Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI dengan periode pengamatan dari tahun 2012 sampai tahun 2013. Sample diambil dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut :
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2013
2. Mempunyai laporan keuangan tahunan dan yang menerbitkan laporan keuangan tahunan secara lengkap dan jelas dan sudah diaudit.
3. Memiliki data tanggal pengumuman laporan keuangan tahunan.
4. Perusahaan manufaktur yang sahamnya masih aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dan diketahui harga saham hariannya.
5. Perusahaan manufaktur yang memiliki kelengkapan data untuk penelitian ini.
Tabel 2. Kriteria Penentuan Sampel
No Kriteria Penentuan Sampel Jumlah
Perusahaan 1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
tahun 2012-2013
149
2. Perusahaan yang tidak mempunyai laporan keuangan tahunan dan yang tidak menerbitkan laporan keuangan tahunan secara lengkap dan jelas dan sudah diaudit
(-)
9 Sumber : Data diolah, 2014
Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur karena perusahaan manufaktur memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi terhadap setiap kejadian baik intern maupun ekstern perusahaan (Hersanti, 2008). Dalam penelitian ini, perusahaan yang tidak memiliki data lengkap meliputi perusahaan yang menggunakan satuan dollar.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2012-2013.
Data-data tersebut diperoleh dari IDX data base (www.idx.co.id) dan Indonesian Capital Market Directory.
Pengukuran Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah konservatisme akuntansi. Penelitian ini menggunakan perhitungan yang dilakukan oleh Givoly dan Hyan (2000) dalam Andreas (2012) yaitu :
KAit = NIit – CFOit Keterangan :
KAit = Tingkat konservatisme perusahaan i pada tahun t
NIit = Laba sebelum extraordinary item ditambah dengan depresiasi dari perusahaan i pada tahun t
CFOit = Cash flow dari kegiatan operasi untuk perusahaan i pada tahun t 3. Perusahaan yang tidak memiliki data tanggal pengumuman
laporan keuangan tahunan
(-)
4. Perusahaan manufaktur yang sahamnya tidak aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dan diketahui harga saham hariannya.
(3)
5. Perusahaan manufaktur yang tidak memiliki kelengkapan data untuk penelitian ini
(29)
Total sampel yang digunakan 117
10
Selain menggunakan pengukuran diatas, penelitian ini juga menggunakan pengukuran dummy variabel, yaitu:
Skor 1 jika nilai KAit < 0, artinya perusahaan itu mempunyai tingkat konservatisme akuntansi yang tinggi
Skor 0 jika nilai KAit > 0, artinya perusahaan itu mempunyai tingkat konservatisme akuntansi yang rendah
Perusahaan akan dikatakan memiliki tingkat konservatisme akuntansi yang rendah jika nilai Kait diatas nol (positif). Hal ini dikarenakan laba yang tercantum di dalam laporan keuangan (accrual basis) lebih besar daripada kas yang tersedia untuk kegiatan operasional (cash basis). Sebaliknya perusahaan akan dikatakan memiliki tingkat konservatisme akuntansi yang tinggi jika nilai KAit dibawah nol (negatif). Hal ini dikarenakan laba yang tercantum di laporan keuangan (accrual basis) lebih kecil daripada kas yang tersedia untuk kegiatan operasional (cash basis).
Selain itu, penelitian ini menggunakan variabel return saham. Pengukuran return saham dibawah ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Andreas (2009) yaitu sebagai berikut :
R
it=P
it–P
it-1P
it-1Keterangan :
R
it = Return realisasi untuk saham perusahaan i pada hari tP
it = harga penutupan saham perusahaan i pada hari tP
it-1 = harga penutupan saham perusahaan i pada hari t-1Didalam penelitian ini menggunakan rata-rata return selama 11 hari, yaitu 5 hari sebelum tanggal pelaporan keuangan dan return pada hari ke t sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Susilo (2004) dan Prasetyo ( 2003) dalam Andreas (2009). Penelitian ini menggunakan rata-rata return kurang dari sebelas hari karena waktu yang tersedia untuk pelaporan return saham terlalu pendek dan kurang merefleksikan kondisi yang terjadi, sedangkan apabila menggunakan rata-rata return lebih dari sebelas hari dikhawatirkan data tidak mereflksikan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini juga menggunakan variabel return saham karena menurut Adenso (1997) dalam Remon (2005) saham dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk alat pengukur
11
efisiensi perusahaan. Lalu return saham juga merupakan pengembalian yang diterima langsung oleh investor dan menjadi sangat penting untuk investor.
Teknik dan langkah analisa
Penelitian ini menggunakan teknik analisa analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Berikut langkah analisa data dalam penelitian ini : 1. Analisis Statistik Deskriptif
Dalam penelitian ini, analisis statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis perbedaan pengungkapan return saham antara perusahaan dengan konservatisme tinggi dan rendah.
