• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUANG HIGH CARE UNIT (HCU) ANAK

IRNA KEBIDANAN DAN ANAK DI RSUP Dr. M. DJAMIL

PADANG

Karya Tulis Ilmiah

AHMAD FAUZAN Nim: 143110160

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG

(2)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUANG HIGH CARE UNIT (HCU) ANAK

IRNA KEBIDANAN DAN ANAK DI RSUP Dr. M. DJAMIL

PADANG

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan ke Program Studi D III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang Sebagai Persyaratan Dalam

Karya Tulis Ilmiah

AHMAD FAUZAN Nim: 143110160

JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG

(3)

ii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ahamad Fauzan

NIM : 143110160

Tempat/tanggal lahir :Batang Lolo/ 26 Maret 1996

Agama : Islam

Status perkawinan : Belum Menikah

Orang tua : Ayah : H. Marzuki

Ibu : Ermawati

Alamat : Batang Lolo, Koto Parik Gadang Diateh, Solok - Selatan, Sumatra Barat

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Tahun

TK Mutiara 2001 - 2002

SD Negeri 01 Pakan Rabaa 2002 – 2008 SMP Negeri 04 Solok-Selatan 2008 - 2011 SMA Negeri 01 Solok-Selatan 2011 - 2014 Poltekkes Kemenkes Padang 2014 - 2017

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

viii

KEMENTRIAN KESEHATAN POLITEKNIK KESEHATAN PADANG JURUSAN KEPERAWATAN

Karya Tulis Ilmiah, Juni 2017 AHMAD FAUZAN

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Bronkopneumonia di Ruang HCU Anak IRNA Kebidanan dan Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017 xi + 65 halaman, 2 gambar, 4 tabel, 8 lampiran

ABSTRAK

Bronchopneumonia merupakan suatu penyakit infeksi akut yang menyebabkan kematian dari (15%) balita sebanyak 922.000 di tahun 2015. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan pada Anak dengan Bronkopneumonia di ruang HCU IRNA Kebidanan dan anak RSUP Dr.M.Damil Padang.

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Desain penelitian adalah studi kasus. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 27-31 Mei 2017 di Ruangan HCU Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang. Populasi adalah semua Anak yang menderita Bronkopneumonia dengan 2 sampel yang diambil secara purposive sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah format pengkajian sampai evaluasi keperawatan anak. Cara pengumpulan data dimulai dari wawancara, pengukuran, observasi dan studi dokumentasi. Analisis yang dilakukan pada semua temuan di tahapan proses keperawatan pada anak.

Hasil Penelitian didapatkan diagnosa Pada An.F ketidakefektifan jalan nafas dengan kriteria hasil (NOC) nafas tidak sesak sesak ditandai tidak adanya retraksi dinding dada, frekuensi nafas normal (30-40 x/i), batuk tidak ada. Pada diagnosa pola nafa tidak efektif pada An.G dan An.F dengan kriteria hasil (NOC) frekuensi nafas normal (30-50 x/i). Diagnosa gangguan pertukaran gas dengan kriteria hasil (NOC) sianosis tidak ada, pO2 normal (75-100 mmHg), pCO2 normal(38-42 mmHg. Diagnosa hipertermi pada An.G dan An.F dengan kriteria hasil (NOC) suhu normal ( , tidak ada penurunan kesadaran. Rencana keperawatan sesuai dengan NIC-NOC, implementasi yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah di buat, dan evaluasi keperawatan sebagian besar masalah teratasi.

Perawat dapat memberikan asuhan keperawatan secara profesional dan komprehensif dengan cara prmotif, preventif, rehabilitatif dan edukatif. Bagi peneliti selanjutnya hasil peneliti ini dapat dijadikan sebagai acuan atau pembanding dalam melakukan penelitian.

Kata Kunci : Bronkopneumonia, asuhan keperawatan Daftar Pustaka : 27 (2008-2016)

(10)

ix DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ... i KATA PENGANTAR ... ii PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv LEMBAR PERSETUJUAN ... v ABSTRAK ...vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR TABEL ... x DAFTAR LAMPIRAN... xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Perumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Kasus Bronchopneumonia ... 8

1. Pengertian ... 8

2. Anatomi fisiologi sistem pernapasan ... 9

3. Klasifikasi ... 9

4. Etiologi ... 10

5. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya Bronchopneumonia... 11

6. Patofisiologi ... 12

7. WOC ... 14

8. Respon tubuh terhadap perubahan fisiologi ... 15

9. Komplikasi ... 15

10. Penatalaksanaan ... 16

B. Konsep Asuhan Keperawatan pada Kasus Bronchopneumonia... 18

1. Pengkajian ... 18

2. Diagnosa Keperawatan ... 21

3. Intervensi Keperawatan ... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 33

B. Tempat dan Waktu Penelitian ………... 33

C. Populasi dan Sampel ……….. ………... 33

D. Instrument Pengumpulan Pata …... 34

E. Teknik Pengumpulan Data ... 34

F. Jenis Data ... 36

(11)

x

BAB IV DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kasus ... 37 B. Pembahasan Kasus ... 51 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 64 B. Saran ... 65

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Fisiologi Pernafasan ... 9 Gambar 2.2 WOC ... 14

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pemberian Antibiotik Berdasarkan Umur ... 16

Tabel 2.2 Pemberian Antibiotik Untuk segera Dirujuk ... 16

Tabel 2.3 Pemberian Obat Antipiretika ... 17

(14)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Karya Tulis Ilmiah Lampiran 2. Asuhan Keperawatan Anak Lampiran 3. Lembar Konsultasi Pembimbing 1 Lampiran 4. Lembar Konsultasi Pembimbing 2 Lampiran 5. Surat Izin Penelitian

Lampiran 6. Surat Persetujuan Responden Lampiran 7. Absensi Penelitian

(15)

BAB I

PENDAHULAUAN

A. Latar Belakang

Penyakit infeksi masih merupakan penyakit utama di banyak negara berkembang, termasuk Indonesi. Jeni penyakit infeksi di Indonesia yang banyak diderita adalah infeksi saluran nafas akut (ISPA), baik ISPA bagian atas misalnya batuk, pilek, faringitis maupun ISPA bagian bawah seperti bronkitis dan pneumonia. Pneumonia merupakan suatu penyakit infeksi akut yang sering terjadi pada anak usia di bawah lima tahun (balita) dan penyebab utama kamatian. Angka kematian karena pneumonia di negara berkembang 10-15 kali lebih tinggi dari pada di negara maju (Masela dkk, 2010-15).

Menurut World Health Organization (WHO) angka kematian balita pada tahun 2013 masih tinggi mencapai 6,3 juta jiwa. Kematian balita sebagian besar disebabkan oleh penyakit menular seperti pneumonia (15%), diare (9%) dan malaria (7%). Dari tiga kasus ini, pneumonia menyebabkan angka kematian yang paling tinggi yaitu 935.000 jiwa balita (Ariana dkk, 2015).

Diperkirakan terdapat 155 juta kejadian baru pneumonia pada anak balita tiap tahunnya, dan sebanyak (7-13%) menderita pneumonia berat yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. The United Natiaon’s Millenium Development Goals (MDGs) ke-4 menyatakan bahwa angka kematian balita harus diturunkan sebanyak 2/3-nya dari tahun 1990 sampai tahun 2015, terutama menurunkan angka kematian karena pneumonia (Wulandari, 2014).

Pneumonia merupakan penyebab dari (15%) kematian pada balita dengan diperkirakan sebanyak 922.000 balita di tahun 2015. Pneumonia dapat menyerang semua umur di semua wilayah, namun terbanyak terjadi di Asia Selatan dan Afrika sub-hara. Populasi yang rentan terhadap pneumonia adalah anak-anak yang usianya kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang memiliki masalah kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2016).

(16)

Menurut hasil Riskesdas (2013), berdasarkan Period prevalence balita yang didiagnosa pneumonia selama 1 Bulan sebelum wawancara sebesar (0,2%). Sedangkan balita yang memiliki gejala pneumonia didapatkan sebesar (1,8%). Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007, Period Prevalence pneumonia pada tahun 2013 mengalami penurunan menjadi (1,8%) pada balita, berdasarkan Period Prevalence terdiagnosis sebesar (2,4%) balita dan yang memiliki gejala pneumonia sebesar (18,5%) (Profil Kesehatan Indonesia dalam Riskesdas, 2013).

