bentuk kata-kata dan bahasa yang tidak memerlukan perhitungan-perhitungan atau analisis statistik, pada suatu konteks yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode yang ada, sehingga hasilnya dapat dijadikan sebagai penambah wawasan, bahan rujukan, atau bahan pembuktian terkait masalah yang di teliti.

Dalam penelitian ini terkait dengan nilai budaya dalam proses tradisi nyongkolan adat sasak di desa Leming, peneliti menggunakan pendekatan

29 Sugiyono, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.Bandung : ALFABETA,CV.2013

42

deskriptif-kualitatif karena masalah yang di kaji terkait dengan fenomena berupa perilaku, persepsi, atau tindakan yang menunjukan gambaran dari proses tradisi nyongkolan adat sasak yang terlaksana di desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur yang kemudian dijelaskan dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Dalam hal ini peneliti lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam dengan melalui metode penelitian yang beragam, sehingga memperoleh hasil penelitian yang lebih memberikan pemahaman lebih jelas terkait fenomena yang terjadi.

2. Sumber Data

Sumber data yang dimaksudkan adalah dari mana data dan informasi diperoleh seorang peneliti. Menurut Arikunto, sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara maka sumber data disebut responden, yaitu orang-orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.30

Dalam penelitian ini, yang menjadi sumber data adalah para informan kunci yang memiliki kompeten dan sangat relevan dengan penelitian ini. Sumber data pada penelitian ini adalah tokoh adat yang menjadi informan kunci yang telah diketahui oleh peneliti sehingga memudahkan peneliti untuk mendapatkan data-data terkait dengan fokus penelitian ini. Selain tokoh adat, peneliti juga menggunakan subjek dari penelitian ini adalah tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Jadi menurut sumbernya, data penelitian digolongkan berdasarkan jenis data primer dan data sekunder.

30 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta :Rineka Cipta, 2014), hlm.172

43

a. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber utama yakni tokoh adat, dan tokoh masyarakat setempat yang melakukan prosesi tradisi nyongkolan. Untuk memperoleh data primer ini, peneliti menggunakan catatan tertulis yang berasal dari wawancara dengan tokoh adat, tokoh masyarakat di desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur, dan melakukan observasi terhadap prosesi tradisi nyongkolan adat sasak.

b. Data sekunder adalah sebagai data pendukung diantaranya laporan penelitian, makalah, jurnal ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan fokus penelitian.

3. Pengumpulan Data

Teknik yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah: observasi, wawancara, dan dokumentasi.

a. Observasi

Metode observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena yang di selidiki, dalam arti yang luas observasi tidak hanya terbatas pada pengamatan yang di lakukan baik secara langsung maupun tidak langsung31

Secara garis besar observasi dapat dilihat dari dua pengertian yakni pengertian observasi dalam arti sempit dan secara luas. Dimana secara sempit observasi diartikan pengamatan secara langsung terhadap apa yang diteliti. Sedangkan dalam arti luas observasi meliputi pengamatan yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung terhadap obyek yang di teliti. Selain itu, pengertian lainnya juga yang dijelaskan oleh W.Gulo

31 Sutrisno Hadi, Metodelogi Research Jilid I, ( Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, 1991 ) hlm.136

44

yakni bahwa” Observasi adalah metode pengumpulan data dimana peneliti atau kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian.32

Observasi adalah salah satu cara untuk mendapatkan atau mengumpulkan data penelitian. Dan ada beberapa macam observasi sebagai berikut:

1. Observasi partisipatif adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh observer dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan di observasi. Observer berlaku sungguh-sungguh seperti anggota dari kelompok yang akan di observasi.

