PERTANIAN KARET RAKYAT DI TAPANULI, 1908-1942 SKRIPSI SARJANA
Dikerjakan O
L E H
Nama: M. Azis Rizky Lubis Nim: 120706013
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
PERTANIAN KARET RAKYAT DI TAPANULI, 1908 – 1942
SKRIPSI SARJANA Dikerjakan Oleh:
Nama : M.Azis Rizky Lubis Nim : 120706013
Diketahui Oleh:
Pembimbing
Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam Bidang Ilmu Sejarah.
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2 0 1 6
Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
PERTANIAN KARET RAKYAT DI TAPANULI 1908 – 1942
Dikerjakan Oleh:
Nama : M.Azis Rizky Lubis NIM : 120706013
Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian Skripsi oleh:
Pembimbing
Drs. Edi Sumarno, M.Hum Tanggal: ………2016
NIP 196409221989031001 Ketua Departemen Sejarah
Drs. Edi Sumarno, M.Hum Tanggal: ………2016
NIP 196409221989031001
DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
LEMBAR PERSETUJUAN KETUA DEPARTEMEN
DISETUJUI OLEH :
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
DEPARTEMEN SEJARAH Ketua Departemen,
Drs. Edi Sumarno, M.Hum Tanggal: ………2016 NIP 196409221989031001
PENGESAHAN
Diterima Oleh :
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam Jurusan Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan
Pada :
Tanggal :
Hari :
Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,
Dr. Budi Agustono, MS NIP. 196008051987031001
Panitia Ujian:
No. Nama Tanda Tangan
1. Drs. Edi Sumarno, M.Hum. ...
2. Dra. Nurhabsyah, M.Si. ...
3. Dr. Budi Agustono, M.S. ...
4. Dra. Ratna, M.S. ...
5. Drs. Junita Setiana Ginting, M. Si. ...
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah..., segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan rahmat, nikmat serta hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelasaikan seluruh proses dalam penulisan skripsi ini. Tidak lupa penulis haturkan sholawat berangkaikan salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, kiranya semoga mendapatkan syafaatnya di hari kemudian kelak.
Penulisan skripsi adalah salah satu syarat yang wajib dipenuhi untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Dalam hal ini penulis mengkaji tentang pertanian karet yang diusahakan oleh rakyat di daerah Tapanuli. Skripsi ini berjudul Pertanian Karet Rakyat Di Tapanuli 1908-1942.
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan di sana-sini dalam penulisan skripsi ini, maka dari itu penulis akan membuka pintu selebar-lebarnya apabila ada kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan skripsi ini nantinya.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat memberikan khasanah pengetahuan yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.
Medan, Oktober 2016
Penulis
M. Azis Rizky Lubis
NIM. 120706013
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulisan skripsi ini tidak akan terwujud dan selesai tanpa adanya bantuan, dorongan, pelayanan, serta semangat baik yang bersifat moril maupun materil yang diberikan oleh banyak pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, MS., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, serta kepada Wakil Dekan beserta Staf pegawai Fakultas Ilmu Budaya, USU.
2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum., selaku Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU dan sekaligus sebagai Pembimbing Skripsi saya.
Terimakasih atas segala arahan, waktu luang dan bantuan yang telah bapak berikan, segala pemikiran yang bapak kemukakan saya jadikan inspirasi dan motivasi dalam penulisan skripsi ini. Tidak lupa juga kepada Ibu Dra.
Nurhabsyah, M.Si., selaku Sekretaris Departemen Sejarah yang turut membantu dalam kelancaran penulisan ini.
3. Bapak Drs. Wara Sinuhaji, M.Hum., selaku Dosen Penasehat Akademik penulis yang telah sabar dalam membimbing, memotivasi, memberikan nasehat dan bantuan kepada penulis.
4. Seluruh staf pengajar Bapak/ Ibu dosen yang telah menurunkan ilmunya kepada penulis, baik dari segi pengetahuan, pengalaman, serta wawasan
selama penulis menjadi mahasiswa baik di dalam maupun di luar jam pelajaran. Tidak lupa juga kepada Staf Administrasi Departemen Sejarah, Bang Ampera yang telah banyak membantu penulis selama penulis menjadi mahasiswa.
5. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), serta Perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan data dan pelayanan dengan baik selama penulis melakukan penelitian.
6. Kepada kedua orang yang paling berjasa dalam hidup saya, yang sangat saya sayangi, saya cintai dan yang saya hormati Bapak Saifuddin Lubis (Alm) dan Ibu Sity Aisyah. Skripsi dan gelar sarjana ini saya persembahkan kepada ayah dan ibu saya, terutama kepada Almarhum ayah saya yang tidak sempat melihat saya menjadi seorang sarjana. Segala yang saya lakukan kepada ayah dan ibu saya tidak akan pernah setimpal. Terimakasih atas segala yang telah Bapak dan Ibu berikan kepada saya, bimbingan serta do‟a adalah yang paling utama, ayah, mamak, adek akhirnya sarjana.
7. Kepada kedua abang saya, M.Azis Ridho Lubis beserta keluarga, M.Azis Bachri Lubis, Amd. beserta keluarga, serta seorang kakak yang sangat saya sayangi Sity Syafrida Lubis, Amd., terimakasih telah memberikan nasehat, dan kasih sayang kepada “godek”, “godek” sekarang sudah besar, sudah sarjana.
8. Keluarga Intan 56, terkhusus kepada kedua “Ayah” Saya, uwak Drs. H.
Afiffudin Lubis, M.Si. serta uwak Dr. H. M. Hatta Lubis, Sp.PD yang telah memberikan semangat kepada penulis, serta bantuan yang lebih dari cukup, baik materil maupun imateril. Terimakasih wak. Untuk Keluarga Amangboru Alm. dr. H. Darmansyah Harahap, beserta Bou Hj. Chairiah Lubis, dan anak-anaknya, yang dengan ikhlas memberikan tumpangan serta fasilitas lainnya kepada penulis yang lebih dari kata layak. Kepada Bou Limah, bang Ucok, beserta istri dan kedua anaknya, terimakasih telah memberikan tumpangan dengan ikhlas kepada penulis selama penulis melakukan penelitian di Jakarta. Penulis sangat bersyukur bisa dilahirkan di keluarga yang sangat-sangat baik dan peduli terhadap sanak famili.
9. Seluruh Keluarga Besar Ilmu Sejarah stambuk 2012, terkhusus kepada dua orang partner saya yang sangat luar biasa, Putri Nurmawati, SS., Halimah Selian, SS., kepada sahabat-sahabat dekat, Susiniaty Situmeang, Teguh Prahara Tanjung, Pradana Nugraha, Muhammad Ardiansyah, 5 sekawan (Ellel, Tirta, Iqbal, Purnawan, dan Fauzan), Eka Syahputri Andriani, SS., Ray Brema Ginting, Rinaldi Simamora, Iqram, Gernhard Marpaung, Arif Ilhadi, Utari Mahara Sera, SS., Serta yang tak kalah spesial sahabat dalam keadaan susah dan senang, komandan saya Jefri Simbolon. Semua kenangan yang telah terjadi telah tersimpan di ingatan saya.
10. Keluarga Besar Baret Ungu, Batalyon A Menwa USU, rumah kedua bagi saya yang telah memberikan saya motivasi, serta pelajaran yang tidak saya
dapatkan di kampus. Terkhusus kepada saudara-saudara saya Pra-Yudha XIII yang telah memberikan warna lain dalam perjalanan kehidupan saya, juga junior saya Pra-Yudha XIV dan Anak didik saya GS-27 yang telah memberikan keceriaan di dalam keseharian saya, jaya terus Yon-A USU.
11. Kepada Bang Handoko yang telah membantu dan memberikan motivasi dalam penelitian khususnya saat berada di Jakarta, saya ucapkan terimakasih bang. Kepada kakak dan abang angkatan 2011, Kak Devi Itawan dan Bang Junaedi, Kak Wani, Bang Wahyu, Kak Alda, Bang Kiki, serta Bang Wisnu, yang selalu siap sedia membantu adiknya ketika meminta pertolongan.
Akhirnya untuk semua yang membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi ini penulis ucapkan terimakasih, semoga kebaikan dan bantuan yang telah kalian beri mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Aamiin...
