Disain, Lokasi, dan Waktu Penelitian
Disain penelitian ini adalah cross sectional study, yaitu penelitian yang dilakukan dalam satu waktu pada kurun waktu tertentu dan tidak berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode self report dan wawancara mendalam. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan secara purposif di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Pemilihan contoh penelitian adalah mahasiswa dikarenakan mahasiswa sebagai konsumen dengan tingkat pendidikan dan intelektual lebih tinggi yang lebih mudah mengakses informasi serta lebih terpapar informasi. Selain itu, mahasiswa merupakan contoh representatif Generasi Y dan tergolong ke dalam konsumen dengan rentang umur 19 sampai 24 tahun yang merupakan kelompok umur kedua terbesar pengguna internet (BPS 2013). Mahasiswa gemar melakukan belanja online karena memberikan kemudahan dalam berbelanja (Nazir et al. 2012; Pratiwi 2013). Pengambilan data penelitian dilaksanakan selama satu minggu pada bulan April 2015.
Karakteristik Individu
-Jenis Kelamin
-Uang saku
Gaya Hidup
Persepsi terhadap hak dan kewajiban
konsumen Sikap terhadap belanja online Perilaku belanja online Ketidakpuasan Perilaku Komplain Penggunaan internet
10
Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif semester empat, enam, dan delapan strata-1 (S1) Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun ajaran 2014-2015. Teknik penarikan contoh dilakukan dengan metode non probability sampling secara snowball dari mahasiswa semester empat, enam, dan delapan yang memenuhi kriteria contoh. Contoh dalam penelitian ini berjumlah 100 orang yang dipilih menggunakan teknik snowball, sedangkan contoh dalam uji coba sebanyak 20 mahasiswa. Kriteria contoh dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah belanja online minimal tiga kali dengan pertimbangan pernah melakukan komplain dan dapat menjawab pertanyaan pada variabel perilaku komplain.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui hasil self report dan wawancara mendalam dengan sepuluh orang contoh. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan terstruktur terkait dengan variabel yang diteliti. Variabel-variabel yang diteliti adalah karakteristik individu (jenis kelamin dan uang saku), gaya hidup, penggunaan internet (intensitas akses internet, pengeluaran pulsa internet, jumlah akun media sosial), sikap terhadap belanja online, perilaku belanja online, persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen, dan perilaku komplain terhadap belanja online.
Alat ukur mengenai persepsi hak dan kewajiban konsumen merupakan hasil modifikasi dari Ishak dan Zabil (2012), Bhuian dan Enazi (2013), serta Zahrah (2014). Segmentasi gaya hidup konsumen menggunakan instrumen VALS2 yang diadopsi dari Wilbanks (2005). Sikap diukur menggunakan instrumen dari penelitian Osman, Fah, dan Choo (2010). Perilaku komplain diukur dengan instrumen yang dimodifikasi dari Berry (2013) serta Kumar, Sanuri, dan Kaid (2013). Jenis situs belanja online yang sering diakses contoh untuk belanja online mengacu kepada Lukman (2014) mengenai 18 toko online paling populer di Indonesia. Data sekunder yang digunakan berupa data pengguna internet, TPB dalam angka, jurnal, buku, maupun literatur lainnya yang mendukung penelitian ini. Variabel dan skala data disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Variabel dan skala data yang diteliti
Variabel Skala data Keterangan/Kategori
Karakteristik Individu Jenis Kelamin Uang Saku Nominal Rasio [0] Laki-laki [1] Perempuan Rupiah/bulan
11
Lanjutan Tabel 2
Variabel Skala data Keterangan/Kategori
Gaya Hidup
