• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG (Halaman 47-146)

METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan desain studi kasus yang di jabarkan secara deskriptif. Metode penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang keadaan secara objektif. Penelitian ini di arahkan unutk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan kasus Bronchopneumonia di Ruang High Care Unit (HCU) Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Pada tahun 2017.

B. Tempat dan Waktu Peenelitian

Waktu penelitian dimulai dari bulan Januari sampai dengan Juni 2017. Penelitian dilakukan di Ruang High Care Unit (HCU) Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Tahun 2017. Pengambilan data pada Partisipan I dan II dilakukan pada 27-31 Mei 2017.

C. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti (Hidayat, 2012). Bukan hanya subjek atau objek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek tersebut. Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah semua pasien anak yang mengalami Bronchopneumonia di Ruang HCU Anak RSUP. Dr. M.Djamil Padang.

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian keperawatan, kriteria sampel meliputi kriteria ekslusi, dimana kriteria itu menentukan dapat dan tidaknya smapel tersebut digunakan. Pada penelitian ini sampel diambil sebanyak 2 orang anak secara purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan berdasarkan pada tujuan dari peneliti dengan kriteria sebagai berikut :

a) Pasien dan orang tua bersedia menjadi responden 2. Kriteria ekslusi

a) Pasien pulang dalam hari rawatan kurang dari lima hari

b) Pasien bronchopneumonia yang mengalami perubahan kondisi (penurunan kesadaran)

D. Istrumen Pengumpulan Data

Alat dan instrumen yang dibutuhkan dalam penelitian adalah format asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi), alat perlindungan diri (Handscoon dan masker), alat pemeriksaan fisik (Tensi meter, Termometer, stetoskop, timbangan, arloji dengan detik dan penlight).

1. Format pengkajian keperawatan terdiri dari: identitas pasien, identifikasi penanggung jawab, riwayat kesehatan, kebutuhan dasar, pemeriksaan fisik, data psikologis, data ekonomi sosial, data spritual, lingkungan tempat tinggal, pemeriksaan laboratorium dan program pengobatan. 2. Format analisa data terdiri: nama pasien, nomor rekam medik, data,

masalh dan etiologi.

3. Format diagnosa keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, diagnosa keperawatan, tanggal dan paraf ditemukannya masalah, serta tanggal dan paraf dipecahkan masalah.

4. Format intervensi asuhan keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, diagnosa keperawatan, intervensi NOC dan NIC.

5. Format implementasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, implementasi keperawatan, dan paraf yang dilakukan implementasi keperawatan. 6. Format evaluasi keperawatan terdiri dari : nama pasien, nomor rekam

medik, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, evaluasi keperawatan, dan paraf yang melakukan tindakan evaluasi keperawatan.

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik wawancara

Wawancara pada penelitian kualitatif merupakan pembicaran yang mempunyai tujuan dan didahului beberapa pertanyaan informan. Peneliti melakukan wawancara mengeksplorasi perasaan, persepsi, dan pemikiran partisipan.

Pada penelitian ini dilakukan wawancara kepada pasien dan keluarga. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan untuk mendapatkan data tentang identitas pasien, riwayat kesehatan pasien (sekarang, dahulu dan riwayat kesehatan keluarga) dan aktifitas sehari-hari pasien (Sugiyono, 2014).

2. Observasi

Observasi yang dilakukan peneliti terlibat berkaitan dengan keadaan fisik pasien serta kegiatan sehari – hari pasien seperti pola makan, pola

aktifitas, dan lain-lain (Sugiyono, 2014).

Pada penelitian ini observasi dilakukan untuk pemeriksaan fisik pasien yang dilakukan secara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi melalui tingkat kesadaran dan memonitor bagaimana perubahan kesehatan dari pasien dan memonitor intake output / cairan yang keluar berlebihan, suhu, dan frekuensi pernfasan.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan perjalan penyakit pasien yang sudah berlalu yang disusun berdasarkan perkembangan kondisi pasien. Dokumentasi keperawatan berbentuk catatan perkembangan, hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan pasien.

