• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pemikiran

Perencanaan pengembangan wilayah dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan sektoral dan pendekatan regional. Pendekatan sektoral biasanya kurang memperhatikan aspek ruang secara keseluruhan, sedangkan pendekatan regional lebih bersifat keruangan (spasial). Dengan demikian pendekatan regional dapat menjembatani perencanaan pengembangan dengan rencana tata ruang, karena tata ruang merupakan panduan utama dalam merencanakan berbagai aktifitas dalam suatu wilayah.

Dalam merencanakan pemilihan lokasi untuk kepentingan suatu kegiatan, hendaknya selalu mempertimbangkan aspek fisik, sosial ekonomi, dan spasial terkait dengan efisiensi pemakaian ruang. Untuk merencanakan lokasi RPU Kota Palangka Raya dapat disusun kerangka pemikiran seperti yang tersaji pada Gambar 1. Dengan mempertimbangkan luasan lahan RPU yang telah direncanakan, lokasi RPU akan diolah secara spasial menggunakan analisis kelayakan lahan dengan memperhatikan faktor-faktor fisik seperti: rencana tata ruang wilayah yang telah diatur oleh pemerintah, tidak berada pada daerah rawan banjir, jarak terhadap permukiman dan lokasi industri berkaitan dengan dampak pencemaran lingkungan yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat, serta tersedianya aksesibilitas berupa jalan untuk menjamin kelancaran transportasi dan pemasaran produk berkaitan dengan kualitas kesegaran daging unggas yang distribusikan, sehingga diperoleh alternatif lokasi RPU yang telah sesuai dengan peraturan pemerintah.

Agar RPU dapat dimanfaatkan secara optimal dan dapat memberikan nilai tambah, maka perlu melibatkan peran para pelaku usaha dan masyarakat dalam menentukan lokasi yang paling efisien, dengan menjaring preferensi pelaku usaha dan masyarakat melalui suatu kuesioner terhadap alternatif lokasi RPU yang telah ditetapkan, sehingga menghasilkan arahan lokasi RPU yang dapat diterima baik oleh para pelaku usaha dan masyarakat tanpa bertentangan dengan peraturan pemerintah yang tercantum dalam SNI 01-6160-1999 tentang RPU. Selain itu, alternatif lokasi RPU juga dapat ditinjau dari pengaruh tekanan kepadatan

penduduk terhadap lingkungan, sehingga arahan lokasi RPU dapat menjamin kelestarian lingkungan.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Faktor Fisik

Peta RTRW Peta Permukiman Peta Rawan Banjir Peta Peternakan Unggas Peta TPA/TPU Peta Aksesibilitas (Jalan) Peta Kelayakan Lahan Luasan Lahan RPU

Peta Arahan Lokasi RPU Kota Palangka Raya Perencanaan

Pengembangan Wilayah

Perencanaan Lokasi RPU Kota Palangka Raya

Lokasi RPU Kota Palangka Raya

Peta Alternatif Lokasi RPU Faktor Sosial Ekonomi Preferensi Masyarakat Permukiman Preferensi Pelaku Usaha Proyeksi Kepadatan Penduduk

19

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini meliputi analisis faktor-faktor fisik menggunakan pendekatan tematik ruang dengan mengintegrasikan metode SIG dan MCE untuk mendapatkan daerah rawan banjir dan kelayakan lahan lokasi RPU, sedangkan analisis faktor sosial ekonomi dilakukan berdasarkan wawancara menggunakan kuisioner terhadap alternatif lokasi RPU untuk mengetahui prioritas pilihan para pelaku usaha dan masyarakat dalam menentukan lokasi RPU dengan menggunakan metode AHP.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di wilayah administrasi Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Wilayah administrasi Kota Palangka Raya terdiri dari 5 (lima) Kecamatan yaitu: Kecamatan Pahandut, Kecamatan Sabangau, Kecamatan Jekan Raya, Kecamatan Bukit Batu, dan Kecamatan Rakumpit. Waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Juni 2011 hingga Februari 2012.