Penggunaan Internet Intensitas Akses Internet Pengeluaran Pulsa Internet Jumlah Akun Media Sosial Persepsi Hak dan Kewajiban Konsumen
Sikap terhadap Belanja Online
Perilaku Belanja Online Frekuensi belanja online Pengeluaran belanja online Barang yang sering dibeli Metode Pembayaran
Situs belanja yang sering dikunjungi Perilaku Komplain Nominal Rasio Rasio Nominal Ordinal Ordinal Rasio Rasio Nominal Nominal Nominal Ordinal [1] Achievers [2] Strivers [3] Fulfilleds [4] Believers [5] Experiencers [6] Makers Jam/hari Rupiah/bulan Jenis
Skala dengan empat penilaian:
[1] Sangat Tidak Setuju [2] Tidak Setuju [3] Setuju [4] Sangat Setuju Skala dengan empat penilaian:
[1] Sangat Tidak Setuju [2] Tidak Setuju [3] Setuju [4] Sangat Setuju Kali/bulan/tahun Rupiah/bulan/tahun Jenis Jenis Jenis
Skala dengan empat penilaian:
[1] Tidak Pernah [2] Sering [3] Jarang [4] Selalu
Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh diolah melalui proses editing, coding, scoring, entry data, cleaning data, dan analisis data. Data dianalisis menggunakan program Microsoft Excel, dan Statistical Package for Social Science (SPSS) 16 for Windows. Variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini diberi skor penilaian sesuai skala yang digunakan untuk masing-masing variabel. Variabel gaya hidup diukur dengan memilih satu nomor yang paling menggambarkan gaya hidup contoh. Gaya hidup yang dapat dipilih contoh meliputi achievers, strivers, fulfilleds, believers, makers, dan experiencers. Variabel persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen diukur menggunakan 15 pernyataan. Variabel sikap terhadap belanja online diukur menggunakan 14 pernyataan.
12
Skala yang digunakan untuk variabel persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen serta sikap terhadap belanja online adalah skala dengan empat pilihan
jawaban, yaitu skor penilaian satu untuk “sangat tidak setuju”, skor penilaian dua untuk “tidak setuju”, skor penilaian tiga untuk “setuju”, dan skor penilaian empat untuk “sangat setuju”. Variabel perilaku komplain terhadap belanja online diukur dengan 15 pernyataan menggunakan skala dengan empat penilaian, yaitu skor penilaian satu untuk pilihan jawaban “tidak pernah”, skor penilaian dua untuk pilihan jawaban “jarang”, skor penilaian tiga untuk pilihan jawaban “sering”, dan skor penilaian empat untuk pilihan jawaban “selalu”. Skor total dari setiap
variabel selanjutnya diindeks menjadi skala 0-100 dengan menggunakan rumus:
Indeks x 100
Keterangan :
Nilai aktual : nilai yang diperoleh contoh
Nilai minimal : nilai terendah yang seharusnya diperoleh contoh Nilai maksimal : nilai tertinggi yang seharusnya diperoleh contoh
Indeks dari setiap variabel kemudian dikategorikan ke dalam empat kategori untuk variabel persepsi hak dan kewajiban konsumen, variabel sikap terhadap belanja online, dan variabel perilaku komplain terhadap belanja online dengan menggunakan cut off sebaran data, yaitu sangat kurang (skor ≤ 25), kurang (skor 26-50), baik (skor 51-75), dan sangat baik (skor >75).
Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan inferensia. Analisis deskriptif yang digunakan meliputi frekuensi, rata-rata, standar deviasi, nilai maksimum, dan nilai minimum. Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik individu (jenis kelamin, uang saku), gaya hidup, penggunaan internet (intensitas akses internet, pengeluaran pulsa internet, jumlah akun media sosial), persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen, sikap terhadap belanja online, perilaku belanja online, dan perilaku komplain terhadap belanja online. Selain analisis deskriptif, pengolahan data juga menggunakan analisis inferensia. Analisis inferensia yang digunakan adalah uji regresi linier berganda.