2. Uji Normalitas
Dalam penelitian ini, dilakukan Uji normalitas agar diketahui apakah sampel yang digunakan berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Penelitian ini menggunakan Uji normalitas K-S Liliefors metode p-value lalu diolah menggunakan SPSS.
Syarat sebuah populasi berdistribusi normal atau tidak adalah :
Jika Probabilitas > 0,05 maka distribusi populasi adalah normal Jika Probabilitas < 0,05 maka populasi tidak berdistribusi normal 3. Pengujian Hipotesis
Uji Beda
Jika data berdistribusi normal, maka untuk melakukan pengujian hipotesis menggunakan Uji Beda Rata-Rata (Independent Sample t Test). Apabila data tidak berdistribusi normal, maka pengujian hipotesis menggunakan Uji Mann Whitney.
Adapun rumusan hipotesis adalah sebagai berikut : H0 : µ1 = µ2
Ha1 : µ1 ≠ µ2
µ1 =rata-rata return saham pada perusahaan dengan konservatisme tinggi.
µ2 = rata-rata return saham pada perusahaan dengan konservatisme rendah.
12 ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN HASIL Statistik Deskriptif
Statistik Deskriptif yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Sumber : Data diolah, 2014
Berdasarkan tabel diatas, nilai rata-rata tingkat konservatisme akuntansi pada perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2012 dan 2013 sebesar 318 miliar. Hasil ini menunjukan bahwa perusahaan cenderung tidak melakukan prinsip konservatisme akuntansi karena nilai rata-rata nya lebih dari 0. Selain itu, hasil ini lebih besar dibandingkan dengan penelitian Juanda pada tahun 2007 dengan rata-rata tingkat konservatisme akuntansi sebesar -1,677. Tabel diatas menunjukan bahwa nilai maksimum konservatisme akuntansi sebesar 26.745 miliar dan nilai minimum sebesar -2.350 miliar dengan sebaran data sebesar 1.997 miliar. Nilai rata-rata return saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2012 dan 2013 sebesar 0,0027. Dimana nilai maksimum return saham sebesar 0,0466 dan minimum sebesar -0,0248 dengan sebaran data sebesar 0,0085.
Pengujian Hipotesis
Sumber : Data diolah, 2014
Berdasarkan tabel di atas, penelitian ini memiliki data yang tidak normal. Hal ini dapat dilihat dari nilai p-value yang lebih kecil dari α. Dikarenakan penelitian ini memiliki data yang
Tabel 3. Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
KA (dalam miliar) 234 -2.350 26.745 318 1.997
RS 234 -.0248 .0466 .0027 .0085
Valid N (listwise) 234
Tabel 4. Uji Normalitas
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
KA .374 234 .000 .215 234 .000
RS .202 234 .000 .748 234 .000
13
tidak normal, maka untuk pengujian hipotesis menggunakan Uji Mann Whitney. Tabel berikut akan menyajikan hasil Uji Mann Whitney untuk pengujian perbedaan pengungkapan return saham pada perusahaan yang memiliki konservatisme akuntansi tinggi atau rendah.
Sumber : Diolah dari SPSS, 2014
Berdasarkan tabel di atas, hasil pengujian pada penelitian ini memiliki hasil bahwa tidak terdapat perbedaan return saham baik antara perusahaan yang memiliki konservatisme tinggi maupun rendah. Hal ini dapat dilihat dari p-value yang besar dari α yaitu sebesar 0,145. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Elvina (2014), dimana tidak terdapat perbedaan ERC pada perusahaan dengan konservatisme dan default risk baik tinggi maupun rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam mengambil keputusan investasi, investor kurang memperhatikan aspek konservatisme akuntansi, tetapi lebih memperhatikan variabel lain. Konservatisme akuntansi merupakan komponen yang rumit untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan para investor dalam memilih keputusan investasi. Menurut Bramantyo (2008), para investor dalam mengambil keputusan investasi memperhatikan 3 aspek yaitu arus kas, pertumbuhan, dan biaya modal. Lalu menurut Nagy dan Obenberger (1994) dalam Natalia (2010), dalam mengambil keputusan investasi para investor memperhatikan informasi yang diberikan oleh perusahaan.
Informasi tersebut berupa neutral information dan accounting information. Neutral information memiliki arti informasi yang diberikan kepada investor mencerminkan keadaan sebenarnya seperti perubahan harga saham, ulasan dari analis keuangan yang dipublikasikan ke media dan indikator ekonomi (tingkat suku bunga, inflasi dan lain-lain). Sedangkan accounting information memiliki arti informasi yang berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan seperti penilaian terhadap saham, pendapatan atau laba perusahaan, sejarah pendirian perusahaan dan kemampuan bursa saham saat ini. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan
Tabel 5. Uji Mann-Whitney
14
oleh Remon (2005) yang menyatakan terdapat pengaruh antara konservatisme akuntansi dengan return saham.
PENUTUP