• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Penelitian

Penelitian ini didesain sebagai penelitian sensus yang bersifat deskriptif korelasional. Menurut Usman dan Akbar (2008), sensus merupakan metode yang mengambil satu kelompok populasi sebagai sampel secara keseluruhan dan menggunakan kuesioner yang terstruktur sebagai alat pengumpulan data yang pokok untuk mendapatkan informasi yang spesifik.

Indikator dan parameter yang ditetapkan pada setiap variabel, ditetapkan berdasarkan teori yang telah teruji dan diakui kebenarannya. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah karakteristik penyuluh (X1), penggunaan media (X2), tahapan pencarian Informasi (Y1) dan pemanfaatan cyber extension (Y2). Pada tahap selanjutnya setiap indikator dan parameter yang telah ditetapkan, dituangkan dalam definisi operasional, kemudian dikembangkan dalam bentuk kuesioner sebagai acuan atau instrumen wawancara dengan para penyuluh di kabupaten Bogor. Untuk mengetahui keberadaan hubungan ataupun pengaruh dari masing-masing peubah dilakukan uji statistik dengan menggunakan pendekatan kuantitatif

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Penentuan lokasi penelitian ditentukan secara sengaja dengan mempertimbangkan bahwa Kabupaten Bogor merupakan daerah dengan variasi penggunaan TIK dan tingkat aksesibilitas cukup tinggi terhadap sumber informasi, penyuluhnya sudah terdedah dengan TIK, koneksi jaringan yang cukup luas, dan di wilayah Bogor terdapat berbagai unit kerja penelitian pertanian, perguruan tinggi dan pusat -pusat informasi. Dengan demikian terdapat berbagai pilihan bagi penyuluh pertanian dalam memanfaatkan TIK. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-Desember 2014 dimulai dengan uji kuesioner sampai dengan pelaksanaan penelitian.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi, menurut Bungin (2011) merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, gejala, nilai peristiwa, sikap hidup dan sebagainya, sehingga objek-objek tersebut dapat menjadi sumber data penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah penyuluh pertanian di Kabupaten Bogor dengan total 61 orang. Rincian jumlah penyuluh di Kabupaten Bogor tercantum pada Tabel 3. Pengumpulan data dilakukan dengan metode sensus terhadap ketiga BP3K terpilih, diantaranya adalah BP3K Ciawi, Ciseeng, dan Leuwiliang. Jumlah responden pada penelitan adalah sebanyak 61 orang. Alasan pengambilan sampel dengan sensus adalah untuk mengumpulkan data yang representatif dari populasi. Selain itu, kepercayaan bahwa dengan mengambil keseluruhan anggota populasi maka akan diperoleh kualitas data yang baik.

Tabel 3. Data Penyuluh di Kabupaten Bogor yang menjadi objek penelitian

No. BP3K Kabupaten Bogor Total (orang)

1. BP3K Wilayah Ciawi 19

2. BP3K Wilayah Ciseeng 20

3. BP3K Wilayah Leuwiliang 22

JUMLAH 61

Sumber: Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Bogor ( BKP5K), 2014.

Sumber Data Penelitian

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diambil dari peubah utama yang diteliti berupa karakteristik penyuluh, hambatan pemanfaatan media, tahapan pencarian informasi pada Cyber Extension dan pemanfaatan media Cyber Extension yang diperoleh dengan menggunakan instrumen dalam bentuk kuesioner.

Data sekunder yang dikumpulkan berkaitan dengan keadaan umum, data pendukung atau potensi aktual mengenai kondisi geografis yang dapat diperoleh dari pihak-pihak atau lembaga terkait seperti Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BKP5K), Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor atau lembaga lainnya.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian adalah : 1. Wawancara tertutup dengan menggunakan kuesioner, yang diberikan kepada

seluruh penyuluh yang menjadi objek pada penelitian ini. (dokumentasi terdapat pada lampiran 1)

2. Observasi Langsung. Metode observasi merupakan metode perolehan informasi yang mengandalkan pengamatan langsung di lapangan.

