• Tidak ada hasil yang ditemukan

Objek penelitian ini adalah perusahaan BUMN di Indonesia yang ada di BEI (Bursa Efek Indonesia), periode pengamatan dilakukan dari tahun 2012-2014 sampel diambil berdasarkan metode purposive sampling, dengan kriteria:

1. Perusahaan BUMN yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2012-2014;

2. Perusahaan yang mempublikasikan laporan tahunannya pada tahun 2012-2014;

3. Perusahaan yang memiliki data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diambil dari laporan tahunan perusahaan dari tahun 2012-2014. Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh dari situs www.idx.co.id.

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah nilai perusahaan yang diukur dengan menggunakan rasio Tobin’s Q dan ROE, rasio Tobin’s Q mengacu pada penelitian Chong dan López-de-Silanes dalam Kusumastuti et al. (2007). Pengukuran menggunakan rumus sebagai berikut:

TOBIN = (MVE + DEBT)/TA MVE = P x Qshares

DEBT = (CL – CA) + INV + LTL Dimana :

MVE : Nilai pasar dari jumlah lembar saham beredar DEBT : Nilai total kewajiban perusahaan

TA : Nilai buku dari total aktiva perusahaan P : Harga saham penutupan akhir tahun

11 Qshares : Jumlah saham beredar akhir tahun CL : Kewajiban jangka pendek

CA : Aktiva lancar

INV : Nilai buku persediaan LTL : Kewajiban jangka panjang

Rasio ROE mengacu pada penelitian Mardiyati et al. (2012), dimana rasio ROE adalah rasio laba bersih terhadap ekuitas saham biasa, yang mengukur tingkat pengembalian atas investasi dari pemegang saham. Rumus ROE dapat dihitung sebagai berikut:

ROE =

Variabel independen dalam penelitian ini adalah board diversity. Dalam penelitian ini yang termasuk board diversity meliputi jenis kelamin, outside directors, latar belakang pendidikan berbasis ekonomi dan bisnis, usia anggota dewan, latar belakang politik, jumlah rapat anggota dewan. Untuk pengukuran masing-masing variabel independen:

1. Jenis kelamin (SEX) yang diukur dengan proporsi pria dalam anggota dewan, yaitu jumlah pria dalam anggota dewan dibagi total anggota dewan.

2. outside directors (OUTSIDER) diukur dengan proporsi outside directors dalam anggota dewan.

3. Latar belakang pendidikan berbasis ekonomi dan bisnis (BSTUDY) dilihat menggunakan proporsi, yaitu jumlah anggota dewan yang berlatar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis dibagi total anggota dewan.

4. Usia anggota dewan (AGE) diukur dengan proporsi anggota dewan yang berumur lebih dari 50 tahun dibagi total anggota dewan.

5. Latar belakang politik (BPOLITIC) diukur dengan proporsi anggota dewan yang berlatar belakang politik dibagi dengan total anggota dewan.

6. Jumlah rapat anggota dewan (MEETING) diukur dengan melihat jumlah rapat gabungan antara anggota dewan direksi dengan dewan komisaris yang dilakukan dalam satu tahun.

Laba bersih Modal saham

12

Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian Carter et al. (2003), yaitu: Ukuran dewan (Board Size/BSIZE), yang diukur dengan jumlah anggota dewan yang ada dalam perusahaan dan ukuran perusahaan (Firm Size/FSIZE) yang diukur dengan logaritma natural dari total asset yang dimiliki perusahaan.

Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi berganda dengan formula sebagai berikut:

Y = a + b1SEX + b2OUTSIDER + b3BSTUDY + b4AGE + b5BPOLITIC + b6MEETING + b7BSIZE + b8FSIZE + e Dimana:

Y : nilai perusahaan / Tobin’s Q/ ROE

SEX : Jenis kelamin yang diukur dengan proporsi pria dalam anggota dewan

OUTSIDER : Proporsi outside directors dalam perusahaan

BSTUDY : Background study / latar belakang pendidikan anggota dewan AGE : Proporsi umur anggota dewan yang berusia > 50 tahun BPOLITIC : Proporsi Background politic / latar belakang politik anggota

dewan

MEETING : Jumlah rapat gabungan anggota dewan dalam satu tahun BSIZE : Board size / ukuran dewan

