Jenis Penelitian
Penelitian yang akan digunakan penulis adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Salatiga dengan mengambil sampel yaitu mahasiswa UKSW. Alasan memilih mahasiswa UKSW dan terhadap pembelian produk fashion casual, karena agar sesuai dengan hasil survei pendahuluan yaitu dengan pengambilan sampel di UKSW.
Jenis Data, Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yaitu mahasiswa. Guna memperoleh data primer yang diperlukan, teknik yang digunakan adalah dengan pengisian kuesioner.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang pernah melakukan pembelian produk fashion casual melalui media sosial instagram. Teknik yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria yaitu sudah mempunyai akun instagram dan pernah melakukan pembelian dengan batasan waktu enam bulan terakhir. Diharapkan dengan teknik tersebut akan mempermudah dalam penelitian. Sampel atau responden dalam penelitian ini yaitu mahasiswa UKSW
Iklan di media sosial instagram (X1) Reference Group (X2) Keputusan Pembelian (Y)
11
Salatiga. Peneliti menetapkan jumlah minimal sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 150 orang (Malhotra, 2007).
Metode Analisis Data
Uji Validitas dan Reliabilitas
Sebuah kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan didalamnya dapat mengungkap sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2006). Uji validitas dapat dilakukan dengan SPSS (Statistical Product and Service
Solutions ). Uji validitas dapat diketahui dengan melihat korelasi antara skor
masing-masing item dalam kuesioner, dengan total skor yang ingin diukur yaitu menggunakan Coefficient Corelation Pearson dalam SPSS. Selanjutnya adalah uji reliabilitas yang merupakan alat untuk mengukur kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Jika alpha cronbach> 0.6 maka dikatakan reliable, dikatakan reliable jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten (Wisnubroto dan Freitas 2013). Koefisien reliability Alpha cronbach digunakan untuk menguji dengan menggunakan prosedur yang ada dalam program SPSS.
Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas, alat untuk menguji apakah model regresi mempunyai distribusi normal atau tidak (Edbert et al., 2014).
2. Uji Multikolinearitas, alat untuk menguji apakah dalam model regresi yang terbentuk ditemukan korelasi yang lebih tinggi atau sempurna diantara variabel bebas atau tidak (Edbert et al., (2014).
3. Uji Heteroskedastisitas, alat untuk menguji apakah terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain di dalam model regresi, jika varians dari residual l pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas (Edbert et al., 2014).
12
Uji Hipotesis
Hipotesis adalah penjelasan yang hanya bersifat sementara dan masih perlu dibuktikan melalui sebuah penelitian (Azwar, 2005).
Regresi Linier Berganda
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, untuk menjawab permasalahan penelitian digunakan analisis regresi berganda yang merupakan analisis hubungan antara variabel bebas (iklan di media sosial instagram) dan reference group kepada variabel terikat (keputusan pembelian).
Y = βı X ı + β2 X2+ e Keterangan :
Y = Keputusan pembelian βı, β2 = Koefisien regresi
Xı = Iklan di media sosial instagram X2 = Reference Group
e = Residual atau prediction Error
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Aras Ukur Konsep
Konsep pada penelitian kali ini adalah konsep variabel iklan di media sosial
instagram dan reference group yang akan berpengaruh pada keputusan pembelian
produk fashion casual. Guna memperoleh data pada konsep keputusan pembelian tersebut, maka diberikan definisi yang kemudian diturunkan kedalam beberapa indikator empirik melalui definisi operasional sebagai berikut:
13 Tabel 1. Definisi Konsep dan Operasional
Variabel Definisi Konseptual Definisi Operasional Sumber
Iklan media sosial
Iklan yang bertujuan untuk menarik perhatian atau dapat menjangkau konsumen melalui aplikasi atau situs web, yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran terhadap apa yang ditampilkan (Mubarok, 2014).
1. Konsumen memperhatikan kejelasan informasi yang disampaikan terkait produk yang dijual di media sosial 2. Konsumen memperhatikan gaya
bahasa yang disampaikan iklan di media sosial
3. Konsumen memperhatikan informasi tentang promosi produk yang di jual di media sosial
4. Konsumen memperhatikan tampilan konten iklan di media sosial
5. Konsumen memperhatikan komposisi warna iklan di media sosial (Lesmana 2012) dengan penyesuaian (Putra, 2014) dengan penyesuaian (Putra, 2014) dengan penyesuaian (Escalas dan Rutgers dalam Suherman 2011 dengan penyesuaian) Reference Group
Seorang atau kelompok orang yang di anggap sebagai dasar
1. Ada pengaruh dari teman sebaya (kelompok informal).
Sumawarman dalam Suherman (2011)
perbandingan (atau rujukan) bagi seseorang dalam membentuk nilai-nilai dan sikap umum atau khusus atau pedoman khusus bagi perilaku (Schiffman dan Kanuk 2007).
