• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanian Karet Rakyat Di Desa Simangumban Jae Kecamatan Pahae Jae 1969-1995

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pertanian Karet Rakyat Di Desa Simangumban Jae Kecamatan Pahae Jae 1969-1995"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Melihat literatur tentang perkebunan di Sumatera Utara yang umumnya hanya terdapat di daerah eks Sumatera Timur1, seperti yang ditulis oleh Karl J. Pelzer dalam bukunya Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria. Kemudian T. Keizerina Devi Azwar dalam disertasinya Poenale Santie: Studi Tentang Globalisasi Ekonomi dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur (1870-1950), Edi Sumarno dalam tesisnya yang berjudul Pertanian Karet Rakyat Sumatera Timur (1863-1942). Penulis juga tertarik meneliti tentang perkebunan, akan tetapi di luar wilayah Sumatera Timur yakni di Kabupaten Tapanuli Utara, khususnya di Desa Simangumban Jae Kecamatan Pahae Jae.

Desa Simangumban Jae merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara. Secara administratif batas-batas wilayah Desa Simangumban Jae adalah: Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Aek Nabara, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Dolok Sanggul dan di Sebelah Barat berbatasan dengan Desa

(2)

2 Silosung. Jarak antara Desa Simangumban Jae dengan ibukota kecamatan Sarulla yakni 11 km.

Secara keseluruhan Desa Simangumban Jae dilalui oleh satu sungai, yakni sungai batang toru. Sungai batang toru menyebabkan kondisi air tanah tidak terlalu dalam. Hal ini sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet yang membutuhkan kelembapan yang cukup.2 Jarak sungai batang toru dengan pemukiman penduduk terbilang jauh yakni sekitar 6 km, oleh karena itu penduduk Desa Simangumban Jae tidak dapat memanfaatkan air sungai. Sungai batang toru dialiri air baik itu musim kemarau maupun penghujan.

Luas wilayah Desa Simangumban Jae adalah 1.300 hektar, dengan ketinggian 500 sampai 800 meter di atas permukaan laut (dpl). Suhu rata-rata 170C sampai 250C dengan curah hujan 1.843 mm dalam 168 hari. Pada tahun 1995 penduduk Desa Simangumban Jae berjumlah 2.236 jiwa, terdiri dari 465 kepala keluarga dengan rata-rata 5 jiwa per kepala keluarga. Penduduk Desa Simangumban Jae memiliki pekerjaan seperti, PNS 15 orang, pedagang 30 orang dan petani 2.191 orang.3 Etnik mayoritas yang mendiami desa ini adalah Batak Toba, terdapat juga beberapa suku Mandailing dari Tapanuli Selatan.

Penduduk Desa Simangumban Jae pada umumnya bertani. Salah satu tanaman yang diusahakan petani di Desa Simangumban Jae adalah karet dan menjadi sumber

2 Tim Penulis Ps, Karet: Strategi Pemasaran tahun 2000, Budidaya dan pengolahan, Jakarta: PT Penebar Swadaya, 1999, hlm. 145.

(3)

3 penghasilan bagi sebagian besar penduduk. Pertanian karet ini tidak diketahui dengan pasti awal keberadaanya di Desa Simangumban Jae. Akan tetapi, pada tahun 1969 pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melakukan pembudidayaan karet di Kecamatan Pahae Jae yakni di Desa Simangumban Jae.4

Pada masyarakat yang tinggal di Desa Simangumban Jae, membuka tanah hutan belukar adalah hal yang menjadi warisan dari nenek moyang mereka dan dilakukan secara turun-temurun, yaitu mendapatkan hak-milik dengan tidak membelinya dengan uang atau alat tukar lainnya. Bagi masyarakat yang tidak mempunyai lahan, dalam hal memperoleh tanah di Desa Simangumban Jae adalah melalui jual-beli tanah dan sistem hasil (tanah pertanian). Dalam sistem bagi-hasil, hasil yang didapat akan dibagi tiga, yakni dua bagi penyadap dan satu bagi pemilik karet. Penyadapan dilakukan sebanyak 3 kali dalam seminggu dan perhitungan hasil dilakukan di hari pekan yaitu hari Selasa.

