ANALISIS DAYA SAING UBI JALAR INDONESIA
DIPASAR INTERNASIONAL
RIANA AYU WULANDARI
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi dengan judul“Analisis Daya Saing Ubi Jalar Indonesia di pasar Internasional” merupakan benar hasil karya penulis dengan arahan dari komisi pembimbing yang belum pernah diajukan pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Penulis juga menyatakan bahwa skripsi ini tidak mengandung bahan-bahan yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh pihak lain kecuali sebagai bahan rujukan yang telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalamDaftar Pustaka pada bagian akhir skripsi.
Dengan ini penulis melimpahkan hak cipta dari karya tulis penulis kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juli 2013
Riana Ayu Wulandari
ABSTRAK
RIANA AYU WULANDARI. Analisis Daya Saing Ubi Jalar Indonesia di Pasar
Internasional. Dibimbing oleh NETTI TINAPRILLA.
Pertanian Indonesia selalu memberikan pertumbuhan positif dan memberikan kontribusi nyata untuk Produk Domestik Bruto (PDB). Subsektor tanaman pangan memberikan kontribusi yang paling penting karena peranannya yang diperlukan untuk mencapai swasembada pangan melalui program diversifikasi pangan. Salah satu keunggulan komoditas tanaman pangan yang memiliki potensial besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah ubi jalar. Indonesia adalah salah satu dari lima Negara utama sebagai produsen dan eksportir ubi jalar didunia. Daya saing ubi jalar Indonesia perlu dianalisis untuk dapat memberikan informasi tentang posisi persaingan ubi jalar Indonesia di pasar internasional. Struktur pasar ubi jalar dalam pasar internasional dapat dianalisis dengan menggunakan Herfindahl Index dan Concentration Ratio. Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai rata-rata HI adalah 1457.92. Nilai HI ubi jalar selama 2001-2010 diantara 1110.80-2231.99 yang menunjukkan bahwa ubi jalar dalam pasar internasional menunjukkan struktur pasar dengan konsentrasi pasar yang sedang. Sementara itu, terdapat 4 negara dalam analisis CR yaitu USA, China, Indonesia, dan Israel. Nilai CR4 dari ubi jalar adalah 60.30%. Ini berarti
bahwa struktur pasar ubi jalar ber konsentrasi pasar yang sedang.
Keunggulan komparatif dari ubi jalar Indonesia dapat dianalisis dengan
menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA). Berdasarkan pada
perhitungan index RCA dapat diketahui bahwa selama periode 2001-2010, Indonesia memiliki daya saing kuat karena nilai RCA lebih besar dari satu. Ini berarti Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk komoditas ubi jalar. Selain itu, keunggulan kompetitif digunakan untuk menjelaskan permasalahan dalam perdagangan ubi jalar Indonesia yang tidak dapat dijelaskan dengan model keunggulan komparatif. Teori berlian porter adalah salah satu alat analisis untuk membantu dan menganalisis faktor internal dan eksternal dalam industri ubi jalar Indonesia. Faktor tersebut adalah kondisi faktor, kondisi permintaan, industri terkait dan pendukung, strategi perusahaan, struktur,dan persaingan, faktor pemerintah, dan faktor kesempatan. Hasil dari analisis menyatakan bahwa kondisi permintaan memberikan kontribusi yang positif dan besar untuk ubi jalar Indonesia. Sedangkan faktor lainnya masing-masing memberikan sisi negatif dan positif.
Kata kunci: ubi jalar, daya saing, HI, CR4, Teori Berlian Porter, Keunggulan
ABSTRACT
RIANA AYU WULANDARI. The Competitiveness of Indonesian Sweet
Potatoes Analysis in Internasional Market. Supervised by NETTI
TINAPRILLA.
Agriculture sector in Indonesia has an important role and big contribution to Gross Domestic Product(GDP).Crop sub sector has the most important part in GDP of agricultural sector. Development of this sub sector such as sweet potatoes is one of the solutions for achieving food security and poverty alleviation in Indonesia. Sweet Potatoes has an important role in food self-sufficiency through diversification program. Indonesia is one of the top five sweet potatoes producers and exporters in the world. The aim of this study is to analyze competitiveness of Indonesian sweet potatoes. This study can be a reference for policy maker related to Indonesian competitiveness in international market. This study use Herfindahl Index and Concentration Ratio (CR) to analyze market structure. Besides that, this study used RCA (Revealed Comparative Advantage) and Porter Diamond’s model to explain comparative and competitive advantages.
The result of this study shows that the average of HI value in 2001 to 2010 is 1457.92. This value is between 1110.80 and 2231.99 so that can be categorized sufficiently concentrated.CR4 is analyzed for USA, China, Indonesia, and Israel.
CR4 value is more than 40% (60.30%) which has similar mean to the HI value.
Therefore this value supports the HI.According to RCA Index, during 2001-2010 periods Indonesia has a strong comparative advantage in sweet potatoes. This can be seen from high RCA index (more than one).
Competitive advantage is used to explain Indonesian sweet potatoes problems in international market. Porter Diamond’s model is one of the methods to analyze these internal and external factors of Indonesian sweet potatoes industry. There are four internal factors; (1) Resources such as natural, human resources, financing, information and technology, and infrastructure,(2) demand,(3) related and supporting industry, (4) competitiveness, structure, and firm strategy, and two external factors; (1) government role, and (2) opportunity. The results revealed that natural resources, human resources, domestic demand, government intervention, and opportunity to export are supporting factors to increase competitive advantages. However, there are still several weaknesses such as information and technology, infrastructure, financing, related industry, tight competition and market structure.
Keywords: sweet potatoes, competitiveness, HI, CR4, RCA, Porter Diamond’s
ANALISIS DAYA SAING UBI JALAR INDONESIA
DI PASAR INTERNASIONAL
RIANA AYU WULANDARI
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Judul : Analisis Daya Saing Ubi Jalar Indonesia di Pasar Internasional Nama : Riana Ayu Wulandari
NRP : H34114001
Disetujui oleh,
Dr. Ir. Netti Tinaprilla, MM Dosen Pembimbing
Diketahui oleh,
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Alhamdulillah, Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWTdengan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikanpenulisan skripsi dengan judul “Analisis Daya Saing Ubi Jalar Indonesia di PasarInternasional”. Penulisan skripsi ini sebagai bagian persyaratan untuk memperolehgelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis,Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.Secara garis besar, materi yang ada dalam skripsi ini adalah analisisstruktur pasar ubi jalar dunia, analisis keunggulan komparatif ubi jalar Indonesia di pasarinternasional, dan analisis keunggulan kompetitif ubi jalar Indonesia di pasarinternasional.
