• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

Metode ini merupakan suatu unsur yang mutlak harus ada di dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.38 Metodologi dalam suatu penelitian berfungsi sebagai suatu pedoman bagi ilmuwan dalam mepelajari, menganalisis dan memahami suatu permasalahan yang sedang dihadapi.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis normatif, yaitu penelitian hukum yang menggunakan data sekunder dimulai dengan analisis terhadap permasalahan hukum baik yang berasal dari literatur maupun peraturan perundang-undangan, khususnya ketentuan yang mengatur hukum persekutuan.39

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif, yaitu suatu penelitian hukum dengan menggunakan pendekatan, mengkaji dan menganalisis mengenai perkembangan hukum atas CV di Indonesia, peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pendirian dan pendaftaran CV baik dalam KUHPer, KUHD maupun Permenkumham No. 17 Tahun 2018.

Dan untuk mengetahui secara mendalam mengenai perbedaan pendirian dan pendaftaran CV diantara peraturan tersebut, serta problematika yang timbul setelah terbitnya Permenkumham No. 17 Tahun 2018. Penelitian hukum doktrinal (doctrinal research) adalah penelitian yang bertujuan untuk memberikan eksposisi yang bersifat sistematis mengenai aturan hukum yang mengatur bidang hukum tertentu, menganalisis hubungan antara hukum yang satu dengan yang lain,

38Soerjono Soekanto, op. cit., hal. 7

39Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet. 8, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 24

menjelaskan bagian-bagian yang sulit untuk dipahami dari suatu aturan hukum, bahkan mungkin juga mencakup prediksi perkembangan suatu aturan hukum tertentu pada masa mendatang.40

Penelitian yuridis normatif tersebut mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan serta norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat. Selain itu, dengan melihat sinkronisasi suatu aturan dengan aturan lainnya secara hierarki.41 Ditinjau dari segi sifatnya, penelitian ini bersifat deskriptif, maksudnya adalah bahwa penelitian ini berdasarkan teori, atau konsep yang bersifat umum diaplikasikan untuk menjelaskan tentang seperangkat data dengan seperangkat data yang lain.42

Dalam kaitannya dengan penelitian hukum normatif, maka disini digunakan pendekatan undang-undang. Pendekatan undang-undang (statute approach) dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang

bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Bagi penelitian untuk kegiatan praktis, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undang-undang yang lainnya atau antara undang-undang dengan undang-undang dasar ataupun antara regulasi dari undang-undang tersebut.43

40 Soerjono Soekanto, op.cit., hal. 42

41 Dyah Ochtorina Susanti dan A’an Efendi, Penelitian Hukum (Legal Research), Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hal. 11

42 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2011, hal. 38-39

43 Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Edisi Revisi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011, hal. 93

Dari pendekatan undang-undang (statute approach) yang bersifat deskriptif, diharapkan hasil dari analisa penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan dan status kedudukan hukum atas persekutuan komanditer di Indonesia.

2. Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian berupa informasi yang berkaitan dengan permasalahan. Data sekunder merupakan data utama yang digunakan dalam penelitian ini dengan mempelajari bahan-bahan pustaka yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. Data sekunder yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier, antara lain:

a. Bahan hukum primer yang digunakan terdiri dari

1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) 2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan BerusahaTerintegrasi Secara Elektronik 4. Permenkumham Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran

Persekutuan Tentang Pendaftaran Persekutuan Tentang Pendaftaran Persekutuan

b. Bahan hukum sekunder berupa teori yang dikemukakan oleh ahli, buku-buku hukum mengenai badan usaha dan juga penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

c. Bahan hukum tersier berupa kamus hukum, dimana penulis hendak menggunakan kamus hukum untuk membantu dalam memahami istilah-istilah hukum maupun istilah-istilah dalam bahasa asing.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research). Penelitian kepustakaan (library research) dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian pendahulu yang berhubungan dengan objek telah penelitian ini, yang dapat berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya. Penelitian lapangan dimaksudkan untuk mendapatkan data primer dengan cara wawancara terhadap notaris sebagai narasumber.

