• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSEUDOMONAS AERUGINOSA

B. METODE PENELITIAN

Secara umum penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan. Pada tahap pertama dilakukan proses persiapan sampel daun dan ranting jarak pagar berupa pengecilan ukuran, pengeringan, dan pembuatan serbuk. Selanjutnya dilakukan beberapa analisis terhadap serbuk yang dihasilkan untuk mengetahui karakteristik bahan yang akan diekstraksi. Kemudian serbuk diekstraksi dengan metode soxhlet dan metode maserasi menggunakan pelarut etanol yang telah di destilasi sebelumnya. Ekstrak kasar yang diperoleh lalu dipekatkan dan dikeringkan untuk selanjutnya mengalami proses fraksinasi (partisi cair-cair). Proses fraksinasi dilakukan dengan menggunakan pelarut etil asetat dan n-heksan (yang telah didestilasi sebelummnya) untuk memisahkan zat sesuai kepolarannya. Fraksi ekstrak yang didapat kemudian dipekatkan dan dikeringkan hingga menjadi bahan yang siap untuk dianalisis.

Analisis yang dilakukan terhadap sampel uji antara lain adalah analisis total fenol, analisis antioksidan, dan analisis antimikroba. Selain itu juga dilakukan analisis GC-MS untuk mengetahui senyawa-senyawa yang terkandung di dalam masing-masing ekstrak dan fraksi ekstrak. Berdasarkan hasil analisis tersebut ditentukan ekstrak atau fraksi ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba terbaik yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk personal hygiene. Selain itu, juga ditentukan pengaruh panas dalam proses ekstraksi terhadap sifat antioksidan dan antimikroba ekstrak kasar yang diperoleh. Garis besar pelaksanaan penelitian yang berupa ekstraksi, fraksinasi, dan pengujian ekstrak/fraksi ekstrak dari jarak pagar dapat dilihat pada Gambar 5. Adapun tahap lanjut dari penelitian berupa aplikasi ekstrak/fraksi ekstrak terpilih pada sabun transparan dapat dilihat pada Gambar 6.

Daun dan ranting jarak pagar

Diperkecil ukurannya, dikeringkan, dan dibuat men

Gambar 5. Ekstraksi, fraksinasi, dan pengujian ekstrak/fraksi ekstrak dari jarak pagar jadi serbuk

Analisis kadar air, abu, lemak, dan protein terhadap serbuk daun dan ranting jarak pagar

Ekstraksi serbuk dengan metode soxhlet Ekstraksi serbuk dengan metode maserasi (pelarut etanol 96% yang telah didestilasi) (pelarut etanol 96% yang telah didestilasi)

Ekstrak kasar (soxhlet) Ekstrak kasar (maserasi)

Fraksinasi (partisi) dengan pelarut etanol-air (2:3), etil asetat, dan heksan

Fraksi etanol air Fraksi etil asetat Fraksi heksan

Uji total fenol, aktivitas antioksidan, aktivitas antimikroba, dan identifikasi senyawa kimia dengan

GC-MS Disaring dengan Whatman 41, dipekatkan dengan

vacuum rotary evaporator (40-600C), lalu dikeringkan dengan freeze dryer

Disaring dengan Whatman 41, dipekatkan dan dikeringan dalam ruangan ber-AC (180C) [tidak

menggunakan proses panas sama sekali]

Disaring dengan Whatman 41, dipekatkan dengan vacuum rotary eva

Ekstrak/fraksi ekstrak terpilih

porator (40-600C), lalu dikeringkan dengan freeze dryer

Fraksi etanol air Fraksi etil asetat

Ekstrak/fraksi ekstrak terpilih

Penambahan ekstrak pada sabun komersil tanpa BHT (650C)

Sabun transparan dengan ekstrak

Gambar 6. Aplikasi ekstrak/fraksi ekstrak terpilih pada sabun transparan a. Persiapan Sampel