2. Teman sebaya dapat mempengaruhi sikap pembelian melalui media sosial
3. Pengetahuan dari teman sebaya diperlukan terkait produk yang dijual di media sosial.
4. Pengalaman dari teman sebaya diperlukan terkait produk yang akan dibeli di media sosial.
Rorlen dalam Marghaniyata (2012) dengan penyesuaian Keputusan Pembelian
Tindakan dari konsumen terhadap produk untuk membeli atau tidak (Kotler dan Keller 2008).
1. Konsumen memperhatikan tentang promosi yang digunakan di media sosial 2. Keinginan konsumen untuk
membeli produk yang dijual di media sosial
3. Keinginan konsumen untuk menggunakan produk yang dibeli di media sosial
4. Konsumen bersedia untuk berkorban (waktu, biaya dan tenaga) terkait pembelian produk melalui media sosial
Nugraha (2010)
Goseldia (2011) dengan
14 HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian Pendahuluan
Sebelum melakukan penelitian aktual, peneliti terlebih dahulu melakukan penelitian pendahuluan kepada 30 responden yang bertujuan untuk mengetahui apakah responden memahami pernyataan yang ada dalam kuesioner. Tahap selanjutnya adalah uji validitas dan reliabilitas dari masing-masing item indikator pernyataan. Jumlah sampel yang digunakan adalah 30, dan dikatakan valid jika nilai dari corrected item-total correlation ≥ 0.361 dan dinyatakan reliabel jika nilai dari Cronbach’s Alpha > 0.6 (Hair et al., 2010). Berdasarkan hasil perhitungan, dari 21 pernyataan dalam kuesioner ditemukan 8 item pernyataan yang tidak valid. Delapan pernyataan tidak memenuhi syarat, karena nilai dari
corrected item-total correlation kurang dari nilai r tabel (≥ 0.361), sehingga pada
akhirnya pernyataan yang tidak valid tersebut dihilangkan dengan menghapus dari daftar pernyataan dalam kuesioner. Pernyataan-pernyataan yang tidak valid tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Item Pernyataan Yang Tidak Valid
No. Pernyataan
1. Teman memberikan penilaian (standar) tertentu terhadap fashion casual yang dijual di instagram
2. Teman saya secara aktif membagi informasi tentang fashion casual yang dijual di instagram
3. Saya memperhatikan informasi iklan fashion casual di instagram
4. Saya memperhatikan penjelasan iklan mengenai kualitas fashion casual di instagram
5. Saya memperhatikan layanan yang ditawarkan fashion casual yang saya beli melalui instagram.
6. Saya memperhatikan harga fashion casual yang dijual di instagram
7. Saya memprioritaskan untuk membeli produk fashion casual melalui instagram
8. Saya mengevaluasi fashion casual yang saya beli, setelah saya terima.
Sumber: Data diolah 2016
Selanjutnya adalah uji reliabilitas, nilai cronbach’s alpha dari variabel iklan di media sosial instagram adalah sebesar 0.699. Nilai cronbach’s alpha untuk variabel reference group adalah 0.679 dan untuk variabel keputusan pembelian mempunyai nilai cronbach’s alpha sebesar 0.687. Berdasarkan hasil tersebut masing-masing variabel dinyatakan reliabel. Hasil uji validitas dan
15
reliabilitas pada penelitian pendahuluan dapat dilihat pada (lampiran II). Demikian total item pernyataan yang digunakan dalam penelitian aktual adalah sebanyak 13 dari 21 pertanyaan. 5 butir pernyataan untuk variabel iklan di media sosial instagram, 4 butir pernyataan untuk variabel reference group dan 4 butir pernyataan untuk variabel keputusan pembelian, sedangkan 8 pernyataan gagal karena tidak sesuai dengan kriteria.
Penelitian Aktual
Pada tahap ini peneliti menyebar kuesioner sebanyak 150 kuesioner kepada responden, dengan kriteria yang sama dengan penelitian pendahuluan.
