• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Model

Pemahaman sains dan seni dalam pemodelan ekonometrik atau analisis regresi sebenarnya sangat penting dalam bidang ekonomi. Menurut Koutsoyianis (dalam Juanda, 2009) tujuan dari teori ekonomi adalah untuk membuat model- model yang menggambarkan perilaku ekonomi dari unit-unit individu (konsumen, perusahaan, pemerintah) beserta interaksinya. Pernyataan ini serupa dengan Robert Lucas yang menyatakan bahwa; yang membuat ilmu ekonomi maju adalah kekuatan abstarksi atau imajinasi dalam melihat suatu permasalahan, yang kemudian diformulasikan menjadi model kuantitatif dalam bentuk robot-robot imajinasi yang hidup berkeliaran dalam persamaan matematika.

Model dapat diartikan sebagai suatu perwakilan atau abstraksi dari sebuah situasi aktual. Model dapat memperlihatkan hubungan-hungungan langsung maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam terminologi sebab-akibat. Oleh sebab itu, model merupakan abstraksi realitas yang wujudnya kurang kompleks dibandingkan dengan realitas itu sendiri. Model dapat dikatakan lengkap apabila dapat mewakili berbagai aspek penting dari realitas yang dikaji (Eriyatno, 1989).

Berdasarkan kerangka pemikiran dan tinjauan pustaka yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka berikut ini dirumskan suatu model ekonometrika yang diharapkan dapat menangkap permasalahan dan tujuan penelitian. Peubah-peubah hipotesis yang akan dimasukan kedalam model, serta kaitan dan kedudukan peubah-peubah tersebut dalam model dapat dilihat pada Gambar 5.

Keterangan: = Peubah Endogen = Peubah Eksogen Perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri Perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor Jasa dan

lainnya

Rasio upah riil antara sektor pertanian dengan sektor Jasa

dan lainnya Rasio PDRB antara

sektor pertanian dengan sektor Jasa

dan lainnya Rasio investasi antara

sektor pertanian dengan sektor Jasa

dan lainnya

Lahan Teknologi produksi

pertanian Rasio upah riil antara

sektor pertanian dengan sektor industri

Rasio PDRB antara sektor pertanian

dengan sektor industri Rasio investasi antara

sektor pertanian dengan sektor industri

Perumusan Model

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model kesempatan kerja dan perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa dan lainnya dan perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri. Selanjutnya spesifikasi model ekonometrika pada masing- masing persamaan adalah sebagai berikut:

Kesempatan Kerja Sektor Pertanian

KKPt = y0 + y1UPt + y2PDRBt + y3LATPt + y4TRAKt + y5PTPt + y6LPNt + y7LPBSt + y8LUPBt + y9INVPt + y10KKPt-1 + e1………...…. 3 Keterangan:

KKPt = kesempatan kerja sektor pertanian tahun ke-t (orang) UPt = Rata-rata upah pekerja sektor pertanian tahun ke-t (Rp) PDRBt = Produk domestik regional bruto sektor pertanian tahun ke-t

(juta Rp)

LATPt = Luas areal tanaman pangan tahun ke-t (ha) TRAKt = Jumlah traktor tahun ke-t (unit)

PTPt = Populasi ternak potong tahun ke-t (ribu ekor) LPNt = Luas areal perkebunan negara tahun ke-t (ha) LPBSt = Luas areal perkebunan besar swasta tahun ke-t (ha) LUPBt = Luas areal perikanan budi daya tahun ke-t (ha) INVPt = Investasi disekor pertanian tahun ke-t (juta Rp)

KKPt-1 = Kesempatan kerja sektor pertanian tahun sebelumnya (orang)

Parameter dugaan yang diharapkan: y1, y4 < 0 ; y2, y3, y5, y6, y7, y8, y9, y10 > 0

Kesempatan Kerja Sub Sektor Tanaman Pangan

KKTPt = a0 + a1UTPt + a2LATPt + a3PPADt + a4PPALt + a5PHORt + a6PDRBt + a7INPGt + a8KKTPt-1 + e2……...……….…… 4 Keterangan:

KKTPt = Kesempatan kerja sub sektor tanaman pangan tahun ke-t (orang) UTPt = Upah tenaga kerja sub sektor tanaman pangan tahun ke-t (Rp) LATPt = Luas areal tanaman pangan tahun ke-t (ha)