4. Alat Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini akan dilakukan studi dokumen sebagai alat pengumpulan data yang terkait dengan permasalahan yang diajukan, yaitu studi pustaka/studi dokumen (documentary study), yang bersumber dari peraturan perundang-undangan, buku-buku, dokumen resmi, publikasi dan hasil penelitian44 dan wawancara, yang merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab yang dilakukan secara sistematis kepada notaris sebagai responden atau narasumber dan berlandaskan pada tujuan penelitian.45 Metode wawancara yang dipakai merupakan metode wawancara terstruktur, yaitu teknik pengumpulan data dimana peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan

44 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 105

45 Hadi dan Haryono, Metode Penelitian, Bandung, 2007, hal.17

diperoleh. Oleh karena itu, dalam melakukan wawancara, telah disiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis.46

5. Analisa Data

Dalam penelitian hukum ini, metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan perspektif subjektif lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta lapangan. Selain itu landasan teori ini juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.47

Analisis dilakukan dengan melakukan telaah terhadap beberapa peraturan perundang-undangan yang mempunyai keterkaitan dengan CV kemudian menginventarisasi dan mengidentifikasi peraturan perundang-undangan. Setelah itu, dilakukanlah analisis dan peraturan perundang-undangan tersebut dengan melakukan penafsiran terhadap undang-undang, untuk kemudian ditarik kesimpulan dari hasil analisis tersebut.

46 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D, Alfabeta, Bandung, 2013, hal. 138

47 Burhan Bungin, Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 53.

BAB II

PERKEMBANGAN HUKUM ATAS PERSEKUTUAN KOMANDITER ATAU COMANDITAIRE VENNONTSCHAP (CV) DI INDONESIA

A. Persekutuan Komanditer/Comanditaire Vennotschap (CV) dalam Hukum di Indonesia

Pasal 19 KUHD menyebutkan bahwa, “perseroan yang terbentuk dengan cara meminjamkan uang atau disebut juga perseroan komanditer, didirikan antara seseorang atau antara beberapa orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung-renteng untuk keseluruhannya, dan satu orang atau lebih sebagai pemberi pinjaman uang.” Perkataan komanditer berasal dari perkataan

“commandere” yang berarti mempercayakan, maka Perseroan Komanditer (CV) adalah perseroan atas dasar kepercayaan.48

Secara garis besar pengertian CV dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) pengertian, yaitu:

1. CV dari sisi bentuk institusi atau badan usahanya, yaitu kelompok yang memberikan pengertian CV sebagai suatu bentuk khusus daripada firma.

2. CV dari segi peranan dan tanggung jawab masing-masing sekutu, yaitu kelompok yang memberikan pengertian CV sebagai suatu bentuk kerjasama antara sekutu komplementer dan sekutu komanditer.49

Ketentuan lainnya yang mengatur CV ada pada Pasal 20 dan Pasal 21 KUHD. Pengaturan CV ini berada di dalam pengaturan masalah firma sebab pada dasarnya CV juga merupakan firma dengan bentuk khusus, dimana

48 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Dagang Tentang CV, Firma, Persekutuan Perdata, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal. 48

49 Ibid

kekhususannya terletak pada adanya sekutu komanditer yang pada firma tidak ada. Pada firma hanya ada sekutu kerja, sedangkan pada CV, kecuali ada sekutu kerja juga ada sekutu komanditer atau sekutu diam (sleeping partner).50

Persekutuan Komanditer (CV) terdiri dari 3 (tiga) macam bentuk yaitu:51 a. Persekutuan Komanditer Diam-diam

Persekutuan Komanditer yang belum menyatakan dirinya secara terang-terangan kepada pihak ketiga sebagai persekutuan komanditer. Persekutuan Komanditer Diam-diam masih menyatakan diri sebagai persekutuan firma kepada pihak ketiga (ke luar atau secara eksternal), sedangkan kepada pihak intern (ke dalam) telah menyatakan diri menjadi persekutuan komanditer (secara internal telah membedakan antara sekutu aktif dan sekutu pasif).

b. Persekutuan Komanditer Terang-terangan

Persekutuan Komanditer Terangan-terangan merupakan persekutuan komanditer yang telah menyatakan diri sebagai persekutuan komanditer.

c. Persekutuan Komanditer dengan Saham

Persekutuan Komanditer dengan Saham yang secara terang-terangan modalnya terdiri dari saham-saham. Bentuk persekutuan komanditer ini tidak diatur dalam KUHD, karena dianggap sama seperti persekutuan komanditer biasa (terang-terangan). Perbedaan kedua bentuk persekutuan komanditer tersebut hanya terletak pada pembentukan modalnya saja, yaitu dengan cara mengeluarkan saham-saham.