Data penelitian harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan terlebih dahulu sebelum melakukan uji regresi. Uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normal P-P plot. Prinsip pengujiannya dengan melihat histogram dan residualnya. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya maka pola dstribusi normal dan model regresi memenuhi asumsi normalitas (Ghozali 2011). Uji multikolinearitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara variabel bebas yang diteliti. Variabel bebas yang diuji memiliki multikolinearitas jika nilai tolerance di bawah 0.1 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) di atas 10. Uji multikolinearitas menunjukkan nilai VIF dari variabel yang dianalisis kurang dari 10. Multikolinearitas antarvariabel bebas untuk model regresi dapat dilihat dengan melihat hubungan antarvariabel tersebut. Apabila nilai korelasi antarvariabel tersebut lebih dari 0.60, maka terjadi multikolinearitas. Variabel yang digunakan adalah variabel bebas
13
yang memiliki nilai signifikansi paling kecil (paling mendekati nilai signifikansi 0.05).
Uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi dikatakan terjadi heterokedastisitas apabila memiliki nilai signifikansi di bawah 0.05 dan pada grafik scatterplot titik-titik tidak menyebar di atas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y (Ghozali 2011). Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah di dalam model regresi ada korelasi antara kesalahan pengguna pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1. Cara untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi pada variabel yang diteliti adalah dengan melihat Durbin Watson dari model regresi. Apabila nilai Durbin Watson mendekati +2 maka model regresi dikatakan tidak terjadi autokorelasi, sehingga dapat dilakukan uji regresi. Variabel yang dianalisis dalam uji regresi frekuensi belanja online adalah karakteristik individu (jenis kelamin, uang saku), gaya hidup), penggunaan internet (intensitas akses internet, pengeluaran pulsa internet, jumlah akun media sosial), dan sikap terhadap belanja online. Variabel yang dianalisis dalam uji regresi perilaku komplain adalah jenis kelamin, gaya hidup, jumlah akun media sosial, dan persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen. Model persamaan regresi linier berganda adalah sebagai berikut :
Y1= α + β1D1 + β2X1 + β3D2 + β4X2 + β5X3 + β6X4 + β7X5 +
Keterangan :
Y1 : Frekuensi belanja online (kali/tahun)
α : Konstanta regresi
β1-7 : Koefisien regresi
D1 : Jenis kelamin (0:laki-laki; 1:perempuan) D2 : Gaya Hidup (0:non strivers ; 1:strivers) X1 : Uang saku (rupiah/bulan)
X2 : Intensitas akses internet (jam/hari) X3 : Pengeluaran pulsa internet (rupiah/bulan) X4 : Jumlah akun media sosial (buah)
X5 : Sikap (skor) : Galat
Y2 = α + β1D1 + β2D2 + β3X1 + β4X2 +
Keterangan :
Y2 : Perilaku komplain (skor)
α : Konstanta regresi
β1-7 : Koefisien regresi
D1 : Jenis kelamin (0:laki-laki; 1:perempuan) D2 : Gaya Hidup (0:non strivers ; 1:strivers) X1 : Jumlah akun media sosial (buah)
X2 : Persepsi hak dan kewajiban konsumen (skor) : Galat
Keabsahan instrumen penelitian diuji melalui uji validitas, sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk menguji konsistensi instrumen penelitian. Instrumen penelitian dikatakan valid jika nilai korelasi lebih dari 0.30 dan dikatakan reliabel jika memiliki koefisien alpha lebih dari 0.60. Nilai reliabilitas dan validitas instrumen penelitian adalah, persepsi hak dan kewajiban konsumen 0.885 dengan
14
15 pertanyaan valid, sikap terhadap belanja online 0.677 dengan 13 pertanyaan valid, dan perilaku komplain 0.830 dengan 14 pertanyaan valid.