PPADt = Produksi padi tahun ke-t (ton) PPALt = Produksi palawija tahun ke-t (ton) PHORt = Produksi hortikultura tahun ke-t (ton)

tahun ke-t (juta Rp)

INPGt = Investasi di sub sekor tanaman pangan tahun ke-t (juta Rp) KKTPt-1 = Kesempatan kerja sub sektor tanaman pangan tahun sebelumnya

(orang)

Parameter dugaan yang diharapkan: a1 < 0 ; a2, a3, a4, a5, a6, a7, a8 > 0

Kesempatan Kerja Sub Sektor Peternakan

KKPTt = b0 + b1UPTt + b2PTPt + b3UTNt + b4 PDRBt + b5INPTt +

b6KKPTt-1 + e3……….……… 5

Keterangan:

KKPTt = kesempatan kerja sub sektor peternakan tahun ke-t (orang) UPTt = Upah tenaga kerja sub sektor peternakan tahun ke-t (Rp) PTPt = Populasi sapi potong (ribu ekor)

UTNt = Jumlah usaha peternakan tahun ke-t (ribu ekor)

PDRBt = Produk domestik regional bruto sub sektor peternakan tahun ke-t (juta Rp)

INPTt = Investasi di sub sekor peternakan tahun ke-t (juta Rp) KKPTt-1 = Kesempatan kerja sub sektor peternakan tahun sebelumnya

(orang)

Parameter dugaan yang diharapkan: b1 < 0 ; b2, b3, b4, b5, b6 > 0

Kesempatan Kerja Sub Sektor Perikanan

KKPIt = c0 + c1UPIt + c2LUPBt + c3PPIt + c4 PDRBt + c5INPIt + c6KKPIt-1 + e4………..……….……….… 6 Keterangan:

KKPIt = kesempatan kerja sub sektor perikanan tahun ke-t (orang) UPIt = Upah tenaga kerja sub sektor perikanan tahun ke-t (Rp) LUPBt = Luas usaha perikanan budi daya tahun ke-t (ha)

PPIt = Produksi perikanan tahun ke-t (ton)

PDRBt = Produk domestik regional bruto sub sektor perikanan tahun ke-t (juta Rp)

INPIt = Investasi sub sekor perikanan tahun ke-t (juta Rp)

KKPIt-1 = Kesempatan kerja sub sektor perikanan tahun sebelumnya (orang)

Kesempatan Kerja Sub Sektor Perkebunan

KKPKt = d0 + d1UPKt + d2LPRt + d3LPNt + d4LPBSt + d5PDRBt + d6INPBt + d7KKPKt-1 + e5……….………..….… 7 Keterangan:

KKPKt = kesempatan kerja sub sektor perkebunan tahun ke-t (orang) UPKt = Upah tenaga kerja sub sektor perkebunan tahun ke-t (Rp) LPRt = Luas areal perkebunan rakyat tahun ke-t (ha)

LPNt = Luas areal perkebunan negara tahun ke-t (ha) LPBSt = Luas areal perkebunan besar swasta tahun ke-t (ha)

PDRBt = Produk domestik regional bruto sub sektor perkebunan tahun ke-t (juta Rp)

INPKt = Investasi sub sekor perkebunan tahun ke-t (juta Rp)

KKPKt-1 = Kesempatan kerja sub sektor perkebunan tahun sebelumnya (orang)

Parameter dugaan yang diharapkan: d1 < 0 ; d2, d3, d4, d5, d6, d7 > 0

Kesempatan Kerja Sektor Kehutanan

KKHt = f0 + f1UPHt + f2AKHPHt + f3PKYt + f4PDRBt + d5KKHt-1

+ e6 ……….…8

Keterangan:

KKHt = Kesempatan kerja sektor kehutanan tahun ke-t (orang) UPHt = Upah tenaga kerja sektor kehutanan tahun ke-t (Rp) AKHPHt = Areal kerja HPH tahun ke-t (ha)

PKYt = Produksi kayu tahun ke-t (m3)

PDRBt = Produk domestik regional bruto sektor kehutanan tahun ke-t (juta Rp)

KKHt-1 = Kesempatan kerja sektor kehutanan tahun sebelumnya (orang)

Parameter dugaan yang diharapkan: f1 < 0 ; f2, f3, f4, f5 > 0

Model Perubahan Struktural Tenaga Kerja

Perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa dan lainnya diduga dipengaruhi oleh faktor-faktor luas lahan pertanian, populasi ternak, teknologi pertanian, rasio tingkat upah pertanian dengan Jasa dan lainnya,

rasio pertumbuhan sektor pertanian dengan sektor Jasa dan lainnya, dan rasio investasi sektor pertanian dengan sektor jasa dan lainnya tahun sebelumnya.

