Desain, Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan secara cross sectional study yaitu seluruh variabel diamati pada saat yang bersamaan pada waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di Desa Cogrek Kecamatan Parung Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa Desa Cogrek di Kecamatan Parung merupakan salah satu sentra peternakan lele di Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Juni 2012.
Cara Pengambilan Contoh
Responden dalam penelitian ini adalah keluarga peternak lele dalam hal ini yang nantinya akan diukur pengetahuan dan sikapnya adalah ibu (istri peternak lele). Responden dipilih terhadap keluarga peternak lele dengan kriteria inklusi; sedang membudidayakan ikan lele baik kepunyaan sendiri maupun dengan sistem bagi hasil, memiliki setidaknya 1 orang anak usia sekolah serta bersedia menjadi responden penelitian. Contoh dalam penelitian ini adalah anak keluarga peternak lele yang berusia antara 6-12 tahun.
Jumlah peternak lele yang tercatat di kantor Kecamatan Desa Cogrek sebanyak 82 orang. Berdasarkan jumlah tersebut, dilakukan pengukuran jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus Lemeshowb dkk, 1997 n = n = n = 67 orang
sampel minimal adalah 67 orang, untuk mengantisipasi adanya sampel yang drop out maka ditambah ± 10% menjadi 74 orang.
n = jumlah sampel minimal yang diperlukan N = populasi
= derajat kepercayaan ( 0.05 ) p = proporsi (0.5)
q = (1 – p)
d = presisi (limit error)
Berdasarkan rumus diatas, diketahui bahwa sampel minimal yang harus diambil adalah sebanyak 74 orang. Namun dalam kenyataannya, jumlah peternak lele yang sedang melakukan ternak lele tidak mencapai jumlah tersebut karena berbagai macam faktor diantaranya ada peternek lele yang tidak memiliki
anak berusia sekolah dasar, ada beberapa peternak lele yang sedang tidak melakukan budidaya, dan ada beberapa peternak yang mengganti ternaknya dengan ikan air tawar jenis lain seperti gurame, patin, nila.
Sehingga penelitian ini menggunakan metode snowball sampling yaitu teknik sampling yang semula anggota sampelnya berjumlah sedikit kemudian anggota sampel (responden) menunjuk temannya untuk menjadi sampel sehingga jumlahnya akan semakin banyak. Berdasarkan metode dan kriteria yang ditentukan, maka diperoleh 31 orang responden dan contoh.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer terdiri dari data identitas responden dan contoh, data status sosial ekonomi keluarga, data antropometri anak, pengetahuan gizi responden, sikap responden, praktek konsumsi lele contoh, dan konsumsi pangan contoh. Data sekunder berupa data gambaran umum wilayah, luas peternakan lele, serta data-data yang lain yang mendukung penelitian ini.
Data identitas responden dan contoh, status ekonomi keluarga, pengetahuan gizi responden, sikap responden dan praktek konsumsi lele contoh diperoleh dengan cara pengisian lembar kuesioner (Lampiran 8). Data antropometri contoh dikumpulkan dengan pengukuran berat badan menggunakan timbangan injak digital dan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise, kemudian dihitung status gizi contoh. Data kosumsi lele dan pangan lainnya dalam satu bulan terakhir dikumpulkan menggunakan Food Frequency Questionare (FFQ) yang telah dikembangkan, dan data konsumsi pangan contoh diperoleh dengan metode recall 2 x 24 jam.