Medan, Mei 2016 Penulis
M. Azis Rizky Lubis NIM. 120706013
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH ... ii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
UKURAN BERAT DAN LUAS ... xii
GLOSSARY ... xiii
INTISARI ... xvi
ABSTRACT ... xvii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan dan Manfaat ... 6
1.4 Tinjauan Pustaka ... 7
1.5 Metode Penelitian ... 9
BAB II TAPANULI DI AWAL ABAD KE 20 2.1 Wilayah dan Pemerintahan ... 13
2.1.1 Wilayah ... 14
2.1.2 Pemerintahan ... 18
2.2 Penduduk ... 22
2.3 Bentuk Pertanian ... 27
BAB III LATAR BELAKANG PERTANIAN KARET RAKYAT DI TAPANULI 3.1 Ketersediaan Lahan ... 32
3.2 Modal ... 35
3.3 Tenaga Kerja ... 38
3.4 Pasar dan Perdagangan ... 47
BAB IV BUDIDAYA KARET RAKYAT DI TAPANULI, 1908 – 1942 4.1 Penyiapan Lahan dan Pembibitan ... 52
4.1.1 Penyiapan Lahan ... 52
4.2.2 Pembibitan ... 54
4.2 Penanaman ... 57
4.3 Perawatan ... 63
4.4 Penyadapan ... 66
4.5 Pengelolaan Pasca Panen ... 72
BAB V PERKEMBANGAN TANAMAN KARET DI TAPANULI, 1908 – 1942 5.1 Persebaran ... 84
5.2 Jumlah Pohon Yang Di Tanam ... 87
5.3 Petani Yang Terlibat ... 91
5.4 Teknologi ... 93
5.5 Produksi: Kuantitas dan Kuantitas ... 96
5.6 Transportasi dan Perdagangan ... 120
BAB VI KEHIDUPAN EKONOMI PETANI KARET RAKYAT DI TAPANULI, 1908 – 1942 6.1 Penghasilan Petani Karet ... 127
6.2 Pemenuhan Kebutuhan Pokok ... 136
BAB VII KESIMPULAN ... 138
DAFTAR PUSTAKA ... 143 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Proses penekanan menggunakan tjipitan ... 79
Gambar 2. Proses penjemuran koeken ... 80
Gambar 3. Proses penggilingan dalam pembuatan shetty-crepe ... 82
Gambar 4. Proses pengeringan sheety-crepe ... 83
Gambar 5. Gambar ilustrasi pisau djebong ... 97
Gambar 6. Mesin penggiling lateks yang masih dioperasikan oleh tenaga manusia ... 99
Gambar 7. Penjuualan sheety crepe oleh masyarakat di Kampong Bantul, Sibolga ... 124
Gambar 8. Truk pengangkut karet ... 127
Gambar 9. Proses pengepakan karet sebelum dikirim ke tempat tujuan, Sibolga ... 129
Gambar 10. Peta wilayah Keresidenan Tapanuli ... 155
Gambar 11. Surat Kabar Persamaan, Terbit tanggal 10 Mei 1934 ... 156
Gambar 12. Surat Kabar Oetoesan, Terbit tanggal 9 Juni 1941 ... 157
Gambar 13. Gambar Masyarakat Dengan Pohon Karet yang Baru Disadap ... 158
Gambar 14. Gambar Pola Sadapan Karet Yang Menyerupai Huruf “V” ... 158
Gambar 15. Gambar Masyarakat Dengan Hasil sheety crepe ... 159
Gambar 16. Gambar Koeken Segar ... 159
DAFTAR TABEL
Tabel 2.2. Jumlah penduduk tahun 1908 ... 24 Tabel 2.3. Jumlah populasi masyarakat di wilayah Tapanuli berdasarkan komposisi
penduduk (1917) ... 25 Tabel 2.4. Komoditas tanaman ekspor yang dibudidayakan di Tapanuli tahun 1920
-1925 ... 30 Tabel 3.1. Jumlah orang-orang dari Pantai Timur yang berkerja di
Tapanuli ... 43 Tabel 3.2. Upah buruh harian berdasarkan klasifikasi pekerjaannya pada
tahun 1917 ... 44 Tabel 3.3. Standar upah yang diterima setiap bulannya (1913-1924) . 45 Tabel 4.1. Jenis bibit berdasarkan surat edaran Nomor 1704 (L)o ... 57 Tabel 4.2. Jumlah aktifitas awal perdagangan di Tapanuli ... 59 Tabel 5.1. Jumlah ekspor wilayah-wilayah yang ada di Sumatera pada kuartal
pertama tahun 1935 ... 110
Tabel 5.2. Perbandingan harga karet dengan kupon, dengan harga karet tanpa kupon selama kuartal 1-2 tahun 1937 (sen per kg) ... 118
Tabel 5.3. Perbandingan harga karet dengan kupon, dengan harga karet tanpa kupon selama kuartal 3 dan 4 tahun 1937 (sen per kg) ... 119
Tabel 5.4. Perbandingan ekspor Tapanuli berdasarkan jenis olahan pada tahun 1935 hingga 1938 ... 121
Tabel 5.5. Perkembangan kualitas karet rakyat di Tapanuli
(Dalam ton/ 1000kg) ... 122 Tabel 5.6. Daftar Perusahan yang melakukan pembelian dan mengekspor karet
rakyat ke Singapura ... 131 Tabel 6.1. Perbandingan komoditas ekspor di Tapanuli 1920-1925 ... 134 Tabel 6.2. Jumlah Ekspor Beras di tahun 1922-1924 ... 136
Tabel 6.3. Tren harga robusta rata-rata per kwartal dan per picol dalam gulden dan karet per Kg., dalam sen di Sibolga dari 1929-1935 ... 138 Tabel 6.4. Perbandingan Ekspor Karet dan Robusta di Tapanuli tahun 1929
– 1934 ... 141
UKURAN BERAT DAN LUAS
1 ton = 1000 Kilogram (Kg.)
1 kilogram = 2,2046 Pon 1 pikul = 61,761 Kg.
1 pikul = 100 Kati
1 kati = 617,613 gram (gr.) 1 km² = 1.000.000 m²
1 ha = 1,4091 bau = 2,4771 are
1 bau = 7.096,5 M² atau 0,70 H
1 Gulden (f) = 100 Sen
GLOSSARY
Afdeeling : Wilayah pemerintahan yang merupakan bagian dari
keresidenan atau provinsi dan dikepalai oleh seorang asisten residen.
Asisten-residen : Kepala wilayah suatu afdeeling.
Battle : Pisau penyadap pohon karet, terbatdari logam berbentuk setengah lingkaran.
Blanket : Lembaran bahan olah karet berwarna coklat muda sampai coklat tua yang dibuat dari slab dan unsmoke-sheet.
Controleur : Pejabat Pemerintah yang mengepalai wilayah onderafdeeling De Handelsveree : Kantor perdagangan di Medan .
-niging te Medan
De Handelsveree : Kantor perdagangan di Sibolga.
-niging te Sibolga
Ficus Elastica : Jenis karet lokal yang banyak tumbuh di hutan-hutan Asia Tenggara pada ketinggian 600 meter.
Hevea Brasili : Jenis Karet yang berasal dari Brasil. Bisa tumbuh hingga 25m.
-ensis
Karet Rakyat : Karet yang dihasilkan dari pertanian yang dilakukan oleh pen -duduk. Dalam bahasa Belanda disebut bevolkingsrubber, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut nativerubber.
Lateks : Getah yang dihasilkan oleh pohon karet baik ficus maupun hevea, berwarna putih susu.
Lump : Lateks yang menggumpal secara alamiah.
Mandailing : Suatu jenis olahan kart yang hampir mirip dengan slab, namun -Koeken bedanya, mandailing koeken berbentuk seperti kue dengan ben
-tuk lingkaran, dan ada juga yang berbentuk persegi panjang.
Memorie van : Sering disingkat MvO, merupakan laporan serah terima -Overgave - jabatan dari seorang pejabat yang mengakhiri masa tugas.
Onderafdeeling : Wilayah pemerintahan dibawah afdeeling yang dikepalai oleh -seorang controleur.
Residen : Kepala wilayah suatu keresidenan.
Restriksi : Berarti pembatasan produksi atau ekspor yang biasa diajukan -untuk menstabilkan harga.
Restriksi Cukai : Pembatasan produksi dan ekspor karet dengan cara menaikkan Ekspor Khusus bea ekspor seiring fluktuasi harga.
Restriksi individu : Pembatasan produksi karet dengan cara menetapkan jumlah maksimal produksi per petani berdasarkan perkalian jumlah pohon yang biasa disadap, dan rata-rata karet kering yang bisa dihasilkan pertahun.