50 Emmy Simanjuntak Pangaribuan, Pendirian CV, Firma, Persekutuan Perdata, Bina Cipta, Bandung, 2005, hal. 36

51 Ibid, hal. 37

Berdasarkan perkembangannya, bentuk persekutuan komanditer (CV) dapat dibedakan atas: 52

a. Persekutuan Komanditer Murni

Persekutuan Komanditer Murni merupakan bentuk persekutuan komanditer yang pertama, dimana dalam persekutuan ini hanya terdapat satu sekutu komplementer dan sekutu yang lain merupakan sekutu komanditer.

b. Persekutuan Komanditer Campuran

Persekutuan Komanditer Campuran umumnya berasal dari bentuk firma.

Dalam keadaan firma membutuhkan tambahan modal, maka sekutu firma diubah kedudukannya menjadi sekutu komplementer dan sekutu lain atau sekutu tambahan menjadi sekutu komanditer.

c. Persekutuan Komanditer Bersaham

Persekutuan Komanditer Bersaham merupakan persekutuan komanditer yang mengeluarkan saham yang tidak dapat diperjualbelikan dan sekutu komplementer maupun sekutu komanditer mengambil satu saham atau lebih.

Saham dikeluarkan dengan tujuan untuk menghindari terjadinya modal beku, karena dalam persekutuan komanditer (CV) tidak mudah untuk menarik kembali modal yang telah disetorkan.

Sebagai suatu organisasi kerjasama antar beberapa pribadi, CV memiliki karakteristik hubungan yang didominasi oleh kondisi subyektif masing-masing pribadi. Jadi walaupun orang perorangannya dipandang telah mengikatkan diri

52 Sri Rumada Sihite, Analisis Yuridis Atas Implementasi Pendaftaran Persekutuan Komanditer (Ommanditaire Vennotschap) Secara Online Menurut Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Pendaftaran Persekkutuan Komanditer, Persekutuan Firma Dan Persekutuan Perdata (Studi di Kota Medan), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2019, hal. 55

menjadi satu kelompok organisasi, namun yang dilihat semata-mata adalah segi manusia orang perorangan (individunya), tergolong kelompok ini adalah firma dan CV serta maatschaap (persekutuan perdata).53

Pembentukan CV diawali dengan adanya sekutu komplementer (sekutu aktif) sebagai pendiri baik seorang maupun beberapa orang yang telah saling kenal dan percaya, kadangkala para sekutu komplementer ini merupakan suatu keluarga atau kerabat diawali dengan menghadap ke notaris untuk membuat akta pendirian CV lalu didaftarkan secara daring ke Kementerian Hukum dan HAM.

Oleh karena dominannya unsur kekeluargaan di dalam konstruksi CV sehingga turut mempengaruhi sistem yang ada dalam perusahaan. Secara ekonomis hal ini berarti sebagai suatu institusi bisnis, perasaan, emosional dan mentalitas para pribadi cendrung turut memberi pengaruh pada penentuan kendali usaha. Secara yuridis, walaupun unsur kekeluargaan dominan tetapi tidak berarti jika terjadi kerugian bisa melepaskan tanggung jawab. 54

Secara umum, dari banyak bentuk badan usaha yang memiliki karakteristik hubungan seperti ini, cenderung mengabaikan sistem yang telah tertata dalam perusahaan dan ini dapat mengganggu efisiensi dalam organisasi.

Hal ini merupakan satu kelemahan dari organisasi dengan karakteristik demikian seperti CV walaupun perusahaan persekutuan mempunyai beberapa kelebihan dibanding perusahaan milik perorangan namun perusahaan jenis ini juga mempunyai kelemahan-kelemahan yaitu:55

a. kewajiban sekutu yang tidak terbatas

53 Muhammad Riduwan, Pendirian CV Ditinjau Dari KUHD, Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hal. 53

54 Rudhi Prasetya, Maatschap Firma Dan Persekutuan Komanditer, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2012, hal. 32

55 Cut Raisha Yannaz, Analisis Yuridis Terhadap Pembuatan Akta Pendirian CV Tanpa Adanya Persero Komanditer, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2018, hal.