Pengumpulan Data, Sumber Data, dan Alat Penelitian

Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dengan pengukuran maupun pengamatan di lapangan terhadap objek yang diteliti seperti titik koordinat sebaran peternakan unggas, titik koordinat fasilitas umum (pasar, tempat pembuangan akhir sampah, tempat pemakaman umum), serta melakukan wawancara dengan menggunakan kuisioner untuk memperoleh preferensi masyarakat dan pelaku usaha. Adapun sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 30 orang. Data sekunder berupa peta, citra satelit, laporan tertulis, dan data numerik lainnya dikumpulkan dari berbagai sumber sesuai dengan tujuan penelitian seperti pada Tabel 3.

Tabel 3. Data Sekunder yang Digunakan dalam Penelitian

No Jenis Data Format Tahun Skala

Dasar Sumber 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Peta Jenis tanah Peta Kelas lereng Peta Bentuk Lahan Data Curah hujan Citra Satelit Alos Peta Administrasi Peta RTRW Peta Aksesibilitas Data Kependudukan Digital Digital Digital Tabular Digital Digital Digital Digital Tabular 1987 1987 1987 2010 2010 2003 2003 2006 2008-2010 1:250.000 1:250.000 1:250.000 - - 1:50.000 1:50.000 1:50.000 - RePPProt 1987 RePPProt 1987 RePPProt 1987

BMKG Kota Palangka Raya P4W IPB

Bappeda Kota Palangka Raya Bappeda Kota Palangka Raya Bappeda Kota Palangka Raya BPS Kota Palangka Raya

Alat yang digunakan adalah GPS, kamera digital dan seperangkat komputer yang dilengkapi dengan software ArcGIS, Microsoft Office, Global Positioning

System (GPS), printer, dan kamera digital.

Persiapan dan Perbaikan Data

Data primer dan data sekunder yang telah dikumpulkan kemudian disusun menjadi suatu basis data. Sebelum dilakukan analisis menggunakan fungsi-fungsi spasial dengan metode SIG dan MCE, terlebih dahulu data-data ditransformasikan ke dalam bentuk digital menggunakan perangkat ArcGIS.

Perbaikan data dilakukan terhadap peta-peta digital yang perlu dikoreksi dan terhadap data-data yang masih dalam bentuk tabular serta data-data titik koordinat akan ditransformasikan ke dalam bentuk shapefile. Peta dengan sistem koordinat berbeda akan ditransformasikan ke sistem koordinat yang sama yaitu UTM, sehingga terbentuk susunan basis data spasial dengan sistem koordinat sama. Citra Satelit Alos 2010 digunakan untuk memetakan persebaran spasial permukiman melalui interpretasi secara visual.

1. Perbaikan Data Curah Hujan

Data curah hujan yang digunakan merupakan curah hujan maksimal harian rata-rata tahunan, diperoleh dari 5 (lima) stasiun BMKG yang termasuk ke dalam wilayah administrasi Kalimantan Tengah, yaitu: Pangkalan Bun, Sampit,

21

Palangka Raya, Buntok, dan Muara Teweh. Dengan pertimbangan kondisi tofografi wilayah yang homogen dan data curah hujan harian rata-rata tahunan terhadap 5 (lima) stasiun BMKG, dilakukan analisis atau interpolasi (Spatial

Analysis) dengan metode IDW (Invers Distance Weighted) yaitu metode rata-rata

tertimbang antara nilai dan jarak terdekat ke sel yang diinterpolasi.

Untuk mendapatkan data curah hujan berdasarkan wilayah administrasi Kota Palangka Raya, data curah hujan yang telah diinterpolasi dilakukan proses pemotongan menggunakan fungsi extract by mask. Data curah hujan Kota Palangka Raya yang dihasilkan masih dalam format raster, sehingga perlu dilakukan reklasifikasi kemudian dikonversi menjadi format vektor. Reklasifikasi dilakukan sesuai dengan jumlah tingkat kerawanan banjir, yaitu 3 (tiga) tingkat untuk mempermudah dalam analisis.

2. Perbaikan Data Permukiman

Gambaran permukiman diperoleh melalui interpretasi Citra Satelit Alos 2010 secara visual. Interpretasi citra dilakukan secara on screen dengan perangkat ArcGIS.

3. Perbaikan data Sebaran Peternakan Unggas dan Fasilitas Umum

Titik koordinat GPS dari masing-masing peternakan unggas, pasar, tempat pembuangan akhir sampah (TPA) dan tempat pemakaman umum (TPU) diinput ke dalam perangkat ArcGIS sehingga menghasilkan suatu peta peternakan unggas, pasar, TPA dan TPU.