Scrap : Jenis bahan olahan karet yang dihasilkan dari produk sisa.
Slab : Jenis bahan olahan karet yang dibekukan dengan meng
-gunakan koagulan, seperti tawas, asam cuka, dan asam semut.
Smoke – sheet : Jenis bahan olahan karet yang diolah dari slab yang digiling Dan dikeringkan melalui proses pengasapan, sehingga disebut juga dengan sit asap.
Sheety – crepe : Jenis bahan olahan karet yang diolah dari slab yang kemudian digiling dan juga ditekan dengan alat penjepit, lalu
dikeringkan dengan cara di jemur dengan memanfaatkan angin, sehingga disebut juga dengan sit angin.
Stevenson’s : Suatu kebijakan yang dilakukan secara sepihak oleh produsen -scheme karet dari koloni-koloni Inggris untuk mengurangi produksi
agar harga karet membaik. Aturan ini dipelopori oleh Stevenson dan diberlakukan selama tahun 1922 – 1928.
INTISARI
Skripsi yang berjudul “Pertanian Karet Rakyat Di Tapanuli, 1908 – 1942 ini merupakan sebuah kajian sejarah perkebunan yang dikaitkan dengan kehidupan sosial – ekonomi masyarakat yang membudidayakan tanaman karet di Karesidenan Tapanuli. Dalam pelaksanaan penelitiannya, skripsi ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari heuristik, verifikasi (kritik), interpretasi, dan historiografi.
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, faktor geografis menjadi faktor penting dalam pemerataan persebaran tanaman karet. Di samping itu, kemudahan dalam mengakses lahan, tersedianya tenaga kerja, dan relatif kecilnya modal yang dikeluarkan juga menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam perluasan suatu tanaman yang bernilai ekspor. Adanya pasar dan perusahaan ekspor – impor menjadi faktor pendukung yang memiliki peran vital dalam keberlangsungan kehidupan petani yang memberdayakan tanahnya untuk tanaman komersial.
Transportasi dapat mempengaruhi baik atau tidaknya suatu kualitas produksi. Hal ini terjadi seiring dengan kondisi geografis dari wilayah Tapanuli sendiri yang letaknya cukup jauh dari wilayah pusat perdagangan, sehingga produksi dalam bentuk karet kering lebih sering dipilih untuk menekan biaya transportasi, meskipun dalam proses produksinya biaya yang dikeluarkan tidak jauh berbeda.
Petani di Tapanuli yang terlibat pada pertanian karet rakyat umumnya tidak menggunakan sistem pertanian monokultur. Petani tetap menjaga stabilitas kebutuhan pangannya agar tetap terjamin, namun tetap memanfaatkan peluang ekonomi yang ditawarkan oleh tanaman lain, yang dalam hal ini petani menganggap tanaman karet dapat memberikan nilai ekonomis bagi mereka. Hal ini dapat dilihat pada saat di mana harga karet naik dan harga karet menurun. Pada saat harga karet naik, intensitas pengerjaan lahan karet meningkat sedangkan intensitas pengerjaan lahan yang ditanami komoditas lain menrun, hal ini terjadi sebaliknya jika harga karet mengalami penurunan.
Kata Kunci: Tapanuli, Petani, Karet, Harga dan Pasar
ABSTRACT
Thesis entitled “Pertanian Karet Rakyat di Tapanuli 1908-1942” is a historical study of plantation which is related to social-economic life of the society who cultivates rubber in Keresidenan Tapanuli in the research, this thesis uses historical method that consists of heuristic, verification (critic), interpretation, and historiography.
It can be concluded that geographical factorbecomes the important factor in rubber spread distribution. Besides, the ease of accessing the land, the availablity of workers, and the relativity of how low the capital expensed are as important as the first factor in increasing an exportable plant. The present of eksport-import market and company becomes a supporting factor which has a vital role in farmer’s life who cultivates his land for comercial plant. Transportation can influence the quality of product, it often occurs as in Tapanuli’s geographic condition which the position is far enough from the business centre, so the product of dry rubber is mose chosen to fit the production cost although in the production process the cost that expensed is almost the same.
The farmer’s in Tapanuli who involve in society’s rubber plantation generally use mono-cultural plantation system. The farmers keep the stability of food- need’s to be guaranteed, but still take advantage in economical possibilities of the other plant. It can be seen when the price of rubber increasing and decreasing.
Becasue when the price of rubber is increasing, the intensity of land-working is increasing as well while the intensity of land-working of the other comodities is decreasing. The inversion is there when the price of rubber is decreasing.
Keywords: Tapanuli, Farmers, Rubber, Price and Market.
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Tapanuli merupakan salah satu wilayah pemerintahan yang terletak di Pulau Sumatera pada masa kolonial.1 Wilayah yang letaknya diapit oleh dua buah pantai yakni pantai timur Sumatera dan pantai barat Sumatera yang sejak tahun 1908 mulai berubah dan menunjukkan perkembangan. Hal ini terjadi seiring dengan masyarakat serta wilayahnya yang mulai membuka diri untuk menerima pengaruh-pengaruh Barat yang mulai berdatangan ke wilayah ini. Sebelumnya, wilayah ini memang menerima pengaruh asing ketika tanaman kopi menjadi harapan masyarakat. Tetapi keterbukaan itu tidak seperti tahun 1908, dimana para investor asing mulai berbondong-bondong untuk datang dan menanamkan modalnya di wilayah ini.
Hutan-hutan yang tidak pernah dijamah sebelumnya mulai ditebangi untuk kemudian ditanam berbagai jenis tanaman yang laku di pasar dunia, tak terkecuali dengan tanaman karet. Hal tersebut menjadikan wilayah Tapanuli yang awalnya tidak memiliki arti penting dalam bidang ekonomi, kemudian menjelma menjadi wilayah yang berkembang terutama wilayah-wilayah yang menjadi basis-basis industri perkebunan. Tapanuli kemudian berubah menjadi salah satu wilayah penghasil karet terbesar di Hindia Belanda.
1 Pada masa sekarang, wilayah Tapanuli ini masih ada, tetapi bukan lagi sebagai wilayah yang memiliki struktur pemerintahan karena wilayahnya sendiri sudah terpisah-pisah, dan masing-masing wilayah tersebut memiliki struktur pemerintahannya masing-masing.
Karet2 tidak hanya dibudidayakan oleh pihak perkebunan, masyarakat juga turut mengambil peran dalam pembudidayaannya. Melihat akan tingginya harga karet, terutama saat satu dekade pertama pada abad ke 20, ketika masa yang disebut dengan boom3 itu memberikan dampak bagi perekonomian orang-orang yang menanam karet pada saat itu, masyarakat kemudian mulai ikut menanam tanaman asli hutan Amazon ini. Meskipun masyarakat Tapanuli tidak sempat menikmati manisnya kejayaan karet di awal-awal abad ke 20 tersebut, tetapi kabar bahwa tingginya harga karet mampu menggugah masyarakat untuk ikut membudidayakannya, dengan sejumlah harapan yang di tumpukan pada tanaman tersebut.
Wilayah Tapanuli yang umumnya terdiri dari pegunungan dan dataran tinggi menyebabkan persebaran tanaman karet ini tidak merata, dikarenakan sifat tanaman karet yang dapat berproduksi dengan baik harus ditanam tidak lebih pada ketinggian 600 mdpl4., terutama untuk jenis Hevea Brasiliensis. Karena pada ketinggian lebih
2Karet yang kita kenal saat ini merupakan hasil sadapan dari karet Hevea Brasiliensis, yang pertama kali ditemukan di Lembah Amazon. Sebelum pohon Hevea ditemukan, sumber utama lateks adalah pohon Castilla Elastica yang tumbuh di hutan Bolivia dan Meksiko. Lihat Mubyarto, Awan Setya Dewanta, Karet Kajian Sosial – Ekonomi, Yogyakarta: Aditya Media, 1991, hal. 2.
3 Dengan ditemukannya cara-cara vulkanisasi, lateks menjadi lebih bermanfaat. Permintaan karet meningkat dengan pesat, terutama untuk pembuatan ban, serta industri kelistrikan yang berkembang di Eropa dan Amerika Serikat. Besarnya permintaan atas bahan olah karet, seiring pula dengan tingginya harga serta keuntungan ekonomis yang ditawarkan atas budidaya karet tersebut.