Definisi Operasional
Generasi Y adalah generasi masa kini yang memiliki ciri khas selalu update informasi, melek teknologi, memiliki kekuatan tinggi dalam menyeleksi informasi dan mampu beradaptasi dengan rangsangan online
Intensitas akses internet adalah lamanya contoh dalam menggunakan internet untuk tujuan tertentu yang dihitung dengan satuan jam per hari
Gaya hidup adalah bagaimana contoh hidup, memanfaatkan waktu, dan menggunakan uang yang dimilikinya untuk belanja online. Orientasi gaya hidup contoh yang diteliti dalam penelitian ini adalah achievers, strivers, fulfilleds, believers, experiencers, makers
Persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen adalah bagaimana pandangan konsumen tentang membela hak-haknya sebagai konsumen dan menjalankan kewajibannya sebagai konsumen
Sikap terhadap belanja online adalah kecenderungan konsumen terhadap perilaku belanja online, derajat kesukaan dan ketidaksukaan konsumen terhadap belanja online
Perilaku belanja online adalah banyaknya frekuensi belanja online yang dilakukan contoh dalam satu tahun
Perilaku komplain respon atau tanggapan yang ditunjukkan konsumen setelah mengalami ketidakadilan oleh pelaku usaha pada belanja online
HASIL
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang merupakan salah satu institusi pendidikan perguruan tinggi di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1963. Jumlah mahasiswa strata satu (S1) IPB pada semester genap tahun ajaran 2014-2015 adalah sebanyak 10 879 mahasiswa yang terbagi ke dalam sembilan fakultas di Institut Pertanian Bogor. Lokasi kampus IPB untuk program S1 berada di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan berdasarkan akses kemudahan, waktu, dan biaya. Selain itu, IPB memiliki mahasiswa dengan keragaman asal daerah dan pendapatan orang tua sehingga pemilihan mahasiswa IPB dapat dilihat dari pendekatan wilayah asal mahasiswa dan pendekatan pendapatan orang tua. Mahasiswa IPB berasal dari sabang sampai merauke dan dari tahun ke tahun selalu terdapat perkembangan jumlah mahasiswa baru berdasarkan asal propinsi. Keragaman asal propinsi mahasiswa dapat dilihat dari data yang dimiliki Tingkat Persiapan Bersama (TPB). TPB dalam angka (2013) memperlihatkan bahwa mahasiswa baru IPB berasal dari 34 propinsi di Indonesia. Terdapat pula mahasiswa yang berasal dari luar negeri yang terus meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, berdasarkan asal propinsi mahasiswa IPB sudah merata dan berasal dari seluruh wilayah di Indonesia sehingga dapat menjadi representatif mahasiswa seluruh Indonesia.
15
TPB dalam angka (2013) juga menunjukkan sebaran mahasiswa berdasarkan penghasilan orang tua. Mahasiswa IPB tersebar ke dalam keluarga dengan penghasilan orang tua menengah, sedang, dan tinggi. Data menunjukkan
bahwa kisaran penghasilan orang tua mahasiswa paling rendah ≤ Rp500 000 dan
paling tinggi >Rp15 000 000 bahkan lebih. Sebanyak 0.7 persen orang tua mahasiswa TPB memiliki penghasilan yang tidak diketahui. Berdasarkan data yang ditunjukkan TPB dalam angka (2013) dapat disimpulkan bahwa IPB memiliki mahasiswa yang sudah hampir mencakup seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai strata ekonomi yang ada pada masyarakat Indonesia.
Karakteristik Individu
Lebih dari separuh (68%) Generasi Y berjenis kelamin perempuan. Sisanya, sebanyak 32 Generasi Y berjenis kelamin laki-laki. Rata-rata uang saku Generasi Y sebesar Rp1 235 200.00 per bulan. Uang saku maksimal yang diterima Generasi Y per bulan sebesar Rp3 500 000.00 dan minimal Rp500 000.00. Sebanyak 26 dari 100 Generasi Y memiliki uang saku sebesar Rp1 000 000.00 per bulan.
Gaya Hidup
Willbanks (2005) membagi orientasi gaya hidup konsumen ke dalam enam kelompok, yaitu achievers, strivers, fulfilleds, experiencers, dan makers. Fulfilleds merupakan gaya hidup yang paling banyak dimiliki (30%) Generasi Y (Tabel 3). Konsumen dengan gaya hidup fulfilleds cenderung membeli produk yang tahan lama dan fungsional. Gaya hidup strivers (10%) dimiliki konsumen yang senang menjadi trendy dan ingin terlihat stylish.