Menurut Kementerian Kesehatan RI, (2016) hasil persentase kasus pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan terdapat (3,55%) kasus pneumonia yang terjadi di Indonesia. Namun dari tahun 2008 - 2014 penemuan pneumonia pada balita tidak mengalami perkembangan yang berarti yaitu berkisar antara (20%-30%) dan pada tahun 2015 terjadi peningkatan kasus pneumonia yang pesat yaitu (63,45%).

Perkiraan persentase kasus pneumonia pada balita menurut Provinsi di Indonesia, didapatkan dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki persentase tertinggi yaitu (6,38%). Sedangkan Provinsi Sumatra Barat mendapatkan persentase kasus pneumonia sebesar (3,91%) (Kementerian Kesehatan RI, 2016).

Menurut Hasil Data Dinas Kesehatan Kota Padang (2014) terdapat jumlah balita sebanyak 89.793 orang. Perkiraan penderita sebanyak 8.979 (10%) Balita, sementara penderita yang ditemukan dan ditangani hanya sebanyak 1.850 (20,6 %). Balita laki-laki lebih banyak menderita Pneumonia (23,1%) dibandingkan dengan balita perempuan (14,9%). Kasus Pneumonia yang ditemukan dan ditangani tahun 2013 sebanyak 1.183 orang, tahun 2012 sebanyak 340 orang,tahun 2011 sebanyak 586 kasus dan di tahun 2010 sebanyak 819 orang dan 100 % dapat ditangani (Dinas Kesehatan Kota Padang, 2014).

(17)

Pneumonia adalah suatu kelainan infeksi akut yang dapat mengenai jaringan paru-paru (alveoli) yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroganisme seperti virus, jamur dan bakteri. Gejala penyakit yang dapat timbulkan seperti menggigil, demam, sakit kepala, batuk, mengeluarkan dahak dan sesak napas (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Menurut hasil penelitian Osharinanda, (2012) gejala klinis yang di tampak pada anak dengan pneumonia yaitu demam, batuk, muntah, pilek, berak encer, sianosis, kejang, tidak mau menyusu, sesak napas, tersedak, keluar cairan dari telinga dan bintik kemerahan di kulit.

Pneumonia juga dapat mempunyai dampak yang mengakibatkan timbulnya penyakit lain seperti, pneumonia lobularis (Bronchopneumonia), rusaknya jalan nafas, efusi pleura, fibrosis paru, dan bronkiolitis. Gejala-gejala lain akan muncul seperti, atelektasis segmental atau lobaris kronis, kalsifikasi paru, bronkitis obliteratif, atelektasis persisten (Betz, 2009). Menurut penelitian Osharinanda, (2012) dampak lain yang dapat timbul bagi anak dengan pneumonia yaitu gangguan keseimbangan Asam Basa, syok septik, septis, gagal napas, otitis media, meningitis dan emplema.

Bronchopneumonia merupakan penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang biasanya diawali dengan infeksi saluran nafas bagian atas dengan gejala batuk, demam, dan dipsnea. Beberapa mikroganisme Streptococus pneumoniae, Hemophillus influenzae tipe B, dan Sthapylococus aureus merupakan penyebab terjadinya bronchopneumonia pada bayi yang lebih besar dan balita, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae. Selain disebabkan oleh infeksi bakteri, kondisi lingkungan dan status gizi anak juga mempengaruhi penyebab terjadinya Bronchopneumonia (Shefia, 2014).

Berdasarkan penelitian oleh Osharinanda, (2012) di RSUP. Dr. M. Djamil Padang didapatkan anak yang menderita pneumonia laki-laki sebanyak (55,6%), terutama pada kelompok usia 2-<12 bulan (60%) dengan status gizi anak yang kurang (62%) dan status imunisasi masih belum lengkap (34,8%).

(18)

Penelitian yang telah dilakukan selam periode 1 Januari 2010 - 31 Desember 2012 mendapatkan 352 kasus pneumonia. Pneumonia yang terjadi pada balita akan memberikan gambaran klinik yang lebih jelek dari pada orang dewasa karena pada balita sistem pertahanan tubuh yang dimiliki relatif rendah. Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mereka masih belum berkembang dengan baik.

Berdasarkan penelitian Osharinanda (2012), didapatkan anak dengan gizi kurang lebih banyak terkena pneumonia sebesar (62%). Penelitian lain menjelaskan kejadian peneumonia pada anak dengan gizi kurang berpeluang besar 6,25 kali dibandingkan dengan anak yang berstatus gizi baik. Sistem imunitas pada bayi atau balita belum tebentuk sempurna, maka dari itu bayi akan lebih mudah terkena infeksi bila tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Banyak penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara malnutrisi dengan kematian anak yang menderita pneumonia. Di negara yang berpengasilan rendah dan sedang, kekurangan berat badan merupakan faktor resiko pneumonia.

Status imunisasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi timbulnya pneumonia pada bayi atau balita. Anak yang belum mendapatkan imunisasi yang lengkap lebih rentan terkena pneumonia. Imunisai merupakan cara pencegahan terkena penyakit menular karena kekebalan tubuh anak belum terbentuk sempurna. Imunisasi yang berhubungan dengan kejadian penyakit pneumonia adalah imunisasi pertusis dalam DPT, Campak, Haemophilus Influenza, dan pneumokokus. Pertusis dalam kondisi berat dapat menyebabkan pneumonia (Osharinanda, 2012).

ASI ekslusif juga merupakan faktor dalam mengendalikan infeksi dapat dibuktikan dengan berkurang-nya kejadian beberapa penyakit spesifik pada bayi yang mendapat ASI dibanding bayi yang mendapat susu formula. Penelitian oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) membuktikan bahwa pemberian ASI sampai usia 2 tahun dapat menurunkan angka kematian anak

(19)

akibat penyakit diare dan infeksi saluran napas akut, pneumonia (Masela dkk, 2015).

Berdasarkan survey awal yang di lakukan di Ruangan High Care Unit (HCU) Anak RSUP. Dr. M. Djamil Padang tanggal 10 Januari 2017 ditemukan adanya pasien Bronchopneumonia yang sedang menjalankan perawatan sebanyak 2 orang berjenis kelamin laki-laki, dari hasil survei diagnosa keperawatan utama yaitu gangguan pola nafas dengan tindakan yang dilakukan untuk mengatasi keluhan pasien sudah dilakukan seperti pemberian oksigen, kompres saat pasien demam, melakukan pengeluaran sekret, pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan memasukkan makanan melalui NGT, dan tindakan kolaborasi lainnya, namun perawat belum sepenuhnya memperhatikan apa tanda-tanda bila nafas pasien sudah bagus dan bagaimana kriteria sesak nafas yang berat atau tingkatan sesak nafas dari pasien.

Pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan perawat diruangan ditemukan bahwa pendokumentasian mengacu pada shift sebelumnya dan masih kurang memperhatikan perkembangan anak setelah diberikan asuhan keperawatan. Padahal Pendokumentasian merupakan salah satu komponen penting yang dapat memberikan sumber kesaksian bagi perawat dalam pertanggung jawab dan pertanggung gugat dalam memberikan asuhan keperawatan. Perawat mempunyai peran dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak dengan Bronchopneumonia secara komprehensif. Sehingga, terjadi peningkatan kualitas pemberian asuhan keperawatan yang berpengaruh kepada berkurangnya jumlah hari rawatan di rumah sakit dan meminimalkan biaya yang akan dikeluarkan.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan Bronchopneumonia di Ruang RSUP. Dr. M. Djamil Padang.

(20)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah Bagaimana Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Bronchopneumonia di Ruang RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mampu mendeskripsikan Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Bronchopneumonia di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian keperawatan pada Anak dengan Bronchopneumonia di RSUP. Dr. M. Djamil Padang

b. Mampu mendeskripsikan rumusan diagnose keperawatan pada Anak dengan Bronchopneumonia di RSUP. Dr. M. Djamil Padang

c. Mampu mendeskripsikan rencana keperawatan pada Anak dengan Bronchopneumonia di RSUP. Dr. M. Djamil Padang

d. Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada Anak dengan Bronchopneumonia di RSUP.Dr. M. Djamil Padang

e. Mampu mendeskripsikan evaluasi pada Anak dengan Bronchopneumonia di RSUP. Dr. M. Djamil Padang

f. Mampu mendeskripsikan pendokumentasian pada Anak dengan Bronkopneumonia di RSUP. Dr. M. Djamil Padang

D. Manfaat Penelitian. 1. Penulis

Laporan kasus ini dapat mengaplikasikan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan serta kemampuan penulis dalam menerapkan Asuhan keperawatan pada Anak dengan kasus Bronkopneumonia di Ruang High Care Unit (HCU) Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

(21)

2. Rumah sakit

Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dalam menerapakan asuhan keperawatan pada Anak dengan kasus Bronkopneumonia di Ruang High Care Unit (HCU) Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

3. Institusi Pendidikan

Laporan kasus ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran untuk pengembangan ilmu dalam penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan kasus Bronkopneumonia di Ruang high Care Unit (HCU) Anak di RSUP Dr.M. Djamil Padang Tahun 2017.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Bronchopneumonia

1. Pengertian

Bronchopneumonia adalah radang pada paru-paru yang mempunyai penyebaran bercak-bercak, teratur dalam area-area atau lebih yang berlokasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru (Brunner dan Suddarth dalam Wijayaningsih, 2013).

Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat (Whalley and wong dalam Wijayaningsih, 2013).

Bronchopneumonia adalah rekuensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan meningkat (Suzanne G. Bare dalam wijayaningsih, 2013).

Bronchopneumonia disebut juga pneumonia lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing (Sylvia Anderson dalam wijayaningsih, 2013).

Menurut Nursalam, (2008) letak anatomi, pneumonia dibagi menjadi pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia), dan pneumonia intertisialis.

a. Pneumonia Lobaris

pneumonia Lobaris adalah peradangan pada paru dimana proses peradangan ini menyerang lobus paru. Pneumonia ini banyak disebabkan oleh invasi bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. b. Pneumonia Lobularis (Bronchopneumonia)

Peneumonia Lobularis adalah ditandai adanya bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di paru. Bisa kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sering terjadi pada bayi atau orang tua.

(23)

c. Pneumonia Interstisisalis

Pneumonia interstisial adalah kondisi dimana pernapasan langka yang ditandai dengan pembentukan membran hialin di paru-paru.

2. Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan a. Anatomi

Gambar : 2.1 Organ Pernafasan

Sumber : Syaifuddin, (2011)

3. Klasifikasi

Berdasarkan pedoman MTBS (2011), pneumonia dapat diklasifikasikan secara sederhana berdasarkan gejala dan umur.

a. Umur 2 bulan – 5 tahun:

1) Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila gejala: a) Ada tanda bahaya umum

b) Terdapat tarikan dinding dada ke dalam.

c) Terdapat stridor (suara nafas bunyi’grok-grok’ saat inspirasi). 2) Pneumonia, apa bila terdapat gejala napas cepat. Batasan napas cepat

(24)

a) Anak usia 2 bulan - 5 tahun apabila frekuensi napas 40x/ menit atau lebih.

3) Batuk bukan pneumonia, apabila tidak ada tanda pneumonia atau penyakit sangat berat.

b. Umur < 2 bulan

1) Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri berat, apabila gejala : a) Tidak mau minum atau memuntahkan semua

b) Riwayat kejang

c) Bergerak jika hanya dirangsang d) Napas cepat ( ≥ 60 kali / menit ) e) Napas lambat ( < 30 kali / menit )

f) Tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat g) Merintih

h) Demam ≥

i) Hipotermia berat < j) Nanah yang banyak di mata

k) Pusar kemerahan maluas ke dinding perut 2) Infeksi bakteri lokal, apabila gejala :

a) Pustul kulit b) Mata bernanah

c) Pusar kemerahan atau bernanah

3) Mungkin bukan infeksi, apabila tidak terdapat salah satu tanda di atas.

4. Etiologi

Pada umumnya tubuh terserang Bronchopneumonia karena disebabkan oleh penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Penyebab Bronchopneumonia yang biasa di temukan adalah :

a. Bakteri : Diplococus pneumonia, Pneumococus, Stretococus, Hemoliticus Aureus, Haemophilus influenza, Basilus Frienlander ( Klebsial Pneumonia), Mycobakterium Tuberculosis.

b. Virus : Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.

(25)

c. Jamur : Citoplasma Capsulatum, Criptococus Nepromas, Blastomices Dermatides, Aspergillus Sp, Candida Albicans, Mycoplasma Pneumonia, Aspirasi benda asing.

Dalam keadan normal, paru-paru dilindungi terhadap infeksi oleh berbagai mekanisme. Infeksi paru-paru bisa terjadi bila satu atau lebih dari mekanisme pertahanan terganggu oleh organisme secara aspirasi atau melalui penyebaran hematogen. Aspirasi adalah cara yang lebih sering terjadi.

Virus bisa meyebabkan infeksi primer atau komplikasi dari suatu penyakit, seperti mobili atau vericella. Virus tidak hanya merusak sel epitel bersilia tetapi merusak sel goblet dan kelenjar mukus pada bronkus sehingga merusak clearance mukosilia. Apabila kuman patogen mencapai bronkoli terminalis, cairan edema masuk ke dalam alveoli, diikuti oleh leukosit dalam jumlah banyak, kemudian makrofag akan membersihkan debris sel dan bakteri. Proses ini bisa meluas lebih jauh lagi ke segala atau lobus yang sama, atau mungkin ke bagian lain dari paru-paru melalu cairan bronkial yang terinfeksi. Malalui saluran limfe paru, bakteri dapat mencapai aliran darah atau pluro viscelaris. Karena jaringan paru mengalami konsilidasi, maka kapasitas vital dan comlience paru menurun, serta aliran darah yang mengalami konsilidasi menimbulkan pirau / shunt kanan ke kiri dengan ventilasi perfusi yang mismacth, sehingga berakibat pada hipoksia. Kerja jantung mungkin meningkat oleh karena saturasi oksigen yang menurun dan hiperkapnu. Pada keadaan yang berat, bisa terjadi gagal napas (Wijayaningsih, 2013).

5. Faktor Lain yang Mempengaruhi Timbulnya Bronchopneumonia Menurut Wijayaningsih (2013), ada faktor lain yang dapat menyebabkan Bronchopneumonia :

a. Faktor predisposisi 1) Usia/umur

(26)

2) Faktor pencetus - Gizi buruk/kurang

- Berat badan lahir rendah (BBLR) - Tidak mendapatkan ASI yang memadai. - Imunisasi yang tiak lengkap

- Polusi udara

- Kepadatan tempat tinggal

6. Patofisiologi

Bronchopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus dan jaringan sekitarnya. Inflamasi pada bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Setelah itu mikroganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :

a. Stadium I (4-12 jam pertama / kongesti)

Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan pemulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darh dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi bekerja sama dengan histamin dan prostaglandiin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang intertisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus di tempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

(27)

b. Stadium II / hepatisasi (48 jam berikutnya)

Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit, dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selam 48 jam.

c. Stadium III / hepatisasi keabu (3-8 hari)

Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih teteap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti. d. Stadium IV / resolusi (7-1 hari)

Disebut juga stadiu resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisi-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsropsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula. Inflamasi pada bronkus dii tandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveoluss maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelaktasis. Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan nafas, sesak nafas, dan nafas rochi. Fibrosis bisa menyebakan penurunan fungsi paru dan penurunan produksi surfaktan sebagai pelumas yang berfungsi. Enfisema (tertimbunya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak lanjut dari frekuensi nafas, hipoksemia, asidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal nafas (Wijayaningsih, 2013).

(28)

7. WOC Sumber : Wijayaningsih, 2013 Skema: 2.1 WOC Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Gangguan Keseimbangan Cairan Tubuh Gangguan Pertukaran Gas Hipertermi Intolerasi Aktifitas

Virus, Jamur, Bakteri masuk melalui saluran nafas atas

Terjadi invasi saluran nafas atas

Kuman berlebih di bronkus

Infeksi saluran nafas bawah Bakteri masuk ke saluran

cerna melalui sistem pernapasan Proses peradangan Akumulasi sekret di bronkus Infeksi saluran cerna Dilatasi pembuluh darah Peradangan Peningkatan suhu tubuh Eksudat masuk alveoli Peningkatan flora normal di usus Mucus di bronkus meningkat anoereksia Intake menurun Gangguan difusi dalam plasma Peristaltic usus meningkat malabsropsi Frekuensi BAB > 3x/hari,struktur encer

Suplai O2 dalam darah menurun. Gejala : sianosis, nafas cuping hidung, retraksi dinding dada

Hipoksia Batuk berdahak Pe kesadaran hiperventilasi dipsnea Gangguan pola nafas Retraksi dinding dada, nafas cuping hidung

(29)

8. Respon Tubuh Terhadap Perubahan Fisiologi

Menurut Wijayaningsih (2013), perubahan respon tubuh yang di alami sepertii :

a. Sistem pernafasan

Terdapatnya bakteri yang menyebabkan peradangan pada bronkus yang mengakibatkan penumpukan sekret yang menghambat jalan nafas. Tanda dan gejala yang timbul Pernafasan cepat dan dangkal, bunyi pernafasan cuping hidung, terdapatnya bunyi nafas tambahan pada paru yaitu ronchi, weezing.

b. Sistem pencernaan

Terdapat mual dan muntah disertai diare yang mengakibatkan kekurangan cairan yang hebat.

c. Sistem saraf pusat

Terjadinya penurunan suplai O2 dalam darah ke otak yang di tandai dengan sianosis, nafas cuping hidung, retraksi dinding dada, yang menyebabkan terjadinya hipoksia serta mengalami penurunan kesadaran.

d. Sistem termoregulasi

Bakteri yang telah menyebar dan menyebab peradangan menginfeksi sistem kekebalan tubuh, sehingga terjadinya peningkatan suhu tubuh yang tinggi ( yang akan menyebabkan kejang.

