• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1. Definisi Oper asional

Untuk memperjelas konsep yang akan diteliti serta menghindari kesalahan persepsi terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, maka akan dijelaskan definisi operasional dan cara pengukuran masing-masing variabel sebagai berikut ;

1. Pr ofitabilitas (X1)

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang diukur menggunakan rasio antara laba setelah pajak dengan total aktiva.

Variabel ini dinyatakan dengan menggunakan skala rasio dan satuan ukur dalam bentuk Prosentase (%).

Rumus :

Laba Setelah Pajak

ROA = X 100%

Total Aktiva

(Machfoedz, 1998 : 130) 2. Lever age Oper a si (X2)

Leverage operasi menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaaan didanai dengan hutang. Satuan pengkuran variabel leverage

operasi adalah prosentase (%) dan skala yang digunakan adalah skala rasio. Leverage operasi dapat dihitung :

Rumus :

Total Hutang

Leverage Operasi = X 100% Total Ak tiva

(Sutrisno, 2003 : 249) 3. Uk uran Per usahaan

Ukuran perusahaan merupakan besar atau kecilnya perusahaan yang diukur dari total aktiva berdasarkan nilai buku.

Variabel ini dinyatakan dengan menggunakan skala rasio dan satuan ukur dalam bentuk rupiah (Rp).

Rumus :

Ukuran Per usahaan = Log Total Aktiva

(Harahap, 1998 : 307) 4. Per ataan Laba

Perataan laba adalah upaya yang dilakukan untuk memperkecil atau fluktuasi pada tingkat earnings yang dianggap normal bagi suatu perusahaan.

Variabel ini dinyatakan dengan menggunakan skala nominal dan satuan ukur dalam bentuk skor.

Skor 0 untuk perusahaan yang tidak melakukan perataan laba Skor 1 untuk perusahaan yang melakukan perataan laba

44

Dalam penelitian ini, perataan laba diukur dengan menggunakan indeks Eckel dengan rumus :

Indeks Perataan Laba = S CV

CV

∆ ∆Ι

Dengan kriteria, perusahaan dianggap telah melakukan tindakan perataan laba bila :

CV ∆S > CV ∆I

(Machfoedz, 1998 : 180) Dimana :

∆S = Perubahan penjualan dalam satu periode

∆I = Perubahan penghasilan bersih / laba dalam satu periode

CV= Koefisien variabel dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai yang diharapkan.

3.2. Teknik Penentuan Sampel 3.1.1.Populasi

Populasi adalah kumpulan dan individu dengan kualitas serta ciri – ciri yang tidak ditetapkan, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi. Populasi penelitian ini adalah perusahaan - perusahaan Food and Beverage yang telah go publik dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara tahun 2007-2010, yang berjumlah 17 perusahaan.

Ada 17 perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2007 – 2010 adalah sebagai berikut:

1. PT. Ades Water Indonesia. Tbk 2. PT. Aqua Golden Mississipi. Tbk 3. PT. Cahaya Kalbar. Tbk

4. PT. Davomas Abadi. Tbk 5. PT. Delta Djakarta. Tbk 6. PT. Fast Food Indonesia. Tbk 7. PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk 8. PT. Mayora Indah. Tbk

9. PT. Multi Bintang Indonesia. Tbk

10. PT. Pioneerindo Gourment Internasional. Tbk 11. PT. Prasidha Aneka Niaga. Tbk

12. PT. Siantar Top. Tbk 13. PT. Sierad Produce. Tbk

14. PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology. Tbk 15. PT. Tiga Pilar Sejahtera Food. Tbk

16. PT. Tunas Baru Lampung. Tbk

17. PT. Ultra Jaya Milk Industry & Traiding Company. Tbk

3.2.1.Sampel

Pengambilan sampel merupakan bagian dalam melaksanakan suatu penelitian, untuk itu teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik non probability sampling dengan

46

metode purposive sampling artinya teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sumarsono, 2002 : 52).

Adapun pertimbangan–pertimbangan dalam pengambilan sampel tersebut yaitu antara lain :

v Perusahaan sampel adalah perusahaan Food and Beverage, yang telah go publik di PT. Bursa Efek Indonesia (BEI), serta yang masih aktif dalam melakukan perdagangan saham tahun 2007-2010.

v Perusahaan sampel adalah perusahaan Food and Beverages, yang mempunyai laporan keuangan yang lengkap, Valid dan telah di audit serta seluruh prospektusnya terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan yang melakukan perataan laba.