Gambaran Umum Responden
Berdasarkan 150 kuesioner yang diberikan kepada mahasiswa UKSW Salatiga dapat dijelaskan karakteristik responden sebagai berikut:
Tabel 3. Karakteristik Responden
Karakteristik Rincian Jumlah Persentase(%)
Fakultas FEB FBS BIOLOGI FISKOM FKIP FPB FSM FSP HUKUM PSIKOLOGI TEOLOGI FTI Total 77 12 1 9 17 3 4 5 7 7 1 7 150 51.3% 8% 0.7% 6% 11% 2% 3% 3.3% 4.7% 4.7% 0.7% 4.7% 100% Usia < 18 Tahun 18-20 Tahun >20 Tahun Total 1 94 55 150 0.6% 62.7% 36.7% 100%
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total 49 101 150 33% 67% 100% Lama menjadi followers instagram <1 Tahun >1 Tahun >2 Tahun Total 16 48 86 150 11% 32% 57% 100% Frekuensi membuka instagram
< 3 Kali dalam sehari 4-7 Kali dalam sehari >7 Kali dalam sehari
Total 30 58 62 150 20% 39% 41% 100% Frekuensi Pembelian selama 6 bulan terakhir
1-3 Kali 117 78% 4-6 Kali 20 13% 7-10 Kali Total 13 150 9% 100%
16
Berdasarkan tabel diatas peneliti mengklasifikasikan responden kedalam beberapa karakteristik yaitu : fakultas, usia, jenis kelamin, lama menjadi follower
instagram, frekuensi membuka instagram, dan intensitas pembelian produk fashion melalui instagram, dengan memberikan batasan waktu pembelian yaitu
selama 6 bulan terakhir. Berdasarkan hasil di lapangan diketahui responden dari FEB sebanyak 51.3%. Berdasarkan jenis kelamin sebanyak 67% merupakan perempuan. Berdasarkan karakteristik usia didapatkan hasil bahwa sebanyak 62.7% adalah pengguna dengan usia 18-20 tahun. Responden berdasarkan kriteria lama menjadi follower instagram didapatkan hasil yaitu sebanyak 57% sudah >2 tahun menjadi follower. Frekuensi membuka instagram sebanyak 41% membuka > 7 kali perhari. Rata-rata pembelian fashion melalui instagram yaitu sebanyak 3 kali dengan didominasi sebanyak 78% membeli antara 1-3 kali dalam 6 bulan terakhir. Selanjutnya dijelaskan hasil penelitian dengan menggunakan data deskriptif statistik. Data tersebut didapatkan dari jawaban responden terhadap pernyataan dalam kuesioner yang telah disebar. Skor rata-rata yang ada diklasifikasikan kedalam lima kriteria yang mengacu pada Paramita (2009), yaitu sebagai berikut :
Tabel 4. Analisis Statistik Deskriptif
Kriteria Interval Rata-Rata Jawaban
Sangat Tidak Setuju 1.00-1.80
Tidak Setuju 1.81-2.60
Kurang Setuju 2.61-3.40
Setuju 3.41-4.20
Sangat Setuju 4.21-5.00
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik pada penelitian ini terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Untuk mengetahui apakah data normal atau tidak dapat diketahui dengan melakukan uji kolmogrov-sminornov. Berdasarkan kriteria p-value (asymp. sig) > 0.05 menunjukkan bahwa data terdistribusi normal. Pada lampiran III Tabel 10 diketahui bahwa nilai signifikan yaitu Asymp. Sig sebesar 0.668.
17
Uji multikolinearitas, yang digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi yang terbentuk, ditemukan korelasi yang lebih tinggi atau sempurna diantara variabel bebas atau tidak. Hal tersebut dapat diketahui dengan menggunakan metode Variance Inflation Factor atau VIF. Hasil uji menunjukkan variabel iklan di media sosial instagram dan reference group tidak menunjukkan gejala multikolinieritas, terlihat dari tidak adanya nilai tolerance yang < 5% yaitu 0.939 dan nilai VIF yang > 10 yaitu 1.064. Hasil uji tersebut dapat diketahui dalam lampiran III dan Tabel 11.
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui terjadi tidaknya ketidaksamaan varians dari residual dalam sebuah model regresi. Pada hasil uji ini nilai signifikan diketahui dari nilai residu yang di absolute-kan dan menjadi positif atau disebut (ABS_RES). Heteroskedastisitas tidak terjadi apabila nilai dari signifikansi lebih besar dari alfa. Hasil uji yang dilakukan pada lampiran III Tabel 12, menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki nilai signifikansi lebih dari alfa. Variabel iklan di media sosial instagram (0.290) sedangkan reference
group (0.074). Hasil lengkap uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada lampiran III
Tabel 12.