Penulis berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam penyusunan skripsiini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunanskripsi ini. Namun, penulis memandang bahwa penulisan ini dibuat sebagai suatuproses pembelajaran terhadap materi perkuliahan yang penulis terima selamaduduk di bangku perkuliahan. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaatbagi kita semua.
Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang turut membantukelancaran penelitian sampai dengan penulisan karya ilmiah ini, baik secarakeilmuan, materi, dan spiritual.
Bogor, Juli 2013
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR GAMBAR ix
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penulisan 5
Manfaat Penulisan 6
TINJAUAN PUSTAKA 6
Sejarah Ubi Jalar 6
Karakteristik Ubi Jalar 6
Nilai Tambah dan Pengolahan 8
Perdagangan Ubi Jalar 9
Daya Saing 9
KERANGKA PEMIKIRAN 11
Kerangka Pemikiran Teoritis 11
Teori Perdagangan Internasional 11
Struktur Pasar 13
Konsep Keunggulan Komparatif 14
Konsep Keunggulan Kompetitif 14
Konsep Daya Saing 15
Kerangka Pemikiran Konseptual 16
METODE PENELITIAN 18
Ruang Lingkup dan Waktu Penelitian 18
Jenis dan Sumber Data 18
Metode Analisis dan Pengolahan Data 19
Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR) 19
Revealed Comparative Advantage (RCA) 20
Metode Berlian Porter 21
HASIL DAN PEMBAHASAN 23
Gambaran Umum Ubi Jalar Indonesia 23
Struktur Pasar dan Persaingan Ubi Jalar di Pasar Internasional 25
Analisis Keunggulan Komparatif Ubi Jalar Indonesia 27
Analisis Keunggulan Kompetitif Ubi Jalar Indonesia 29
SIMPULAN DAN SARAN 41
Simpulan 41
Saran 42
DAFTAR PUSTAKA 43
LAMPIRAN 45
DAFTAR TABEL
1 Nilai tanaman pangan terhadap PDB sektor pertanian tahun 2006-2010
(miliar rupiah) 1
2 Volume dan nilai ekspor ubi jalar Indonesia tahun 2001-2010 3
3 Luas panen, produktivitas, dan produksi tanaman ubi jalar di Indonesia
tahun 2001-2010 4
4 Beberapa jenis ubi jalar varietas unggul 7
5 Jenis dan sumber data 18
6 Sebaran propinsi sentra produksi ubi jalar Indonesia tahun 2011 24
7 Jumlah dan nilai impor ubi jalar dunia tahun 2001-2010 24
8 Hasil analisis Herfindahl Index dan Concentration Ratio komoditas ubi
jalar di pasar internasional tahun 2001-2010 26
9 Hasil analisis RCA komoditas ubi jalar empat Negara di pasar
internasional tahun 2001-2010 28
10 Pangsa pasar empat negara eksportir ubi jalar terbesar dunia tahun
2001-2010 (%) 28
11 Luas areal dan produksi ubi jalar Indonesia dan tiga propinsi terbesar
menurut pengusahaan tahun 2010 30
12 Penduduk berumur 15 tahun ke atas menurut wilayah dan lapangan usaha
utama tahun 2010 31
13 Ketersediaan ubi jalar tahun 2001-2010 35
14 Perkembangan harga ubi jalar tingkat produsen, grosir, dan eceran
2002-2009 36
15 Perkembangan harga ubi jalar domestik dan ekspor 2006-2011 36
DAFTAR GAMBAR
1 Keseimbangan tanpa perdagangan 12
2 Perdagangan internasional dalam Negara eksportir 13
3 The national diamond system 15
4 Kerangka pemikiran operasional 17
5 Hubungan antara kurs dan ekspor netto 23
6 Rata-rata pangsa pasar ubi jalar 10 negara terbesar 2001-2010 25
7 Alur distribusi dan pemasaran ubi jalar 32
DAFTAR LAMPIRAN
1. Daftar ranking 10 negara produsen ubi jalar dunia 2001-2010 46
2. Volume dan nilai ekspor tanaman pangan 2011 49
3. Daftar ranking 10 negara importir ubi jalar dunia 2001-2010 51
4. Daftar ranking 10 negara eksportir ubi jalar dunia 2001-2010 54
5. Perhitungan RCA ubi jalar empat Negara 57
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor pertanian terdiri dari beberapa subsektor seperti tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan.Subsektor tanaman pangan memberikan kontribusi penting karena peranannya yang dibutuhkan dalam mencapai swasembada pangan melalui program diversifikasi pangan.Diversifikasi pangan tidak berarti menggantikan beras, tetapi mengubah pola konsumsi dengan lebih banyak jenis pangan yang dapat dikonsumsi.Diversifikasi pangan menjadi salah satu pilar dalam ketahanan pangan. Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 Pasal 45 tentang ketahanan pangan, mengatakan bahwa dalam rangka mewujudkan
ketahanan pangan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Pemerintahmenyelenggarakan pengaturan, pembinaan, pengendalian, dan pengawasan terhadap ketersediaanpangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, bergizi, beragam, merata, dan terjangkau olehdaya beli masyarakat.1
Sektorpertanianmengalamipertumbuhanpositif dan
memberikankontribusiterhadap Produk DomestikBruto(PDB). Selainitu sektor pertanian merupakan salahsatukuncidalam pengentasan kemiskinan, penyedia
lapangan kerja,dan juga sebagaikuncidalam pemantapan ketahanan
pangannasional.KontribusinominalPDBdaritanamanbahanmakananmerupakanko ntribusiterbesar PDB sektor pertanian. Nilaitanamanpanganselalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahunseperti yang terlihat pada tabel 1.