Tabel 5 Jenis data dan cara pengumpulan data
No Jenis Data Variabel Cara pengumpulan data
1 Karakteristik contoh, responden - Jenis kelamin - Usia Wawancara menggunakan kuesioner 2 Karakteristik sosial ekonomi keluarga - Pendidikan orang tua - Pendapatan orang tua
- Pekerjaan orang tua
- Jumlah anggota
keluarga
3 Antropometri anak - Berat badan
- Tinggi badan BB ditimbang menggunakan timbangan digital. Sedangkan, TB diukur menggunakan microtoise
Lanjutan tabel 5
No Jenis Data Variabel Cara pengumpulan data
4 Pengetahuan gizi
responden
- Pengetahuan gizi
responden
mengenai gizi dan
manfaat lele Wawancara dan
kuesioner
5 Sikap responden - Sikap responden
6 Praktek konsumsi lele
contoh - Praktek pemberikan makanan termasuk konsumsi lele 7 Konsumsi pangan contoh - Konsumsi pangan 2 x 24 jam - Konsumsi pangan dalam sebulan terakhir - Recall 2 x 24 jam - FFQ 8 Gambaran umum lokasi penelitian
Letak geografis, sarana dan prasarana
Arsip desa
Pengolahan dan Analisis Data
Tahapan proses pengolahan data yang dilakukan adalah editing, coding, entry data, tabulasi dan analisis statistik. Data diolah menggunakan Microsoft Excel 2007.
Data besar keluarga diolah dengan mengelompokkan berdasarkan jumlah anggota keluarga, yaitu keluarga kecil (≤ 4 orang), sedang (5-7 orang), dan keluarga besar (≥ 8 orang) (Hurlock 1998). Data usia orangtua dikelompokkan menjadi empat kategori menurut Papalia & Old (2008) yaitu remaja (<20 tahun), dewasa awal (20-40 tahun), dewasa tengah (41-65 tahun), dewasa akhir (>65 tahun). Data tingkat pendidikan orang tua digolongkan menjadi enam kategori, yaitu tidak sekolah, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Perguruan Tinggi. Pendapatan perkapita keluarga dikategorikan menjadi dua kategori yaitu keluarga miskin dan keluarga tidak miskin berdasarkan garis kemiskinan Jawa Barat untuk desa tahun 2011 yaitu sebesar Rp.209.777/kapita/bulan (BPS 2011).
Pengetahuan gizi contoh diperoleh dengan menilai jawaban responden terhadap 20 pertanyaan mengenai gizi secara umum, kandungan gizi lele, dan manfaat mengkonsumsi lele. Sikap gizi responden diperoleh dengan melakukan penilaian terhadap jawaban responden terhadap 10 pertanyaan mengenai sikap terhadap konsumsi lele. Jawaban yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0. Data pengetahuan dan sikap gizi dihitung dengan cara menjumlahkan skor jawaban yang benar, kemudian dipersentasekan untuk
mengetahui skor yang diperoleh. Skor tersebut kemudian digolongkan ke dalam tiga kriteria tingkat pengetahuan gizi (Khomsan 2000) sebagai berikut :
1. Baik dengan skor >80% 2. Sedang dengan skor 60-80% 3. Kurang dengan skor <60%
Penilaian praktek konsumsi lele diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Pertanyaan kuesioner meliputi frekuensi makan utama, konsumsi pangan hewani dan konsumsi lele. Kebiasaan makan dinilai dengan kategori selalu (>6 kali/minggu), sering (3-6 kali/ minggu), jarang (1-2 kali/minggu), sangat jarang (<1 kali/minggu), dan tidak pernah (0 kali/minggu). Data pendidikan gizi, sikap dan praktek konsumsi lele kemudian diuji menggunakan uji korelasi spearman untuk mengetahui hubungan antar variable tersebut.