Uji Regresi Berganda
Analisis regresi ini dipergunakan untuk menguji pengaruh dari variabel iklan di media sosial instagram (X1) dan reference group (X2) terhadap keputusan pembelian (Y), dan berikut hasilnya:
Tabel 5. Uji F
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1
Regression 466.458 2 233.229 53.145 .000b
Residual 645.115 147 4.389
Total 1111.573 149
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas yaitu iklan di media sosial instagram dan reference group terhadap variabel terikat yaitu keputusan pembelian secara simultan. Hasil uji F dalam tabel Anova menunjukkan nilai signifikan 0.000, dengan hasil tersebut maka Ha diterima yang
18
menunjukkan ada pengaruh secara simultan antara variabel bebas dan variabel terikat.
Tabel 6. Uji t
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.850 1.200 1.542 .125 iklan_di_media_sosi al_instagram .316 .058 .351 5.415 .000 reference_group .396 .055 .465 7.172 .000
Dari hasil diatas secara parsial diketahui bahwa kedua variabel yaitu iklan dimedia sosial instagram (X1) dan reference group (X2) berpengaruh terhadap keputusan pembelian (Y). Terlihat dari nilai signifikan kedua variabel yaitu masing-masing 0.000 dan kurang dari alfa sebesar 0.05.
Persamaan regresi berdasarkan tabel diatas adalah sebagai berikut:
Y= 1.850+0.316X1+0.396X2, dapat diinterpretasikan bahwa apabila
terjadi kenaikkan pada iklan dimedia sosial instagram akan dapat menyebabkan kenaikkan pada keputusan pembelian. Semakin menarik iklan di instagram akan menyebabkan kenaikkan terhadap keputusan pembelian produk fashion casual. Selanjutnya adalah apabila reference group terjadi kenaikkan maka juga akan menyebabkan kenaikkan pada keputusan pembelian. Semakin banyak dan pastinya informasi dari sumber acuan atau referensi yang didapat, akan menyebabkan kenaikkan terhadap keputusan pembelian produk fashion casual.
Berdasarkan kedua penjelasan tersebut disimpulkan bahwa masing-masing variabel berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Hal tersebut juga dapat mengakibatkan kenaikkan terhadap keputusan pembelian. Penjelasan lain adalah bahwa nilai dari koefisien regresi untuk variabel iklan di media sosial
instagram adalah sebesar 0.316, sedangkan untuk reference group adalah 0.396.
Nilai dari koefisien regresi untuk variabel reference group lebih besar dibandingkan dengan nilai koefisien regresi iklan di media sosial instagram.
19 Tabel 7. Koefisien Determinasi
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .648a .420 .412 2.09488
Tabel diatas menunjukkan seberapa jauh pengaruh dari variabel iklan di media sosial instagram dan reference group terhadap keputusan pembelian. Diketahui bahwa keputusan pembelian (Y) dapat dijelaskan oleh kedua variabel yaitu iklan di media sosial instagram dan reference group dengan nilai Adjusted R
Square = 0,412% atau sebesar 41,2 %, sehingga sisanya yaitu sebesar 58,8%
dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak ada dalam penelitian ini.
Pembahasan
Iklan di media sosial instagram berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk fashion casual
Berdasarkan hasil dari uji hipotesis terbukti bahwa iklan di media sosial instagram berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Terlihat dari nilai p-value
sebesar (0.000) < 0.05. Hasil signifikan tersebut menunjukkan bahwa iklan yang selama ini ada di dalam media sosial instagram berkontribusi kepada keputusan pembelian fashion casual. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yogesh dan Yesha (2014), Darban & Li (2012) bahwa media sosial dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Putra dan Suyono (2014) menyatakan bahwa sikap terhadap pembelian produk fashion melalui media sosial dapat terlihat dari intensitas pengguna terhadap membuka akun media sosial itu sendiri.
Hal tersebut juga dijelaskan pada Tabel II yang menjelaskan bahwa mayoritas diantara mahasiswa yaitu 41% meluangkan waktu sebanyak >7 kali dalam sehari untuk membuka akun instagram yang dimilikinya. Semakin sering membuka akun instagram maka akan ada potensi untuk membeli fashion casual melalui iklan-iklan yang ditampilkan didalamnya. Sama artinya bahwa bagi mahasiswa yang sering belanja melalui instagram akan sering membuka akunnya untuk update terhadap iklan-iklan produk fashion casual.