Tabel 1Nilaitanaman pangan terhadap PDB sektor pertanian tahun 2006-2010 (miliar rupiah)
Uraian 2006 2007 2008 2009 2010
Nasional 2774281.1 3339216.8 3950893.2 4951356.7 5613441.7 Pertanian 433223.4 541931.5 716065.3 857241.4 985470.5 Pangan 214346.3 265090.9 349795.0 419194.8 482 377.1 Perkebunan 63401.4 81664.0 105969.3 111423.1 136 048.5 Peternakan 51074.7 61325.2 82676.4 104883.9 119371.7
Kehutanan 30065.7 36154.1 40375.1 45119.6 48289.8
Perikanan 74335.3 97697.3 137249.5 176620.0 199383.4 Sumber:BadanPusat Statistik,2013 (diolah)
Jika dilihat dari sektor ekspor impor maka sektor pertanian pada periode Januari-September 2011 mengalami peningkatan atau surplus sebesar 5.56 persen dari nilai 3574.6 Juta US$ pada Januari 2011 menjadi 3773.5 Juta US$ pada September 2011. Dalam hal ini sub sektor tanaman pangan memberikan kontribusi ekspor senilai 31599810 Juta US$ dengan total volume 79008558 kilogram pada periode yang sama (BPS2012).
1
Salah satu komoditas tanaman pangan yang menjadi unggulan dan mempunyai potensiyang besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah ubi jalar. Indonesiamerupakan salah satu produsen dan eksportir utama ubi jalar di dunia. Indonesia termasuk dalam lima besar negara produsen ubi jalar di dunia(Lampiran 1) dimana pada tahun 2001 hingga 2009 Indonesia berada di peringkatkeempat dalam hal produksi ubi jalar dunia dan berada diperingkat lima untuk tahun 2010. Kedudukan ubi jalar sebagai komoditi eksporhasil tanaman pangan periode tahun 2011 cukup penting yaitu nomor tiga setelah ubi kayu dan jagung (Lampiran 2). Indonesia masih memilikipeluang yang cukup besar untuk meningkatkan jumlah ekspor dalam perdagangan di dunia.Potensiproduksi ubi jalar Indonesia didukung oleh produktivitas ubi jalar yang selalu positif dan meningkat walaupun produksi dan luas lahan mengalami fluktuasi (Tabel 3). Selain itu, potensi produksi ubi jalar juga didukung oleh keadaan iklim dan kondisi geografis Indonesia yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ubi jalar yaitu beriklim tropis.
Perdagangan ubi jalar dewasa ini semakin berkembang yang ditandai dengansemakin meningkatnya permintaan ubi jalar oleh negara-negara konsumen dansemakin banyaknya jumlah negara pengekspor ubi jalar di dunia. Permintaan ubi jalar oleh negara konsumen dapat dilihat dari impor ubi jalar yang dilakukan oleh negarakonsumen. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yaitu antara tahun 2006 sampai dengan 2010, total impor ubi jalar dunia mengalami kenaikan yang cukupbesar dengan pertumbuhan rata-rata kenaikan sekitar 10.61 persen per tahun. United Kingdom merupakan negarakonsumen terbesar ubi jalar di dunia, dengan total impor periode 2006-2010 mencapai 19 hingga 24 persen dari total impor ubi jalar20 negara didunia. Selain itu, negara pengimpor ubi jalar utamalainnya adalahKanada, Jepang, Belanda, Perancis, Albania, dan Italia (Lampiran 3). Sementara itu, negara pengekspor utama ubi jalar selain Indonesia antara lain Amerika Serikat, China, Republik Dominika, Israel, Perancis, Mesir, dan Siria (FAO, 2011).Selain China dan Indonesia, Negara pengeksor ubi jalar lainnyamelakukan kegiatan re-ekspor sehingga meskipun jumlah produksi ubi jalar dinegara tersebut sangat kecil tetapi nilai ekspornya sangat tinggi (Lampiran 4).
Berdasarkan potensi dan kemampuan yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar internasionalterutama dalam menghadapi liberalisasi perdagangan dimana tidak ada hambatandalam perdagangan, namun hal tersebutharus diikutidengan adanya mutu dan kualitas yang baik padakomoditi yang diperdagangkan sehingga dapat berperan penting dalamperdagangan internasional. Potensi yang cukup besar tersebut dapat menentukankeunggulan dan kemampuan yang dimiliki komoditi ubi jalar Indonesia dalammenghadapi liberalisasi perdagangan. Oleh karena itu, penelitian mengenai dayasaing ubi jalar Indonesia perlu dilakukan untuk mengetahui posisi bersaing Indonesiadalam perdagangan komoditi ubi jalar di pasar internasional.
Perumusan Masalah
sektor pertanian merupakan sektor yang tetap tangguh dalam masa krisis ekonomi yang beberapa kali menerpa ekonomi Indonesia dan negara-negara lain di dunia.Memasuki era globalisasi dan perdagangan bebas mau tidak mau sektor pertanian harus mampu bersaing dengan menghasilkan produk-produk yang bermutu dan mencukupi keperluan konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor sehingga dapat memberikan nilai dan manfaat lebih bagi para pelaku-pelaku yang terlibat dalam perdagangan internasional tersebut.
Ubi jalar merupakan salah satu komoditas dari tanaman pangan yang dapat memberikan kontribusi tinggi dalam aspek ekonomi Indonesia sebagai sumber devisa dari proses perdagangan baik lokal maupun ekspor, penyedia lapangan pekerjaan, dan penyuplai makanan pokok serta bahan baku industri makanan dan minuman. Komoditas ubi jalar Indonesia sebagian besar di ekspor dalam bentuk segar dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan domestik. Nilai dan volume ekspor ubi jalar Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Volume dan nilai ekspor ubi jalar Indonesia tahun 2001-2010
No Tahun Volume Ekspor (Ton) Nilai Ekspor (1000 US$)
1 2001 8045 1965
Tabel 3Luas panen, produktivitas, dan produksi tanaman ubi jalar di Indonesia tahun 2001-2010
Tahun Luas Panen (Ha) Produktivitas (Ku/Ha) Produksi (Ton)
2001 181026 97.00 1749070
2002 177276 100.00 1771642
2003 197455 101.00 1991478
2004 184546 103.05 1901802
2005 178 336 104.13 1856969
2006 176507 105.05 1854238
2007 176932 106.64 1886852
2008 174561 107.80 1881761
2009 183874 111.92 2057913
2010 181073 113.27 2051046
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013
Produksi ubi jalar yang dihasilkan Indonesia dari tahun 2001 hingga 2010 berfluktuasi mulai dari 1.7 Juta Ton (2001 dan 2002), 1.9 Juta Ton (2001 dan 2004), 1.8 Juta Ton (2005-2008), dan 2 Juta Ton (2009, 2010). Produksi ubi jalar nasionaltertinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 2057913 Ton. Hal yang sama jugaterjadi pada perkembangan luas areal panenubi jalar yang berfluktuasi. Luas areal panen ubi jalar berkisar antara 175 hingga 197 hektar selama 2001 hingga 2010. Adanya fluktuasi yang terjadi padaproduksi dan luas areal panen ubi jalar berdampak pada perkembangan produktivitas,dimana perkembangannya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh adanya keseimbangan antara luas areal panen dengan jumlah produksinya.