Mubyarto, Awan Setya Dewanta, loc.cit.,
4Kondisi topografi wilayah Afdeling Batak Landen berada pada ketinggian sekitar 300-1500 meter diatas permukaan laut. Meskipun tidak seluruhnya daerah dataran tinggi, tetapi iklim tropis lembab dengan curah hujan yang tinggi dapat mengganggu pertumbuhan karet. Lihat Esti Asih Nurdiah, Studi Struktur Dan Konstruksi Rumah Tradisional Suku Batak Toba, Minangkabau Dan Toraja (Laporan Penelitian). Surabaya: Universitas Kristen Petra, 2011. Repository.petra.ac.id.
Diakses Tanggal 22 Novmber 2015, Pukul 20;45 WIB, hal. 6.
dari 600 mdpl5., pertumbuhan karet dapat terhambat, sehingga memberikan pengaruh dalam proses produksi lateks. Selain itu pohon lebih mudah terserang penyakit tanaman sebagai akibat dari kelembaban udara yang tinggi.6 Tampaknya hal ini tidak berpengaruh pada wilayah Nias dan beberapa pulau yang berada di dekatnya yang merupakan bagian terluar dari wilayah Tapanuli.7 Faktor transportasi merupakan faktor utama yang menyebabkan tidak berkembangnya tanaman karet di wilayah ini, Hal inilah yang kemudian menyebabkan terhambatnya penyebaran tanaman karet secara merata di seluruh wilayah Tapanuli.
Menariknya dari kajian ini adalah dimana ketika masyarakat menaruh harapan pada tanaman karet untuk membawa kehidupan mereka kepada ekonomi yang lebih baik, masyarakat yang terlibat di dalam pembudidayaan tanaman karet tersebut seolah sudah memprediksikan bahwa tanaman karet ini akan mengalami jatuh bangun terutama dari segi harga. Hal ini dibuktikan dengan masyarakat yang menanam tanaman karet menyelingi tanaman tersebut dengan tanaman lainnya atau yang dikenal dengan sistem tumpang sari. Di samping itu, bentuk pertanian masyarakat yang tidak monokultur semakin meyakinkan bahwa masyarakat yang
5 Mdpl (Meter Diatas Permukaan Laut) merupakan suatu bilangan untuk menyebutkan suatu tempat yang diukur dari ketinggian dari rata-rata dari permukaan air laut.
6 Mubyarto, Awan Setya Dewanta, op. cit., hal. 48.
7Pulau Nias (Afdeling Nias) memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi dengan suhu udara berkisar 25°C-30°C. Hujan angin sering terjadi didaerah ini dengan kelembaban mencapai 95%. Di Pulau Nias sekitar 50% merupakan daerah berbukit-bukit sempit dan pegunungan terjal, hampir keseluruhannya berada di bawah ketinggian 600 meter dari permukaan laut, dan daerah tertinggi mencapai 700-800 mdpl. Lihat Noniawati Telaumbanua, Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian III) (Online).http://niasonline.net.
2008. Diakses Tanggal 22 Novmber 2015, Pukul 21;30 WIB.
membudidayakan tanaman karet ini hanya memanfaatkan peluang yang ekonomis, karena masyarakat tidak sepenuhnya mengganti tanaman lama dengan tanaman baru.
Masyarakat hanya memperkecil intensitas pengerjaan lahan yang ditanami komoditas lain (kopi, padi, kelapa) sampai waktu batas yang tidak bisa ditentukan, mengingat harga ditentukan oleh pasar, dan ketika harga karet menurun, maka intensitas pengerjaan lahan yang ditanami komoditas lain meningkat.
Kajian ini akan membicarakan bagaimana pertanian karet rakyat yang dibudidayakan oleh masyarakat yang tersebar di beberapa wilayah yang ada di Tapanuli. Di satu sisi bertahan di tengah berbagai persoalan yang menimpa tanaman karet, dan di sisi lain cukup besarnya peluang ekonomi yang ditawarkan oleh tanaman karet. Biasanya karet identik dengan perkebunan, tetapi dalam kajian ini lebih cocok dikatakan sebagai pertanian karet, hal ini karena pertanian karet memang diusahakan oleh masyarakat dengan modal yang seadanya. Di samping itu, kata “pertanian” karet rakyat setara dengan smallholding, sedangkan kata “perkebunan” lebih berkaitan dengan “plantation” yang tentunya sudah berbeda baik dari segi teknologi, modal, luas lahan yang ditanami, serta prosedur perawatan. Oleh karena itu, karet yang dihasilkan oleh masyarakat disebut dengan karet rakyat, sebagai sebutan untuk pembeda dari hasil karet milik perkebunan.
Cakupan spasial yang digunakan dalam kajian ini adalah wilayah Tapanuli yang pada tahun 1906 telah berdiri sendiri menjadi sebuah Keresidenan Tapanuli setelah sebelumnya masuk ke dalam wilayah Sumatra’s Westkust. Adapun batasan
temporal dalam kajian ini adalah dari tahun 1908 – 1942. Tahun 1908 ini merupakan awal tahun dimulainya penanaman tanaman karet. Hal ini berdasarkan data ekspor karet pertama yang ditemukan di Tapanuli. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan juga tahun ini akan berubah jika ditemukan data baru yang lebih tua.
Batasan akhir periode tahun 1942 merupakan tahun yang berat, karena pada tahun- tahun tersebut sedang terjadi kekacauan dunia dengan adanya Perang Dunia ke-II, yang dapat menghambat kegiatan ekspor karet karena tidak amannya jalur laut. Hal ini semakin diperparah lagi dengan peralihan kekuasaan dari Kolonial Belanda dengan tentara Jepang, dimana tentara Jepang lebih memfokuskan kepada tanaman pangan untuk konsumsi perang ataupun kebutuhan-kebutuhan lainnya yang menyangkut kepentingan Jepang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di deskrpsikan di atas, dapat ditarik rumusan masalah pada topik ini yang memfokuskan kepada:
1. Faktor apa yang melatarbelakangi masyarakat Tapanuli melakukan pertanian karet memasuki awal abad ke-20 ?
2. Bagaimana pola budidaya pertanian karet rakyat di Tapanuli pada tahun 1908-1942 ?
3. Bagaimana perkembangan pertanian karet rakyat di Tapanuli di tahun 1908-1942 ?
4. Bagaimana kehidupan ekonomi petani karet rakyat di Tapanuli selama peridode 1908-1942 ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menemukan faktor-faktor yang menjadi latar belakang dari pertanian karet rakyat di Keresidenan Tapanuli memasuki awal abad ke-20.
2. Mendeskripsikan pola budidaya pertanian karet rakyat di Tapanuli pada kurun waktu 1908-1942.
3. Mendeskripsikan perkembangan pertanian karet rakyat di Tapanuli dalam periode 1908-1942.
4. Menguraikan dan menyimpulkan kehidupan ekonomi yang dialami petani karet rakyat di Tapanuli selama kurun waktu 1908-1942.
Adapun manfaat yang bisa didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk melengkapi historiografi tentang Tapanuli pada masa kolonial, terutama yang berkenaan dengan sejarah ekonomi dan pertanian
2. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah historiografi aktivitas pengetahuan terutama untuk pertanian karet rakyat di Indonesia.
3. Sebagai sebuah peringatan serta sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah bahwa dari sisi pertanian juga mampu menyokong kehidupan
masyarakat dan bagi pertanian komersial mampu memberikan kontribusi yang nyata bagi perkembangan suatu wilayah.
1.4 Tinjauan Pustaka
Dalam melakukan sebuah penelitian, seorang peneliti memerlukan pandangan-pandangan lain yang relevan serta selaras dengan objek penelitiannya untuk mendukung kerangka berfikir yang telah dibangun, yang bermuara pada sebuah histeriografi.
Sama halnya dengan penelitian yang akan dimulai saat ini, sebelumnya penulis melakukan sebuah pencarian tentang kepustakaan yang memiliki keterkaitan dengan tulisan ini nantinya. Pencaharian tersebut tidak hanya terfokus kepada buku- buku saja, Skripsi, Tesis, arsip-arsip, serta jurnal yang berkaitan dengan kajian ini juga tidak luput dari perhatian penulis.
Sumber yang memberikan informasi mengenai Tapanuli adalah buku yang di tulis oleh Lance Castles, “Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra:
Tapanuli 1915 – 1940” (2001). Di dalam buku ini menceritakan bagaimana kehidupan politik masyarakat di Tapanuli, terutama struktur pemerintahan yang di pegang oleh orang pribumi sendiri. Selain itu, keadaan geografis juga diceritakan meskipun hanya sedikit, namun tetap memberikan kontribusi. Buku ini sangat membantu dalam penulisan ini terutama untuk melihat bagaimana kondisi geografis serta demografis di keresidenan Tapanuli, serta bagaimana sistem pemerintahan dan kondisi politik yang berbeda pada waktu itu.