2. Observasi non partisipatif atau observasi non partisipan yaitu dimana observer tidak ikut di dalam kehidupan orang yang akan di observasi dan secara terpisah berkedudukan selaku pangkat.33

Data observasi yang dibutuhkan oleh peneliti untuk melaksanakan penelitian terkait dengan nilai budaya dalam proses tradisi nyongkolan adat sasak di desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur yakni dapat dibagi menjadi dua yaitu: pertama, observasi terkait dengan proses tradisi nyongkolan adat sasak di desa leming. Kedua, observasi terkait dengan nilai budaya yang ada pada tradisi nyongkolan adat Sasak di desa Leming. Dengan teknik observasi ini, peneliti melakukan pengamatan tentang Nilai Budaya dalam Proses Tradisi Nyongkolan Adat Sasak di Desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.

b. Wawancara

32 W.Gulo,” Metodelogi Penelitian”, ( Jakarta:Pt Gramedia Widiasarana Indonesia 2005), hlm.87

33Sugiyono,” Metode Penelitian Kualitatif Untuk Penelitian Yang Bersifat: Eksploratif, Enterpretif, Interaktif Dan Konstruktif”. ( Bandung:Alfabeta, 2017), hlm.107

45

Interview atau wawancara adalah proses tanya jawab dengan dua orang atau lebih dan berhadapan secara fisik.34 Pewawancara (interviewer) adalah orang yang memberikan pertanyaan, sedangkan orang yang diwawancarai (interviewe) berperan sebagai narasumber yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan.

Esterberg mendefinisikan wawancara adalah pertemuan dua orang untuk informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksi, maka dalam suatu topik tertentu wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data. Apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Peneliti menggunakan wawancara semi struktur. 35

1. Wawancara Terstruktur (structure interview) Teknik wawancara ini dimana pewawancara sudah menyiapkan daftar pertanyaan sehingga proses wawancara akan terarah dengan baik menyusun poinpoin penting atau garis besar pertanyaan yang akan diajukan.

2. Wawancara Semi Struktur (semi structure interview) Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori indept interview di mana pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya dalam melakukan

34 Sugiyono,” Metode Penelitian Kualitatif Untuk Penelitian Yang Bersifat: Eksploratif, Enterpretif, Interaktif Dan Konstruktif”. ( Bandung:Alfabeta, 2017), hlm.107

35 Bagon Suyanto,” Metode Penelitian Sosial”, ( Jakarta: Prenada Media Group Kencana, 2007), hlm.69

46

wawancara, peneliti perlu mendengar secara teliti dan dicatat apa yang dikemukakan informan.36

3. Wawancara Tidak Terstruktur (non structure interview) Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya, pedoman yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan di tanyakan. Wawancara tidak terstruktur atau terbuka, sering digunakan dalam penelitian terdahulu atau untuk peneliti yang lebih mendalam mengenai objek yang diteliti. Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh individu atau kelompok.

Penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur ini jenis wawancara yang sudah termasuk dalam kategori wawancara mendalam, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Adapun tujuan dari jenis wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secara terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat atau keterangan. Dengan teknik wawancara semi terstruktur ini, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan yang ada di desa leming kecamatan terara kabupaten Lombok timur sebagai berikut:

a) Abdul Aziz Multazam : Tokoh Adat,

b) Ahyar Rosidi : Pengurus/ Penoaq Gendang Beleq

36 Sugiyono,” Metode Penelitian Kualitatif Untuk Penelitian Yang Bersifat: Eksploratif, Enterpretif, Interaktif Dan Konstruktif”. ( Bandung:Alfabeta, 2017), hlm.107

47

c) Moh. Saleh : Ketua / Penoaq Sorong Serah

d) Mahnun dan Ernawati: Pemilik Acara Pernikahan/Nyongkolan.

Dari semua informan di atas, peneliti mendapatkan informasi yang relevan terkait dengan nilai budaya dalam tradisi nyongkolan adat sasak di Desa Leming, bagaimana fungsi tradisi nyongkolan adat sasak di desa Leming, dan apa saja yang harus di persiapkan dalam tradisi nyongkolan serta upaya yang dilakukan untuk mempertahankan tradisi nyongkolan adat Sasak di desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.

c. Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis yang merupakan informasi yang di peroleh lewat tulis-tulisan, dokumen-dokumen baik tulisan yang berbentuk foto-foto maupun gambar kegiatan.37

Teknik pengumpulan data berupa dokumen ini digunakan dalam penelitian sebagai sumber data yang bermanfaat untuk menguji, menafsirkan dan menambah rincian spesifik lainnya guna mendukung informasi dari sumber-sumber lain.

