FENOMENA BUNUH DIRI DI JEPANG 2.1 Pandangan Hidup dan Mati Bagi Masyarakat Jepang
B. Pandangan Mati Bagi Masyarakat Jepang
1.6 Metode Penelitian
Secara etimologis, metode berasal dari kata ‘met’ dan ‘hodes’ yang berarti melalui. Sedangkan istilah metode adalah jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga 2 hal penting yang terdapat dalam sebuah metode adalah : cara melakukan sesuatu dan rencana dalam pelaksanaan. Menurut Drs. Agum M. Hardjana, metode adalah cara yang sudah dipikirkan masak-masak
dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang dikehendaki (http://carapedia.com).
Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode yang dipakai untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasikan, mengkaji dan menginterpretasikan data. Menurut Koentjaraningrat dalam Citra (2006:12), penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, data-data yang diperoleh akan dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan sekaligus dikaji dan kemudian diinterpretasikan dengan tetap mengacu pada sumber data dan informasi yang ada.
Penulis juga mengunakan metode studi kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan studi aktivitas individu yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Beberapa aspek yang perlu dicari dan diteliti meliputi masalah, teori, konsep dan penarikan kesimpulan. Dengan kata lain, studi kepustakaan adalah pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku yang terkait dengan objek penelitian. Data yang diperoleh tersebut diperoleh dari referensi tersebut akan dianalisa untuk dapat ditarik kesimpulan (Nasution, 1996:14).
Disamping itu penulis juga memperoleh data-data dari beberapa situs di internet yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Seluruh data-data yang
didapat baik dari proses studi kepustakaan maupun data internet, akan dianalisa dan kemudian diinterpretasikan untuk mendapatkan hasil berupa kesimpulan.
ABSTRAK
BUDAYA BUNUH DIRI DI JEPANG
Jepang merupakan salah satu Negara yang maju di dunia yang mempunyai berbagai masalah-masalah hidup yang kompleks. Jepang juga mempunyai salah satu fenomena yang ada sejak zaman feodal yang telah menjadi budaya di Jepang yakni budaya bunuh diri. Salah satu cara bunuh diri yang ada sejak zaman feodal adalah seppuku. Istilah seppuku ini biasanya diperuntukkan bagi para kaum samurai atau kesatria Jepang dimana mereka melakukan bunuh diri sebagai bentuk loyalitas, kesetiaan, pengabdian diri, penghormatan, kode etik dalam kesatria Jepang serta sebagai bentuk rasa malu karena gagal dalam menjalankan tugas. Rasa malu bagi orang Jepang merupakan nilai moral yang tinggi bagi masyarakat Jepang artinya seluruh aktifitas kehidupan masyarakat Jepang difokuskan pada usaha menjaga nama baik dan tingkah laku yang baik. Apabila melakukan kesalahan dan menyebabkan pandangan negatif dari masyarakat lain maka mereka akan merasa malu. Pada zaman dahulu dan sekarang rasa malu yang ada akan dapat ditebus dengan melakukan tindakan bunuh diri.
Seiring perkembangan zaman, kehidupan masyarakat Jepang yang sekarang ini cenderung bersifat “sendiri” dengan kata lain masyarakat Jepang tidak peduli dengan lingkungannya, sosialisasi yang dilakukanpun hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan saja. Kehidupan yang bersifat sendiri ini mengakibatkan
kesendirian dan keterasingan dari lingkungan. Dewasa ini semakin kompleksnya kehidupan maka semakin banyak pula masalah-masalah yang ada, hal tersebut mengakibatkan tingkat depresi yang besar pula. Ketidakmampuan bersosialisasi dengan lingkungan, gagal dalam menjalankan tanggung jawab, depresi merupakan beberapa faktor yang ada yang menyebabkan masyarakat Jepang dapat melakukan tindakan bunuh diri. Dewasa ini masyarakat melakukan bunuh diri dilakukan untuk terlepas dari beban hidup dan masalah-masalah yang ada, berbeda dengan tindakan bunuh diri pada zaman dahulu yang dilakukan oleh para kaum samurai yaitu sebagai bentuk pengabdian diri terhadap tuannya.