Tabel 3 Sebaran orientasi gaya hidup Generasi Y
Gaya Hidup Persentase (%)
Fulfilleds 30.0 Experiencers 27.0 Believers 13.0 Achievers 13.0 Strivers 10.0 Makers 7.0 Penggunaan Internet
Rata-rata intensitas akses internet Generasi Y dalam satu hari adalah 11.03 jam. Sebanyak 18 dari 100 Generasi Y mengakses internet 12 jam per hari. Intensitas akses internet terbanyak Generasi Y dalam satu hari adalah 19 jam sedangkan paling sedikit 1 jam per hari. Pengeluaran rata-rata Generasi Y untuk pulsa internet sebesar Rp78 237.90 per bulan. Pengeluaran minimum Generasi Y untuk pulsa internet dalam satu bulan sebesar Rp6 700.00 dan pengeluaran maksimum Generasi Y untuk pulsa internet sebesar Rp250 000.00. Sebanyak 24 dari 100 Generasi Y diketahui menghabiskan Rp50 000.00 dalam sebulan untuk berlangganan internet. Sebanyak 23 dari 100 Generasi Y memiliki pengeluaran pulsa internet dalam sebulan sebesar Rp100 000.00. Konsumen mengakses
16
internet untuk belanja online, mencari lowongan kerja, berselancar di dunia maya, dan chatting (Veeralakhsmi 2013).
Jumlah Akun Media Sosial. Dobre dan Ciota (2015) menyatakan bahwa konsumen yang memiliki akun jejaring sosial facebook diasumsikan pernah belanja online setidaknya satu kali. Penelitian Hasslinger, Hodzic, dan Opazo (2007) menjelaskan bahwa konsumen akan melakukan perbandingan harga pada beberapa toko online sebelum melakukan pembelian online. Media sosial yang dimiliki konsumen memudahkan konsumen melakukan perbandingan harga dari satu online shop ke online shop lainnya. Rata-rata akun media sosial yang dimiliki Generasi Y sebanyak 7.29 buah. Generasi Y memiliki paling sedikit 1 akun media sosial dan paling banyak 10 akun media sosial.
Pada penelitian ini, akun media sosial yang ditanyakan kepada Generasi Y meliputi facebook, instagram, path, twitter, whatsapp, line, blog, tumblr, dan lainnya. Tabel 4 menunjukkan akun media sosial yang paling banyak dimiliki Generasi Y adalah line (98%), facebook (95%), twitter (93%), BBM atau Blackberry Messenger (93%), whatsapp (90%), dan instagram (90%). Line menempati urutan pertama (98%) akun media sosial yang paling banyak dimiliki Generasi Y. Pada saat pengisian kuesioner, Generasi Y dapat mengisi akun media sosial lebih dari satu, jumlahnya disesuaikan dengan akun media sosial yang dimiliki Generasi Y.
Tabel 4 Sebaran Generasi Y berdasarkan akun media sosial yang dimiliki
Akun Media Sosial Persentase (%)
Line 98.0 Facebook 95.0 Twitter 93.0 BBM 91.0 Whatsapp 90.0 Instagram 90.0 Path 86.0 Blog 37.0 Tumblr 27.0 Lainnya* 23.0
Rata-rata jumlah akun 7.29
Kisaran jumlah akun 1-10
*Lainnya: snapchat, ask fm, soundcloud, youtube, wordpress, kakaotalk, secret, pinterest, Linkedin
Persepsi terhadap Hak dan Kewajiban Konsumen
Tiga per empat Generasi Y (75%) sudah memiliki persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen dengan kategori sangat baik. Sisanya, sebanyak 25 persen Generasi Y memiliki persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen dengan kategori baik (Tabel 5). Berdasarkan hasil wawancara mendalam, Generasi Y menyatakan bahwa sudah sangat menyadari hak dan kewajibannya sebagai konsumen, terlebih jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Generasi Y sebagai konsumen akan menuntut haknya kepada pelaku usaha.
