BAB I PENDAHULUAN
1.5 Metode Penelitian
Untuk mendapatkan sebuah tulisan yang akurat, harus menggunakan metode sejarah dengan melalui beberapa tahap-tahap penelitian. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan jejak-jejak peninggalan dimasa lampau.8 Sebelum melakukan rekonstruksi serta menuliskannya ke dalam sebuah historiografi, terlebih dahulu perlu menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan jejak-jejak peninggalan sejarah tersebut. Untuk mengimplementasikan hal tersebut, metode sejarah menggunakan empat tahapan pokok, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.
8 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terj. Dari Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1985, hal. 39.
Tahap pertama adalah heuristik. Secara sederhana heuristik merupakan proses mengumpulkan data yang berkaitan dengan penelitian yang akan dijalankan.
Dalam hal ini, peneliti telah melakukan studi arsip dan studi pustaka. Studi arsip dilakukan dengan mengunjungi Pusat Arsip Nasional Republik Indonesia di Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan dan juga Perpustakaan Nasional, di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Studi Arsip ini dilakukan mengingat periode dari penelitian ini adalah pada masa kolonial. Kunjungan yang dilakukan pada bulan Februari 2016 merupakan pengalaman pertama yang didapatkan oleh peneliti dalam mengunjungi dan mengakses arsip. Diskusi yang dilakukan oleh peneliti dengan abang/ kakak seangkatan yang telah lebih dahulu mengunjungi dan mengakses arsip tersebut ternyata tidak cukup untuk menjadi pedoman dalam melakukan penelitian arsip. Meskipun telah mendapat arahan dari pegawai Arsip Nasional Indonesia, rasanya tidak cukup untuk dapat memahami prosedural secara langsung. Awalnya, peneliti yang masih awam ini merasa sangat kesulitan, baik dalam pemesanan arsip ataupun dalam melakukan penggandaan arsip. Namun, karena mulai terbiasa, kesulitan itu berubah menjadi kemudahan bagi penulis, yang mulai mengerti bagaimana mencari dan memesan arsip yang berhubungan dengan pertanian karet rakyat di Tapanuli pada masa kolonial. Kesulitan yang dihadapi hanyalah data yang menggunakan bahasa Belanda, dimana peneliti harus menterjemahkannya terlebiih dahulu agar lebih mudah dalam membaca. Di Arsip Nasional Republik Indonesia, peneliti mendapatkan banyak data yang berguna bagi penulisan, beberapa diantaranya
yakni Memorie van Overgave (MvO), Staatsblad, Foto-foto lama, dan arsip-arsip lainnya.
Meskipun telah mendapat banyak data di Arsip Nasional Republik Indonesia, rasa puas penulis belum terwujud. Penulis juga mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Lantai yang pertama sekali penulis kunjungi adalah lantai tiga. Di sini, penulis menemukan beberapa data yang menjadi prioritas dalam pencaharian, seperti Verslag “De Handelsvereniging Te Medan” 1928 – 1939, Encyclopedie van Nedherlands Indie, hingga surat kabar berhasil dilacak. Surat Kabar Oetoesandan Persamaan yang terbit pada tahun 1940 – 1941 terdapat di lantai 4 di ruang audio visual.
Di Medan peneliti tetap meneruskan upaya pengumpulan sumber. Dari perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Provinsi Sumatera Utara, hingga Taman Baca Masyarakat milik Tengku Lukman Sinar yang terletak di Jalan Abdullah Lubis, peneliti tidak menemukan satu data pun yang menyinggung tentang karet di Tapanuli, ataupun tentang wilayah Tapanuli sendiri.