Data konsumsi pangan (recall) dikonversi dalam bentuk energi (kkal), protein (g), vitamin A (RE), vitamin C (mg), besi (mg), kalsium (mg), dan fosfor (mg) menggunakan Daftar Konversi Bahan Makanan (DKBM). Konversi dihitung dengan rumus (Hardinsyah & Briawan 1994) sebagai berikut :
Kgij = { (Bj/100) x Gij x (BDDj/100) } Keterangan:
Kgij : konversi zat gizi-i dalam bahan makanan-j Bj : berat makanan j yang dikonsumsi (gram)
Gij : kandungan zat gizi dalam 100 gram BDD bahan makanan j BDDj : bagian bahan makanan-j yang dapat dikonsumsi
Tingkat konsumsi energi, protein, vitamin A, vitamin C, besi, kalsium, dan fosfor dihitung dengan membandingkan jumlah zat gizi yang dikonsumsi dengan kecukupan yang dinyatakan dalam persen. Penilaian untuk tingkat konsumsi energi dan protein dibagi dalam lima kategori (Depkes 1996) yaitu:
1. Defisit tingkat berat (<70%) 2. Defisit tingkat sedang (70 - 79%) 3. Defisit tingkat ringan (80 – 89%) 4. Normal (90 – 119%)
5. Lebih (120%)
Penilaian tingkat konsumsi vitamin A, vitamin C, besi, kalsium dan fosfor menurut Gibson (2005) dibagi dalam dua kategori yaitu
1. Kurang (<77%) 2. Cukup (77%)
Data hasil pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) diolah untuk menentukan nilai Z-skor. Ada tiga nilai Z-skor, yaitu Z-skor berdasarkan BB menurut umur (BB/U), Z-skor berdasarkan TB menurut umur (TB/U) dan Z-skor berdasarkan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Pada penelitian ini, nilai Z-skor yang digunakan adalah nilai Z-skor berdasarkan berat badan menurut tinggi badan. WHO (2007) menyatakan bahwa pengukuran status gizi anak usia 5 hingga 19 tahun tidak lagi menggunakan indikator BB/TB akan tetapi menggunakan indikator indeks massa tubuh berdasarkan umur (IMT/U). Hal ini dikarenakan indikator tersebut mampu menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek, seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare (Riskesdas 2010). Penetuan Z-skor dilakukan menggunakan software WHO Antro 2007. Hasil penentuan Z-Skor terhadap masing-masing individu kemudian dibandingkan dengan distribusi baku rujukan WHO/NCHS.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 16.0 for Windows, dan Microsoft Excel 2007. Hubungan antara beberapa variabel diuji menggunakan uji korelasi spearman ataupun uji pearson.
Definisi Operasional
Contoh adalah anak keluarga peternak lele. Anak peternak lele yang diukur status gizinya adalah anak yang memenuhi kriteria: anak laki-laki atau perempuan, berusia antara 6 – 12 tahun, tinggal bersama orang tua dan orang tua anak tersebut memiliki kolam peternakan lele yang sedang membudidayakan lele baik milik sendiri maupun dengan sistem bagi hasil
Responden adalah keluarga peternak lele, dalam hal ini yang diukur pengetahuan dan sikap gizinya adalah ibu contoh (istri).
Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang hidup dalam satu bangunan rumah dan makan dari pendapatan yang sama. Besar keluarga diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu kecil ( 4 orang), sedang (5 – 7 orang), dan besar ( 8 orang).
Pendapatan keluarga adalah sejumlah uang yang didapatkan oleh seluruh anggota keluarga dari pekerjaan tetap maupun dari beternak lele.
Kebiasaan makan adalah suatu perilaku yang berhubungan dengan makan dan makanan seperti kebiasaan konsumsi lele, makanan kesukaan, makanan pantangan, frekuensi makan, frekuensi konsumsi lele.
Konsumsi pangan adalah berbagai jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari dengan menggunakanan metode food recall 2 x 24 jam.
Pengetahuan gizi adalah kemampuan contoh dalam menjawab hal-hal yang berhubungan dengan gizi, meliputi fungsi zat gizi, pangan sumber zat gizi tertentu, fungsi protein, manfaat lele, yang diukur dengan menilai skor jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan.
Sikap terhadap lele adalah kecenderungan ibu dalam memilih, mengkonsumsi, menerima atau menolak ikan lele dalam rumah tangga yang diketahui dengan pernyataan setuju atau tidak setuju.
Konsumsi lele adalah jenis, frekuensi konsumsi, alasan konsumsi lele selama sebulan terakhir.
Status gizi anak adalah keadaan gizi contoh yang diperhitungkan dengan z-score dan di klasifikasikan menurut WHO 2007.