• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

PRAKTEK IBU TERHADAP PEMBERIAN LELE

Kami mohon bantuan ibu untuk menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Untuk menjawab pertanyaan ini dilakukan dengan melingkari jawaban yang ibu anggap benar

No Pertanyaan Skor

1.

Berapa kali ibu dan keluarga ibu makan dalam sehari a. 3 kali sehari

b. 2 – 3 kali sehari c. 1 – 2 kali sehari

2.

Apakah ibu selalu menyediakan sayur dalam setiap waktu makan?

a. Ya

b. Kadang-kadang c. Tidak pernah

3.

Apakah ibu selalu menyediakan lauk hewani dalam setiap waktu makan?

a. Ya

b. Kadang-kadang c. Tidak pernah

4.

Apakah ibu menyukai daging ikan lele? a. Iya

b. Tidak Alasan:

No Pertanyaan Skor waktu makan?

a. Selalu (hampir setiap waktu makan) b. Kadang-kadang

c. Tidak pernah

6.

Berapa kali dalam seminggu ibu dan keluarga ibu mengkonsumsi ikan lele?

a. Hampir setiap hari b. 3 – 4 kali seminggu c. < 2 kali seminggu

7.

Siapa saja yang mengkonsumsi lele dalam keluarga ibu? a. Semua anggota keluarga

b. Ibu dan ayah saja c. Anak saja

8.

Selain ikan lele, jenis sumper protein apa lagi yang biasa ibu sediakan?

a. Telur ayam b. Tempe, tahu c. Lainnya, sebutkan

9.

Apakah anak ibu biasa mengkonsumsi susu? a. Ya

b. Tidak Alasan :

10.

Selain digoreng biasanya ibu mengolah daging lele menjadi panganan lain apa?

ABSTRACT

A NUR RAHMAH KURNIA SARI. Family income, Knowledge, Attitude, Consumption and Children Nutritional Status of Catfish (Clarias gariepinus) Farmer’s Family. Under direction of Clara M Kusharto

An adequate nutrition must be consumed by school-age children to fulfill the basic need of nutrients for their progressive growth. Food consumption is influenced by maternal nutrition knowledge and family income. The purpose of this study was to analyze correlation between family income, maternal nutrition knowledge, attitude, and catfish consumption with children nutritional status of farmers family in Parung, Bogor. This research was conducted in June 2012 used cross sectional study. A total number of 31 catfish farmers are purposively selected with inclusive criteria:(1) has fishpond either owned or profit-sharing system, (2) has a primary school children, (3) willing to be interviewed. Primary data consists of family and children characteristics, nutritional knowledge, attitude, catfish consumption and dietary intake. Secondary data is characteristics of a research site. The study showed that there was no correlation between maternal nutritional knowledge, family income and children nutritional status with food consumption, there was no correlation between family income, and children nutritional status with catfish consumption, there was correlation between maternal nutrition knowledge with catfish consumption (p<0.05), and there was no correlation exist between maternal nutrition knowledge and family income with children nutritional status.

RINGKASAN

A NUR RAHMAH KURNIA SARI. Pendapatan Keluarga, Pengetahuan, Sikap, Konsumsi serta Status Gizi Anak Keluarga Peternak Ikan Lele (Clarias gariepinus). Dibimbingan oleh CLARA M KUSHARTO

Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat yang memegang peranan strategis dalam pembangunan kualitas sumberdaya manusia harus mampu menyediakan makanan yang cukup dan berkualitas untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarganya terutama anak-anak. Pemenuhan gizi sangat penting terutama bagi anak dalam usia pertumbuhan. Dalam tingkat keluarga pemenuhan gizi keluarga sangat dipengaruhi oleh pengetahuan gizi ibu dan pendapatan rumah tangga tersebut.

Zat gizi yang tergolong kurang dikonsumsi anak-anak Indonesia adalah protein hewani, yang mengandung asam-asam amino lebih lengkap daripada protein nabati. Protein dibutuhkan tubuh dalam pembentukan tulang. Ikan merupakan sumber protein hewani yang beresiko lebih kecil bagi kesehatan manusia karena memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang berperan dalam melindungi jantung. Lele merupakan salah satu komoditas air tawar unggulan berkat kandungan protein dan lemak tak jenuhnya yang tinggi sehingga dapat mendukung proses metabolisme tubuh (Viali 2012). Harganya yang relatif terjangkau membuat ikan ini layak menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani guna meningkatkan gizi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat pendapatan keluarga, pendidikan, sikap, dan konsumsi pangan terutama ikan lele dan status gizi anak keluarga peternak lele. Tujuan khusus penelitian ini adalah 1) Mengidentifikasi karakteristik responden, 2) Mengidentifikasi tingkat pendapatan responden, 3) Menganalisis pengetahuan dan sikap gizi ibu terutama pengetahuan mengenai manfaat lele, 4) Menganalisis kebiasaan konsumsi lele, 5) Mengidentifikasi hubungan antara pendapatan, pengetahuan gizi ibu dengan konsumsi lele serta konsumsi pangan, dan 6) Mengidentifikasi hubungan antara pendapatan, pengetahuan gizi ibu dengan status gizi anak.