Dalaam memahami tanaman karet, buku Mubyarto dan Awan Setya Dewanta “Karet Kajian Sosial-Ekonomi” (1991) mampu menjelaskan tentang gambaran karet secara umum, dan membicarakan karet dari sisi sosial-ekonominya.
Di dalamnya juga diceritakan, bagaimana cara-cara menanam karet dengan baik, berapa batas ketinggian tanam, hingga curah hujan yang baik untuk tanaman karet.
Buku ini sangat berguna dalam membantu penulisan ini dalam memahami tentang tanaman karet secara umum (di Indonesia), terutama dari sisi sosial-ekonomi dari pertanian karet tersebut.
Informasi terkait mengenai bagaimana gambaran kehidupan petani karet rakyat diperoleh dari Tesis Edi Sumarno “Perkebunan Karet Rakyat di Sumatera Timur 1863-1942” (1998). Tesis yang dibuat oleh Edi Sumarno ini menyebutkan bahwa ketika honey moon karet terjadi di tahun 1920-an, baik itu perkebunan milik rakyat maupun milik Onderneming sama-sama mendapat keuntungan yang besar dari penjualan. Hal ini terjadi seiring dengan ditetapkannya Stevenson Scheme yang hanya berlaku di wilayah jajahan Inggris. Sebelumnya, Onderneming serta masyarakat menanam tanaman lain, seperti tembakau, lada dan sebagainya. Kajian ini dapat dijadikan perbandingan kesejahteraan petani antara petani di Sumatera Timur dengan petani di Tapanuli. Beliau juga menyebutkan bagaimana ketika terjadi depresi dimana harga karet menurun, masyarakat di Bengkalis menjarah lumbung-lumbung beras milik orang Cina karena hanya menanam satu komoditas saja. Kajian ini sebagai perbandingan nantinya apakah di daerah Tapanuli juga mengalami hal yang sama
terutama untuk sikap serta implementasi harga, khususnya di daerah konsentrasi karet yang terletak di Afdeling Padang Sidempuan, dan Afdeling Sibolga Omstreken.
Ulasan yang lebih rinci tentang pertanian karet rakyat di Tapanuli dapat dilihat dari laporan Departemen Van Landbouw, Nijverheid En Handel oleh Carlton P. Brook dan H.W.J. Doffegnies “De BevolkingsRubberCultuur In Nederlandsch- Indie: V. Tapanoeli en Sumatera’s Westkust” (1926). Laporan yang sangat monumental dan menjadi rujukan utama dalam memahami bagaimana gambaran tentang pertanian karet rakyat di Tapanuli, baik itu tentang cara penanaman, pemeliharaan, produksi hingga perdagangan. Informasi ini begitu berharga dalam penulisan ini.
1.5 Metode Penelitian
Untuk mendapatkan sebuah tulisan yang akurat, harus menggunakan metode sejarah dengan melalui beberapa tahap-tahap penelitian. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan jejak-jejak peninggalan dimasa lampau.8 Sebelum melakukan rekonstruksi serta menuliskannya ke dalam sebuah historiografi, terlebih dahulu perlu menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan jejak-jejak peninggalan sejarah tersebut. Untuk mengimplementasikan hal tersebut, metode sejarah menggunakan empat tahapan pokok, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.
8 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terj. Dari Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1985, hal. 39.
Tahap pertama adalah heuristik. Secara sederhana heuristik merupakan proses mengumpulkan data yang berkaitan dengan penelitian yang akan dijalankan.
Dalam hal ini, peneliti telah melakukan studi arsip dan studi pustaka. Studi arsip dilakukan dengan mengunjungi Pusat Arsip Nasional Republik Indonesia di Jalan Ampera Raya, Cilandak, Jakarta Selatan dan juga Perpustakaan Nasional, di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Studi Arsip ini dilakukan mengingat periode dari penelitian ini adalah pada masa kolonial. Kunjungan yang dilakukan pada bulan Februari 2016 merupakan pengalaman pertama yang didapatkan oleh peneliti dalam mengunjungi dan mengakses arsip. Diskusi yang dilakukan oleh peneliti dengan abang/ kakak seangkatan yang telah lebih dahulu mengunjungi dan mengakses arsip tersebut ternyata tidak cukup untuk menjadi pedoman dalam melakukan penelitian arsip. Meskipun telah mendapat arahan dari pegawai Arsip Nasional Indonesia, rasanya tidak cukup untuk dapat memahami prosedural secara langsung. Awalnya, peneliti yang masih awam ini merasa sangat kesulitan, baik dalam pemesanan arsip ataupun dalam melakukan penggandaan arsip. Namun, karena mulai terbiasa, kesulitan itu berubah menjadi kemudahan bagi penulis, yang mulai mengerti bagaimana mencari dan memesan arsip yang berhubungan dengan pertanian karet rakyat di Tapanuli pada masa kolonial. Kesulitan yang dihadapi hanyalah data yang menggunakan bahasa Belanda, dimana peneliti harus menterjemahkannya terlebiih dahulu agar lebih mudah dalam membaca. Di Arsip Nasional Republik Indonesia, peneliti mendapatkan banyak data yang berguna bagi penulisan, beberapa diantaranya
yakni Memorie van Overgave (MvO), Staatsblad, Foto-foto lama, dan arsip-arsip lainnya.
Meskipun telah mendapat banyak data di Arsip Nasional Republik Indonesia, rasa puas penulis belum terwujud. Penulis juga mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Lantai yang pertama sekali penulis kunjungi adalah lantai tiga. Di sini, penulis menemukan beberapa data yang menjadi prioritas dalam pencaharian, seperti Verslag “De Handelsvereniging Te Medan” 1928 – 1939, Encyclopedie van Nedherlands Indie, hingga surat kabar berhasil dilacak. Surat Kabar Oetoesandan Persamaan yang terbit pada tahun 1940 – 1941 terdapat di lantai 4 di ruang audio visual.
Di Medan peneliti tetap meneruskan upaya pengumpulan sumber. Dari perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Provinsi Sumatera Utara, hingga Taman Baca Masyarakat milik Tengku Lukman Sinar yang terletak di Jalan Abdullah Lubis, peneliti tidak menemukan satu data pun yang menyinggung tentang karet di Tapanuli, ataupun tentang wilayah Tapanuli sendiri.
Setelah mendapatkan sumber-sumber yang diinginkan, maka tahapan selanjutnya adalah kritik sumber.9 Kritik ini dilakukan agar mengetahui apakah data yang didapatkan benar-benar asli, ataukah sudah dirubah isi-nya, dan juga bisa
9 Kritik sumber dilakukan dengan dua cara yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik ekstern dilakukan untuk memilah apakah dokumen itu diperlukan atau tidak, serta menganalisis apakah dokumen yang telah dikumpulkan asli atau tidak dengan mengamati tulisan, ejaan, jenis kertas serta apakah dokumen tersebut masih utuh isinya atau sudah di ubah sebahagian. Kritik intern yaitu suatu langkah untuk menilai isi dari sumber-sumber yang telah di kumpulkan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan kredibilitas sumber atau kebenaran isi dari sumber tersebut. Lihat Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995, hlm. 99.
dilakukan sebuah perbandingan jika sumber yang berbeda menyebutkan hal yang sama, ataupun hampir sama.
Setelah dokumen-dokumen tersebut dikritik, tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah interpretasi yang memuat analisis dan sintesis terhadap data yang telah diverifikasi. Pada tahapan ini, peneliti dituntut untuk melakukan penafsiran fakta lalu kemudian membandingkannya serta mengelompokkannya berdasarkan daftar isi yang ada sebelum mendapatkan kesimpulan lalu kemudian menceritakannya kembali ke dalam sebuah bentuk tulisan (historiografi).10
Tahap terakhir dari penelitian sejarah adalah histotiografi. Tahapan ini bertujuan agar fakta-fakta yang telah ditafsirkan dan didapat baik secara tematis ataupun kronologis dapat dirangkai sesuai outline yang telah dirancang sebelumnya sehingga menjadi tulisan yang kritis analisis, serta bersifat ilmiah sehingga tahap akhir penulisan ini dapat dituangkan ke dalam bentuk sebuah skripsi.