Perubahan Struktural Tenaga Kerja dari Sektor Pertanian ke Sektor Jasa dan Lainnya

PSIt = h0 + h1 UPt + h2 UNPt + h3TRAKt + h4PTERt + h5LPPADt + h6LPPALt + h7RPDRBIt + h8 PSIt-1 + e7 …………... 9 Keterangan:

PSIt = Perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian kesektor jasa dan lainnya tahun ke-t

UPt = Rata-rata upah/gaji bersih tenaga kerja sektor pertanian selama satu bulan tahun ke-t (Rp)

UNPt = Rata-rata upah/gaji bersih tenaga kerja sektor jasa dan lainnya selama satu bulan tahun ke-t (Rp)

TRAKt = Jumlah traktor tahun ke-t (unit) PTERt = Populasi ternak tahun ke-t (ribu ekor) LPPADt = Luas panen padi tahun ke-t (ha) LPPALt = Luas panen palawija tahun ke-t (ha) LPHORt = Luas panen Hortikultura tahun ke-t (ha)

RPDRBIt = Rasio PDRB anata sektor pertanian dengan sektor jasa dan lainnya tahun ke-t

PSIt-1 = Perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa dan lainnya tahun sebelumnya

Parameter dugaan yang diharapkan: h1, h3 < 0 ; h2, h4, h5, h6, h7, h8 > 0

Perubahan Struktural Tenaga Kerja dari Sektor Pertanian ke Sektor Industri

PS2t = j0 + j1 RU2t + j2LPPADt + j3LPPALt + j4LPHORt + j5TRAKt + j6RPDRB2t + e8 …………...10 Keterangan:

PS2t = Perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian kesektor industri tahun ke-t

RU2t = Rasio rata-rata upah riil tenaga kerja antara sektor pertanian dengan sektor industri tahun ke-t

LPPADt = Luas panen padi tahun ke-t (ha) LPPALt = Luas panen palawija tahun ke-t (ha) LPHORt = Luas panen hortikultura tahun ke-t (ha)

TRAKt = Jumlah traktor tahun ke-t (unit)

RPDRB2t = Rasio PDRB antara sektor pertanian dengan sektor industri tahun ke-t

Parameter dugaan yang diharapkan: j1, j5 < 0 ; j2, j3, j4, j6 > 0

Prosedur Analisis

Sesuai dengan permasalahan utama penelitian, maka analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dibagi kedalam dua bagian. Pertama: analisis data deskriptif dilakukan dengan tabulasi untuk memberikan gambaran mengenai objek penelitian pada permasalahan yang menyangkut evaluasi kedalam ekonomi, penduduk, angkatan kerja, dan kesempatan kerja. Kedua: analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesempatan kerja sektor pertanian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa dan lainnya, dan dari sektor pertanian kesektor industri, dengan menggunakan model analisis regresi berganda. Parameter pada semua persamaan diduga dengan mengunakan metode Ordinary Least Square (OLS).

Pengujian Hipotesis

Penelitian ini menggunakan persamaan regresi linear sebagai model dan alat analisis. Persamaan regresi linear merupakan model statistika, di mana model tersebut akan diuji berdasarkan hipotesis-hipotesis yang diajukan. Pengujian hipotesis secara statistik bertujuan untuk melihat nyata atau tidaknya pengaruh bebas yang dipilih terhadap peubah terikat yang ideal. Untuk pengajuan model, digunakan analisa ragam bagi model dengan hipotesis sebagai berikut:

H0 : a1 = a2 = a3= … = ak = 0

H1 : paling sedikit ada satu nilai ai yang tidak sama dengan nol.

Untuk menguji kontribusi peubah-peubah bebas terhadap peubah terikat pada suatu model, digunakan uji F hitung.

