Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Cikabayan, Kampus Dramaga IPB. Analisis laboratorium dilaksanakan di Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB dan Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB (yakni
Postharvest Laboratory dan UV-Vis Spectrophotometry Laboratory). Analisis karbohidrat dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2013 sampai Juni 2014.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman jeruk pamelo hasil cangkokan kultivar Nambangan yang telah berumur 5 tahun dan telah berproduksi untuk kedua kalinya, warna plastik pemberongsong yang berbeda, pupuk NPK 15:15:15, pupuk kandang dan senyawa kimia dalam analisis jeruk pamelo. Tinggi tanaman jeruk pamelo mencapai ± 4 m dengan jarak tanam 4 x 3 m. Jenis pembungkus yang digunakan adalah kantong plastik ukuran 24 cm berwarna bening, merah, kuning dan biru. Plastik pemberongsong dilobangi sebanyak 11 lobang pada bagian bawahnya dengan diameter ± 0.5 cm untuk sirkulasi udara.
Peralatan yang digunakan meliputi timbangan analitik, luxmeter Smart Sensor AR 823, Corona thermo-hygrometer, chromameter Konica Minolta CR 10, hand refraktrometer Atago DUE-PSH 10, penetrometer controller MK VI,
centrifuge 5410, spektrofotometer Schimadzu UV-1 800, vortex, alat-alat pertanian, dan alat-alat dalam analisis kimia.
Prosedur Percobaan
Pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan pemeliharaan tanaman jeruk pamelo. Pemeliharaan tersebut meliputi pengendalian gulma dan pemupukan. Pemupukan NPK dilakukan pada awal musim berbunga dengan dosis sebanyak 1 kg per pohon, sedangkan pupuk kandang 12 kg per pohon per tahun. Pengendalian gulma dilakukan secara mekanis selama penelitian. Penelitian ini mencakup pengamatan pada umur daun, perkembangan dan kualitas buah. Umur daun dilakukan pada 2 stadia umur penting daun tanaman jeruk pamelo yang
11
berhubungan dengan source-sink, yakni periode daun muda menjadi daun dewasa dan absisi atau rontoknya daun dewasa. Pengamatan pada umur daun masing-masing terdapat tiga ulangan, baik pada umur daun menjadi dewasa maupun waktu absisi daun.
Pengamatan perkembangan buah dilakukan pada saat tanaman berbuah. Pemilihan cabang sampel untuk dilakukan pengaturan nisbah jumlah daun:buah pada saat buah berumur 3 minggu setelah antesis (MSA). Pemilihan cabang sampel dilakukan pada cabang tersier terpilih yang memiliki diameter pangkal cabang yang relatif sama, yakni ± 1.5 cm. Perkembangan jumlah daun setelah perlakuan diamati setiap 8 minggu untuk memperoleh nisbah jumlah daun:buah yang sesuai perlakuan. Pemberongsongan buah dilakukan pada saat buah berumur 4 MSA dengan diameter buah ± 3.5 cm. Pengamatan yang dilakukan pada perlakuan pemberongsongan buah dengan warna plastik yang berbeda adalah suhu, kelembaban dan intensitas cahaya.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah nisbah jumlah daun:buah dengan taraf, yakni 50:1, 75:1 dan 100:1. Faktor kedua adalah warna plastik pemberongsong yang berbeda, yakni warna bening, merah, kuning dan biru serta tanpa diberongsong sebagai kontrol. Dari kombinasi perlakuan terdapat 15 kombinasi perlakuan percobaan. Setiap perlakuan percobaan terdapat tiga ulangan sehingga terdapat 45 satuan percobaan. Dalam setiap pohon dilakukan pengacakan pada cabang-cabangnya dengan berbagai nisbah jumlah daun:buah.
Model linier dari faktorial RAL secara umum dapat dituliskan sebagai berikut :
Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + εijk
Yijk = nilai pengamatan jeruk pamelo terhadap nisbah jumlah daun:buah ke-i dengan warna plastik pemberongsong ke-j dan ulangan ke-k
μ = rataan umum
αi = pengaruh perlakuan nisbah jumlah daun:buah ke-i
βj = pengaruh perlakuan warna plastik pemberongsong ke-j
(αβ)ij = komponen interaksi dari nisbah jumlah daun:buah dengan warna plastik pemberongsong
εijk = pengaruh acak dari interaksi nisbah jumlah daun:buah dan warna pemberongsong
Data percobaan yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam pada taraf α=5%. Jika analisis sidik ragam menunjukkan hasil beda nyata,
maka dilanjutkan pengujian menggunakan uji Duncan Multiple Range Test
(DMRT) pada taraf α=5%.
Pada penelitian ini dilakukan pengukuran luas daun, bobot kering daun (untuk perhitungan akumulasi karbohidrat daun) dan iklim mikro di dalam pemberongsong selama penelitian. Pengukuran luas daun menggunakan metode gravimetri, dimana pada setiap cabang sampel dipilih secara acak 20 daun pada masing-masing nisbah jumlah daun:buah. Sedangkan pengukuran bobot daun menggunakan 15 sampel yang dilakukan pengulangan tiga kali pada setiap umur perkembangan buah, yakni pada 5, 13 dan 21 MSA. Pengukuran iklim mikro pada pemberongsong dilakukan pada pagi (07.00-09.00), siang (12.00-13.30) dan sore (15.30-17.00). Semua buah jeruk pamelo dipanen pada umur 25 MSA.
12
Peubah pengamatan dalam penelitian ini meliputi: a. Umur daun
Umur daun dilakukan pengamatan pada dua stadia penting dalam perkembangan daun yang berkaitan dengan hubungan source-sink, yakni pada umur daun menjadi daun dewasa dan masa absisi atau rontoknya daun.
1. Umur daun menjadi daun dewasa
Umur daun menjadi daun dewasa dilakukan sejak muncul primordia tunas vegetatif (tunas daun) sampai daun berukuran maksimum dengan kandungan klorofil yang pekat sehingga warna daun menjadi hijau tua. 2. Waktu absisi atau rontoknya daun dewasa
Waktu absisi atau rontoknya daun dewasa dilakukan dengan menghitung lama munculnya tunas daun sampai daun dewasa rontok. b. Selama perkembangan buah
Peubah pengamatan pada saat perkembangan buah dilakukan pada karbohidrat daun dan ukuran buah. Pengamatan karbohidrat daun dilakukan untuk mengetahui banyaknya potensi asimilat yang dimiliki daun untuk mendukung perkembangan buah. Ukuran buah diamati untuk mengetahui pengaruh nisbah jumlah daun:buah dan pemberongsongan terhadap perkembangan dan pembesaran buah.
1. Karbohidrat daun
Pengukuran kandungan karbohidrat daun merupakan pengamatan destruktif. Sampel yang digunakan pada setiap stadia menggunakan cabang sampel yang berbeda pada masing-masing nisbah jumlah daun:buah. Kandungan karbohidrat daun diukur pada tiga stadia perkembangan buah, yakni saat buah berumur 5 minggu setelah antesis (MSA), 13 MSA dan 21 MSA menggunakan metode Luff Schoorl (Sudarmadji et al. 1989). Penentuan karbohidrat dilakukan dengan titrasi menggunakan Na-tiosulfat (Na2S2O3).
2. Pengukuran diameter buah
Pengamatan pengukuran diameter buah dilakukan pada sisi melintang (diameter melintang) sebanyak tiga kali, yakni saat buah berumur 4 MSA, 14 MSA dan 25 MSA (panen).
c. Panen
Pengamatan panen dilakukan pada kualitas eksternal dan internal buah. 1. Kualitas ekstenal buah, meliputi:
Pigmen kulit buah
Pigmen kulit buah jeruk pamelo terdiri atas klorofil dan karotenoid. Menurut Sims dan Gamon (2002) kandungan klorofil total dan karotenoid diukur dengan menggunakan metode spektrofotometri. Sampel yang digunakan adalah lapisan flavedo kulit jeruk pamelo 0.12 g ditambahkan 2 ml asetris (85% aseton+15% tris) lalu gerus dan bilas mortar dengan 1 ml asetris. Setelah itu masukkan ke dalam microtube kemudian sampel tersebut di sentrifuge dengan kecepatan 14 000 rpm selama 10 detik. Pindahkan 1 ml supernatan dan 3 ml asetris dalam cuvet, selanjutnya diukur kandungan
13
klorofil dan karotenoidnya dengan alat spektrofotometer pada panjang gelombang 470 nm, 537 nm, 647 nm, dan 663 nm. Setelah didapat nilai absorbansi, kandungan klorofil dan karotenoid dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Antosianin = 0.08173*A537 - 0.00697*A647 - 0.00223*A663 Klorofil a = 0.01373*A663 - 0.000897*A537 - 0.00305*A647 Klorofil b = 0.02405*A647 - 0.004305*A537 - 0.00551*A663
Karotenoid = (A470 – (17.1*(klorofil a+klorofil b) – 9.479*antosianin)) 119.26
Warna kulit buah
Warna kulit buah dianalisis menggunakan alat Chromameter Konica Minolta CR 10. Skala warna CIE LAB merupakan sebuah perkiraan skala keseragaman warna. Sumbu L* mulai dari atas ke bawah, parameter L* menunjukkan tingkat kecerahan dengan skala 0 (hitam atau gelap) sampai 100 (cerah atau terang). Sumbu a* dan b* tidak memiliki nilai batas yang spesifik. Bila nilai a* positif berarti merah dan bila negatif berarti hijau, sedangkan b* bila positif berarti kuning dan bila negatif berarti biru. Skala warna a* b* bukan parameter yang independen, melainkan merupakan komponen dari derajat hue (hº). Skala tersebut dikalkulasi menjadi derajat hue (hº) = tan-1(b*/a*)] (McGuire 1992).
Kemulusan
Tingkat kemulusan kulit buah diamati dengan cara skoring. Skoring dilakukan dengan cara membagi buah menjadi 8 bagian secara membujur sehingga diperoleh skor 1/8 sampai 1. Skor 1 menunjukkan bahwa kulit buah mempunyai tingkat kemulusan 100%.
Kelunakan buah
Pengukuran kelunakan buah dilakukan dengan alat penetrometer elektrik controller MK VI berdasarkan daya penetrasi jarum terhadap kulit pamelo. Lubang tusukan dilakukan pada bagian pangkal, tengah dan ujung buah. Tusukan dilakukan selama 5 detik, beban yang digunakan adalah 50 g. Angka yang terbaca setelah penusukan selama 5 detik dinyatakan sebagai tingkat kelunakan buah (mm 50 g-1 5 detik-1). Semakin besar angka yang diperoleh maka semakin tinggi tingkat kelunakan buah.
Volume buah
Pengukuran volume buah menggunakan prinsip Hukum Archimedes, yakni dengan cara memasukkan buah jeruk pamelo ke dalam wadah yang berisi penuh air. Air yang tumpah setelah buah dimasukkan ke dalam labu ukur untuk diukur volumenya. Volume air yang tumpah tersebut dinyatakan sebagai volume buahyang dinyatakan dalam ml.
Bobot buah
Bobot buah ditimbang menggunakan timbangan analitik dan dinyatakan dalam gram (g).
14
Tebal kulit buah
Tebal kulit merupakan rata-rata tebal kulit dari dua sisi diameter melintang buah (Susanto 2004). Tebal kulit buah dinyatakan dalam satuan cm.
Bagian dapat dimakan (BDD)
Bagian dapat dimakan = Bobot daging buahBobot buah (g) (g) X 100%
2. Kualitas internal buah adalah kualitas dari daging buah, terdiri atas: Kandungan jus buah (%)
Kandungan jus diperoleh dari perbandingan volume sari daging buah yang dihaluskan (ml) dengan bobot buah (g), dengan rumus: Kandungan jus =Volume jus (ml) Bobot buah (g) X 100%
Padatan terlarut total (PTT)
PTT merupakan tingkat kemanisan jus buah. Penentuan PTT dilakukan dengan meneteskan perasan buah jeruk pada hand refraktrometer dan dibaca dalam satuan ºBrix.
Asam tertitrasi total (ATT)
Kandungan ATT diukur menggunakan metode titrasi NaOH 0.1 N dengan larutan indikator phenolftalein (PP) (Nielson 1998). Sampel yang digunakan perasan buah sebanyak 25 g kemudian ditera hingga volume menjadi 250 ml. Sampel yang diperoleh kemudian ditetesi larutan indikator lalu dilakukan titrasi. ATT jus jeruk pamelo dinyatakan dalam satuan %.
Kandungan ATT =volume NaOH x N NaOH x fp x 64
Bobot sampel (mg) X 100% fp = faktor pengenceran
Rasio PTT/ATT
Rasio PTT/ATT merupakan indeks kematangan buah. Semakin tinggi nilai rasio PTT/ATT menunjukkan bahwa buah semakin matang.
Vitamin C
Kandungan vitamin C dilakukan dengan titrasi iodium (Sudarmadji
et al. 1989). Sampel daging buah 10 g dan letakkan pada labu takar 100 ml, kemudian tambahkan air dan kocok. Larutan homogen tersebut disaring. Filtrate ditambah dengan larutan indikator amilum 1%, dan titrasi dengan iodium 0.01 N. Sebelum dilakukan titrasi, iodium dilarutkan menggunakan pelarut Kalium Iodida (KI), karena iodium sulit untuk larut dalam air. Kandungan vitamin C jus jeruk pamelo dinyatakan dalam mg 100 g-1.
Kandungan vitamin C dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Vitamin C = volume titrasi iodin 0.01 N x 0.88 mg x fp
15
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Daun Jeruk Pamelo
Dalam budidaya jeruk pamelo terdapat stadia penting dalam umur daun yang berkaitan dengan hubungan source-sink, yakni umur daun menjadi dewasa dan waktu absisi atau rontoknya daun. Kedua stadia umur daun tersebut berpengaruh dalam proses perkembangan buah. Periode daun muda sebagai sink
sangat penting dipelajari untuk mengetahui lamanya daun akan berkompetisi dengan buah dalam memperoleh karbohidrat. Sedangkan absisi atau rontoknya daun dapat digunakan untuk mempelajari lamanya daun mampu menopang kebutuhan buah dalam menyediakan asimilat untuk pertumbuhan dan perkembangan buah.
a. Umur daun menjadi daun dewasa
Daun muda bersaing dengan buah, karena juga berperan sebagai sink
dalam awal perkembangannya. Primordia tunas daun jeruk pamelo menjadi daun dewasa memerlukan waktu minimal 6 minggu (Gambar 1). Primordia tunas daun menjadi daun muda membutuhkan waktu 3 sampai 4 minggu, dimana daun muda membuka sempurna pada umur 3 minggu. Pada umur 4 dan 5 minggu, ukuran daun sudah mencapai maksimum namun kandungan klorofilnya masih rendah sehingga warna daun menjadi hijau muda.
1 minggu 2 minggu 3 minggu
4 minggu 5 minggu 6 minggu
16
Daun muda berkembang menjadi daun dewasa dan tidak akan berkompetisi lagi dengan buah karena saat daun menjadi dewasa maka daun tersebut menjadi exporter karbohidrat atau disebut juga sebagai source. Daun dewasa disebut organ source, karena sudah mensintesis karbohidrat lalu mengekspornya pada bagian lain tanaman. Daun dewasa dicirikan dengan ukuran telah maksimum, konsentrasi klorofil, penyerapan energi cahaya dan aktivitas fotosintesis tinggi serta rendahnya laju respirasi (Kriedemann et al.
1970; Jeong et al. 2004). Kriedemann et al. (1970) melaporkan bahwa perluasan ukuran daun bertujuan untuk peningkatan kontribusi daun dalam fotosintesis. Pada daun yang berkembang, jaringan palisade dan mesofil berkembang dengan cepat dibandingkan daun yang dewasa. Daun yang telah mencapai ukuran maksimum, konsentrasi klorofil dan aktivitas fotosintesisnya akan meningkat.
Selama perkembangan daun terjadi beberapa perubahan, diantaranya adalah perubahan ukuran, kandungan klorofil, laju respirasi, aktivitas fotosintesis dan enzim ribulosa 1,5-difosfat karboksilase. Kandungan total klorofil, aktivitas enzim ribulosa 1,5-difosfat karboksilase dan fotosintesis cenderung meningkat, namun laju respirasi mengalami penurunan seiring bertambahnya umur daun (Bakker dan Hardwick 1973; Nii et al. 1995; Roberts
et al. 1997; Jeong et al. 2004).
Daun menjadi daun dewasa pada umur 6 minggu, dimana daun sudah mencapai ukuran maksimum dengan kandungan klorofil yang tinggi sehingga warna daun menjadi hijau tua (pekat). Roberts et al. (1997) melaporkan bahwa aktivitas fotosintesis pada daun dewasa semakin meningkat sampai daun tersebut mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ketika jumlah akumulasi karbon dari fotosintesis lebih besar dari kebutuhan respirasi dan pertumbuhan, maka keseimbangan karbon menjadi positif sehingga daun dewasa tersebut
akan menjadi „carbon exporter‟ atau „source’. b. Absisi atau rontoknya daun dewasa
Proses senesen pada daun umumnya berasosiasi dengan menurunnya kandungan klorofil daun (Biswal and Biswal 1999; Wetterich et al. 2014). Absisi daun jeruk pamelo terjadi pada saat daun berumur 7.3 bulan sejak munculnya primordia daun. Daun yang rontok tetap berwarna hijau namun terdapat sedikit warna kekuningan (Gambar 2).
17
Daun dewasa jeruk pamelo yang rontok sebelumnya telah mengalami senesen yang ditunjukkan oleh warna daun tersebut berwarna hijau dengan sedikit warna kuning. Warna kuning diduga karena klorofil daun telah terdegradasi dan adanya retranslokasi unsur hara pada daun tersebut. Biswal dan Biswal (1999) melaporkan bahwa daun yang senesen akan mengekspor nutrisi di dalamnya ke bagian lain yang sedang tumbuh. Selain itu, daun yang senesen dicirikan dengan hilangnya klorofil, perubahan bentuk ammonia ke glutamin (yang diketahui sebagai bentuk nitrogen yang dapat diangkut) dan pati ke bentuk gula. Kloroplas merupakan sasaran utama terjadinya induksi degradasi selama senesen.
Rontoknya daun jeruk pamelo terjadi pada saat daun berumur 7.3 bulan. Hal tersebut menunjukkan bahwa periode daun menjadi „source’ berlangsung selama < 6 bulan sebelum rontok karena daun tersebut membutuhkan waktu untuk bertransisi dari sink ke source minimal 6 minggu (1.5 bulan). Rontoknya daun dewasa pada jeruk pamelo diduga karena adanya peran faktor hormon endogen. Iglesias et al. (2007) menyatakan bahwa etilen telah diidentifikasi sebagai penginduksi terjadinya absisi suatu organ, baik daun, bunga maupun buah. Katz et al. (2005) dan Wetterich et al. (2014) melaporkan bahwa lepas atau rontoknya daun jeruk manis karena tingginya kandungan etilen pada daun tersebut.
Kondisi Mikro dalam Pemberongsong Buah Selama Penelitian
Pemberongsongan buah menimbulkan kondisi mikro di dalam pemberongsong yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya, seperti suhu, penyerapan dan transmisi cahaya yang diteruskan pada buah (Son and Lee 2008; Yang et al. 2009). Pengukuran kondisi mikro pada perlakuan warna pemberongsong meliputi suhu, kelembaban dan intensitas cahaya (Tabel 3). Nielson (1998) menyatakan bahwa panjang gelombang cahaya warna merah, kuning dan biru mempunyai masing-masing adalah 620-680 nm, 550-580 nm, dan 440-470 nm. Panjang gelombang cahaya berbanding terbalik dengan energi yang terkandung di dalamnya. Cahaya dengan panjang gelombang yang rendah memiliki energi yang lebih tinggi dibandingkan cahaya dengan panjang gelombang yang tinggi.
Tabel 3 Kondisi lingkungan mikro dalam pemberongsong buah
Perlakuan Suhu ( ºC) Kelembaban (%) Intensitas Cahaya (lux) Tanpa diberongsong 32.0±1.1 50.0±3.9 12800±621 Plastik bening 33.7±1.0 44.1±3.4 7969±493 Plastik merah 34.5±1.4 42.7±3.5 6303±363 Plastik kuning 33.0±1.1 46.7±3.1 5035±402 Plastik biru 33.5±0.9 45.3±3.2 3870±538
Keterangan: ± merupakan standar deviasi.
Suhu dan kelembaban relatif dalam pemberongsong berbanding terbalik. Suhu tertinggi ditunjukkan oleh plastik berwarna merah dibandingkan pemberongsong yang lainnya, yakni mencapai 34.5 ºC dan kelembaban relatif terendah sebesar 42.7%. Sedangkan plastik berwarna kuning menghasilkan
18
kondisi yang berbalik dengan plastik merah, yakni suhu yang terendah dan kelembaban relative yang tertinggi. Yang et al. (2009) menyatakan bahwa jenis pemberongsong dengan suhu dan penyerapan cahaya yang tinggi menyebabkan iklim mikro yang mampu meningkatkan laju perkembangan buah, ukuran dan bobot buah. Lechaudel dan Joas (2007) melaporkan bahwa peningkatan suhu mampu meningkatkan kekuatan sink, seperti translokasi asimilat dan laju perkembangan buah. Sementara itu Zhou et al. (2012) melaporkan bahwa kelembaban yang tinggi di dalam pemberongsong menurunkan kekuatan sink dan laju transpirasi buah sehingga aliran larutan dan asimilat ke dalam buah mengalami penurunan.
Berdasarkan kondisi mikro di dalam pemberongsong, di duga kekuatan
sink yang tertinggi terdapat pada plastik merah sedangkan kekuatan sink terendah pada plastik kuning. Pemberongsong dengan warna berbeda tidak hanya menyebabkan perbedaan pada suhu dan kelembaban relatif melainkan juga pada intensitas cahaya di dalamnya. Intensitas cahaya tertinggi ditunjukkan pada pemberongsong buah berwarna bening yang mampu meneruskan cahaya pada buah sebesar 62.3%. Semakin besar panjang gelombang suatu warna menyebabkan intensitas cahaya yang diterima semakin besar pula. Hal serupa dilaporkan oleh Son dan Lee (2008), dimana semakin tinggi panjang gelombang suatu cahaya dari pemberongsong maka akan disertai dengan meningkatnya transmisi cahaya yang diteruskan ke buah (transmisi cahaya pemberongsong bening>kuning>biru). Lin dan Jolliffe (1996) melaporkan bahwa tingginya intensitas cahaya menyebabkan tingginya kandungan klorofil pada kulit buah dan memperpanjang masa simpan buah.
Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam
Rekapitulasi hasil sidik ragam peubah pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nisbah jumlah daun:buah tidak berpengaruh nyata pada kandungan karbohidrat daun pada 5 dan 13 MSA, klorofil kulit buah, kecerahan kulit buah, kemulusan kulit, kelunakan buah, tebal kulit, BDD, kandungan jus, PTT dan vitamin C namun berpengaruh nyata pada karbohirat daun pada 21 MSA, kandungan karotenoid, derajat hue, volume buah, bobot buah, ATT dan rasio PTT/ATT. Perlakuan pemberongsongan buah tidak berpengaruh nyata pada kecerahan kulit buah, kemulusan, kelunakan, kandungan jus, ATT dan vitamin C namun berpengaruh nyata pada pigmen kulit buah (klorofil dan karotenoid), derajat hue, volume buah, bobot buah, tebal kulit, BDD, PTT dan rasio PTT/ATT. Interaksi antara dua faktor berpengaruh nyata hanya pada karotenoid, kecerahan kulit buah dan derajat hue.
Data klorofil b sebelum diolah dilakukan transformasi terlebih dahulu menggunakan transformasi akar kuadrat (Y+0.5)0.5 agar data menyebar normal (Gomez dan Gomez 1995). Hal tersebut dilakukan karena koefisien keragaman (KK) dari analisis sidik ragam klorofil b > 25%.