9. Komplikasi

Menurut Sowden & Betz (2013), Bronchopneumonia dapat mengakibatkan penyakit lain, yaitu :

a. Atelaktasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps paru merupakan akibat kurang mobilisasi atau refleks batuk hilang.

b. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.

c. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang

(30)

e. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

10. Penatalaksanaan a. Farmakologi

Penatalaksanaan menurut MTBS (2011) yaitu : 1) Pemberian antibiotik

Tabel : 2.1

Pemberian Antibiotik Berdasarkan Umur, Untuk Semua Klasifikasi yang Membutuhkan Antibiotik yang Sesuai

UMUR atau BERAT BADAN

KOTRIMOKSAZOL

2X sehari selama 3 hari untuk pneumonia TAB ANAK (20 mg Tmp + 200 mg Smz) SIRUP per 5 ml (40 mg Tmp + 200 mg Smz) 2 bln-<4 bln (4-6 kg) 1 2.5 ml (1/2 sendok takar) 4 bln - <12 bln (6 -< 10 kg) 2 5 ml (1 sendok takar) 12 bln - <5 tahun (10 -<16 kg) 2 ½ 7.5 ml (1 ½ sendok takar) 3 tahun - <5 tahun (16 – 19 kg) 3 10 ml (2 sendok takar) Tabel : 2.2

Untuk Anak yang Harus Segera Dirujuk Tetapi Tidak Dapat Menelan Obat Oral, Segera Diberikan Antibiotik 1x Dalam Dosis Melalui Intravena

UMUR Atau BERAT BADAN

AMPISILIN Dosis : 50 mg per kg BB Tambahkan 4,0 ml aquadest dalam 1 vial 1000 mg sehingga menjadi 1000 mg / 5 ml atau 200 mg/ml GENTAMISIN Dosis : 7,5 per kg BB sediaan 80 mg / 2 ml 2 bulan - < 4 bulan (4 - < 6 kg) 1.25 ml = 250 mg 1 ml = 40 mg 4 bulan - < 9 bulan (6 - < 8 kg) 1.75 ml = 350 mg 1.25 ml = 50 mg 9 bulan - <12 bulan (8 - < 10 kg) 2.25 ml = 450 mg 1.75 ml = 70 mg 12 bulan - <3 tahun (10 - < 14 kg) 3 ml = 600 mg 2.5 ml = 100 mg

(31)

3 tahun - < 5 tahun

(14 -19 kg) 3.75 ml = 750 mg 3 ml = 120 mg

Tabel : 2.3

Pemberian Obat Antipiretika

Pemberian Paracetamol Untuk Demam Tinggi ≥ C

PARACETAMOL

UMUR atau BERAT BADAN TABLET 500 mg TABLET 100 mg SIRUP 120 mg/ 5 ml 2 bulan - <6 bulan (4 - <7 kg) ½ 1/2 2.5 ml ( ½ sendok takar) 6 bulan - < 3 tahun (7 – < 14 kg) ¼ 1 5 ml ( 1 sendok takar) 3 tahun - < 5 tahun (14 - < 19 kg) ½ 2 7.5 ml ( 1 ½ sendok takar) 2) Terapi O2

Pemberian O2 2 - 3 liter / menit dengan nasal kanul 3) Terapi cairan

Pemberian cairan IVFD dekstore 5 % ½ NaCL 0,225% 350cc / 24 jam

b. Non farmakologi

1) Pasien Istirahat total

2) Posisi pasien semifowler / ekstensikan kepala

3) Bila terdapat obstruksi jalan nafas, dan lendir serta ada febris, diberikan broncodilator

4) Terapi modalitas pernafasan (vibrasi, claping, nafas dalam dan batuk efektif ).

5) Banyak minum air putih hangat 6) Suction bila ada sumbatan jalan nafas 7) Kompres hangat jika demam

(32)

B. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Kasus Bronchopneumonia 1. Pengkajian

Pengkajian pada pasien dengan kasus Bronchopneumonia :

a. Identitas, seperti: nama, tempat tanggal lahir/umur, Bronchopneumonia sering terjadi pada bayi dan anak. Kasus terbanyak terjadi pada anak berusia di bawah 3 tahun dan kematian terbanyak terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 2 bulan.

b. Keluhan Utama

1) Riwayat Kesehatan Sekarang a) Bronchopneumonia Virus

Biasanya didahului oleh gejala-gejala infeksi saluran napas, termasuk rinitis dan batuk, serta suhu badan lebih rendah dari pada pneumonia bakteri. Bronchopneumonia virus tidak dapat dibedakan dengan Bronchopneumonia bakteri dan mukuplasma. b) Bronchopneumonia Stafilokokus (bakteri)

Biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas atau bawah dalam beberapa hari hingga 1 minggu, kondisi suhu tinggi, batuk dan mengalami kesulitan pernapasan.

2) Riwayat Kesehatan Dahulu:

Biasanya anak sering menderita penyakit saluran pernapasan bagian atas. Riwayat penyakit campak / fertusis (pada Bronchopneumonia).

3) Riwayat pertumbuhan

Biasanya anak cenderung mengalami keterlambatan pertumbuhan karena keletihan selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat dari kondisi penyakit.

4) Riwayat psikososial dan perkembangan

Kelainan Bronchopneumonia juga dapat membuat anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan, hal ini disebabkan oleh adanya ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada tingkat

(33)

jaringan, sehingga anak perlu mendapatkan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan yang cukup.

5) Riwayat Imunisasi

Biasanya pasien belum mendapatkan imunisasi yang lengkap seperti DPT-HB-Hib 2.

c. Pemeriksaan Fisik a. Kepala-leher

Pada umumnya tidak ada kelainan pada kepala, kadang ditemukan pembesaran Kelenjer getah bening.

b. Mata

Biasanya pada pasien dengan Bronchopneumonia mengalami anemis konjungtiva.

c. Hidung

Pada pemeriksaan hidung secara umum ada tampak mengalami nafas pendek, dalam, dan terjadi cupping hidung.

d. Mulut

Biasanya pada wajah klien Brochopneumonia terlihat sianosis terutama pada bibir.

e. Thorax

Biasanya pada anak dengan diagnosa medis Bronchopneumonia, hasil inspeksi tampak retraksi dinding dada dan pernafasan yang pendek dan dalam, palpasi terdapatnya nyeri tekan, perkusi terdengar sonor, auskultasi akan terdengar suara tambahan pada paru yaitu ronchi,weezing dan stridor. Pada neonatus, bayi akan terdengar suara nafas grunting (mendesah) yang lemah, bahkan takipneu.

f. Abdomen

Biasanya ditemukan adanya peningkatan peristaltik usus. g. Kulit

Biasanya pada klien yang kekurangan O2 kulit akan tampak pucat atau sianosis, kulit teraba panas dan tampak memerah.