Sampel daun jarak pagar diambil pada saat dilakukan pemangkasan tanaman jarak. Sampel basah yang ada dipisahkan bagian daun dan ranting. Masing-masing bagian sampel segar kemudian dirajang dan dikeringanginkan selama ± 7 hari hingga benar-benar kering. Sampel kering lalu digiling dengan blender hingga menjadi serbuk untuk memudahkan proses ekstraksi. Sampel serbuk kering dikemas dalam kantong plastik dan disimpan dalam freezer sebelum dilakukan proses ekstraksi. Karakterisasi yang dilakukan terhadap sampel serbuk kering sebelum digunakan dalam penelitian meliputi analisa kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan kadar protein. Prosedur analisa proksimat sampel jarak pagar disajikan pada Lampiran 1.

b. Ekstraksi Senyawa Aktif

Proses ekstraksi dilakukan dengan dua metode ekstraksi yaitu sokhlet (mewakili metode ekstraksi panas) dan maserasi (mewakili metode ekstraksi dingin). Metode ekstraksi soxhlet dilakukan dengan cara menimbang ± 40-45 gram serbuk sampel kering lalu memasukkannya ke dalam selongsong yang terbuat dari kertas saring. Selongsong kemudian dimasukkan ke dalam alat ekstraksi soxhlet dan diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% yang telah didestilasi sebelumnya. Proses ekstraksi dilakukan hingga terjadi refluks sebanyak sepuluh kali. Waktu yang dibutuhkan untuk satu kali refluks mencapai 50-60 menit. Esktrak yang diperoleh kemudian disaring dengan kertas saring Whatman 41 dengan bantuan pompa vakum, lalu dipisahkan dari pelarut (dipekatkan) dengan menggunakan vacuum rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak yang didapat kemudian dikeringkan dengan pengering beku (freeze dryer) hingga didapat ekstrak kasar kering.

Adapun metode maserasi dilakukan dengan cara menimbang serbuk sampel kering sebanyak 120 gram lalu diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% (3 x 240 ml) yang telah didestilasi sebelumnya. Serbuk sampel kering yang telah ditimbang direndam dalam

jarak pagar

Analisis sabun (bagian tak larut dalam alkohol, pH, stabilitas busa, aktivitas antioksidan) serta uji kesukaan (warna dan aroma) oleh

dengan cara dikeringanginkan dalam ruangan ber-AC hingga pelarut menguap dan ekstrak megering (tanpa menggunakan panas sama sekali). Ekstrak kering kemudian dikerik dan dikemas dalam kemasan plastik, lalu disimpan di dalam freezer sebelum digunakan sebagai bahan analisis.

c. Proses Fraksinasi

Proses fraksinasi kasar yang dilakukan mengacu pada metode Windarwati (2011) yaitu proses partisi menggunakan pelarut etanol-air (2:3), heksan dan etil asetat. Ekstrak kasar dilarutkan dalam pelarut Sebanyak 50 gram ekstrak kasar dilarutkan dalam 500 ml pelarut campuran etanol air. Larutan selanjutnya dipartisi dengan menambahkan 1000 ml pelarut n-heksan, dikocok dalam labu pemisah dan didiamkan selama 30-60 menit hingga terdapat dua lapisan (lapisan etanol air di bagian bawah dan lapisan n-heksan di bagian atas). Kedua lapisan yang terbentuk kemudian dipisahkan. Proses penambahan heksan pada lapisan atas etanol air diulangi tiga kali. Lapisan heksan yang terbentuk selama tiga kali penambahan digabungkan menjadi satu dan disebut sebagai fraksi heksan.

Lapisan etanol air sisa dari proses partisi heksan kemudian dipartisi lebih lanjut dengan etil asetat. Proses yang terjadi sama dengan proses partisi dengan pelarut heksan hanya saja pelarut heksan digantikan dengan etil asetat. Sebanyak 1000 ml pelarut etil asetat ditambahkan dalam lapisan etanol air, dikocok dalam labu pemisah dan didiamkan selama 30-60 menit hingga terdapat dua lapisan (lapisan etanol air di bagian bawah dan lapisan etil asetat di bagian atas). Kedua lapisan yang terbentuk kemudian dipisahkan. Proses penambahan etil asetat pada lapisan atas etanol air diulangi tiga kali. Lapisan etil asetat yang terbentuk selama tiga kali penambahan digabungkan menjadi satu dan disebut sebagai fraksi etil asetat. Adapun lapisan etanol air disebut sebagai fraksi etanol air.

