Rancangan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan R&D, yaitu sebuah proses penelitian untuk mengembangkan dan memvalidasi produk (Borg & Gall, 1989). Yusuf (2013) menjelaskan kegiatan penelitian pengembangan dilakukan dengan maksud (1) mengembangkan produk baru, dan (2) menemukan serta menciptakan ilmu pengetahuan baru tentang model, termasuk hal-hal yang ramai dibicarakan.
Peneliti ini menggunakan pola pengembangan ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation) yang dikembangkan oleh Reiser & Mollenda (2003).Pemilihan pola ADDIE di atas, didasarkan pada pertimbangan bahwa pola tersebuit selain sesuai dengan tujuan penelitian, juga memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pola pengembangan lainnya. Kelebihan yang dimaksud adalah: a) diagram pengembangan yang mencerminkan keluwesan dan kedinamisan dalam memulai pengembangan, b) saling keterkaitan antara unsur atau langkah pengembangan, c) setiap unsur model diberikan peluang untuk dievaluasi dan direvisi sebelum melanjutkan proses pengembangan unsur berikutnya, d) lebih praktis dan sistematis, e) langkah kerja lebih operasional.
2. Prosedur Pengembangan Model
Prosedur pengembangan model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT, mengacu pada pola “ADDIE”, seperti yang dijelaskan dengan rinci sebagai berikut:
a. Prosedur Pertama: Analisa (Analyze)
Prosedur atau langkah pertama ini bertujuan menemukan permasalahan yang menunjukkan diperlukannya pengembangan model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT..
b. Prosedur Kedua: Mendesain Model (Design)
Tujuan langkah kedua ini, adalah menyusun pengembangan model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT ke dalam buku panduan dan pendamping menggunakan data awal penelitian.
c. Prosedur ketiga: Pengembangan Model (Development)
Langkah ketiga ini bertujuan untuk memvalidasi model yang dirumuskan dalam bentuk buku panduan dan pendamping layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT yang sudah didisain. Model dan petunjuk yang sudah didisain tersebut, divalidasi melalui instrument validasi oleh ahli/ pakar dan dihitung koefisiennya menggunakan Konkordansi Kendall’s W.
d. Prosedur Keempat: Implementasi Model (Implementation)
Tahap implementasi dilakukan dengan cara mempraktekkan model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT. Kemudian dihitung koefisien hasil pelaksanaan yang dilakukan oleh konselor menggunakan Konkordansi Kendall’s W.
e. Prosedur Kelima: Penilaian (Evaluation)
Tujuan langkah kelima ini adalah menilai kualitas model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT, sehingga dapat ditindaklanjuti perbaikannya sebagai produk akhir penelitian ini. Evaluasi dilakukan dengan cara mengukur keefektifan model layanan informasi dan focus group discussion (FGD) untuk penyempurnaan produk hasil penelitian. Evaluasi dilakukan dengan mengolah data angket (pretest-posttest) untuk
melihat perbedaan pemahaman siswa tentang LGBT sebelum dan sesudah siberikan perlakuaan layanan informasi.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa MAN se Sumatera Barat.
Kriteria yang menjadi subjek penelitian sebagai uji coba adalah :
a. Sekolah yang dipilih yaitu setiap sekolah madrasah yang mewakili kabupaten atau kota di Sumatera Barat.
b. Kategori pemilihan subjek dalam pelaksanaan layanan informasi yaitu berada pada kategori sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Hal ini berdasarkan pertimbangan dinamika kelompok dan proses layanan yang lebih aktif.