3. Wawancara langsung dengan narasumber. Wawancara langsung dilakuakuan terhadap beberapa narasumber yang berkompeten dalam memberikan informasi pendukung terkait penelitan yang dilakukan.

4. Studi dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi terhadap laporan-laporan yang berkaitan dengan sumber data sekunder. Data yang dikumpulkan berupa aktivitas penyuluh pertanian dalam mengakses Cyber Extension.

Definisi Operasional

Definisi operasional adalah penjelasan pengertian mengenai beberapa variabel yang diukur. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi dengan menggunakan definisi operasional sebagai berikut :

1. Karakteristik penyuluh pertanian adalah ciri-ciri pribadi yang melekat pada diri seseorang yang membedakan dengan orang lain. Karakteristik penyuluh tersebut diukur dengan beberapa indikator berikut:

a. Umur adalah usia responden yang diukur dalam satuan tahun, dihitung dari tahun kelahiran sampai saat penelitian/wawancara dilaksanakan. Diukur berdasarkan teori kependudukan dengan kategori muda, dewasa, dan tua.

b. Pendidikan formal adalah tingkat pendidikan tertinggi yang telah dilalui responden dibangku sekolah formal, dihitung berdasarkan tingkat pendidikan yang telah diselesaikan. Kategori pengukuran menggunakan skala rendah, sedang, tinggi.

c. Tingkat kepemilikan media banyaknya alat komunikasi yang dimiliki oleh penyuluh untuk mengakses Cyber Extension di luar kantor. Kategori pengukuran menggunakan skala rendah, sedang, tinggi.

d. Motivasi penyuluh adalah alasan penyuluh pertanian dalam menggunakan media yang dikelompokkan menjadi keinginan untuk meningkatkan pengetahuan, untuk mendapatkan informasi baru, memecahkan permasalahan di lapangan, meningkatkan profesionalisme, dan sekedar mencari hiburan atau menyelesaikan proses administrasi saja. Kategori pengukuran menggunakan skala rendah, sedang, tinggi.

2. Penggunaan media merupakan hal-hal yang menunjang kegiatan penyuluh dalam mengakses Cyber Extension. Secara operasional penelitian ini menggunakan kendala penggunaan media dengan dua indikator yakni:

a. Kemampuan akses internet adalah penilaian penyuluh tentang kemampuan diri sendiri untuk menggunakan aplikasi internet pada komputer. Kategori pengukuran menggunakan skala rendah, sedang, tinggi.

b. Ketersedian sarana adalah penilaian penyuluh terhadap ketersediaan sarana yang digunakan untuk akses internet, seperti ketersedian komputer, modem, ataupun sinyal untuk akses. Kategori pengukuran diukur dengan skala tidak tersedia, terbatas, tersedia.

c. Biaya operasional media adalah penilaian penyuluh terhadap biaya yang disediakan oleh pemerintah untuk akses internet, seperti pembelian pulsa internet dll. Kategori pengukuran diukur dengan skala tidak tersedia, terbatas, tersedia.

3. Kelancaran tahapan pencarian informasi pada Cyber Extension secara konseptual mengacu pada teori Ellis (1987) bahwa seseorang melakukan sebuah aktivitas atau perilaku untuk mencari dan memperoleh informasi dari sumber dengan beberapa tahapan. Secara operasional, tahapa n perilaku pencarian informasi tersebut meliputi tahap-tahap yang digunakan oleh penyuluh pertanian dalam mengakses informasi pada Cyber Extension diukur dengan indikator berikut:

a. Starting adalah tahap awal dalam mencari informasi, dimulai dengan kapan penyuluh pertanian mulai mengakses informasi, frekuensi atau seberapa sering penyuluh menggunakan laman tersebut untuk memperoleh informasi dalam satu minggu, lamanya waktu yang

digunakan oleh penyuluh untuk mengakses informasi. Kategori pngukuran terdiri dari sangat lancar,lancar dan kurang lancar.