Fraksi etil asetat dan fraksi etanol air adalah fraksi yang diinginkan pada penelitian ini. Oleh karena itu, kedua fraksi ini harus diproses lebih lanjut. Fraksi etil asetat dan fraksi etanol air yang diperoleh selanjutnya dipisahkan dari pelarutnya (dipekatkan) menggunakan vacuum rotary evaporator pada suhu 500C hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental tersebut kemudian dikeringkan menggunakan pengering beku (freeze dryer) hingga diperoleh fraksi ekstrak. Perhitungan rendemen proses ekstraksi dan fraksi ekstrak terhadap bobot serbuk kering yang digunakan adalah sebagai berikut:

% %

% %

d. Analisis Ekstrak dan Fraksi Ekstrak

Ekstrak kasar, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air yang dihasilkan selanjutnya dianalisa kandungan total fenol dengan metode Folin-Ciocalteu, aktivitas antioksidan dengan metode perendaman DPPH, aktivitas antimikroba dengan metode difusi sumur atau disc diffusion, dan diidentifikasi komposisi senyawa kimianya dengan metode GC-MS.

e. Uji Total Fenol

Sebanyak 0.1 ml cairan ekstrak dalam metanol (konsentrasi 1 mg ekstrak/ml) diencerkan menjadi 1 ml dengan aquadest. Ke dalam larutan tersebut dimasukkan 0.5 ml reagen Folin Ciocalteu yang diikuti dengan penambahan 2 ml larutan Na2CO3 7.5%. Cairan

kemudian divortex dan dibiarkan (diinkubasi) selama 30 menit pada suhu 400C. Absorbansi sampel diukur pada panjang gelombang 760 nm. Absorbansi yang terbaca merupakan nilai y yang dimasukkan ke dalam persamaan garis yang didapat dari pembuatan kurva standar asam tanat pada konsentrasi 25-125 mg/L. Dengan demikian akan diperoleh kandungan total fenol (nilai x) sampel yang dinyatakan sebagai mg ekuivalen asam tanat/g sampel ekstrak. Perhitungan total fenol adalah sebagai berikut:

.

f. Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode Efek Perendaman terhadap Radikal Bebas DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazil) (Liyana dan Shahidi, 2005)

Prinsip pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH adalah ketika larutan DPPH bercampur dengan senyawa yang dapat mendonorkan atom hidrogen (zatn antioksidan), maka DPPH akan tereduksi dan akan kehilangan warna ungunya. Sebanyak 2 ml DPPH 0.136 mM dalam metanol dicampurkan dengan 2 ml ekstrak dalam metanol yang terdiri dari konsentrasi 4, 6, 8, 10, 12, 16, dan 20 ppm. Setelah itu cairan disimpan di ruang gelap pada suhu ruang selama 30 menit, kemudian absorbansi diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 517 nm. Vitamin C digunakan sebagai pembanding. Sebagai kontrol, disiapkan metanol sebanyak 4 ml tanpa penambahan ekstrak dan ditetapkan sebagai 0% absorban. Kapasitas antioksidan ( persen penghambatan) dapat dihitung dengan rumus berikut:

% %

g. Uji Aktivitas Penghambatan Mikroba

Aktivitas penghambatan mikroba dianalisa dengan metode difusi sumur. Pada metode ini kultur uji berupa Candida albicans, Microsporum gypseum, dan Pseudomonas aeruginosa yang akan digunakan disegarkan terlebih dahulu dengan cara diambil satu ose, lalu ditumbuhkan pada media pertumbuhan PDB 10 ml untuk golongan khamir dan kapang serta ditumbuhkan pada media NB 10 ml untuk bakteri. Kultur Candida albicans dan Pseudomonas aeruginosa lalu diinkubasi pada suhu 300C selama 24 jam sementara itu kultur Microsporum gypseum diinkubasi pada suhu 300C selama 48-72 jam.

