• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Metode Penelitian

Metode sejarah sebagai proses menguji dan menganalisa kesaksian sejarah guna menemukan data yang otentik dan dapat dipercaya, serta usaha sintesis atas data semacam itu menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya.21

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disistematiskan langkah-langkah dalam penelitian sejarah sebagai berikut:

1. Pengumpulan sumber atau data (heuristik) yang penulis lakukan adalah dengan mengunjungi perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan mendapatkan beberapa buku yang berkaitan dengan kajian skripsi seperti Panduan Buat Pers Indonesia, Koran Masuk Desa, Surat Kabar, Sejarah Pers Di Sumatera Utara, dan Perlawanan Pers Sumatera Utara Terhadap Gerakan PKI. Tidak hanya keperpustakaan Universitas Sumatera Utara, penulis juga mengumpulkan buku-buku atau data dari perpustakaan Universitas Negeri Medan dan mendapatkan beberapa buku dan skripsi yang berkaitan dengan penulisan skripsi penulis

21 Abdurrahman Dudung., Metode Penelitian Sejarah,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1999), hal.44

seperti : ensikloedia Jilid 15 dan Jilid 13 dan buku Booming Surat Kabar. Penulis juga mencari buku ke Perpustakaan Daerah Kota Medan dan mendapatkan buku Analisa Isi Surat Kabar- Surat Kabar Indonesia dan Panduan Buat Pers Indonesia. Selanjutnya penulis melakukan penelitian ke Kantor Bupati Tanah Karo di bagian Kominfo dan Humas, namun sebelum melakukan penelitian di Kantor Bupati tersebut penulis mengurus/membuat surat izin penelitian mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Kantor Bupati Karo yaitu dengan meminta surat izin/pengantar dari Kantor Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, kemudian setelah surat izin keluar maka selanjutnya penulis mengurus surat izin/pengantar ke Pemerintahan Kabupaten Karo, Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat. Setelah surat izin keluar barulah penulis bisa melakukan penelitian di Kominfo dan Humas di Kantor Bupati Karo. Selain itu, penulis juga mencari tabloid Sora Sirulo kebebrapa tempat yaitu ke penjual buku-buku bekas di Pajak Buku Titi Gantung Medan, agen Koran di Kabanjahe, dan beberapa penjual buku di Kabanjahe dan Berastagi, juga ke Perpustakaan Daerah Karo dan Penulis juga mengunjungi Taman Baca Masyarakat Tengku Lukman Sinar tetapi tidak mendapatkan buku yang berkaitan, tetapi pada akhirnya penulis mendapatkan tabloid Sora Sirulo dari agen koran di Berastagi yang dulunya adalah salah satu wartawan dari tabloid Sora Sirulo.

Selain studi pustaka penulis juga melakukan wawancara kepada orang-orang yang berkaitan dengan skripsi penulis yaitu Pemimpin Umum dari Tabloid Sora

Sirulo yaitu Bapak Juara R Ginting, Pimpinan Redaksi Tabloid Sora Sirulo yaitu Ibu Ita Apulina Tarigan dan beberapa mantan wartawan di Tabloid Sora Sirulo yaitu Bapak Simpang Umum Ginting, Bapak Budiman Sinulingga. Penulis juga mewawancarai agen koran terbesar dan terlama di Kabanjahe yaitu Bapak S.

Pelawi dan juga mewawancarai Humas dari Kantor Bupati Karo.

2. Setelah mendapatkan sumber-sumber data yang diperlukan dalam penulisan maka tahap selanjutnya melakukan kritik sumber.22 Kritik dilakukan untuk memastikan apakah sumber-sumber yang didapat adalah asli atau sudah dirubah dan juga membandingkan apakah data-data yang sudah diperoleh relevan atau berkesinambungan satu sama lain.

3. Setelah mengkritik sumber maka penulis selanjutnya menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang otentik; ataupun interpretasi atau penafsiran fakta-fakta yang didapat berdasarkan bahan-bahan yang sudah dikritik kemudian menyimpulkan untuk diceritakan kembali ke dalam sebuah bentuk tulisan (historiografi).