10 Ibid., hal. 100.
BAB II
TAPANULI DI AWAL ABAD KE-20
Sebagai pengantar, di dalam Bab II ini akan menceritakan bagaimana wilayah Tapanuli setelah lepas dari Keresidenan Sumatra’s Westkust dan berdiri sendiri menjadi sebuah keresidenan yang memiliki wilayah otoritasnya sendiri.
Wilayah Tapanuli serta pembagian wilayahnya dari afdeeling hingga kuria sebagai satuan wilayah yang terkecil dari sebuah residen. Di dalamnya juga terdapat informasi mengenai letak geografis, curah hujan, serta suhu udara yang tentunya berbeda-beda di setiap belahan wilayah Tapanuli yang memiliki struktur wilayah dengan ketinggian yang berbeda-beda.
Tidak ketinggalan pada bab ini juga disampaikan struktur pemerintahan di Tapanuli dari tingkat tertinggi hingga ke tingkat terendah. Begitu juga dengan penduduk yang mendiami wilayah-wilayah yang ada di Tapanuli, baik itu masyarakat asli maupun masyarakat pendatang.
Bentuk pertanian yang menjadi urat nadi bagi masyarakat di Tapanuli juga dimuat didalam bab ini, yang membahas tentang pola-pola pertanian masyarakat Tapanuli dan komoditas-komoditas yang ditanam di masing-masing daerah baik itu untuk diekspor ataupun dikonsumsi secara pribadi.
2.1 Wilayah dan Pemerintahan 2.1.1 Wilayah
Pada awalnya, sebelum tahun 1906, Tapanuli merupakan wilayah yang termasuk ke dalam wilayah Keresidenan Sumatera Barat. Karena wilayah Keresidenan Sumatera Barat dianggap terlalu luas, maka Pemerintah Kolonial Belanda kemudian memisahkan seluruh wilayah Tapanuli dari Keresidenan Sumatera Barat, dan kemudian membentuk sebuah keresidenan yang baru yakni Keresidenan Tapanuli. Tapanuli Resmi menjadi sebuah keresidenan yang utuh dan mempunyai pemerintahannya sendiri sejak 1 Januari 1906, dan Sibolga dijadikan sebagai Ibu Kota dari Keresidenan Tapanuli. 11
Sejak perubahan status tersebut, wilayah Keresidenan Tapanuli kemudian dibagi menjadi empat wilayah afdeeling, yakni Tanah Batak, Padang Sidempuan, Sibolga dan wilayah sekitarnya, dan Nias dan kepulauan sekitar. Afdeeling Tanah Batak yang berpusat di Tarutung, terdiri dari enam onderafdeeling, yaitu Silindung, Dataran Tinggi Toba, Toba, Barus, Samosir dan Tanah Dairi. Afdeeling Padang Sidempuan yang berpusat di Padang Sidempuan, memiliki empat onderafdeeling yakni Angkola dan Sipirok, Mandailing (Hulu dan Pakantan), Padang Lawas, Natal dan Batang Natal. Afdeeling Sibolga dan wilayah sekitarnya yang berpusat di Sibolga, terdiri dari 10 onderafdeeling, yakni Sibolga, Said ni Huta, Kalangan, Badiri Tapanuli, Untemangker, Sipakpahi, Pinang Sore Lumut, Anggoli, Simanosor, Sibolga
11 Pembentukkan wilayah Karesidenan Tapanuli di kuatkan berdasarkan pada Staatsblad yang dikeluarkan oleh Pemerintah tahun 1905 No. 418. Lihat MVO (Memorie Van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent-Resident (Boek I), 1920, hal. 1.
dan Tuka. Afdeeling Nias dan kepulauan sekitar yang berpusat di Gunung Sitoli, terdiri dari dua onderafdeeling, yakni Nias Utara dan Nias Selatan. 12 Sejak tanggal 1 Januari 1926, Afdeeling Nias dan kepulauan sekitar mendapatkan tambahan wilayah.
Kepulauan Batu yang dulunya masuk kedalam wilayah pemerintahan Sumatera Barat, pada tahun tersebut secara resmi masuk kedalam wilayah Afdeeling Nias dan menjadi onderafdeeling ke tiga di Afdeeling Nias tersebut.13
Secara keseluruhan, wilayah Tapanuli meliputi area seluas 38.888 Km²., tetapi luas daratan Tapanuli hanya berjumlah 38.228 Km². Wilayah Tapanuli yang masuk ke dalam wilayah Pantai Barat Sumatera terletak antara pemerintahan Aceh dan Sumatera Timur hingga masuk ke tepi wilayah Pemerintahan Sumatera Barat.14 Berdasarkan letak geografisnya, Keresidenan Tapanuli terletak disekitar 4' sampai 3°
6' Lintang Utara dan dari 11' sampai 2° 26' Bujur Barat, koordinat itu tidak termasuk Pulau Nias. Jika Pulau Nias diikut sertakan, maka letaknya menjadi 3° 17' Bujur Barat, sehingga dapat dikatakan bahwa salah satu wilayah Tapanuli berbatasan dengan Samudera Hindia. Perbatasan antara Keresidenan Tapanuli dengan wilayah Aceh terletak di wilayah Manuk-manuk di sebelah utara Tapanuli ke pegunungan Uruk Kayu Ipoh, dimana berkumpul perbatasan antara Tapanuli dengan Aceh dan
12Tidak hanya Staatsblad No. 418 tahun 1905, Pemerintah Hindia Belanda juga mengeluarkan peraturan-peraturan lainnya untuk memperkuat posisi Karesidenan Tapanuli ini, seperti Staatsblad No. 496 tahun 1906, Stbld No.360,398, dan 430 tahun 1907, No. 99, 138 dan 606, Tahun 1911, kemudian hingga tahun 1919. Untuk lebih jelas Lihat MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent-Resident (Boek II), 1920, hal. 420.
13R.H. Pieters MvO (Memorie van Overgave) van de Onderafdeeling Batoe Eilanden, Afdeeling Nias, Residentie Tapanoeli, 1926, hal. 1.
14 B.E.W.C. Schroder.(Boek II), 1920, op, cit., hal. 426.
Pantai Timur Sumatera.15 Perbatasan Keresidenan Tapanuli dengan wilayah Sumatera Timur (Oostkust van Sumatera) terletak antara wilayah Onderafdeeling Tanah Dairi dengan Wilayah Tanah Karo, Wilayah Onderafdeeling Toba dengan Simalungun dan Asahan, serta Habinsaran dengan Asahan dan Kuwalu. Perbatasan antara Padang Lawas dengan Tambusei (Daludalu) dan Rambah masih tertunda.16
Cuaca dan suhu udara secara menyeluruh di Tapanuli tidak diketahui secara pasti, hal ini mengingat kondisi wilayah Tapanuli yang memiliki keadaan geografis yang berbeda-beda. Ada yang wilayahnya dingin dengan curah hujan yang tinggi, ada juga wilayahnya yang netral (tidak dingin, dengan curah hujan yang standar), ada juga yang wilayahnya cukup panas dan kering. Di dataran tinggi Pak-pak misalnya, wilayah yang dipenuhi semak dan pohon yang basah, di pagi hari suhunya mampu mencapai 55° F. Di Sidikalang, suhu terendah mampu mencapai 17° C. Di wilayah pantai dari pagi hingga siang hari menjelang, cuaca yang terjadi tidak begitu hangat, tetapi cuaca di malam hari mampu mencapai 90° F. Tepi Danau Toba yang ketinggiannya mencapai 900 mdpl., memiliki suhu yang cukup konstan, tetapi hal ini kemudian berubah pada musim kemarau yang terjadi antara bulan Juki dan Agustus.
Samosir yang wilayahnya berada di tengah-tengah Danau Toba, tampaknya lebih sedikit diuntungkan dengan adanya pegunungan dan juga danau yang membentengi wilayah ini. Pegunungan dan Danau tersebut berfungsi sebagai pengatur suhu di
15 Untuk keterangan lebih jelas mengenai perbatsan Tapanuli dengan Aceh, lihat Staatsblad No. 604 tanggal 10 Oktober 1908 pada artikel ke-1.