Penelitian dilakukan secara cross sectional study, di Desa Cogrek Kecamatan Parung Kabupaten Bogor. Responden dipilih secara acak terhadap peternak lele dengan kriteria inklusi; sedang membudidayakan ikan lele baik milik sendiri maupun dengan sistem bagi hasil, memiliki 1 orang anak usia sekolah serta bersedia menjadi sampel penelitian. Berdasarkan kriteria tersebut, maka diperoleh sampel sebanyak 31 responden.

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer terdiri dari karakteristik keluarga, karakteristik contoh, pengetahuan gizi, sikap, praktek konsumsi lele, dan asupan gizi contoh. Data sekunder yaitu karakteristik lokasi penelitian. Pengolahan data dan analisis dilakukan dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 16.0 for Windows, dan Microsoft Excel. Hubungan antara beberapa variabel diuji menggunakan uji korelasi spearman ataupun uji pearson.

Responden adalah 31 keluarga peternak lele yang sedang melakukan budidaya baik merupakan usaha sendiri maupun dengan sistem bagi hasil dan memiliki anak berusia sekolah dasar. Usia responden dikelompokkan kedalam usia dewasa awal atau pada rentang usia 20-40 tahun. Sebagian besar ayah contoh (38,7%) bekerja sebagai buruh non tani, sebanyak 16,1% bekerja sebagai peternak lele yang memiliki lahan dan modal sendiri. Sebagian besar pekerjaan ibu contoh adalah sebagai ibu rumah tangga. Berdasarkan garis kemiskinan

Provinsi Jawa Barat, sebanyak 71% responden berada di atas garis kemiskinan dengan pendapatan perkapita antara Rp 112.500 – Rp 6.316.667 per bulan dan rata-rata pendapatan perkapita adalah Rp 924.097 ± 1.294.424 per bulan. Sebanyak 35,5% dari usaha ternak lele responden merupakan milik sendiri, sedangkan 64,5% merupakan usaha bagi hasil.

Bagi hasil merupakan salah satu cara budidaya yang banyak dilakukan di daerah tersebut dimana responden menyediakan tempat untuk membudidayakan lele dan merawat ikan budidaya sejak benih hingga siap panen. Sedangkan yang menyediakan benih, pakan, dan segala keperluan budidaya lainnya adalah pemilik modal.

Lele yang dibudidayakan dipanen setiap dua bulan sekali. Hasil panen kemudian dijual ke pedagang pengumpul ataupun pedagang eceran yang ditentukan oleh pemilik modal. Hasil penjualan lele yang diperoleh nantinya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan antara pemilik modal dengan responden berdasarkan hasil penjualan lele yang diternakkan. Dalam penelitian ini, pendapatan yang diperoleh responden dari beternak lele berkisar antara Rp 200.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 untuk dua bulan.

Contoh dalam penelitian ini adalah anak peternak lele dimana sebagian besar contoh berusia 9 tahun dengan rata-rata usia contoh adalah 9,16 ± 1,63 tahun. Sebanyak 54,8% contoh yang berjenis kelamin laki-laki dan 45,2% contoh yang berjenis kelamin perempuan. Sebagian besar contoh berstatus gizi normal

Sebanyak 58,1% responden memiliki tingkat pengetahuan gizi yang tergolong rendah (< 60%). Rata-rata pengetahuan gizi responden adalah 54,68 ± 16,327. Hal ini kemungkinan disebabkan responden yang awam atau tidak pernah mendengat istilah gizi. Sebagian besar responden atau 83,9% memiliki sikap yang positif (>80%) dengan rata-rata sikap gizi responden adalah 88,06 ± 14,473. Sebagian besar responden mengkonsumsi lele < 2 kali per minggu yaitu sebanyak 51,6% dengan rata-rata frekuensi konsumsi lele keluarga peternak adalah 2,39 ± 0,667 kali per mingggu. Tingkat kecukupan energi dan protein sebagian besar contoh berada dalam kategori defisit tingkat berat (<70% AKG). Tingkat kecukupan zat besi, kalsium, fosfor, vitamin A dan vitamin C juga tergolong kurang (<77% AKG).