Setelah mendapatkan sumber-sumber yang diinginkan, maka tahapan selanjutnya adalah kritik sumber.9 Kritik ini dilakukan agar mengetahui apakah data yang didapatkan benar-benar asli, ataukah sudah dirubah isi-nya, dan juga bisa
9 Kritik sumber dilakukan dengan dua cara yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik ekstern dilakukan untuk memilah apakah dokumen itu diperlukan atau tidak, serta menganalisis apakah dokumen yang telah dikumpulkan asli atau tidak dengan mengamati tulisan, ejaan, jenis kertas serta apakah dokumen tersebut masih utuh isinya atau sudah di ubah sebahagian. Kritik intern yaitu suatu langkah untuk menilai isi dari sumber-sumber yang telah di kumpulkan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kredibilitas sumber atau kebenaran isi dari sumber tersebut. Lihat Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995, hlm. 99.
dilakukan sebuah perbandingan jika sumber yang berbeda menyebutkan hal yang sama, ataupun hampir sama.
Setelah dokumen-dokumen tersebut dikritik, tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah interpretasi yang memuat analisis dan sintesis terhadap data yang telah diverifikasi. Pada tahapan ini, peneliti dituntut untuk melakukan penafsiran fakta lalu kemudian membandingkannya serta mengelompokkannya berdasarkan daftar isi yang ada sebelum mendapatkan kesimpulan lalu kemudian menceritakannya kembali ke dalam sebuah bentuk tulisan (historiografi).10
Tahap terakhir dari penelitian sejarah adalah histotiografi. Tahapan ini bertujuan agar fakta-fakta yang telah ditafsirkan dan didapat baik secara tematis ataupun kronologis dapat dirangkai sesuai outline yang telah dirancang sebelumnya sehingga menjadi tulisan yang kritis analisis, serta bersifat ilmiah sehingga tahap akhir penulisan ini dapat dituangkan ke dalam bentuk sebuah skripsi.
10 Ibid., hal. 100.
BAB II
TAPANULI DI AWAL ABAD KE-20
Sebagai pengantar, di dalam Bab II ini akan menceritakan bagaimana wilayah Tapanuli setelah lepas dari Keresidenan Sumatra’s Westkust dan berdiri sendiri menjadi sebuah keresidenan yang memiliki wilayah otoritasnya sendiri.
Wilayah Tapanuli serta pembagian wilayahnya dari afdeeling hingga kuria sebagai satuan wilayah yang terkecil dari sebuah residen. Di dalamnya juga terdapat informasi mengenai letak geografis, curah hujan, serta suhu udara yang tentunya berbeda-beda di setiap belahan wilayah Tapanuli yang memiliki struktur wilayah dengan ketinggian yang berbeda-beda.
Tidak ketinggalan pada bab ini juga disampaikan struktur pemerintahan di Tapanuli dari tingkat tertinggi hingga ke tingkat terendah. Begitu juga dengan penduduk yang mendiami wilayah-wilayah yang ada di Tapanuli, baik itu masyarakat asli maupun masyarakat pendatang.
Bentuk pertanian yang menjadi urat nadi bagi masyarakat di Tapanuli juga dimuat didalam bab ini, yang membahas tentang pola-pola pertanian masyarakat Tapanuli dan komoditas-komoditas yang ditanam di masing-masing daerah baik itu untuk diekspor ataupun dikonsumsi secara pribadi.
2.1 Wilayah dan Pemerintahan 2.1.1 Wilayah
Pada awalnya, sebelum tahun 1906, Tapanuli merupakan wilayah yang termasuk ke dalam wilayah Keresidenan Sumatera Barat. Karena wilayah Keresidenan Sumatera Barat dianggap terlalu luas, maka Pemerintah Kolonial Belanda kemudian memisahkan seluruh wilayah Tapanuli dari Keresidenan Sumatera Barat, dan kemudian membentuk sebuah keresidenan yang baru yakni Keresidenan Tapanuli. Tapanuli Resmi menjadi sebuah keresidenan yang utuh dan mempunyai pemerintahannya sendiri sejak 1 Januari 1906, dan Sibolga dijadikan sebagai Ibu Kota dari Keresidenan Tapanuli. 11
Sejak perubahan status tersebut, wilayah Keresidenan Tapanuli kemudian dibagi menjadi empat wilayah afdeeling, yakni Tanah Batak, Padang Sidempuan, Sibolga dan wilayah sekitarnya, dan Nias dan kepulauan sekitar. Afdeeling Tanah Batak yang berpusat di Tarutung, terdiri dari enam onderafdeeling, yaitu Silindung, Dataran Tinggi Toba, Toba, Barus, Samosir dan Tanah Dairi. Afdeeling Padang Sidempuan yang berpusat di Padang Sidempuan, memiliki empat onderafdeeling yakni Angkola dan Sipirok, Mandailing (Hulu dan Pakantan), Padang Lawas, Natal dan Batang Natal. Afdeeling Sibolga dan wilayah sekitarnya yang berpusat di Sibolga, terdiri dari 10 onderafdeeling, yakni Sibolga, Said ni Huta, Kalangan, Badiri Tapanuli, Untemangker, Sipakpahi, Pinang Sore Lumut, Anggoli, Simanosor, Sibolga
11 Pembentukkan wilayah Karesidenan Tapanuli di kuatkan berdasarkan pada Staatsblad yang dikeluarkan oleh Pemerintah tahun 1905 No. 418. Lihat MVO (Memorie Van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent-Resident (Boek I), 1920, hal. 1.