Berdasarkan pertimbangan – pertimbangan dalam pengambilan sampel tersebut di atas, maka jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 11 perusahaan yaitu:

1. PT. Cahaya Kalbar. Tbk 2. PT. Fast Food Indonesia. Tbk 3. PT. Indofood Sukses Makmur. Tbk 4. PT. Mayora Indah. Tbk

5. PT. Multi Bintang Indonesia. Tbk

6. PT. Pioneerindo Gourment Internasional. Tbk 7. PT. Sekar Laut. Tbk

8. PT. Sierad Produce. Tbk 9. PT. Siantar Top. Tbk

10. PT. Tiga Pilar Sejahtera Food. Tbk

11. PT. Ultra Jaya Milk Industry & Traiding Company. Tbk

3.3. Teknik Pengumpulan Data 3.3.1.J enis Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu data – data yang ada hubungannya dengan permasalahan yang berasal dari luar perusahaan. Data diambil dari perusahaan Food and Beverages yang go publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta meliputi data saham dan data akuntansi. Data saham yang dipakai adalah nilai pasar saham, sedangkan data akuntansi yang dipakai adalah penjualan bersih dan total aktiva. Periodisasi data penelitian mencakup data tahun 2007-2010 yang cukup mewakili kondisi BEI yang relatif stabil dan normal.

3.3.2.Sumber Data

Sumber data yaitu tempat serta dasar pengambilan data. Adapun data dalam penelitian ini bersumber pada Indonesian Capital Market Directory.

3.3.3.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara :

48

a. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu menyalin data penelitian yang sesuai dengan pokok permasalahan yang terkait dengan data perusahaan yang ada. b. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah studi literatur yang digunakan untuk mencari dan mendapatkan data, informasi, dan teori yang relevan dengan pokok bahasan dari buku – buku literatur.

3.4. Teknik Analisis 3.4.1.Regr esi Logistik

Metode regresi logistik digunakan untuk mencari pengaruh satu atau lebih variabel bebas (profitabilitas, leverage operasi dan ukuran perusahaan) yang berskala rasio terhadap variabel terikat (perataan laba) yang berskala nominal.

Bentuk model regresi logistik adalah sebagai berikut: P Ln = = b0 + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 1 – P (Imam Ghozali 2001 : 264) Dimana : P = Profitabilitas X1 = Profitabilitas X2 = Leverage Operasi X3 = Ukuran Perusahaan

3.5. Uji Hipotesis

3.5.1.Uji Kesesuaian Model (Goodness of Fit)

Hasil pengujian atas kelayakan model regresi (goodness of fit test) yaitu model yang dihasilkan telat fit (sesuai) dengan data maka dilihat nilai -2 Log Likelihood. Model dikatakan fit (sesuai) dengan data jika terdapat pengurangan nilai dari -2 Log Likelihood awal (Block number = 0) menjadi nilai -2 Log Likelihood akhir (Block number = 1).

Pengujian kesesuaian model juga bisa dilakukan dengan Hosmer and Lomeshow’s Test. Jika Hosmer and Lomeshow’s Test menghasilkan nilai signifikansi Chi-Square > 0.05 (α=5%), maka disimpulkan bahwa model mampu memprediksi nilai observasinya, sehingga model dapat diterima.

Dasar pengambilan keputusan :

v Jika nilai statistik Hosmer dan Lemeshow < 0,05 maka H0 ditolak, H1 diterima jika ada perbedaan yang nyata antara model dengan nilai observasinya sehingga goodness of fit model tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya.

v Jika nilai statistik Hosmer dan Lemeshow > 0,05 maka H0 diterima, H1 ditolak berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya dan layak dipakai untuk penelitian selanjutnya.

50

3.5.2.Uji Nilai Nagelkerke R Square

Nagelkerke R Square merupakan modifikasi dari Cox and Snell R Square yang memastikan bahwa nilai bervariasi dari 0 (nol) sampai 1 (satu), sehingga dapat diintepretasikan seperti nilai R Square pada regresi linier berganda. Hal ini dilakukan dengan cara membagi nilai Cox and Snell R dengan nilai maksimumnya.

(Ghozali, 2001 : 218-220) 3.5.3.Uji Wald Test

Wald Test merupakan suatu variabel bebas yang menghasilkan nilai signifikan < 0.05 (α=5%), maka variabel tersebut signifikan mempengaruhi variabel terikat.