(34)

h. Ekstremitas

Biasanya pada ekstremitas akral teraba dingin bahkan bahkan crt > 2 detik karena kurangnya suplai oksigen ke Perifer, ujung-ujung kuku sianosis.

d. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Diagnostik Menurut Manurung dkk (2013), yaitu : 1) Pemeriksaan Radiologi

a) Biasanya pada rontgen thoraks ditemukan beberapa lobus berbercak-bercak infiltrasi

b) Bronkoskopi digunakan untuk melihat dan memanipulasi cabang-cabang utama dari arbor trakeobronkial. Jaringan yang diambil untuk pemeriksaan diagnostik , secara terapeutik digunakan untuk mengidentifiksi dan mengangkat benda asing

2) Hematologi a) Darah lengkap

(1) Hemoglobin pada pasien bronchopneumonia biasanya tidak mengalami gangguan. Pada bayi baru lahir normalnya 17-12 gram/dl, Umur 1 minggu normalnya 15-20 gram/dl, Umur 1 bulan normalnya11-15 gram/dl, dan pada Anak-anak normalnya 11-13 gram/dl

(2) Hematokrit pada pasien bronchopneumonia biasanya tidak mengalami gangguan. Pada Laki-laki normalnya 40,7% - 50,3%, dan pada Perempuan normalnya 36,1% - 44,3% (3) Leukosit pada pasien bronchopneumoia biasanya mengalami

peningkatan, kecuali apabila pasien mengalami imunodefisiensi Nilai normlanya 5 .– 10 rb /

(4) Trombosit biasanya ditemukan dalam keadaan normal yaitu 150 – 400 rb

(5) Eritrosit biasanya tidak mengalami gangguan dengan nilai normal Laki – laki 4,7- 6,7 juta dan pada Perempuan 4,2– 5,4 juta

(35)

(6) Laju endap darah ( LED ) biasanya mengalami peningkatan normal nya pada laki-laki 0 – 10 mm perempuan 0 -15 mm b) Analisa Gas Darah (AGD)

Biasanya pada pemeriksaan AGD pada pasien bronchopneumonia ditemukan adanya kelainan. Pada nilai pH rendah normalnya7,38-7,42, Bikarbonat (HCO3) akan mengalami peningkatan kecuali ada kelainan metabolik normalnya 22-28 m/l, Tekanan parsial oksigen akan mengalami penurunan nilai normalnya 75-100 mm Hg, Tekanan (pCO2) akan mengalami peningkatan nilai normalnya 38-42 mmHg, dan pada saturasi oksigen akan mengalami penurunan nilai normalnya 94-100 %.

c) Kultur darah

Biasanya ditemukan bakteri yang menginfeksi dalam darah, yang mengakibatkan sistem imun menjadi rendah.

d) Kultur sputum

Pemeriksaan sputum biasanya di temukan adanya bakteri pneumonia dan juga bisa bakteri lain yang dapat merusak paru.

2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan NANDA 2015-2017, diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d akumulasi lendir di jalan nafas, inflamasi trakeabronkial, nyeri pleuritik, penurunan energi, kelemahan. b. Ketidakefektifan pola nafas b/d hiperventilasi, kerusakan neurologis c. Gangguan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan perfusi ventilasi

d. Intoleransi aktifitas b/d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kelemahan umum, batuk berlebihan dan dipsnea.

e. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d peningkatan evaporasi tubuh, kurangnya intake cairan.

f. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi, mual dan muntah.

(36)

3. Intervensi Keperawatan

Tabel : 2.4

Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC

1 Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Batasan karakterstik : 1) Suara nafas tambahan 2) Perubahan frekuensi napas 3) Sianosis 4) Penurunan bunyi nafas 5) Sputum dalam jumlah yang berlebih 6) Gelisah Faktor yang berhubungan dengan : obstruksi jalan nafas

1) Spasme jalan nafas 2) Mukus dalam jumlah berlebihan 3) Sekresi dalam bronki 4) Benda asing di jalan nafas a. Respiratory Status Ventilation Kriteria hasil : 1) Frekuensi pernafasan dalam batas normal (40-50x/menit) 2) Irama pernafasan 3) Kedalaman inpirasi

4) Tidak ada suara nafas tambahan 5) Pernafasan cuping hidung tidak ada 6) Tidak ada penggunaan otot bantu nafas 7) Akumulasi sputum a. Respiratory Status Airway Patency Kriteria hasil : 1) Respiratory rate dalam rentang normal 2) Pasien tidak cemas 3) Menunjukkan jalan nafas yang paten

Airway Suction 1) Pastikan kebutuhan

oral suctioning 2) Auskultasi suara

nafas sebelum dan sesudah suctioning 3) Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning 4) Monitor status oksigen pasien 5) Berikan oksigen dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suction nasotrakeal Airway Management 1) Buka jalan nafas 2) Posisikan pasien umtuk memaksimalkan ventilasi 3) Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas 4) Lakukan fisioterapi dada bila perlu 5) Auskultasi suara

nafas, catat adanya suara tambahan 6) Monitor status

respirasi dan O2

Cough Enhancement 1) Bantu pasien untuk

(37)

2) Dorong pasien untuk melakukan latihan nafas dalam 3) Dorong pasien

untuk tarik nafas dalam selama 2 detik dan

batukkan, lakukan 2 atau 3 kali berturut-turut

Vital Sign Monitoring 1) Monitor TD, nadi,

suhu, dan RR 2) Catat adanya

fluktasi tekanan darah

3) Monitor vital sign saat pasien

berbaring, duduk atau berdiri 4) Monitor TD, nadi,

RR, sebelum, selama dan setelah aktifitas 5) Monitor kualitas nadi 6) Monitor frekuensi dan irama pernafasan 7) Monitor suara paru 8) Monitor pola pernafasan abnormal

9) Monitor suhu, dan kelembapan kulit 10) Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign 2 Ketidakefektifan Pola Nafas Batasan karakteristik : 1) Perubahan kedalaman a. Status Pernafasan Kriteria hasil : 1) Frekuensi Manajemen Jalan Nafas 1) Posisikan pasien untuk memaksimalkan

(38)

pernafasan 2) Bradipnea 3) Penurunan tekanan inspirasi 4) Penurunan tekanan ekspirasi 5) Penurunan kapsitas vital 6) Dipsnea 7) Pernafasan cuping hidung 8) Penggunaan otot aksesoris untuk bernafas Faktor yang berhubungan 1) Hiperventilasi 2) Kerusakan neurologis 3) Keletihan otot pernafasan pernafasan normal (40-50x/menit) 2) Irama pernafasan normal 3) Kedalaman inspirasi 4) Suara auskultasi pernafasan normal 5) Kepatenan jalan nafas 6) Volume tidal 7) Kapasitas vital 8) Penggunaan otot

bantu nafas tidak ada

9) Retraksi dinding dada tidak ada 10) Sianosis tidak ada 11) Suara nafas tambahan tidak ada b. Status Pernafasan : Kepatenan Jalan Nafas Kriteria hasil : 1) Frekuensi pernafasan normal (40-50x/nmenit) 2) Irama pernafasan 3) Suara nafas tambahan 4) Pernafasan cuping hidung 5) Dipsnea saat istirahat 6) Batuk 7) Akumulasi sputum ventilasi 2) Lakukan fisioterapy dada jika perlu 3) Motivasi pasien untuk bernafas pelan, dalam, berputar, dan batuk 4) Gunakan teknik yang menyenangkan untuk memotivasi bernafas dalam kepada anak-anak 5) Auskultasi suara

nafas, catat area yang ventilasinya menurun atau tidak adanya suara nafas tambahan Terapi Oksigen 1) Pertahankan kepatenan jalan nafas 2) Monitor aliran oksigen 3) Monitor efektifitas terapi oksigen 4) Amati tanda-tanda adanya hipoventilasi oksigen 5) Sediakan oksigen ketika pasien dibawah / dipidahkan Monitor Pernafasan 1) Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas 2) Catat pergerakan dinding dada dan pengunaan otot bantu

(39)

nafas tambahan seperti ngorok 4) Monitor pola nafas 5) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru 6) Auskultasi suara nafas tambahan 3 Gangguan Pertukaran Gas Batasan karakteristik : 1) pH darah arteri abnormal 2) pernafasan abnormal ( mis, kecepatan, irama, kedalaman) 3) warna kulit abnormal ( pucat ) 4) sianosis 5) nafas cuping hidung Faktor yang berhubungan : 1) perubahan membran alveolar –kapiler 2) ventilasi pervusi a. Status Pernafasan : Pertukaran Gas Kriteria hasil: 1) Tekanan parsial oksigen dalam darah arteri (po2)

2) Tekanan parsial oksigen dalam darah arteri (pco2) 3) Saturasi oksigen 4) Keseimbangan ventilasi perfusi 5) Dyspnea pada saat istirahat 6) Sianosis

Monitor Vital Sign 1) Memonitor

tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernafasan 2) Memonitor Denyut jantung 3) Memonitor suara paru-paru 4) Memonitor warna kulit 5) Menilai Cavilarevil Monitor Pernafasan 1) Memonitor tingkat, irama, kedalaman, dan respirasi 2) Memonitor gerakan dada 3) Monitor bunyi pernafasan 4) Auskultasi bunyi paru 5) Memonitor

dyspnea dan hal yang meningkatkan dan memperburuk kondisi Terapi Oksigen 1) Pertahankan kepatenan jalan nafas 2) Monitor aliran oksigen 3) Amati tanda-tanda