dan Tuka. Afdeeling Nias dan kepulauan sekitar yang berpusat di Gunung Sitoli, terdiri dari dua onderafdeeling, yakni Nias Utara dan Nias Selatan. 12 Sejak tanggal 1 Januari 1926, Afdeeling Nias dan kepulauan sekitar mendapatkan tambahan wilayah.
Kepulauan Batu yang dulunya masuk kedalam wilayah pemerintahan Sumatera Barat, pada tahun tersebut secara resmi masuk kedalam wilayah Afdeeling Nias dan menjadi onderafdeeling ke tiga di Afdeeling Nias tersebut.13
Secara keseluruhan, wilayah Tapanuli meliputi area seluas 38.888 Km²., tetapi luas daratan Tapanuli hanya berjumlah 38.228 Km². Wilayah Tapanuli yang masuk ke dalam wilayah Pantai Barat Sumatera terletak antara pemerintahan Aceh dan Sumatera Timur hingga masuk ke tepi wilayah Pemerintahan Sumatera Barat.14 Berdasarkan letak geografisnya, Keresidenan Tapanuli terletak disekitar 4' sampai 3°
6' Lintang Utara dan dari 11' sampai 2° 26' Bujur Barat, koordinat itu tidak termasuk Pulau Nias. Jika Pulau Nias diikut sertakan, maka letaknya menjadi 3° 17' Bujur Barat, sehingga dapat dikatakan bahwa salah satu wilayah Tapanuli berbatasan dengan Samudera Hindia. Perbatasan antara Keresidenan Tapanuli dengan wilayah Aceh terletak di wilayah Manuk-manuk di sebelah utara Tapanuli ke pegunungan Uruk Kayu Ipoh, dimana berkumpul perbatasan antara Tapanuli dengan Aceh dan
12Tidak hanya Staatsblad No. 418 tahun 1905, Pemerintah Hindia Belanda juga mengeluarkan peraturan-peraturan lainnya untuk memperkuat posisi Karesidenan Tapanuli ini, seperti Staatsblad No. 496 tahun 1906, Stbld No.360,398, dan 430 tahun 1907, No. 99, 138 dan 606, Tahun 1911, kemudian hingga tahun 1919. Untuk lebih jelas Lihat MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent-Resident (Boek II), 1920, hal. 420.
13R.H. Pieters MvO (Memorie van Overgave) van de Onderafdeeling Batoe Eilanden, Afdeeling Nias, Residentie Tapanoeli, 1926, hal. 1.
