Penelitian ini menganalisis mengenai posisi daya saing ubi jalar Indonesia dipasar internasional mulai tahun 2001-2010. Penelitian mulai dilaksanakan pada bulan Februari 2013 dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2013.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yangmerupakan data deret waktu (time series) selama sepuluh tahun dari tahun 2001 sampai tahun 2010 karena dengan adanya data selama sepuluh tahun sudah dapat memberikan gambaran tentang perkembangan dari komoditas ubi jalar tersebut. Sebelum tahun 2001 ubi jalar memang telah banyak diperdagangkan tetapi kapasitasnya tidak sebanyak sepuluh tahun terakhir ini, maka diambillah data dari tahun 2001-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jumlah produksi ubi jalar Indonesia dan dunia, nilaiekspor ubi jalar Indonesia, negara-negara produsen, dan eksportir ubi jalar di dunia, harga, pangsa pasar masing-masing Negara, nilai ekspor komoditas di Indonesia, dan data ekspor seluruh komoditas di dunia. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan informasi yang berkaitandengan potensi ubi jalar di Indonesia untuk kajian keunggulan kompetitif.Sumber data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Pertanian, Food and Agriculture Organization (FAO), Index Mundi, United Nation Department of Agriculture (USDA), dan United Nation Commodity Trade
(UN Comtrade), International Trade Center (ITC), UNCTAD yangditelusuri melalui jaringan internet. Sumber informasi lainya diperoleh dari buku,artikel, jurnal, dan internet. Dalam penelitian ini juga menggunakan data-data yangberasal dari literatur dan penelitian-penelitianterdahulu. Juga terdapat data primer yang di dapatkan dari wawancara singkat mengenai kegiatan ekspor ubi jalar kepada seorang petani ubi jalar di Kecamatan Dramaga sebagai bahan tambahan informasi teknis. Untuk jelasnya, jenis dan sumber data dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini.
Tabel 5 Jenis dan sumber data
Jenis Data Sekunder Sumber Data PIC Waktu
Produksi ubi jalar Indonesia Produksi ubi jalar dunia
Nilai ekspor ubi jalar
BPS USDA Peneliti Peneliti 12 Maret 2013 12 Maret 2013 = Variabel = Alat analisis = Mempengaruhi
Indonesia
Produsen ubi jalar dunia Harga ubi jalar
Pangsa pasar Negara
produsen ubi jalar dunia
Nilai ekspor komoditas
Indonesia
Ekspor komoditas dunia Informasi teknis FAO FAO Index Mundi USDA FAO USDA Wawancara Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Peneliti Petani 12 Maret 2013 12 Maret 2013 20 Maret 2013 20 Maret 2013 20 Maret 2013 20 Maret 2013 02 Mei 2013
Metode Analisis dan Pengolahan Data
Metode analisis dan pengolahan data yang digunakan pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis situasi dan kondisi faktor penentu daya saing dan faktor strategis dalam menghadapi persaingan di pasar internasional.Analisis kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan Teori Berlian Porter.Sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis struktur pasar dan keunggulan komparatif ubi jalar di pasar internasional dengan metode Herfindahl Index (HI),
Concentration Ratio (CR), dan Revealed Comparative Advantage
(RCA).Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software Microsoft Excel 2007.
Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR)
Indeks Herfindahl (juga dikenal sebagai Herfindahl–Hirschman Indeks, atau HHI) adalah ukuran dari ukuran perusahaan dalam kaitannya dengan industri dan indikator jumlah kompetisi di antara mereka.Dinamai dari ekonom Orris C. Herfindahl dan Albert O. Hirschman, adalah sebuah konsep ekonomi yang luas yang diterapkan dalam hukum persaingan, anti monopoli, dan juga manajemen teknologi.Dari analisis tingkat konsentrasi pasar akan dapatdiketahui struktur atau bentuk pasar yang dihadapi dari perdagangan komoditi ubi jalar yang pada akhirnya dapat menentukan tingkat persaingan yang dihadapi.