4. Perbaikan Peta Tanah

Peta jenis tanah akan dikoreksi berdasarkan peta RePPProt yang diperoleh dari Pusat Penelitian Tanah Bogor. Data sumberdaya lahan wilayah Kota Palangka Raya sangat terbatas, hanya berupa data Land System dengan skala 1:250.000. Koreksi dilakukan terhadap data atribut satuan-satuan peta tanah yang merupakan asosiasi dari beberapa tanah.

Analisis dan Pengolahan Data

Penentuan lokasi merupakan suatu proses yang kompleks, di mana biasanya harus dilakukan secara bertahap (Moghaddas dan Namaghi 2011). Analisis dan pengolahan data di dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap seperti digambarkan dalam diagram alir penelitian (Gambar 2).

Tahap pertama, pada peta permukiman, peta jalan, peta sebaran peternakan, pasar, tempat pembuangan akhir sampah dan tempat pemakaman umum yang sudah diperbaiki kemudian dilakukan analisis proximity untuk memperoleh jarak terhadap masing-masing parameter.

Tahap kedua, menganalisis daerah rawan banjir menggunakan metode MCE dengan parameter peta curah hujan, peta bentuk lahan, peta jenis tanah, dan peta kelas lereng (Tabel 4). Analisis dilakukan dengan teknik ranking (urutan langsung), fungsi overlay dilakukan dengan intersect pada empat parameter. Setelah menambahkan field, dilakukan perhitungan menggunakan field calculator

dengan persamaan (skor_hujan x 0,4) + (skor_bentuklahan x 0,3) + (skor_lereng x 0,2) + (skor_tanah x 0,1). Kemudian dilakukan query yaitu SQL (Select By

Attributes) terhadap hasil perhitungan tersebut untuk menentukan kelas, dimana

nilai 1 untuk kelas kerawanan rendah, nilai 2 untuk kelas kerawanan sedang, dan nilai 3 untuk kelas kerawanan tinggi.

Tahap ketiga, untuk kelayakan lahan lokasi RPU dianalisis menggunakan metode MCE dengan parameter RTRW, daerah rawan banjir, jarak permukiman, jarak peternakan, jarak TPA/TPU, dan jarak jalan untuk memperoleh alternatif lokasi RPU (Tabel 5). Analisis kelayakan lahan dilakukan menggunakan metode MCE dengan 2 (dua) teknik berbeda yaitu teknik ranking (urutan langsung) dan pembobotan dengan nilai kepentingan semua faktor sama. Tujuan digunakan kedua teknik ini adalah untuk membandingkan hasil yang diperoleh sehingga dapat memberikan alternatif pilihan dalam penentuan kelayakan lahan lokasi RPU Kota Palangka Raya.

Teknik ranking (urutan langsung) dilakukan berdasarkan urutan parameter yang paling berpengaruh sampai yang kurang berpengaruh. Fungsi overlay

dilakukan dengan intersect pada 6 (enam) parameter, kemudian dilakukan perhitungan menggunakan field calculator dengan persamaan (skor_rtrw x

23

0,286)+(skor_banjir x 0,238)+(skor_permukiman x 0,190)+(skor_peternakan x 0,143)+(skor_tpa/tpu x 0,095)+(skor_jalan x 0,048). Kemudian dilakukan query

yaitu SQL (Select By Attributes) terhadap hasil perhitungan tersebut untuk menentukan kelas, dimana nilai 1 untuk kelas sesuai, nilai 2 untuk kelas kurang sesuai, dan nilai 3 untuk kelas tidak sesuai.

Untuk teknik pembobotan dengan nilai kepentingan semua faktor sama, dilakukan fungsi overlay dengan intersect 6 (enam) parameter, dimana nilai bobot masing-masing parameter sama yaitu 1. Perhitungan dilakukan menggunakan field

calculator dengan persamaan (skor_rtrw + skor_banjir + skor_permukiman +

skor_peternakan + skor_tpa/tpu + skor_jalan)/6. Kemudian dilakukan SQL (Select

By Attributes) terhadap hasil perhitungan tersebut untuk menentukan kelas,

dimana nilai 1 untuk kelas sesuai, nilai 2 untuk kelas kurang sesuai, dan nilai 3 untuk kelas tidak sesuai.