4. Tahap terakhir adalah melakukan historiografi yaitu penulisan dari kajian penelitian yang sudah dilakukan.Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau penyajian yang berarti; ataupun historiografi atau penulisan interpretasi yang dituangkan secara sistematis dan kronologis.

22 Kritik sumber dilakukan dengan dua cara yaitu kritik intern dan kritik ekstern. Kritik intern yaitu suatu langkah untuk menilai isi dari sumber-sumber yang telah di kumpulkan. Tujuannya untuk mendapatkan kredibilitas sumber, apakah sumber dapat dipercaya atau tidak. Kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui otentisitas sumber memilah apakah dokumen itu diperlukan atau tidak, serta menganalisis apakah dokumen yang telah dikumpulkan asli atau tidak dengan mengamati tulisan, ejaan, jenis kertas serta apakah dokumen masih utuh atau sudah di ubah sebagian. Lihat Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995), hal. 99.

BAB II

SEJARAH SURAT KABAR DI SUMATERA UTARA DAN GAMBARAN UMUM TABLOID SORA SIRULO

Sebelum membahas bagaimana sejarah persuratkabaran di Indonesia dan khususnya di Sumatera Utara dan juga bagaimana gambaran umum dari media yang penulis teliti yaitu tabloid Sora Sirulo, penulis akan menjabarkan terlebih dahulu pengertian dari pers daerah dan juga media lokal.

Pengertian media lokal merujuk pada sistim atau jaringan media yang berada di suatu lokal atau daerah tertentu. Dan media lokal adalah media massa yang muatan isi medianya bersifat berita-berita lokal atau khas kedaerahan atau tentang daerah tertentu.

Media lokal memililki kantor pusat operasi kegiatan, staf dan organisasi-manajemen di daerah tertentu. Karena karakter “daerah” melekat pada unsur Media Lokal ini maka orang sering menyebut Media Lokal sebagai Pers Daerah.

Sementara Pers Daerah adalah suatu sistim atau jaringan media massa yang berasal atau melakukan aktivitas kegiatan jurnalistik media dengan dukungan insan-insan pers atau wartawan dan komunitas pers nasional yang berada di suatu daerah tertentu.

Dengan demikian jaringan media massa atau jaringan pers yang eksis dan operasional di bumi Indonesia komposisinya adalah :

1. Pers Nasional yaitu Jaringan Pers atau Media Massa yang berkantor pusat dan eksis melakukan kegiatan jurnalistik di tingkat nasional umumnya di Jakarta.

2. Pers Daerah atau Media Lokal yaitu Jaringan Media yang eksis melakukan kegiatan jurnalistik dan berada di lokasi, lokal atau daerah tertentu di daerah provinsi, kabupaten-kota dan umumnya berada diluar kota Jakarta.

3. Pers Asing yaitu Jaringan Pers atau Media Massa asing atau yang berasal dari luar negeri/negeri lain yang berkantor pusat dan eksis melakukan kegiatan jurnalistik di wilayah negara RI.23

Demikianlah pengertian dari pers daerah dan media lokal, selanjutnya penulis akan menjabarkan secara singkat sejarah persuratkabaran mulai dari Indonesia, Sumatera Utara khususnya Medan dan juga kota-kota lain yang ada di Sumatera Utara.

Surat kabar pertama yang ada didunia, Avisa Relation Oder Zeitung, terbit pada tanggal 15 Januari 1609 di Augsburg, Jerman, setelah sekitar 169 tahun penemuan mesin cetak.24 Di Indonesia jauh sebelum ada surat kabar, Gubernur Jenderl Jan Pieterszoon Coen (1587-1629) pada tahun 1615 memprakarsai penerbitan Memorie der Nouvelles. Ini adalah prasurat-kabar tulisan tangan yang berisi berita-berita dariNederland untuk kalangan pejabat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Perserikatan Dagang Hindia Timur) yang dikirimkan sampai sejauh Ambon.25

23 Mustam Arif., Mengawal Media agar Tak Jadi Tirani, Jurnal Dewan Pers, edisi ke-5,Mei 2011, hal. 78.

24 Tim Penyusun Ensiklopedi Nasional Indonesia., Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 15(Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka 1996), hal. 431.