16 Berdasarkan (Grote Bundel) nomor 3 tertanggal 10 Oktober tahun 1908, pada pasal 2 dijleaskan bahwa Residen Tapanuli dan Residen Sumatera Timur berunding untuk membicarakan perbatasan wilayah tersebut.
wilayah sekitarnya. Dataran dan wilayah di sekitar Danau Toba termasuk wilayah yang sering terjadi hujan. Hujan-hujan tersebut biasanya terjadi pada bulan Januari hingga Februari, dan Juni sampai Agustus. Untuk bulan Oktober sampai Desember, cuaca lebih bervariasi sesuai dengan keadaan geografis wilayahnya masing-masing.
Di Tapanuli bagian selatan, pada bulan Juni sampai bulan juli sangat jarang sekali hujan turun. Bulan yang paling sering turun hujan yakni di bulan Oktober sampai bulan Desember. Curah hujan yang ada juga tidak begitu besar. Di Padang Sidempuan misalnya, rata-rata curah hujan di wilayah tersebut yakni 2.217 mm., di Kota Nopan curah hujan rata-rata yakni 2.287 mm. Bergeser ke bagian tengah, di Sibolga misalnya, curah hujan di wilayah ini cukup tinggi dengan rata-rata 4.655 mm.
Bergeser ke utara, rata-rata curah hujan di Balige sedikit, yakni hanya 1.886 mm, dan di Tarutung curah hujannya yakni 2.146 mm. Wilayah dengan suhu yang cukup dingin berada di wilayah Sipirok, Mandailing Kecil (termasuk Pakantan) dan Batang Natal. Sebaliknya, wilayah yang cukup hangat berada di wilayah Angkola dan Mandailing Besar.17
17 Suhu di Sipirok pada saat pagi hari yakni 20°C dan di saat siang hari mencapai 30°C sedangkan wilayah Mandailing Kecil suhunya sekitar 22,5° C. Di wilayah Mandailing Besar, suhu tertinggi berada di daerah Panjaboengan yakni berkisar antar 30,5° C sampai 31,5°C. Lihat MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. (Boek I), 1920, op. cit., hal.
144-146.
2.1.2 Pemerintahan
Pemerintahan di Tapanuli umumnya tidak jauh berbeda dengan wilayah- wilayah residen pada masa Kolonial Belanda. Kepala pemerintahan Keresidenan dipimpin oleh seorang residen. Jabatan residen biasanya diisi oleh orang-orang Belanda sendiri, dan seorang residen memiliki kuasa terhadap seluruh wilayah yang berada di wilayah keresidenannya. Seorang residen biasanya dibantu oleh asisten residen yang berkuasa di tiap-tiap afdeeling. Karena di Tapanuli memiliki 4 wilayah Afdeeling, itu berarti di Tapanuli terdapat 4 orang asisten residen yang akan membantu seorang residen dalam menjalankan pemerintahannya.
Pada tingkat ke-3 dalam pemerintahan Tapanuli ada controleur yang bertugas sebagai kepala pemerintahan di wilayah onderafdeeling. Masing-masing onderafdeeling memiliki satu orang controleur yang bertugas di masing-masing wilayah yang dibawahi. Jabatan residen, asisten residen, ataupun controleur, berada ditangan bangsa Belanda dan merupakan pegawai kolonial.
Tiap-tiap kontrolir mempunyai mitra seorang pejabat yang berasal dari bangsa Indonesia yang digaji oleh pemerintah. Mitra itu disebut dengan demang.
Dengan kata lain, demang merupakan pegawai pemerintahan tetapi berasal dari rakyat pribumi. Tiap-tiap onderafdeeling hanya memiliki satu buah distrik (setingkat kewedanaan), yang berarti hanya ada satu demang yang berkuasa di setiap onderafdeling. Dalam menjalankkan tugasnya, demang dibantu oleh asisten demang.
Asisten demang juga merupakan pegawai negeri yang digaji oleh Pemerintah Hindia
Belanda, yang berasal dari orang-orang pribumi. Jumlah asisten demang berbeda- beda berdasarkan jumlah onderdistrik yang ada di tiap-tiap wilayah distrik. 18
Sampai pada asisten demang, struktur pemerintahan di Tapanuli masih terlihat sama dengan sistem pemerintahan di daerah-daerah lainnya yang berada di bawah Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Hal ini dikarenakan ada beberapa perbedaan yang bisa dikatakan menjadi ciri khas dari struktur pemerintahan di Tapanuli karena di setiap afdeeling yang ada di Tapanuli memiliki struktur yang berbeda terutama pada jenjang asisten demang ke bawah.
Di Afdeeling Padang Sidempuan misalnya, untuk jabatan satu tingkat di bawah asisten demang diisi oleh Seorang kepala kuria. Kepala kuria juga disebut sebagai panusunan. Seorang panusunan atau kepala kuria ini membawahi willayah yang disebut hakuriaan atau wilayah kuria yang didalamnya terdapat beberapa wilayah yang disebut huta ataupun kampung. Huta dipimpin oleh seorang raja pamusuk yang menjadi perpanjangan tangan seorang kepala kuria dalam mengurus segala permasalahan yang terjadi pada tingkat terbawah. Dengan kata lain, kepala huta atau kepala kampung ini merupakan pejabat non pemerintah tipe kedua yang ada di Afdeeling Padang Sidempuan. Bentuk pemerintahan ini tidak sepenuhnya serupa di seluruh Afdeeling Padang Sidempuan. Di Onderafdeeling Padang Lawas misalnya, pemimpin non pemerintah tipe pertama berkuasa atas wilayah luhat, dan Onderafdeeling Padang Lawas merupakan satu-satunya wilayah di Afdeeling Padang
18 Lance Castles, Kehidupan Poltik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915-1940 (Terjemahan), Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2001, hal. 47.
Sidempuan yang menggunakan luhat sebagai wilayah tipe pertama non pemerintah, dan huta tetap menjadi pemimpin adat tipe kedua.19
Di Afdeeling Tanah Batak, jaihutan menjadi pemimpin adat non pemerintah tipe pertama yang memiliki kuasa satu tingkat di bawah asisten demang. Seorang jaihutan berkuasa atas wilayah hundulan yang setara dengan hakuuriaan di wilayah Afdeeling Padang Sidempuan, ataupun luhat di Onderafdeeling Padang Lawas.
Seorang jaihutan dibantu oleh seorang raja paidua, yang berkuasa terhadap daerah lain di hundulan dan merupakan pemimpin non pemerintah tipe kedua dalam struktur jabatan di Afdeeling Tanah Batak . Di wilayah ini, huta ataupun kepala kampung tetap berperan sebagai pemimpin non pemerintah tipe ke tiga.20
Dapat dilihat bahwa, pemimpin wilayah non pemerintah dari tipe pertama hingga tipe ke tiga, baik itu di wilayah Afdeeling Padang Sidempuan ataupun Afdeeling Tanah Batak merupakan bagian dari pemerintahan swapraja. Meskipun para pemimpin tersebut dilantik dan disetujui oleh pemerintah kolonial, tetapi dalam pelaksanaannya mereka dipilih secara demokratis meskipun pada kenyataannya pemerintah Kolonial Belanda tetap memilih pemimpin yang memiliki pengaruh besar terhadap wilayah tersebut. Hal ini dilakukan agar pemerintah kolonial tidak turun langsung dalam mengawasi masyarakat pada tingkat terendah, sehingga pemerintah kolonial tidak bersentuhan langsung jika terjadi sebuah pemberontakan. Pemimpin-
19 Ibid., hal. 30.
20 Pada akhirnya, posisi jaihutan dan raja paidua digantikan oleh seorang kepala negeri yang membawahi negeri sebagai pemimpin non pemerintahan tipe pertama dan kedua. Pergantian tersebut dikarenakan jumlah jaihutan dan raja paidua sangat banyak sehingga tidak efisien, dan sebutan negeri dinilai lebih modern, Ibid., hal 49.
pemimpin swapraja ini juga tidak digaji oleh pemerintah, karena status mereka bukanlah sebagai pegawai negeri pemerintahan. Para pemimpin swapraja tersebut mendapatkan upah dari pemungutan pajak, adat pindah kampung ataupun yang berhubungan dengan adat lainnya. Untuk selanjutnya, struktur organisasi pemerintahan dapat dilihat pada bagan dibawah ini:
Bagan 2.1
Struktur Pemerintahan di Tapanuli
Sumber: Dikompilasi dari Lance Castles, Kehidupan Poltik Suatu Keresidenan di Sumatra: Tapanuli 1915 1940 (Terjemahan), Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2001. hal.20, 22,28, 47, dan Akhir Matua Harahap, Sejarah Pemerintahan di Tapanuli, Bagian ke 2 (Online).
http://akhirmh.blogspot.co.id/2011/05/sejarah-pemerintahan-di-tapanuli-bagian_02.html. Diakses
RESIDEN ASISTEN RESIDEN
KONTROLIR
DEMANG
ASISTEN DEMANG
KEPALA LUHAT PANUSUNAN JAIHUTAN
PAMUSUK PAIDUA
KEPALA KAMPUNG PAMUSUK
Tanggal 25 September 2016.