Tahap keempat, menganalisis alternatif lokasi RPU berdasarkan kelayakan lokasi menggunakan tools proximity terhadap pasar serta melakukan query

terhadap luasan lahan dan jalan. Langkah pertama, dilakukan analisis jarak pasar terhadap rencana lokasi RPU dengan analisis Proximity yaitu Multiple Ring Buffer

dengan jarak sebesar 1-10 kilometer. Rencana lokasi RPU yang berada di dalam jarak 10 kilometer akan digunakan dalam penentuan alternatif lokasi RPU, sedangkan lokasi yang berada di luar jarak 10 kilometer tidak dipertimbangkan. Langkah kedua, memisahkan poligon menjadi poligon-poligon kecil menggunakan fungsi advance editing yaitu explode multi part feature. Langkah

ketiga, memilih rencana lokasi RPU hanya pada poligon yang mempunyai akses

jalan dengan cara manual. Langkah keempat, menggabungkan poligon-poligon terpisah dalam satu satuan lokasi yang sama menggunakan fungsi Editor yaitu

Merge. Langkah kelima, menghitung luasan pada poligon dengan menggunakan

Tools Calculate Geometry, kemudian dipilih poligon yang memiliki luasan

minimal 1 (satu) hektar dengan metode query yaitu SQL (Select By Attributes). Tahap kelima, menjaring preferensi masyarakat dan pelaku usaha terhadap alternatif lokasi RPU dalam bentuk kuesioner kemudian dianalisis menggunakan metode AHP dengan matrik perbandingan berpasangan.

Tahap keenam, memproyeksi kepadatan penduduk menggunakan rumus pertumbuhan geometrik untuk mendapatkan pengaruh tekanan kepadatan penduduk terhadap lingkungan.

Terakhir, menganalisis arahan lokasi RPU berdasarkan alternatif lokasi, preferensi masyarakat dan pelaku usaha, serta proyeksi kepadatan penduduk menggunakan metode deskriptif. Diagram alir penelitian tertera pada Gambar 2.

Tabel 4. Parameter Daerah Rawan Banjir

Parameter Sub Parameter

Curah Hujan (mm) 3038 - 3050 3050 - 3060 3060 - 3077 Bentuk Lahan

Steep hill and sub parallel ridgs

(kelompok punggung batuan metamorfik yang agak sejajar)

Peat - covered sandy terraces

(teras-teras berpasir tertutup gambut dangkal)

Undulating; sandy terraces

(teras-teras berpasir berombak)

Swampy floodplains; Mainly within terraces

(dataran banjir berawa dari lembah-lembah sempit)

Peat basin or Dome

(rawa-rawa gambut yang dalam dengan permukaan cekung)

Permanently water logged plain (daerah yang selalu

tergenang air)

Meander belts within very wideriver floodplains

(jalur kelokan sungai-sungai besar dengan tanggul yang lebar) Kemiringan Lereng (%) < 2 2 – 8 26 – 40 Jenis Tanah Ultisol

Spodosol Histosol Entisol

25

Tabel 5. Parameter Kelayakan Lahan Lokasi RPU

Parameter Sub Parameter

RTRW Kawasan Pengembangan

Produksi (KPP)

Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lainnya (KPPL) Hutan Produksi ( HP)

Hutan Produksi Terbatas (HPT) Daerah Sempadan Sungai (DS) Konservasi Gambut Tebal (KGT)

Konservasi Hidrologi (KH) Perlindungan dan Pelestarian Hutan (PPH)

Transmigrasi (TI) Taman Wisata (TW)

Rawan Banjir Rendah

Sedang Tinggi Jarak dari Permukiman (Km) 0 – 1

1 – 2 > 2 Jarak dari Peternakan (Km) 0 – 1

1 – 2 > 2 Jarak dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah dan Tempat Pemakaman (Km)

0 – 2 2– 3 > 3

Jarak dari Jalan (m) 0 – 40

40 – 500 > 500

Gambar 2. Diagram Alir Penelitian Geometrik Rate of Growth Preferensi masyarakat Preferensi peternak Preferensi pedagang Titik Koordinat Kuesioner Citra Alos Luasan Lahan