Dalam penelitian ini menggunakan dokumen dari rumah sakit untuk menunjang penelitian yang akan dilakukan untuk mendapatkan hasil pemeriksaan darah lengkap seperti (Hb, trombosit, leukosit, eritrosit, dan Ht), pemeriksaan elektrolit, hasil pemeriksaan kultur darah, sputum dan pemeriksaan rontgen thorak.

F. Jenis-Jenis Data a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari pasien seperti pengkajian kepada pasien meliputi: Identitas pasien, riwayat kesehatan pasien, pola aktifitas sehari-hari dirumah, dan pemeriksaan fisik terhadap pasien.

b. Data Sekunder

Pada penelitian ini, data sekunder langsung didapatkan dari keluarga, rekam medis dan Ruang High Care Unit (HCU) Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang

G. Analisis

Analisis terhadap proses keperawatan yang dilakukan peneliti meliputi pengkajian keperawatan, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan yang dibandingkan dengan teori. Pada penelitan yang akan dilakukan setelah didapatkan data tentang pasien melelalui pengkajian keperawatan, data akan dikelompokkan dalam bentuk data subjektif dan objektif. Kemudian baru dirumuskan diagnosa keperawatan, disusun rencana keperawatan, melakukan implementasi dan evaluasi keperawatan berdasarkan NOC-NIC. Asuhan keperawatan dibuat dengan cara mendeskripsikan kasus dan selanjutnya dibandingkan antara kasus 1 dan 2. Kemudian kesenjangan-kesenjangan yang ditemukan dibandingkan dengan teori yang telah ada sebelumnya.

BAB IV

DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN A. Deskrispi Kasus

An. G (partisipan 1) berumur 7 bulan An.G datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 25 Mei 2017 pukul 21.50 WIB rujukan dari RS Ibnu Sina Padang. Pasien datang dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berdahak sejak 1 minggu, demam sejak 3 hari dan anak membiru sejak 3 bulan yang lalu, tidak nafsu makan.. Pasien datang dengan tanda-tanda vital yaitu, HR: 132 x/i, RR: 52 x/i, dan suhu: 37 0C. Pasien di diagnosa dengan penyakit PJB dengan bronkopneumonia.

An. F (partisipan 2) berumur 2 tahun datang ke RSUP Dr. M. Djmail Padang pada tanggal 26 Mei 2017 pukul 15. 30 WIB rujukan dari RSUD Rasyidin padang. Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 4 jam sebelum masuk Rumah Sakit , muntah-muntah sejak 4 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit frekuensi 2x jumlah 3-4 sendok makan. Demam sejak 1 hari yang lalu,batuk-batuk sejak 8 hari yang lalu dan nafsu makan menurun. Pasien datang dalam kondisi tanda-tanda vital yaitu, HR : 132x/i, RR : 46x/i, dan suhu : C. Pasien di diagnosa dengan penyakit bronkopneumonia.

PARTISIPAN 1 PARTISIPAN 2 1. Hasil Pengkajian

An. G (partisipan 1) berumur 7 bulan An.G datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 25 Mei 2017 pukul 21.50 WIB rujukan dari RS Ibnu Sina Padang. Pasien datang dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berdahak sejak 1 minggu, demam sejak 3 hari dan anak membiru sejak 3 bulan yang lalu, tidak nafsu makan.. Pasien datang dengan tanda-tanda vital yaitu, HR: 132 x/i, RR: 52 x/i, dan suhu: 37 0C. Pasien di diagnosa dengan penyakit PJB dengan bronkopneumonia.