Sebelum tahun 1969 masyarakat di Desa Simangumban Jae mengandalkan padi dan kemenyan sebagai sumber penghasilan.5 Akan tetapi, produksi padi yang merupakan sawah tadah hujan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan getah kemenyan yang dihasilkan warnanya kehitam-hitaman dan sulit dikeringkan, hal ini menyebabkan harga kemenyan lebih rendah ditambah lagi dengan masa panen yang hanya sekali dalam satu tahun. Keadaan ini membuat petani di Desa Simangumban Jae mulai beralih ke tanaman karet. Karet dijadikan sebagai

4

M, Sinaga, Mengenal Daerah Tapanuli Utara Dewasa Ini, Laporan Kepala Daerah, belum diterbitkan, Tarutung, 1972, hlm. 49.

(4)

4 tumbuhan komersial penduduk, setiap masyarakat hampir memiliki karet di lahan pertanian mereka.

Pertanian karet rakyat di Desa Simangumban Jae umumnya diusahakan oleh petani dalam skala kecil (sempit) dengan sistem tradisional. Berbeda dengan yang diusahakan oleh perusahaan pemerintah atau swasta, dimana pengusahaannya dilakukan dalam skala besar dengan sistem teknologi modern. Walaupun pengembangan pertanian karet mengalami prospek yang cerah, namun masih ditemukan beberapa masalah dalam proses pengelolaannya oleh petani. Keberhasilan usaha pertanian karet sangat ditentukan oleh kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh petani dalam mengelolah pertanian yang diusahakannya.

Pengelolaan usaha tani karet secara tepat dapat memberikan hasil produksi yang tinggi dan tingkat keuntungan yang maksimal. Misalnya bagaimana petani menentukan sikap mereka dalam penanganan usaha tani karet mereka, penggunaan bibit unggul, pengelolahan tanah yang baik, pemupukan secara tepat waktu, jenis dan dosis, pemeliharaan secara intensif, perlakuan pasca panen yang baik dan kegiatan-kegiatan lain yang menyangkut upaya petani dalam mengelolah usaha tani yang diusahakannya.

(5)

5 produk yang diterima petani juga rendah.6 Salah satu penyebab terjadinya permasalahan tersebut karena masih lemahnya teknik budaya petani, pengolahan, dan pemasaran, serta kurangnya penyuluhan dari para ahli di bidang pertanian kepada petani.

Permasalahan lain yang menimpa petani karet adalah tidak stabilnya harga jual karet. Ketergantungan menjual kepada toke karet yang ada di desa membuat petani karet tidak mengetahui harga pasaran yang ada di pabrik. Selain masalah harga, kendala lain adalah penghasilan karet dalam setiap minggunya berubah-ubah. Cuaca merupakan salah satu faktor utama dalam mempengaruhi banyaknya lateks yang dihasilkan setiap minggunya. Pada musim hujan para petani harus bekerja lebih keras karena lateks yang dihasilkan lebih sedikit.

Pertanian karet di Desa Simangumban Jae pada umumnya masih memiliki kualitas yang rendah. Petani di Desa Simangumban Jae merawat tanaman karet dengan seadanya saja dikarenakan kurangnya pengetahuan para petani tentang membudidayakan tanaman karet. Modal yang terbatas membuat petani tidak dapat merawat tanaman karet secara maksimal, apalagi harga pupuk yang semakin mahal dan sulit didapatkan.

Pertanian karet di Desa Simangumban Jae masih memerlukan banyak tenaga ahli di bidang pengelolaan tanaman dan pabrik-pabrik pengelolaan karet. Kemudian

(6)

6 jasa-jasa di bidang penampungan hasil, pengangkutan, dan bahan-bahan pangan serta kebutuhan lainnya untuk kesejahteraan petani dan keluarganya.7

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pertanian Karet Rakyat di Desa Simangumban Jae Kecamatan Pahae Jae 1969-1995”. Batasan spasial dalam penelitian ini adalah Desa Simangumban Jae,8 sementara itu batasan temporalnya penulis mengambil batasan tahun dimulai dari tahun 1969 sampai tahun 1995. Tahun 1969 diambil sebagai batasan awal dalam penulisan ini karena pada tahun inilah budidaya tanaman karet di Desa Simangumban Jae dilakukan bertepatan dengan kebijakan pemerintah orde baru melalui Repelita I yang dilaksanakan di Indonesia. Kebijakan ini memfokuskan pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan untuk mengejar keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang pertanian termasuk peningkatan produksi hasil perkebunan,9 karena mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian termasuk petani di Desa Simangumban Jae. Sedangkan batasan akhir yang digunakan penulis adalah tahun 1995 karena pada tahun ini petani karet rakyat di Desa Simangumban Jae mulai menanam kakao di lahan pertanian mereka.

