• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanian Karet Rakyat Di Desa Simangumban Jae Kecamatan Pahae Jae 1969-1995

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pertanian Karet Rakyat Di Desa Simangumban Jae Kecamatan Pahae Jae 1969-1995"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

64

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : Abdul Gultom

Umur : 67 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

2. Nama : Abdul Panggabean

Umur : 69 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

3. Nama : Bisara Silitonga

Umur : 60 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

4. Nama : Bonar Simatupang

Umur : 59 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

5. Nama : Dirman Sitompul

Umur : 69 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

(2)

65

6. Nama : Imran Ritonga

Umur : 68 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

7. Nama : Jonsikdik Panggabean

Umur : 60 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

8. Nama : Kespan Ritonga

Umur : 45 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Sekretaris Desa

9. Nama : Lahuddin Sianturi

Umur : 70 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

10.Nama : Lambok Ritonga

Umur : 68 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

11.Nama : Mahadat Sihombing

(3)

66

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

12.Nama : Majid Ritonga

Umur : 67 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

13.Nama : Marsitta Simatupang

Umur : 73 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

14.Nama : Marudut Sianturi

Umur : 70 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

15.Nama : Masnum Siregar

Umur : 67 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

16.Nama : Muslim Ritonga

Umur : 71 Tahun

(4)

67

Pekerjaan : Petani/Pedagang

17.Nama : Nazaruddin Sitompul

Umur : 70 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani/Pedagang

18.Nama : Pantun Ritonga

Umur : 66 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

19.Nama : Parasian Sitompul

Umur : 66 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

20.Nama : Parlindungan Sihombing

Umur : 65 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

21.Nama : Rahman Sianturi

Umur : 75 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

(5)

68

22.Nama : Sabar Sitompul

Umur : 70 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

23.Nama : Sabudin Simanjuntak

Umur : 66 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

Pekerjaan : Petani

24.Nama : Sampe Sitompul

Umur : 68 Tahun

Alamat : Desa Simangumban Jae

(6)

LAMPIRAN

Lampiran 1

Peta wilayah Kecamatan Simangumban (Setelah Kecamatan Pahae Jae mengalami pemekaran wilayah pada tahun 2003 dan Desa Simangumban Jae merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Simangumban).

(7)

Lampiran 2

(8)

Lampiran 3

Daftar harga Sembilan bahan pokok di Kabupaten Tapanuli Utara tahun 1968-1971

(9)

Lampiran 4

Pohon Karet Muda

Usia : Sekitar 3 Tahun

Lokasi : Karet Rakyat Milik Seorang Penduduk di Desa Simangumban Jae

Diambil : 07 September 2015

(10)

Lampiran 5

Pohon Karet Dewasa Telah Disadap

Usia : Sekitar 10 Tahun

Lokasi : Karet Rakyat Milik Seorang Penduduk di Desa Simangumban Jae

Diambil : 07 September 2015

(11)

Lampiran 6

Lahan Karet yang Telah Ditanami Tanaman Kakao

Usia Tanaman Karet Sekitar 40 Tahun

Lokasi : Karet Rakyat Milik Seorang Penduduk di Desa Simangumban Jae

Diambil : 07 September 2015

(12)

62 DAFTAR PUSTAKA

BPS Tapanuli Utara, Tapanuli Utara Dalam Angka 1995, Tarutung: BPS Tapanuli Utara, 1996.

Departemen Pendidikan Nasional RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3, Jakarta: Balai Pustaka, 1999.

Gootschalk, Louis, Understanding History, Mengerti Sejarah, (Terj) Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1985.

J. Spillane, James, Komoditi Karet: Peranannya dalam Perekonomian Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

Kamaluddin, Rustian, Bunga Rampai Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah, Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 1992.

Koentjaraningrat, Masyarakat Desa di Indonesia, Jakarta: Fakultas Ekonomi UI, 1984.

Mubyarto, Pengantar Ekonomi Pertanian, Jakarta: LP3ES, 1977.

Mustain, Petani VS Negara: Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007.

Pelzer, Karl J, Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria, Jakarta: Sinar Harapan, 1985.

Rahardjo, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian, Yogyakarta: UGM Press, 1999.

Rahmanta, Ekonomi Pertanian, Medan: USU Press, 2014.

Scott, James, Moral Ekonomi Petani: Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1994.

Setyamidjaja, Djoehana, Karet: Budidaya dan Pengolahan, Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Silaen, Sarma Juliana, Strategi Pengembangan Bisnis Karet Alam Olahan: PT Adei Crumb Rubber Industry, Tebing Tinggi, Sumatera Utara, skripsi, belum diterbitkan, Bogor: Fukultas Ekonomi dan Manajemen IPB, 2010.

Silitonga, Chrisman dkk, Perkembangan Ekonomi Pertanian Nasional 1969-1994, Jakarta: PERHEPI, 1995.

(13)

63 Soesilowidagdo, Soebakdi, Melaksanakan Repelita, Yogyakarta: Balai Pembinaan

Administrasi UGM, 1969.

Statistik Harga Produsen Sektor Pertanian Di Indonesia: Producer Price Statistics of Agiculture Sector in Indonesia 1996-2000, Jakarta: BPS, 2005.

Suharso, Pujo, Tanah, Petani, Politik Pedesaan, Solo: Pondok Edukasi, 2002

Sumarno, Edi, Pertanian Karet Rakyat Sumatera Timur (1863-1942), Tesis, belum diterbitkan, Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM, 1998.

Suprayitno, Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Dari Federalisme ke Unitarisme: Studi Tentang Negara Sumatera Timur 1947-1950, Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia, 2001.

Suyitro, Sri Widodo, Pemberdayaan Pertanian Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia, Yogyakarta: Aditya Media, 1999.

(14)

23

BAB III

LATAR BELAKANG MASYARAKAT DI DESA SIMANGUMBAN JAE

BERTANI KARET

3.1Ketersediaan Lahan

Sampai saat ini Indonesia masih merupakan negara pertanian, artinya

pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal

ini dapat dibuktikan dari jumlah penduduk yang mengandalkan hidupnya bekerja

pada sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari pertanian. Pada

tahun 1973, sebanyak 65 % dari total penduduk Indonesia masih hidup di sektor

pertanian. Pentingnya pertanian dapat dilihat dari besarnya nilai ekspor yang berasal

dari pertanian. Pada tahun 1974, sebanyak 22% dari keseluruhan nilai ekspor berasal

dari hasil-hasil pertanian yaitu: karet, kayu, kopi, minyak kelapa sawit, kopra,

tembakau, teh, lada, dan rotan.26

Besarnya peranan pertanian di Indonesia memberi motivasi pedesaan untuk

memiliki lahan pertanian yang dapat dijadikan sumber produksi. Oleh karena itu,

mereka berupaya dengan berbagai cara untuk memiliki lahan pertanian baik yang ada

diwilayah tempat tinggalnya ataupun di luar desanya.27 Dengan memiliki lahan

pertanian, mereka dapat membiayai kebutuhan hidup keluarganya. Mereka hanya

26 Mubyarto, op.cit., hlm. 12. 27

Rahardjo, Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian, Yogyakarta: UGM Press, 1999, hlm. 136.

(15)

24

bekerja di sektor pertanian karena disesuaikan dengan latar belakang pendidikan yang

dimilikinya.

Hal ini juga dilakukan oleh petani di Desa Simangumban Jae Kecamatan

Pahae Jae. Keberadaan lahan sangat bernilai ekonomis bagi petani sebagai sumber

kehidupan.28 Mengenai luas pemilikan lahan yang ada di Desa Simangumban Jae

sangatlah bervariasi. Terdapat warga yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas,

sebaliknya terdapat warga yang memiliki lahan yang sangat sempit. Perbedaan atau

variasi itu disebabkan oleh berbagai hal antara lain, dalam hal pemilikan atau

perolehannya dan tingkat perekonomian penduduk yang berbeda-beda.

Ada 2 macam cara perolehan lahan yang sampai saat ini masih berlaku

dikalangan penduduk di Desa Simangumban Jae. Ada warga yang memperoleh tanah

dari warisan orang tuanya, ada juga yang diperoleh dengan cara membeli dari warga

lain. Luas pemilikan lahan yang diperoleh dari warisan antara warga yang satu

dengan warga yang lain juga berbeda, tergantung pada luas tidaknya tanah yang

dimiliki orang tua. Jika orang tua mereka dulunya memiliki lahan yang cukup luas,

maka si anak akan memperoleh warisan lahan yang cukup luas pula. Sebaliknya, jika

orang tuanya memiliki lahan yang tidak luas tentunya mereka akan memperoleh

warisan lahan yang sedikit. Mereka hanya menerima lahan seluas kurang dari satu

hektar.29

28

Mustain, Petani VS Negara: Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007, hlm. 13.

(16)

25

Jika dilihat dari tingkat perekonomiannya, maka warga yang mempunyai

modal besar dengan mudah memperoleh atau menambah lahannya dengan cara

membeli lahan dari warga yang kebetulan akan menjualnya. Hal inilah yang

menyebabkan mereka secara tidak langsung menjadi tuan tanah di tempat tinggalnya.