(40)

hipoventilasi induksi oksigen 4 Intoleransi Aktifitas Faktor yang berhubungan dengan : 1) Masalah sirkulasi 2) Masalah pernapasan a. Toleransi Aktifitas Kriteria hasil : 1) Saturasi oksigen dengan aktivitas 2) Denyut nadi dengan aktivitas 3) Tingkat pernapasan dengan aktivitas 4) Warna kulit 5) Kecepatan berjalan kaki 2) Tingkat kelelahan Kriteia hasil: 1) Tingkat kelelahan 2) Gangguan konsentrasi menurun 3) Tingkat stres 4) Kualitas tidur 5) Saturasi oksigen 6) Kualitas istirahat 3) Tanda–tanda vital Kriteria hasil: 1) Denyut jantung apikal 2) Denyut nadi radial 3) Tingkat pernapasan 4) Irama pernapasan 5) Tekanan nadi 6) Kedalaman inspirasi Terapi Aktifitas 1) Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan 2) Bantu klien untuk

memilih aktivitas yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi, dan sosial 3) Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan 4) Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai

5) Bantu pasien atau keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

6) Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

7) Monitor respon fisik, emosi, sosial, dan spiritual.

Monitor Tanda-tanda Vital

1) Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan 2) Monitor dan

laporkan tanda dan gejala hipotermia dan hipertermia 3) Monitor

(41)

keberadaan dan kualitas nadi 4) Monitor irama dan

laju pernafasan 5) Monitor suara paru 6) Monitor warna

kulit, suhu, dan kelembapan Manajemen Energi: Terapi Oksigen 1) Pertahan kan kepatenan jalan nafas 2) Berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan 3) Monitor aliran oksigen 4) Amati tanda-tanda hipoventilasi induksi oksigen 5) Sediakan oksigen ketika pasien dibawa / dipindahkan 6) monitor efektifitas terapi oksigen 5 Kekurangan Volume Cairan Batasan karakteristik : 1) Haus 2) Kelemahan 3) Kulit kering 4) Membtan mukosa kering’ 5) Peningkatan frekuensi nadi 6) Peningkatan hematokrit 7) Peningkatan konsentrasi urine 8) Peningkatan suhu tubuh 9) Penurunan berat a. Keseimbangan Cairan Kriteria hasil : 1) Tekanan darah 2) Keseimbangan intake output dalam 24 jam 3) Berat badan stabil 4) Turgor kulit 5) Kelembaban membran mukosa 6) Serum elektrolit 7) Hematokrit 8) Edema perifer 9) Bola mata cekung

dan lembek 10) Kehausan

Manajemen Cairan 1) Timbang BB

pasien setiap hari dan monitor status pasien

2) Jaga intake output 3) Monitor status dehidrasi 4) Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan retensi cairan 5) Monitor status hemodinamik 6) Monitor tanda-tanda vital 7) Berikan terapi IV (intra vena) seperti

(42)

badan tiba-tiba 10) Penurunan haluan urine 11) Penurunan pengisian vena 12) Penurunan tekanan darah 13) Penurunan turgor kulit Faktor yang berhubungan 1) Kegagalan mekanisme regulasi 2) Kehilangan cairan aktif 11) Pusing b. Dehidrasi Kriteria hasil : 1) Warna urine keruh 2) Fontanela cekung 3) Nadi cepat dan

lambat 4) Penigkatan BUN (blood urea Nitrogen) 5) Penigkatan suhu tubuh yang ditentukan 8) Berikan cairan dengan tepat 9) Tingkatkan asupan oral 10) Dukungan pasien dan keluarga untuk membantu dalam pemberian makan dengan baik 11) Berikan produk-produk darah Manajemen Elektrolit 1) Monitor nilai serum elektrolit abnormal 2) Monitor manifestasi 3) Ketidakseimbanga n elektrolit 4) Berikan cairan sesuai resep, jika diperlukan

5) Ambil spesimen sesuai order untuk dapat malakukan sesuai analisis level elektrolit (ABG, urine, dan level serum) dengan tepat 6) Konsultasikan

dengan dokter jika tanda – tanda dan gejala ketidakseimbanga n cairan dan/elektrolit menetap atau memburuk 7) Monitor respon pasien terhadap terapi elektrolit yang diberikan

(43)

Monitor Tanda-tanda Vital

1) Monitor tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan 2) Monitor dan

laporkan tanda dan gejala hipotermia dan hipertermia 3) Monitor keberadaan dan kualitas nadi 4) Monitor irama dan laju pernafasan 5) Monitor suara paru 6) Monitor warna kulit, suhu, dan kelembapan

6 Ketidak Seimbangan Nutrisi : Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Batasan karakteristik : 1) Diare 2) Bising usus hiperaktif 3) Membran mukosa pucat 4) Tonus otot menurun 5) Kelemahan otot menelan Faktor yang berhubungan : 1) Faktor biologis 2) Ketidak mampuan mengabsropsi nutrien 3) Ketidak mampuan mencerna makanan 4) Ketidak a. Status Nutrisi Kriteria hasil: 1) Status nutrisi 2) Asupan gizi 3) Asupan makanan 4) Asupan cairan 5) Energi 6) Berat badan b. Appetite Kriteia hasil: 1) Keinginan untuk makan 2) energi untuk makan 3) Asupan makanan asupan gizi 4) Asupan cairan 5) Stimulus untuk makan Manajemen Berat Badan 1) Diskusikan bersama pasien dan keluarga mengenai hubungan antara intake makanan, latihan, pening katan BB dan penurunan BB 2) Diskusikan bersama pasien mengenai kondisi medis yang dapat mempengaruhi BB

3) Diskusikan

bersama pasien mengenai

kebiasaan, gaya hidup dan factor herediter yang dapat mempengaruhi BB 4) Diskusikan bersama pasien mengenai risiko

(44)

mampuan menelan makanan yang berhubungan dengan BB berlebih dan penurunan BB 5) Dorong pasien untuk merubah kebiasaan makan 6) Perkirakan BB badan ideal pasien

Manajemen Nutrisi

1) Kaji adanya alergi makanan

2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan

jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. 3) Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe 4) Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C 5) Berikan substansi gula 6) Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi 7) Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)

8) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori 9) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi kepada keluarga

(45)

Monitor Nutrisi 1) Monitor

pertumbuhan dan perkembangan 2) Monitor turgor

kulit dan modalitas 3) Identifikasi abnormalitas kulit 4) Minitor adanya mual muntah 5) Identifikasi perubahan nafsu makan dan aktifitas akhir-akhir ini 7 Hipertermi Batasan karakteristik : 1) Kulit kemerahan 2) Peningkatan suhu tubuh perkisaran diatas normal 3) Kejang 4) Kulit terasa hangat Faktor yang berhubungan : 1) Pemajanan lingkungan yang panas 2) Penyakit 3) Peningkatan laju metabolisme a. Termoregulasi Kriteria hasil : 1) Berkeringat saat panas 2) Tingkat pernafasan 3) Peningkatan suhu kulit 4) Hipertermia 5) Sakit kepala 6) Dehidrasi c. Status Neurologis Kriteria hasil : 1) Kesadaran 2) Pola bernafas 3) Pola istirahat dan

tudur 4) Laju pernafasan 5) Hipertermia 6) Aktivitas kejang b. Tanda Tanda Vital Kriteria hasil : 1) Suhu tubuh 2) Tingkat Perawatan Demam 1) Pantau suhu dan

tanda vital lainnya 2) Monitor warna kulit 3) Monitor asupan dan keluaran, sadari perubahan kehilangan cairan yang tak dirasakan 4) Beri obat atau

cairan IV 5) Tutup pasien dengan selimut atau pakaian ringan 6) Dorong konsumsi cairan 7) Fasilitasi istirahat, terapkan pembatasan aktifitas jika diperlukan 8) Berikan oksigen yang sesuai 9) Tingkatkan sirkulasi udara 10) Mandikan pasien dengan spons hangat dengan hati-hati

(46)

pernafasan 3) Irama pernafasan 4) Tekanan nadi 5) Kedalaman inspirasi Pengaturan Suhu 1) Monitor suhu

paling tidak setiap 2 jam sesuia kebutuhan 2) Monitor dan laporkan adanya tanda gejala hipotermia dan hipertermia 3) Tingkatkan intake

cairan dan nutrisi adekuat 4) Berikan pengobatan antipiuretik sesuai kebutuhan Manajemen Pengobatan

1) Tentukan obat apa yang diperlukan, dan kelola menurut resep dan/atau protokol 2) Monitor efektifitas cara pemberian obat yang sesuai

Sumber : Nursing Outcomes Clasification, 2016, Nursing Interventions Classifications,

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan desain studi kasus yang di jabarkan secara deskriptif. Metode penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang keadaan secara objektif. Penelitian ini di arahkan unutk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada anak dengan kasus Bronchopneumonia di Ruang High Care Unit (HCU) Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Pada tahun 2017.