7 James J. Spillane, Komodidi Karet: Peranannya dalam Perekonomian Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, 1989, hlm. 53.

8 Karet akan baik pertumbuhannya jika ditanam di ketinggian 0-400 m, maksimalnya hingga ketinggian 600 m diatas permukaan laut, Tim Penulis Ps, Op.Cit, hlm. 186. Dipilihnya Desa Simangumban Jae sebagai daerah penelitian yakni berdasarkan letak geografis Kecamatan Pahae Jae yang berada di ketinggian 500 sampai 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl), Desa Simangumban Jae terletak di ketinggian 500 sampai 800 meter sehingga budidaya tanaman karet masih dapat diakukan di daerah ini.

(7)

7

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, untuk mempermudah penulis dalam penulisan dan menghasilkan penelitian yang objektif, maka penulis perlu membatasi masalah yang akan dibahas. Adapun masalah dari penelitian ini adalah:

1. Mengapa masyarakat di Desa Simangumban Jae bertani karet?

2. Bagaimana perkembangan pertanian karet rakyat di Desa Simangumban Jae 1969-1995?

3. Apa pengaruh pertanian karet rakyat terhadap kesejahteraan petani di Desa Simangumban Jae 1969-1995?

1.3Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1. Menjelaskan alasan masyarakat di Desa Simangumban Jae bertani karet 2. Menjelaskan perkembangan pertanian karet rakyat di Desa Simangumban

Jae 1969-1995

3. Menjelaskan pengaruh pertanian karet rakyat terhadap kesejahteraan petani di Desa Simangumban Jae 1969-1995

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

(8)

8 2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara dalam mengambil kebijakan terkait usaha meningkatkan produksi petani khususnya petani karet

3. Sebagai perbandingan dan masukan bagi peneliti yang berkaitan dengan kehidupan petani karet di masa yang akan datang

1.4 Tinjauan Pustaka

Ada beberapa tulisan yang digunakan penulis sebagai pendukung tulisan ini diantaranya adalah Tesis Edi Sumarno yang berjudul Pertanian Karet Rakyat Sumatera Timur (1863-1942). Tulisan ini menjelaskan bahwa ketersediaan lahan, ketersediaan tenaga kerja, transportasi komunikasi, dan perusahaan-perusahaan ekspor-impor sangat menentukan terjadinya perluasan penanaman karet rakyat di Sumatera Timur. Tesis ini membantu penulis dalam menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perluasan pertanian karet. Tesis ini juga membantu penulis dalam memahami perkembangan karet Ficus dan karet Hevea Brasiliensis di Sumatera Timur dimana karet Ficus sudah terlebih dahulu berada di Sumatera Timur lewat hutan-hutan yang terdapat di Wilayah Simalungun. Akan tetapi, keberadaan karet Hevea Brasiliensis pada tahun 1910 di Sumatera Timur lewat perkebunan swasta investor asing mengakibatkan karet Ficus kalah bersaing. Sejak saat itu karet Hevea Brasiliensis dipertahankan sebagai tanaman komersial di Sumatra Utara.

(9)

9 pemasaran karet alam di Indonesia dan dunia. Buku ini juga menjelaskan bahwa pemilihan lokasi, pengolahan tanah, penanaman, kebutuhan bibit, perawatan tanaman sebelum menghasilkan dan setelah menghasilkan, juga peremajaan tanaman merupakan hal yang harus diperhatikan dalam budidaya penanaman karet. Kemudian bagaimana cara meningkatkan pengolahan lateks menjadi bahan baku karet alam yang berkualitas sehingga harga jual dan tingkat kepercayaan konsumen atau pembeli karet akan meningkat. Buku ini membantu penulis untuk menjelaskan pemasaran karet di Indonesia dan pembudidayaan karet.

James J. Spillane dalam bukunya Komoditi Karet: Peranannya dalam perekonomian Indonesia. Buku ini menjelaskan bahwa karet merupakan suatu ekspor yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia, khususnya dengan menurunnya penerimaan negara dari sektor migas. Buku ini membantu penulis menjelaskan pentingnya karet bagi perekonomian masyarakat khususnya di Desa Simangumban Jae.

(10)

10 digunakan penulis sebagai salah satu acuan penulisan tentang konsep ekonomi berbasis pertanian di wilayah pedesaan.