Dalam penelitian ini penulis mengkaji bahan tertulis dan tidak tertulis yang bertujuan untuk mendapatkan data skunder sebagai pelengkap dari kedua data di atas. Sumber tertulis tersebut berupa data monografi dan arsip-arsip yang ada relevansinya dengan penelitian, sedangkan sumber tidak tertulis berupa foto-foto dan video tentang proses tradisi nyongkolan adat sasak.

4. Analisis Data

37 Ibid, hlm.217

48

Suatu langkah yang penting setelah pengumpulan data adalah analisis data, sebab dengan analisis data akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang keadaan obyek dan hasil studi. Cara analisis data yang dikemukakan adalah mengartikan hasil observasi, wawancara yang diperoleh dalam penelitian, dan dokumentasi yang telah dikumpulkan dalam penelitian. Oleh karena itu untuk menganalisis data yang diperoleh di lapangan, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.

Adapun terkait dengan pengertian analisis data menurut Rully Indrawan dan R.Poppy Yaniawati yakni bahwa:

Mengolah dan menganalisis data adalah pekerjaan yang paling sulit dalam penelitian kualitatif karena belum tersedianya metode dan teknik kerja yang benar-benar memuaskan semua pihak.38

Analisis data dalam penelitian dilakukan selama dan sesudah pengumpulan data. Menurut Matthew B. Miles dan A.Michael Huberman, ada tiga kegiatan dalam analisis data, yaitu:

a. Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan- catatan tertulis di lapangan.39

b. Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.40

c. Verifikasi atau menarik kesimpulan

Adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk menguji kebenaran, kekokohan dan kecocokan data. Penarikan kesimpulan bisa dilakukan dengan jalan membandingkan kesesuaian pernyataan dari subjek penelitian

38Prof.Dr.Rully Indrawan, M.Si, Prof.Dr.R.Poppy Yaniawati,M.Pd, Metodelogi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Campuran.Bandung : Pt Refika Aditama.2017

39 Mathew B. Miles & A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif : Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Penj: Tjetjep Rohendi Rohidi ( Jakarta: UI Press, 1992 ) hlm.16

40 Ibid, hlm.17

49

dengan makna yang terkandung dengan konsep-konsep dasar dalam penelitian tersebut.

Analisis data dalam penelitian kualitatif di lakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah selesai di lapangan.

Berdasarkan penjelasan tentang analisis data di atas peneliti akan menyimpulkan temuan-temuan atau data-data yang berkaitan dengan nilai budaya terhadap prosesi tradisi nyongkolan adat sasak di desa leming kecamatan terara Lombok timur.

5. Keabsahaan Data

Dalam upaya memperoleh data yang absah dari hasil pengumpulan data, tentang nilai budaya dalam proses tradisi nyongkolan adat sasak di desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur, peneliti menggunakan beberapa cara sebagai berikut:

a. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan sebagai pembanding terhadap data itu. Untuk memperoleh data yang valid di perlukan teknik pemeriksaan yang tepat. Salah satu cara yang paling penting dan mudah dalam uji keabsahan hasil penelitian adalah dengan melakukan triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber data, metode dan teori.41

Menurut Sugiyono, bahwa teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Dengan

41 Lexy J. Moleong,” Metodelogi Penelitian Kualitatif”, ( Bandung: Pt Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 329.

50

metode ini hasil penelitian akan lebih lengkap, valid, reliable, dan obyektif karena dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi, kelemahan satu teknik pengumpulan data akan dapat diatasi dengan teknik pengumpulan data yang lain.

Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini triangulasi sumber dan triangulasi teknik, triangulasi sumber akan di lakukan peneliti dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber yang berbeda, dan triangulasi teknik akan peneliti lakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan menggunakan teknik yang berbeda.

Adapun model atau desain triangulasi yang digunakan peneliti yakni model Concurrent Triangulation.

b. Referensi yang cukup

Mengenai referensi yang cukup, peneliti mencari sumber yang relevan dalam mendukung teori yang menjadi bahan untuk selanjutnya sebagai bahan dalam memperoleh hasil penelitian di lapangan, dan memberikan tambahan terhadap teori yang masih dianggap belum mencukupi, dan mengutip atau mengambil teori-teori sebagai penambah analisis bagi peneliti tentang nilai budaya dalam proses tradisi nyongkolan adat sasak di desa Leming Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur

Dokumen terkait