b. Chaining adalah tahap di mana penyuluh pertanian menyesuaikan dan memahami informasi yang ditemukan dengan laman tersebut, diukur dengan menggunakan penilaian penyuluh terhadap kelengkapan informasi yang tersedia pada laman tersebut. Kategori pengukuran terdiri dari sangat lancar, lancar dan kurang lancar.

c. Browsing adalah tahap yang ditandai dengan kegiatan pencarian mulai diarahkan pada bidang yang menjadi minatnya. Kategori pengukuran terdiri dari sangat lancar, lancar dan kurang lancar.

d. Differentiating adalah tahapan membandingkan sumber informasi yang digunakan dengan sumber informasi lainnya, serta dengan memperhatikan kualitas sumber informasinya. Kategori pengukuran terdiri dari sangat lancar, lancar dan kurang lancar.

e. Monitoring adalah pengawasan, di mana pencari informasi mulai menyiapkan diri untuk pengembangan lebih lanjut dari pencarian informasi dengan cara memberi perhatian yang serius terhadap sumber-sumber tertentu dan mencatatnya dalam media yang disediakan. Kategori pengukuran terdiri dari sangat lancar, lancar dan kurang lancar.

f. Extracting adalah tahapan di mana kegiatan pencarian informasi dilakukan dengan lebih sistematis melalui pengelompok kan bahan- bahan yang menjadi minatnya, dan sudah mulai menentukan informasi mana yang sesuai dengan kebutuhan. Kategori pengukuran terdiri dari sangat lancar, lancar dan kurang lancar.

4. Pemanfaatan Cyber Extension secara konseptual adalah perilaku penyuluh dalam memanfaatkan informasi yang diperoleh melalui laman Cyber Extension. Secara operasional pemanfaatan media ini merupakan tindakan penyuluh terhadap informasi yang diakses yang diukur dengan indikator:

a. Manfaat akses adalah manfaat yang dirasakan oleh penyuluh setelah akses informasi pada laman Cyber Extension. Manfaat ini dapat dikategorikan yakni untuk meningkatkan pengetahuan, untuk mendapatkan informasi baru, memecahkan permasalahan di lapangan, meningkatkan profesionalisme, dan sekedar mencari hiburan atau menyelesaikan proses administrasi saja. Kategori pengukuran menggunakan skala rendah, sedang, tinggi.

b. Kemampuan membangun jejaring sosial adalah penilaian kemampuan penyuluh untuk bekerja sama dengan pihak lain baik individu maupun kelompok, dan aktif berorganisasi dalam mengembangkan kegiatan penyuluhan melalui Cyber Extension. Kategori pengukuran menggunakan skala rendah, sedang, tinggi.

c. Kemampuan berbagi informasi dan pengetahuan adalah penilaian kemampuan memanfaatkan Cyber Extension sebagai media komunikasi informasi, inovasi, pemecahan masalah dan dalam rangka pemenuhan membagi informasi inovasi kepada petani. Kategori pengukuran menggunakan skala rendah, sedang, tinggi.

Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi

Suatu alat ukur dapat dikatakan sahih apabila alat ukur itu dapat mengukur sesuatu yang sebenarnya ingin diukur (Singarimbun & Effendi, 2011). Apabila daftar pertanyaan digunakan sebagai instrumen pengukuran, maka kuesioner yang disusun harus mengukur apa yang ingin diukur. Untuk mendapatkan daftar pertanyaan/kuisioner yang mempunyai validitas tinggi, maka kuisioner disusun dengan cara: 1) mempertimbangkan berbagai teori, 2) memperhatikan masukan dari para ahli dan berbagai pihak yang dianggap menguasai materi daftar pertanyaan yang digunakan, dan 3) berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Agar valid maka butir-butir pertanyaan didalam kuesioner dianalisis menggunakan korelasi product moment (Arikunto 1998).