25Ibid., hal. 432.

Surat kabar pertama di Indonesia baru terbit hampir seabad setelah kedatangan percetakan pertama. Percetakan pertama di Indonesia tiba pada tahun 1659, dan yang kedua pada tahun 1712. Percetakan itu umumnya digunakan oleh VOC untuk keperluannya sendiri, umpamanya untuk membuat surat edaran kematian.26 VOC sangat alergi terhadap koran karena takut kegiatan perdagangannya terganggu. Ketika Gustaaf Willem Baron van Imhoff yang bersikap liberal diangkat sebagai gubernur jenderal pada tahun 1743, Jan Edmans Jordens, pegawai Kantor Sekretariat Negara, mengajukan permohonan untuk menerbitkan surat kabar untuk masa kontrak tiga tahun. Izin pun diberikan, dan terbitlah pada tanggal 7 Agustus 1744 koran berukuran folio bernama Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementen (Berita dan Penalaran Politik Batavia).27 Surat kabar tertua berbahasa Melayu, dibawah pimpinan pribumi di Sumatera Barat dan bahkan dipulau Sumatera adalah Pelita Ketjil, terbit untuk pertamakalinya tanggal 1 Februari 1886, dibawah pimpinan Mahyuddin Datuk Sutan Mahardja.28

Medan juga tidak ketinggalan dalam pertumbuhan surat kabar. Tanggal 18 Maret 1885 terbitlah di Medan surat kabar yang pertama, milik Belanda dan berbahasa Belanda bernama “Deli Courant”. Sebagai penerbit diperkenalkan dibagian atas halaman depan seorang bernama Jacques Deen.29 Tanggal 30 Nopember 1895 lahir pula surat kabar ke 2 di Medan bernama “De Oostkust” (artinya : “Pantai Timur”). Ia terbit 2 kali

26Ibid., hal. 433.

27Ibid., hal. 434.

28 Hendra Naldi., Booming Surat Kabar Di Sumatra’s Weskust (Yogyakarta: Ombak,2008), hal.

91.

29H. Mohammad Said., Sejarah Pers Di Sumatera Utara Dengan Masyarakat Yang

seminggu, selasa dan Jumat, juga dalam bahasa Belanda.30 Tahun 1899 terbit sebuah lagi koran Belanda bernama “De Sumatra Post”, sebagai penerbit dikenal nama J.

Hallerman seorang pendatang Eropah yang ingin merebut keberuntungan ke Deli, dan sebagai pemimpin redaksinya seorang sarjana hukum bernama Mr. J. Van den Brand.31 Tahun 1902 diterbitkannya surat kabar berbahasa Indonesia 2 kali seminggu bernama

“Pertja Timor”. Sebagai pemimpin redaksi tampil seorang bernama Mangaradja Salembuwe.32 Berkala berbahasa Belanda bernama “De Plenter”, terbit di Medan dua minggu sekali sejak 1909, mulanya dipimpin oleh J.R. Burghard. Berkala ini membicarakan khusus kepentingan serikat sekerja assisten kebon Belanda di Sumatera Timur.33 Tahun 1910 dua tahun sejak Kebangkitan Nasional 1908, terbitlah di Medan surat kabar nasional bernama “Pewarta Deli”.34

Tanggal 1 Pebruari 1912 terbit surat kabar bernama “Andalas”. Sebutan surat kabar Tionghoa Melayu atau “Maleisch-Chineesche blad” waktu itu biasa dipakai untuk koran-koran yang diterbitkan oleh investor Tionghoa karena pemiliknya Tionghoa dan disebut Melayu karena surat kabar tersebut berbahasa Melayu dan aksaranya latin.35 Dalam tahun 1922 surat-surat kabar Tionghoa dan aksara Tionghoa yang terbit di Medan selain “Sumatra Bin Poh”, “Sumatra News”, dan “New China Times” juga terbit

“Nan Yang Jit Pao” dicetak dipercetakan “Kok Fah”, juga berkantor di Spoor Straat.

Pemimpinnya seorang hartawan bernama Tjong Koen Tat dan redaktur Tjong Foe Koan.