FSIZE : Firm size / ukuran perusahaan

a : Konstanta

bi : Koefisien regresi

e : Error

Menurut Ghozali (2005) uji statistik t digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh setiap variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Dengan menggunakan tingkat signifikansi 5% maka hipotesis statistik sebagai berikut :

H0 : bi ≤ 0 dan Ha : bi > 0

13 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penentuan Sampel Penelitian

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan BUMN yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2012-2014. Dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1. Sampel penelitian

Perusahaan BUMN yang bergerak pada bidang keuangan atau perbankan

Perusahaan BUMN yang tidak

mempublikasikan laporan tahunannya pada tahun 2012-2014

Perusahaan yang tidak memiliki kelengkapan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian

81

(18)

(18)

0

Jumlah sampel yang dipakai 45

Perusahaan BUMN industri keuangan dikeluarkan dari sampel karena karakteristik yang dimiliki unik dan merupakan heavily-regulated company. Perusahaan yang tidak mempublikasikan laporan tahunannya pada tahun 2012-2014 juga tidak diikutsertakan sebagai sampel penelitian. Berdasarkan hal tersebut, jumlah perusahaan yang dijadikan sampel penelitian adalah sebanyak 45 perusahaan.

Statistik Deskriptif

Berikut ini hasil pengolahan uji statistic deskriptif untuk variabel-variabel penelitian.

Dapat dilihat pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Statistik Deskriptif Data Penelitian

Variabel Min. Max. Mean. Std. Dev

14 Sumber : Data diolah (2015)

Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat dilihat untuk variabel jenis kelamin (SEX) memiliki rata-rata senilai 0,9584 atau 95,84% yang berarti hampir seluruh anggota dewan berjenis kelamin laki-laki, dimana terdapat 6 perusahaan yang memiliki anggota dewan berjenis kelamin wanita dan 9 perusahaan lainnya seluruh anggota dewannya berjenis kelamin laki-laki.

Untuk variabel outside directors (OUTSIDER) memiliki nilai rata-rata 0,1816 atau 18,16% yang berarti hanya seperempat dari perusahaan sampel yang outside directorsnya di atas rata-rata dan sisanya perusahaan yang outside directorsnya di bawah rata-rata. Menurut Surya dan Yustivanda dalam Kusumastuti et al. (2007) berdasarkan rekomendasi Code for Good Corporate Governance menunjukan bahwa paling sedikit 20% dari anggota dewan maupun komisaris adalah anggota independen. Pada perusahaan BUMN salah satu perusahaan yang memiliki outside directors 20% adalah PT.Telkom (TLKM), hal ini dikarenakan meskipun PT.Telkom merupakan perusahaan BUMN di Indonesia, namun PT.Telkom memiliki listing di Amerika, sehingga pengawasannya ketat, maka wajar jika proporsi outside directors PT.Telkom tinggi. Hal ini berarti rata-rata outside directors pada sampel perusahaan BUMN masih rendah karena di bawah 20%.

15

Dilihat dari latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis (BSTUDY), terdapat rata-rata senilai 48,89% yang berarti hampir setengah dari anggota dewan memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis. Nilai rata-rata tersebut menunjukan bahwa latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis menjadi hal yang cukup penting dalam perusahaan. Untuk variabel usia anggota dewan (AGE) memiliki rata-rata sebesar 75,61% yang berarti sebagian besar anggota dewan berusia lebih dari 50 tahun. Terdapat dua perusahaan BUMN yang seluruh anggota dewan nya berusia di atas 50 tahun yaitu PT. Adhi Karya (ADHI) di tahun 2012 dan PT.

Wijaya Karya (WIKA) di tahun 2013.

Dilihat dari variabel latar belakang politik (BPOLITIC), memiliki nilai rata-rata 28,77%

dari keseluruhan perusahaan sampel, yang berarti hampir sepertiga anggota dewan memiliki latar belakang politik. Dari keseluruhan perusahaan sampel, terdapat dua perusahaan BUMN yang memiliki proporsi 50% atau sebagian dari anggota dewannya berlatar belakang politik, yaitu PT.

Aneka Tambang (ANTM) di tahun 2014 dan PT. Waskita Karya (WSKT) di tahun 2014.

Untuk variabel jumlah rapat anggota dewan (MEETING) memiliki rata-rata senilai 12,82 atau 13 kali rapat dalam 1 periode. Jumlah rapat terbanyak yaitu 23 kali rapat yang dilakukan oleh PT. Perusahaan Gas Negara (PGAS) di tahun 2014 dan rapat tersedikit 4 kali dilakukan oleh PT. Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) di tahun 2014.