14 B.E.W.C. Schroder.(Boek II), 1920, op, cit., hal. 426.
Pantai Timur Sumatera.15 Perbatasan Keresidenan Tapanuli dengan wilayah Sumatera Timur (Oostkust van Sumatera) terletak antara wilayah Onderafdeeling Tanah Dairi dengan Wilayah Tanah Karo, Wilayah Onderafdeeling Toba dengan Simalungun dan Asahan, serta Habinsaran dengan Asahan dan Kuwalu. Perbatasan antara Padang Lawas dengan Tambusei (Daludalu) dan Rambah masih tertunda.16
Cuaca dan suhu udara secara menyeluruh di Tapanuli tidak diketahui secara pasti, hal ini mengingat kondisi wilayah Tapanuli yang memiliki keadaan geografis yang berbeda-beda. Ada yang wilayahnya dingin dengan curah hujan yang tinggi, ada juga wilayahnya yang netral (tidak dingin, dengan curah hujan yang standar), ada juga yang wilayahnya cukup panas dan kering. Di dataran tinggi Pak-pak misalnya, wilayah yang dipenuhi semak dan pohon yang basah, di pagi hari suhunya mampu mencapai 55° F. Di Sidikalang, suhu terendah mampu mencapai 17° C. Di wilayah pantai dari pagi hingga siang hari menjelang, cuaca yang terjadi tidak begitu hangat, tetapi cuaca di malam hari mampu mencapai 90° F. Tepi Danau Toba yang ketinggiannya mencapai 900 mdpl., memiliki suhu yang cukup konstan, tetapi hal ini kemudian berubah pada musim kemarau yang terjadi antara bulan Juki dan Agustus.
Samosir yang wilayahnya berada di tengah-tengah Danau Toba, tampaknya lebih sedikit diuntungkan dengan adanya pegunungan dan juga danau yang membentengi wilayah ini. Pegunungan dan Danau tersebut berfungsi sebagai pengatur suhu di
15 Untuk keterangan lebih jelas mengenai perbatsan Tapanuli dengan Aceh, lihat Staatsblad No. 604 tanggal 10 Oktober 1908 pada artikel ke-1.
16 Berdasarkan (Grote Bundel) nomor 3 tertanggal 10 Oktober tahun 1908, pada pasal 2 dijleaskan bahwa Residen Tapanuli dan Residen Sumatera Timur berunding untuk membicarakan perbatasan wilayah tersebut.
wilayah sekitarnya. Dataran dan wilayah di sekitar Danau Toba termasuk wilayah yang sering terjadi hujan. Hujan-hujan tersebut biasanya terjadi pada bulan Januari hingga Februari, dan Juni sampai Agustus. Untuk bulan Oktober sampai Desember, cuaca lebih bervariasi sesuai dengan keadaan geografis wilayahnya masing-masing.
Di Tapanuli bagian selatan, pada bulan Juni sampai bulan juli sangat jarang sekali hujan turun. Bulan yang paling sering turun hujan yakni di bulan Oktober sampai bulan Desember. Curah hujan yang ada juga tidak begitu besar. Di Padang Sidempuan misalnya, rata-rata curah hujan di wilayah tersebut yakni 2.217 mm., di Kota Nopan curah hujan rata-rata yakni 2.287 mm. Bergeser ke bagian tengah, di Sibolga misalnya, curah hujan di wilayah ini cukup tinggi dengan rata-rata 4.655 mm.
Bergeser ke utara, rata-rata curah hujan di Balige sedikit, yakni hanya 1.886 mm, dan di Tarutung curah hujannya yakni 2.146 mm. Wilayah dengan suhu yang cukup dingin berada di wilayah Sipirok, Mandailing Kecil (termasuk Pakantan) dan Batang Natal. Sebaliknya, wilayah yang cukup hangat berada di wilayah Angkola dan Mandailing Besar.17
17 Suhu di Sipirok pada saat pagi hari yakni 20°C dan di saat siang hari mencapai 30°C sedangkan wilayah Mandailing Kecil suhunya sekitar 22,5° C. Di wilayah Mandailing Besar, suhu tertinggi berada di daerah Panjaboengan yakni berkisar antar 30,5° C sampai 31,5°C. Lihat MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. (Boek I), 1920, op. cit., hal.
144-146.
2.1.2 Pemerintahan
Pemerintahan di Tapanuli umumnya tidak jauh berbeda dengan wilayah-wilayah residen pada masa Kolonial Belanda. Kepala pemerintahan Keresidenan dipimpin oleh seorang residen. Jabatan residen biasanya diisi oleh orang-orang Belanda sendiri, dan seorang residen memiliki kuasa terhadap seluruh wilayah yang berada di wilayah keresidenannya. Seorang residen biasanya dibantu oleh asisten residen yang berkuasa di tiap-tiap afdeeling. Karena di Tapanuli memiliki 4 wilayah Afdeeling, itu berarti di Tapanuli terdapat 4 orang asisten residen yang akan membantu seorang residen dalam menjalankan pemerintahannya.