An. F (partisipan 2) berumur 2 tahun datang ke RSUP Dr. M. Djmail Padang pada tanggal 26 Mei 2017 pukul 15. 30 WIB rujukan dari RSUD Rasyidin padang. Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 4 jam sebelum masuk Rumah Sakit , muntah-muntah sejak 4 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit frekuensi 2x jumlah 3-4 sendok makan. Demam sejak 1 hari yang lalu,batuk-batuk sejak 8 hari yang lalu dan nafsu makan menurun. Pasien datang dalam kondisi tanda-tanda vital yaitu, HR : 132x/i, RR : 46x/i, dan suhu : C. Pasien di diagnosa dengan PJB dan Bronkopneumonia.

Pengkajian riwayat penyakit sekarang pada tanggal 27 Mei 2017 pukul 09.00 WIB, Ny. T mengatakan napas Anak tampak sesak, napas sesak akan bertambah jika An.G menangis, ibu mengatakan An.G tampak membiru, dan badan teraba panas.

Pengkajian riwayat kesehatan sekarang pada tanggal 27 Mei 2017 Pukul 10.30 WIB, Ny.N mengatakan nafas Anak sesak, batuk-batuk berdahak, nafsu makan menurun, badan teraba panas.

Pada pengkajian riwayat kehamilan dan kelahiran prenatal gestasi G1 P1 A0 H1, pemeriksaan kehamilan ke bidan 2x dalam sebulan, tidak ada imunisasi saat hamil, obat2 yang digunakan vitamin dan tablet Fe. Riwayat Intranatal Tanggal persalinan 06 November 2016, BBL/PBL 2,7 kg/49 cm, usia gestasi saat lahir 9 bulan, tempat persalinan

Pada pengkajian riwayat kehamilan dan kelahiran prenatal gestasi G1 P1 A0 H1, HPHT 3 Juni 2014, pemeriksaan kehamilan 2x sebulan ke bidan, imunisasi TT 2x, masalah waktu kehamilan pada umur kandungan 2 bulan ibu muntah-muntah,tidak nafsu makan,badan terasa lemah, dan pada saat umur kehamilan 9 bulan ibu menderita

di RSUP Dr M Djamil padang, penolong persalinan Dr.spesialis kandungan, jenis persalinan cesar. Riwayat Post natal (24 jam) Tidak ada IMD, tidak ada kelainan kongenital. Penyakit yang pernah diderita Ny.T mengatakan An.G telah memiliki kelainan penyakit jantung bawaan sejak lahir namun belum pernah dioperasi dan dirawat selama 1 minggu lalu dipulangkan karena tidak cukup biaya.

vertigo. Riwayat intranatal Tanggal persalinan 28 Mei 2015, BBL/PBL 3 kg/47cm, usia gestasi saat lahir 9 bulan 2 minggu, tempat persalinan RS Bayangkyara, penolong persalinan Dr. Spesialis Kandungan, jenis persalinan sesar. Riwayat post Natal (24 Jam) Awal lahir bayi hanya diam dan setelah 5 menit baru menangis, inisiasi menyusui dini (IMD) tidak ada, kelainan kongenital alat kelamin, platum cembung. Penyakit yang pernah diderita anak pernah menderita penyakit epilepsi, cerebral palcy, small PDA, dan Bronkopneumonia. Ny.N mengatakan An.F sudah 7 kali dirawat di rumah sakit dengan diagnosa yang sama. Sebelumnya pasien dirawat 7 bulan terakhir di rumah sakit Rasidyn selama 1 minggu lalu pulang dengan melanjutkan terapi antibiotik dirumah.

Pada pengkajian riwayat kesehatan keluarga, Ny.T mengatakan tidak ada anggota keluarga ysng lain yang menderita penyakit yang sama dengan An.G. riwayat imunisasi An.G hanya mendapat imunisasi HB 0 saat lahir. Perkembangan An.G saat ini bisa miring kiri dan kanan serta berguling. Ny.T mengatakan ventilasi rumah kurang dan sempit dan sering tertutup.