Sebaliknya bagi warga yang kekurangan modal kadang mereka menjual lahannya

kepada warga yang mempunyai modal besar, sehingga mereka kehilangan lahan

pertaniaanya. Satu panen yang gagal dapat memaksa penduduk untuk menjual seluruh

atau sebagian dari tanahnya. Apabila kegagalan itu meliputi daerah yang luas, mereka

harus menjual dalam suasana panik dan dengan harga yang sangat rendah.30 Tidak

adanya lahan pertanian sebagai sumber produksi menyebabkan petani kesulitan dalam

membiayai hidup keluarga.

Penduduk yang tidak memiliki lahan pertanian akhirnya menjadi penggarap

atau penyewa lahan. Cara sewa yang dimaksud bukanlah dalam pengertian sewa

dalam pengertian umum yaitu membayar dengan uang, akan tetapi dengan cara bagi

hasil pada setiap panen. Sistem bagi hasil di Desa Simangumban Jae dibagi tiga,

yakni dua bagi pekerja atau penyewa dan satu bagi pemilik lahan.

Pemilikan lahan secara warisan belum sepenuhnya menjadi milik mereka,

terutama mereka yang orang tuanya masih hidup. Walaupun mereka sudah memiliki

lahan warisan namun dalam pengolahannya masih dikerjakan bersama-sama dengan

orang tua mereka, demikian juga dengan hasil panennya. Walaupun pemilikan lahan

(17)

26

belum sepenuhnya menjadi haknya, yang penting bagi mereka sudah mengetahui

berapa luas lahan yang dimilikinya. Dengan demikian di antara anggota keluarga

tidak akan terjadi perselisihan dalam hal warisan tanah.31

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Simangumban Jae, luas

lahan yang dimiliki oleh setiap informan dapat digolongkan menjadi lima golongan

menurut luasnya. Kelima golongan tersebut adalah golongan informan yang memiliki

luas lahan 0,1-0.4 hektar, 0,5-0,9 hektar, 1,0-1,9 hektar, 2,0-2,9 hektar, 3,0 hektar ke

atas. Jika dilihat dari jumlah informan yang memiliki luas lahan berdasarkan kelima

golongan tersebut, berturut-turut adalah: 6 orang, 8 orang, 4 orang, 3 orang dan 1

orang (tabel 3.1).

Tabel 3.1

Taksiran Luas Lahan yang Dimiliki Oleh Penduduk Desa Simangumban Jae

Luas Lahan (ha) Jumlah %

0,0 2 8,33

0,1-0,4 6 25,00

0,5-0,9 8 33,33

1,0-1,9 4 16,67

2,0-2,9 3 12,50

3,0 keatas 1 4,17

Jumlah 24 100,00

Sumber: Diolah dari hasil wawancara dengan penduduk di Desa Simangumban Jae,

04 September 2015.

(18)

27

Dari tabel tesebut dapat diketahui, bahwa sebagian besar informan yaitu 14

orang (58,33 %) memiliki lahan kurang dari satu hektar. Sementara itu, 2 informan

(8,33 %) tidak memiliki lahan. Berdasarkan hasil wawancara, informan yang tidak

memiliki lahan tersebut disebabkan lahannya sudah dijual kepada pemilik modal.

Alasan mereka menjual lahan karena adanya kebutuhan hidup yang mendesak, seperti

biaya pendidikan anak. Data luas lahan yang dimiliki oleh setiap informan tersebut

adalah luas lahan yang mereka miliki sekarang di Desa Simangumban Jae.

3.2 Modal

Dalam pengertian ekonomi, modal merupakan barang atau uang yang

bersama-sama faktor-faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan

barang-barang baru yakni dalam hal ini hasil pertanian.32 Modal petani yang berupa barang di

luar tanah adalah alat-alat pertanian, pupuk, bibit, hasil panen yang belum dijual, dan

tanaman yang masih di sawah. Sebagai salah satu faktor produksi, modal sangat

diperlukan dalam usaha pertanian. Tanpa modal usaha tidak bisa dilakukan, paling

tidak modal dibutuhkan untuk pengadaan bibit dan upah tenaga kerja.

Kecukupan modal mempengaruhi ketepatan waktu dan ketepatan takaran

dalam penggunaan masukan. Artinya, keberadaan modal sangat menentukan tingkat

atau jenis teknologi yang diterapkan. Kekurangan modal menyebabkan kurangnya

(19)

28

masukan yang diberikan sehingga menimbulkan risiko kegagalan atau rendahnya

hasil yang akan diterima.

Penduduk di Desa Simangumban Jae umumnya memperoleh modal dengan

sistem ijon33, walaupun sebagian penduduk dapat memenuhi semua keperluan

modalnya dari kekayaan yang dimilikinya. Petani yang mempunyai modal besar

dapat membantu atau meminjamkan modalnya kepada petani lainnya yang

memerlukan. Sistem ijon ini masih berkembang di Desa Simangumban Jae karena

lembaga kredit seperti BRI (Bank Rakyat Indonesia) sulit membantu petani karena

lahan yang sempit dan kegiatan produksi bercampur dengan konsumsi. Bank

memberikan kredit produksi, petani menggunakannya ke bentuk konsumsi.

Sistem ijon dianggap masyarakat lebih mudah/praktis dari lembaga kredit

yang umumnya berbelit-belit. Kemudian jaminan sistem ijon dapat berupa hasil

tanaman yang belum dipanen, perjanjian tanpa tertulis (cukup dengan saksi hidup),

pendekatan secara kekeluargaan, waktu pencairan yang cepat, dan penggunaan sesuka

petani. Berbeda dengan lembaga kredit seperti bank, dimana jaminannya harus

berupa barang yang bersertifikat, perjanjian harus tertulis dan ditanda tangani,

pencairan cukup lama, dan penggunaan harus jelas atau tertentu.34

33

Ijon merupakan kredit yang diberikan kepada petani, nelayan, atau pengusaha kecil yang pembayarannya dilakukan dengan hasil panen atau produksi berdasarkan harga jual yang rendah, Departemen Pendidikan Nasional RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3, Jakarta: Balai Pustaka, 1999, hlm. 250.

(20)

29

Penduduk di Desa Simangumban Jae menilai modal dari sudut keuangan.

Mereka beranggapan bahwa uang merupakan segalanya. Karena dalam melakukan

usaha tani karet semuanya membutuhkan uang, baik dalam perolehan lahan,

penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pemanenan. Dalam pertanian karet terdapat

rentang waktu yang cukup lama antara penanaman dengan masa panen, maka dalam

rentang waktu tiga tahun diperlukan biaya dalam pemeliharaannya. Untuk memenuhi

biaya tersebut, bagi petani yang tidak memiliki modal, mereka meminjam kepada

toke karet. Pinjaman ini berupa uang, pupuk, dan peralatan-peralatan dalam pertanian

karet. Proses pembayarannya dilakukan pada saat setelah penjualan hasil panen.

Dimana harga panen karet dipotong tergantung kesepakatan sebelumnya. Dalam

peminjaman ini tidak ada bunga uang, toke karet melakukan peminjaman kepada

petani merupakan suatu strategi agar petani tidak menjual hasil karetnya ke toke karet

yang lain.35

Biaya pokok produksi karet terdiri atas dua bagian yakni biaya sebelum

produksi dan biaya setelah produksi. Biaya sebelum produksi termasuk pembukaan

lahan, penanaman, perawatan (hama dan pengawasan penyakit, pemupukan) dan

pengelolaan. Biaya setelah produksi termasuk penyadapan, perawatan, dan

pengelolaan.36

Dalam pertanian karet besarnya modal yang digunakan sangat bervariasi,

tergantung luas lahan dan jenis bibit yang digunakan. Pada umumnya petani di Desa

(21)

30

Simangumban Jae memanfaatkan bibit yang tumbuh dibawah pohon induknya (bibit

yang tumbuh secara liar), Lain halnya modal yang digunakan untuk pemeliharaan

tanaman karet. Pada proses pemupukan dengan luas lahan satu hektar maka

dibutuhkan satu sat pupuk urea (50 kg). Harga pupuk satu sat yakni 20.550 rupiah

atau 411 rupiah per kilogram.37

3.3 Keuntungan Ekonomi

Dari segi ekonomi pertanian, berhasil tidaknya produksi petani dan tingkat

harga yang diterima oleh petani untuk hasil produksinya merupakan faktor yang

sangat mempengaruhi perilaku dan kehidupan petani.38 Hasil-hasil pertanian tanaman

musiman seperti padi, cabai, kacang-kacangan, dan durian pada musim panen

terdapat harga yang rendah dan pada musim paceklik terdapat harga yang tinggi.

Pendapatan petani hanya diterima setiap musim panen, sedangkan pengeluaran harus

diadakan setiap hari, setiap minggu atau dalam waktu yang sangat mendesak sebelum

panen tiba. Sebagian petani di Desa Simangumban Jae dapat menyimpan hasil

panennya, kemudian menjualnya jika membutuhkan biaya. Akan tetapi, banyak juga

petani hasil panennya tidak mencukupi keperluan yang besar, seperti pesta

perkawinan dan memperbaiki rumah.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya hal inilah yang menyebabkan

penduduk di Desa Simangumban Jae menanam karet di lahan mereka. Karet

37

Statistik Harga Produsen Sektor Pertanian Di Indonesia: Producer Price Statistics of Agiculture Sector in Indonesia 1996-2000, Jakarta: BPS, 2005, hlm.130.