17
Tabel 5 Sebaran Generasi Y berdasarkan persepsi hak dan kewajiban konsumen
Kategori persepsi terhadap hak dan kewajiban konsumen
Persentase (%)
Sangat kurang (skor ≤ 25) 0.0
Kurang (skor 26-50) 0.0
Baik (skor 51-75) 25.0
Sangat baik (skor > 75) 75.0
Rata-rata ± SD 85.72 ± 10.80
Min-Max 64-100
Persepsi hak konsumen. Berdasarkan Lampiran 4, diketahui bahwa persepsi Generasi Y tentang hak konsumen sudah sangat baik, terlihat dengan jawaban Generasi Y yang mengumpul pada pilihan jawaban sangat setuju (>53%). Pertanyaan untuk persepsi hak konsumen adalah pertanyaan nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15. Lampiran 4 menunjukkan bahwa semua Generasi Y sudah memilih jawaban setuju dengan persentase ≥81 persen.
Persepsi kewajiban konsumen. Pertanyaan yang tergolong ke dalam persepsi kewajiban konsumen adalah pertanyaan nomor 7 dan 8 yaitu, “Saya tidak
akan melakukan komplain karena hanya membuang waktu saya”, dan “Konsumen
wajib membela hak-haknya ketika terjadi ketidakadilan oleh pelaku usaha”. Persepsi Generasi Y tentang kewajiban konsumen sudah tergolong cukup baik (pertanyaan nomor 8). Sebanyak 81 persen Generasi Y menjawab setuju untuk
pertanyaan “Saya tidak akan melakukan komplain karena hanya membuang waktu
saya”, hanya 19 persen Generasi Y yang menjawab tidak setuju bahwa komplain akan membuang waktu. Lampiran 4 menunjukkan bahwa Generasi Y sudah memiliki persepsi yang baik tentang kewajiban konsumen untuk membela hak-haknya yang ditunjukkan oleh 99 persen Generasi Y yang menjawab setuju.
Sikap terhadap Belanja Online
Sebanyak tiga per empat (75%) Generasi Y memiliki sikap baik terhadap belanja online. Selanjutnya, 23 persen Generasi Y memiliki sikap yang kurang baik terhadap belanja online. Tabel 6 menunjukkan hanya 2 persen Generasi Y yang memiliki sikap sangat baik terhadap belanja online.
Tabel 6 Sebaran Generasi Y berdasarkan sikap terhadap belanja online
Kategori tingkat sikap Persentase (%)
Sangat kurang (skor ≤ 25) 0.0
Kurang (skor 26-50) 23.0
Baik (skor 51-75) 75.0
Sangat baik (skor > 75) 2.0
Rata-rata ± SD 57.95 ± 8.80
18
Perilaku Belanja Online
Frekuensi belanja online. Frekuensi belanja online Generasi Y dalam satu tahun paling sedikit 1 kali dan paling banyak 50 kali. Rata-rata frekuensi belanja online Generasi Y adalah 12.39 per tahun. Tabel 7 menunjukkan frekuensi terbesar belanja online Generasi Y dalam satu tahun berada pada rentang 1 sampai 5 kali per tahun (38%). Sebanyak 25 dari 100 Generasi Y memiliki frekuensi belanja online 12 kali per tahun. Frekuensi terbanyak belanja online Generasi Y perempuan sebanyak 50 dan Generasi Y laki-laki sebanyak 48 kali per tahun.
Tabel 7 Sebaran Generasi Y berdasarkan frekuensi belanja online
Frekuensi Belanja Online Persentase (%)
1-5 kali/tahun 38.0 6-10 kali/tahun 12.0 11-15 kali/tahun 25.0 16-20 kali/tahun 1.0 20-25 kali/tahun 16.0 >25 kali/tahun 8.0
Pengeluaran belanja online. Rata-rata pengeluaran belanja online Generasi Y adalah Rp2 138 725.00 per tahun. Hasil penelitian melebihi temuan BMI research (2015) bahwa rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia untuk belanja online sebesar Rp825 000.00 dalam setahun. Pengeluaran maksimum belanja online Generasi Y dalam satu tahun sebesar Rp18 000 000.00 dengan pengeluaran minimum Rp200 000.00. Sebanyak 12 dari 100 Generasi Y menghabiskan Rp500 000.00 dalam setahun untuk belanja online.