Selain itu, analisis konsentrasi pasar dengan menggunakan Herfindahl Index danCocentration Ratio juga memperhitungkan pangsa pasar dari masing-masingnegara di dunia yang terlibat dalam perdagangan ubi jalar di pasar internasional.Pangsa pasar ubi jalar diperoleh dengan membandingkan ekspor ubi jalar suatu negaradengan total ekspor ubi jalar keseluruhan negara.Nilai
Herfindahl Index merupakan hasil penjumlahan kuadrat pangsa pasartiap negara. Formula Herfindahl Index adalah sebagai berikut:2
HI = Sij12 + Sij22 + Sij32 + … + Sijn2
Dimana:
Sij = pangsa pasar komoditi i (dalam hal ini adalah ubi jalar) negara j dipasar internasional
2
HERFINDAHL INDEX, AmosWEB Encyclonomic WEB*pedia, http://www.AmosWEB.com, AmosWEB LLC, 2000-2013 [29 Juli 2013].
n = jumlah negara produsen ubi jalar di pasar internasional
Kisaran nilai Herfindahl Index yang diperoleh adalah antara 0 dan 1 (atau10000 yang merupakan kuadrat dari 100 persen). Jika nilai HI mendekati 0 berartistruktur pasar industri yang bersangkutan cenderung mengarah kepada pasarpersaingan (competitive market). Kemudian, jika nilai HI mendekati 1 (atau10000) maka struktur pasar industri tersebut cenderung berkonsentrasi tinggi. Sedangkan Concentration Ratio merupakan persentase dari pangsa pasar yang dimiliki oleh m perusahaan terbesar dalam industri, dimana m merupakan angka yang menunjukkan jumlah dari perusahaan, biasanya 4 atau 8 sehingga menjadi CR4 atau CR8.3Dalam penelitian ini nilai rasio konsentrasi yangdigunakan adalah nilai CR4yaitu empat Negara eksportir ubi jalar terbesar di dunia. CR4
dipilih karena telah dapat memberikan gambaran dan dapat menunjukkan pangsa pasar ubi jalar di dunia sehingga dapat diketahui struktur pasarnya. Empat Negara eksportir terbesar dari tahun 2001-2010 tersebut adalah Amerika Serikat, China, Indonesia, dan Israel. Pangsa pasar Negara-negara tersebut hampir selalu sama kecuali Amerika Serikat yang selalu menjadi eksportir utama dari ubi jalar didunia.Nilai rasio konsentrasi yang rendah berarti pasar ubi jalar di pasar internasional terdiri dari banyak negara produsen dengan tingkatpersaingan yang tinggi. Apabila rasio konsentrasi tinggi, maka produsen pasarcenderung didominasi oleh produsen terbesar dan pasar lebih terkonsentrasi.Rasio konsentrasi pasar dirumuskan sebagai berikut:4
CR4 = Sij1 + Sij2 + Sij3 + Sij4
Dimana:
CR4 =nilai konsentrasi pasar empat produsen utama ubi jalar di
pasarinternasional
Sij = pangsa pasar negara ke-i penghasil ubi jalar di pasar internasional
Jadi dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat konsentrasi pasar yang dapat dirumuskan dari nilai HerfindahlIndex dan CR4 adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi pasar yang rendah dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisarantara 0-50 persen dan HI antara 0-1000.
2. Konsentrasi pasar sedang dicirikan dengan nilai CR4 antara 50-80 persendan nilai HI yang berkisar antara 1000-1800.
3. Konsentrasi pasar yang tinggi dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisarantara 80-100 persen, sedangkan kisaran nilai HI yaitu antara 1800-10000.