63

b. kemungkinan adanya perbedaan pendapat antar sekutu c. kelangsungan hidup perusahaan tidak terjamin

d. investasi yang beku

Ketentuan CV yang terdapat di dalam KUHD sangat terbatas, karena hanya diatur dalam tiga pasal yaitu Pasal 19, 20 dan Pasal 21 KUHD.56 Dalam kaitannya dengan berakhirnya CV, ahli hukum Purwosutjipto berpendapat bahwa pada hakekatnya CV merupakan persekutuan firma dan persekutuan firma adalah persekutuan perdata, maka aturan tentang berakhirnya CV juga dikuasai oleh persekutuan firma dan persekutuan perdata.

Hubungan hukum di antara para sekutu baik intern maupun ekstern, beberapa sarjana tidak terdapat perbedaan pandangan. Hubungan tersebut lebih banyak diatur dengan melalui pasal-pasal persekutuan perdata seperti hubungan mengenai pemasukan modal, dapat mengacu pada Pasal 1625 KUHPerdata. Pasal 1625 KUHPerdata menentukan bahwa, “Tiap peserta wajib memasukkan ke dalam perseroan itu segala sesuatu yang sudah ia janjikan untuk dimasukkan, dan jika pemasukan itu terdiri dari suatu barang tertentu, maka peserta wajib memberikan pertanggungan menurut cara yang sama dengan cara jual beli.”

56 Pasal 19 KUHD menyatakan, “Perseroan yang terbentuk dengan cara meminjamkan uang atau disebut juga perseroan komanditer, didirikan antara seseorang atau antara beberapa orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung-renteng untuk keseluruhannya, dan satu orang atau lebih sebagai pemberi pinjaman uang. Suatu perseroan dapat sekaligus berwujud perseroan firma terhadap persero-persero firma di dalamnya dan perseroan komanditer terhadap pemberi pinjaman uang.”

Pasal 20 KUHD menyatakan, “Dengan tidak mengurangi kekecualian yang terdapat dalam pasal 30 alinea kedua, maka nama persero komanditer tidak boleh digunakan dalam firma.

Persero ini tidak boleh melakukan tindakan pengurusan atau bekerja dalam perusahaan perseroan tersebut, biar berdasarkan pemberian kuasa sekalipun. Ia tidak ikut memikul kerugian lebih daripada jumlah uang yang telah dimasukkannya dalam perseroan atau yang harus dimasukkannya, tanpa diwajibkan untuk mengembalikan keuntungan yang telah dinikmatinya.”

Pasal 21 KUHD menyatakan, “Persero komanditer yang melanggar ketentuan-ketentuan alinea pertama atau alinea kedua dari pasal yang lain, bertanggung jawab secara tanggung renteng untuk seluruhnya terhadap semua utang dan perikatan perseroan itu.”

Pembagian keuntungan CV dapat mengacu pada ketentuan Pasal 1633 KUHPerdata yang menentukan bahwa:

Jika dalam perjanjian perseroan tidak ditetapkan bagian masing-masing peserta dari keuntungan dan kerugian perseroan, maka bagian tiap peserta itu dihitung menurut perbandingan besarnya sumbangan modal yang dimasukkan oleh masing-masing. Bagi peserta yang kegiatannya saja yang dimasukkan ke dalam perseroan, bagiannya dalam laba dan rugi harus dihitung sama banyak dengan bagian peserta yang memasukkan uang atau barang paling sedikit.

Jika terjadi kerugian dalam pelaksanaan CV, maka dapat mengacu pada ketentuan Pasal 1634 KUHPerdata yang menentukan bahwa:

Para peserta tidak boleh berjanji, bahwa jumlah bagian mereka masing-masing dalam perseroan dapat ditetapkan oleh salah seorang dari mereka atau orang lain. Perjanjian demikian harus dianggap dari semula sebagai tidak tertulis dan dalam hal ini harus diperhatikan ketentuan-ketentuan Pasal 1633 KUHPerdata.