(22)

31

dijadikan sebagai tumbuhan komersial penduduk, setiap masyarakat hampir memiliki

karet di lahan pertaniannya. Hasil produksi yang menjanjikan dari segi ekonomi

pertanian, berhasil mendongkrak ekonomi masyarakat. Setelah tanaman karet mulai

disadap, maka mata pencaharian penduduk bersumber dari pertanian karet. Dalam hal

ini petani menyadap karet miliknya sendiri, tetapi terdapat juga penduduk yang harus

menyadap kebun karet milik keluarganya maupun menyadap karet milik orang lain.39

Kemudian alasan penduduk di Desa Simangumban Jae mengkonversi

lahannya dari tanaman kemenyan ke tanaman karet dikarenakan tanaman karet dapat

menghasilkan getah karet setiap minggunya bahkan perhari, pengolahannya yang

relatif mudah, dan dapat dikerjakan oleh laki-laki dan perempuan. Sedangkan

tanaman kemenyan merupakan tanaman musiman dan pengerjaanya hanya dilakukan

oleh kaum laki-laki. Dalam satu hari, seorang petani dapat mangguris40 sebanyak 9

pohon. Waktu mangguris hanya 3 bulan dalam setahun yakni bulan Juni, Juli, dan

Agustus sesuai dengan umur daun tanaman kemenyan. Waktu kerja dalam satu bulan

yakni 26 hari, sehingga waktu kerja dalam tiga bulan sebanyak 78 hari. Jadi jumlah

maksimal pohon yang dapat dikerjakan dalam setahun adalah 702 pohon atau lahan

dengan seluas 1,16 hektar. Jika dihitung dari segi pendapatan dengan luas lahan yang

sama yakni setengah hektar lebih menguntungkan tanaman karet daripada tanaman

kemenyan. Kemudian, karena keterbatasan waktu pengerjaan maka lahan tanaman

kemenyan yang dapat dikerjakan maksimalnya seluas 1,16 hektar dalam setahun.

(23)

32

Sedangkan lahan tanaman karet yang pengerjaannya dapat dilakukan per hari, luas

lahan yang dapat dikerjakan oleh setiap penduduk dapat lebih luas yakni seluas 2

hektar per minggu. Dengan rincian untuk sekali sadap sebanyak 200 pohon selama

enam hari. Semakin luas lahan karet yang disadap maka pendapatan juga akan

semakin meninggkat.

Perhitungan sederhananya yakni penduduk yang mempunyai lahan setengah

hektar jumlah tanaman kemenyan yang dapat ditanam adalah 300 batang. Getah

tanaman kemenyan ada tiga jenis yakni getah mata kasar, mata halus41, dan tahir.

Untuk menghasilkan 1 kilogram getah mata kasar dibutuhkan 3 batang pohon

kemenyan dan untuk menghasilkan 1 kilogram getah tahir dibutuhkan 6 batang pohon

kemenyan. Jika tanaman kemenyan telah menghasilkan dalam setengah hektar

sebanyak 65,6% atau 197 batang pohon, maka getah kemenyan yang dihasilkan yakni

65,6 kilogram mata kasar dan 32,8 kilogram getah tahir.

Tahun 1970-an harga 1 kilogram getah kemenyan mata kasar yakni 1.200

rupiah dan harga 1 kilogram getah tahir yakni 600 rupiah. Kemudian tahun 1980-an

harga 1 kilogram getah kemenyan mata kasar sebesar 5.000 rupiah dan getah tahir

sebesar 2.500 rupiah. Harga 1 kilogram getah kemenyan mata kasar tahun 1995 di

Desa Simangumban Jae adalah 16.000 rupiah dan harga 1 kilogram getah tahir adalah

8.000 rupiah.42 Jadi penghasilan penduduk dari getah mata kasar yakni 65,6 x 16.000

41 Mata halus diperoleh, apabila getah pohon kemenyan tidak dipanen oleh penduduk dengan alasan getah kemenyan tersebut kurang maksimal, sehingga getah yang ada akan dipanen tahun depannya, pada saat mangguris.

(24)

33

rupiah sama dengan 1.049.600 rupiah per tahun dan dari getah tahir sebesar 32,8 x

8.000 rupiah sama dengan 262.400 rupiah per tahun. Maka total pendapatan

penduduk per tahun adalah 1.312.000 rupiah per tahun atau 109.333 rupiah per bulan

dan 27.333 rupiah per minggu.

Untuk menghasilkan 1 kilogram karet basah dibutuhkan jumlah karet

sebanyak 15 pohon. Apabila semua tanaman karet telah menghasilkan dalam

setengah hektar yakni 300 pohon, maka akan dihasilkan karet basah sebanyak 20

kilogram untuk sekali sadap. Penduduk di Desa Simangumban Jae melakukan

penyadapan sebanyak 3 kali dalam seminggu, sehingga untuk lahan tanaman karet

telah menghasilkan dalam setengah hektar akan dihasilkan karet basah sebanyak 60

kilogram dalam seminggu dan 2,88 ton karet basah per tahun. Jika dibandingkan

dengan pendapatan yang diterima penduduk yang mempunyai lahan karet seluas

setengah hektar dalam satu minggu dengan jumlah pohon tanaman karet telah

menghasilkan sebanyak 65,6% dari total jumlah pohon karet dalam setengah hektar

yakni sebanyak 197 pohon maka getah karet basah yang dihasilkan adalah 39

kilogram yang diperoleh dari 65,6% x 60 kilogram. Harga 1 kilogram getah karet

tahun 1995 adalah 1.000 rupiah.43 Maka pendapatan penduduk di Desa Simangumban

Jae dalam satu minggu yakni 39.000 rupiah.

Sehubungan dengan perubahan sumber mata pencaharian penduduk Desa

Simangumban Jae tersebut, maka muncul bidang pekerjaan lain seperti tenaga kerja

(25)

34

penyadap karet, tenaga kerja pengangkut produksi, dan toke karet. Toke karet atau

pedagang karet merupakan orang-orang yang memiliki modal dalam jumlah yang

besar dan memiliki lahan pertanian karet yang cukup luas. Sejak tahun 1980-an di

Desa Simangumban Jae terdapat dua orang toke karet yakni Nazaruddin Sitompul dan

Muslim Ritonga. Sebelumnya penduduk menjual hasil produksinya ke toke karet

yang berasal dari Kecamatan Pahae Jae. Toke karet tersebut datang ke desa-desa di

wilayah Kecamatan Pahae Jae termasuk Desa Simangumban Jae.

Tenaga kerja penyadap merupakan penduduk yang memiliki lahan kurang dari

setengah hektar maupun penduduk yang sama sekali tidak memiliki lahan pertanian.

Mereka diberi upah dengan sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil ini dilakukan dengan

sistem tiga banding satu. Artinya dari hasil penjualan getah karet pemilik lahan

memperoleh satu bagian dan penyadap memperoleh tiga bagian. Dalam hal ini semua

biaya pemeliharaan, peralatan untuk penyadapan karet, dan pengangkutan getah karet

ditanggung oleh penyadap karet. Dengan demikian pemilik karet hanya menerima

hasil bersihnya. Tenaga kerja pengangkut produksi merupakan orang-orang

kepercayaan toke karet untuk mengangkat getah karet yang dibeli ke atas truk.

Umumya toke karet membawa truk untuk mengangkut getah karet yang dibeli.

Setelah getah selesai ditimbang, maka buruh-buruh mengangkatnya ke dalam truk.

Tenaga kerja pengangkut produksi tersebut digaji oleh toke karet secara mingguan,

karena getah karet yang dibeli ditimbang dan diangkut sekali dalam seminggu.44

(26)

35

BAB IV

PERKEMBANGAN PERTANIAN KARET RAKYAT DI DESA

SIMANGUMBAN JAE 1969-1995

4.1 Penanaman

Penduduk Desa Simangumban Jae menanam karet antara 100 meter hingga 15

km dari pemukiman. Pohon karet ditanam di tanah bekas perladangan yang sudah

ditinggalkan dan dataran tinggi bekas tanaman kemenyan. Lahan ini biasanya kurang

subur, sehingga pertumbuhan karet kurang baik dan getah yang dihasilkan lebih

sedikit. Jenis bibit karet yang ditanam oleh petani di Desa Simangumban Jae adalah

hevea brasiliensis yang dikenal sekitar tahun 1910 di Sumatera Timur.45

Hevea Brasiliensis ini tumbuh baik pada ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut maksimalnya hingga ketinggian 600 meter. Hevea Brasiliensis

memiliki masa siap sadap antara 5 sampai 6 tahun dan mampu beradaptasi terhadap

berbagai jenis tanah, ketinggian, dan iklim. Tanaman ini merupakan tanaman tahunan

yang mampu memproduksi lateks hingga usia 25 tahun, dan mencapai ketinggian 20

sampai 30 meter. Produksi maksimum lateks dicapai pada usia 15 tahun, akan tetapi

semua masih tergantung pada iklim, jenis tanah, jarak tanam, dan sistem penyadapan.