B. Tempat dan Waktu Peenelitian

Waktu penelitian dimulai dari bulan Januari sampai dengan Juni 2017. Penelitian dilakukan di Ruang High Care Unit (HCU) Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Tahun 2017. Pengambilan data pada Partisipan I dan II dilakukan pada 27-31 Mei 2017.

C. Populasi dan Sampel

Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti (Hidayat, 2012). Bukan hanya subjek atau objek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek tersebut. Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah semua pasien anak yang mengalami Bronchopneumonia di Ruang HCU Anak RSUP. Dr. M.Djamil Padang.

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian keperawatan, kriteria sampel meliputi kriteria ekslusi, dimana kriteria itu menentukan dapat dan tidaknya smapel tersebut digunakan. Pada penelitian ini sampel diambil sebanyak 2 orang anak secara purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan berdasarkan pada tujuan dari peneliti dengan kriteria sebagai berikut :

(48)

a) Pasien dan orang tua bersedia menjadi responden 2. Kriteria ekslusi

a) Pasien pulang dalam hari rawatan kurang dari lima hari

b) Pasien bronchopneumonia yang mengalami perubahan kondisi (penurunan kesadaran)

D. Istrumen Pengumpulan Data

Alat dan instrumen yang dibutuhkan dalam penelitian adalah format asuhan keperawatan (pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi), alat perlindungan diri (Handscoon dan masker), alat pemeriksaan fisik (Tensi meter, Termometer, stetoskop, timbangan, arloji dengan detik dan penlight).

1. Format pengkajian keperawatan terdiri dari: identitas pasien, identifikasi penanggung jawab, riwayat kesehatan, kebutuhan dasar, pemeriksaan fisik, data psikologis, data ekonomi sosial, data spritual, lingkungan tempat tinggal, pemeriksaan laboratorium dan program pengobatan. 2. Format analisa data terdiri: nama pasien, nomor rekam medik, data,

masalh dan etiologi.

3. Format diagnosa keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, diagnosa keperawatan, tanggal dan paraf ditemukannya masalah, serta tanggal dan paraf dipecahkan masalah.

4. Format intervensi asuhan keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, diagnosa keperawatan, intervensi NOC dan NIC.

5. Format implementasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, implementasi keperawatan, dan paraf yang dilakukan implementasi keperawatan. 6. Format evaluasi keperawatan terdiri dari : nama pasien, nomor rekam

medik, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, evaluasi keperawatan, dan paraf yang melakukan tindakan evaluasi keperawatan.

(49)

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik wawancara

Wawancara pada penelitian kualitatif merupakan pembicaran yang mempunyai tujuan dan didahului beberapa pertanyaan informan. Peneliti melakukan wawancara mengeksplorasi perasaan, persepsi, dan pemikiran partisipan.

Pada penelitian ini dilakukan wawancara kepada pasien dan keluarga. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan untuk mendapatkan data tentang identitas pasien, riwayat kesehatan pasien (sekarang, dahulu dan riwayat kesehatan keluarga) dan aktifitas sehari-hari pasien (Sugiyono, 2014).

2. Observasi

Observasi yang dilakukan peneliti terlibat berkaitan dengan keadaan fisik pasien serta kegiatan sehari – hari pasien seperti pola makan, pola aktifitas, dan lain-lain (Sugiyono, 2014).

Pada penelitian ini observasi dilakukan untuk pemeriksaan fisik pasien yang dilakukan secara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi melalui tingkat kesadaran dan memonitor bagaimana perubahan kesehatan dari pasien dan memonitor intake output / cairan yang keluar berlebihan, suhu, dan frekuensi pernfasan.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan perjalan penyakit pasien yang sudah berlalu yang disusun berdasarkan perkembangan kondisi pasien. Dokumentasi keperawatan berbentuk catatan perkembangan, hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan pasien.

Dalam penelitian ini menggunakan dokumen dari rumah sakit untuk menunjang penelitian yang akan dilakukan untuk mendapatkan hasil pemeriksaan darah lengkap seperti (Hb, trombosit, leukosit, eritrosit, dan Ht), pemeriksaan elektrolit, hasil pemeriksaan kultur darah, sputum dan pemeriksaan rontgen thorak.

(50)

F. Jenis-Jenis Data a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari pasien seperti pengkajian kepada pasien meliputi: Identitas pasien, riwayat kesehatan pasien, pola aktifitas sehari-hari dirumah, dan pemeriksaan fisik terhadap pasien.

b. Data Sekunder

Pada penelitian ini, data sekunder langsung didapatkan dari keluarga, rekam medis dan Ruang High Care Unit (HCU) Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang

G. Analisis

Analisis terhadap proses keperawatan yang dilakukan peneliti meliputi pengkajian keperawatan, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan yang dibandingkan dengan teori. Pada penelitan yang akan dilakukan setelah didapatkan data tentang pasien melelalui pengkajian keperawatan, data akan dikelompokkan dalam bentuk data subjektif dan objektif. Kemudian baru dirumuskan diagnosa keperawatan, disusun rencana keperawatan, melakukan implementasi dan evaluasi keperawatan berdasarkan NOC-NIC. Asuhan keperawatan dibuat dengan cara mendeskripsikan kasus dan selanjutnya dibandingkan antara kasus 1 dan 2. Kemudian kesenjangan-kesenjangan yang ditemukan dibandingkan dengan teori yang telah ada sebelumnya.

(51)

BAB IV

DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN A. Deskrispi Kasus

An. G (partisipan 1) berumur 7 bulan An.G datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 25 Mei 2017 pukul 21.50 WIB rujukan dari RS Ibnu Sina Padang. Pasien datang dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berdahak sejak 1 minggu, demam sejak 3 hari dan anak membiru sejak 3 bulan yang lalu, tidak nafsu makan.. Pasien datang dengan tanda-tanda vital yaitu, HR: 132 x/i, RR: 52 x/i, dan suhu: 37 0C. Pasien di diagnosa dengan penyakit PJB dengan bronkopneumonia.

An. F (partisipan 2) berumur 2 tahun datang ke RSUP Dr. M. Djmail Padang pada tanggal 26 Mei 2017 pukul 15. 30 WIB rujukan dari RSUD Rasyidin padang. Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 4 jam sebelum masuk Rumah Sakit , muntah-muntah sejak 4 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit frekuensi 2x jumlah 3-4 sendok makan. Demam sejak 1 hari yang lalu,batuk-batuk sejak 8 hari yang lalu dan nafsu makan menurun. Pasien datang dalam kondisi tanda-tanda vital yaitu, HR : 132x/i, RR : 46x/i, dan suhu : C. Pasien di diagnosa dengan penyakit bronkopneumonia.

(52)

PARTISIPAN 1 PARTISIPAN 2 1. Hasil Pengkajian

An. G (partisipan 1) berumur 7 bulan An.G datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tanggal 25 Mei 2017 pukul 21.50 WIB rujukan dari RS Ibnu Sina Padang. Pasien datang dengan keluhan sesak napas sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berdahak sejak 1 minggu, demam sejak 3 hari dan anak membiru sejak 3 bulan yang lalu, tidak nafsu makan.. Pasien datang dengan tanda-tanda vital yaitu, HR: 132 x/i, RR: 52 x/i, dan suhu: 37 0C. Pasien di diagnosa dengan penyakit PJB dengan bronkopneumonia.

An. F (partisipan 2) berumur 2 tahun datang ke RSUP Dr. M. Djmail Padang pada tanggal 26 Mei 2017 pukul 15. 30 WIB rujukan dari RSUD Rasyidin padang. Pasien datang dengan keluhan sesak nafas sejak 4 jam sebelum masuk Rumah Sakit , muntah-muntah sejak 4 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit frekuensi 2x jumlah 3-4 sendok makan. Demam sejak 1 hari yang lalu,batuk-batuk sejak 8 hari yang lalu dan nafsu makan menurun. Pasien datang dalam kondisi tanda-tanda vital yaitu, HR : 132x/i, RR : 46x/i, dan suhu : C. Pasien di diagnosa dengan PJB dan Bronkopneumonia.