Sebuah lagi surat kabar “The Daily Morning News” dicetak oleh Tjin Jin Drukkerij, Moskee Straat, dengan redaktur bernama Ng Soen. Sebuah surt kabar karyawan Tionghoa bernama “Sumatra Daily News” dan sebuah lagi “Sin To Djit Po”.36 Surat kabar “Benih Merdeka” terbit tanggal 20 Nopember 1916 dicetak dipercetakan “Setia Bangsa” Medan. Penerbit surat kabar ini sekaligus pemilik percetakan adalah Tengku Raja Sabaruddin pensiunan wedana Meester Cornolis Jatinegara Jakarta.37 Membayangnya semangat progresif dikalangan wartawan/pemimpin bangsa Indonesia di Sumatera Utara ditandai dengan terbitnya di Medan dalam tahun 1919 sebuah berkala mingguan (setiap Sabu) bernama “Sama Rata). Ia menonjolkan diri dengan membawa suara seperti tertera dikepalanya : “orgaan kaoem boeroeh oentoek menoentoet ke’adilan.38 Awal tahun 1921 terbit pula di Medan “Sinar Zaman” yang memancar setiap Arba’a (Rabu) dan Sabtu. Surat kabar itu yang dicetak pada N.V. Medansche Drukkerij, dipimpin oleh Mohamad Joenoes, dengan penasihat Sjech Mohamad Chayath seorang ulama Arab/guru agama yang tinggal di Moskee Straat dikota tersebut.39

Dimasa kebangkitan nasional, selain di Medan, penerbitan juga muncul di luar kota Medan. Di pematang Siantar tercatat 6 penerbitan baik berupa berkala atau surat kabar. Di P. Siantar pernah terbit harian “Suara Kita” yang dipimpin oleh Urbanus Pardede dan Sulaiman. Selain harian “Suara Kita” yang terbit di P.Siantar terdapat pula

“Zaman Kita” dipimpin oleh A. M. Sipahutar (pendiri kantor Berita Berita Antara) dan Arif Lubis. Penerbitan lainnya adalah “Suara Indonesia” pimpinan Iskandar Napitupulu

36Ibid., hal. 79.

37 Muhammad Twh., loc. cit., hal. 2.

38 Mohammad Said., op.cit. hal. 106.

dan Batara Sangty. “Warta Baru” pimpinan M. Idham dan “Tjerdas” pimpinan J.E Hutagalung. Dalam pada itu di P. Sintar juga terdapat pula majalah “Jakin” pimpinan S.M. Simatupang. Kemudian majalah ini namanya diganti menjadi “Penuntun”.40

Di Balige terdapat penerbitan yang diberi nama “Suara Batak” yang terbit dalam tahun 1919 yang membawa suara Hatopan Kristen Batak dibawah pimpinan HM Manullang. Disamping itu terdapat pula “Bintang Batak” pimpinan PM Siagian gelar Djonggara, yang terbit tahun 1929. Kemudian menyusul terbit “Palito” pimpinan Fridolina Panggabean. Surat kabar “Persatuan” pimpinan MH Manullang, Sutan Sumurung, SM Simanjuntak dan Sutan Komala Bolan. Dalam tahun “1930-an, di Tapanuli terdapat surat kabar “Bendera Kita” dibawah pimpinan Jesajas Siahaan.

Sebuah berkala wanita tercatat dengan nama “Beta” dipimpin oleh Ny. Siahaan dan Ny.

Nababan, tapi sayang hidup berkala ini tidak begitu lama.41

Surat kabar yng pertama terbit di Tarutung diketahui bernama “Partungkuan”, terbit di tahun 1914 yang dipimpin oleh Sutan Sumurung dan M. Amir Hamzah. Selain dari itu di Tarutung diterbitkan lagi surat kabar yang diberi nama “Suara Batak” tadinya surat kabar ini terbit di Balige dibawah pimpinan H.M. Manulang. Setelah pindah dan diterbitkan di Tarutung surat kabar ini dipimpin oleh Sutan Manurung dan Urbanus Pardede.42

Di kota pantai Tapian Nauli yaitu Sibolga menurut catatan terdapat beberapa penerbitan. Diantaranya adalah “Imanuel” merupakan penerbitan pertama tahun 1902

40Muhammad TWH., op.cit. hal. 8.