Kondisi-kondisi ini dapat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman karet. Kualitas

(27)

36

lateks juga ditentukan oleh ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kecepatan

angin.46

Suhu udara yang baik untuk menghasilkan lateks adalah antara 240 sampai 280

Celsius. Suhu yang lebih rendah dari 240 Celsius berakibat pada lamanya keluar

lateks, sedangkan lebih tinggi dari 280 Celsius membuatnya cepat mengering. Curah

hujan yang cocok untuk tanaman ini adalah antara 1.500 mm sampai 2.000 mm per

tahun. Curah hujan yang lebih rendah dari 1.500 mm dan lebih tinggi dari 2.000 mm

per tahun mengakibatkan berkurangnya produksi lateks.

Keret tumbuh baik pada tanah dengan pH antara 3.0-8.0, pH tanah di bawah

3.0 atau di atas 8.0 menyebabkan pertumbuhan tanaman yang terhambat.47

Syarat-syarat tersebut sudah dimiliki oleh Desa Simangumban Jae, dari iklim, tanah,

ketinggian dan sebagainya yang menjadikan karet dapat tumbuh di Desa

Simangumban Jae.

Pada umumnya penanaman karet di Desa Simangumban Jae dilaksanakan

pada musim penghujan yakni antara bulan Oktober sampai Maret dimana curah hujan

sudah cukup banyak dan hari hujan telah lebih dari 100 hari. Penanaman bibit karet

umumnya dilakukan oleh laki-laki. Sebelum penanaman, lubang tanam sudah harus

siap. Alat yang digunakan untuk membuat lubang tanam adalah cangkul. Pembuatan

lubang tanam dilakukan oleh laki-laki secara berkelompok sama halnya dalam

pembukaan lahan. Hal ini dilakukan oleh petani untuk mengefisiensi waktu.

46

Ibid, hlm. 101.

(28)

37

Petani di Desa Simangumban Jae umumnya memperoleh bibit karet dengan

memanfaatkan bibit yang tumbuh dibawah pohon induknya tanpa memilih bibit

terbaik (bibit karet yang tumbuh secara liar). Akan tetapi sebagian petani melakukan

pembibitan karet dengan cara biji karet terlebih dahulu dikumpulkan. Pengumpulan

biji ini biasanya dilakukan oleh anak-anak pada saat libur sekolah. Kemudian

penyediaan tempat untuk pembibitan yakni mengisi plastik bekas dengan tanah, tetapi

terdapat juga penduduk yang menggunakan polybag. Setelah itu, biji karet ditanam ke

dalam polybag atau plastik bekas lalu disimpan di tempat sejuk.

Lokasi pembibitan tidak jauh dari tempat tinggal petani yakni di sekitar

pekarangan rumah, hal ini bertujuan mempermudah pemeliharaannya. Bagi yang

menggunakan bibit karet yang tumbuh secara liar dilakukan dengan cara bibit karet

dicabut lalu dibawa ke lahan yang akan ditanami. Bibit karet yang diperoleh dari

proses pembibitan sering harus menempuh jarak yang cukup jauh. Sehingga untuk

pengangkutan bibit dilakukan dengan memasukkanya ke dalam ember. Susunan bibit

harus rapat supaya tidak terjadi pergeseran bibit dalam pengangkutan. Apabila lahan

pertanian karet dapat dijangkau dengan menggunakan sepedamotor, maka bibit

diangkut dengan menggunakan alat transportasi tersebut. Akan tetapi, jika lahan

pertanian karet jauh dari jalan raya maka bibit diangkut dengan cara dipikul.48

Penanaman karet oleh penduduk Desa Simangumban Jae dilakukan dengan

cara menanam pohon karet dengan perantaraan tanaman lain, seperti kakao, pohon

(29)

38

aren, kemenyan, dan durian. Penggunaan tanaman perantara seperti kemenyan atau

durian akan menghambat pertumbuhan tanaman karet. Penduduk tetap

mempertahankan cara ini dengan alasan jika harga karet rendah maka penduduk dapat

memanfaatkan hasil tanaman perantara tersebut. Proses penanamannya yakni setelah

lubang tanam disiapkan, bibit yang diperoleh dari hasil pembibitan polybag lebih

dahulu dilepas kantong plastiknya, lalu bibit dimasukkan kedalam lubang tanam dan

ditutupi dengan tanah hasil galian sebelumnya. Selain itu, terdapat juga petani dalam

proses penanamannya menanam langsung biji karet tanpa membibit terlebih dahulu.

Di Desa Simangumban Jae, terdapat beberapa lingkungan tempat penanaman

karet rakyat yakni di sekitar aliran sungai batang toru. Penanaman di lahan seperti ini

umum dilakukan karena tanahnya sangat baik untuk pertumbuhan tanaman karet.

Kemudian tanaman karet juga ditanam di dataran tinggi. Di lingkungan ini, meskipun

pertumbuhan karet cukup baik, tetapi karena temperatur yang rendah, lateks yang

dihasilkan lebih sedikit.49 Penduduk juga menanam karet di lahan bekas tanaman

kemenyan. Lahan ini biasanya kurang subur, sehingga pertumbuhan tanaman karet

kurang baik.

Karet rakyat Desa Simangumban Jae umumnya ditanam dengan jarak rapat

dan tidak beraturan yakni sekitar 1 meter, walaupun beberapa petani menanam karet

dengan jarak yang lebih luas, yakni 3 x 3 meter, dan 3,5 x 3,5 meter. Penggunaan

ukuran yang lebih luas biasanya dilakukan oleh petani yang mempunyai lahan

(30)

39

pertanian yang luas. Pengaturan jarak yang tidak menentu ini menyebabkan

perhitungan jumlah pohon karet milik penduduk sulit dilakukan.

Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan cara sederhana, setelah karet disadap

sangat jarang dilakukan perawatan oleh penduduk. Perawatan tanaman karet

dilakukan hanya pada saat usia tanaman karet sampai satu tahun yakni dengan

memberikan pupuk urea. Pemakaian obat-obatan lain dalam pertanian tidak pernah

digunakan dalam perawatan pohon karet di Desa Simangumban Jae. Perawatan

tanaman karet setelah usia satu tahun hanya dilakukan dengan membersihkan pohon

karet dari semak-semak yang dianggap mengganggu pertumbuhan tanaman. Salah

satu alasan penduduk di Desa Simangumban Jae tidak menggunakan obat-obatan

pertanian selain pupuk yakni keterbatasan modal.

Seharusnya areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan,

maupun tanaman menghasilkan harus bebas dari gulma50 seperti alang-alang.

Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dimana

pengendalian tersebut dilakukan. Pengendalian gulma di pembibitan berbeda dengan

di areal kebun. Pengendalian gulma di areal pembibitan harus diusahakan selalu

bersih dari gulma. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan

cangkul setiap dua minggu sekali. Pengendalian gulma di lahan karet dilakukan

dengan cara penanaman tanaman penutup tanah. Jenis tanaman yang sering

50

(31)

40

digunakan adalah Centrosema pubescens dan Calopogonium caeruleum.51 Kemudian

selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat penanaman, program pemupukan

secara berkelanjutan harus dilakukan dengan dosis yang seimbang yakni dua kali

pemberian dalam setahun. Tahap pertama dilakukan pada Januari atau Februari dan

tahap yang kedua dilakukan pada Juli maupun Agustus.

Pemberantasan penyakit tanaman karet juga harus diperhatikan, karena

kerugian yang ditimbulkan tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat kerusakan

tanaman, tetapi juga biaya yang dikeluarkan dalam upaya pengendaliannya. Penyakit

tanaman karet yang umum ditemukan yakni kekeringan alur sadap. Penyakit ini

disebabkan oleh penyadapan yang terlalu sering. Adanya kekeringan alur sadap

mula-mula ditandai dengan tidak mengalirnya lateks pada sebagian alur sadap. Kemudian

dalam dua minggu keseluruhan alur sadap ini kering tidak mengeluarkan lateks, dan

bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat. Gejala lain yang

ditimbulkan penyakit ini adalah terjadinya pembengkakan atau tonjolan pada batang

tanaman. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan menghindari penyadapan yang

terlalu sering.