4. Instrumen Pengumpul Data a. Instumen Analisis
Dalam tahap analisis digunakan instrument berupa angket pemahaman LGBT siswa dengan aspek tentang:
Angket disusun dalam bentuk tertutup, (pernyataan dan alternatif pilihan jawaban yang sudah disediakan) dengan berpedoman pada skala sikap model summated-rating scale (Likert, 1932) dengan pilihan jawaban: selalu, sering, kadang-kadang, jarang dan tidak pernah. Pernyataan favorable jika dijawab selalu mengindikasi positif dengan skor 5, dan tidak pernah mengidikasi negatif dengan skor 1.Penskoran berlaku sebaliknya, jika pernyataan unfavorable dijawab selalu diberi skor 1, sementara tidak pernah diberi skor 5.
b. Langkah Desain No Aspek
1 Pengertian LGBT
2 Faktor yang mempengaruhi 3 Ciri-Ciri LGBT
4 Dampak LGBT
Pada langkah ini tidak digunakan instrumen khusus.Peneliti mengumpulkan data berupa tanggapan/komentar, serta masukan/saran pakar tentang model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT dalam bentuk buku modul.
c. Langkah Pengembangan
Pada langkah ini menggunakan lembar uji kelayakan ahli.
Peneliti mengumpulkan serta masukan, saran dan penilaian dari tim ahli tentang tentang model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT dalam bentuk buku modul.
d. Langkah Implementasi
Pada langkah ini mengugunakan lembar uji keterpakaian oleh konselor sekolahi. Peneliti mengumpulkan masukan, saran dan penilaian dari konselor sekolahi tentang pelaksanaan model layanan informasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT dalam bentuk buku modul.
e. Langkah Penilaian/Evaluasi
Langkah ini digunakan angket pemahaman siswa terhadap LGBT untuk mengukur perbedaan sebelum dan sesudah diberikan layanan informasi. Instrumen yang digunakan berisi sejumlah pertanyaan dengan jawaban yang dikategorikan pada indikator 1-5 (Riduwan, 2009) sebagai berikut:
Tabel 2. Pedoman Skoring
Jawaban Responden Kategori Skor
Sangat Tidak Setuju STS 1
Yusuf (2013) menjelaskan bahwa validitas isi merupakan keabsahan instrumen yang dikaitkan dengan domain yang ingin diukur, dengan melibatkan analisis rasional oleh pihak yang berkompeten terhadap instrumen tersebut. Angket yang sudah divalidasi oleh pakar selanjutnya diuji cobakan untuk melihat validitasnya. Validitas angket diketahui dengan melakukan seleksi butir (item) berdasarkan data empiris dengan prosedur komputasi koefisien korelasi antara distributor skor item dengan suatu kriteria yang relevan.Pengujian pembeda butir item dilakukan SPSS 20.00 dengan rumus korelasi Product Moment yang dikemukakan oleh Pearson (dalam Arikunto, 2002).
Keterangan:
RXY : Koefisien korelasi tes yang disusun dengan kriterium
X : Skor masing-masing responden variabel X (tes yang disusun)
Y : Skor masing-masing responden variabel Y (tes kriterium) N : Jumlah responden
Hasil perhitungan korelasi tersebut didapat suatu koefisien korelasi yang digunakan untuk mengukur tingkat validitas suatu item dan untuk menentukan apakah suatu item layak digunakan atau tidak. Uji signifikansi koefisien korelasi dengan kriteria menggunakan r kritis pada taraf signifikansi 0,05. Jadi item dikatakan valid jika signifikansi r ≤ 0,05.
2) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas berarti, melihat konsisten atau keterpecayaan hasil ukur, yang mengandung makna kecermatan pengukuran (Azwar, 2004).Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan
formula Alpha Cronbach, yang ada dalam program SPSS versi 20.
Adapun formula tersebut sebagai berikut:
r11 = Koefisien reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir pertanyaan
∑σ2b = Jumlah varian butir
σ2t = Varian total (Usman, 2003:291).
Selanjutnya hasil perhitungan direflesikan pada indeks reliabilitas.Untuk melihat indeks reliabilitas digunakan pendapat George, D. & Mallery, P (2003)menjelaskan instrumen dapat dikatakan reliabel apabila memiliki rentang nilai koefesienreliabilitas 0.60 hingga 0.70.
5. Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan, selanjutnya diolah menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yaitu dinarasikan dalam bentuk angka. Untuk itu digunakan formulasi statistik sederhana, yaitu melihat mean (rata-rata) dan presentasenya. Untuk melihat keselarasan uji kelayakan oleh ahli dan keterpakaian model layanan informasi digunakan uji koefisien Konkordansi Kendall’s W. Irianto (2012) mendeskripsikan tingkat kematangan arah pilihan karier mahasiswa dapat digunakan rujukan sebagai berikut:
Intervalk = Data terbesar – Data terkecil Jumlah kelompok
Penghitungan dalam menentukan rentangan skor atau interval skor dalam penelitian ini di peroleh data terbesar dan data terkecil, serta jumlah kelompok terdiri dari 5 alternatif jawaban. Sedangkan untuk menjawab hipotesis penelitian di guanakan teknik analsis statistic non parametric.
Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa data tidak berdistribusai normal.
Teknik analisis statistic non parametric yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini yaitu uji Wilcoxon Signed Ranks
Test dengan uraian sebagai berikut: untuk melihat perbedaan pemahaman siswa terhadap LGBT sebelum dan sesudah diberikan layanan informasi.
Agar mendapatkan hasil analisis yang tepat dan akurat serta menghindari resiko kesalahan perhitungan manual maka dalam pengujian hipotesis ini peneliti menggunakan bantuan program SPSS versi 20.00.
E. JADWAL PELAKSANAAN
Pelaksanaan pengembangan model inidilaksanakan sebanyak 5 tahap mengikuti pola ADDIE (Analysis, Design, Development, Implemention, and Evaluation) dan waktu pelaksanaan direncanakan dari bulan agustus sampai dengan september. Berikut ini rancangan jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian:
1. Bulan Agustus 2021 (Analysis) 1) Identifikasi permasalahan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT, 2) Penentuan materi dalam pengembangan model layanan informasi.
2. Bulan Agustus 2021 (Design) Proses pembuatan buku modul. Dasar pembuatan berdasarkan hasil analysis yang telah dilakukan sebelumnya.
3. Bulan Agustus 2021 (Development) Melaksanakan pengujian kelayakan oleh tim ahli terhadap modul yang telah disusun peneliti dalam bentuk Buku Modul.Uji kelayakan yang dinilai oleh ahli berkaitan dengan semua komponen dalam Buku Panduan dan Pendamping yang telah dirumuskan pada tahap Design.Ahli Penilai: 1) Ahli 1, 2) Ahli 2, 3) Ahli 3.
4. Bulan September 2021 (Implementation) Mengaplikasikan dan penilaian model yang telah disusun dalam bentuk Buku Modul oleh konselor sekolahi. Hal ini bertujuan untuk melihat menguji keterpakaian dan pengaplikasian model yang telah disusun peneliti dan dinilai oleh tim ahli sebelumnya.Konselor Pelaksana: 1) Konselor 1, 2) Konselor 2, 3) Konselor 3.
5. Bulan September 2021 (Evaluation) Melakukan uji efektivitas pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT sebelum dan sesudah (pretest-posttest) layanan informasi .Tahap Pelaksanaan Uji Efektivitas : a) Pretest, b)
Perlakuan 1, c) Perlakuan 2, d) Perlakuan 3, e) Posttest. Uji efektivitas ini dilakukan siswa MAN. Kemudian, melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan tim ahli dan konselor agar menghasilkan model akhir layanan informasi dalam bentuk Buku Modul yang layak, terpakai dan efektif digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahaya LGBT. Peserta FGD: a) Peneliti 1, b) Peneliti 2, c) Ahli 1, d) Ahli 2, e) Ahli 3, f) Ahli Konselor 1, g) Konselor 2, h) Konselor 3.
BAB IV