4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian

4.1.1.Sejar ah Singkat Per usahaan Ditinjau dar i Ruang Lingkup Kegiatan Adapun sejarah singkat perusahaan Food and Beverage ditinjau dari ruang lingkup kegiatan :

1. PT. Ca haya Kalbar . Tbk

PT. Cahaya Kalbar didirikan pada tahun 1968. Pada tahun 1996, perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta degan kode perdagangan “CEKA”.

PT. Cahaya Kalbar adalah produsen terkenal dari berbagai bahan untuk rentang seluruh produk makanan :

a. Untuk industri coklat dan kakao kembang gula, es coating, penganan mengisi.

b. Aloe Vera konsentrat dan bubuk untuk makanan fungsional, kosmetik dan industri farmasi.

Perusahaan juga memproduksi dan memasok bahan untuk restoran/industri hotel, kue dan roti industri dan kemudian kami memasuki pasar eceran/grosir dengan produk minuman fungsional. Di bawah merek dagang: ALOEFIT.

52

PT. Cahaya Kalbar memiliki empat lokasi berbeda: Pluit-Jakarta, Jababeka I, Jababeka II, dan Pontianak, terdiri di daerah lebih dari 105.000 m² untuk memproses bahan baku dan mempersiapkan produk jadi. Hasil laba bersih yang diperoleh PT. Cahaya Kalbar pada tahun 2010 sebesar Rp. 29,562 milyar.

2. PT. Fast Food Indonesia. Tbk

PT. Fast Food Indonesia, Tbk adalah pemilik tunggal waralaba KFC di Indonesia, didirikan oleh Gelael Group pada tahun 1978 sebagai pihak pertama yang memperoleh waralaba KFC untuk Indonesia. Perseroan mengawali operasi restoran pertamanya pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta dan sukses, outlet ini kemudian diikuti dengan pembukaan outlet-outlet selanjutnya di Jakarta dan perluasan area cakupan hingga ke kota-kota besar lain di Indonesia antara lain Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makasar, dan Manado. Keberhasilan yang terus diraih dalam pengembangan merek menjadikan KFC sebagai bisnis waralaba cepat saji yang dikenal luas dan dominan di Indonesia.

Memasuki 28 tahun keberhasilan Perseroan dalam membangun pertumbuhannya, posisi KFC sebagai pemimpin pasar restoran cepat saji tidak diragukan lagi. Untuk mempertahankan kepemimpinan, Perseroan terus memperluas area cakupan restorannya dan hadir diberbagai kota kabubaten tanpa mengabaikan persaingan ketat di kota-kota metropolitan. Perseroan baru saja meresmikan pembukaan outlet

KFC yang ke 300 di Cireundeu pada bulan Oktober 2007, bertepatan pada bulan yang sama ulang tahun KFC Indonesia yang ke 28. Perseroan mengakhiri tahun 2007 dengan total 307 outlet termasuk mobile catering, yang terbesar di 78 kota di seluruh Indonesia, Mempekerjakan total 11.835 karyawan dengan hasil penjualan tahunan di atas Rp. 1,590 triliun. Pada tahun 2010 PT. Fast Food Indonesia mendapatkan laba bersih sebesar Rp. 199,597 milyar.

3. PT. Indofood Sukses Makmur . Tbk

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk didirikan pada tanggal 14 Agustus 1990, berdasarkan Akta Notaris No.228 yang dibuat dihadapkan Benny Kristanto,S.H.

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (“ISM”) (BEI:INDF) adalah perusahaan Total Food Solutions yang terkemuka dengan kegiatan operasi yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, Mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga produksi akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.

Perseroan bergerak dalam bidang produksi mie, penggilingan tepung terigu, kemasan, jasa manajemen, serta penelitian dan pengembangan. Saat ini terutama perusahaan bergerak di bidang pembuatan mie, penggilingan tepung terigu, dengan kantor pusat yang berkedudukan di gedung Arlobimo sentral lantai 12, di Jl.H.R. Rasuna Said X-2, Jakarta. Sedangkan lokasi pabrik berada di Jawa, Sumatera,

54

Kalimantan, Sulawesi, dan perseroan memulai kegiatan operasi secara komersial pada tahun 1990.

ISM mengoperasikan empat Kelompok Usaha Strategis (Group) yang saling melengkapi: Produk Konsumen Bermerek (CBP), kegiatan usaha grup ini dilaksanakan oleh PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (“ICBP”), tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 7 Oktober 2010. ICBP merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan yang terkemuka di Indonesia yang memiliki berbagai jenis produk makanan dalam kemasan. Berbagai merek ICBP merupakan merek-merek yang terkemuka dan dikenal di Indonesia untuk makanan dalam Kemasan. Hasil laba bersih PT. Indofood Sukses Makmur pada tahun 2010 sebesar Rp. 2,952 triliun.