Mengenai struktur kepemimpinan di 2 wilayah lagi, yakni Afdeeling Sibolga en Ommelande dan Afdeeling Nias en Omiggende Eilanden memang belum ada struktur yang pasti. Dari sumber-sumber yang ada juga tidak menyinggung kedua afdeeling ini, tetapi memang tidak menutup kemungkinan jika struktur yang ada memiliki kesamaan dengan salah satu struktur yang dimiliki oleh kedua afdeeling yang telah disebutkan di atas. Dalam suatu sumber menyebutkan, ternyata kontrolir memiliki peran dalam pergantian-pergantian pemimpin non pemerintah tersebut, sehingga hal inilah yang menyebabkan adanya ketidakseragaman pemimpin wilayah yang ada di beberapa Afdeeling.21
2.2 Penduduk
Jika berbicara mengenai masyarakat Tapanuli, hal utama yang terlintas difikiran pertama sekali adalah kata “Batak”. Banyak orang yang menyebutkan bahwa semua masyarakat Tapanuli adalah orang Batak, karena setidaknya ada beberapa sub – etnis yang bermukim di sana. Akan tetapi tidak sedikit juga orang- orang yang menyangkalnya dengan alasan yang berbeda-beda. Dalam hal ini, kata
“batak” tidak digunakan untuk menyebutkan suatu etnis kemasyarakat yang ada di Tapanuli.
Penduduk yang mendiami wilayah Tapanuli umumnya terdiri dari etnis yang berbeda-beda. Meskipun demikian, Tapanuli juga memiliki beberapa etnis asli. Di
21 Lance Castles, loc. cit.,
sebelah Selatan dan Baratdaya Danau Toba dan juga di Pulau Samosir, berdiam orang-orang Toba. Di Baratlaut terdapat orang-orang dari suku Pak-pak yang mendiami wilayah Dairi. Bergeser jauh ke Selatan, tepatnya di wilayah Angkola, Mandailing dan Padang Lawas, bermukim orang-orang dari suku Angkola dan Mandailing. Suku-suku ini tentunya memiliki ciri khasnya masing-masing.22 Pulau Nias, sebagai wilayah terluar dari Keresidenan Tapanuli, didiami oleh orang-orang Nias yang juga memiliki sistem marga di dalam kehidupan masyarakatnya.
Masing-masing suku-suku tersebut mendiami wilayahnya masing-masing.
Dalam komposisi kependudukan di Tapanuli, suku-suku selain yang telah disebutkan diatas juga turut mewarnai kehidupan masyarakat di Tapanuli adalah dari suku Minangkabau, orang Eropa, dan orang-orang dari Timur Asing yang juga bermukim di wilayah Tapanuli. Pada tahun 1908 jumlah orang Eropa yang ada di Tapanuli berjumlah 436 orang, sedangkan jumlah orang Timur Asing jauh lebih banyak, yakni berjumlah 1.926 orang. Pada tahun yang sama, jumlah penduduk yang ada di Tapanuli berjumlah 513.634 Jiwa. Jumlah tersebut termasuk wilayah Nias yang merupakan wilayah terluar dari wilayah Tapanuli. Untuk melihat perbandingan jumlah penduduk di Tapanuli, perhatikan tabel berikut ini:
22Lance Castles, loc. cit.,
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk tahun 1908
Wilayah Jumlah Penduduk
Padang Lawas 42.355
Sibolga 20.160
Barus dan Sorkam 9.331
Silindung 45.872
Dataran tinggi Toba 70.661
Toba dan Uluan 89.971
Diperkirakan jumlah samosir 70.000
Daerah luar lainnya yang termasuk kedalam
Yuridiksi 24.000
Jika ditambah Dairi Landen 20785
Total keseluruhan 513.634
Sumber: MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent Resident (Boek I), 1920. hlm.155.
Pada tahun 1917, jumlah penduduk yang ada di wilayah Tapanuli bertambah, setidaknya ada 765.238 orang pribumi yang bermukim pada tahun tersebut. Orang-orang Eropa dan Timur Asing juga bertambah populasinya, masing- masing 723 jiwa dan 2.671 jiwa. Jumlah tersebut tentunya bertambah dari tahun 1908. Untuk melihat jumlah populasi tahun 1917, lihat tabel berikut ini:
Tabel 2.3
Jumlah Populasi Masyarakat Di Wilayah Tapanuli berdasarkan komposisi penduduk (1917)
Afdeeling Onderafdeeling Eropa Timur Asing Pribumi Beneden Tapanuli
dengan 186.402 Jiwa:
Nias 93 634 145.425
Sibolga 206 940 22.337
Natal 2 4 18.640
Padang Sidempuan dengan166.734
Jiwa
Angkola 147 344 61.342
Padang Lawas 6 13 49.985
Mandailing 16 90 55.407
Batak Landen dengan 412.102
Jiwa
Hoogvlakte 35 7 70.479
Barus 13 358 32.426
Dairi 16 114 27.645
Samosir 11 1 78.639
Toba 57 34 123.575
Silindung 118 132 79.338
Totaal rata-rata 723 2.671 765.238
Sumber: MvO (Memorie van Overgave) de Residentie Tapanoeli, B.E.W.C. Schroder. Oud Asistent Resident (Boek I), 1920. hal.156.
Selama sembilan tahun, penduduk pribumi setidaknya bertambah sebanyak 251.604 orang, orang Eropa hanya bertambah sebanyak 287 orang dan orang Timur Asing hanya bertambah 745 orang. Banyaknya populasi orang Timur Asing umumnya berada di wilayah pesisir ataupun wilayah yang dekat dengan jalur perdagangan, seperti Sibolga, Nias, dan Barus. Orang-orang Eropa termasuk orang Belanda sendiri, umumnya tinggal di wilayah ibu kota baik di afdeeling ataupun onderafdeeling.
Lebih luas lagi mengenai penduduk pribumi, Blink lebih terperinci saat mengklasifikasikan penduduk di Sumatera, terutama di Tapanuli. Pada tahun 1920,
Blink menuliskan pada tabel bahwa jumlah penduduk pribumi kembali bertambah, begitu juga dengan penduduk non pribumi yang menetap di wilayah Tapanuli. Pada tahun tersebut, setidaknya ada 839.515 orang penduduk pribumi yang berada di Tapanuli. Meskipun sedikit, orang-orang Eropa yang ada di Tapanuli juga bertambah.
Pada tahun yang sama, sedikitnya ada 13 orang Eropa yang bertambah selama 3 tahun tersebut. Ini menjadikan jumlah orang Eropa di Tapanuli sebanyak 736 orang.
Orang-orang Cina yang termasuk dalam kelompok Timur Asing berjumlah 2. 904 orang, dan orang-orang Arab hanya berjumlah 84 orang. Orang-orang Inggris juga ada di wilayah tersebut, setidaknya ada 319 orang Inggris yang menetap di wilayah Tapanuli.23
Meskipun banyak imigran yang menetap di wilayah Tapanuli, tidak banyak dari orang-orang tersebut yang benar-benar menyatakan bahwa diri mereka akan menetap di wilayah Tapanuli. Pada sensus yang dilakukan tahun 1930, hanya sekitar 2,42% saja yang menyatakan bahwa Keresidenan Tapanuli tempat tinggal mereka, sisanya bahkan ada yang menginginkan untuk kembali ke tempat asal mereka.24 Umumnya, imigran yang datang dengan motif masing-masing, untuk orang-orang Eropa misalnya ada yang datang sebagai pejabat pemerintahan, membuka usaha perkebunan ataupun perdagangan, juga sebagai misionaris penyebaran agama.
Demikian juga halnya dengan orang-orang Timur Asing yang tujuan kedatangan
23 H. Blink, Opkomst En Ontwikkeling Van Sumatra Als Economische-Geograpisch Gebied, Den Haag: s-Gravenhage – Mouton &Co. 1926, hal. 41.
24 Untuk lebih jelasnya lihat Hans Gooszen, A Demographic History of The Indonesian Archipelago, 1880-1942. Leiden: KITLV Press 1999, hal. 84.