Revealed Comparative Advantage (RCA)
Untuk menganalisis keunggulan komparatif dari komoditas tertentu di
suatu Negara dapat menggunakan RCA (Revealed Comparative Advantage) yang
bertujuan untuk membandingkan pangsa pasar ekspor sektor tertentu suatu Negara dengan pangsa pasar sektor tertentu negara atau produsen lainnnya serta menunjukkan daya saing industri suatu Negara. Menurut Basri (2010), tujuan
3
http://www.quickmba.com/econ/micro/indcon.shtml [20 Maret 2013]
4
FOUR-FIRM CONCENTRATION RATIO, AmosWEB Encyclonomic WEB*pedia, http://www.AmosWEB.com, AmosWEB LLC, 2000-2013 [29 Juli 2013].
penggunaan indeks RCA dalam penelitian ini yaitu ingin mengetahui keunggulan komparatif ubi jalar Indonesia diantara Negara-negara lain di pasar internasional dan juga RCA dapat digunakan untuk mengukur daya saing industri suatu Negara atau perusahaan.Formula RCA dirumuskan sebagai berikut:
RCA =
/ ∑
∑ / ∑ ∑
Dimana :
= nilai ekspor komoditas ubi jalar negara j
∑ = total nilai ekspor seluruh komoditas pertanian dari negara j
∑ = total nilai ekspor dunia dari komoditas ubi jalar
∑ ∑ = total nilai ekspor dunia untuk seluruh komoditas pertanian
Apabila nilai RCA produk suatu negara lebih besar dari 1, maka Negaratersebut memiliki keunggulan komparatif atau berdaya saing kuat pada produktersebut. Apabila nilai RCA kurang dari 1, maka negara tersebut tidak memilikikeunggulan komparatif dalam produk tersebut atau mempunyai daya saing yanglemah. Semakin tinggi nilai RCA maka daya saing suatu negara akan semakinkuat (Basri, 2010).
Metode Berlian Porter
Menurut Michael E. Porter dalam bukunya yang berjudul The Competitive Advantage of Nation, terdapat empat atribut yang dapatmenciptakan keunggulan kompetitif suatu industri nasional, yaitu kondisi faktor(factor conditions), kondisi permintaan (demand conditions), industri pendukungdan terkait (related and supporting industry), serta strategi perusahaan, struktur,dan persaingan (firms strategy, structure, and rivalry). Keempat atribut tersebutsaling berkaitan dan berhubungan satu sama lain sehingga membentuk suatusistem yang dikenal dengan Diamond’sPorter. Selain itu, tedapat dua variabeltambahan yang secara tidak langsung mempengaruhi daya saing suatu industriatau pengusahaan suatu komoditas dalam suatu negara.Penjelasan dari keempat atribut utama dan dua atribut tambahan yangmerupakan faktor pendorong daya saing suatu negara adalah sebagai berikut:
1. Kondisi Faktor
Kondisi faktor yang penting dalam menentukan daya saing yaituberupa faktor produksi atau input yang digunakan dalam produksi, sepertitenaga kerja (sumberdaya manusia), sumberdaya alam, modal, ilmupengetahuan dan teknologi, dan infrastruktur. Faktor yang menunjukkankeunggulan kompetitif suatu negara dapat dilihat dari adanya tenaga kerjayang terampil dan ketersediaan bahan mentah yang tidak dapat ditiru olehperusahaan atau negara lain. Komponen tersebut menentukan keunggulankompetitif suatu negara terutama negara berkembang karena negaraberkembang memiliki faktor produksi seperti tenaga kerja terlatih yangditunjang dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang cukup ketersediaan bahan mentah yang dikelola dengan baik merupakan faktorproduksi yang penting dan berharga. Ketersediaan faktor tersebut jugaharus didukung oleh biaya dan modal serta aksesibitas dalam memperolehbiaya dan modal tersebut serta kondisi sarana dan prasarana (infrastruktur)yang memadai.