Ketertarikan membeli fashion casual melalui instagram didukung dengan semakin gencarnya promosi itu sendiri. Terlihat dari peran iklan media sosial
20
yang tidak bisa lepas dari upayanya untuk mengenalkan produknya melalui semua media sosial yang ada (Lubis, 2004). Adanya media sosial dapat menjadikan semakin banyak sumber referensi bagi mahasiswa untuk membeli produk fashion
casual yang akan dibeli. Hal itu sejalan dengan tujuan iklan melalui media sosial
yaitu untuk membuat siapapun penggunanya agar tertarik dengan apa yang di iklankan (Viciana, 2014).
Cara promosi yang ada dalam iklan di instagram selama ini mampu menarik perhatian mahasiswa. Seperti yang terlihat dalam perolehan skor rata-rata yang cukup tinggi yaitu 3.93 pada item pernyataan kuesioner yang berbunyi “
Promosi yang ada di iklan instagram menarik ”. Menandakan bahwa responden
setuju bahwa promosi yang digunakan dapat mempengaruhi sikap terhadap keputusan pembelian fashion casual. Mahasiswa merasa bahwa setiap promosi yang ditampilkan memberikan dampak positif terhadap keputusan pembelian. Semakin baik cara promosi akan dapat menjadi ketertarikan tersendiri. Hasil regresi uji t pada Tabel 6 juga mendukung hal tersebut, dimana dengan menampilkan iklan yang menarik termasuk menampilkan promosi akan dapat menyebabkan kenaikkan terhadap keputusan pembelian.
Endah & Ahmadi (2015) mengungkapkan jika perkembangan pengguna
instagram yang luar biasa saat ini, dapat menjadi peluang bagi pelaku bisnis online untuk menjadikan iklan di media sosial instagram sebagai media yang baru
dan tepat untuk berbisnis. Koneksi masyarakat terutama mahasiswa terhadap
internet melalui smartphone saat ini sangatlah besar. Di sisi lain keberadaan ini
dimanfaatkan pemasar yang menganggap bahwa penggunaan media online terutama instagram dianggap sebagai media yang efektif dan low cost (Siswanto, 2011). Hasil hipotesis diatas menunjukkan bahwa aplikasi yang selama ini ada terbukti mampu membuat follower instagram untuk membeli produk fashion
casual yang dijual. Intensitas follower untuk membuka instagram semakin
berpotensi besar untuk menjadikan instagram sebagai salah satu referensi utama bagi mahasiswa untuk membeli produk fashion casual melalui media sosial.
Intensitas yang dimaksud adalah sama seperti yang terlihat pada Tabel II bahwa sebanyak 41% diantara responden meluangkan waktu lebih dari 7 kali dalam sehari untuk membuka instagram. Intensitas tersebut didukung dengan
21
perolehan skor rata-rata yaitu 3.94 pada butir pernyataan keempat yang berbunyi “
Tampilan iklan di instagram menarik ”. Menjadikan indikasi bahwa iklan yang
selama ini dilihat mampu menarik perhatian mahasiswa untuk terus membukanya dan bisa tertarik terhadap iklan yang ditampilkan.