Pada pengkajian riwayat kesehatan keluarga, Ny.N mengatakan tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama dengan An.F. riwayat imunisasi An.F hanya mendapat imunisasi HB 0 saat lahir. Pada usia 6 bulan miring kiri miring kanan, dan sampai saat usia saat ini An.F hanya bisa seperti itu. Ny.N mengatakann vetilasi rumah kurang, halaman perkarangan tidak dekat jalan, wc ada, sumber air minum air galon, tembat pembuangan sampah di depan rumah dan dibakar.

Data pemeriksaan fisik didapatkan sebagai berikut : Keadaan umum anak tampak gelisah kesadaran Compos Mentis dengan GCS 15, Tanda-tanda Vital HR : 124 x/i, RR : 38 x/i, T : C. Posture : BB : 7 kg, PB/TB : 59 cm. Pada pemeriksaan kepala normal. Mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, reflek pupil isokor, reflek kedip ada.. Hidung simetris, bersih, pernafasan cuping hidung tidak ada, sinosis tidak ada, terpasang oksigen binasal 3L/i. Mulut tampak bersih, mukosa bibir basah. Pada pemeriksaan telinga tidak terdapat infeksi, tidak ada luka. Pemeriksaan thorax didapatkan inspeksi tampak adanya retraksi dinding dada, dada tidak simetris saat bernafas, saat palapasi fremitus kiri dan kanan tidak sama , perkusi terdengar bunyi pekak/redup, auskultasi suara ronchi tidak ada, suara weezhing tidak ada. Pada pemeriksa jantung saat palpasi ictus cordis teraba, perkusi terdengar bunyi pekak, irama ireguler. Abdomen tidak ada distensi, tidak ada nyeri tekan, bising usus normal. Kulit akral teraba dingin, tidak ada udem, tidak ada lesi. Ekstremitas Atas akral teraba dingin, crt < 2 dtk,tidak ada lesi. Ekstremitas bawah akral teraba dingin, crt <2 dtk , tidak ada lesi. Gnetalia tidak ada kelainan.

Data pemeriksaan fisik didapatkan sebagai berikut : keadaan umum anak tampak gelisah dan lemah kesadaran Compos Mentis, dan GCS 15.Tanda-tanda Vital HR : 130 x/i, RR : 46 x/i, T : C. Posture : BB : 9 kg, PB/TB : 75 cm. Pada pemeriksaan kepala normal. Mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, reflek pupil isokor, reflek kedip ada.. Hidung simetris, bersih, pernafasan cuping hidung tidak ada, sinosis tidak ada , terpasang oksigen binasal 3L/i. Pada pemeriksaan mulut bibir agak pucat, mukosa bibir kering, platum menghadap ke atas klien susah makan. Pada pemeriksaan telinga tidak ditemukan adanya infeksi. Pemeriksaan thorax didapatkan inspeksi tampak adanya retraksi dinding dada, perkusi terdengar pekak/redup, auskultasi terdengar ronchi ada, weezhing ada. Pada pemeriksaan jantung palpasi ictus cordis teraba, saat auskultasi terdengar bunyi irama ireguler. Pemeriksaan abdomen tidak ada distensi, tidak ada nyeri tekan, bisisng usus normal. Kulit akral teraba hangat, tidak ada udem, tidak ada lesi. Ekstremitas atas akral hangat, crt < 2 dtk,tidak ada lesi. Ekstremitas bawah akral teraba hangat, crt <2 dtk , tidak ada lesi. Gnetalia ada kelainan.

