Dimensi kemasan didapat dari hasil output pengujian pada Packaging Design System II (PDS II) yang dibuat oleh Afriansyah (2005) dan Kuntadi (2005). Dimensi kemasan yang dihasilkan oleh Afriansyah (2005) adalah 410 x 330 x 240 mm yang dipergunakan untuk buah berbentuk bulat bulat dengan berat individu 101 gr, diameter individu 63 mm, dan berat kemasan 16 kg. Sedangkan dimensi kemasan yang dihasilkan oleh Kuntadi (2005) adalah 281 x 252 x 213 mm yang dipergunakan untuk buah berbentuk ellips dengan berat individu 119.69gr, diameter mayor 71.91 mm, diameter minor 54.30 mm, dan berat kemasan 9 kg.
Pada penelitian utama digunakan dimensi kemasan 410 x 330 x 240 mm, sedangkan dimensi kemasan 281 x 252 x 213 mm dipergunakan untuk melihat pengaruh perbedaan dimensi terhadap nilai faktor-faktor koreksi yang didapat pada penelitian utama.
2. Menentukan Compression strength Teoritis
Compression strength teoritis dicari dengan persamaan McKee: Persamaan McKee: Z h Pm P= 821. × × ...(1) Dimana: P : Compression strength (kgf) Z : keliling box (cm)
Pm : Kekuatan sudut tergantung dari tipe flute (kgf/cm) h : ketebalan karton (mm)
Nilai Pm didapatkan dari pengujian Edge Crush Test (ECT). 3. Pengujian Edge Crush Test (ECT)
Edge Crush menjadi penting karena akan mengetahui seberapa baik sebuah peti karton dapat menahan tekanan tumpukan dari peti karton lain. Pengujian ECT dilakukan dengan mengambil sample kecil dari flute yang akan diukur, yaitu 5 x 5 cm (Gambar 4). Sample dibuat
dengan alat ECT cutter dengan dua tahap, yaitu tahap pemotongan karton dengan ukuran 5 x 5 cm dan tahap pemotongan setengah lingkaran dengan d = 25 mm. Gambar 5 menunjukkan alat ECT cutter tahap pertama sedangkan ECT cutter tahap kedua dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 4. Sample karton gelombang dalam pengujian Edge Crush Test.
Gambar 5. Alat ECT Cutter tahap pertama untuk pemotongan karton.
Gambar 6. Alat ECT Cutter tahap kedua untuk pemotongan setengah lingkaran.
Sample yang telah dibuat selanjutnya akan ditekan dengan menggunakan alat crush tester hingga sample menjadi tertekuk. Gambar 7 menunjukkan alat crush tester yang digunakan untuk pengujian ECT.
Gambar 7. Alat crush tester untuk pengujian ECT.
Ketahan tekan tepi (ECT) karton gelombang adalah daya tahan karton gelombang dalam posisi tegak terhadap suatu tekanan, dinyatakan dalam satuan berat per satuan panjang. Ketahanan tekan tepi bermanfaat untuk mengetahui kemampuan menahan tekanan sejajar dengan permukaan karton. Sifat ini berkaitan erat dengan kemampuan tumpuk kotak karton gelombang, oleh sebab itu merupakan salah satu ukuran mutu karton gelombang yang sangat penting.
4. Pengujian Compression strength
Pengujian compression strength dilakukan dengan menggunakan alat compression tester (Gambar 8). Pengujian compression strength dilakukan dengan perbedaan luas ventilasi pada tipe kemasan yang bertujuan untuk mencari persentase perubahan kekuatan berdasarkan
perbedaan luas ventilasi pada satu tipe kemasan. Tipe yang digunakan pada penelitian ini adalah tipe kemasan RSC dan FTC yang banyak digunakan di Indonesia. Persentase luas ventilasi yang diberikan, yaitu 1-5 % yang tersebar di bagian depan dan samping peti karton. Gambar 9 menunjukkan tipe ventilasi yang biasa digunakan pada kemasan produk hortikultura.
Gambar 8. Alat compression tester untuk melakukan pengujian tekan.