Dilihat dari standard deviasi pada tabel 2, standard deviasi yang dimiliki antar variabel di perusahaan BUMN tidak berbeda jauh, yang berarti board diversity yang ada di perusahaan BUMN tidak terlalu berbeda antara perusahaan yang satu dengan lainnya, atau board diversity yang ada di perusahaan BUMN kurang beragam, hal ini bisa jadi disebabkan karena tata kelola atau corporate governance di BUMN sudah diatur oleh pemerintah, sehingga antar perusahaan susunannya tidak berbeda jauh.

Untuk ukuran dewan (BSIZE) rata-rata perusahaan sampel memiliki anggota dewam sebanyak 11-12 orang. PT. Telkom (TLKM) memiliki jumlah anggota dewan terbanyak pada tahun 2014 diantara perusahaan BUMN yang lain, yaitu sebanyak 15 orang. Pada variabel ukuran perusahaan (FSIZE) rata-rata yang dimiliki perusahaan sampel tidak jauh berbeda, hal ini dapat dilihat dari standar deviasi yang dimiliki sebesar 0,53.

Untuk ROE memiliki rata-rata senilai 19,62% yang berarti rata-rata kemampuan perusahaan BUMN dalam periode penelitian ini untuk menghasilkan laba dengan modal sendiri

16

sebanyak 19,62% . Sebagian besar perusahaan BUMN memiliki kemampuan yang baik dalam memperoleh laba atas modal sendiri. Perusahaan BUMN yang memiliki ROE tertinggi senilai 48,76% adalah PT. Perusahaan Gas Negara (PGAS) di tahun 2012.

Untuk Tobin’s Q memiliki rata-rata yang bernilai 1,3942 yang berarti rata-rata perusahaan BUMN memiliki nilai pasar yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku perusahaan. Dari seluruh perusahaan sampel 53% perusahaan yang memiliki nilai Tobin’s Q di bawah nilai rata-rata. Menurut Kusumastuti et al. (2007) hal ini memungkinkan pasar akan menilai perusahaan terlalu rendah (undervalued), atau dengan kata lain adanya penilaian undervalued terhadap perusahaan karena biaya pergantian aktiva perusahaan lebih tinggi daripada harga sahamnya, sehingga implikasinya harga saham perusahaan menjadi undervalued.

Hasil Uji Pearson Correlation

Berikut merupakan hasil uji pearson correlation untuk melihat hubungan antar variabel.

Tabel 3. Uji Pearson Correlation

SEX OUTSIDER B

17

Sumber : Data diolah (2015)

Berdasarkan tabel 3 di atas, diketemukan bahwa ternyata hanya variabel jenis kelamin dengan nilai perusahaan yang diukur dengan rasio ROE, sedangkan variabel lainnya tidak ada yang berhubungan dengan variabel nilai perusahaan. Dapat dilihat juga terdapat hubungan antara variabel independen satu dengan yang lain, seperti jenis kelamin dengan outside directors, jenis kelamin dengan ukuran perusahaan, jenis kelamin dengan ukuran dewan, outside directors dengan ukuran dewan, outside directors dengan ukuran perusahaan dan jumlah rapat anggota dewan dengan ukuran perusahaan.

Uji Asumsi Klasik

Untuk memperoleh model regresi yang baik, data harus lolos uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas, heterokedastisitas, dan autokorelasi (Ghozali, 2005).

Hasil uji normalitas dengan Kolmogorov smirnov Test menunjukan bahwa asumsi normalitas terpenuhi, dimana signifikansi yang di peroleh lebih dari α (α = 0,05). Hasil uji multikolinearitas menunjukan data bebas dari gejala multikolinearitas, dimana semua variabel independen yang dipakai memiliki nilai tolerance > 0,10 atau VIF < 10. Hasil uji heterokedastisitas dengan uji

18

scatterplot menunjukan grafik tidak membentuk pola, sehingga data lolos dari uji heterokedastisitas. Demikian juga dengan uji autokorelasi, dengan menggunakan uji Durbin Watson menunjukan data masih dalam range aman sehingga tidak ada masalah autokorelasi.

Output uji asumsi klasik ini dapat dilihat dalam lampiran. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan dalam penelitian ini lolos uji asumsi klasik.

