• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Kegunaan Penelitian 1.Teoretis 1.Teoretis

4. Metode Penelitian 1. Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas menurut (Basrowi 2008:1-2) merupakan salah satu upaya guru atau prakitisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran dikelas. Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang langsung berhubungan

dengan tugas guru dilapangan. Jadi, penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan dikelas dan bertujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran yang ada, meningkatkan kualitas proses belajar mengajar guru sehingga mampu menghasilkan anak didik yang berprestasi (Suwandi, 2008:25).

Gambar 1: Riset Aksi Model John Elliot Sumber : Belajar Bersama Penelitian Aksi 2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah anak didik kelompok A di Roudhatul Alhfal Masyithoh nglondong kecamatan parakan kabupaten temanggung tahun pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 20 anak yang terdiri 9 laki-laki dan 11 perempuan. Penelitian memilih kelompok A karena pada kelas tersebut berhitung sangat diprioritaskan sejak dini untuk memudahkan anak

untuk belajar di tahap yang lebih tinggi untuk itu peneliti mencoba mencari suatu solusi yang dapat memecahkan masalah tersebut dengan berhitung dengan balok .

3. Langkah-Langkah Penelitian

Menurut Yanto (2013:40) tahap-tahap dalam penelitian tindakan kelas terdiri dari 4 tahapan penting, yaitu :

a. Perencanaan

1) Membuat konsep atau skenario pembelajaran dengan penerapan berhitung dengan balok angka yaitu membuat (RKH) Rencana Kegiatan Harian.

2) Membuat susunan dengan menggunakan balok angka.

3) Menyiapkan lembar tes buatan peneliti atau lembar penugasan, yang mana hasil penugasan dari anak didik tersebut akan diberi nilai dan dijadikan data untuk dianalisis lebih lanjut.

4) Membuat pedoman observasi b. Tindakan

Merupakan pelaksanaan yang telah dibuat yang berupa penerapan metode berhitung dengan balok angka sesuai dengan pembelajaran yang tertulis pada (RKH) Rencana Kegiatan Harian pada tahun perencanaan.

c. Tahap pengamatan

Pada tahap ini segala aktivitas anak didik dalam proses pembelajaran diamati, dicatat dan dinilai, kemudian dianalisis untuk dijadikan umpan baik. Pengamatan tersebut meliputi beberapa indikator yang telah ditentukan penulisan secara terlampir.

d. Tahapan Refleksi

Untuk mengetahui ketercapaian dan keberhasilan tujuan penelitian, tahap refleksi meliputi :

1) Mencatat hasil observasi dan pelaksanaan pembelajaran.

2) Evaluasi hasil observasi.

3) Analisis hasil pembelajaran, memperbaiki kelemahan siklus I untuk dilakukan perbaikan pada siklus II.

4. Instrumen Penelitian

Instrument pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas adalah :

a. Rencana Kegiatan Harian (RKH), yaitu seperangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam mengajar dan menyusun untuk tiap putaran. Masing –masing RKH berisi tentang tingkat pencapaian perkembangan, indicator, kegiatan pembelajaran, alat dan sumber belajar, hasil penelitian.

b. Tes buatan peneliti, yaitu berupa penugasan menyusun balok sambil berhitung susunan balok yang dilakukan oleh anak, tes pembuatan tersebut untuk mendapatkan data kuaaltatif berupa nilai.

c. Lembar Observasi, yaitu lembar yang digunakan untuk mengamati anak didik selama proses pembelajran berlangsung secara bersamaan, yaitu anak didik tidak diperintahkan untuk melkukan tugas dengan perintah guru dalam menyusun balok.

e. Pengumpulan Data

Ada sejumlah metode pengumpulan data yang dapat digunakan, akan tetapi tidak semua strategi cocok untuk semua jenis data. Oleh karena itu peneliti harus memilih metode yang tepat. Adapun metode yang digunakan peneliti antara lain, yaitu :

a. Tes

Tes Tanya jawab digunakan peneliti untuk mengukur hasil belajar siswa. Jenis tes yang digunakan adalah tes lisan dan lembar soal. b. Observasi