Pada zaman feodal cara bunuh diri yang dilakukan oleh para kaum samurai hanya menggunakan sebilah pedang panjang (katana) lalu melakukan seppuku, berbeda dengan bunuh diri yang dilakukan pada dewasa ini dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya maracuni diri sendiri, memotong urat nadi, loncat dari gedung yang tinggi, gantung diri dan yang lainnya. Bunuh diri pada dewasa ini juga dilakukan dari semua golongan, di Jepang golongan usia 50-60 tahun merupan golongan usia yang banyak melakukan tindakan bunuh diri salah satu penyebabnya adalah tekanan pekerjaan yang semakin berat. Usia 70-80 tahun melakukan tindakan bunuh diri karena faktor kesehatan dan penyakit yang tak kunjung tinggi. Sementara pada usia 14-25 tahun melakukan tindakan bunuh diri karena adanya tindakan bullying / ijime yang dilakukan teman sekolah, guru atau orang-orang terdekat yang terjadi di sekolah.
Dari paparan di atas bunuh diri dari masa feodal di Jepang dari segi alasan dan bentuk bunuh dirinya itu sendiri dengan masa sekarang ini yang semula sebagai bentuk loyalitas dan pengabdian terhadap tuannya menjadi bentuk penyelesaian masalah dari perasaan depresi dan beban hidup.
Setiap tahun jumlah kematian akibat bunuh diri di Jepang semakin bertambah, dengan demikian pemerintah Jepang juga dituntut untuk melakukan tindakan pencegahan bunuh diri. Salah satu tindakan yang dilakukan pemerintah Jepang untuk menangani bunuh diri diklangan pekerja Jepang yaitu seperti menyediakan nomor telepon darurat untuk dapat menerima keluh-kesah para pekerja, buku petunjuk untuk mengurangi stress yang dibagikan kepada masyarakat Jepang terutama yang bekerja dalam suatu organisasi, hingga membuat undang-undang yang memberikan sejumlah uang atau asuransi ke para janda dan anak-anak yang ditinggal mati karena bunuh diri akibat stress dipekerjaan. Selain itu, pemerintah juga akan menugaskan sejumlah penasehat di pusat informasi tenaga kerja di seluruh Jepang, agar dapat memberi bantuan kepada masyarakat Jepang yang dilanda masalah hutang berkepanjangan atau untuk masyarakat yang telah kehilangan pekerjaan sehingga tidak memiliki pendapatan tetap.
Pemerintah Jepang meluncurkan kampanye Anti Bunuh Diri, sebagai upaya untuk menekan tingginya jumlah kasus bunuh diri di Jepang. Kampanye yang dilakukan pemerintah mencakup penggunaaan media internet dan papan reklame
untuk menghimbau masyarakat agar lebih peka terhadap tanda-tanda perilaku yang tidak normal yang dilakukan oleh orang di sekitarnya.
ABSTRAK
BUDAYA BUNUH DIRI DI JEPANG
Jepang merupakan salah satu Negara yang maju di dunia yang mempunyai berbagai masalah-masalah hidup yang kompleks. Jepang juga mempunyai salah satu fenomena yang ada sejak zaman feodal yang telah menjadi budaya di Jepang yakni budaya bunuh diri. Salah satu cara bunuh diri yang ada sejak zaman feodal adalah seppuku. Istilah seppuku ini biasanya diperuntukkan bagi para kaum samurai atau kesatria Jepang dimana mereka melakukan bunuh diri sebagai bentuk loyalitas, kesetiaan, pengabdian diri, penghormatan, kode etik dalam kesatria Jepang serta sebagai bentuk rasa malu karena gagal dalam menjalankan tugas. Rasa malu bagi orang Jepang merupakan nilai moral yang tinggi bagi masyarakat Jepang artinya seluruh aktifitas kehidupan masyarakat Jepang difokuskan pada usaha menjaga nama baik dan tingkah laku yang baik. Apabila melakukan kesalahan dan menyebabkan pandangan negatif dari masyarakat lain maka mereka akan merasa malu. Pada zaman dahulu dan sekarang rasa malu yang ada akan dapat ditebus dengan melakukan tindakan bunuh diri.