41Ibid., hal. 9.

42Ibid., hal. 9.

yang membawa suara umat Kristen. Mulanya berkala ini dicetak di Singapura.

Kemudian dalam tahun 1903 di cetak di “Narumondo Toba”. Dalam tahun 1904 terbit di Sibolga berkala “Binsar Sinondang Batak” dibawah pimpinan Imanuel Siregar dan Lim Sun Hin. Menyusul dalam tahun 1908 terbit berkala “Tapanuli” yang kemudian nama berkala itu diganti menjadi “Selendang Sibolga” dibawah pimpinan Lim Bun San.

Dalam tahun 1919 tercatat dua penerbitan dikota itu yaitu “Bergerak” dibawah pimpinan DE Manutari dan “Percaturan” di bawah pimpinan Tinggi Lubis, D.I. Lubis, Ilyas Dalimunthe dan Arif Lubis. Antara tahun 1925 dan 1926 di Sibolga terdapat surat kabar bernama “Hindia Sepakat” dibawah pimpinan Abd. Xarim MS. Akhirnya ditahun 1938 terbit “Suara Tapanuli” di bawah pimpinan G.L. Siahaan.43

Setelah terbit “Benih Merdeka” di Medan kemudian pakai nama “Merdeka”, maka menurut catatan, di Padang Sidempuan dalam tahun 1919 pernah terbit harian yang juga memakai nama “merdeka” yaitu “Sinar Merdeka” yang dipimpin oleh Parada Harahap. Kemudia Sinar Merdeka menerbitkan “Pustaha” yang pernah terbit tahun 1914.44 Berkala “Pustaha” di P. Sidempuan dipimpin oleh Sutan Pangaribuan.

Disamping itu Sutan Pangaribuan juga memimpin surat kabar bernama “Surya” yang waktu itu dijuluki “surya nan podas”. Menjelang tahun 1930 di P.Sidempuan terdapat harian yang diberi nama “Suara Rakyat”. Kemudian terbit lagi berkala “Hidup”, pimpinan Bariun AS dan “Utusan” yang dipimpin oleh Baginda Kalidjundjung. Sebuah

43Ibid., hal. 11.

surat kabar yang terbit di P. Sidempuan diketahui bernama “Boroe Tapanoeli” yang penerbitannya pertama tercatat 10 Oktober 1940.45

Tanah Karo juga tidak luput dari pertumbuhan percetakan dan surat kabar. Sejak tahun 1925 sampai tahun 1941 di Tanah Karo terdapat beberapa penerbitan, seperti

“Sendjata Batak” yang dipimpin oleh Nerus Ginting Suka (1925-1926). Surat kabar ini terhenti penerbitannya setelah pimpinan surat kabar itu Nerus Ginting di buang Belanda ke Digul. Kemudian terbit lagi “Suara Karo” dan “Tjermin Karo”. Surat kabar Tjermin Karo dipimpin oleh Mbulgah Sitepu dan N. Sitepu. Penerbit lainnya adalah “Pandji Karo” dan “Pustaka Karo” yang masing-masing dipimpin oleh G. Keliat dan Marah Udin serta Tahan Tarigan.46 Ada dua majalah lainnya yang terdapat di Tanah Karo yaitu

“Perobahan” dipimpin oleh Tebel Purba dan “Semangat Moeda” dipimpin oleh Matang Sitepu.47

2.1 Deskripsi Tabloid Sora Sirulo

2.1.1 Sejarah Tabloid Sora Sirulo

Tabloid Sora Sirulo merupakan salah satu media cetak lokal yang didirikan pada tanggal 1 Oktober 2006 yang terbit setiap bulan dan bertahan cukup lama dibanding media-media lokal lainnya yang ada di Kabupaten Karo yaitu sekitar 6 (enam) tahun lamanya dan kemudian pada tahun 2012 Sora Sirulo beralih menjadi

45Ibid., hal. 13.

46Ibid., hal. 8.