Uji korelasi pearson menunjukkan tidak terdapat hubungan yang nyata antara konsumsi pangan dengan pengetahuan gizi, pendapatan keluarga, dan status gizi (p>0,05). Tidak terdapat hubungan yang nyata antara pengetahuan gizi dengan status gizi (p>0,05). Tidak terdapat hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi (p>0,05). Uji korelasi spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan antara pendapatan keluarga, konsumsi pangan dan status gizi dengan jumlah konsumsi lele (p>0,05), dan terdapat hubungan yang nyata antara pengetahuan gizi ibu dengan konsumsi lele contoh (r= 0,377 p<0,05).

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan nasional adalah upaya untuk meningkatkan seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang sekaligus merupakan proses pengembangan keseluruhan sistem penyelenggaraan negara untuk mewujudkan tujuan nasional. Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, dibutuhkan pangan yang cukup dan berkualitas sejak masa kanak-kanak karena generasi ini merupakan faktor kunci keberhasilan pembangunan. Pemenuhan pangan berkualitas ini dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga.

Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat yang memegang peranan strategis dalam pembangunan kualitas sumberdaya manusia, harus mampu menyediakan makanan yang cukup dan berkualitas untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarganya terutama anak-anak (Arisman 2007). Di tingkat keluarga pemenuhan gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pengetahuan gizi ibu dan pendapatan rumah tangga.

Pendapatan yang rendah pada umumnya mendorong seseorang untuk menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Semakin tinggi pendapatan seseorang maka persentase pengeluaran untuk memenuhi kebutahan pangannya akan semakin kecil. Pengetahuan gizi berpengaruh terhadap pengambilan sikap dan perilaku pemilihan makanan. Rendahnya pengetahuan tentang makan yang bergizi dapat menyebabkan anak memilih makan yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Pendidikan gizi yang diberikan dapat meningkatkan pengetahuan gizi subyek secara signifikan. Penelitian yang dilakukan pada 60 orang remaja di India menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan gizi dapat menyebabkan peningkatan konsumsi energi, dan zat gizi lainnya (Kaur et al. 2007). Pengetahuan seseorang akan mempengaruhi konsumsi makanan. Kurangnya pengetahuan dan salahnya konsep tentang kebutuhan pangan akan mempengaruhi konsumsi pangan (Larasati & Ratnaningsih 2006).

Anak usia sekolah merupakan investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Kualitas suatu bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Tumbuh kembang

anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik juga benar.

Secara nasional prevalensi kekurusan pada anak umur 6-12 tahun adalah 12,2% yang terdiri dari 4,6% sangat kurus dan 7,6% kurus. Prevalensi kekurusan pada anak laki laki lebih tinggi (13,2%) daripada anak perempuan (11,2%). Menurut tempat tinggal, prevalensi kekurusan anak di perkotaan sedikit lebih rendah dari anak di perdesaan yaitu berturut-turut sebesar 11,9% dan 12,5%. Prevalensi kekurusan berhubungan terbalik dengan pendidikan kepala rumah tangga yaitu semakin tinggi pendidikan kepala rumah tangga semakin rendah prevalensi kekurusan. Prevalensi kekurusan paling rendah pada rumah tangga yang kepala rumah tangganya yang berpendidikan tamat D1 ke atas yaitu 8,9%. Sedangkan menurut jenis pekerjaan kepala rumah tangga terlihat paling tinggi pada jenis pekerjaan berpenghasilan tidak tetap (petani/nelayan/buruh) yaitu sebesar 12,8%. Prevalensi kekurusan juga berhubungan terbalik dengan keadaan ekonomi rumah tangga, semakin baik keadaan ekonomi rumah tangga semakin rendah prevalensi kekurusannya. Pada keadaan ekonomi rumah tangga terendah terlihat prevalensi kekurusan tertinggi yaitu 13,2% dan pada keadaan ekonomi rumah tangga yang tertinggi prevalensinya 9,2% (Riskesdas 2010).

Zat gizi yang tergolong kurang dikonsumsi anak-anak Indonesia adalah protein hewani, yang mengandung asam-asam amino lebih lengkap daripada protein nabati. Protein dibutuhkan tubuh dalam pembentukan tulang. Masa anak-anak adalah masa dimana pembentukan tulang terjadi lebih lambat dibandingkan pada usia lainnya namun penting untuk memenuhi zat gizi yang cukup untuk mencapai puncak pertumbuhan massa tulang (peak bone mass) terutama protein dan mineral.