Peta Jarak Permukiman Peta Jarak Peternakan

Peta Jarak TPA/TPU Peta Jarak Jalan

Peta Rawan Banjir Peta RTRW

Peta Kesesuaian Lokasi RPU

Peta Alternatif Lokasi RPU

Peta Arahan Lokasi RPU Kota Palangka Raya

Peta Jalan Peta Peternakan Ayam Ras Peta Permukiman

Peta TPA/TPU MCE

MCE AHP Deskriptif Interpretasi Visual Input Data Query Proximity Proximity Proyeksi Kepadatan Penduduk Interpolasi Peta Jenis Tanah Peta Kelas Lereng Data Curah Hujan Peta Bentuk Lahan Peta Curah Hujan

27

Kelayakan Lahan untuk Lokasi RPU Kota Palangka Raya

Dalam melakukan analisis kelayakan lahan untuk lokasi RPU Kota Palangka Raya mengacu pada 3 (tiga) peraturan, yaitu: SNI 01-6160-1999 tentang RPU, Prosedur Operasional Standar Pengendalian Avian Influenza oleh Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Tahun 2008, dan Pedoman Teknis Program Pembangunan Rumah Potong Unggas Skala Kecil yang dirilis oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Tahun 2010. Adapun kriteria yang harus dipenuhi dalam analisis kesesuaian lahan untuk lokasi RPU sebagai berikut:

1. Sesuai RTRW

Perencanaan lokasi RPU yang direncanakan tidak bertentangan dengan RUTR/RDTR/RBWK yang berlaku di wilayah setempat. Penetapan lokasi RPU harus berada pada fungsi kawasan budidaya sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Kawasan budidaya yang dimaksud adalah KPP (Kawasan Pengembangan Produksi) dan KPPL (Kawasan Permukiman dan Penggunaan Lain), atau setidaknya HP (Hutan Produksi) dan HPT (Hutan Produksi Terbatas) yang telah melalui proses pelepasan kawasan hutan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan.

2. Tidak Berada di Permukiman Padat Penduduk

Gambaran permukiman diperoleh melalui intepretasi citra satelit secara visual menggunakan citra Alos. Dalam SNI 01-6160-1999 disebutkan syarat lokasi RPU tidak berada pada permukiman padat penduduk, sedangkan Prosedur Operasional Standar Pengendalian Avian Influenza oleh Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Tahun 2008 mensyaratkan lokasi RPU tidak berada dipermukiman dan berjarak minimal 1000 meter dari permukiman. Jarak dari permukiman menjadi dasar dalam analisis kesesuaian lokasi RPU dengan permukiman sehingga tidak menimbulkan gangguan dan pencemaran lingkungan. Penentuan jarak dilakukan menggunakan tools proximity pada perangkat ArcGIS.

3. Tidak Berada di Daerah Rawan Banjir

Dalam SNI 01-6160-1999 dan Pedoman Teknis Program Pembangunan Rumah Potong Unggas Skala Kecil yang dirilis oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Tahun 2010 disebutkan bahwa lokasi RPU tidak berada pada daerah rawan banjir. Untuk mengidentifikasi daerah rawan banjir dilakukan menggunakan metode MCE dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menentukan parameter yang terdiri dari: curah hujan, bentuk lahan, kelas lereng, dan jenis tanah.

b. Menentukan bobot masing-masing parameter berdasarkan urutan langsung (ranking).

c. Menentukan skor pada masing-masing sub parameter. Skor yang digunakan adalah 1 (satu) untuk rendah, 2 (dua) untuk sedang, dan 3 (tiga) untuk tinggi.

d. Menganalisis daerah rawan banjir berdasarkan penjumlahan dari total perkalian bobot dan skor masing-masing parameter, sehingga diperoleh kelas rawan banjir yaitu: 1 (satu) untuk rendah, 2 (dua) untuk sedang, dan 3 (tiga) untuk tinggi.

4. Bebas dari Bau dan Pencemaran

Berdasarkan Prosedur Operasional Standar Pengendalian Avian Influenza yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Tahun 2008 bahwa lokasi RPU memiliki jarak minimal 1000 meter dari peternakan dan 2000 meter dari tempat pembuangan akhir sampah. Jarak dianalisis menggunakan fungsi proximity pada perangkat ArcGIS.