47Ibid., hal. 9.

media online harian dan sampai saat ini masih terus aktif memperbarui berita-berita aktual tentang Karo.

Tabloid Sora Sirulo didirikan oleh Juara R. Ginting merupakan dosen Antropologi USU yang sekarang berada di Belanda. Juara R Ginting merupakan salah satu tokoh Karo, Ita Apulina Tarigan sekarang berada di Surabaya, Canggah Ginting yang berada di USA, M.U. Ginting yang berada di Swedia dan Simson Ginting yang merupakan Diaspora Indonesia yang tinggal di California. Para pendiri tabloid Sora Sirulo merupakan orang-orang yang sangat peduli terhadap etnis Karo. Adapun arti dari Sora Sirulo adalah Sora yang artinya Suara dan Sirulo yang artinya orang kebanyakan alias rakyat. Jadi Sora Sirulo adalah Suara orang banyak atau suara rakyat. Jadi Sora Sirulo diperuntukkan untuk menyuarakan suara atau pendapat dan keluhan rakyat.

Adapun latar belakang para pendiri Sora Sirulo ini adalah berangkat dari ketidakpuasan mereka akan segala berita-berita tentang Karo yang diberitakan oleh media cetak lain. mereka merasa apa yang diberitakan oleh oleh media cetak lain itu tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan, dan banyak peristiwa ataupun budaya Karo yang tidak diberitakan, dan media yang sering salah menyebutkan etnis Karo sebagai etnis Batak sehingga mereka tentu merasa sangat dirugikan dalam hal ini. Para pendiri mengharapkan etnis Karo dapat berdiri sendiri sebagai suatu etnis di Indonesia dan tidak dikait-kaitkan ataupun disamakan dengan etnis Toba atau yang sering disebut sama-sama sebagai etnis Batak. Kemudian mereka berdiskusi dan memutuskan dari pada hanya menggerutu saja dengan ketidakpuasan akan media cetak lain maka mereka

sendiri. Mereka ingin segala sesuatu pemberitaan tentang Karo adalah atas nama etnis Karo, dan juga selalu menekankan bahwa etnis Karo bukanlah Batak seperti yang sedang marak dibicarakan pada saat ini.

Para pendiri tabloid Sora Sirulo sebelum mendirikan tabloid Sora Sirulo mereka menjalankan tabloid lokal Karo yang sudah ada yaitu Sora Mido, namun, terjadi perselisihan diantara pemilik Sora Mido dengan para penggeraknya sehingga mereka memilih untuk keluar dari Sora Mido dan kemudian mndirikan Sora Sirulo dan 99 % pekerja yang ada di Sora Mido keluar dan pindah ke tabloid Sora Sirulo.

Tabloid Sora Sirulo berdiri sendiri atau tidak bekerjasama dengan Pemkab Karo terutama dalam hal pendanaan. Tabloid Sora Sirulo didirikan dengan menggunakan uang pribadi dari para pendiri. Tabloid Sora Sirulo diterbitkan oleh CV. Green Medan dengan dukungan Jaringan Karo Sedunia. Kerjasama yang terjalin antara Sora Sirulo dengan pemerintah hanya sebatas pemerintah memberikan press rilis dan juga kerjasama dalam pengembangan seni tradisional Karo yaitu dengan mengadakan sanggar tradisional Karo yang dikonsep seperti teater.

Tabloid Sora Sirulo juga aktif dalam kegitan-kegiatan lain seperti menjadi media partner atau sponsor untuk acara-acara yang cukup besar seperti Drama Perjuangan yang dilaksanakan di depan makam Pahlawan Kab. Karo dan juga acara Konser Pergerakan Benteng Putri Hijau.