Menurut Sarianti dan Hoeridah (2011), daya saing ubi jalar dipengaruhi oleh adanya kebijakan pemerintah. Kebijakan adalah suatu instrument yang bisa mempengaruhiperekonomian, dalam pelaksanaannyaada kendala dan bisa menjadipenghambat atau pendukung tujuan yangakan dicapai serta akhirnya
dievaluasimenjadi strategi. Kebijakan barangekspor bertujuan untuk
menstabilkanharga dengan mengatur barang agarbarang tersebut ada di dalam negeri,sedangkan kebijakan barang impor yaitumelindungi produsen dari persainganharga dengan barang luar yang lebihmurah. Pada komoditas ubi jalar,kebijakan pemerintahyang diterapkan terhadap input mengakibatkan adanya perubahan harga output. Salah satu contohnya yaitu hambatankebijakan pemerintah untuk melakukanekspor diantaranya pungutan-pungutanliar dan biaya bea cukai yang sangattinggi (dua kali lipat) apabila ekspordilakukan pada hari libur. Sedangkan kebijakan terhadap input salah satunya dengan memberikan subsidi pupuk kepada petani sehingga biaya yang dikeluarkan juga akan berkurang. Contoh lainnya adalah kebijakan pemerintah yang bersifat protektif terhadap input asingdan produsen menerima subsidi atasinput asing sehingga produsen membelidengan harga yang lebih murah. Petanimenerima harga input yang lebih murah sebesar 52 persendari yang seharusnya.
Pola perdagangan yang terjadi dalam pasar ubi jalar internasional akanberpengaruh terhadap perkembangan ubi jalar Indonesia. Bentuk pasar dalam komoditas ubi jalar di pasar internasional akan menentukkan kekuatan produsendalam pasar dan tingkat persaingan yang terjadi apalagi saat ini China memegang peringkat satu untuk volume produksi komoditas ubi jalar sedangkan Amerika Serikat sebagai eksportir tertinggi (FAO 2013). Jikaubi jalar beradadalam pasar yang memiliki banyak pesaing dengan komoditas yang homogen,maka sangat penting untuk melakukan diferensiasi produk agar mampu bersaingdengan produsen lainnya.
Permasalahan di atas dapat mempengaruhi dan memberikan dampak terhadapdaya saing ubi jalarIndonesia di pasar internasional. Potensi dan peluang ubi jalar yang dimiliki Indonesiaserta permintaan ubi jalar di pasar dalam negeri juga dapat mempengaruhi posisi dan daya saing ubi jalar Indonesia dalam perdaganganinternasional. Hal ini mengingat tantangan yang dihadapi produk ubi jalar Indonesiadimana terdapat kompetisi volume produksi antara Negara dominan yaitu China dan Negara lain yang sejajar seperti Uganda dan Nigeria serta kompetisi dalam hal volume ekspor yang ketat antar negaraseperti Amerika Serikat, China, Israel, Perancis, dan Republik Dominika.
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang akan dikaji dalampenelitian ini adalah:
1. Bagaimana struktur pasar dan persaingan ubi jalarIndonesia di pasar internasional?
2. Apakah ubi jalar Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif?
Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah
1. Menganalisis struktur pasar dan persaingan ubi jalarIndonesia di pasar internasional.
2. Menganalisis keunggulan komparatif ubi jalar Indonesia di pasar internasional. 3. Menganalisis keunggulan kompetitif ubi jalar Indonesia di pasar internasional.
Manfaat Penulisan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagaipihak yang terkait yaitu:
1. Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuandan pengetahuan dalam mengidentifikasi dan menganalisis permasalahankomoditas pertanian dan sebagai aplikasidari teori yang diperoleh selamaini.
2. Bagi petani, produsen, dan eksportir ubi jalar. Penelitian ini diharapkan dapatdimanfaatkan sebagai masukan dan informasi dalam perdagangan ubi jalar nasional dan internasional.
3. Bagi masyarakat akademik, penelitian ini dapat bermanfaat sebagaimasukan dan acuan untuk mengadakan penelitian lanjutan mengenai ubi jalar.
TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah Ubi Jalar
Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Tengah.Diperkirakan pada abad ke-16, tanaman ubi jalar tersebut mulai tersebar ke Negara-negara tropis diseluruh dunia termasuk Indonesia.Pada tahun 1960, ubi jalar sudah tersebar ke hampir setiap provinsi di Indonesia.Adapun lima daerah sentra produksi ubi jalar terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Papua, dan Sumatera Utara (BPS 2013).Namun, pada saat ini, baru Papua sajalah yang memanfaatkan ubi jalar sebagai makanan pokok, walaupun belum menyamai padi, jagung, dan ubi kayu atau singkong (Suprapti 2003).
Karakteristik Ubi Jalar
drainase baik, derajat keasaman (pH) 5.5-7.5, merupakan lahan tegalan atau sawah bekas tanaman padi, dan berada didataran rendah 500 meter di atas permukaan laut. Sedangkan tanaman ubi jalar mudah beradaptasi terhadap lingkungan yang berada pada daerah-daerah yang terbentang dari 30 oLU - 30
oLS. Untuk memperbanyak tanaman ubi jalar, dapat dilakukan dengan beberapa
cara yaitu stek pucuk, stek batang, dan tunas umbi yang disemai secara khusus. Sedangkan untuk meningkatkan hasil secara optimal dalam setiap hektarnya, dapat dilakukan beberapa cara yakni dengan menanam varietas unggul, memperbaiki teknik bercocok tanam, dan menerapkan pola tanam yang tepat. Masa tanam ubi jalar yakni 3-4 bulan tergantung dari varietasnya.