4.2 Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan faktor yang penting dan perlu diperhatikan dalam

proses produksi, tidak hanya dilihat dari ketersediaanya tetapi juga kualitas dan jenis

pekerjaan yang dikuasai. Keterbatasan lahan dan pertambahan penduduk yang besar

(32)

41

menimbulkan sejumlah tenaga kerja menganggur dan tingkat pendapatan yang

rendah.52

Di Desa Simangumban Jae terdapat tiga jenis tenaga kerja yang terlibat dalam

pertanian karet rakyat ini, yakni keluarga seperti ayah, ibu, anak, tenaga kerja upahan

dengan sistem bagi hasil, masyarakat setempat menyebutnya dengan

mamolapinang,53 dan tenaga kerja gotong-royong untuk pekerjaan tertentu seperti pembukaan lahan dan penanaman. Tenaga kerja gotong-royong ini mempunyai ciri

tukar-menukar yakni satu hari kerja ditukar dengan satu hari kerja. Akan tetapi, tidak

semua hari kerja yang ditukarkan, terdapat juga tenaga kerja seperti kerabat yang

ingin menyumbangkan tenaganya. Tuan rumah menyiapkan makanan dan minuman

untuk semuanya. Banyak petani mengatakan bahwa mereka melakukan

tukar-menukar tenaga kerja dengan tujuan memeriahkan pekerjaan lapangan yang

membosankan.

Di Desa Simangumban Jae, hasil yang didapat akan dibagi tiga, yakni dua

bagi penyadap dan satu bagi pemilik karet. Alasan sistem bagi hasil dibagi tiga yakni

rendahnya jumlah produksi lateks sehingga jika dilakukan sistem bagi dua maka hasil

yang diperoleh tidak akan mencukupi sesuai dengan besarnya upah54 yang ditetapkan

52

Chrisman Silitonga dkk, Perkembangan Ekonomi Pertanian Nasional 1969-1994, Jakarta : PERHEPI, 1995, hlm. 78.

53 Mamolapinang merupakan istilah masyarakat batak toba dalam menyebutkan sistem bagi hasil pertanian.

54

(33)

42

penduduk Desa Simangumban Jae.55 Penyadapan dilakukan sebanyak 3 kali dalam

seminggu dan perhitungan hasil dilakukan di hari pekan yaitu hari Selasa.

Penggunaan tenaga kerja melalui sistem bagi hasil ini dilakukan jika jumlah pohon

karet yang dimiliki seorang petani tidak mampu dikerjakan oleh tenaga kerja

keluarga, sementara produksi perlu dimaksimalkan. Kondisi ini terutama terjadi pada

saat harga karet sedang tinggi, sehingga setiap pohon karet yang sudah diproduksi

sebisa mungkin akan disadap.

Dalam melakukan penyadapan, seorang penyadap laki-laki mampu menyadap

sebanyak 200 sampai 250 pohon karet.56 Sedangkan penyadap perempuan hanya

mampu menyadap sebanyak 80 sampai 120 pohon karet. Penyadap keluarga

umumnya lebih hati-hati dalam menyadap daripada penyadap upahan. Penyadap

upahan, karena mengejar banyaknya jumlah produksi lateks, selalu menyadap

sebanyak-banyaknya. Akibatnya, penyadapan sering terburu-buru dan melukai

pohon, sehingga pertumbuhan dan produksi lateks semakin berkurang. Untuk tenaga

kerja keluarga laki-laki mampu menyadap sebanyak 200 pohon dan perempuan 80

pohon, sedangkan tenaga kerja upahan dengan sistem bagi hasil mampu menyadap

sebanyak 250 pohon untuk laki-laki dan sebanyak 120 pohon untuk perempuan.

Alat yang digunakan petani di Desa Simangumban Jae sedikit berbeda dengan

alat produksi yang digunakan oleh industri-industri karet yang ada di PTPN ataupun

55

Wawancara, dengan Mahadat Sihombing, warga Desa Simangumban Jae, 04 September 2015.

(34)

43

perkebunan swasta. Alat-alat produksi yang digunakan yakni kapak, parang, cangkul,

pisau sadap, talang lateks, mangkuk, cincin mangkuk, dan ember.

Adapun fungsi dari peralatan yang digunakan yakni:

a. Kapak digunakan untuk memotong dan membersihkan lahan dari

pohon-pohon besar yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman karet

b. Parang digunakan untuk membersihkan ranting-ranting dan alang-alang

c. Cangkul digunakan untuk membersihkan akar-akar pohon dan membuat

lubang untuk pembibitan

d. Pisau sadap ada dua macam, yaitu pisau sadap atas dan pisau sadap bawah.

Pisau ini harus mempunyai ketajaman yang tinggi. Ketajaman pisau

berpengaruh pada kecepatan menyadap dan kerapian sadapan. Pisau sadap

atas digunakan untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap atas, ketinggian

di atas 30 cm. Sedangkan pisau sadap bawah digunakan untuk menyadap kulit

karet pada bidang sadap bawah, ketinggian mulai 130 cm kearah bawah. Pisau

sadap mempunyai tangkai yang panjang untuk mempermudah penyadapan

dari permukaan tanah

e. Talang lateks biasanya terbuat dari seng dengan lebar 2,5 cm dan panjangnya

antara 8-10 cm.57 Pemasangan talang lateks pada pohon karet dengan cara

ditancapkan dari titik atau ujung terendah irisan sadapan. Talang lateks

digunakan untuk mengalirkan cairan getah karet dari irisan sadap ke dalam

(35)

44

mangkuk. Petani di Desa Simangumban Jae menggunakan dedaunan seperti

daun durian sebagai talang lateks

f. Mangkuk digunakan untuk menampung lateks yang mengalir dari bidang

irisan melalui talang. Petani Karet di Desa Simangumban Jae menggunakan

tempurung kelapa dan jerigen sebagai mangkuk untuk menampung lateks

dengan alasan mudah didapat dan tidak membutuhkan biaya

g. Cincin mangkuk digunakan sebagai tempat meletakkan mangkuk sadap,

bahan yang digunakan adalah kawat dan tali

h. Ember berfungsi sebagai alat penyimpanan lateks yang dikumpulkan dari

mangkuk. Dalam satu ember, getah karet basah yang dapat ditampung

kira-kira 10 sampai 25 kilogram.

4.3 Produksi

Dalam kegiatan produksi pertanian karet rakyat, penduduk sering mengalami

masalah yakni mahalya biaya sarana produksi seperti pupuk, obat-obatan yang tidak

diimbangi dengan besarnya harga jual serta rendahnya produksi karet. Kemudian

belum memadainya fasilitas pengolahan hasil pertanian khususnya komoditi karet.

Tanaman karet dapat dipanen atau disadap ketika berusia sekitar 5 sampai 6

tahun, tetapi di Desa Simangumban Jae lebih lama yakni sekitar 7 sampai 8 tahun.

Produksi maksimal tanaman karet dicapai pada usia 15 tahun. Tanaman karet dapat

(36)

45

tanam, dan teknik penyadapan.58 Kondisi-kondisi ini dapat berpengaruh pada

pertumbuhan tanaman karet. Kualitas lateks juga ditentukan oleh ketinggian lahan,

suhu udara, curah hujan, dan kecepatan angin.

Lamanya tanaman karet hingga siap sadap di Desa Simangumban Jae ini

terjadi akibat tanaman karet di tanam di lahan bekas kemenyan dan adanya pohon

perantara seperti pohon durian. Pohon durian merupakan jenis tanaman keras,

sehingga dapat memperlambat pertumbuhan tanaman karet. Jika penyadapan karet

dipaksakan pada usia 5 sampai 6 tahun di daerah lahan bekas seperti kemenyan, maka

produksi karet akan mengalami penurunan antara 25% sampai 50%.59

Pada umumnya tanaman karet yang terdapat di Desa Simangumban Jae

berumur di atas 25 tahun, hanya sedikit masyarakat yang melakukan peremajaan

tanaman. Hal ini menyebabkan produksi karet terus menurun setiap tahunnya. Petani

karet di Desa Simangumban Jae tidak melakukan peremajaan tanaman karet karena

keterbatasan modal terutama petani yang mempunyai lahan dibawah satu hektar.

Lamanya tanaman karet hingga siap sadap juga menjadi penghalang petani

melakukan peremajaan karet. Penyadapan dilakukan pagi hari yakni antara pukul

05.30-08.30 WIB untuk menghasilkan lateks yang maksimal.

Penyadapan dilakukan dengan cara mengiris kulit batang. Penyadapan yang

sering dilakukan penduduk di Desa Simangumban Jae sebanyak 3 kali dalam

seminggu dan umumnya pengumpulan getah dilakukan setelah penyadapan yang ke

58 Ibid, hlm. 270.

(37)

46

tiga. Tetapi ada juga yang hanya 2 kali dalam seminggu, hal ini disebabkan oleh

faktor cuaca misalnya musim penghujan.

Penyadapan dilakukan dengan mengiris batang tanaman karet dengan dalam

irisan kira-kira 2 mm. Penyadapan dilakukan selang dua hari, dan satu hari untuk

pengumpulan hasil getah karet. Pengumpulan hasil dilakukan jika mangkuk dalam

keadaan menggumpal. Biasanya petani mengumpulkan hasil getah karet setiap hari

senin karena hari selasa diadakan pasar getah pada pagi harinya.