2. Kondisi Permintaan
Pasar domestik yang canggih merupakan elemen penting
untukmenciptakan daya saing. Keunggulan kompetitif akan tercipta ketika pasarlokal untuk produk tertentu lebih besar daripada pasar internasional danperusahaan lokal memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pasarlokal. Dengan semakin kuatnya pasar lokal maka perusahaan lokal akanmulai mengekspor produk tersebut ke pasar internasional. Selain itu,permintaan lokal yang lebih besar akan membawa keunggulan kompetitifsuatu negara. Pasar lokal yang kuat dapat membantu perusahaan lokaldalam mengantisipasi perubahan
global (global trends) dalam persainganyang kompetitif. Aspek yang
mempengaruhi kondisi permintaan dapatdilihat dari mutu dan juga selera pembeli yang tinggi.
3. Industri Terkait dan Industri Pendukung
Ketika industri pendukung mampu bersaing secara kompetitif,perusahaan dapat menikmati biaya dengan lebih efektif dan input yanginovatif. Salah satu komponen industri terkait adalah industri hulu yangmampu memasok input bagi industri utama dan juga industri hilir yaituindustri yang menggunakan produk industri utama sebagai bahan bakunya.Industri terkait dan pendukung akan semakin memperkuat posisi bersaingsuatu negara apabila supplier dan industri pendukung merupakan pesaingglobal yang kuat dalam perdagangan internasional. 4. Struktur, Persaingan dan Strategi.
Kondisi lokal dapat mempengaruhi strategi perusahaan yangberbeda-beda pada setiap negara. Contohnya, Jerman mempunyai strukturhierarki manajemen yang berlatar belakang teknik sementara Italiamempunyai struktur yang lebih kecil dan bersifat kekeluargaan. Strategi,persaingan, dan struktur dapat menentukan tipe industri perusahaan suatunegara. Tingkat persaingan bagi perusahaan akan mendorong kompetisidan inovasi. Keberadaan pesaing lokal yang handal merupakan penggerakdan memberikan tekanan pada perusahaan lain untuk meningkatkan dayasaing. Struktur perusahaan atau industri menentukan daya saing dengancara melakukan perbaikan atau inovasi. Hal ini jika dikembangkan dalamsituasi persaingan akan berpengaruh pada strategi yang dijalankan olehperusahaan.
5. Peran Pemerintah
Peran pemerintah sebenarnya tidak berpengaruh langsung
terhadappeningkatan daya saing tetapi berpengaruh terhadap faktor-faktor penentudaya saing tersebut. Pemerintah dapat bertindak sebagai fasilitator yaitumemfasilitasi lingkungan industri yang mampu memperbaiki kondisifaktor daya saing. Pemerintah juga dapat berperan sebagai regulatordimana pemerintah dapat mempengaruhi tingkat daya saing global melaluikebijakan yang memperlemah atau memperkuat faktor penentu daya saingindustri, tetapi pemerintah tidak dapat menciptakan keunggulan bersaingsecara langsung.
6. Peran Kesempatan atau Peluang
Peran kesempatan atau peluang juga dapat mempengaruhi tingkatdaya saing karena berada di luar kendali perusahaan ataupun pemerintah.Beberapa hal yang dianggap keberuntungan merupakan peran kesempatan,seperti adanya penemuan baru yang murni dan perubahan nilai mata uang.Selain itu, terjadinya peningkatan permintaan produk industri yang lebihbesar dari pasokannya atau kondisi politik yang menguntungkan bagipeningkatan daya saing. Salah satu
peran kesempatan yang sangat berpengaruh adalah kurs atau nilai mata uang. Dalam perdagangan internasional nilai kurs merupakan faktor yang dapat mempengaruhi daya saing suatu komoditas yang dijelaskan pada gambar 5 dibawah ini.
Sumber : Mankiw (2008)
Dalam perdagangan internasional, kurs atau mata uang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ekspor suatu komoditas. Dalam gambar 5 dapat dijelaskan bahwa jika kurs mata uang suatu Negara mengalami apresiasi maka akan menyebabkan ekspor Negara tersebut akan mengalami penurunan karena harga ekspor Negara tersebut akan menjadi lebih mahal diluar negeri.