Uji Hipotesis

Tabel 4. Hasil Pengujian Hipotesis Untuk Variabel Dependen ROE Variabel Sumber : Data diolah (2015)

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan variabel independen untuk menjelaskan variabel dependen sebesar 10,8% (adjusted R2). Terlihat bahwa tingkat signifikansi uji F lebih dari 5% sehingga secara keseluruhan atau bersama-sama variabel jenis kelamin, outside directors, latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis, usia anggota dewan, latar belakang politik, jumlah rapat anggota dewan, ukuran dewan dan ukuran perusahaan tidak

19

berpengaruh pada nilai perusahaan yang diukur dengan rasio ROE. Dari uji t dapat diketahui pula secara parsial hanya variabel jenis kelamin yang berpengaruh positif signifikan pada nilai perusahaan yang diukur dengan rasio ROE, sedangkan variabel independen lainnya seperti outside directors, latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis, usia anggota dewan, latar belakang politik, jumlah rapat anggota dewan, ukuran dewan dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh pada nilai perusahaan yang diukur dengan rasio ROE.

Tabel 5. Hasil Pengujian Hipotesis Untuk Variabel Tobin’s Q Variabel Sumber : Data diolah (2015)

Dari tabel 5 dapat dijelaskan bahwa kemampuan variabel independen untuk menjelaskan variabel dependen sebesar 7,9% (adjusted R2). Terlihat bahwa tingkat signifikansi uji F lebih dari 5% sehingga secara keseluruhan atau bersama-sama variabel jenis kelamin, outside directors, latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis, usia anggota dewan, latar belakang politik, jumlah rapat anggota dewan, ukuran dewan dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh pada nilai

20

perusahaan yang diukur dengan rasio Tobin’s Q. Dari uji t dapat dilihat bahwa secara parsial seluruh variabel independen yaitu jenis kelamin, outside directors, latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis, usia anggota dewan, latar belakang politik, jumlah rapat anggota dewan, ukuran dewan dan ukuran perusahaan tidak dapat mempengaruhi nilai perusahaan yang diukur menggunakan rasio Tobin’s Q.

Berdasarkan tabel 4 dan 5 ditemukan bahwa hanya board diversity yang dilihat dari jenis kelamin yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan ROE, sedangkan variabel lainnya tidak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa board diversity tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan di perusahaan BUMN, sehingga hipotesis 1 sampai 6 ditolak.

Pembahasan

Berdasarkan tabel 4 secara parsial ditemukan variabel jenis kelamin (SEX) terbukti memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan rasio ROE secara statistik, dengan demikian H1 diterima, yang berarti semakin banyak anggota dewan berjenis kelamin pria, semakin tinggi nilai perusahaan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Atahau dan Supatmi (2011) direksi pria lebih tertarik pada hal-hal yang memiliki resiko tinggi seperti saham dan sebagainya, walaupun resiko yang dimiliki tinggi namun return yang didapat juga tinggi (high risk high return), dengan tingginya return yang didapat akan mempengaruhi laba yang didapat. Semakin tinggi laba perusahaan BUMN maka nilai perusahaan BUMN akan semakin tinggi pula. Adaya pengaruh positif antara variabel jenis kelamin dengan nilai perusahaan ini membuktikan bahwa dengan banyaknya dewan yang berjenis kelamin pria maka perusahaan ini semakin efektif dan efisien dalam mencapai laba yang besar sehingga nilai ROE akan bagus, hal ini bisa jadi karena direksi pria lebih cepat dalam mengambil keputusan. Hasil penelitian ini berlawanan dengan penelitian Carter et al. (2003) yang menyebutkan bahwa perusahaan dengan anggota dewan yang berjenis kelamin wanita banyak (dua orang atau lebih) memiliki nilai perusahaan yang lebih tinggi daripada perusahaan yang anggota dewan wanitanya rendah.

21

Sementara itu jika jenis kelamin dikaitkan dengan nilai perusahaan yang diukur dengan Tobin’s Q diperoleh hasil tidak berpengaruh signifikan. Hal ini bisa terjadi karena investor tidak melihat dari jenis kelamin anggota dewan, hal itu dikarenakan BUMN merupakan perusahaan yang modalnya 50% dimiliki negara (Wahyuni, 2009), sehingga investor berpikir perusahaan BUMN adalah tanggung jawab pemerintah, karena sesuai kepemilikannya, pemerintah mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk memantau kinerja BUMN (Astrini et al., 2015), hal ini menyebabkan harga pasar sahamnya tidak berubah banyak tiap tahunnya, sehingga investor tidak mengkhawatirkan tentang nilai perusahaan.