Untuk kegiatan ADL An.G, Ny.T mengatakan memberikan ASI dan susu pendamping selama 2 bulan, dari 2 bulan sampai usia 6 bulan An.G hanya diberikan susu formula, dan dilanjutkan dengan jenis makanan promina dan nasi tim. Selama sakit An.G mendapat diit Susu Formula 8 x 60 cc/hari melalui NGT. Pola tidur siang An.G 1-2 jam kuantitas kurang nyenyak dikarenakan sesak saat bernapas, tidur malam sedikit frekuensi tidur lebih kurang 4-6 jam/hari dikarenakan anak sesak dan rewel. Frekuensi BAB dan BAK An.G sebanyak 120 gr/hari menggunakan pempers.

Untuk kegiatan ADL An.F, Ny. N mengatakan memberi ASI dan susu pendamping selama umur 6 bulan, setelah umur 6 bulan An. F diberikan makan promina dan nasi tim. An F makan 3x sehari dan minum sebanyak 6x sehari. An F sering tersedak saat makan nasi tim karena platum nya. Saat sakit anak dapat diit susu formula 8 x 80cc melalui NGT. Pola tidur siang An.F 3-4 jam dengan kualitas nyenyak, tidur malam sedikit frekuensi tidur lebih kurang 4-6 jam/hari dikarenakan anak sesekali sesak dan rewel. Frekuensi BAB dan BAK normal.

Pemeriksaan penunjang pada tanggal 27 Mei 2017 didapatkan Leukosit 21.200/ (6.000-18.000/ ), kalium 5,8 (3,5-5,1 mmol/L), glukosa sewaktu 72mg/dl (<200 mg/dl), hemoglobin 18 g/dl (9,6-15,6 g/dl), eritrosit 6,6 juta (4,5-5,5 juta), hematokrit 56% (40-48 %), eosinofil 0% (1-4%), AGD pH (7,28) (7,38-7,42), PCO2 55 mmHg (38-42 mmHg) , PO2 28 mmHg (75-100 mmHg), SO2 45% (94-(75-100 %).

Pemeriksaan radiologi didapatkan pembesaran medistinum superior (Thymus), jantung membesar CTR 60%, apeks membulat, hilus tampak menebal, corakan bronkovaskuler bertambah, tampak infiltrat di parakardial kanan , tampak gambaran opak nodular diperihiler kanan.

Pemeriksaan penunjang pada tanggal 26 Mei 2017 Leukosit 22.390 /

(6.000-18.000/ ), hematokrit 31% (40-48 %), eosinofil 0% (1-4%), Natrium 125 Mmol/L (136-145 mmol/L), klorida serum 72 Mmol/L (97-111 mmol/L), AGD pH 7.55 (7,38-7,42), pCO2 26 mmHg (38-42 mmHg), pO2 117 mmHg (75-100 mmHg).

pemeriksaan radiologi didapatkan trachea ditengah, jantung kesan tidak memebesar, aorta dan mediastinum superior tidak melebar, kedua hilius tidak menebal, tampak infiltrat di perihiler dan perikardial kedua paru, kedua diafragma licin kedua sinus costrofenicus lancip, tulang intak tak tampak destruksi.

Terapi medis yang didapatkan pada An.G IVFD KA-EN 1B 8tts/i, Ampicillin 4 x 125 mg iv, Gentamicin 2 x 12 mg iv.

Terapi medis yang didapatkan An.F IVFD KA-EN 1B 8 tts/i Ampicillin 4 x 150 g iv, Gentamicin 2 x 14 g iv, Luminal 2 x 15 g iv, Dexametason 3 x 1 g iv, tiroksin 1 x 25 mg, ambroxol 3 x 7,5 mg

2. Diagnosa Keperawatan

Stelah dilakukan pengkajian dari tanggal 27-31 Mei 2017, maka selanjutnya peneliti melakukan analisa data dan dapat dirumuskan diagnosa keperawatan sebagai berikut :

1) Ketidakefektifan pola nafas b/d dengan ventilasi adanya gangguan ventilasi dengan data subjektif Ny.T mengatakan An.G masih terlihat sesak dan sesak bertambah saat An.G menagis dan rewel. Data objektif napas pasien tampak sesak, terdapat retraksi dinding dada, frekuensi napas yaitu 38 x/i, bunyi napas bronkovaskuler dan terpasang oksigen nasal canul 2 liter/menit serta monitor pernapasan. Pemeriksaan radiologi ditemukan corakan bronkovaskuler bertambah, tampak infiltrat di parakardial kanan, tampak gambaran opak nodular di perihiler kanan.