Dalam pelaksanaan pendirian CV, bagian para pendiri dalam CV tersebut ditentukan berdasarkan besaran modal yang dimasukkan para pendiri dan tidak boleh ditentukan oleh salah seorang pendiri atau pihak lain karena akan dapat merugikan pihak yang memiliki modal yang lebih besar, baik dalam hal mendapatkan keuntungan maupun menanggung kerugian. Sehingga hal ini menjadi adil untuk para sekutu CV tersebut.

Dalam struktur CV dikenal dua jenis sekutu yang memegang peranan sangat menentukan untuk dapat disebut sebagai CV, yaitu sekutu komplementer dan sekutu komanditer. Beberapa penulis menyebut sekutu komplementer sebagai sekutu kerja atau sekutu aktif dan sekutu komanditer sebagai sekutu tidak kerja atau sekutu pasif. Sekutu komplementer adalah sekutu yang aktif mengurus dan menjalankan perusahaan serta mengadakan hubungan hukum dengan pihak ketiga,

sedangkan sekutu komanditer merupakan sekutu yang tidak berwenang menjalankan perusahaan, tetapi hanya mempunyai kewajiban memberi pemasukan modal kepada perusahaan.57

Dari kedua sekutu tersebut, yang justeru lebih menentukan untuk dapat disebut sebagai CV yaitu keberadaan sekutu komanditer, karena ketiadaan sekutu komanditer pada struktur suatu CV, maka persekutuan tersebut tidak dapat disebut sebagai CV. Apabila terdapat beberapa sekutu komplementer ada kemungkinan disebut sebagai firma atau bisa juga disebut sebagai maatschaap apabila di dalamnya hanya terdapat seorang sekutu komplementer.

Sebaliknya juga jika hanya terdapat sekutu komplementer saja, tentu tidak mungkin disebut sebagai CV karena tidak ada sekutu yang menjalankan perusahaan. Jadi di dalam konstruksi CV, baik sekutu komanditer atau sekutu komplementer mempunyai fungsinya masing-masing yang saling melengkapi.

Sekutu komanditer ini berfungsi seolah-olah sebagai pemegang merek pada bentuk CV. CV tanpa sekutu komanditer bukan merupakan CV.58

KUHD tidak mengatur secara tegas dasar prosedur pendirian suatu CV.

Dasar prosedur pendirian CV dapat didasarkan pada dasar prosedur pendirian firma yakni Pasal 19 KUHD.59 Berdasarkan ketentuan Pasal 19 KUHD dapat

57 Svinarky Irene, Tinjauan Hukum Tentang Akta Notaris Terhadap Pendirian Perseroan Komanditer (CV) Sebagai Badan Usaha, Cahaya Keadilan, Batam, 2014, hal. 23.

58 Vianda Karina Ika Putri, Bambang Winarno, dan A. Rachmad Budiono, Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaksanaan Pendaftaran Persetujuan Komanditer Berdasarkan KUHD, Citra Aditya, Bandung, 2013, hal. 64

59 Pasal 19 KUHD menyatakan, “Perseroan yang terbentuk dengan cara meminjamkan uang atau disebut juga perseroan komanditer, didirikan antara seseorang atau antara beberapa orang persero yang bertanggung jawab secara tanggung-renteng untuk keseluruhannya, dan satu orang atau lebih sebagai pemberi pinjaman uang. Suatu perseroan dapat sekaligus berwujud perseroan firma terhadap persero-persero firma di dalamnya dan perseroan komanditer terhadap pemberi pinjaman uang.”

diketahui bahwa, suatu persekutuan komanditer (CV) merupakan suatu persekutuan di bawah firma (para anggotanya yang bertanggung jawab secara tanggung renteng) ditambah dengan anggota-angota sebagai pelepas uang (geldschieter), sehingga ketentuan-ketentuan mengenai firma harus digabungkan dengan ketentuan-ketentuan mengenai persekutuan komanditer. Suatu persekutuan komanditer merupakan bentuk khusus dari persekutuan firma, sehingga dasar prosedur pendirian CV sama halnya dengan prosedur pendirian suatu firma.