Pada metode difusi sumur, dari kultur yang telah disegarkan, sebanyak 0.25 ml Candida albicans diambil dan dimasukkan ke dalam media agar 25 ml yang kemudian dituangkan ke dalam cawan petri steril. Media agar untuk kapang dan khamir adalah PDA sedangkan media agar untuk bakteri adalah NA. Agar dibiarkan membeku. Setelah beku dibuat lubang atau sumur menggunakan alat pembuat sumur berdiameter 1 cm (10 mm). Teteskan fraksi uji dan jaga, jangan sampai fraksi tersebut keluar lubang. Inkubasikan pada

dahulu dalam cawan petri dan dibiarkan mengeras. Setelah itu biakan cair mikroorganisme dituang di atas agar dan diratakan. Kemudian barulah dibuat sumur dan fraksi uji diteteskan.

Adapun pada metode disc diffusion, kertas cakram yang terbuat dari Whatman 42 berdiameter 6 mm dicelupkan ke dalam larutan ekstrak 1%, 2%, dan 3%. Kertas ini selanjutnya diletakkan di atas agar cawan yang telah diinokulasikan mikroorganisme Pseudomonas aeruginosa dengan metode tuang. Inkubasikan agar pada suhu 370C selama 24 jam.

Amati penghambatan pertumbuhan mikroba yang terjadi dan ukur zona penghambatan yang terbentuk yang ditandai dengan tidak terdapatnya pertumbuhan mikroba di sekeliling sumur. Tentukan jenis mikroba yang mampu mengalami penghambatan paling tinggi dan ekstrak atau fraksi ekstrak mana yang memberikan penghambatan paling tinggi tersebut.

h. Identifikasi Senyawa Kimia dengan GC-MS

Identifikasi senyawa kimia dalam ekstrak terpilih dilakukan menggunakan GC-MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometry) Agilent 19091S-433. Analisis dilakukan di Puslabfor Mabes Polri Jakarta. Sejumlah kecil ekstrak dilarutkan dalam pelarut yang digunakan saat pembuatan ekstrak. Bila masih terdapat ekstrak yang tidak larut maka dilakukan proses sentrifugasi. Larutan ekstrak kemudian diambil dengan jarum inject khusus lalu disuntikan ke dalam alat GC-MS. Metode yang digunakan pada analisis ini adalam metode umum dengan suhu inlet untuk ekstrak soxhlet 1000C dan 400C untuk ekstrak maserasi.

i. Penambahan Fraksi Ekstrak Terpilih pada Sabun Batang Transparan

Penambahan fraksi ekstrak terpilih pada sabun batang transparan dilakukan dengan cara melelehkan sabun transparan komersial tanpa penambahan BHT pada suhu 600C. Kemudian ekstrak/fraksi ekstrak terpilih ditambahkan pada suhu 650C dan diaduk menggunakan stirrer selama 5-7 menit. Sabun kemudian dicetak dalam wadah. Penambahan ekstrak dilakukan pada tiga tingkat konsentrasi yaitu 0.2 gram, 0.4 gram, dan 0.8 gram pada tiap batch proses yang berisi 300 gram sabun.