Gambar 9. Tipe ventilasi yang biasa digunakan untuk b c a
a. Uji tekan untuk melihat pengaruh persentase ventilasi
Pengujian menggunakan tipe kemasan RSC dengan flute A dengan tiga persentase ventilasi yang berbeda, kombinasi yang dilakukan seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Kombinasi antara posisi ventilasi dengan persentase ventilasi Posisi ventilasi Persentase Ventilasi 1 2 I 1% 1% II 3% 2% III 5% 3% Keterangan :
Posisi ventilasi 1 : seperti yang ditampilkan di Gambar 9 a Posisi ventilasi 2 : seperti yang ditampilkan di Gambar 9 c
b. Uji tekan untuk melihat pengaruh tipe flute dan tipe kemasan
Pengujian menggunakan dua tipe kemasan tanpa ventilasi dengan kombinasi perlakuan tiga tipe flute karton gelombang. Kombinasi yang dilakukan, seperti terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kombinasi antara tipe flute karton dengan tipe kemasan Tipe kemasan Tipe Flute 1 2 I I1 I2 II II1 II2 III III1 - Keterangan :
Tipe Flute I : tipe flute A
Tipe Flute II : tipe Flute B
Tipe Flute III : tipe flute AB
Tipe Kemasan 1 : RSC
Tipe Kemasan 2 : FTC
Tipe kemasan FTC tidak menggunakan tipe flute AB. Hal ini dikarenakan tipe flute AB yang merupakan double wall board (dua lapis single wall board yang saling berhadapan satu sama lain). Tipe kemasan FTC yang berbentuk telescopic akan menyebabkan penumpukan dari bagian top dan bottom. Hal ini juga akan menyebabkan penumpukan tipe flute yang digunakan oleh tipe kemasan FTC. Sehingga tipe kemasan FTC hanya menggunakan tipe
flute single wall board (flute terletak di tengah-tengah flat sheet), seperti tipe flute A dan B untuk menghindari penumpukan flute.
c. Uji tekan untuk melihat pengaruh posisi ventilasi
Pengujian menggunakan dua tipe kemasan dengan tiga posisi ventilasi, kombinasi yang dilakukan seperti pada Tabel 5.
Tabel 5. Kombinasi antara posisi ventilasi dengan tipe kemasan Tipe kemasan
Posisi
Ventilasi 1 2
I I1 I2
II II1 II2
III III1 III2
Keterangan :
Posisi ventilasi I : seperti yang ditampilkan di Gambar 9 a Posisi ventilasi II : seperti yang ditampilkan di Gambar 9 b Posisi ventilasi III : seperti yang ditampilkan di Gambar 9 c
Tipe Kemasan 1 : RSC
Tipe Kemasan 2 : FTC
5. Analisis Data
Data nilai kekuatan tekan yang diperoleh dari uji tekan diuji dengan uji statistik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan tiga faktor, yaitu tipe kemasan, tipe flute, dan posisi ventilasi dengan ulangan sebanyak tiga kali.
Faktor A : Tipe kemasan A1 : tipe kemasan RSC A2 : tipe kemasan FTC Faktor B : Tipe flute B1 : tipe flute A B2 : tipe flute B Faktor C : Tipe ventilasi
C1 : tanpa perlakuan ventilasi
C2 : posisi ventilasi seperti pada Gambar 9 a C3 : posisi ventilasi seperti pada Gambar 9 b C4 : posisi ventilasi seperti pada Gambar 9 c
Model liner untuk Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan tiga faktor menurut Sudjana (1994) yang digunakan adalah sebagai berikut:
( )ijkl ijk jk ik ij k j i ijkl A B C AB AC BC ABC Y =μ + + + + + + + +ε Dimana:
Yijkl : variabel respon hasil observasi ke-l yang terjadi karena pengaruh bersama taraf i faktor tipe kemasan, taraf ke-j faktor tipe flute, dan taraf ke-k faktor tipe ventilasi. µ : rata-rata yang sebenarnya
Ai : pengaruh taraf ke-i faktor tipe kemasan (i = 1, 2) BBj : pengaruh taraf ke-j faktor tipe flute (j = 1, 2)
Ck : pengaruh taraf ke-k faktor tipe ventilasi (k= 1, 2, 3, 4) ABij : pengaruh interaksi antara taraf ke-i faktor tipe kemasan
dan taraf ke-j faktor tipe flute
ACik : pengaruh interaksi antara taraf ke-i faktor tipe kemasan dan taraf ke-k faktor tipe ventilasi
BCjk : pengaruh interaksi antara taraf ke-j faktor tipe flute dan taraf ke-k faktor tipe ventilasi
ABCijk : pengaruh terhadap variabel respon yang disebabkan oleh interaksi antara taraf ke-i faktor tipe kemasan, taraf ke-j faktor tipe flute, dan taraf ke-k faktor tipe ventilasi
ε(ijk)l : efek pengaruh unit eksperimen ke-l dikarenakan oleh kombinasi perlakuan (ijk)
6. Analisis Biaya
Analisis biaya dilakukan untuk menghitung nilai ekonomis tiap kemasan. Perhitungan nilai ekonomis berdasarkan persamaan di bawah ini:
N = Biaya bahan (kertas) + Biaya pembuatan karton gelombang Dimana:
N : Total biaya pembuatan karton gelombang
Dari total biaya pembuatan karton gelombang akan dipilih total biaya terendah dengan kekuatan kemasan karton gelombang yang baik.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN