Penelitian ini dirancang dengan metode survei deskriptif-korelasional.
Menurut Kerlinger dan Lee (2000), penelitian survei mengkaji populasi (universe) yang besar dengan menyeleksi serta mengkaji sampel yang dipilih dari populasi tersebut. Salah satu keuntungan utama dari penelitian survei adalah memungkinkannya pembuatan generalisasi untuk populasi yang besar. Wallace (Singarimbun & Effendi, 2006), menggambarkan penelitian survei sebagai suatu proses untuk mentransformasikan lima komponen ilmiah dengan menggunakan enam kontrol metodologis, komponen-komponen informasi ilmiah tersebut adalah: (1) teori, (2) hipotesa, (3) observasi, (4) generalisasi empiris, dan (5) penerimaan/penolakan hipotesis. Kontrol metodologis adalah: (1) deduksi logika, (2) interpretasi, penyusunan instrumen, penyusunan skala dan penentuan sampel, (3) pengukuran penyederhanaan data, dan perkiraan parameter, (4) pengujian hipotesis, inferensi logika, (5) formulasi konsep, dan (6) formulasi proposisi dan penataan proposisi. Menurut Whitney (Nazir, 1983), metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.
Dalam penelitian ini diidentifikasi dan dianalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi penyuluh dalam menjalankan perannya sebagai penyuluh pertanian. Konsep persepsi yang digunakan adalah konsep Litterer yakni pengertian tentang peran PPL dalam penyuluhan pertanian. Hasilnya diharapkan akan memberikan gambaran keberadaan faktor-faktor tersebut serta peran-peran yang dipersepsikan oleh penyuluh pertanian dalam menjalankan tugasnya.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Bulan April hingga Agustus 2011 di empat kabupaten Provinsi Banten, yaitu Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Tangerang. Lokasi penelitian dipilih mengingat Provinsi Banten merupakan daerah pemekaran baru yang memiliki potensi pertanian yang cukup baik.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penyuluh pertanian PNS yang ada di Provinsi Banten. Menurut data dari Kementerian Pertanian 2011, jumlah penyuluh PNS yang ada di Provinsi Banten adalah 345 orang yang tersebar di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Lebak 70 orang, Kabupaten Pandeglang 105 orang, Kabupaten Serang 92 orang, dan Kabupaten Tangerang 78 orang.
Penarikan sampel menggunakan teknik simple random sampling yang diproporsikan sesuai jumlah penyuluh di masing-masing lokasi.
Besarnya sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin (Sevilla, 1993), yaitu:
Keterangan:
Batas eror yang digunakan adalah delapan persen, sehingga dengan menggunakan rumus di atas, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 110 orang. Data jumlah sampel berdasarkan proporsi populasi di masing-masing kabupaten disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Data sampel penelitian
No Lokasi Penelitian Populasi (orang) Sampel (orang)
1 Kabupaten Lebak 70 22
2 Kabupaten Pandeglang 105 33
3 Kabupaten Serang 92 30
4 Kabupaten Tangerang 78 25
Jumlah 345 110
Data dan Instrumentasi Data
Data yang dihimpun dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari responden melalui wawancara dan pengisian kuesioner, sedangkan data sekunder merupakan data
N
n = --- 1 + N
n = besarnya sampel N = besar populasi e = batas eror (8%)
yang diperoleh dari sumber-sumber terkait yang mendukung dan melengkapi data primer. Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
(I) Karakteristik penyuluh:
(1) Umur adalah usia penyuluh hingga penelitian dilakukan, diukur menggunakan skala rasio dalam satuan tahun, yang dibulatkan ke tahun di tanggal ulang tahun terdekat.
(2) Pendidikan adalah jumlah tahun yang ditempuh penyuluh dalam menyelesaikan proses belajar di sekolah formal, diukur menggunakan skala rasio dalam satuan tahun.
(3) Masa kerja adalah jumlah tahun yang sudah dialami oleh penyuluh untuk melaksanakan tugas dan perannya sebagai penyuluh pertanian, diukur menggunakan skala rasio dalam satuan tahun.
(4) Pelatihan adalah proses belajar yang pernah diikuti penyuluh berupa pelatihan yang relevan dengan pekerjaan sebagai penyuluh pertanian dinyatakan dalam jumlah kumulatif hari efektif pelatihan, dengan skala rasio dalam satuan hari.
(5) Pendapatan adalah jumlah rupiah yang diperoleh penyuluh dalam satu bulan terakhir saat penelitian dilakukan, diukur menggunakan skala rasio dan dinyatakan dalam satuan rupiah.
(II)Lingkungan fisik:
(1) Kelembagaan adalah dukungan lembaga terhadap tugas dan peran yang dijalankan oleh penyuluh. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(2) Makna pekerjaan adalah penilaian penyuluh terhadap pekerjaan sebagai penyuluh dan dampaknya terhadap masyarakat. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(3) Luas wilayah binaan adalah jumlah wilayah yang menjadi binaan penyuluh dalam melaksanakan perannya sebagai penyuluh. Diukur menggunakan skala rasio, kemudian dikelompokkan dengan kategori sangat rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.
(4) Jumlah petani binaan adalah banyaknya petani yang menjadi binaan penyuluh dalam melaksanakan perannya sebagai penyuluh pertanian.
Diukur menggunakan skala rasio, kemudian dikelompokkan dengan kategori sangat rendah, rendah, tinggi, dan sangat tinggi.
(5) Pembinaan/supervisi adalah penilaian penyuluh terhadap efektivitas pembina (keahlian manajemennya, pengetahuan, kesuksesan dan kemampuan dalam memecahkan masalah) dan hubungan interpersonal yaitu baik-buruknya hubungan dengan pengawasnya misalnya, dapat belajar dari pengawas tersebut, bagaimana pengawas mendukungnya dan pengawas tersebut secara jujur berkeinginan untuk mendengarkan berbagai saran dan memberikan penghargaan untuk suatu hasil bekerja yang baik. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni: sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(6) Pengembangan karir adalah penilaian penyuluh terhadap kesempatan pengembangan karir seperti pelatihan, pendidikan, seminar dan kegiatan pengembangan diri lainnya serta kesempatan untuk promosi atau naik pangkat. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni: sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(III) Lingkungan sosial ekonomi;
(1) Lingkungan kerja adalah penilaian penyuluh terhadap kondisi lingkungan kerja termasuk kecukupan dan kemudahan akses terhadap sarana prasarana kerja. Diukur dalam skala ordinal dengan kategori, yakni: sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik..
(2) Peluang kemitraan adalah potensi yang tersedia bagi penyuluh untuk membangun kemitraan dengan pelaku usaha yang berhubungan dengan pertanian seperti pelaku usaha sarana produksi usahatani. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni: sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(3) Akses terhadap sumberdaya ekonomi adalah keterjangkauan sumberdaya perekonomian yang berhubungan dengan usahatani padi seperti modal dan pemasaran. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni:
sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(4) Akses terhadap media adalah kemampuan penyuluh mendapatkan informasi usahatani padi yang dibutuhkan terkait tugas dan perannya sebagai penyuluh pertanian. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni:
sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(IV) Motivasi:
(1) Motivasi berprestasi adalah dorongan yang dimiliki penyuluh untuk meningkatkan prestasi kerjanya dalam penyuluhan pertanian padi. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni: sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(2) Motivasi berafiliasi adalah dorongan yang dimiliki penyuluh untuk terus mengembangkan diri, dorongan untuk selalu ikut serta dalam setiap kesempatan untuk maju, keinginan untuk diterima oleh orang lain dalam lingkungan kerja, dan keinginan untuk dihormati dalam lingkungan kerjanya. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni:
sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(3) Motivasi kekuasaan adalah dorongan yang dimiliki oleh penyuluh untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan dalam lingkungan kerjanya. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori, yakni: sangat buruk, buruk, baik, dan sangat baik.
(V) Persepsi penyuluh pertanian lapang (PPL) tentang perannya dalam penyuluhan pertanian padi, diukur menggunakan skala Likert dengan kategori: 1, 2, 3, dan 4. Peran-peran tersebut adalah:
(1) Pendidik (2) Komunikator (3) Konsultan
(4) Motivator/pendorong (5) Pendamping
(6) Perencana (7) Analisator
(8) Ahli evaluasi kegiatan dan hasil penyuluhan
(9) Ahli dalam memilih dan menerapkan metode penyuluhan (10) Ahli teknik pertanian
(11) Ahli analisis bisnis/kewirausahaan (12) Fasilitator/ahli fasilitasi.
(VI) Perilaku penyuluh pertanian lapang tentang budidaya padi sawah:
(1) Pengetahuan adalah kemampuan kognitif penyuluh pertanian lapang tentang budidaya padi sawah. Diukur menggunakan skala ordinal dengan kategori sangat rendah, rendah, tinggi, dan sangat tinggi.
(2) Sikap adalah penilaian penyuluh pertanian lapang tentang budidaya padi sawah. Diukur menggunakan skala ordinal, dengan kategori:
sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju.
Instrumentasi
Instrumen diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat dari responden sehingga diperoleh gambaran yang tepat tentang keseluruhan populasi. Instrumen penelitian yang dibangun terdiri atas enam bagian. Bagian pertama berisi tentang karakteristik penyuluh pertanian lapang (PPL), bagian kedua tentang penggalian data lingkungan fisik, bagian ketiga tentang lingkungan sosial ekonomi, bagian keempat tentang motivasi, bagian kelima tentang persepsi PPL mengenai perannya, dan bagian keenam tentang penggalian data perilaku PPL mengenai budidaya padi sawah.
Instrumentasi bagian I diukur menggunakan skala pengukuran rasio, sebagian lainnya menggunakan skala ordinal, berupa pengukuran persepsi.
Teknik pengukuran persepsi dalam penelitian ini menggunakan skala Likert dengan tingkatan skor 1 (sangat tidak setuju), 2 (tidak setuju), 3 (setuju), dan 4 (sangat setuju). Penggunaan empat tingkatan skala bertujuan untuk menghilangkan peluang responden untuk memilih nilai netral, sehingga dengan tingkatan skala tersebut dapat diperoleh data persepsi yang lebih akurat. Selain itu, kuesioner persepsi dibuat dengan menggunakan pernyataan positif dan pernyataan negatif.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen Validitas Instrumen
Kesahihan atau validitas instrumen dapat diperoleh jika pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner tersebut mampu mengungkapkan apa yang ingin diukur. Upaya untuk memperoleh instrumen yang valid dilakukan dengan uji
validitas. Validitas yang diuji adalah validitas kerangka (construct validity).
Validitas kerangka diperoleh dengan menetapkan kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian, kemudian atas dasar konsep-konsep itulah disusun tolok ukur operasionalnya. Menurut Singarimbun dan Effendi (2006), langkah-langkah pengujian validitas konstrak adalah sebagai berikut:
(1) Mendefinisikan secara operasional konsep yang diukur. Suatu konsep selalu memiliki konstrak. Konstrak tersebut harus dicari dengan berbagai cara berikut ini:
(a) Mencari definisi dan rumusan tentang konsep yang diukur, yang telah ditulis para ahli dalam literatur. Jika sekiranya telah ada rumusan yang cukup operasional untuk digunakan sebagai alat pengukur, maka rumusan tersebut dapat langsung dipakai. Bila rumusan belum operasional, maka tugas peneliti merumuskannya seoperasional mungkin.
(b) Kalau sekiranya di dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi atau rumusan konsep yang diukur, maka tugas penelitilah untuk membuat definisi dan rumusan konsep tersebut. Untuk lebih mematangkan definisi dan rumusan tersebut, peneliti harus mendiskusikannya dengan para ahli lain. Pendapat para ahli lain ini kemudian disarikan ke dalam bentuk rumusan yang operasional.
(c) Menanyakan langsung kepada calon responden penelitian mengenai aspek-aspek konsep yang akan diukur. Dari jawaban yang diperoleh, peneliti dapat membuat kerangka konsep dan kemudian menyusun pertanyaan yang operasional.
(2) Melakukan uji coba skala pengukur tersebut pada sejumlah responden.
(3) Menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total menggunakan rumus teknik korelasi product moment Pearson, yang rumusnya sebagai berikut:
N(∑XY) – (∑X ∑Y)
r = ---
√ [N∑X2 – (∑X)2] [N∑Y2 – (∑Y)2
Keterangan: r = koefisien korelasi product momentPearson ]
N = Jumlah pengamatan dari masing-masing variabel X = mean dari variabel X
Y = mean dari variabel Y
Untuk memudahkan penghitungan, digunakan program SPSS versi 18.
Hasil uji validitas tersaji pada Lampiran 2, yang menunjukkan instrumen penelitian dinyatakan valid dengan nilai koefisien validitas di atas 0,60.
Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas instrumen adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Alat ukur bila dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat ukur tersebut reliabel. Reliabilitas menunjukkan konsistensi suatu alat ukur dalam mengukur gejala yang sama (Singarimbun dan Effendi, 2006).
Teknik yang digunakan untuk mengukur reliabilitas instrumen dalam penelitian ini adalah dengan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach (Marzuki et al., 2000) dengan formula:
k Σσi r = (1 - )
2
k – 1 σ Keterangan:
2
r = Koefisien reliabilitas yang dicari k = Jumlah butir pertanyaan (soal) σi2
σ = Varians butir pertanyaan (soal)
2
Tingkat reliabilitas instrumen ditentukan berdasarkan skala Alpha Cronbach 0 – 1 (Azwar, 2003). Adapun nilai hasil uji reliabilitas dikelompokkan sebagai berikut:
= Varians skor tes
(1) Kurang reliabel, nilai Alpha Cronbach 0,00 – 0, 20 (2) Agak reliabel, nilai Alpha Cronbach 0,21 – 0,40 (3) Cukup reliabel, nilai Alpha Cronbach 0,41 – 0,60 (4) Reliabel, nilai Alpha Cronbach 0,61 – 0,80 (5) Sangat reliabel, nilai Alpha Cronbach 0,81 – 1,00
Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa reliabilitas instrumen penelitian secara keseluruhan berada pada alpha = 0,976. Dengan demikian instrumen
penelitian dinyatakan sangat reliabel. Data hasil analisis reliabilitas terlampir pada Lampiran 2.
Pengumpulan Data
Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terstruktur menggunakan kuesioner sebagai alat untuk memperoleh data. Selain itu, dilakukan wawancara mendalam kepada beberapa informan untuk mendapatkan data pendukung.
Kegiatan pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu tenaga enumerator.
Adapun proses pengumpulan data, sumber data, dan teknik pengumpulan data disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Sumber data dan teknik pengumpulan data penelitian No Data dan Informasi yang
Ingin Diperoleh
Sumber Data/Informasi
Teknik Pengumpulan Data
1 Demografi wilayah Pemprov Banten, Pemda Kabupaten
Studi dokumentasi 2 Data penyuluh pertanian
lapang
Pemprov Banten, Pemda Kabupaten
Studi dokumentasi 3 Karakteristik penyuluh Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner
4 Kelembagaan Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 5 Makna pekerjaan Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 6 Luas wilayah binaan Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 7 Jumlah petani binaan Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 8 Pembinaan dan supervisi Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 9 Pengembangan karir Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 10 Lingkungan kerja Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 11 Peluang kemitraan Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 12 Akses terhadap sumberdaya
ekonomi
Penyuluh pertanian lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 13 Akses terhadap media Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner
14 Motivasi Penyuluh pertanian
lapang (PPL)
Wawancara dan pengisian kuesioner 15 Persepsi penyuluh tentang
perannya
Penyuluh pertanian lapang (PPL)
Wawancara, pengisian kuesioner
Analisis Data
Analisis data yang terkumpul menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Untuk analisis statistik deskriptif menggunakan frekuensi, persentase, rataan skor, total rataan skor dan tabulasi silang, kemudian dilakukan analisis statistika inferensial untuk melihat hubungan antar variabel terikat dengan variabel bebas adalah dengan menggunakan analisis korelasi rank Spearman (Siegel, 1994). Untuk memudahkan pengolahan data digunakan program SPSS versi 18. Selain itu, untuk menentukan prioritas strategi pengembangan peran penyuluh pertanian digunakan analisis SWOT dan analisis AHP.
Menurut Rangkuti (2008), analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi korporasi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Proses penyusunan rencana strategis melalui tiga tahap analisis, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) analisis data, dan (3) pengambilan keputusan. Pengumpulan data dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak terkait seperti penyuluh, LSM, ketua kelompok tani, dan pemerintah setempat.
Analisis berjenjang (analytic hierarchy process/AHP) bertujuan untuk menentukan skala prioritas atas alternatif pilihan berdasarkan suatu proses analisis secara berjenjang dan terstruktur atas variabel keputusan (Dermawan, 2009).
84
Melalui UU No. 23 Tahun 2000 tentang status karesidenan Banten Provinsi Jawa Barat berubah menjadi Provinsi Banten. Visi Banten “Rakyat Banten Sehat berlandaskan iman dan taqwa“ yang berarti pada saat itu masyarakat Banten ada dalam kondisi sehat. Wilayah Provinsi Banten memiliki luas wilayah 8.800, 83 km2
Wilayah Provinsi Banten terletak pada batas astronomis 105 .
0 1’11’’-1060 7’12’’BT dan 500 7’50’’-700 1’1’’ LS, mempunyai posisi strategis pada lintas perdagangan internasional dan nasional. Temperatur di daerah pantai dan perbukitan berkisar antara 220C dan 320C, sedangkan suhu di pegunungan dengan ketinggian antara 400-1.350 m dapat mencapai antara 180-290
Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial, Selat Sunda merupakan salah satu jalur yang dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia, Selandia Baru, dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia dan Singapura. Di samping itu Banten merupakan jalur perlintasan/penghubung dua pulau besar di Indonesia, yaitu Jawa dan Sumatera.
Bila dikaitkan posisi geografis dan pemerintahan maka wilayah Banten terutama Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang merupakan wilayah penyangga bagi Ibukota Negara. Secara ekonomi wilayah Banten mempunyai banyak industri.
Wilayah Provinsi Banten juga memiliki beberapa pelabuhan laut yang dikembangkan sebagai antisipasi untuk menampung kelebihan kapasitas dari pelabuhan laut di Jakarta dan sangat mungkin menjadi pelabuhan alternatif dari Singapura.
C.
Adapun wilayah perbatasan Provinsi Banten adalah sebagai berikut: Sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa. Sebelah timur berbatasan dengan DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia. Sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda.
Topografi
Topografi wilayah Provinsi Banten berkisar pada ketinggian 0 – 1.000 m di atas permukaan laut (dpl). Secara umum kondisi topografi wilayah Provinsi Banten merupakan dataran rendah yang berkisar antara 0 – 200 m dpl yang
terletak di daerah Kota Cilegon, Kota Tangerang, Kabupaten Pandeglang, dan sebagian besar Kabupaten Serang. Adapun daerah Lebak Tengah dan sebagian kecil Kabupaten Pandeglang memiliki ketinggian berkisar 201 – 2.000 m dpl, dan daerah Lebak Timur memiliki ketinggian 501 – 2.000 m dpl yang terdapat di Puncak Gunung Sanggabuana dan Gunung Halimun. Kondisi topografi suatu wilayah berkaitan dengan bentuk raut permukaan wilayah atau morfologi.
Morfologi wilayah Banten secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu morfologi dataran, perbukitan landai-sedang (bergelombang rendah-sedang) dan perbukitan terjal. Morfologi dataran rendah umumnya terdapat di daerah bagian utara dan sebagian selatan. Wilayah dataran merupakan wilayah yang mempunyai ketinggian kurang dari 50 meter dpl sampai wilayah pantai yang mempunyai ketinggian 0 – 1 m dpl.
Morfologi perbukitan bergelombang rendah - sedang sebagian besar menempati daerah bagian tengah wilayah studi. Wilayah perbukitan terletak pada wilayah yang mempunyai ketinggian minimum 50 m dpl. Di bagian utara Kota Cilegon terdapat wilayah puncak Gunung Gede yang memiliki ketinggian maksimum 553 m dpl, sedangkan perbukitan di Kabupaten Serang terdapat wilayah selatan Kecamatan Mancak dan Waringin Kurung dan di Kabupaten Pandeglang wilayah perbukitan berada di selatan. Di Kabupaten Lebak terdapat perbukitan di timur berbatasan dengan Bogor dan Sukabumi dengan karakteristik sedimen tua yang terintrusi oleh batuan beku dalam seperti batuan beku granit, granodiorit, diorit dan andesit. Biasanya pada daerah sekitar terobosan batuan beku tersebut terjadi suatu proses remineralisasi yang mengandung nilai sangat ekonomis seperti cebakan bijih timah dan tembaga.
Kondisi kemiringan lahan di Provinsi Banten terbagi menjadi tiga kondisi yang ekstrim yaitu:
(1) Dataran yang sebagian besar terdapat di daerah utara Provinsi Banten yang memiliki tingkat kemiringan lahan antara 0 – 15%, sehingga menjadi lahan yang sangat potensial untuk pengembangan seluruh jenis fungsi kegiatan.
Dengan nilai kemiringan ini tidak diperlukan banyak perlakuan khusus terhadap lahan yang akan dibangun untuk proses prakonstruksi. Lahan dengan kemiringan ini biasanya tersebar di sepanjang pesisir utara Laut Jawa,
sebagian wilayah Serang, sebagian Kabupaten Tangerang bagian utara, wilayah selatan yaitu di sebagian pesisir selatan dari Pandeglang hingga Kabupaten Lebak.
(2) Perbukitan landai-sedang (kemiringan < 15% dengan tekstur bergelombang rendah-sedang) yang sebagian besar dataran landai terdapat di bagian utara meliputi Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang, dan bagian utara Kabupaten Pandeglang.
(3) Daerah perbukitan terjal (kemiringan < 25%) terdapat di Kabupaten Lebak, sebagian kecil Kabupaten Pandeglang bagian selatan dan Kabupaten Serang.
Perbedaan kondisi alamiah ini turut berpengaruh terhadap timbulnya ketimpangan pembangunan yang semakin tajam, yaitu wilayah sebelah utara memiliki peluang berkembang relatif lebih besar daripada wilayah sebelah Selatan.
Hidrologi dan Klimatologi
Potensi sumberdaya air wilayah Provinsi Banten banyak ditemui di Kabupaten Lebak, sebab sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS), Provinsi Banten dibagi menjadi enam DAS, yaitu:
(1) DAS Ujung Kulon, meliputi wilayah bagian barat Kabupaten Pandeglang (Taman Nasional Ujung Kulon dan sekitarnya);
(2) DAS Cibaliung-Cibareno, meliputi bagian selatan wilayah Kabupaten Pandeglang dan bagian selatan wilayah Kabupaten Lebak;
(3) DAS Ciujung-Cidurian, meliputi bagian barat wilayah Kabupaten Pandeglang;
(4) DAS Rawadano, meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang;
(5) DAS Teluklada, meliputi bagian barat wilayah Kabupaten Serang dan Kota Cilegon;
(6) DAS Cisadane-Ciliwung, meliputi bagian timur wilayah Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang.
Tata air permukaan untuk wilayah Provinsi Banten sangat tergantung pada sumberdaya air khususnya sumberdaya air bawah tanah. Terdapat 5 (lima) satuan Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) yang telah diidentifikasi, yang bersifat lintas
kabupaten maupun kota, antara lain CABT Labuan, CABT Rawadano dan CABT Malingping dan lintas provinsi, meliputi CABT Serang – Tangerang dan CABT Jakarta.
Sumberdaya Lahan
Sumberdaya tanah wilayah Provinsi Banten secara geografis terbagi dua tipe tanah yaitu: (a) kelompok tipe tanah sisa atau residu dan (b) kelompok tipe tanah hasil angkutan. Secara umum distribusi dari masing-masing tipe tanah ini di wilayah Provinsi Banten, terdapat di Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Cilegon. Masing-masing tipe tanah yang terdapat di wilayah tersebut antara lain:
(1) aluvial pantai dan sungai, (2) latosol, (3) podsolik merah kuning, (4) regosol, (5) andosol, (6) brown forest, dan (7) glei.
Struktur geologi daerah Banten terdiri dari formasi batuan dengan tingkat ketebalan dari tiap-tiap formasi berkisar antara 200 – 800 meter dan tebal keseluruhan diperkirakan melebihi 3.500 meter. Formasi Bojongmanik merupakan satuan tertua berusia Miosen akhir, batuannya terdiri dari perselingan antara batu pasir dan lempung pasiran, batu gamping, batu pasir tufaan, konglomerat dan breksi andesit, umurnya diduga Pliosen awal. Berikutnya adalah Formasi Cipacar yang terdiri dari tuf batu apung berselingan dengan lempung tufaan, konglomerat dan napal glaukonitan, umurnya diiperkirakan Pliosen akhir. Di atas formasi ini adalah Formasi Bojong yang terdiri dari napal pasiran, lempung pasiran, batu gamping kokina dan tuf. Banten bagian selatan terdiri atas batuan sedimen, batuan gunung api, batuan terobosan dan Alluvium yang berumur mulai Miosen awal hingga Resen, satuan tertua daerah ini adalah Formasi Bayah yang berumur
Struktur geologi daerah Banten terdiri dari formasi batuan dengan tingkat ketebalan dari tiap-tiap formasi berkisar antara 200 – 800 meter dan tebal keseluruhan diperkirakan melebihi 3.500 meter. Formasi Bojongmanik merupakan satuan tertua berusia Miosen akhir, batuannya terdiri dari perselingan antara batu pasir dan lempung pasiran, batu gamping, batu pasir tufaan, konglomerat dan breksi andesit, umurnya diduga Pliosen awal. Berikutnya adalah Formasi Cipacar yang terdiri dari tuf batu apung berselingan dengan lempung tufaan, konglomerat dan napal glaukonitan, umurnya diiperkirakan Pliosen akhir. Di atas formasi ini adalah Formasi Bojong yang terdiri dari napal pasiran, lempung pasiran, batu gamping kokina dan tuf. Banten bagian selatan terdiri atas batuan sedimen, batuan gunung api, batuan terobosan dan Alluvium yang berumur mulai Miosen awal hingga Resen, satuan tertua daerah ini adalah Formasi Bayah yang berumur