Tabel II juga menjelaskan bahwa sebanyak 78% mahasiswa memutuskan untuk membeli fashion casual melalui instagram dengan rata-rata pembelian sebanyak 3 kali dalam 6 bulan terakhir. Semakin intens membuka instagram maka akan semakin sering pula baik sengaja maupun tidak untuk melihat iklan didalamnya. Hal itu akan semakin menarik perhatian apabila dalam iklan yang ditampilkan juga menawarkan program-program promosi yang menarik, sehingga iklan dapat mengalihkan perhatian pengguna instagram untuk tertarik dan akhirnya membelinya. Iklan di instagram yang ada saat ini sangat variatif baik dari segi komponen warna, gaya bahasa, program promosi, dan produk yang up to
date. Di dalamnya berisi penjelasan produk dan promosi dengan tampilan yang
menarik, seperti yang ada dalam contoh berikut :
Gambar 2. Contoh iklan di instagram Sumber: Instagram, 2016
22
Gambar 3. Contoh iklan di instagram Sumber: Instagram, 2016
Iklan yang ada dalam media sosial instagram setidaknya terdiri lima indikator penting. Seperti yang disampaikan oleh peneliti terdahulu yaitu (1) Kejelasan informasi (Lesmana, 2012). Pada iklan diatas kejelasan informasi terlihat dari: (a) Informasi mengenai jenis produk melalui gambar yang ditampilkan yaitu fashion casual. (b) Adanya program promosi yaitu berupa buy I
get one free dan program ramadhan sale. (c) Kejelasan contact person yang dapat
dihubungi apabila akhirnya tertarik dengan iklan yang ditampilkan. (2) Gaya bahasa yang disampaikan (Putra, 2014). Berdasarkan contoh pada gambar 2 dan 3 bahasa yang digunakan lebih ke bahasa anak jaman sekarang. Gaya bahasa yang digunakan dapat menyentuh segmen pasar yaitu mahasiswa. Penggabungan dua bahasa yaitu bahasa inggris dan bahasa Indonesia dan dengan menambahkan istilah-istilah yang mengikuti perkembangan jaman, dapat menjadikan pengguna
instagram lebih mudah memahami maksud iklan.
(3) Informasi promosi (Putra, 2014). Pada gambar 2 dan 3 terlihat bahwa program promosi disampaikan dengan jelas dan detail. Seperti program promosi
23
Rp.175.000 menjadi Rp. 150.000. Selanjutnya adalah kejelasan informasi terkait batasan waktu berlakunya promosi itu sendiri. (4) Tampilan konten ( Escalas dan Reutgers dalam Suherman, 2011). Penggunaan placing yang terdiri dari tata letak gambar dan penulisan informasi promosi dapat menjadi pusat perhatian yang menarik. (5) Komposisi warna (Escalas dan Reutgers dalam Suherman, 2011). Pada contoh gambar 2 terlihat iklan di instagram diatas memberikan efek dengan mendesain komposisi warna dengan background yang menarik. Penggunaan warna pada penulisan iklan diatas jelas sehingga dengan penggunaan warna yang berbeda pembaca tidak akan hanya fokus pada gambarnya saja, tetapi akan melihat isi informasi dari iklan. Berdasarkan indikator-indikator yang sudah dijelaskan sebelumnya, menurut Putra (2014) indikator pada gaya bahasa dan informasi mengenai promosi termasuk kedalam aspek daya tarik, dimana tujuanya adalah dapat membujuk dan dapat membangkitkan rasa ingin tahu.
Iklan dalam instagram diatas juga masuk ke dalam kriteria yang disampaikan oleh Tria (2012). Iklan yang baik setidaknya terdiri dari lima hal yaitu : simpel, relevan, dapat membujuk konsumen untuk membeli, dapat mengibur dan dapat diterima oleh semua orang. Tampilan iklan diatas terlihat simpel, dengan fokus menampilkan produk, informasi terkait tawaran promosi dan contact person yang bisa dihubungi. Contoh iklan diatas juga bersifat relevan, seperti yang terlihat dari informasi produk yang disampaikan, semua komponen baik target pemasaran, cara promosi saling terkait. Sasaran penjualan yaitu terhadap anak muda, sehingga cara promosi dibuat dengan mengikuti selera anak muda. Iklan diatas berupaya untuk dapat membujuk konsumen agar membeli dengan menampilkan program promosi dan menampilkan link yang didalamnya terdapat banyak foto pilihan produk. Tampilan yang ada disampaikan dengan jelas, baik maksud dan cara iklan disampaikan kepada konsumen melalui sebuah tampilan yang menarik. Berdasarkan kriteria yang sudah disebutkan sebelumnya maka contoh iklan diatas juga dapat diterima oleh semua kalangan termasuk mahasiswa. Pengaruh iklan di instagram dalam keputusan pembelian fashion
casual juga didukung dengan tanggapan dari beberapa responden saat proses
24
“ Selain lewat BBM , aku juga sering beli baju casual di instagram teman (Responden 1, April 2016).
“Di instagram biasanya terlihat modis-modis dan banyak pilihan”(Responden 2, April 2016).
Dua tanggapan dari responden diatas dapat mendukung kesimpulan bahwa iklan di media sosial instagram dapat memberikan kontribusi terhadap keputusan pembelian produk fashion casual oleh mahasiswa. Hawkins dan Mothersbaugh (2010) menyatakan bahwa mahasiswa merupakan termasuk kedalam anggota