Plasma nutfah (sumber genetik) tanaman ubi jalar yang tumbuh di dunia diperkirakanberjumlah lebih dari 1000 jenis, namun baru 142 jenis yang diidentifikasi oleh parapeneliti. Lembaga penelitian yang menangani ubi jalar, antara lain: InternationalPotato Centre (IPC) dan Centro International de La Papa (CIP) yag berada di Peru. Di Indonesia,penelitian dan pengembangan ubi jalar ditangani oleh Pusat Penelitian danPengembangan Tanaman Pangan atau Balai Penelitian Kacang-Kacangan danUmbi-Umbian (Balitkabi), Departemen Pertanian.
Menurut BAPPENAS (2000), varietas atau klon ubi jalar digolongkan sebagai varietas unggul apabila memenuhi beberapa persyaratan yaitu berdaya hasil tinggi, di atas 30 ton/hektar, berumur pendek (genjah) antara 3-4 bulan, rasa ubi enak dan manis, tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.)dan penyakit kudis olehcendawan (Elsinoe sp.), kadar karotin tinggi di atas 10 miligram/100 gram, dan keadaan serat ubi relatif rendah.Adapun beberapa jenis ubi jalar yang termasuk dalam kelompok varietas unggul dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel4Beberapa jenis ubi jalar varietas unggul
No Jenis Varietas Ciri-Ciri (Karakteristik)
1.
1.Varietas hasil persilangan antara varietas (kultivar) putri selatanx jonggol.
2. Potensi hasil antara 25-35 ton per hektar. 3. Umur panen 110 hari setelah tanam.
4. Kulit dan daging ubi berwarna jingga muda. 5. Rasa ubi manis dan agak berair.
6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
1. Diperoleh dari hasil persilangan antara varietas daya x centenial II.
2. Potensi hasil antara 25-35 ton per hektar. 3. Umur panen 135 hari setelah tanam. 4. Kulit dan daging ubi berwarna jingga. 5. Rasa ubi enak dan manis.
6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
1. Varietas hasil persilangan antara varietas daya x Philippina.
4.
5.
Mendut
Kalasan
4. Umur panen 120 hari setelah tanam. 5. Ubi berasa manis.
6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
1. Varietas klon MLG 12653 introduksi asal IITA, Nigeria ‘84.
2. Potensi hasil antara 25-50 ton per hektar. 3. Umur panen 125 hari ssetelah tanam. 4. Rasa ubi manis.
5. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.
1. Varietas diintroduksi dari Taiwan.
2. Potensi hasil antara 31.2-42.5 ton/hektar atau rata-rata 40 ton/hektar.
3. Umur panen 95-100 hari setelah tanam.
4. Warna kulit ubi cokelat muda, daging ubi berwarna orange muda(kuning).
5. Rasa ubi agak manis, tekstur sedang, dan agak berair. 6. Varietas agak tahan terhadap hama penggerek ubi. 7. Varietas cocok ditanam di daerah kering sampai basah,
dan dapat beradaptasidi lahan marjinal.
Sumber: BAPPENAS, 2000
Nilai Tambah dan Pengolahan
Ubi jalar banyak dimanfaatkan sebagai salah satu komoditas yang banyak digunakan sebagai bahan pangan. Salah satu pemanfaatannya yaitu sebagai produk substitusi dari tepung terigu. Seperti yang dilakukan oleh Nisviaty (2006) yang melakukan penelitian tentang pemanfaatan tepung ubi jalar (Ipomoea batatas L.) klon BB00105.10 sebagai bahan dasar produk olahan kukus dan margareth (2006) sebagai bahan dasar produk olahan goreng. Hasil dari penelitiannya yaitu panganan kukus ataupun goreng yang berbahan dasar tepung ubi jalar klon BB00105.10 tergolong pangan yang memiliki nilai indeks glikemik dan beban glikemik rendah dan bisa dijadikan alternatif diet khususnya bagi penderita diabetes melitus dan obesitas. Nilai IG rata-rata bolu kukus dan
brownies kukus ubi jalar berturut-turut 46±9 dan 29±9 sedangkan kue bijiketapang sebesar 49±12 dan kue bawang sebesar 32±7.
pasar yang dapat di ambil oleh kelompok tani hurip 50-60 persen dari potensi pasar sekitar 35-42 ton per bulannya mengingat kelompok tani hurip adalah industri yang masih berskala kecil.
Selain itu ubi jalar juga dapat menjadi alternatif bahan makanan pokok dan memiliki nilai ekonomis dengan peningkatan nilai tambah produk. Salah satunya adalah dengan pengolahan ubi jalar menjadi kripik ubi jalar. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa KKN program studi Gizi Masyarakat IPB (2010) dengan melakukan proses pengolahan ubi jalar menjadi produk keripik. Hasilnya adalah produk keripik ubi jalar memiliki nilai tambah berupa masa simpan yang lebih lama dan juga kenaikan harga dari ubi jalar segar Rp 2 500-Rp 5 000 /kilogram menjadi keripik seharga Rp 28 000-Rp 32 000 /kilogram.
Perdagangan Ubi Jalar
Selain untuk memenuhi kebutuhan domestik, ubi jalar akhir-akhir ini rnerupakankomoditi ekspor non migas yang potensial. Negara pengimpor terbesar ubi jalar Indonesia adalah Jepang. Tingginya permintaan negara Jepang disebabkanterbatasnya produksi dalam negeri, didukung oleh faktor iklim dan cuaca Jepang yangkurang menunjang serta lahan yang sempit, menyebabkan biaya produksi dan hargaubi jalar Jepang menjadi tinggi. Kebutuhan ubi jalar yang semakin meningkat mendorong pemerintah Jepang untuk rnemberikan insentif kepada pihak importirberupa penurunan bea tarif impor sebesar 50 persen sejak tahun 1995.
Salah satu penelitian mengenai ekspor ubi jalar dilakukan oleh Octafrina (2000) menganalisis prospek pengembangan ekspor pasta ubi jalar beku ke Jepang. Penelitian ini dilakukan di PT Galih Estetika yang merupakan salah satu eksportir pasta ubi jalar beku di Indonesia dengan alat analisis PAM. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha ekspor pasta ubi jalar beku menguntungkan baik secara finansial maupun secara ekonomi. Hal ini terlihat dari nilai keuntungan privat (PP) sebesar Rp 3 898.5 per kilogram pasta ubi jalar beku dan nilai keuntungan sosial (SP) sebesar Rp 2 843.4 per kilogram, sehingga ekspor pasta ubi jalar beku layak untuk diusahakan. Keunggulan komparatif dan kompetitif ditunjukkan oleh nilai DRC dan PCR yang lebih kecil dari satu yaitu sebesar 0.652 dan 0.545.