Pada tingkat ke-3 dalam pemerintahan Tapanuli ada controleur yang bertugas sebagai kepala pemerintahan di wilayah onderafdeeling. Masing-masing onderafdeeling memiliki satu orang controleur yang bertugas di masing-masing wilayah yang dibawahi. Jabatan residen, asisten residen, ataupun controleur, berada ditangan bangsa Belanda dan merupakan pegawai kolonial.
Tiap-tiap kontrolir mempunyai mitra seorang pejabat yang berasal dari bangsa Indonesia yang digaji oleh pemerintah. Mitra itu disebut dengan demang.
Dengan kata lain, demang merupakan pegawai pemerintahan tetapi berasal dari rakyat pribumi. Tiap-tiap onderafdeeling hanya memiliki satu buah distrik (setingkat kewedanaan), yang berarti hanya ada satu demang yang berkuasa di setiap onderafdeling. Dalam menjalankkan tugasnya, demang dibantu oleh asisten demang.
Asisten demang juga merupakan pegawai negeri yang digaji oleh Pemerintah Hindia
Belanda, yang berasal dari orang-orang pribumi. Jumlah asisten demang berbeda-beda berdasarkan jumlah onderdistrik yang ada di tiap-tiap wilayah distrik. 18
Sampai pada asisten demang, struktur pemerintahan di Tapanuli masih terlihat sama dengan sistem pemerintahan di daerah-daerah lainnya yang berada di bawah Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Hal ini dikarenakan ada beberapa perbedaan yang bisa dikatakan menjadi ciri khas dari struktur pemerintahan di Tapanuli karena di setiap afdeeling yang ada di Tapanuli memiliki struktur yang berbeda terutama pada jenjang asisten demang ke bawah.
Di Afdeeling Padang Sidempuan misalnya, untuk jabatan satu tingkat di bawah asisten demang diisi oleh Seorang kepala kuria. Kepala kuria juga disebut sebagai panusunan. Seorang panusunan atau kepala kuria ini membawahi willayah yang disebut hakuriaan atau wilayah kuria yang didalamnya terdapat beberapa wilayah yang disebut huta ataupun kampung. Huta dipimpin oleh seorang raja pamusuk yang menjadi perpanjangan tangan seorang kepala kuria dalam mengurus segala permasalahan yang terjadi pada tingkat terbawah. Dengan kata lain, kepala huta atau kepala kampung ini merupakan pejabat non pemerintah tipe kedua yang ada di Afdeeling Padang Sidempuan. Bentuk pemerintahan ini tidak sepenuhnya serupa di seluruh Afdeeling Padang Sidempuan. Di Onderafdeeling Padang Lawas misalnya, pemimpin non pemerintah tipe pertama berkuasa atas wilayah luhat, dan Onderafdeeling Padang Lawas merupakan satu-satunya wilayah di Afdeeling Padang
18 Lance Castles, Kehidupan Poltik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915-1940 (Terjemahan), Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2001, hal. 47.
Sidempuan yang menggunakan luhat sebagai wilayah tipe pertama non pemerintah, dan huta tetap menjadi pemimpin adat tipe kedua.19
Di Afdeeling Tanah Batak, jaihutan menjadi pemimpin adat non pemerintah tipe pertama yang memiliki kuasa satu tingkat di bawah asisten demang. Seorang jaihutan berkuasa atas wilayah hundulan yang setara dengan hakuuriaan di wilayah Afdeeling Padang Sidempuan, ataupun luhat di Onderafdeeling Padang Lawas.