Luas tanaman karet rakyat di Desa Simangumban Jae tahun 1995 adalah 230

hektar. Jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani sebanyak 450

kepala keluarga, sehingga luas tanaman karet untuk satu keluarga rata-rata setengah

hektar dengan jumlah pohon karet 300 pohon. Untuk menghasilkan 1 kg karet basah

dibutuhkan jumlah karet sebanyak 15 pohon.60 Apabila semua tanaman karet telah

menghasilkan dalam setengah hektar, maka akan dihasilkan karet basah sebanyak 20

kilogram untuk sekali sadap. Perhitungan jumlah pohon karet yang telah

menghasilkan dan jumlah pohon karet yang tidak menghasilkan (tabel 4.1).61 Dalam

hal ini penulis mengambil tiga sampel kepala keluarga yang mempunyai luas lahan

yang sama, rata-rata jumlah pohon karet yang sama, tetapi dengan produksi yang

berbeda.

60 Wawancara, dengan Parlindungan Sihombing warga Desa Simangumban Jae, 05 September 2015.

(38)
[image:38.612.94.549.151.267.2]

47

Tabel 4.1

Taksiran Jumlah Tanaman Karet Rakyat Desa Simangumban Jae Telah Menghasilkan dan Jumlah Tanaman Karet Tidak Menghasilkan Tahun 1995

No Narasumber Luas Lahan (ha) Jumlah Pohon Produksi

(Kg/minggu)

Persentase

1 Marsitta Simatupang 0,5 300 39 65,2%

2 Rahman Sianturi 0,5 300 45 75,3%

3 Sabar Sitompul 0,5 300 34 56,5%

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah pohon tanaman karet

telah menghasilkan di Desa Simangumban Jae sebesar 65,6%. Jumlah ini diperoleh

dari total persentase produksi dari ke tiga narasumber, kemudian dibagi tiga. Jumlah

pohon karet yang telah menghasilkan untuk setengah hektar sebanyak 197 pohon atau

65,6% dari jumlah pohon karet dalam setengah hektar. Jumlah karet basah yang dapat

diproduksi penduduk dalam satu minggu dengan lahan setengah hektar dan tanaman

karet telah menghasilkan sebanyak 65,6% adalah 39 kilogram atau 156 kilogram per

bulan dan 1,87 ton per tahun.

4.4Pemasaran

Penduduk di Desa Simangumban Jae mengumpulkan lateks empat hari

sampai seminggu untuk dijual.62 Petani karet membawa getah karet dengan cara

memundak dan dijual dalam bentuk slab63. Struktur pemasaran karet di Desa

62

(39)

48

Simangumban Jae adalah penyadap – pedagang pengumpul (toke karet di tingkat

desa) – toke karet di tingkat kecamatan – eksportir (Tebing Tinggi).

Di Desa Simangumban Jae, terdapat dua orang toke yang menampung hasil

getah karet penduduk yakni Muslim Ritonga dan Nazaruddin Sitompul. Sejak tahun

1980-an salah seorang toke karet yakni Nazaruddin Sitompul menjual getah karet

yang telah terkumpul ke Tebing Tinggi tanpa melalui toke karet yang ada di tingkat

kecamatan. Hal ini dilakukan karena jumlah getah karet yang dikumpulkannya

mencukupi, sehingga toke tidak akan merugi walaupun pemasarannya dilakukan ke

daerah yang cukup jauh dan biasanya dilakukan satu kali dalam seminggu yakni hari

senin. Jumlah lateks yang dibawa setiap minggunya sekitar 3 ton dengan

menggunakan truk.

Perusahaan yang menjadi tujuan pemasaran karet rakyat tersebut yakni PT

ADEI Crumb Rubber Industry, yang berada di Jalan Imam Bonjol no 239 Tebing

Tinggi. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1954 dengan nama ADEI Trading

Company Limited dan bergerak dalam bidang industri pengelolaan karet dan

eksportir karet.64 Kemudian pada tanggal 4 Mei 1979 perusahaan ini berubah nama

menjadi PT ADEI Plantation and Industri dan tahun 1997 berubah nama menjadi PT

ADEI Crumb Rubber Industry sampai sekarang.

64

(40)

49

Dipilihnya Tebing Tinggi sebagai tempat pemasaran getah karet adalah

masalah harga, walaupun jarak antara Desa Simangumban Jae lebih dekat ke Padang

Sidempuan.65 Jarak antara desa Simangumban Jae dengan Padang Sidempuan adalah

100 km, sedangkan jarak antara Desa Simangumban Jae ke Tebing Tinggi adalah 224

km. Jika dihitung dari besarnya biaya transportasi yang dikeluarkan dengan

banyaknya laba yang diperoleh dari harga getah karet masih lebih menguntungkan

apabila menjualnya ke Tebing Tinggi.

Untuk tahun 1969 harga Karet di Desa Simangumban Jae Kecamatan Pahae

Jae tidak dapat dipastikan, akan tetapi berdasarkan sumber yang didapat penulis

untuk harga getah karet di Kabupaten Tapanuli Utara per satu kilogramnya adalah

100 rupiah (tabel 4.2). Harga ini tergolong cukup tinggi, karena pada saat yang sama

[image:40.612.140.496.478.595.2]

harga beras adalah senilai 47 rupiah per kilogramnya66.

Tabel 4.2

Daftar Harga Hasil Bumi di Kabupaten Tapanuli Utara 1969-1971 (dalam Rp)

NO Jenis Tanaman Tahun

1969 1970 1971

1 Karet/kg 100 90 80

2 Kemenyan/kg 1.100 1.000 1.000

3 Kopi/kg 100 100 80

Sumber : Arsip Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Tapanuli Utara

65

Wawancara, dengan Nazaruddin Sitompul warga Desa Simangumban Jae, 05 September 2015.

(41)

50

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa harga satu kilogram getah karet

tahun 1969 sama dengan harga dua kilogram beras. Walaupun di tahun 1970 dan

1971 harga karet mengalami penurunan sebesar 10 rupiah, tetapi harga satu kilogram

karet masih lebih mahal dari harga satu kilogram beras.

Rendahya harga karet yang diterima oleh petani sering dituduhkan karena

rendahnya kualitas produksi karet rakyat. Sebaiknya persoalan yang menimpa petani

karet ini tidak hanya dilihat dari sisi rendahnya mutu karet yang dihasilkan petani,

akan tetapi perlu juga dilihat faktor penyebab lainya, seperti hubungan sosial antara

petani dengan pihak lain yang ada di masyarakat.67 Artinya, persoalan rendahnya

harga atau pendapatan yang diterima petani tidak hanya disebabkan oleh persoalan

teknis semata, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan situasi dan kondisi

sosial di masyarakat. Penentuan harga karet di masyarakat sering ditentukan oleh

keterikatan hubungan sosial antara petani kecil, petani besar dengan pedagang atau

toke karet.

Keinginan yang besar dari petani untuk tetap menjaga keeratan hubungan

sosial sering memaksa dan menghilangkan rasionalitas petani dalam berbisnis.

Banyak petani yang lebih mementingkan hubungan sosial dibandingkan dengan

keuntungan semata, walaupun bisnis karet tersebut merupakan penyokong kehidupan

ekonomi keluarganya. Hal seperti ini masih banyak dijumpai di Desa Simangumban

(42)

51

Jae, dimana toke karet masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan petani baik

sebagai keluarga atau pemberi pinjaman kepada petani yang tidak memiliki modal.

Hal lain yang juga berperan menentukan tingkat pendapatan atau harga yang

diperoleh petani adalah rantai pemasaran karet. Banyaknya lapisan pedagang yang

terlibat menyebabkan rantai pemasaran karet di Desa Simangumban Jae cukup

panjang. Petani tidak pernah terlibat langsung dalam memasarkan produksi karetnya

kepada pabrik atau pedagang eksportir. Paling tidak, mereka harus melalui dua orang

toke karet yakni toke karet di tingkat desa dan toke karet di tingkat kecamatan.

Ditingkat petani, sebagian petani mencari informasi harga kepada petani lain

yang telah melakukan penjualan atau kepada toke karet lainnya yang bukan

langganannya. Akan tetapi, sebagian besar petani di Desa Simangumban Jae hanya

menerima informasi harga dari toke karet langganannya karena faktor kepercayaan.

Kondisi ini tentunya tidak menguntungkan bagi petani karena toke karet pada

(43)

52

BAB V

PENGARUH PERTANIAN KARET RAKYAT TERHADAP

KESEJAHTERAAN PETANI DI DESA SIMANGUMBAN JAE 1969-1995

5.1 Peningkatan Pendapatan

Perkembangan pertanian karet rakyat di Desa Simangumban Jae mempunyai

pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu pengaruhnya ialah

meningkatnya jumlah pendapatan penduduk sehingga dapat membantu perekonomian

keluarga. Semula para petani hanya memperoleh penghasilan dari penjualan hasil

ladangnya, yakni tanaman kemenyan dan aren yang secara ekonomis belum

menghasilkan uang yang cukup bagi petani. Keadaan itu sedikit berubah sejak

pertanian karet rakyat mulai dikembangkan. Misalnya, para istri yang memperoleh

kesempatan bekerja sebagai penyadap apabila masa panen padi belum tiba, sehingga

hasil yang diperoleh bisa membantu meningkatkan pendapatan keluarga.68

Sejak tahun 1976 pertanian karet menjadi penting secara ekonomis bagi

penduduk Desa Simangumban Jae. Pendapatan yang diperoleh masyarakat dari hasil

pertanian karet cukup memuaskan. Dari aspek ekonomi, karet juga memberikan

manfaat bagi petani pengelolanya. Secara umum penghasilan petani di Desa

Simangumban Jae berasal dari pertanian karet. Besar kecilnya pendapatan yang

diperoleh petani berbanding lurus dengan berapa luas lahan yang dimiliki dan berapa

luas lahan yang mampu diusahakan oleh petani yang bersangkutan.