Metode pembayaran. Veeralakhsmi (2013) dan Khan et al. (2014) mengidentifikasi beberapa metode pembayaran belanja online, yaitu menggunakan kartu kredit, transfer bank, dan Cash on Delivery (CoD). CoD menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi resiko belanja online (Khan et al. 2014).Temuan penelitian menunjukkan metode pembayaran yang biasa digunakan Generasi Y adalah transfer, kartu kredit, Cash on Delivery (CoD), dan setoran tunai ke bank. Metode pembayaran yang digunakan seluruh Generasi Y adalah transfer bank. Generasi Y yang menggunakan kartu kredit sebagai metode pembayaran hanya berjumlah 3 persen. Generasi Y yang melakukan pembayaran dengan bertatap muka secara langsung saat barang dikirimkan melalui metode CoD sebanyak 22 persen. Sisanya, sebanyak 9 persen Generasi Y menggunakan setoran tunai ke bank untuk melakukan pembayaran (Tabel 8).
Tabel 8 Sebaran Generasi Y berdasarkan metode pembayaran*
Metode pembayaran Persentase
Transfer bank 100.0
Kartu kredit 3.0
Cash on Delivery (CoD) 22.0
Setoran tunai 9.0
19
Situs Belanja Online. Lazada dipilih sebagai situs yang paling sering diakses (42%) karena merupakan situs yang terpercaya, tersedia layanan pengaduan dan kontak yang bisa dihubungi, serta dapat melakukan pembayaran ketika barang sampai di tangan konsumen (Cash on Delivery atau CoD). Khan et al. (2014) menyatakan CoD sebagai alternatif untuk mengurangi resiko pada belanja online. Posisi kedua ditempati Adorable project (produsen tas, sepatu, dan baju) dan instagram dengan persentase masing-masing 36 persen. Sebanyak 31 dari 100 Generasi Y memilih Zalora sebagai situs yang sering diakses (Tabel 9).
Tabel 9 Sebaran situs belanja online yang sering diakses Generasi Y* Situs belanja online Persentase
(%) Situs belanja online
Persentase (%)
Lazada 42.0 Tiket.com 12.0
Adorable project 36.0 Iwearup 10.0
Instagram 36.0 Buka lapak 10.0
Zalora 31.0 Rakuten 9.0
Kaskus 28.0 Akun media sosial
(fb, twitter)
7.0 Website online shop 28.0 Situs resmi maskapai
penerbangan dan kereta api
5.0 Tokopedia 21.0 Blibli 5.0 Olx 18.0 Hijup 5.0 Traveloka 16.0 Pinkemma 2.0 Elevania 15.0 Agoda 2.0 Berrybenka 14.0 Bhinneka 1.0
*Jawaban dapat lebih dari satu
Barang yang sering dibeli. Sebanyak 9 dari 10 Generasi Y menyatakan produk fashion sebagai barang yang sering dibeli ketika belanja online (Tabel 10). Posisi kedua sebagai barang yang sering dibeli Generasi Y secara online adalah tiket (38%). Produk kecantikan menempati urutan ketiga sebagai barang yang sering dibeli Generasi Y secara online (32%). Generasi Y dapat memilih lebih dari satu pilihan jawaban sesuai dengan barang yang biasa Generasi Y beli saat belanja online.
Tabel 10 Sebaran Generasi Y berdasarkan barang yang sering dibeli
Jenis barang yang sering dibeli Persentase (%)
Fashion 90.0
Tiket 38.0
Kecantikan 32.0
Gadget 25.0
Buku, novel, majalah, komik 15.0
Barang elektronik 13.0
Makanan dan minuman 12.0
Software dan perlengkapan komputer 10.0
Kaset, CD, DVD 7.0
Perlengkapan rumah tangga non elektronik 8.0
Travel dan hotel 5.0
Lainnya* 5.0