5. Memiliki Luasan Lahan yang Cukup dan dilengkapi dengan Akses Jalan Luasan lahan yang direncanakan dalam pembangunan RPU Kota Palangka Raya seluas lebih kurang 1 hektar dan memiliki akses jalan untuk mobilisasi angkutan unggas hidup dari peternakan menuju RPU maupun dari RPU menuju pasar. Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan yang mengikat dan menghubungkan suatu wilayah yang berada dalam pelayanannya menurut hubungan hirarkinya. Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Palangka

29

Raya jalan dibagi menjadi 4 (empat) menurut fungsinya, yaitu: arteri primer, arteri sekunder, kolektor dan lokal (Tabel 6). Daerah milik jalan (damija) direncanakan sesuai dengan fungsinya yang berarti tidak ada kegiatan selain peruntukan jalan dan pendukungnya. Damija dijadikan dasar dalam menetukan kesesuaian lahan dalam menentukan lokasi RPU Kota Palangka raya. Jarak dari jalan akan dianalisis menggunakan fungsi proximity pada perangkat ArcGIS.

Tabel 6. Klasifikasi Fungsi Jalan

No. Fungsi jalan Damija (m)

Perkerasan

(m) Pelayanan

1 Arteri Primer 30 16 Regional

2 Arteri Sekunder 30 – 40 10 – 21 Regional, Kota

3 Kolektor 20 – 30 11 – 16 Kota

4

Lokal:

Poros lingkungan 15 9 Kota

Lingkungan I 9 6 Lingkungan

Lingkungan II 7 4 Lingkungan

Sumber : RTRW Kota Palangka Raya (1999)

Penyusunan dan Analisis Kuisioner

Penyusunan kuisioner dilakukan untuk mendapatkan preferensi masyarakat dan pelaku usaha terhadap alternatif lokasi RPU Kota Palangka Raya, kemudian dilakukan analisis menggunakan metode AHP. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sampel nonprobabilitas dengan teknik purposive sampling, di mana sampel diambil berdasarkan pertimbangan tertentu. Jumlah responden yang akan diwawancarai sebanyak 30 orang. Responden dalam wilayah studi terdiri dari 3 (tiga) kategori yaitu: pelaku usaha meliputi peternak dan pedagang, serta masyarakat permukiman.

Kuisioner yang diajukan terdiri atas 2 (dua) pertanyaan, yaitu responden yang paling berperan dalam menentukan lokasi RPU Kota Palangka Raya dan prioritas pilihan lokasi RPU Kota Palangka Raya berdasarkan alternatif lokasi. Berikut rancangan struktur hirarki preferensi arahan lokasi RPU Kota Palangka Raya (Gambar 3).

Gambar 3. Struktur Hirarki Preferensi Arahan Lokasi RPU Kota Palangka Raya

Data kuisioner yang digunakan merupakan variabel kualitatif yang dibuat menjadi kuantitatif menggunakan teknik skor. Setiap pertanyaan membutuhkan jawaban berupa urutan prioritas yang dipilih, skor 1 diberikan untuk nilai dengan urutan tertinggi sekaligus menjadi prioritas pilihan. Data kuisioner yang telah terkumpul kemudian ditabulasikan ke dalam Microsoft Exell untuk dianalisis menggunakan metode AHP melalui matrik perbandingan berpasangan, sehingga diperoleh nilai prioritas dari masing-masing poligon yang akan digunakan sebagai arahan lokasi RPU.

Proyeksi Kepadatan Penduduk

Pertumbuhan jumlah penduduk dapat mempengaruhi kesejahteraan daerah, di mana kepadatan penduduk merupakan indikator dari pada tekanan penduduk di suatu daerah. Kepadatan di suatu daerah dibandingkan dengan luas tanah yang ditempati dinyatakan dengan banyaknya penduduk per kilometer persegi. Kepadatan penduduk dapat diproyeksi untuk memperkirakan kejadian atau hal-hal yang mungkin terjadi yang mempengaruhi kondisi sosial ekonomi dan lingkungan di suatu daerah dan sebagai alat perencanaan pembangunan di segala bidang.