Variabel outside directors (OUTSIDER) secara statistik ditemukan tidak memiliki pengaruh pada nilai perusahaan yang diukur dengan rasio ROE dan Tobin’s Q, dengan demikian H2 yang berbunyi semakin banyak proporsi outside directors dalam anggota dewan, semakin tinggi nilai persahaan, ditolak. Seperti yang dikatakan Kusumastuti et al. (2007) Hal menarik juga dapat dilihat berkaitan dengan independensi, yaitu bahwa terdapat fenomena di Indonesia yang memberikan jabatan komisaris kepada seseorang bukan berdasarkan kompetensi dan profesionalisme namun sebagai penghormatan atau penghargaan. Sebagian besar anggota outside directors pada perusahaan BUMN memiliki latar belakang politik, sama halnya dengan variabel outside directors (OUTSIDER), variabel latar belakang politik (BPOLITIC) dalam penelitian ini ditemukan juga tidak memiliki pengaruh pada nilai perusahaan yang diukur secara statistik dengan rasio ROE dan Tobin’s Q, dengan demikian H5 yang berbunyi semakin banyak anggota dewan yang berlatar belakang politik, semakin tinggi nilai perusahaan, ditolak. Menurut Winarna dan Murni (2007) pengetahuan anggota dewan akan memberikan kontribusi lebih baik bagi nilai perusahaan apabila didukung pendidikan dan pengalaman yang memadai di bidang tugasnya, sehingga yang dibutuhkan bukan hanya pengalaman namun juga pendidikan dalam bidang yang dijalankan, keduanya harus seimbang supaya dapat memberi kontibusi yang baik bagi perusahaan BUMN. Adanya outside directors yang sebagian besar memiliki latar belakang politik dalam perusahaan BUMN tidak mempengaruhi nilai perusahaan karena di Indonesia posisi dewan komisaris kebanyakan diberikan pada anggota dewan yang loyalitasnya tinggi bukan berdasarkan kompetensi.

22

Variabel latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis (BSTUDY) ditemukan juga tidak memiliki pengaruh pada nilai perusahaan yang diukur secara statistik dengan menggunakan rasio ROE dan Tobin’s Q, dengan demikian H3 yang berbunyi semakin banyak anggota dewan berlatar belakang pendidikan berbasis ekonomi dan bisnis, semakin tinggi nilai perusahaan, ditolak.

Perusahaan BUMN pada penelitian ini bukan pada perbankan sehingga latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis tidak terlalu dibutuhkan karena ada training dan seminar seminar yang bisa diikuti anggota dewan untuk mempelajari ekonomi dan bisnis, yang lebih dibutuhkan pada perusahaan BUMN adalah latar belakang pendidikan yang sesuai dengan jenis usaha perusahaan tersebut. Hal ini serupa dengan pendapat Kusumastuti et al. (2007) latar belakang pendidikan yang sesuai dengan jenis perusahaan lebih diperlukan, serta softskill juga diperlukan dalam menjalankan bisnis, sedangkan pendidikan yang diperoleh di bangku sekolah merupakan hardskill.

Variabel usia anggota dewan (AGE) secara statistik ditemukan tidak berpengaruh pada nilai perusahaan yang diukur dengan menggunakan rasio ROE, dengan demikian H4 yang berbunyi semakin banyak anggota dewan berusia di atas 50 tahun, maka semakin tinggi nilai perusahaan, ditolak. Variabel usia anggota dewan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Darmadi (2011) yang menganggap tahap kedewasaan seseorang dapat dilihat mulai dari usia 50 tahun ke atas, semakin tua seseorang biasanya akan semakin dewasa, namun seperti yang disebutkan dalam Palupi et al. (2015) semakin tua usia seseorang juga akan terjadi perubahan fisik dan mental yang dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan-kemampuan yang dimiliki.