Observasi dilakukan untuk mengenal, merekam dan mendokumentasikan segala hal yang berkaitan dengan hasil dari proses pelaksanaan tindakan. Fungsinya adalah untuk mengetahui apakah tindakan yang dilakukan sudah mengarah pada terjadinya perubahan kearah positif dalam kelompok A.

c. Dokumentasi

Cara lain memperoleh data dari penelitian adalah menggunakan teknik dokumentasi. Pada teknik ini, dimungkinkan peneliti memperoleh informasi dari berbagai macam sumber tertulis, dimana anak didik melakukan kegiatan sehari-harinya. Strategi ini menurut Sukardi (2009: 81) untuk mendapatkan gambaran umum sekolah, keadaan guru, keadaan sarana prasarana dan keadaan siswa.

f. Analisis data

Analisis data adalah untuk mendeskripsikan sebuah data sehingga bisa dipahami, dan juga untuk membuat kesimpulan. Data telah terkumpul lalu diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Utuk mengetahui prosentase kemampuan berhitung maka data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dalam penelitian penulisan menggunakan penelitian dengan kode yaitu: BB (Belum Muncul), MM (Mulai Muncul), BSH (Berkembangn Sesuai Harapan, BSB (Berkembang Sangat Baik).

Rumusan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kemampuan berhitung anak sebagai berikut (Purwanto, 2006:102)

Nilai yang diharapkan= skor mentah yang diharapkan skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan

4 (empat) tingkatan data di interpresentasikan sebagai berikut: a. Kriteria Belum Muncul yaitu 0 % - 29 %

b. Kriteria Mulai Muncul yaitu 30 % - 59 %

c. Kriteria Berkembang Sesuai Harapan 60 % - 79 % d. Kriteria Berkembang Sangat Baik 80 % - 100 % 5. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan serta memperjelas penulisan dan pembaca maka penulisan skripsi membuat sistematika sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan ini berisi ,latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis tindakan ,kegunaan penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : Kajian pustaka ini membahas kemampuan berhitung pada anak, pengertian alat permainan edukatif, pengertian alat permainan edukatif balok angka.

BAB III : Pelaksanaan Penelitian ini berisi tentang gambaran umum lokasi, subyek penelitian, penyajian data, dan diskripsi pelaksanaan siklus. BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan.

BAB VI : Penutup, berisi kesimpulan dan saran. Bagian akhir dari skripsi ini terdiri dari daftar pustaka. lampikan-lampiran dan riwayat hidup penulis.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat Berhitung Permulaan

1. Pengertian Berhitung

Kemampuan berhitung permulaan ialah kemampuan yang dimiliki setiap anak untuk mengembangkan kemampuannya, karakteristik perkembangannya dimulai dari lingkungan yang terdekat dengan dirinya, sejalan dengan perkembangan

kemampuannya anak dapat meningkat ketahap pengertian mengenai jumlah, yaitu berhubungan dengan jumlah dan pengurangan.

Kemampuan anak prasekolah dalam fase-fase perkembangannya perlu diimbangi oleh berbagai faktor, yaitun intern dan ekstern anak ini, di antaranya faktor intern yang berupa inteligensi, karena inteligensi sangat penting dalam proses belajar mengajar, peranan inteligensi dapat menentukan pertumbuhan kecerdasan seseorang. Kemampuan yang berkembang dalam perkembangan intelegensi adalah kemampuan matematis dan kemampuan bahasa. Kemampuan matematis menuju ke arah

berbicara, menulis, membaca dan mendengarkan, kemampuan matematis dan kemampuan bahasa kedua kemampuan tersebut harus berjalan secara beriringan dan berkesinambungan (Suharsono, 2002: 79).

Pentingnya kemampuan berhitung bagi manusia, maka kemampuan berhitung ini perlu diajarkan sejak dini, dengan berbagai media dan metode yang tepat jangan sampai dapat merusak pola perkembangan anak. Apabila anak belajar matematika melalu cara yang sederhana dengan suasana yang kondusif dan menyenangkan, maka otak anak akan terus berlatih dan berkembang bahkan anak dapat menyenangi

pelajaran matematika.

2. Tahapan dan Prinsip Kemampuan Berhitung

Berbagai cara dapat dilakukan oleh guru dan orang tua untuk mengembangkan atau meningkatkan kemampuan berhitung permulaan, kemampuan berhitung merupakan kemampuan untuk mengunakan ketrampilan berhitung. Tahapan yang dapat

dilakukan untuk membantu mempercepat penguasaan berhitung melalui jalur matematika ,misalnya: tahap penguasaan konsep, tahap transisi, dan tahap pengenalan lambing (Depdiknas, 2000: 7-8).

Pertama, tahap penguasaan konsep, dimulai dengan mengenalkan konsep atau pengertian tentang sesuatu dengan konsep atau pengertian tentang sesuatu dengan menggunakan benda-benda yang nyata, seperti pengenalan warna ,bentuk,dan menghitung bilangan.

Kedua, tahap transisi, merupakan peralihan dari pemahaman secara konkret dengan menggunakan benda-benda nyata menuju kearah pemahaman secara abstrak. Adapun ketiga, tahap pengenalan lambing,

adalah di mana setelah memahami sesuatu secara abstrak, maka anak dapat

dikenalkan pada tingkat penguasaan terhadap konsep bilangan dengan cara meminta anak melakukan proses penjumlahan dan pengurangan melalui penyelesaian soal.

Konsep pengurangan dan penjumlahan dapat dilakukan dengan menggunakan permaian yang disesuaikan dengan kemampuan anak, dan melibatkan kreativitas guru atau pembimbing dalam minikatkan permainan agar hasil dari permainan ini sesuai dengan yang diharpkan.

Tahapan bermain hitung atau matematika atau anak usia dini, dengan mengacu pada hasil penelitian (Jean Piaget, 2014:12) tentang intelektual, yang menyatakan bahwa anak usia 2-7 tahun berada pada tahap pra operasional, maka penguasaan kegiatan berhitung / matematika pada anak usia taman kanak-kanak akan melalui tahapan sebagai berikut:

a. Tahap kosep/pengertian

Pada tahap ini anak berekspresi untuk menghitung segala macam benda- benda yang dapat dihitung dan yang dapat dilihatnya. Kegiatan menghitung –hitung ini harus dilakukan dengan memikat,sehingga benar-benar dipahami oleh anak. Pada tahap ini guru atau orang tua harus dapat memberikan pembelajaran yang menarik dan

b. Tahap transmisi/peralihan

Tahap transmisi merupakan masa peralihan dari konkret kelambang, tahap ini ialah saat anak mulai benar-benar memahami. Untuk itulah maka tahap ini diberikan apabila tahap konsep sudah dikuasai anak dengan baik, yaitu saat anak mampu menghitung yang terdapat kesesuaian antara benda yang dihitung dan bilangan yang disebutkan.

c. Tahap lambang

Kegiatan di mana anak sudah diberi kesempatan menulis sendiri tahap paksaan, yakin berupa lambang bilangan, bentuk-bentuk, dan sebagainya jalur-jalur dalam mengenalkan kegiatan berhitung atau matematika.

Selanjutnya Gagne (1977:16), menyatakan sembilan tahapan pengelolaan yang esensial dalam belajar yang disebut fase belajar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: a) persiapan untuk belajar; b) perolehan dan perbuatan, dan c) alih belajar. Fase belajar ini penting diperhatikan yang selalu ada dalam proses belajar yang diterapkan secara lainan dalam kondisi belajar. Tahapan informasi dalam belajar yang diterapkan Gagne selalu ada dalam proses belajar dan sangat penting untuk diperhatikan dalam pembelajaran yang sedang berlangsung.