2.1.2 Visi dan Misi Tabloid Sora Sirulo

Adapun visi dan misi yang diusung oleh tabloid Sora Sirulo adalah melangsungkan sebuah media yang mewakili Karo sebagai sebuah suku tersendiri (bukan bagian dari Batak) sehingga keberadaan dan kepentingan Karo tidak dikait-kaitkan dengan keberadaan dan kepentingan Batak, melainkan bagian dari keberadaan dan kepentingan NKRI. Jadi para pendiri Sora Sirulo sepakat untuk mendirikan Sora Sirulo dalam kerangka berpikir/wawasan Karo sebagai bagian NKRI, bukan bagian suku lain.48

2.2. Struktur Organisasi Tabloid Sora Sirulo

Adapun struktur lengkap organisasi tabloid Sora Siru adalah sebagai berikut:

a. Pemimpin Umum : Juara R Ginting b. Pemimpin Redaksi : Ita Apulina Tarigan

c. Anggota Redaksi : Ita Apulina (Surabaya), Sri Alem Sembiring (Medan), Juara R Ginting (Belanda), MU Ginting (Swedia), Pa Canggah Ginting (USA), Vinsensius Sitepu (Medan), Karmila Kaban (Medan) Dan Nathanail Milala (Kaban Jahe)

d. Staf redaksi : Sadariah Ginting (Belanda), Rudy Pinem (Medan), Thomas Silangit (Roma) dan Andreas Bangun (Medan)

e. Konsultan Artistik : Windra Tarigan

f. Fotografer : Setia Tarigan

g. Layouter : Nova Friska

h. Humas : Amey Adriana Sitepu

i. Administrasi : Ira Munte dan Rara Prabandari j. Biro

- Medan : Rahel Sukatendel (Ka.Biro), Andreas Bangun, Hendra Tarigan, Hebron Munte, Boy Sembiring, Herland Milala, Yos Arnold Tarigan, Remaja Barus dan Rico Simanjorang.

- Kabupaten Karo : Jalan Veteran gang Kelihara. Eddy Surbakti (Kabiro), Caranta Perangin-Angin, Jendaras Ginting, Gema Ginting, Retina Ginting, Junen Purba, Kamaruddin Pandia, Apelta Ginting, Emon Tarigan dan Johannes Sembiring.

- Berastagi : Bambang H Ginting, Simpang Umum Ginting, Mando Perangin-Angin dan Budiman Sinulingga.

- Langkat : Desa Gotong Royong, Kawal Ginting (Kabiro), Nelson Ginting, Ukurta Bangun dan Sapta Sitepu.

- Jawa/Kalimantan : Perum Babelan Mas Permai, Blok B No.179 Kebalen, Bekasi 17610. Boni P Tarigan (Kabiro), Advanta Silangit (Jakpus), Egia Br Sitepu (Jaksel), Devi Br Silangit (Jaksel), Setia Karo-Karo (Jakbar), Mbuah P Sukatendel (Bekasi), Imran Sinulingga (Cibitung), Imanuel Singarimbun (Cikarang), Hiskia M Bangun (Karawang), Alfianta Bangun (Depok), Filemon Prananta Ginting (Banten), Sastra Tarigan (Cibinong), Mazmur A Sembiring (Bogor), Edy Suranta Ginting (Bandung), Maskot Ginting (Banjarmasin) Ian D

Sembiring (Yogyakarta).Harjanta Resifa Sitepu, Komp. Timah Blok FF 14 Kelapa Dua Depok (Jakarta Selatan), Sukarman Keliat, Jl. Pemuda Puri Sejahtera No. 8 (Cirebon) dan Averiana Barus (Biro khusus Bandung dan sekitarnya).

- Bangka Belitung : M. Sitepu, Perum Timah Jl. Kenanga No.1 Bukit Baru,Pangkal Pinang.

- Pematang Siantar : Sofian Tarigan, Jl. Pdt. Justin Sihombing (Padang Sambo) No.7.

- Dairi dan Pakpak Bharat : Hendri P Bangun, Jl. Sisingamangaraja No.

21 Sidikalang.

- Pekan Baru : Herlina br Barus

- Dumai : Ferinata Surbakti, Jl. Kesuma No. 142, Jayamukti.

dan juga perwakilan di negara-negara lain, sebagai berikut :

- Belanda : Harmadi Sinuhaji (Kabiro) - Norwegia : Vidya Ivayani Sinisuka

- Italia : Jakobus Ginting

- Inggris : Yarti Br Surbakti - Jerman : Iyani Kristina Milala

- Swedia : Pelita Ginting

- Swedia : Pelita Ginting

Dokumen terkait