Jika, F hit > F tabel (k-1;n-k)  tolak H0 F hit < F tabel (k-1;n-k)  terima H0

Di mana: n = jumlah observasi; k = jumlah parameter

Jika H0 diterima, maka model dugaan tidak dapat meramalkan hubungan antara peubah bebas dengan peubah terikatnya. Sebaliknya, apabila H0 ditolak

maka model dugaan dapat digunakan untuk meramalkan hubungan antara peubah bebas dengan peubah terikatnya pada tingkat kepercayaan tertentu.

Pengujian parameter regresi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh peubah bebas yang dipilih terhadap peubah terikat. Pengujian terhadap parameter regresi tersebut dilakukan dengan Uji t.

Pengajuan hipotesisnya adalah: H0 : ai = 0

HI : ai ≠ 0 Di mana:

i = 1,2,3,…k

Uji statistiknya adalah: t hitung di mana:

Sai = Standar error parameter ai

Jika , t hit > t tabel, (α/2 ; n-k)  tolak H0 t hit > t tabel, (α/2 ; n-k)  terima H0

Bila H0 ditolak maka berarti peubah yang dipilih berpengaruh nyata terhadap peubah terikat, begitu pula sebaliknya. Bila H0 diterima maka berarti peubah yang dipilih tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah terikatnya. Untuk menguji apakah terdapat serial korelasi dalam model, digunakan nilai Durbin-watson Stastistik (D.W). walaupun dalam penelitian ini terdapat beberapa model yang mengandung peubah terikat beda kala sebagai peubah yang menjelaskan sehingga uji autokolerasi dengan menggunakan nilai D.W tidak valid, namun secara sistematik pengujian ini tetap merupakan kekuatan dalam mengevaluasi dugaan persamaan yang ada.

Untuk melihat derajat kepekaan suatu fungsi terhadap perubahan yang terjadi terhadap peubah yang mempengaruhinya, hal ini dapat dilihat dari nilai elastisitasnya. Nilai elastisitas diperoleh dari perhitungan sebagai berikut:

ε

(YXi) = ai * Xi Y di mana:

ε

= Elastisitas Y terhadap X1, X2,…Xk

ai = Parameter regresi

Xi = Rata-rata peubah dugaan Xi Y = Rata-rata peubah Y

Asumsi-asumsi

Analisis perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa dan lainnya dan dari sektor pertanian ke sektor industri menggunakan beberapa asumsi dari peubah-peubah dalam model analisis yang digunakan, yaitu:

1. Kesempata kerja dicerminkan oleh jumlah penduduk yang bekerja dengan asumsi perekonomian berada dalam kondisi full employment.

2. Pada beberapa model output atau produksi diwakili oleh peubah luas lahan atau populasi.

3. Pertumbuhan sektor atau sub sektor ditunjukkan oleh produk domestik regional bruto yang dihasilkan sektor atau sub sektor tersebut.

4. Investasi ditunjukkan oleh pengeluaran pemerintah untuk pembiayaan pembangunan sektor atau sub sektor tersebut.

Definisi Operasional

Konsep dan pengukuran yang digunakan dalam menganalisis kesempatan kerja sektor pertanian dan pergeseran kesempatan kerja dari sektor pertanian ke sektor jasa dan lainnya adalah sebagai berikut:

1. Kesempatan kerja sektor pertanian maupun sub sektor pertanian adalah jumlah penduduk yang bekerja disektor pertanian maupun sub sektor pertanian.

2. Bekerja disektor pertanian adalah bekerja dalam proses kegiatan usaha tani baik sebagai petani pemilik, petani penggarap, maupun buruh tani. 3. Perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian kesektor jasa

dan lainnya ditunjukkan dengan rasio tenaga kerja antara sektor pertanian dengan tenaga kerja sektor jasa dan lainnya yang semakin kecil. Hal serupa juga terjadi pada perubahan struktural tenaga kerja dari sektor pertanian kesektor industri.

4. Upah atau gaji bersih adalah penerimaan tenaga kerja berupa uang atau barang yang dinilai berdasarkan harga setempat dalam satuan rupiah. 5. Pertumbuhan setiap sektor maupun sub sektor ditunjukkan dengan

besarnya PDRB yang dihitung atas dasar harga berlaku yang dihasilkan setiap sub sektor dalam satu tahun secara riil dengan menggunakan satuan rupiah.

6. Investasi ditunjukkan oleh pengeluaran yang dilakukan pemerintah untuk pembiayaan pembangunan sektor maupun sub sektor yang diukur dari APBD dalam rupiah.