Preferensi Arahan Lokasi RPU Kota Palangka Raya Alternatif

Lokasi RPU

Pedagang Peternak Masyarakat

31

Dalam penelitian ini, perhitungan proyeksi kepadatan penduduk dilakukan berdasarkan data tingkat pertumbuhan penduduk Kota Palangka Raya pada periode 2008-2010 terhadap alternatif lokasi RPU, sehingga diperoleh arahan lokasi RPU Kota Palangka Raya. Untuk melakukan proyeksi kepadatan penduduk tahun 2015 dan 2020 digunakan rumus matematik Geometric Rate of Growth dan dibandingkan dengan luas wilayah.

Pt = P0 (1+r)t Dimana :

Pt = Jumlah penduduk pada tahun t P0 = Jumlah penduduk pada tahun awal r = Angka pertumbuhan penduduk t = Jangka waktu dalam tahun

32 Wilayah Administrasi

Kota Palangka Raya terletak di Provinsi Kalimantan Tengah yang secara geografis terletak pada 113˚30`- 114˚07` Bujur Timur dan 1˚35`- 2˚24` Lintang Selatan, dengan luas wilayah 2.678,51 km2 (267.852 ha) terdiri atas 5 (lima) Kecamatan dan 30 (tiga puluh) Kelurahan. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, batas wilayah administrasi Kota Palangka Raya adalah sebelah utara dengan Kabupaten Gunung Mas, sebelah timur dan selatan dengan Kabupaten Pulang Pisau, dan sebelah barat dengan Kabupaten Katingan seperti tergambar pada Gambar 4.

Gambar 4. Peta Administrasi Kota Palangka Raya (Sumber: Bappeda Kota Palangka Raya)

33

Kondisi Biofsik Wilayah a. Tanah

Tanah-tanah yang terdapat di wilayah Kota Palangka Raya tergolong tanah mineral dan tanah organik. Berdasarkan Sistem Klasifikasi Taksonomi Tanah, tanah-tanah di Wilayah Kota Palangka Raya tergolong ke dalam 5 (lima) ordo, yaitu: Entisol, Inceptisol, Histosol, Spodosol, dan Ultisol seperti pada Tabel 7.

Tabel 7. Klasifikasi Tanah Kota Palangka Raya

Order Suborder Greatgroup

Entisols

Aquents Fluvaquents Tropaquents Samments Tropopsamments

Fluvents Tropofluvents

Inceptisols Aquepts Tropaquepts Tropepts Dystropepts

Histosols Hemists Tropohemists Fibrists Tropofibrists

Spodosol Aquods Placaquods

Ultisols Udults Tropudults

Sumber: RePPProt (1987)

b. Satuan Peta Tanah

Data sumberdaya lahan dan tanah di wilayah Kota Palangka Raya hanya tersedia dalam bentuk informasi spasial Land System dengan skala 1:250.000, yang menyajikan data jenis tanah, lereng, bentuk lahan, serta penyebarannya dalam satuan-satuan informasi spasial masih mengandung keragaman yang tinggi dengan delineasi yang kasar. Peta tanah yang disajikan berdasarkan data land

system merupakan satuan peta asosiasi dari beberapa tanah yang tidak dapat

disederhanakan lagi.

c. Topografi

Secara umum keadaan topografi Kota Palangka Raya merupakan dataran, dengan kemiringan 0-8% dan hanya sebagian kecil merupakan daerah berbukit dengan kemiringan berkisar 26-40%. Daerah dataran menyebar di seluruh

Wilayah Kota Palangkaraya yang terdiri dari teras, dataran rendah dan rawa, sedangkan daerah berbukit terdapat di Bukit Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu.

Berdasarkan data Land System (Tabel 8) terdapat 7 (tujuh) bentuk permukaan lahan di Wilayah Kota Palangka Raya, yaitu:

1) Swampy floodplains; Mainly within terraces (rawa daerah banjir dengan

teras)

2) Peat-covered sandy terraces (teras datar berpasir dilapisi gambut dangkal)

3) Peat basin or Dome (cekungan atau kubah gambut)

4) Steep hill and sub parallel ridgs (dataran berbukit)

5) Permanently water logged plain (dataran yang selalu tergenang air)

6) Undulating; sandy terraces (teras bergelombang berpasir)

7) Meander belts within very wideriver floodplains (kelokan sungai di dalam

Dokumen terkait