Adapun rumus tersebut adalah:

r = N ∑ XY − ∑ X ∑ Y

√ N ∑ X − ∑ X N∑Y − ∑Y

keterangan:

rXY = koefisien korelasi product moment

N = jumlah responden X = Butir soal ke-x

Y = Total butir soal dalam kuesioner

Nilai rXY yang diperoleh dibandingkan dengan nilai koefisien r-product moment dari tabel korelasi. Bila rXY > dari rtabel maka butir pertanyaan dinyatakan valid sedangkan bila lebih kecil maka perlu ada perbaikan atau butir tersebut dikeluarkan dari daftar pertanyaan. Reliabilitas instrumen adalah suatu istilah yang dipakai untuk menunjukkan tingkat konsistensi hasil pengukuran apabila pengukuran diulangi untuk kedua kalinya atau lebih (Singarimbun dan Effendi 2006).

Sementara untuk uji reliabilitas menggunakan metode Cronbach-Alpa. Menurut Rakhmat (2005), suatu alat dikatakan memiliki realibitas apabila digunakan berkali-kali oleh peneliti yang sama atau peneliti lain tetap memberikan hasil yang sama. Metode tersebut digunakan untuk kuesioner yang memiliki lebih banyak pilihan jawaban serta bukan merupakan skor 1 dan 0, melainkan dalam bentuk kategori dan uraian (Arikunto 1998), sehingga menghasilkan konsistensi antar butir pertanyaan (inter-item) (Kerlinger dan Lee 2000). Adapun rumus tersebut adalah:

r = [ k − ]k [ −∑ σσ b

t ]

Dengan keterangan: r11 = reliabilitas instrumen

k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

σb= jumlah varians butir

Nilai r11 yang diperoleh dibandingkan dengan nilai koefisien r dari tabel

korelasi. Bila r11> dari rtabel, maka instrumen dinyatakan reliabel sedangkan bila

lebih kecil maka perlu ada perbaikan atau dilakukan uji ulang terhadap pertanyaan tersebut. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan kepada penyuluh di BP3K Dramaga, dengan jumlah 30 orang. Penyuluh terdiri dari penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan yang memahami proses pencarian informasi melalui Cyber Extention dengan menggunakan 68 pertanyaan. Hampir seluruh pertanyaan valid (kecuali pertanyaan nomor 37), karena berdasarkan hasil nilai korelasi > dari r tabel (0,361). Hasil uji validitas lebih lengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5 dibagian akhir tesis. Uji Reliabilitas menghasilkan nilai koefisien 0,884. Nilai tersebut menunjukkan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian termasuk konsisten dalam mengukur gejala yang sama.

Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan seperti dalam bentuk tabel. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensial. Analisis statistik deskriptif (frekuensi dan persentase) digunakan untuk menganalisis deskripsi variabel (a) karakteristik penyuluh, (b) hambatan penggunaan media, (c) tahapan pecarian informasi, dan (d) manfaat penggunaan Cyber Extention.

1. Analisis statistik inferensial digunakan untuk melihat hubungan antaravariabel penelit ian, yaitu (a) hubungan antara karakteristik penyuluh, hambatan penggunaan media dengan tahapan pencarian informasi, (b) hubungan antara tahapan pencarian informasi denga n manfaat penggunaan Cyber Extention. Analisis statistik inferensia l menggunakan uji korelasi rank Spearman (bantuan SPSS ver.19.0). Korelasi rank Spearman digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel yang minimal memiliki data ordinal dengan ordinal. Rumus korelasi rank Spearman sebagai berikut:

Keterangan:

rho = − N N6∑d22 Rs (rho) : Koefisien korelasi rank Spearman 1 : Bilangan konstan

6 : Bilangan konstan

d : Perbedaan antara pasangan jenjang ∑ : Sigma atau jumlah

Dokumen terkait