1.5Metode Penelitian

Dalam penulisan sejarah yang ilmiah, pemakaian metode sejarah sangatlah penting. Metode sejarah dapat diartikan sebagai proses menguji dan menganalisa secara kritis atas rekaman dan peninggalan masa lampau.10 Untuk mendapatkan sumber-sumber yang dibutuhkan sebagai bahan penulisan yang relevan dengan pokok permasalahan haruslah dikaji secara mendalam. Penulisan penelitian ini melewati beberapa proses agar diperoleh suatu penilaian atau pemaparan yang lebih objektif.

Langkah pertama yang penulis kerjakan adalah heuristik yakni pengumpulan sumber-sumber untuk mendapatkan data-data yang terkait dengan objek penelitian. Dalam hal ini penulis menggunakan metode library research (penelitian kepustakaan) dan field research (penelitian lapangan/wawancara) sumber dapat merupakan sumber primer maupun sumber sekunder. Yakni mengumpulkan data melalui buku-buku, dokumen, dan media elektronik yang mempunyai kaitan dan dapat membantu penulis untuk memahami permasalahan. Untuk mengumpulkan data-data tersebut, penulis mengunjungi Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Perpustakaan T. Lukman Sinar, Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara, Kantor BPS Kabupaten Tapanuli Utara,

(11)

11 Kantor BPS Provinsi Sumatera Utara, Kantor Camat Kecamatan Pahae Jae, Kantor Kepala Desa Simangumban Jae, dan melakukan wawancara terhadap penduduk Desa Simangumban Jae.

Setelah sumber-sumber yang berhubungan dengan penelitian ini terkumpul, maka dilanjutkan dengan tahapan kritik sumber untuk memperoleh keabsahan/keaslian sumber melalui kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern dilakukan untuk menelaah dan memverifikasi kebenaran isi baik yang bersifat tulisan (buku, disertasi, tesis, dan arsip daerah) maupun sumber lisan (wawancara). Kritik Ekstern dilakukan untuk memilah apakah dokumen itu diperlukan atau tidak dengan mengamati tulisan, ejaan, jenis kertas serta apakah dokumen tersebut isinya masih utuh atau diubah sebagian.

Langkah ketiga yang dilakukan penulis adalah Interpretasi, merupakan tahap bagi penulis menafsirkan data-data yang telah diperoleh kemudian menghasilkan suatu kesimpulan dari objek masalah yang diteliti baik dengan cara analisis maupun sintesis. Hal ini dilakukan untuk menghindari subjektivitas. Dalam tahap ketiga penulis menginterpretasi data-data berupa buku dan tesis mengenai karet atau informan tentang karet rakyat yang penulis peroleh dari masyarakat sekitar.

Referensi

Dokumen terkait

Dari keseluruhan, titik pusat tulisan ini adalah bagaimana situasi dan upaya petani di Desa Rumah Sumbul untuk dapat memenuhi taraf kehidupan ekonomi dengan cara mengkonversi

sah pada suatu masyarakat sebagai pembatas lahan pertanian yang satu dengan yang.. lainya, tetapi lambat laun karet berubah dan dijadikan masyarakat

Tabulasi Silang Antara Kuantitas Konsumsi Protein Dengan Status Gizi Responden Berdasarkan IMT/U di SDN 175750 Desa Pardamean Nainggolan Kecamatan Pahae Jae Kabupaten

MASTER DATA KONSUMSI BUAH PINANG, KEJADIAN KECACINGAN DAN STATUS GIZI SISWA SDN 175750 DESA PARDAMEAN NAINGGOLAN KECAMATAN PAHAE JAE KABUPATEN TAPANULI UTARA TAHUN

Potensi aren di Desa Simanampang Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara sangat baik melihat kerapatan aren tinggi dengan masing masing

4.1 Data Tingkat Produksi Karet Rakyat di Kabupaten Tapanuli Selatan Berdasarkan Produksi Karet Rakyat Tahun 2005 - 2015 34 4.2 Peramalan Tingkat Produksi Karet

Hal ini terjadi seiring dengan kondisi geografis dari wilayah Tapanuli sendiri yang letaknya cukup jauh dari wilayah pusat perdagangan, sehingga produksi dalam bentuk

SOL (Sarulla Operational Limmited) Panas Bumi terhadap Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Pahae Julu Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara.. Metode penelitian ini menggunakan