3) Gangguan pertukaran gas b/d hiperventilasi dengan data subjektif Ny.T mengatakan bahwa anaknya masih terlihat sesak saat bernapas dan sesak bertambah apabila pasien rewel dan gelisah. Data objektif pasien terpasang

Stelah dilakukan pengkajian dari tanggal 27-31 Mei 2017, maka selanjutnya peneliti melakukan analisa data dan dapat dirumuskan diagnosa keperawatan sebagai berikut :

1) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas tidak efektif b/d penumpukan sekret di jalan nafas dengan data subjektif Ny.N mengatakan An.F masih batuk-batuk disertai dahak. Data objektif An.F tampak batuk-batuk, pasien tampak gelisah, pasien tampak rewel. terdapat retraksi dinding dada, frekuensi napas yaitu 46 x/i, bunyi napas bronkovaskuler dan terpasang oksigen nasal canul 2 liter/menit. Tampak bercak infiltrat di perihiler dan perikardial kedua paru.

2) Ketidakefektifan pola nafas b/d hiperventilasi dengan data Subjektif yang didapatkan yaitu Ny.N mengatakan An.F masih terlihat sesak dan gelisah. Data objektif yang didapatkan yaitu napas pasien tampak sesak, terdapat retraksi dinding dada, frekuensi napas yaitu 46 x/i,

oksigen dengan binasal 2 l/i, pasien tampak sesak napas, akral tampak membiru dan teraba dingin, hasil AGD yaitu, PH 7,28 (7,38-7,42), PCO2 55 mmHg (38-42 mmHg), PO2 28 mmHg (75-100 mmHg), SO2 45% (94-100%). Pada pemeriksaan radiologi

ditemukan corakan

bronkovaskuler bertambah, tampak infiltrat di parakardial kanan, tampak gambaran opak nodular di perihiler kanan.

3) Hipertermi b/d proses infeksi dengan data subjektif Ny.T mengatakan badan An.G teraba panas dan berkeringat. Data objektif kulit pasien tampak berkeringat, kulit teraba panas, warna kulit kemerahan, suhu , Leukosit

21.200/ (6.000-18.000/ ). Anak terpasang IVFD KA-EN 1B 2cc/jam

bunyi napas bronkovaskuler dan terpasang oksigen nasal canul 2 liter/menit. Tampak bercak infiltrat di perihiler dan perikardial kedua paru.

3) Gangguan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan perfusi ventilasi dengan data subjektif Ny.T mengatakan bahwa anaknya masih terlihat sesak. Data objektif pasien terpasang oksigen dengan binasal 2 l/i, pasien tampak sesak napas, hasil AGD yaitu, pH 7.55 (7,38-7,42), pCO2 26 mmHg (38-42 mmHg), pO2 117 mmHg (75-100 mmHg), SO2 99% (94-(75-100%). Pada pemeriksaan radiologi tampak infiltrat di perihiler dan parakardial kedua paru.