4. PT. Mayor a Indah. Tbk

PT. Mayora indah Tbk didirikan dengan akta no. 204 tanggal 17 Februari 1997 dari notaris Ridwan Suselo S.H.

Perusahaan berdomisili di Tanggerang dan Bekasi. Kantor pusat Perusahaan beralamat di Gedung Mayora, Jl. Tomang Raya No. 21-23, Jakarta.

Ruang Lingkup kegiatan perusahaan adalah menjalankan usaha dalam bidang industri, perdagangan serta/perwakilan. Saat ini perusahaan menjalankan bidang usaha industri makanan, kembang gula dan biscuit. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada bulan

Mei 1978. Hasil laba bersih PT. Mayora Indah pada tahun 2010 sebesar Rp. 484,086 milyar.

5. PT. Multi Bintang Indonesia. Tbk

Perseroan didirikan pada tanggal 3 Juni 1929 berdasarkan akta notaris Dijikstra, notaris di Medan, dengan nama N.V. Nederlandsch. Perseroan berdomisili di Indonesia dengan kantor pusat berlokasi di Ra Plasa Building lantai 24, Jl. Jendral Sudirman Kav.9, Jakarta 10270, dan pabrik berlokasi di Jl. Daan Mogot KM.19 Tanggerang 15122 dan Jl. Raya Mojosari-Pacet KM.50, Sampang Agung, Jawa Timur. PT. Multi Bintang Indonesia resmi menjadi perusahaan publik di tahun 1981 dan mengalihkan domisilinya dari Surabaya ke Jakarta. Saham-sahamnya di perdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Kini, PT Multi Bintang Indonesia Tbk telah menjadi produsen bir terkemuka di Indonesia. Perseroan memproduksi dan memasarkan serangkaian produk-produk ternama seperti Bir Bintang, Heineken, Guinness, Bintang Zero, dan Green Sands. Hasil laba bersih PT. Multi Bintang Indonesia pada tahun 2010 sebesar Rp. 442,916 milyar.

6. PT. Pioneer indo Gour ment Inter nasional. Tbk

PT. Pioneerindo Gourment Internasional. Tbk didirikan berdasarkan Akta Notaris Arikanti Natakusumah, SH, No. 84 tanggal 13 Desember 1983. Sebelumnya nama Perusahaan adalah PT. Putra Sejahtera Pioneerindo Tbk. Perubahan nama Perusahaan menjadi PT Pioneerindo Gourment Internasional Tbk berdasarkan Akta pendirian

56

ini telah mendapat persetujuan dari menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-2169-HT.01.01.TH.84 tanggal 10 April 1984 dan didaftarkan pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor pendaftaran 1218/1984 tanggal 4 Mei 1984.

Aktivitas utama Perusahaan saat ini adalah usaha penyediaan makanan dan minuman dengan menggunakan merek dagang “California Fried Chicken” yang disingkat CFC, Sapo Oriental dan Cal Donat. Semua merek dagang tersebut telah didaftarkan pada Departemen Kehakiman Republik Indonesia Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek Dagang. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1984 dan memperoleh hasil laba bersih pada tahun 2010 sebesar Rp. 15,766 milyar.

Kantor pusat Perusahaan terletak di Gedung Jaya lantai 6, Jl. M.H. Thamrin No. 12 Jakarta Pusat.

7. PT. Siantar Top. Tbk

PT. Siantar Top Tbk didirikan berdasarkan akta No. 45 tanggal 12 Mei 1987 dari Ny. Endang Widjayanti, S.H notaris di Sidoarjo dan akta perubahannya No.64 tanggal 24 Maret 1988 dari notaris yang sama.

Ruang lingkup kegiatan perusahaan terutama bergerak dalam bidang industri makanan ringan, yaitu mie (snack noodle), Kerupuk (crackers) dan kembang gula (candy). Perusahaan berdomisili di Sidoarjo, Jawa Timur dengan pabrik berlokasi di Sidoarjo (Jawa

Timur), Medan (Sumatara Utara), dan Bekasi (Jawa Barat). Kantor Pusat prusahaan beralamat di Jl. Tambak Sawah No.21-23 Waru, Sidoarjo. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 1989. Hasil produksi perusahaan dipasarkan di dalam dan luar negeri, khususnya Asia. Laba bersih yang diperoleh PT. Siantar Top pada tahun 2010 sebesar Rp. 42,360 milyar.