Seorang jaihutan dibantu oleh seorang raja paidua, yang berkuasa terhadap daerah lain di hundulan dan merupakan pemimpin non pemerintah tipe kedua dalam struktur jabatan di Afdeeling Tanah Batak . Di wilayah ini, huta ataupun kepala kampung tetap berperan sebagai pemimpin non pemerintah tipe ke tiga.20
Dapat dilihat bahwa, pemimpin wilayah non pemerintah dari tipe pertama hingga tipe ke tiga, baik itu di wilayah Afdeeling Padang Sidempuan ataupun Afdeeling Tanah Batak merupakan bagian dari pemerintahan swapraja. Meskipun para pemimpin tersebut dilantik dan disetujui oleh pemerintah kolonial, tetapi dalam pelaksanaannya mereka dipilih secara demokratis meskipun pada kenyataannya pemerintah Kolonial Belanda tetap memilih pemimpin yang memiliki pengaruh besar terhadap wilayah tersebut. Hal ini dilakukan agar pemerintah kolonial tidak turun langsung dalam mengawasi masyarakat pada tingkat terendah, sehingga pemerintah kolonial tidak bersentuhan langsung jika terjadi sebuah pemberontakan.
19 Ibid., hal. 30.
20 Pada akhirnya, posisi jaihutan dan raja paidua digantikan oleh seorang kepala negeri yang membawahi negeri sebagai pemimpin non pemerintahan tipe pertama dan kedua. Pergantian tersebut dikarenakan jumlah jaihutan dan raja paidua sangat banyak sehingga tidak efisien, dan sebutan negeri dinilai lebih modern, Ibid., hal 49.
pemimpin swapraja ini juga tidak digaji oleh pemerintah, karena status mereka bukanlah sebagai pegawai negeri pemerintahan. Para pemimpin swapraja tersebut mendapatkan upah dari pemungutan pajak, adat pindah kampung ataupun yang berhubungan dengan adat lainnya. Untuk selanjutnya, struktur organisasi pemerintahan dapat dilihat pada bagan dibawah ini:
Bagan 2.1
Struktur Pemerintahan di Tapanuli
Sumber: Dikompilasi dari Lance Castles, Kehidupan Poltik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915 1940 (Terjemahan), Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2001. hal.20, 22,28, 47, dan Akhir Matua Harahap, Sejarah Pemerintahan di Tapanuli, Bagian ke 2 (Online).
http://akhirmh.blogspot.co.id/2011/05/sejarah-pemerintahan-di-tapanuli-bagian_02.html. Diakses
RESIDEN ASISTEN RESIDEN
KONTROLIR
DEMANG
ASISTEN DEMANG
KEPALA LUHAT PANUSUNAN JAIHUTAN
PAMUSUK PAIDUA
KEPALA KAMPUNG PAMUSUK
Tanggal 25 September 2016.
Mengenai struktur kepemimpinan di 2 wilayah lagi, yakni Afdeeling Sibolga en Ommelande dan Afdeeling Nias en Omiggende Eilanden memang belum ada struktur yang pasti. Dari sumber-sumber yang ada juga tidak menyinggung kedua afdeeling ini, tetapi memang tidak menutup kemungkinan jika struktur yang ada memiliki kesamaan dengan salah satu struktur yang dimiliki oleh kedua afdeeling yang telah disebutkan di atas. Dalam suatu sumber menyebutkan, ternyata kontrolir memiliki peran dalam pergantian-pergantian pemimpin non pemerintah tersebut, sehingga hal inilah yang menyebabkan adanya ketidakseragaman pemimpin wilayah yang ada di beberapa Afdeeling.21
2.2 Penduduk
Jika berbicara mengenai masyarakat Tapanuli, hal utama yang terlintas difikiran pertama sekali adalah kata “Batak”. Banyak orang yang menyebutkan bahwa semua masyarakat Tapanuli adalah orang Batak, karena setidaknya ada beberapa sub – etnis yang bermukim di sana. Akan tetapi tidak sedikit juga orang-orang yang menyangkalnya dengan alasan yang berbeda-beda. Dalam hal ini, kata
“batak” tidak digunakan untuk menyebutkan suatu etnis kemasyarakat yang ada di Tapanuli.