Sabun yang telah jadi kemudian didiamkan selama 1-2 hari. Penyimpanan sabun dilakukan pada kondisi suhu 500C selama 3 hari untuk kemudian dianalisis. Parameter yang diukur setelah 3 hari penyimpanan adalah pH, aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, stabilitas busa, bagian tak larut dalam alkohol, serta uji organoleptik (kesukaan terhadap aroma dan warna). Sementara itu, parameter yang diukur setiap harinya adalah pH dan aktivitas antioksidan. Prosedur analisa sabun disajikan pada Lampiran 2.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

EKSTRAKSI DAN FRAKSINASI SENYAWA AKTIF

Senyawa aktif yang terkandung pada tanaman atau bahan alam dapat kita peroleh melalui proses ekstraksi. Ekstraksi yaitu proses pemisahan komponen tertentu dari suatu bahan sehingga didapatkan zat yang terpisah baik secara fisik maupun kimiawi. Sebelum dimulai proses ekstraksi, bahan baku berupa daun dan ranting jarak pagar (Jatropha curcas Linn) mengalami beberapa perlakuan pendahuluan berupa pengecilan ukuran dan pengeringan hingga diperoleh serbuk (simplisia) yang siap untuk diekstraksi.

Penghalusan atau pengecilan ukuran akan menyebabkan rusaknya sel tanaman sehingga senyawa aktif yang terkadung di dalamnya akan dengan mudah larut saat kontak dengan pelarut yang dikenal dengan istilah pencucian oleh pelarut. Semakin halus ukuran simplisia maka semakin optimal jalannya proses pencucian tersebut. Selain itu, ukuran partikel yang lebih halus juga menyebabkan luas permukaan bahan menjadi semakin luas sehingga semakin besar kontak yang terjadi antara bahan dan pelarut yang menyebabkab proses ekstraksi menjadi lebih optimal. Gambar 7 memperlihatkan gambar campuran serbuk daun dan ranting jarak pagar sebelum dan sesudah proses ekstraksi.

Gambar 7. Campuran serbuk daun dan ranting jarak pagar sebelum (A) dan setelah (B) proses ekstraksi

Bahan yang sudah halus dan menjadi serbuk siap untuk mengalami proses ekstraksi. Sebelum dilakukan proses ekstraksi, dilakukan analisis terhadap kadar air, abu, lemak dan protein untuk mengetahui komposisi kimia bahan baku yang digunakan. Hasil analisis terhadap kadar air, abu, lemak dan protein daun dan ranting jarak pagar kering dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil analisis kadar air, abu, lemak, dan protein serbuk daun dan ranting Jatropha curcas Linn kering

A

Komponen Nilai (%) Air 10.44 Abu 8.16 Lemak 5.46 Protein 11.86

Kadar air merupakan salah satu karakteristik bahan baku yang penting untuk diketahui karena akan mempengaruhi mutu hasil ekstraksi. Setyowati (2009) menyatakan bahwa dalam proses ekstraksi, maksimum kadar air yang disyaratkan agar proses ekstraksi dapat berjalan

dipersyaratkan sehingga masih layak digunakan sebagai bahan baku proses ekstraksi. Adapun bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Windarwati (2011), kadar air sampel pada penelitian ini bernilai sedikit lebih tinggi. Kadar air serbuk daun dan ranting jarak pagar pada penelitian Windarwati (2011) bernilai 9.58%.

Komponen lainnya yang diukur dari sampel bahan adalah kadar abu. Analisis kadar abu dilakukan untuk mengetahui kandungan mineral sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar abu sampel bernilai 8.16%. Nilai ini lebih rendah bila dibandingkan dengan penelitian Windarwati (2011) dimana nilai kadar abu sampel adalah 13.74%. Begitupula hal nya bila dibandingkan dengan penelitian Nurmillah (2009) dimana kadar abu sampel daun dan ranting jarak pagar yang ia teliti bernilai 10.58%. Tinggi rendahnya kadar abu dipengaruhi oleh habitat dimana tanaman jarak pagar tersebut tumbuh. Bahan baku jarak pagar pada penelitian ini diperoleh dari kebun Lewikopo IPB dimana kondisi lahannya tidak terlalu berkapur. Sementara itu, bahan baku jarak pagar pada penelitian Windarwati (2011) dan Nurmillah (2009) berasal dari kebun jarak pagar PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk yang memiliki kondisi lahan berkapur sehingga kandungan mineral seperti Fe, Mg, Ca, Zn, K, Si, Al, dan mineral lainnya cukup tinggi.