Seiring perkembangan zaman, kehidupan masyarakat Jepang yang sekarang ini cenderung bersifat “sendiri” dengan kata lain masyarakat Jepang tidak peduli dengan lingkungannya, sosialisasi yang dilakukanpun hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan saja. Kehidupan yang bersifat sendiri ini mengakibatkan
kesendirian dan keterasingan dari lingkungan. Dewasa ini semakin kompleksnya kehidupan maka semakin banyak pula masalah-masalah yang ada, hal tersebut mengakibatkan tingkat depresi yang besar pula. Ketidakmampuan bersosialisasi dengan lingkungan, gagal dalam menjalankan tanggung jawab, depresi merupakan beberapa faktor yang ada yang menyebabkan masyarakat Jepang dapat melakukan tindakan bunuh diri. Dewasa ini masyarakat melakukan bunuh diri dilakukan untuk terlepas dari beban hidup dan masalah-masalah yang ada, berbeda dengan tindakan bunuh diri pada zaman dahulu yang dilakukan oleh para kaum samurai yaitu sebagai bentuk pengabdian diri terhadap tuannya.
Pada zaman feodal cara bunuh diri yang dilakukan oleh para kaum samurai hanya menggunakan sebilah pedang panjang (katana) lalu melakukan seppuku, berbeda dengan bunuh diri yang dilakukan pada dewasa ini dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya maracuni diri sendiri, memotong urat nadi, loncat dari gedung yang tinggi, gantung diri dan yang lainnya. Bunuh diri pada dewasa ini juga dilakukan dari semua golongan, di Jepang golongan usia 50-60 tahun merupan golongan usia yang banyak melakukan tindakan bunuh diri salah satu penyebabnya adalah tekanan pekerjaan yang semakin berat. Usia 70-80 tahun melakukan tindakan bunuh diri karena faktor kesehatan dan penyakit yang tak kunjung tinggi. Sementara pada usia 14-25 tahun melakukan tindakan bunuh diri karena adanya tindakan bullying / ijime yang dilakukan teman sekolah, guru atau orang-orang terdekat yang terjadi di sekolah.
Dari paparan di atas bunuh diri dari masa feodal di Jepang dari segi alasan dan bentuk bunuh dirinya itu sendiri dengan masa sekarang ini yang semula sebagai bentuk loyalitas dan pengabdian terhadap tuannya menjadi bentuk penyelesaian masalah dari perasaan depresi dan beban hidup.
Setiap tahun jumlah kematian akibat bunuh diri di Jepang semakin bertambah, dengan demikian pemerintah Jepang juga dituntut untuk melakukan tindakan pencegahan bunuh diri. Salah satu tindakan yang dilakukan pemerintah Jepang untuk menangani bunuh diri diklangan pekerja Jepang yaitu seperti menyediakan nomor telepon darurat untuk dapat menerima keluh-kesah para pekerja, buku petunjuk untuk mengurangi stress yang dibagikan kepada masyarakat Jepang terutama yang bekerja dalam suatu organisasi, hingga membuat undang-undang yang memberikan sejumlah uang atau asuransi ke para janda dan anak-anak yang ditinggal mati karena bunuh diri akibat stress dipekerjaan. Selain itu, pemerintah juga akan menugaskan sejumlah penasehat di pusat informasi tenaga kerja di seluruh Jepang, agar dapat memberi bantuan kepada masyarakat Jepang yang dilanda masalah hutang berkepanjangan atau untuk masyarakat yang telah kehilangan pekerjaan sehingga tidak memiliki pendapatan tetap.
Pemerintah Jepang meluncurkan kampanye Anti Bunuh Diri, sebagai upaya untuk menekan tingginya jumlah kasus bunuh diri di Jepang. Kampanye yang dilakukan pemerintah mencakup penggunaaan media internet dan papan reklame
untuk menghimbau masyarakat agar lebih peka terhadap tanda-tanda perilaku yang tidak normal yang dilakukan oleh orang di sekitarnya.
BUDAYA BUNUH DIRI DI JEPANG