7. Produksi padi adalah total produksi padi sawah dan padi ladang, dinyatakan dalam ton. Produksi palawija adalah total produksi jagung, ubi kayu/ketela pohon, ubi jalar, kacang tanah dan kacang hijau,

dinyatakan dalam ton. Produksi hortikultura adalah total produksi sayuran dan buah-buahan dinyatakan dalam ton. Produksi peternakan meliputi produksi daging, susu, dan telur, dinyatakan dalam ton. Produksi perikanan meliputi produksi perikanan darat dan laut, dinyatakan dalam ton. Produksi perkebunan besar swasta teridiri atas komoditi kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, lada, cengkeh, pala dan kakao. Produksi kayu mencakup produksi kayu bulat, kayu gergajian, dan kayu lapis dinyatakan dalam meter kubik.

8. Luas lahan tanaman pangan adalah luas lahan sawah dan lahan kering yang digunakan untuk budi daya tanaman pangan (hektar). Luas budi daya perikanan adalah luas bersih permukaan air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan (hektar). Luas areal perkebunan adalah luas tanaman dari komoditi perkebunan (satuan hektar).

9. Teknologi di sub sektor tanaman pangan diwakili oleh jumlah traktor (unit). Selain itu, penggunaan pestisida pada tanaman padi dalam satu tahun (ton).

10.Populasi ternak terdiri atas populasi sapi perah, populasi ternak potong yang terdiri atas sapi potong, kerbau, kambing, domba, ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, itik.

11.Perusahaan peternakan adalah usaha peternakan yang melakukan kegiatan pemeliharaan ternak atau unggas dan usaha pemotongan ternak (unit)

12.Sektor pertanian dalam pengertian yang luas. Yaitu, sektor pertanian itu sendiri, peternakan, perkebunan, dan perikanan.

13.Sub sektor tanaman pangan mencakup semua jenis tanaman yang dihasilkan dan digunakan sebagai bahan makanan.

14.Sub sektor perkebunan mencakup segala jenis tanaman perkebunan baik diusahakan oleh rakyat maupun oleh perusahaan perkebunan besar, termasuk juga produksi pengelolaan sederhana yang pada umumnya kegiatan produksi menjadi satu dengan kegiatan budi daya. 15.Sub sektor peternakan mencakup kegiatan pemeliharaan ternak besar,

ternak kecil dan unggas yang bersifat komersial.

16.Sub sektor perikanan mencakup kegiatan penangkapan, pengambilan, dan pemeliharaan atau pembiakan segala jenis hewan dan tumbuhan air (tawar maupun asin), juga dimasukan kegiatan pengolahan sederhana hewan air dan hasil lainnya seperti pengeringan dan penggaraman ikan.

17.Jumlah hak pengusahaan hutan (HPH) adalah jumlah perusahaan pemegang HPH (unit)

18.Sektor kehutanan mencakup kegiatan yang dilakukan diareal hutan oleh perorangan atau badan usaha, yang mencakup usaha penanaman, pemeliharaan, penanaman kembali, dan penebangan hutan.

19.Sektor jasa dan lainnya meliputi sektor-sektor pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik, gas dan air, bangunan, perdagangan, angkutan, komunikasi, keuangan, asuransi, usaha persewaan, tanah, jasa kemasyarakatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

20.Sektor industri merupakan sektor industri pengolahan, yang mencakup industri rumah tangga, industri kecil, industri sedang, dan industri besar.

21.Rasio tingkat upah adalah perbandingan antara upah riil disektor pertanian dengan upah riil disektor jasa dan lainnya maupun sektor industri.

22.Rasio pertumbuhan sektor pertanian dengan sektor jasa dan lainnya adalah perbandingan antara PDRB riil yang dihasilkan oleh sektor pertanian dengan PDRB riil yang dihasilkan oleh sektor jasa dan lainnya.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder deret waktu (time series) periode 1990 – 2012 (data tahunan) untuk menganalisis kesempatan kerja sektor pertanian dan sektor non pertanian maupun sektor industri. Data yang digunakan bersumber dari BPS, Dinas Kehutanan, Dinas Peternakan, Dinas Tenaga Kerja, Kanwil Depnaker, Kanwil Deperindag, Kantor BKPM daerah TK.1, Kanwil Deptrans dan PPH, Bappeda Provinsi Lampung dan Instansi-instansi lainnya serta publikasi atau bahan bacaan lainnya yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.

Dokumen terkait