Setelah pengukuran kadar abu, dilakukan pengukuran kadar lemak. Menurut Lehninger (1982), lemak merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air dan dapat diekstrak dari suatu bahan dengan menggunakan pelarut non polar seperti kloroform dan eter. Lemak merupakan bahan bakar utama bagi hampir semua organisme. Hasil pengujian kadar lemak menunjukkan bahwa sampel mengandung lemak sebesar 5.46% bk. Nilai ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai kadar lemak daun dan ranting jarak pagar pada penelitian Windarwati (2011) yaitu sebesar 12.47%.

Komponen terakhir yang diukur adalah kadar protein. Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak ataupun karbohidrat. Pengukuran yang dilakukan menunjukkan bahwa kadar protein sampel bernilai 11.86%.

Setelah penentuan kadar air, abu, lemak, dan protein selesai, dilakukan proses ekstraksi serbuk daun dan ranting Jatropha curcas Linn menggunakan pelarut etanol teknis 96% yang telah mengalami proses destilasi terlebih dahulu. Pemilihan etanol sebagai pelarut pada proses ekstraksi didasarkan pada sifatnya yang merupakan pelarut universal sehingga dapat melarutkan hampir semua senyawa. Penggunaan etanol juga didasarkan oleh keunggulannya sebagai pelarut zat bioaktif. Menurut Voight (1994), pelarut etanol tidak bersifat toksik, tidak menyebabkan pembengkakan membran sel, dan mampu mengendapkan albumin serta menghambat kerja enzim. Etanol juga efektif menghasikan bahan aktif yang optimal karena hanya terdapat sedikit kehilangan (loss) produk yang larut dalam pelarut.

Pada penelitian ini, metode ekstraksi yang dipilih yaitu metode ekstraksi soxhlet dan maserasi. Metode ekstraksi soxhlet dipilih untuk mewakili ekstraksi dengan cara panas (hot extraction). Umumnya ekstraksi dengan cara panas akan menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara dingin karena semakin tinggi suhu maka daya larut bahan yang diekstrak akan semakin tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nurmillah (2009), ekstraksi daun dan ranting jarak pagar dengan pelarut metanol menggunakan metode soxhletasi menghasilkan rendemen sebesar 9.75%. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Windarwati (2011) menunjukkan nilai rendemen yang lebih rendah yaitu 5.08%. Rendemen ini diperoleh setelah melakukan ekstraksi daun dan ranting jarak pagar dengan pelarut metanol menggunakan cara ekstraksi dingin yaitu maserasi.

Penelitian terhadap bahan lain seperti tembakau yang dilakukan oleh Stanisavlejic et al. (2009) juga menunjukkan hasil yang sama. Stanisavlejic et al. (2009) mengemukakan bahwa proses ekstraksi benih tembakau dengan metode soxhletasi menghasilkan rendemen tertinggi (31.1 g/100 g) dibandingkan dengan metode maserasi (19.9 g/100 g) dan ultrasonifikasi langsung (21.0 g/100 g). Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari segi pertimbangan rendemen yang akan diperoleh, metode soxhlet lebih baik dibandingkan metode maserasi.

Sedangkan dari segi senyawa bioaktif yang akan diperoleh, penelitian Gunawan et al. (2008) mengenai ekstraksi herba meniran menunjukkan bahwa daya hambat fraksi n–heksana hasil maserasi adalah 1 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 0,5 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus, sedangkan daya hambat fraksi n–heksana hasil soxhletasi yaitu 10 mm terhadap bakteri Escherichia coli dan 12 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Hasil tersebut menunjukkan bahwa senyawa yang diperoleh dari proses ekstraksi soxhlet memiliki daya hambat yang jauh lebih tinggi dibandingkan senyawa yang di dapat dari metode maserasi. Hal ini mengindikasikan bahwa proses ekstraksi soxhlet lebih bisa menarik senyawa bioaktif yang memiliki efek antimikroba. Dengan demikian, metode soxhlet merupakan rekomendasi terbaik utnuk mengekstrak sampel bahan pada penelitian ini dengan harapan diperoleh rendemen dan senyawa bioaktif yang tinggi.