4) Hipertermi b/d proses infeksi dengan data subjektif Ny.N mengatakan badan An.F teraba panas dan berkeringat. Data objektif kulit teraba panas, warna kulit kemerahan, suhu , Leukosit

3. Intervensi Keperawatan

Berdasarkan masing-masing diagnosa yang telah peneliti rumuskan maka dibuat intervensi keperawatan sebagai berikut : rencana keperawatan untuk

diaggnosa pertama

ketidakefektifan pola nafas b/d hiperventilasi bertujuan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Intervensinya adalah 1) manajemen jalan nafas dengan aktifitas; Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi,

Gunakan teknik yang menyenangkan untuk memotivasi bernafas dalam kepada anak-anak, Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun atau tidak adanya suara nafas tambahan. 2) Terapi oksigen dengan aktifitas; Pertahankan kepatenan jalan nafas, Monitor aliran oksigen, Monitor efektifitas terapi oksigen, Amati tanda-tanda adanya hipoventilasi oksigen. 3) Monitor pernafasan dengan aktifitas; Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas, catat pergerakan dinding dada dan pengunaan otot bantu, Monitor suara nafas tambahan seperti ngorok, Monitor pola nafas, Palpasi kesimetrisan ekspansi paru, Auskultasi suara nafas tambahan.

Berdasarkan masing-masing diagnosa yang telah peneliti rumuskan maka dibuat intervensi keperawatan sebagai berikut Rencana keperawatan untuk diagnosa pertama ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d penumpukan sekret di jalan nafas bertujuan untuk kepatenan jalan nafas, frekuensi nafas normal, tidak ada nafas tambahan. Intervensinya adalah 1) Airway suction dengan aktifitas Pastikan kebutuhan oral suctioning, auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning, informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning, monitor status oksigen pasien, berikan oksigen dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suction nasotrakeal. 2) airway manajement dengan aktifitas buka jalan nafas, posisikan pasien umtuk memaksimalkan ventilasi, identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas, lakukan fisioterapi dada bila perlu, auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan, monitor status respirasi dan O2. 3) vital sign monitoring dengan aktifitas monitor TD, nadi, suhu, dan RR, monitor vital sign saat pasien berbaring, duduk atau berdiri, monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama dan setelah aktifitas, monitor kualitas nadi, monitor frekuensi dan irama pernafasan, monitor suara paru, monitor pola pernafasan abnormal, monitor suhu, dan kelembapan kulit, identifikasi

Rencana tindakan untuk diagnosa kedua, gangguan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan perfusi ventilasi bertujuan untuk memaksimalkan ventilasi, meningkatkan saturasi O2, mencegah sianosis intervensinya adalah 1) Monitor vital sign dengan aktifitas memonitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernafasan, memonitor denyut jantung, Memonitor suara paru-paru, Memonitor warna kulit, Menilai Cavilarevil. 2) monitor pernafasan dengan aktifitas Memonitor tingkat, irama, kedalaman, dan respirasi, Memonitor gerakan dada, Monitor bunyi pernafasan, Auskultasi bunyi paru, Memonitor dyspnea dan hal yang meningkatkan dan memperburuk kondisi. 3) terapi oksigen dengan aktifitas pertahankan kepatenan jalan nafas,

monitor aliran oksigen, Amati tanda-tanda hipoventilasi induksi oksigen.

Rencana keperawatan untuk diagnosa ketiga hipertermi berhubungan dengan proses infeksi bertujuan pernapasan normal, tidak terjadi perubahan warna kulit, mencegah terjadinya kejang dan Sakit kepala. Intervensi nya adalah; 1) Perawatan demam, dengan aktivitas; Pantau suhu dan tanda-tanda vital lainya, monitor warna kulit dan suhu, beri obat atau

penyebab dari perubahan vital sign.

Rencana keperawatan untuk diaggnosa kedua ketidakefektifan pola nafas b/d hiperventilasi bertujuan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Intervensinya adalah 1) manajemen jalan nafas dengan aktifitas; Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, Gunakan teknik yang menyenangkan untuk memotivasi bernafas dalam kepada anak-anak, Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun atau tidak adanya suara nafas tambahan. 2) Terapi oksigen dengan aktifitas; Pertahankan kepatenan jalan nafas, Monitor aliran oksigen, Monitor efektifitas terapi oksigen, Amati tanda-tanda adanya

Dalam dokumen POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG (Halaman 47-146)

Dokumen terkait