Prinsip-prinsip dalam berhitung permulaan untuk mengembangkan kemampuan berhitung permulaan pada anak dikenalkan melalui permainan berhitung, dikenal ada

beberapa prinsip mendasar yang perlu dipahami dalam menerapkan permainan berhitung, yaitu: (1) dimulai dari menghitung benda; (2) berhitung dari yang lebih mudah ke yang lebih sulit; (3) anak berpartisipasi aktif dan adanya rangsangan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri; (4) suasana yang menyenangkan; (5) bahasa yang sederhana dan menggunakan contoh – contoh; (6) anka dikelompokkan sesuai dengan tahapan berhitungny, (7) evaluasi dari mulai awal sampai akhir kegiatan. Prinsip-prinsip berhitung ini penting diperhatikan agar anak dapat dengan mudah memahami konsep berhitung dengan baik. Anak akan menyenangi kegiatan berhitung menjadi lebih bermakna (Depdiknas, 2000:8).

Prinsip-prinsip tersebut dapat dikemukakan bahwa pelajaran berhitung bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi merupakan pelajaran yang disenangi dinilai dari hati

nuraninya sehingga anak akan merasa membutuhkan karena mengasyikkan dan cara mengajarkan nya pun harus tepat.

3. Metode Pengembangan Kemampuan Berhitung

Pengembangan kemampuan berhitung permulaan pada anak dapat dilakukan dengan beberapa metode. Metode yang dikembangkan dalam mengenalkan dan

mengembangkan kemampuan berhitung permulaan misalnya: adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, demonstrasi, eksperimen, bermain, atau pemberian tugas.

Menurut (Renew,2002:1) metode yang perlu diterapkan dalam mengembangkan kemampuan berhitung permulaan pada anak dilakukan dengan permainan–permainan yang menyenagkan, suasana belajar yang menggembirakan dan bagaimana anak tertarik untuk belajar. Suasana yang nyaman dan menyenangkan, dapat membuat anak akan belajar angka dengan cara yang kreatif dalam suatu permainan

berdasarkan tahap-tahap tertentu.

Metode yang digunakan dapat menumbuhkan kemampuan berpikir anak serta mampu memecahkan masalah. Gordon & Browne dalam Moeslichatoen (Depdiknass, 2000: 8-9) mengemukakan tiga macam pola kegiatan yang dapat dilakukan agar tujuan dari metode yang diterapkan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tiga macam pola kegiatan tersebut adalah:

a. Kegiatan dengan pengarahan langsung dari guru

b. Kegiatan berpola semi kreatif

c. Kegiatan berpola kreatif

Kegiatan dengan pengarahan oleh guru yaitu kondisi dan kegiatannya berada dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan berpola semi kreatif, yaitu guru memberi kebebasan kepada anak untuk membuat sesuatu dan kegiatan berupa kreatif, dengan cara menghadapkan anak pada berbagai masalah yang harus dipecahkan. Pola ini

disesuaikan dengan usia dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak agar metode tersebut dapat terlaksana dengan baik.

Untuk memperoleh hasil berlajar yang optimal, penerapan metode pembelajaran ini dapat dikombinasikan dengan metode lainnya, Metode yang dimaksud di antaranya: pemberian tugas, demonstrasi, tanya jawab, mengucapkan syair, percobaan atau eksperimen, bercakap- cakap, bercerita, praktik langsung. Metode - metode ini dapat dipilih kemudian dikombinasikan dengan metode lainnya disesuaikan dengan

kebutuhan dan kemampuan anak pada saat itu di beri pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik dan lingkungan yang dapat mempengaruhi kelancaran proses pembelajaran berlangsung.

Metode yang dipilih disesuaikan dengan tahapan dan prinsip perkembangan berhitung pada anak, metode yang dikombinasikan dengan media dan bentuk kegiatan yang akan dilakukan, seperti dengan permainan balok angka untuk mengenalkan konsep perjumlahan dan pengurangan.

4. Program Pengembangan Kemampuan Berhitung

Kemampuan berhitung permulaan pada kelompok A mengacu pada kurikulum 2004 standar Kompetensi TK/RA. Program pengembangan berhitung permulaan menurut Depdiknas tahun 2004, dapat digambarkan pada table berikut ini :

Tabel 1.1 Kurikulum 2014 Standar Kompetensi TK/RA KOMPETENS I DASAR HASIL

Dokumen terkait