Penduduk yang mendiami wilayah Tapanuli umumnya terdiri dari etnis yang berbeda-beda. Meskipun demikian, Tapanuli juga memiliki beberapa etnis asli. Di
21 Lance Castles, loc. cit.,
sebelah Selatan dan Baratdaya Danau Toba dan juga di Pulau Samosir, berdiam orang-orang Toba. Di Baratlaut terdapat orang-orang dari suku Pak-pak yang mendiami wilayah Dairi. Bergeser jauh ke Selatan, tepatnya di wilayah Angkola, Mandailing dan Padang Lawas, bermukim orang-orang dari suku Angkola dan Mandailing. Suku-suku ini tentunya memiliki ciri khasnya masing-masing.22 Pulau Nias, sebagai wilayah terluar dari Keresidenan Tapanuli, didiami oleh orang-orang Nias yang juga memiliki sistem marga di dalam kehidupan masyarakatnya.
Masing-masing suku-suku tersebut mendiami wilayahnya masing-masing.
Dalam komposisi kependudukan di Tapanuli, suku-suku selain yang telah disebutkan diatas juga turut mewarnai kehidupan masyarakat di Tapanuli adalah dari suku Minangkabau, orang Eropa, dan orang-orang dari Timur Asing yang juga bermukim di wilayah Tapanuli. Pada tahun 1908 jumlah orang Eropa yang ada di Tapanuli berjumlah 436 orang, sedangkan jumlah orang Timur Asing jauh lebih banyak, yakni berjumlah 1.926 orang. Pada tahun yang sama, jumlah penduduk yang ada di Tapanuli berjumlah 513.634 Jiwa. Jumlah tersebut termasuk wilayah Nias yang merupakan wilayah terluar dari wilayah Tapanuli. Untuk melihat perbandingan jumlah penduduk di Tapanuli, perhatikan tabel berikut ini:
22Lance Castles, loc. cit.,
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk tahun 1908
Wilayah Jumlah Penduduk
Padang Lawas 42.355
Sibolga 20.160
Barus dan Sorkam 9.331
Silindung 45.872
Dataran tinggi Toba 70.661
Toba dan Uluan 89.971
Diperkirakan jumlah samosir 70.000
Daerah luar lainnya yang termasuk kedalam
Yuridiksi 24.000
Jika ditambah Dairi Landen 20785
Total keseluruhan 513.634
Sumber: MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent Resident (Boek I), 1920. hlm.155.
Pada tahun 1917, jumlah penduduk yang ada di wilayah Tapanuli bertambah, setidaknya ada 765.238 orang pribumi yang bermukim pada tahun tersebut. Orang-orang Eropa dan Timur Asing juga bertambah populasinya, masing-masing 723 jiwa dan 2.671 jiwa. Jumlah tersebut tentunya bertambah dari tahun 1908. Untuk melihat jumlah populasi tahun 1917, lihat tabel berikut ini:
Tabel 2.3
Jumlah Populasi Masyarakat Di Wilayah Tapanuli berdasarkan komposisi penduduk (1917)
Afdeeling Onderafdeeling Eropa Timur Asing Pribumi Beneden Tapanuli
Totaal rata-rata 723 2.671 765.238
Sumber: MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent Resident (Boek I), 1920. hal.156.
Selama sembilan tahun, penduduk pribumi setidaknya bertambah sebanyak 251.604 orang, orang Eropa hanya bertambah sebanyak 287 orang dan orang Timur Asing hanya bertambah 745 orang. Banyaknya populasi orang Timur Asing umumnya berada di wilayah pesisir ataupun wilayah yang dekat dengan jalur perdagangan, seperti Sibolga, Nias, dan Barus. Orang-orang Eropa termasuk orang
Selama sembilan tahun, penduduk pribumi setidaknya bertambah sebanyak 251.604 orang, orang Eropa hanya bertambah sebanyak 287 orang dan orang Timur Asing hanya bertambah 745 orang. Banyaknya populasi orang Timur Asing umumnya berada di wilayah pesisir ataupun wilayah yang dekat dengan jalur perdagangan, seperti Sibolga, Nias, dan Barus. Orang-orang Eropa termasuk orang