Pengkajian riwayat penyakit sekarang pada tanggal 27 Mei 2017 pukul 09.00 WIB, Ny. T mengatakan napas Anak tampak sesak, napas sesak akan bertambah jika An.G menangis, ibu mengatakan An.G tampak membiru, dan badan teraba panas.

Pengkajian riwayat kesehatan sekarang pada tanggal 27 Mei 2017 Pukul 10.30 WIB, Ny.N mengatakan nafas Anak sesak, batuk-batuk berdahak, nafsu makan menurun, badan teraba panas.

Pada pengkajian riwayat kehamilan dan kelahiran prenatal gestasi G1 P1 A0 H1, pemeriksaan kehamilan ke bidan 2x dalam sebulan, tidak ada imunisasi saat hamil, obat2 yang digunakan vitamin dan tablet Fe. Riwayat Intranatal Tanggal persalinan 06 November 2016, BBL/PBL 2,7 kg/49 cm, usia gestasi saat lahir 9 bulan, tempat persalinan

Pada pengkajian riwayat kehamilan dan kelahiran prenatal gestasi G1 P1 A0 H1, HPHT 3 Juni 2014, pemeriksaan kehamilan 2x sebulan ke bidan, imunisasi TT 2x, masalah waktu kehamilan pada umur kandungan 2 bulan ibu muntah-muntah,tidak nafsu makan,badan terasa lemah, dan pada saat umur kehamilan 9 bulan ibu menderita

(53)

di RSUP Dr M Djamil padang, penolong persalinan Dr.spesialis kandungan, jenis persalinan cesar. Riwayat Post natal (24 jam) Tidak ada IMD, tidak ada kelainan kongenital. Penyakit yang pernah diderita Ny.T mengatakan An.G telah memiliki kelainan penyakit jantung bawaan sejak lahir namun belum pernah dioperasi dan dirawat selama 1 minggu lalu dipulangkan karena tidak cukup biaya.

vertigo. Riwayat intranatal Tanggal persalinan 28 Mei 2015, BBL/PBL 3 kg/47cm, usia gestasi saat lahir 9 bulan 2 minggu, tempat persalinan RS Bayangkyara, penolong persalinan Dr. Spesialis Kandungan, jenis persalinan sesar. Riwayat post Natal (24 Jam) Awal lahir bayi hanya diam dan setelah 5 menit baru menangis, inisiasi menyusui dini (IMD) tidak ada, kelainan kongenital alat kelamin, platum cembung. Penyakit yang pernah diderita anak pernah menderita penyakit epilepsi, cerebral palcy, small PDA, dan Bronkopneumonia. Ny.N mengatakan An.F sudah 7 kali dirawat di rumah sakit dengan diagnosa yang sama. Sebelumnya pasien dirawat 7 bulan terakhir di rumah sakit Rasidyn selama 1 minggu lalu pulang dengan melanjutkan terapi antibiotik dirumah.

Pada pengkajian riwayat kesehatan keluarga, Ny.T mengatakan tidak ada anggota keluarga ysng lain yang menderita penyakit yang sama dengan An.G. riwayat imunisasi An.G hanya mendapat imunisasi HB 0 saat lahir. Perkembangan An.G saat ini bisa miring kiri dan kanan serta berguling. Ny.T mengatakan ventilasi rumah kurang dan sempit dan sering tertutup.

Pada pengkajian riwayat kesehatan keluarga, Ny.N mengatakan tidak ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama dengan An.F. riwayat imunisasi An.F hanya mendapat imunisasi HB 0 saat lahir. Pada usia 6 bulan miring kiri miring kanan, dan sampai saat usia saat ini An.F hanya bisa seperti itu. Ny.N mengatakann vetilasi rumah kurang, halaman perkarangan tidak dekat jalan, wc ada, sumber air minum air galon, tembat pembuangan sampah di depan rumah dan dibakar.

(54)

Data pemeriksaan fisik didapatkan sebagai berikut : Keadaan umum anak tampak gelisah kesadaran Compos Mentis dengan GCS 15, Tanda-tanda Vital HR : 124 x/i, RR : 38 x/i, T : C. Posture : BB : 7 kg, PB/TB : 59 cm. Pada pemeriksaan kepala normal. Mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, reflek pupil isokor, reflek kedip ada.. Hidung simetris, bersih, pernafasan cuping hidung tidak ada, sinosis tidak ada, terpasang oksigen binasal 3L/i. Mulut tampak bersih, mukosa bibir basah. Pada pemeriksaan telinga tidak terdapat infeksi, tidak ada luka. Pemeriksaan thorax didapatkan inspeksi tampak adanya retraksi dinding dada, dada tidak simetris saat bernafas, saat palapasi fremitus kiri dan kanan tidak sama , perkusi terdengar bunyi pekak/redup, auskultasi suara ronchi tidak ada, suara weezhing tidak ada. Pada pemeriksa jantung saat palpasi ictus cordis teraba, perkusi terdengar bunyi pekak, irama ireguler. Abdomen tidak ada distensi, tidak ada nyeri tekan, bising usus normal. Kulit akral teraba dingin, tidak ada udem, tidak ada lesi. Ekstremitas Atas akral teraba dingin, crt < 2 dtk,tidak ada lesi. Ekstremitas bawah akral teraba dingin, crt <2 dtk , tidak ada lesi. Gnetalia tidak ada kelainan.

Data pemeriksaan fisik didapatkan sebagai berikut : keadaan umum anak tampak gelisah dan lemah kesadaran Compos Mentis, dan GCS 15.Tanda-tanda Vital HR : 130 x/i, RR : 46 x/i, T : C. Posture : BB : 9 kg, PB/TB : 75 cm. Pada pemeriksaan kepala normal. Mata simetris kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, reflek pupil isokor, reflek kedip ada.. Hidung simetris, bersih, pernafasan cuping hidung tidak ada, sinosis tidak ada , terpasang oksigen binasal 3L/i. Pada pemeriksaan mulut bibir agak pucat, mukosa bibir kering, platum menghadap ke atas klien susah makan. Pada pemeriksaan telinga tidak ditemukan adanya infeksi. Pemeriksaan thorax didapatkan inspeksi tampak adanya retraksi dinding dada, perkusi terdengar pekak/redup, auskultasi terdengar ronchi ada, weezhing ada. Pada pemeriksaan jantung palpasi ictus cordis teraba, saat auskultasi terdengar bunyi irama ireguler. Pemeriksaan abdomen tidak ada distensi, tidak ada nyeri tekan, bisisng usus normal. Kulit akral teraba hangat, tidak ada udem, tidak ada lesi. Ekstremitas atas akral hangat, crt < 2 dtk,tidak ada lesi. Ekstremitas bawah akral teraba hangat, crt <2 dtk , tidak ada lesi. Gnetalia ada kelainan.

Gambar

Gambar : 2.1 Organ Pernafasan  Sumber : Syaifuddin, (2011)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan yang ingin dicapai dari pertanyaan ini adalah untuk mengetahui alasan santri kelas III Aliyah di Pondok Pesantren Al-Falah Putera bagi yang tidak berminat terjun

(2) Faktor pendorong pelaksanaan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di SD N Kasihan Bantul adalah faktor usia yang tergolong dini untuk diarahkan sehingga lebih muda

TERPADU dengan database SKPI maka perlu dibuat Sistem Informasi Seminar dan Workshop yang mengacu pada SKPI yang dapat digunakan sebagai syarat kelulusan di

elebihan dribbling menggunakan bagian punggung kaki adalah dapat menggiring bola dengan arah lurus apabila tidak ada la!an yang menghalangi. &#34;edangkan kelemahannya

c. Dari sisi lingkungan meliputi keseimbangan kawasan perencanaan dengan sekitarnya, keseimbangan peruntukan lahan dengan daya dukung lingkungan, serta kelestarian

Meskipun terdapat satu jenis lesi yang dominan, akne vulgaris didiagnosis dengan adanya beberapa variasi dari lesi akne (komedo, pustul, papul, dan nodul) yang erdapat pada wajah,

a) Memupuk semangat kerjasama antara pekerja-pekerja baru yang baru memulakan kerja. a) Memberi peluang pekerja mengenal organisasi syarikat dengan lebih mendalam

Dari hasil uji linearitas pada persepsi terhadap iklim kelas dan minat belajar diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.003 &lt; 0.005 maka dapat dikatakan bahwa ada hubungan