Hal ini berarti baik anggota dewan yang muda maupun tua sama-sama tidak mempengaruhi nilai perusahaan BUMN, untuk anggota dewan yang berusia tua kemampuan yang dimiliki sudah menurun, sedangkan anggota dewan yang berusia muda belum memiliki kemampuan yang memadai karena kurangnya pengalaman. Hasil ini juga sejalan dengan hasil penelitian Kusumastuti et al. (2007) yang menyebutkan bahwa birokrasi dan senioritas di Indonesia masih sangat kental, sehingga pemilihan anggota dewan di Indonesia kurang mempertimbangkan integritas serta kompetensi.

Variabel jumlah rapat anggota dewan (MEETING) secara parsial ditemukan tidak memiliki pengaruh pada nilai perusahaan yang diukur secara statistik dengan rasio ROE dan

23

Tobin’s Q, dengan demikian H6 yang berbunyi semakin banyak jumlah rapat anggota dewan, semakin tinggi nilai perusahaan, ditolak. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Jao dan Pagalung (2011) yang menyebutkan bahwa banyaknya jumlah rapat akan menurunkan tindakan manajemen laba. Dalam penelitian ini banyaknya jumlah rapat yang dilakukan perusahaan BUMN tidak berpengaruh pada nilai perusahaan BUMN karena, banyaknya rapat yang dilakukan bisa juga berarti banyak juga masalah yang ada di dalam perusahaan BUMN, bisa jadi masalah yang dihadapi perusahaan BUMN bukan hanya masalah manajemen laba, sehingga diperlukan banyak rapat untuk memperbaiki masalah yang ada.

Hasil penelitian berdasarkan tabel 5 dengan variabel dependen Tobin’s Q, secara parsial variabel independen lainnya yaitu jenis kelamin, outside directors, latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis, usia anggota dewan, latar belakang politik, dan jumlah rapat anggota dewan yang diukur secara statistik dengan rasio Tobin’s Q ditemukan tidak memiliki pengaruh pada nilai perusahaan. Hal ini bisa jadi dikarenakan rasio Tobin’s Q adalah rasio yang digunakan untuk melihat nilai pasar perusahaan (Sudiyanti dan Elen, 2010), sedangkan perusahaan BUMN nilai pasarnya setiap tahun tidak berubah banyak, hal itu dikarenakan perusahaan BUMN merupakan perusahaan yang modalnya 50% adalah milik negara (Wahyuni, 2009), sehingga BUMN merupakan tanggung jawab pemerintah. Seperti yang diungkapkan Astrini et al. (2015) sesuai dengan kepemilikannya, pemerintah mempunyai kewajiban untuk memantau kinerja manajemen BUMN Indonesia, hal ini menyebabkan investor tidak terlalu mengkhawatirkan nilai perusahaan karena harga saham cenderung stabil.

Tidak terbuktinya board diversity terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan rasio ROE dan Tobin’s Q, bisa jadi dikarenakan pengaruh tidak langsung dari variabel board diversity pada nilai perusahaan, dimungkinkan board diversity lebih berpengaruh pada pengambilan keputusan, dan pengambilan keputusan yang akan mempengaruhi nilai perusahaan. Tidak berpengaruhnya variabel independen bisa jadi juga dikarenakan adanya keterkaitan antar variabel independen yang dapat dilihat pada tabel 3 tentang uji pearson correlation.

Dari tabel 4 dan 5 diketahui variabel kontrol, yaitu ukuran dewan (BSIZE) dan ukuran perusahaan (FSIZE) diketemukan tidak berpengaruh pada nilai perusahaan yang diukur baik

24

dengan menggunakan rasio Tobin’s Q maupun ROE, ditemukan secara statistik tidak berpengaruh pada nilai perusahaan. Hal ini sejalan dengan penelitian Ujiyantho dan Pramuka (2007) dan Wijaya (2012) yang berarti besar kecilnya ukuran dewan tidak menjadi penentu utama dalam kinerja perusahaan. Variabel ukuran perusahaan (FSIZE) juga ditemukan secara statistik tidak berpengaruh pada nilai perusahaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Kusumastuti et al.

(2007) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan belum memiliki arah pengaruh yang jelas pada nilai perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan BUMN merupakan perusahaan yang modalnya 50% adalah milik negara (Wahyuni, 2009) sehingga harga saham tiap tahunnya tidak berubah banyak, hal itu menyebabkan investor tidak mengkhawatirkan besar kecilnya ukuran perusahaan dan ukuran dewan yang ada di perusahaan BUMN.

Dokumen terkait