Ikan merupakan penyedia kebutuhan protein yang cukup tinggi dimana protein ikan memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan mudah dicerna. Protein ikan mengandung lisin dan metionin yang lebih tinggi dibanding protein susu dan daging (Astawan 2011). Ikan merupakan sumber protein hewani yang merupakan sumber yodium, vitamin D, protein dan asam lemak terutama PUFA yang berperan dalam mencegah terjadinya penyakit jantung (CVD). PUFA dapat membantu menurunkan angka kematian akibat CVD (Bemrah et al 2008).

Konsumsi ikan dan pangan hasil laut lainnya dianjurkan karena memiliki manfaat dalam mencegah terjadinya penyakit degeneratif kronis. Konsumsi ikan dapat mencegah beberapa jenis kanker dan penyakit kardiovaskular. Konsumsi

ikan dan minyak ikan dapat menurunkan resiko penyakit jantung koroner, kematian dan kematian mendadak.

Saat ini tingkat konsumsi ikan pada masyarakat Indonesia lebih rendah dibandingkan Malaysia dan Singapura. Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan sepanjang 2011 konsumsi ikan Indonesia hanya sebanyak 31,5 kilogram per kapita, jauh di bawah Malaysia dan Singapura yang mencapai 55,4 kilogram dan 37,5 kilogram per kapita. Sedangkan standar organisasi pangan dunia yaitu standar Food Agricutural Organization (FAO) sebesar 26 – 30 kg/kap/th (FAO 2012).

Lele merupakan salah satu komoditas air tawar unggulan berkat kandungan protein dan lemak tak jenuhnya yang tinggi sehingga dapat mendukung proses metabolisme tubuh. Daging lele juga baik untuk merangsang perkembangan otak dan tulang pada anak. Faktor lain yang menjadi kelebihan dari ikan ini adalah harganya yang relatif terjangkau sehingga layak menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani guna meningkatkan gizi masyarakat (Viali 2012).

Kementrian Kelautan dan Perikanan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.32/MEN/2010 tentang penetapan kawasan minapolitan menetapkan lima lokasi pengembangan minapolitan lele yang akan dipacu memproduksi hingga 30 ton per hari. Sentra-sentra besar tersebut akan berada di daerah Bogor, Boyolali, Pacitan, Gunung Kidul, dan Blitar (Kementrian Kelautan dan Perikanan 2010). Terdapat tiga kecamatan yang merupakan sentra produksi lele terutama jenis lele dumbo di Kabupaten Bogor yaitu Kecamatan Parung, Ciseeng dan Gunung Sindur. Dinas perikanan Kabupaten Bogor mencatat pada tahun 2010 kecamatan-kecamatan tersebut memproduksi masing-masing 7000 ton, 6000 ton dan 10.000 ton. Kontribusi produksi ketiga kecamatan tersebut mencapai lebih dari 90% total produksi Kabupaten Bogor (Viali 2012).

Tujuan Penelitian Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat pendapatan keluarga, pengetahuan, sikap, konsumsi pangan terutama ikan lele dan status gizi anak keluarga peternak lele.

Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi karakteristik responden

2. Mengidentifikasi tingkat pendapatan responden

3. Menganalisis pengetahuan, dan sikap responden terutama pengetahuan mengenai manfaat lele

4. Menganalisis kebiasaan konsumsi lele contoh

5. Mengidentifikasi hubungan antara pendapatan, pengetahuan gizi responden dengan konsumsi lele serta konsumsi pangan contoh

6. Mengidentifikasi hubungan antara pendapatan, pengetahuan gizi responden, konsumsi lele contoh dan konsumsi pangan contoh dengan status gizi contoh

Hipotesis

 Terdapat hubungan antara pendapatan keluarga, pengetahuan, dan sikap dengan konsumsi lele

 Terdapat hubungan antara pendapatan keluarga, pengetahuan gizi ibu, konsumsi lele contoh dan konsumsi pangan contoh dengan status gizi contoh

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kontribusi pendapatan keluarga, pengetahuan, sikap dan konsumsi pangan terhadap status gizi anak. Selain itu penelitian ini dapat berguna juga bagi pemerintah atau instansi yang terkait agar dapat memberikan pendidikan gizi mengenai konsumsi makanan yang seimbang kepada keluarga terutama ibu agar dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anaknya.

Dokumen terkait