Persekutuan firma mempunyai satu atau beberapa orang sekutu komanditer. Sekutu komanditer yang dimaksud adalah sekutu yang hanya menyerahkan uang, barang atau tenaga sebagai pada perseroan, sedangkan dia tidak turut campur dalam pengurusan atau penguasaan dalam persekutuan Pendirian suatu firma diatur pada Pasal 22, 23, 27 dan Pasal 28 KUHD. Pasal 22 KUHD menentukan bahwa, “tiap-tiap persekutuan firma harus didirikan dengan akta autentik, akan tetapi tidak dapat dikemukakan untuk merugikan pihak ketiga.” Berdasarkan ketentuan Pasal 22 KUHD tersebut dapat diketahui bahwa akta autentik bukan merupakan syarat mutlak untuk mendirikan firma, sehingga pendirian firma juga dapat didirikan secara lisan.

Pendirian CV yang merupakan suatu badan usaha, hanya berlandaskan pada perjanjian para pihak, sesuai dengan yang diinginkan para pihak tersebut sepanjang tidak melanggar undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

Walaupun pembuatan akta autentik tersebut bukan merupakan syarat mutlak.

Pendirian CV, akan tetapi dalam praktik di masyarakat, pendirian perseroan komanditer tetap dibuat dengan akta otentik yaitu di hadapan notaris.

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, dapat diketahui bahwa pembuatan akta otentik pendirian CV bukan merupakan suatu syarat mutlak, namun demikian pendirian CV dengan akta otentik atau akta yang dibuat di hadapan notaris menjadi suatu kebiasaan yang sering dilakukan dalam praktik di masyarakat. Dasar kewenangan Notaris dalam membuat akta otentik pendirian CV didasarkan pada kewenangan Notaris sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (untuk selanjutnya disingkat “UUJN”) dan defenisi akta autentik itu sendiri. Defenisi akta autentik dapat ditemukan pada ketentuan Pasal 1868 KUH Perdata, yang menentukan bahwa, “suatu akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan undang-undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat.”

Pendirian CV dengan akta otentik di hadapan Notaris harus memenuhi beberapa syarat pembuatan akta. Syarat pembuatan akta pendirian CV diawali dengan kesepakatan para pihak untuk saling mengikatkan diri mendirikan CV. Hal ini dilatarbelakangi bahwa pendirian CV didasarkan pada perjanjian para pihak yang berkepentingan. Pada saat para pihak sudah sepakat untuk mendirikan Perseroan Komanditer (CV), selanjutnya datang menghadap notaris dengan membawa Kartu Tanda Pengenal (KTP). 60

60 Yusran Hadini, Prosedur Dan Tata Cara Pendirian CV Berdasarkan KUHD, Graha Ilmu, Jakarta, 2013, hal. 75

Notaris akan meminta kepada pendiri CV untuk menerangkan hal-hal sebagai berikut: 61

a. Nama yang akan digunakan dan kedudukan CV.

Pemakaian nama perseroan komanditer tidak diatur secara khusus oleh undang-undang atau peraturan pemerintah, artinya kesamaan atau kemiripan nama perseroan dapat dimungkinkan terjadi. Dalam pendirian Perseroan Komanditer (CV) tidak diperlukan adanya pengecekan nama Perseroan Komanditer (CV) terlebih dahulu, tidak seperti pendirian PT. Hal ini menyebabkan proses pendirian CV menjadi lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan proses pendirian suatu PT. Pada proses pendirian PT, sesuai dengan ketentuan Pasal 5 PP No.43 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengajuan dan Pemakaian Nama Perseroan Terbatas wajib dilakukan pengecekan nama dan salah satu syarat pengecekan nama PT

Pemakaian nama perseroan komanditer tidak diatur secara khusus oleh undang-undang atau peraturan pemerintah, artinya kesamaan atau kemiripan nama perseroan dapat dimungkinkan terjadi. Dalam pendirian Perseroan Komanditer (CV) tidak diperlukan adanya pengecekan nama Perseroan Komanditer (CV) terlebih dahulu, tidak seperti pendirian PT. Hal ini menyebabkan proses pendirian CV menjadi lebih cepat dan mudah dibandingkan dengan proses pendirian suatu PT. Pada proses pendirian PT, sesuai dengan ketentuan Pasal 5 PP No.43 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengajuan dan Pemakaian Nama Perseroan Terbatas wajib dilakukan pengecekan nama dan salah satu syarat pengecekan nama PT

Dokumen terkait