(44)

53

Pendapatan yang diperoleh petani karet dengan luas lahan setengah hektar

dengan jam kerja selama 3 jam yakni mulai pukul 05.30-08.30 WIB untuk sekali

sadap dapat memperoleh karet basah sebanyak 13 kilogram. Sebagian besar

pendapatan yang mereka peroleh digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan

tersebut berupa kebutuhan pangan dan kebutuhan sekolah anak-anak penduduk.69

Keberadaan karet mulai mempengaruhi kehidupan masyarakat Desa

Simangumban Jae. Sejak tahun 1976 karet rakyat sudah menghasilkan, ada perubahan

yang terlihat pada perekonomian masyarakat Desa Simangumban Jae yaitu

masyarakat dapat memperbaiki rumah dan menyekolahkan anak-anak mereka bahkan

sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Sebelum tanaman karet dibudidayakan, penduduk Desa Simangumban Jae

memiliki ekonomi yang lemah. Hasil pertanian padi dan tanaman aren tidak

mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rumah tanggga. Pendidikan pada masa itu

kurang diperhatikan oleh penduduk. Rumah yang masih sederhana dan jarang

memiliki barang-barang mewah di dalam rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan

pendidikan, mereka ikut membantu orang tua mencari uang, termasuk menjadi tenaga

kerja penyadap karet.

Tahun 1969 masyarakat Desa Simangumban Jae membudidayakan tanaman

karet, maka masyarakat mulai berpindah ke pertanian karet. Umumnya kehidupan

masyarakat mengalami perubahan baik secara cepat maupun lambat. Adanya

(45)

54

perubahan yang terlihat pada kehidupan perekonomian masyarakat Desa

Simangumban Jae yakni mereka dapat melakukan perbaikan rumah, menyekolahkan

anak, membeli perlengkapan rumah seperti TV, kulkas, dan membeli kendaraan roda

dua. Kesulitan perekonomian yang dihadapi masyarakat dapat teratasi ketika tanaman

karet mulai berproduksi. Pertanian karet menjadi sumber mata pencaharian utama

bagi masyarakat Desa Simangumban Jae.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan petani karet di

Desa Simangumban Jae yakni jumlah produksi, harga, tingkat pendidikan petani, dan

umur tanaman karet. Produksi pertanian karet rakyat sangat mempengaruhi

pendapatan petani. Dengan adanya peningkatan jumlah produksi karet, maka tingkat

pendapatan yang akan diperoleh petani juga akan meningkat. Peningkatan produksi

karet dapat dilakukan dengan cara perluasan areal tanaman karet. Selanjutnya harga

karet juga dapat mempengaruhi tingkat pendapatan petani karet. Ketika harga getah

karet karet tinggi maka pendapatan petani karet juga meningkat dan sebaliknya, jika

harga getah karet mengalami penurunan maka pendapatan petani karet juga

mengalami penurunan.

Kemudian tingkat pendidikan yang dimiliki petani karet juga dapat

mempengaruhi pendapatan yang akan diperoleh. Pendidikan ini berhubungan dengan

kemampuan petani dalam mengelola lahan karet serta menggunakan faktor produksi

yang dimilikinya secara efisien dan efektif sehingga dapat memaksimalkan

(46)

55

pengetahuan dan keahliannya juga akan meningkat sehingga akan mendorong

peningkatan produktivitas seseorang.

Umur karet juga dapat mempengaruhi pendapatan petani karet karena

berhubungan dengan produksi karet yang dihasilkan. Tanaman karet dapat

memproduksi lateks hingga umur 25 sampai 30 tahun. Pada umumnya tanaman karet

yang terdapat di Desa Simangumban Jae berumur di atas 25 tahun, hanya sedikit

masyarakat yang melakukan peremajaan tanaman. Hal ini menyebabkan produksi

karet terus menurun setiap tahunnya. Alasan petani karet di Desa Simangumban Jae

tidak melakukan peremajaan tanaman karet adalah keterbatasan modal terutama

petani yang mempunyai lahan dibawah satu hektar. Lamanya tanaman karet hingga

siap sadap juga menjadi penghalang petani melakukan peremajaan karet.70

Pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi.

Total biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi.

Penerimaan diperoleh dari hasil kali jumlah produksi dengan harga jual. Untuk

mengetahui produksi, penerimaan, dan pendapatan bersih dari usaha tani karet rakyat

di Desa Simangumban Jae pada tahun 1995 dengan harga karet sebesar 1.000 rupiah

per kilogram71 dapat dilihat pada tabel berikut (tabel 5.1)

(47)
[image:47.612.150.512.196.335.2]

56

Tabel 5.1

Rata-rata Produksi, Harga, Penerimaan, Total Biaya Produksi72 dan

Pendapatan Bersih Petani Karet Rakyat Desa Simangumban Jae Tahun 1995,

(Rp/Ha/Tahun)

No Uraian Per Petani Per Ha

1 Produksi (kg) 1.872 3.744

2 Harga (Rp) 1.000 1.000

3 Penerimaan (Rp) 1.872.000 3.744.000

4 Total Biaya Produksi (Rp) 10.275 20.550

5 Pendapatan Bersih (Rp) 1.861.725 3.723.450

Sumber: Diolah hasil wawancara penduduk di Desa Simangumban Jae, 2015.

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pendapatan yang diterima

penduduk yang mempunyai lahan seluas setengah hektar dalam satu minggu dengan

jumlah pohon tanaman karet telah menghasilkan sebanyak 65,6% yaitu 39 kilogram

yang diperoleh dari 65,6% x 60 kilogram. Total pendapatan bersih satu keluarga per

minggu sebesar 38.786 rupiah, atau 155.144 rupiah dalam sebulan dan 1.861.725

rupiah per tahun. Bagi penduduk yang mempunyai lahan seluas satu hektar, maka

pendapatan bersih yang diperoleh sebesar 77.571 rupiah per minggu atau 310.287

rupiah per bulan dan 3.723.450 rupiah per tahun.

(48)

57

5.2 Pendidikan

Para teoritis sumber daya mengatakan bahwa tersedianya kualitas sumber

daya manusia mempunyai peran yang sangat penting dalam progresivitas suatu

daerah. Manakala suatu daerah mempunyai kualitas sumber daya yang memadai,

daerah itu akan mengalami kemajuan.73 Pendidikan merupakan salah satu indikator

yang dapat digunakan untuk melihat sumber daya manusia di suatu daerah.

Pengukuran tingkat pendidikan penduduk dapat dilakukan atas dasar jenjang

pendidikan formal yang diselesaikan.

Tingkat pendidikan dihitung berdasarkan ijazah terakhir yang dimiliki

seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin baik kualitas

sumber daya manusianya. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk

mensejahterakan kehidupan. Pendidikan dapat menjadikan masyarakat berpola pikir

lebih maju dan mewujudkan masyarakat yang cerdas. Masyarakat yang cerdas dan

berpola pikir maju tentu akan memajukan daerah yang ditempatinya.

Dari hasil observasi yang dilakukan di Desa Simangumban Jae sebelum

adanya pertanian karet rakyat, pendidikan penduduk masih rendah. Banyak penduduk

yang tidak mengenal pendidikan. Tingkat pendidikan penduduk hanya tamat SMP.

Hal ini dikarenakan pendapatan penduduk hanya cukup untuk membiayai kebutuhan

sehari-hari. Akan tetapi, sejalan dengan berkembangnya pertanian karet rakyat di

Desa Simangumban Jae ini, pendapatan petani semakin meningkat dan biaya

(49)

58

pendidikan semakin terpenuhi. Berikut tingkat pendidikan penduduk di Desa

[image:49.612.151.491.183.382.2]

Simangumban Jae (tabel 5.2).

Tabel 5.2

Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Simangumban Jae 1995

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase

1 Tidak Sekolah/Belum Sekolah 512 22,90

2 Tidak Tamat SD 257 11,50

3 Tamat SD 657 29,37

4 Tamat SMP 464 20,76

5 Tamat SMA 300 13,41

6 Sarjana 46 2,06

Jumlah 2.236 100,00

Sumber: Arsip Kantor Kepala Desa Simangumban Jae

Berdasarkan tabel di atas, tingkat pendidikan yang ada di Desa Simangumban

Jae tertinggi tamat SD yaitu 657 jiwa atau 29,37%. Tingkat pendidikan yang belum

sekolah atau tidak sekolah adalah anak-anak yang memang belum cukup umur untuk

duduk di bangku sekolah. Walaupun tingkat pendidikan penduduk di Desa

Simangumban Jae masih didominasi tamatan SD, akan tetapi berdasarkan tabel di

atas sudah ditemukan penduduk yang tamat SMA sebanyak 13,41% dan penduduk

yang telah sarjana sebanyak 46 jiwa atau 2,06%. Artinya tingkat pendidikan

penduduk di Desa Simangumban Jae semakin meningkat seiring dengan peningkatan

pendapatan penduduk sejak bertani karet.