8. PT. Sekar Laut. Tbk

Sejarah PT. Sekar Laut Tbk, berawal dari sebuah usaha dibidang perdagangan produk kelautan di kota Sidoarjo, Jawa Timur pada tahun 1966. Kemudian berkembang menjadi usaha krupuk udang tradisional. Dengan kegigihan usaha yang dirintis berkembang pesat dari industri rumah tangga menjadi perusahaan penghasil krupuk. PT. Sekar Laut Tbk didirikan pada 19 Juli 1976 dalam bentuk perseroan terbatas dan kemudian terdaftar resmi sebagai badan perusahaan di departemen Kehakiman pada 1 Maret 1978.

PT. Sekar Laut, Tbk mempelopori mekanisme modern pada proses pengolahan krupuk yang tadinya dilakukan secara tradisional. Proses produksi menggunakan mesin-mesin dan peralatan modern dikombinasikan dengan sumber daya manusia yang terampil, memastikan konsistensi produk yang berkualitas tinggi. Metode produksi higienis menggabungkan resep khas Indonesia dengan teknologi pangan modern, Menghasilkan rasa alami dan nutrisi yang terjaga.

58

Pengawasan kualitas yang ketat dilaksanakan disetiap tahap. Pengepakan dilakukan sesuai dengan jumlah dan ukuran pemesanan dari pembeli. Dengan lissensi merk FINNA, PT. Sekar Laut, Tbk telah menghasilkan berbagai macam variasi krupuk dan produk makanan lain seperti bumbu siap saji, sambal dan saos. Hasil laba bersih PT. Sekar Laut pada tahun 2010 sebesar Rp. 4,833 triliun.

9. PT. Sier a d Pr oduce. Tbk

PT. Sierad Produce, Tbk adalah sebuah badan hukum yang dibentuk pada tahun 2001 sebagai hasil penggabungan empat badan usaha yang bergerak di bidang usaha inti dari Sierad Group. Empat perusahaan tersebut adalah PT. Anwar Sierad Tbk, PT. Sierad Produce Tbk, PT. Sierad feedmill dan PT. Sierad Grains. PT. Sierad produce beroperasi di Gedung Plaza City View, Lt.1, Jl. Kemang Timur No22 Jakarta 12510- Indonesia.

Perusahaan dahulu bernama PT. Betara Darma Ekspor Impor, didirikan pada tanggal 6 September 1985. Nama yang ada sekarang mulai digunakan pada tanggal 27 Desember 1996 dalam rangka persiapan Go Public di Bursa Efek Jakarta.

Bisnis inti perusahaan mencakup produksi pakan ternak dan produksi utama, peternakan dan penetasan, kemitraan, rumah potong, dan produksi lanjutan serta nilai tambah dari berbagai produk daging ayam, peralatan peternakan ayam dan produksi tepung ikan.

Perusahaan mengalami kemajuan usaha melalui komitmennya untuk menghasilkan berbagai produk berkualitas baik dengan standar internasional. Hal ini terlihat dari diterimanya berbagai penghargaan seperti HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point), ISO 9001 dan Sertifikat Halal dari Majlis Ulama Indonesia karena perusahaan telah menetapkan metode pemotongan hewan yang sesuai dengan hukum Islam. Penerapan teknologi keamanan bio yang ketat, menjamin bahwa produk yang dihasilkan bersifat higienis, sehat dan aman untuk dikonsumsi. Hasil laba bersih yang diperoleh PT. Sierad Produce pada tahun 2010 sebesar Rp. 15,160 milyar.

10. PT. Tiga Pilar Sejahter a Food. Tbk

Pada tahun 1959, almarhum Tan Pia Sioe mendirikan bisnis keluarga yang nantinya berkembang menjadi PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (TPS-Food). Sebuah bisnis keluarga yang memproduksi Bihun Jagung Cap Cangak Ular di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sampai hari ini, kultur manajemen yang erat seperti sebuah keluarga adalah salah satu nilai yang terrus dipertahankan oleh generasi ketiga dari sang pendiri.

Untuk memenuhi permintaan pasar akan produk-produk makanan yang terus tumbuh, PT. Tiga Pilar Sejahtera didirikan pada tahun 1992 dan menjadi perusahaan publik pada tahun 2003. TPS-Food selalu menekankan pentingnya produk yang berkualitas dan memberikan nilai tambah kepada konsumen. Berbekal pengalaman

60

yang panjang, tradisi serta loyalitas konsumen; TPS-Food berhasil meraih posisi sebagai produsen mie kering dan bihun terdepan di pasar Indonesia.