Selain metode ekstraksi soxhlet, pada penelitian ini juga dilakukan ekstraksi dengan metode maserasi untuk mewakili cara dingin. Metode maserasi dilakukan untuk mengetahui pengaruh panas pada saat proses ekstraksi terhadap kualitas ekstrak yang dihasilkan. Metode maserasi pada penelitian ini dilakukan dengan cara merendam bahan di dalam pelarut dengan perbandingan 1:2 b/v selama 24 jam. Setelah 24 jam, pelarut yang telah berisi senyawa-senyawa yang berhasil diekstrak dipisahkan dan diganti dengan pelarut baru sebanyak tiga kali penambahan.

Ekstraksi lainnya yang dilakukan pada penelitian ini adalah ekstraksi cair-cair (partisi pelarut) atau proses fraksinasi yang juga bertujuan untuk mendapatkan bahan uji berdasarkan tingkat kepolarannya. Proses fraksinasi ini dilakukan terhadap hasil ekstraksi soxhlet (ekstrak kasar soxhlet) dengan menggunakan pelarut etanol air, etil asetat dan heksan. Hasil yang diperoleh selanjtnya disebut sebagai fraksi etanol air dan fraksi etil asetat.

Rendemen ketiga bahan uji berupa ekstrak kasar, fraksi etanol air, dan fraksi etil asetat hasil metode ekstraksi soxhlet setelah freeze dryer terhadap berat sampel kering yang diekstraksi disajikan pada Tabel 2. Adapun ekstrak kasar yang diperoleh dari hasil ekstraksi dengan metode maserasi tidak diukur rendemennya karena hanya ingin dilihat pengaruh panasnya saja.

Tabel 2. Rendemen (bb) ekstrak kasar soxhlet, fraksi etanol air, dan fraksi etil asetat terhadap simplisia uji

Jenis Zat Rendemen (%) Ekstrak Kasar 12.879 Fraksi Etanol-Air 2.956 Fraksi Etil Asetat 2.605

Bila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Windarwati (2011) yang menggunakan metode ekstraksi maserasi, rendemen ekstrak kasar daun dan ranting jarak pagar pada penelitian kali ini lebih tinggi yaitu 12.879% dibandingkan dengan 5.08 %. Perbedaan ini diduga disebabkan oleh perbedaan metode ekstraksi yang digunakan. Penampakan dari ketiga

(a) (b) (c) Gambar 8. a) Ekstrak kasar; b) Fraksi etanol air; c) Fraksi etil asetat.

B.

KOMPOSISI SENYAWA EKSTRAK/FRAKSI EKSTRAK DAUN DAN

RANTING JARAK PAGAR

Kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) adalah metode yang mengkombinasikan kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi senyawa yang berbeda dalam analisis sampel. GC-MS terdiri dari dua blok bangunan utama yaitu kromatografi gas dan spektrometer massa. Kromatografi gas menggunakan kolom kapiler yang tergantung pada dimensi kolom (panjang, diameter, ketebalan film) serta sifat fase. Perbedaan sifat kimia antara molekul-molekul yang berbeda dalam suatu campuran dipisahkan dari molekul dengan melewatkan sampel sepanjang kolom. Molekul-molekul memerlukan jumlah waktu yang berbeda (disebut waktu retensi/retention time) untuk keluar dari kromatografi gas. Hal ini memungkinkan spektrometer massa untuk menangkap, mengionisasi, mempercepat, membelokkan, dan mendeteksi molekul terionisasi secara terpisah. Spektrometer massa melakukan hal ini dengan memecah masing-masing molekul menjadi ion dan mendeteksi fragmen ion menggunakan massa untuk memperoleh rasio (Anonim 2009).

Hasil analisis GC-MS yang dilakukan di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes

Dokumen terkait