(50)

59

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1KESIMPULAN

Pertanian Karet Rakyat di Desa Simangumban Jae dimulai sejak tahun 1969.

Ketersediaan lahan, modal, dan keuntungan ekonomi merupakan faktor penyebab

masyarakat di Desa Simangumban Jae bertani karet. Ada dua cara yang dilakukan

penduduk dalam memperoleh lahan di Desa Simangumban Jae yakni memperoleh

lahan melalui warisan orang tua dan dengan cara jual-beli tanah. Penduduk di Desa

Simangumban Jae umumnya memperoleh modal dengan sistem ijon. Sistem ijon

dianggap masyarakat lebih mudah dan jaminan sistem ijon dapat berupa hasil

tanaman yang belum dipanen, pendekatan secara kekeluargaan, waktu pencairan yang

cepat, dan penggunaan sesuka petani. Kesulitan perekonomian yang dialami

penduduk Desa Simangumban Jae dapat teratasi ketika pertanian karet rakyat mulai

menghasilkan. Pendapatan yang diperoleh dari hasil pertanian karet rakyat

membuahkan hasil yang positif terhadap kehidupan masyarakat Desa Simangumban

Jae. Kesejahteraan hidup masyarakat terus meningkat seiring dengan perbaikan

tempat tinggal masyarakat dan pendidikan anak-anak mereka.

Tanaman karet dapat dipanen atau disadap ketika berusia sekitar 5 sampai 6

tahun, tetapi di Desa Simangumban Jae membutuhkan waktu lebih lama yakni sekitar

7 sampai 8 tahun. Lamanya tanaman karet hingga siap sadap di Desa Simangumban

(51)

60

pohon perantara seperti pohon durian. Pohon durian merupakan jenis tanaman keras,

sehingga dapat memperlambat pertumbuhan tanaman karet. Pada umumnya tanaman

karet yang terdapat di Desa Simangumban Jae berumur di atas 25 tahun, hanya

sedikit masyarakat yang melakukan peremajaan tanaman. Hal ini menyebabkan

produksi karet terus menurun setiap tahunnya.

Perkembangan pertanian karet rakyat di Desa Simangumban Jae dipengaruhi

oleh proses penanaman, jenis bibit yang digunakan, pemeliharaan tanaman,

ketersediaan tenaga kerja dan pemasaran. Petani di Desa Simangumban Jae

memperoleh bibit dengan memanfaatkan bibit karet yang tumbuh secara liar.

Penanaman karet dilakukan dengan cara menanam pohon karet dengan perantaraan

tanaman lain, seperti kakao, pohon aren, kemenyan, dan durian. Penggunaan tanaman

perantara seperti kemenyan atau durian akan menghambat pertumbuhan tanaman

karet. Terdapat tiga jenis tenaga kerja yang terlibat dalam pertanian karet rakyat di

Desa Simangumban Jae ini yakni tenaga kerja keluarga, tenaga kerja upahan dengan

sistem bagi hasil, dan tenaga kerja gotong-royong untuk pekerjaan tertentu seperti

pembukaan lahan dan penanaman. Penggunaan tenaga kerja melalui sistem bagi hasil

ini dilakukan jika jumlah pohon karet yang dimiliki seorang petani tidak mampu

dikerjakan oleh tenaga kerja keluarga, sementara produksi perlu dimaksimalkan.

Kondisi ini terutama terjadi pada saat harga karet sedang tinggi, sehingga setiap

(52)

61

Sejalan dengan berkembangnya pertanian karet rakyat di Desa Simangumban

Jae pada tahun 1969 tingkat pendidikan penduduk meningkat. Perkembangan

pertanian karet rakyat ini juga berpengaruh terhadap peningkatan jumlah pendapatan

petani. Semula para petani hanya memperoleh penghasilan dari penjualan hasil

ladangnya, yakni tanaman kemenyan dan aren yang secara ekonomis belum

menghasilkan uang yang cukup bagi petani. Keadaan itu sedikit berubah sejak

pertanian karet rakyat mulai dikembangkan. Para istri petani memperoleh kesempatan

bekerja sebagai penyadap apabila masa panen padi belum tiba, sehingga hasil yang

diperoleh dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

6.2 SARAN

Perlu diadakan program peningkatan pendapatan pertanian karet rakyat

dengan cara memberikan penyuluhan tentang pengelolaan tanaman karet dalam

rangka meningkatkan pendapatan petani. Kemudian petani harus memperhatikan

peremajaan karet supaya produksi lebih maksimal dan memilih tanaman yang akan

dijadikan sebagai tanaman perantara pada lahan pertanian karet secara tepat, karena

(53)

12

BAB II

GAMBARAN UMUM DESA SIMANGUMBAN JAE

2.1Letak Geografis

Desa Simangumban Jae merupakan salah satu dari 31 desa11 yang ada di

Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara. Secara administratif batas-batas

wilayah Desa Simangumban Jae adalah: Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Aek

Nabara, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sebelah

Timur berbatasan dengan Desa Dolok Sanggul dan di Sebelah Barat berbatasan Desa

Silosung. Jarak antara Desa Simangumban Jae dengan ibukota kecamatan Sarulla

yakni 11 km, dengan ibukota kabupaten Tarutung yakni 53 km, dengan kota Padang

Sidempuan 100 km. Saat ini Desa Simangumban Jae merupakan bagian dari wilayah

Kecamatan Simangumban.

Letak Desa Simangumban Jae terbentang di sisi kanan dan kiri jalan lintas

Barat Sumatera sehingga desa ini dapat dicapai dengan mudah. Desa ini dapat dicapai

dengan menggunankan bus dalam kota, juga becak bermotor. Dari Kota Tarutung,

dibutuhkan waktu hingga 1,5 jam untuk sampai ke Desa Simangumban Jae. Luas

(54)

13

wilayah Desa Simangumban Jae adalah 1.300 hektar, dengan ketinggian 500 sampai

800 meter di atas permukaan laut (dpl). Berdasarkan ketinggian tersebut Desa

Simangumban Jae mempunyai iklim tropis. Musim hujan di Desa Simangumban Jae

jatuh pada bulan September sampai dengan bulan Desember. Untuk musim kemarau

jatuh pada bulan April sampai dengan bulan Agustus.

Penggunaan tanah di Desa Simangumban Jae berdasarkan pemanfaatannya

adalah 736 hektar sawah, 546 hektar ladang, 18 hektar pemukiman. Kondisi lahan di

Desa Simangumban Jae sangat cocok untuk pertanian. Sebelum tahun 1969,

penduduk sudah bertani seperti kemenyan, padi, dan ubi. Padi dan ubi menjadi

tanaman penopang kebutuhan masyarakat, ubi merupakan makanan penting selain

nasi.

Pola perkampungan penduduk umumnya mengelompok, rumah-rumah

penduduk berdekatan satu sama lain. Rumah tersebut terbuat dari bahan seperti papan

dan batu. Di Desa Simangumban Jae ini, umumnya rumah penduduk berlantai papan,

walaupun terdapat beberapa yang berlantai semen. Atap rumah penduduk terbuat dari

seng dan ijuk. Penduduk yang rumahnya semi permanen merupakan penduduk yang

bermata pencaharian sebagai PNS dan pet

Gambar

Tabel 3.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2 Daftar Harga Hasil Bumi di Kabupaten Tapanuli Utara 1969-1971 (dalam Rp)
Tabel 5.1
+3

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum skripsi ini bertujuan untuk mengungkapkan latar belakang proses pertanian jeruk yang dimulai oleh Norsan Barus pada tahun 1980 di Desa Tangkidik Kecamatan

Dari keseluruhan, titik pusat tulisan ini adalah bagaimana situasi dan upaya petani di Desa Rumah Sumbul untuk dapat memenuhi taraf kehidupan ekonomi dengan cara mengkonversi

Rumah Sumbul terdiri dari simantek kuta (pendiri kampung), ginemgem (masyarakat , posisi desa yang berdekatan dengan.. sumber mata air dijadikan pemukiman tetap yang diberi nama

Karet Menjadi Kelapa Sawit di Kabupaten Asahan”, dalam Tesis S2,

Pemanenan Kelapa Sawit Membutuhkan Waktu Lebih Sedikit Sehingga Lebih Menguntungkan Daripada Karet. Sumber: Koleksi Pribadi, Desa Rumah Sumbul, 12

Ahirnya masyarakat Desa Sibulan-bulan bisa merasakan keberhasilan dari suatu kerja keras mereka dalam melakukan usaha bertani padi di desa mereka dan masyarakat

Kehidupan Masyarakat Desa Sibulan-bulan: Dari Karet Rakyat Ke Pertanian (1980 – 2000) ” Adapun judul inibertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi

Pertanian organik merupakan praktik bertani secara alami tanpa pupuk kimia (anorganik) dan pestisida. Pelaksanaan pertanian organik yang ada di Desa Jayapura ini, di