Standar produksi yang tinggi dan jaringan distribusi yang luas memperkuat PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk sebagai salah satu pilihan konsumen. Hasil laba bersih PT. Tiga Pilar Sejahtera Food pada tahun 2010 sebesar Rp. 75,857 milyar.

11. PT. Ultr a J aya Milk Industr y & Tr aiding Company. Tbk

PT. Ultrajaya Milk Indonesia, Tbk didirikan pada tanggal 2 November 1971, dengan berdasarkan Akta Notaris No. 8 yang dibuat dihadapan Komar Sasmita, S. H.

PT. Ultrajaya diawali dari sebuah perusahaan susu yang kecil pada tahun 1958. Lalu pada tahun 1974, perusahaan ini memasuki tahap pertumbuhan pesat sejalan dengan perubahannya menjadi PT. Ultrajaya Milk Industry & Trading Company. PT. Ultrajaya saat ini merupakan perusahaan pertama dan terbesar di Indonesia yang menghasilkan produk-produk susu, minuman dan makanan dalam kemasan aseptik yang tahan lama dengan merek-merek terkenal seperti Ultra Milk untuk produk susu, Buavita untuk jus buah segar dan Teh Kotak untuk minuman teh segar.

Perseroan bergerak dalam bidang perindustrian, perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan darat atau laut, serta perdagangan dengan kantor pusat yang berkedudukan di Jl. Raya Cimareme No. 131

Padalarang Bandung, Jawa Barat, sedangkan lokasi pabrik berada di Jl. Cimareme No. 143 Cimahi Bandung, Jawa Barat, dan perseroan memulai kegiatan operasi secara komersial pada tahun 1990. Pada tahun 2010 PT. Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company mendapatkan laba bersih sebesar Rp. 107,123 milyar.

4.2. Deskr ipsi Hasil Penelitian 4.2.1.Perataan Laba (Y)

Perataan laba merupakan cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artifisial melalui metode akuntansi, maupun secara rill melalui transaksi. Income smoothing sebagai variabel terikat yang diukur menggunakan Indeks Ekcel dengan menggunakan laba operasi sebagai variabel yang digunakan untuk mewakili earnings.

• Kriteria perusahaan yang melakukan perataan laba = CVΔ I < CVΔ S (kode = 1).

• Kriteria perusahaan yang tidak melakukan perataan laba = CVΔ I > CVΔ S (kode = 0).

Adapun data income smoothing selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 adalah sebagai berikut :

62

Tabel 4.1 : Data Perataan Laba Pada Per usahaan Food and Beverages Tahun 2007-2010

Kategori Perataan Laba Frekuensi Persentase Tidak melakukan perataan laba (skor = 0) 28 63.6

Melakukan perataan laba (skor = 1) 16 36.4

Total 44 100.0

Sumber : Lampiran 2

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa jika ditinjau dari perhitungan Indeks Eckel, perusahaan Food and Beverages yang menjadi sampel penelitian yang tidak melakukan perataan laba cenderung lebih banyak dibandingkan perusahaan yang melakukan perataan laba selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 sebesar 63.6% perusahaan tidak melakukan perataan laba, sedangkan perusahaan yang melakukan perataan laba hanya 36.4%.

4.2.2.Pr ofitabilitas Per usahaan (X1)

Jumlah laba yang diperoleh secara teratur merupakan suatu faktor yang sangat penting yang perlu mendapat perhatian dalam menilai profitabilitas suatu perusahaan. Adapun data profitabilitas perusahaan Food and Beverages selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 adalah sebagai berikut :

Tabel 4.2 : Data Pr ofitabilitas Per usahaan Food and Beverages Tahun 2007-2010 (dalam % )

Kategori Perataan Laba

Statistik Deskriptif Profitabilitas

N Min Maks Mean Std.

Dev Tidak melakukan perataan laba

(skor = 0) 28 0.768 38.964 10.556 9.481

Melakukan perataan laba

(skor = 1) 16 0.737 15.262 4.990 4.138

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata profitabilitas pada perusahaan Food and Beverages yang tidak melakukan perataan laba sebesar 10.556, sedangkan nilai rata-rata profitabilitas pada perusahaan yang melakukan perataan laba sebesar 4.990. Hasil ini menunjukkan bahwa pada periode 2007-2010 perusahaan Food and

Dokumen terkait