19
Tabel 4 Rekapitulasi sidik ragam pada peubah pengamatan Peubah Pengamatan Nisbah Jumlah
daun:buah Warna Pemberongsong Interaksi KK (%) Karbohidrat daun: 5 MSA tn - - 4.42 13 MSA tn - - 1.25 21 MSA * - - 0.81
Pigmen kulit buah :
Klorofil a tn ** tn 22.53
Klorofil b tn ** tn 0.10a
Total klorofil tn ** tn 24.06
Karotenoid ** ** * 15.40
Warna kulit buah :
Kecerahan (L) tn tn ** 1.73 Derajat hue (hº) ** ** ** 1.66 Kemulusan tn tn tn 9.37 Kelunakan tn tn tn 7.07 Volume Buah ** ** tn 10.81 Bobot Buah ** ** tn 12.83 Tebal kulit tn * tn 10.28 BDD tn ** tn 4.70 Kandungan Jus tn tn tn 13.50 PTT tn * tn 4.28 ATT * tn tn 8.30 Rasio PTT/ATT * * tn 8.40 Vitamin C tn tn tn 4.43
Keterangan : KK = koefisien keragaman; ** = berbeda sangat nyata menurut analisis sidik ragam pada taraf 0.01; * = berbeda nyata menurut analisis sidik ragam pada taraf 0.05; tn = tidak nyata; a hasil transformasi (Y+0.5)0.5.
Karbohidrat Daun Jeruk Pamelo
Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata dari perlakuan nisbah jumlah daun:buah terhadap karbohidrat daun pada 5 dan 13 minggu setelah antesis (MSA), namun menunjukkan perbedaan yang nyata pada 21 MSA (Tabel 5). Hal serupa telah dilaporkan oleh Nebauer et al. (2011) pada
jeruk „Salustiana‟yang menunjukkan bahwa karbohidrat daun pada nisbah jumlah
daun:buah yang terbanyak nyata lebih tinggi pada stadia pematangan buah. Tabel 5 Karbohidrat daun jeruk pamelo
Perlakuan Rata-rata Luas Daun (cm2 )
Karbohidrat Daun (%) 5 MSA 13 MSA 21 MSA Nisbah Jumlah Daun:Buah
50:1 54.9 11.3 10.9 11.5 b
75:1 55.7 11.1 11.2 11.5 b
100:1 54.6 11.1 11.0 11.8 a
Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji DMRT pada taraf α=5%.
20
Nisbah jumlah daun:buah mempengaruhi ketersediaan karbohidrat yang akan ditranslokasikan untuk pertumbuhan dan perkembangan buah. Total luas daun berkorelasi positif terhadap akumulasi karbohidrat, yakni dengan koefisien korelasi (r) 0.9 < r < 1 (Lampiran 1). Dengan demikian, semakin tinggi total luas daun akan diikuti peningkatan akumulasi karbohidrat pada daun tersebut. Genard
et al. (2008) menyatakan bahwa jumlah organ sink dan ketersediaan organ source
merupakan hal penting dalam alokasi karbohidrat dari source ke sink.
Akumulasi karbohidrat daun pada perlakuan 100:1 (berat kering daun pamelo=0.015 g cm-2) lebih besar dari nisbah jumlah daun:buah yang lebih rendah. Akumulasi karbohidrat daun sebesar 9.0 sampai 9.7 g pada nisbah 100:1, 6.9 sampai 7.1 g pada nisbah 75:1 dan 4.5 sampai 4.7 g pada nisbah 50:1. Goldschmidt (1999) menyatakan bahwa ketersediaan karbohidrat pada daun adalah faktor pembatas utama untuk mendukung pembesaran buah. Selanjutnya, menurut Nebauer et al. (2011) bahwa saat kondisi jumlah karbohidrat yang
terbatas pada jeruk manis „Salustiana‟, hampir semua karbohidratnya digunakan
untuk perkembangan buah.
Pada perlakuan nisbah jumlah daun:buah 100:1 memiliki jumlah daun terbanyak untuk setiap buahnya sehingga berpotensi menyediakan asimilat yang lebih tinggi dibandingkan nisbah jumlah daun:buah yang lebih sedikit. Kandungan karbohidrat daun pada nisbah jumlah daun:buah 100:1 pada 21 MSA berbeda nyata diduga karena perlakuan tersebut menghasilkan akumulasi karbohidrat dalam jumlah yang banyak dan sudah melebihi kebutuhan buah. Iglesias et al.
(2007) menyatakan bahwa tingginya translokasi karbohidrat untuk pembesaran buah terjadi pada stadia perkembangan buah dan menurun pada stadia