Daya Saing
Untuk memberikan gambaran terhadap daya saing komoditas ubi jalar terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yaitu pada tahun 2011, Sarianti dan Hoeridah melakukan penelitian mengenai analisis daya saing ubi cilembu di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dan Juarsa (2007) melakukan penelitian tentangdaya saing ubi jalar di Kabupaten Kuningan.Pengambilan data
secara primer dan sekunder dengan alat analisis PAM dan uji
sensitivitas.Berdasarkan hasil kedua penelitian yangmenggunakan analisis matrik
kebijakan(PAM), dapat disimpulkan bahwausahatani ubi jalar
dilihat darikeunggulan kompetitif maupun keunggulankomparatif.Dampak kebijakan pemerintahterhadap input domestik belum efektifkarena produsen harus membayar lebihmahal dari yang seharusnya, sedangkanuntuk input tradable
efektif dikarenakanada subsidi. Untuk kebijakan outputbersifat menghambat yaitu adanya pajakekspor dan tidak adanya kebijakansubsidi untuk komoditas ubi jalar. Secarakeseluruhan kebijakan pemerintah masihbersifat disinsentif terhadap petani untukmeningkatkan produksinya dan harusmengeluarkan biaya lebih besar daribiaya sosialnya.Hasil analisis sensitivitas bila terjadikenaikan upah tenaga kerja danmenguatnya nilai tukar Rupiah terhadapDolar Amerika masih menguntungkansecara finansial maupun ekonomi dantetap memiliki dayasaing baik dari sisikeunggulan kompetitif dan keunggulankomparatif. Sedangkan bila terjadipenurunan jumlah produksi sampai 50 persen, pengusahaan ubi jalar
tidakmenguntungkan secara finansial dantidak memiliki keunggulan
kompetitifwalaupun masih menguntungkan secaraekonomi dan memiliki keunggulankomparatif.
Selain alat analisis PAM dan uji sensitivitas, terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan yaitu menggunakan Ordinary Least Square (OLS) untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi posisi daya saing komoditi Indonesia seperti yang dilakukan oleh Rahmatu (2009) yang melakukan analisis faktor-faktor daya saing olahan kakao Indonesia di pasar internasional. Berdasarkan hasil metode OLS menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhidaya saing hasil olahan kakao adalah harga ekspor kakao olahan, volume eksporkakao olahan, dan krisis ekonomi, sedangkan faktor-faktor yang tidakberpengaruh terhadap daya saing hasil olahan kakao Indonesia adalahproduktivitas industri pengolahan kakao. Pada variabel produktivitas industripengolahan kakao tidak berpengaruh terhadap daya saing hasil olahan kakao,karena daya saing hasil olahan kakao lebih dipengaruhi oleh mutu dan kualitasproduk, sedangkan peningkatan produktivitas tidak menjamin peningkatan mutuhasil olahan kakao.
Ada pula penggunaan metode lain untuk menganalisis daya saing produk pertanian yaitu Suprehatin yang pada tahun 2006 melakukan analisis daya saing ekspor nenas segar Indonesia dengan menggunakan metode regresi data panel. Analisis regresi data panel dilakukan dengan menggunakan program Eviews 4.1 dan Microsoft Excel 2003. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan gabungan antara data cross section dan time series. Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap pangsa pasar ekspor nenas segar adalah volume ekspor nenas segar Indonesia, harga ekspor nenas segar Indonesia, Nilai tukar, pendapatan per kapita Negara pengimpor, volume ekspor nenas olahan, dan produksi nenas segar. Hasil analisis menunjukkan bahwa volume ekspor dan produksi dalam negeri memiliki tanda koefisien positif , sedangkan GDP per kapita negatif. Hal ini memiliki arti bahwa peningkatan volume ekspor nenas segar Indonesia dan produksi nenas dalam negeri akan meningkatkan pangsa pasar ekspor nenas segar Indonesia, sedangkan peningkatan GDP per kapita Negara pengimpor akan menurunkan pangsa pasar ekspor nenas segar Indonesia.
Dalam penelitian ini salah satu hal yang dilakukan yaitu menganalisis struktur pasar ubi jalar dalam perdagangan dunia menggunakan Herfindahl Index
yang berbeda baik komoditas pertanian, perikanan, maupun peternakan. Beberapa penelitian tersebut antara lain analisis daya saing jahe Indonesia di pasar internasional oleh Amelia (2009) yang menggunakan HI dan CR untuk mengetahui struktur pasar jahe dipasar internasional yang didapatkan hasil yaitu struktur pasar dominan yang berarti bahwa Indonesia berperan sebagai price taker. Selain itu terdapat pula penelitian yang dilakukan oleh Cahya (2010) yang menganalisis daya saing ikan tuna Indonesia dipasar internasional. dari hasil analisis struktur pasar ikan tuna yang menggunakan HI dan CR didapatkan hasil bahwa struktur pasar komoditas ikan tuna baik ikan tuna segar, beku, maupun olahan didapatkan hasil struktur pasar berupa monopolistik yang cenderung oligopoli yang menyebabkan posisi Indonesia masih berpeluang dalam menguasai pasar. Ada pula Marlinda (2008) yang menggunakan HI dan CR untuk menganalisis struktur pasar lada Indonesia di pasar Internasional. dari hasil analisis tersebut didapatkan bahwa struktur pasar menunjukkan kecenderungan ke arah pasar persaingan oligopoli dan memiliki tingkat konsentrasi yang sedang. Untuk itu pada penelitian ini digunakan pula HI dan CR untuk mengetahui struktur pasar yang terdapat dalam perdagangan ubi jalar dunia.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran teoritis merupakan suatu kerangka yang menjelaskan mengenai teori-teori yang sesuai yang digunakan dalam topik penelitian. Kerangka pemikiran teoritismembahas mengenai berbagai teori dan konsep perdagangan internasional ubi jalar yang terkait dengan penelitian yang dilakukan. Kerangka pemikiran teoritis dalam kajian ini meliputikegiatan menganalisis daya saing pada komoditas ubi jalar Indonesia di pasar internasional.
Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional diartikan sebagai pertukaran barang dan jasayang terjadi melampaui batas antar negara. Perdagangan internasional diperlukanuntuk mendapatkan manfaat yang dimungkinkan oleh spesialisasi produksi.Lipsey (1997) mengatakan bahwa dengan perdagangan, setiap orang, wilayah, atau bangsa dapat memusatkanperhatian untuk memproduksi barang dan jasa yang dapat dilakukannya secaraefisien, sementara mereka melakukan
perdagangan untuk memperoleh barang danjasa lain yang tidak
diproduksinya.Perdagangan internasional merupakan hubungan kegiatan ekonomi antar negara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang dan jasa atas dasar suka rela dan saling menguntungkan.
permintaan masyarakat, dan persediaan barang dan permintaan pasar disetiap negara yang tidak seimbang. Dalam keseimbangan antara permintaan dan penawaran terdapat beberapa perbedaan yang terjadi jika keseimbangan tersebut dilakukan tanpa adanya perdagangan maupun keseimbangan dalam perdagangan internasional dalam Negara-negara eksportir (gambar 1) (Rohmana, 2007).
Sumber : Rohmana (2007)
Dalam keseimbangan tanpa perdagangan dapat diketahui bahwa terjadi titik keseimbangan antara penawaran dan permintaan dalam negeri dalam perpotongan dari harga barang X dan jumlah dari barang X dan memunculkan adanya surplus konsumen dan surplus produsen. Sedangkan dalam perdagangan internasional dinegara-negara eksportir akan terjadi perubahan harga setelah perdagangan dan akan menyebabkan adanya permintaan dan penawaran dari barang X menjadi berubah. Perubahan tersebut akan memunculkan adanya kegiatan ekspor dimana dengan adanya kenaikan harga maka permintaan dalam negeri akan berkurang sedangkan supply akan semakin bertambah sehingga dengan adanya gap tersebut menyebabkan adanya kegiatan ekspor.
Gambar 1 Keseimbangan tanpa perdagangan
Sumber : Rohmana (2007)
Struktur Pasar
Deskripsi struktur pasar didasarkan pada jumlah dan ukuran perusahaan yang terdapat pada suatu industri dalam menyediakan dan menjual suatu produk kepada pasar atau sekumpulan pembeli. Pengamatan terhadap struktur pasar dilakukan dengan mengetahui karakteristik pasar terutama tentang perilaku penjual dan pembeli ketika melakukan transaksi perdagangan.Menurut UU Nomor 5 Tahun 1999, struktur pasar didefinisikan sebagai suatu keadaan pasar yang memberikan petunjuk tentang aspek-aspek yang memiliki pengaruh penting terhadap perilaku pelaku usaha dan kinerja pasar. Aspek-aspek tersebut antara lain jumlah penjual dan pembeli, hambatan masuk dan keluar pasar, keragaman produk, sistem distribusi, dan penguasaan pangsa pasar (Indriastuti, 2013).
1. Pasar Persaingan Sempurna
Pasar persaingan sempurna adalah struktur pasar yang ditandai oleh jumlahpembeli dan penjual yang sangat banyak. Transaksi setiap individu tersebut (pembelidan penjual) sangat kecil dibandingkan output industri total sehingga mereka tidak bisamempengaruhi harga produk tersebut. Para pembeli dan penjual secara individualhanya bertindak sebagai penerima harga (price takers). Tidak ada perusahaan yangmenerima laba di atas normal dalam jangka panjang dalam pasar persaingansempurna ini.
2. Pasar Monopoli
Pasar monopoli adalah suatu pasar yang dicirikan dengan penjual tunggaldan sebuah produk yang sangat terdiferensiasi. Produsen setiap produk harusbersaing memperebutkan pangsa pasar dari pembelian konsumen, tetapi produsenmonopoli tidak menghadapi persaingan yang efektif untuk penjualan produknyabaik dari pesaing yang ada maupun yang potensial. Hambatan yang besarseringkali merintangi para pendatang potensial. Monopoli bisa terjadi karena tigahal, yaitu monopoli alami, monopoli karena efisiensi yang superior, dan monopolikarena paten (Pappas dan Hirschey, 1995).
3. Pasar Monopolistik
Pasar Monopolistis adalah salah satu bentuk pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang serupa tetapi memiliki perbedaan dalam beberapa aspek.Meskipun produk yang dihasilkan sejenis, namun setiap produk yang dihasilkan tiap produsen pasti memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan produk lainnya (diferensiasi produk).Produsen dapat dengan leluasa keluar masuk pasar.Hal ini dipengaruhi oleh laba ekonomis, saat produsen hanya sedikit di pasar maka laba ekonomisnya cukup tinggi.Ketika produsen semakin banyak dan laba ekonomis semakin kecil, maka pasar menjadi tidak menarik dan produsen dapat meninggalkan pasar.Pada pasar monopolistis, tidak seperti pada pasar persaingan sempurna, produsen memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga walaupun pengaruhnya tidak sebesar produsen dari pasar monopoli atau oligopoli.Misalnya, pasar sepeda motor di Indonesia. Produk sepeda motor memang cenderung bersifat homogen, tetapi masing-masing
memiliki ciri khusus sendiri. Akibatnya tiap-tiap merek mempunyai pelanggan masing-masing (Pappas dan Hirschey, 1995).
4. Pasar Oligopoli
Pasar Oligopoli adalah suatu bentuk pasar yang terdapat beberapa penjual dimana salah satu atau beberapa penjual bertindak sebagai pemilik pasar terbesar (price leader).Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh.Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memposisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka.Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka (Pappas dan Hirschey, 1995).
Konsep Keunggulan Komparatif
Konsep daya saing berpijak dari konsep keunggulan komparatif yang diperkenalkan oleh Ricardo sekitar abad ke-18 (1823) yang selanjutnya dikenal
dengan model Ricardian Ricardo atau Hukum Keunggulan Komparatif (The Law
of Comparative Advantage). Ricardo menyatakan bahwa meskipun sebuah negara kurang efisien dibandingkan (memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua komoditas, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Negara pertama harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih kecil (memiliki keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih besar atau memiliki kerugian komparatif (Salvatore, 1997 dalam Sudiyarto).
Komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan juga memiliki efisiensi secara ekonomi. Keunggulan komparatif bersifat dinamis. Suatu negara yang memiliki keunggulan komparatif di sektor tertentu secara potensial harus mampu mempertahankan dan bersaing dengan negara lain. Keunggulan komparatif berubah karena faktor yang mempengaruhinya (Sudiyarto, 2013).
Teori keunggulan komparatif menyatakan bahwa suatu Negara mengekspor barang tertentu karena Negara tersebut bisa menghasilkan barang tersebut dengan biaya yang secara mutlak lebih murah daripada Negara lain. Suatu Negara hanya akan mengekspor barang yang mempunyai keunggulan komparatif tinggi dan mengimpor barang yang mempunyai keunggulan komparatif rendah. Jadi, jelas bahwa adanya keunggulan komparatif bisa menimbulkan manfaat perdagangan bagi kedua belah pihak, dan selanjutnya akan mendorong timbulnya perdagangan antarnegara.
Konsep Keunggulan Kompetitif
Menurut David (2009), keunggulan kompetitif dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dapat dilakukan dengan jauh lebih baik oleh sebuah perusahaan jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan saingan”.
Keunggulan kompetitif (Competitive Advantage) merupakan alat untukmengukur
kompetitif atautidak. Keunggulan kompetitif dibuat dan dipertahankan melalui suatu prosesinternal yang tinggi. Perbedaan dalam struktur ekonomi nasional, nilai,kebudayaan, kelembagaan, dan sejarah menentukan keberhasilan kompetitif.
Keunggulan kompetitif suatu negara ditentukan oleh empat faktor yangharus dimiliki suatu negara untuk bersaing secara global. Keempat faktor tersebutadalah kondisi faktor sumberdaya (factor condition), kondisi permintaan (demandcondition), industri terkait dan industri pendukung (related and supportingindustry), persaingan, struktur, dan strategi perusahaan (firm strategy, structure,and rivarly). Keempat faktor penentu tersebut didukung oleh faktor eksternalyang terdiri atas peran pemerintah (goverment) dan terdapatnya kesempatan(chance events). Secara bersama-sama faktor tersebut membentuk suatu sistemyang berguna dalam peningkatan keunggulan daya saing, sistem tersebut dikenaldengan “The National Diamond” (Gambar 3).
Keterangan:
Garis (), hubungan antara atribut utama.
Garis (---), hubungan antara atribut tambahanterhadap atribut utama. Sumber : Porter (1998)
Konsep Daya Saing
Globalisasi pada dasarnya adalah fenomena yang mendorong perusahaan di tingkat mikroekonomi untuk meningkatkan efisiensi agar mampu bersaing di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dengan globalisasi yang
Peluang
Pemerintah Strategi
perusahaan, struktur, dan persaingan
Kondisi faktor
Kondisi permintaan
Industri terkait dan pendukung
menyatukan pasar dan kompetisi investasi internasional meningkatkan tantangan sekaligus peluang bagi semua perusahaan baik kecil, menengah maupun besar. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan bersaing baik untuk produk ataupun jasa yang ditawarkan supaya perusahaan, industri, ataupun negara dapat mampu untuk bertahan dan bersaing dalam perdagangan internasional. Kemampuan bersaing ini dikenal dengan istilah daya saing (Sudiyarto, 2013).
Pada hakekatnya suatu komoditas dikatakan memiliki daya saing manakala memiliki harga jual yang bersaing dan mutunya baik. Daya saing merupakan suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan biaya produksi yang cukup rendah, sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional dapat diproduksi dan dipasarkan oleh produsen dengan memperoleh harga laba yang mencukupi sehingga dapat mempertahankan kelanjutan biaya produksinya (Sudiyarto, 2013).
Kerangka Pemikiran Konseptual
Ubi jalar merupakan salah satu komoditas tanaman pangan unggulan ekspor Indonesia setelah jagung dan ubi kayu karena Indonesia merupakan salah satu Negara produsen dan eksportir utama ubi jalar di pasar internasional.Selain itu, produktivitas dan volume produksi ubi jalar walaupun berfluktuasi tetapi selalu mengarah keangka positif. Ubi jalar selain sebagai salah satu sumber devisa Negara juga merupakan komoditas diversifikasi pangan yang dapat diolah menjadi berbagai macam makanan.
Adanya potensi yang besar dalam hal produksi dan masihtingginya permintaan terhadap ubi jalar Indonesia merupakan salah satu peluangIndonesia untuk meningkatkan pasar ubi jalar dunia.Namun, sebagai negara produsen dan eksportir utama ubi jalar di dunia,pengusahaan ubi jalar masih terkendala oleh masalah cakupan dan bentukpengusahaan yang sebagian besar berupa perkebunan rakyat serta teknik budidaya danteknologi. Selain itu, petani ubi jalar juga
dihadapkan pada masalah fluktuasi harga dan permodalan yang
terbatas.Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalahmenganalisis struktur pasar ubi jalar Indonesia dan menganalisis posisi daya saing ubi jalar Indonesia di pasar internasional.
Oleh karena itu, tahapan pertama dalam penelitian ini adalah
menganalisisdengan Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR)
untukmenggambarkan struktur dan pangsa pasar yang dimiliki oleh komoditas ubi jalar Indonesia di pasar internasional. Kemudian dilakukan analisis
RevealedCompetitive Advantage (RCA) yang digunakan untuk menjelaskan kekuatan dayasaing komoditas ubi jalar Indonesia secara relatif terhadap produk sejenis darinegara lain yang juga menunjukkan posisi kompetitif Indonesia sebagai produsen ubi jalar dibandingkan dengan negara lainnya dalam pasar ubi jalar internasional. RCA ini digunakan untuk menganalisis keunggulan komparatif ubi jalar Indonesia jika dibandingkan dengan negara produsen lainnya.
mengenaikeunggulan bersaing negara-negara. Teori Berlian Porter menganalisis faktorinternal dan eksternal yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu
negara,dalam penelitian ini berarti faktor-faktor yang mempengaruhi
keunggulankompetitif ubi jalar Indonesia. Untuk lebih jelasnya, akan diperlihatkan diagram alurpemikiran dari penelitian ini pada Gambar 4.
Keterangan:
METODE PENELITIAN
Ruang Lingkup dan Waktu Penelitian
Penelitian ini menganalisis mengenai posisi daya saing ubi jalar Indonesia dipasar internasional mulai tahun 2001-2010. Penelitian mulai dilaksanakan pada bulan Februari 2013 dan pengambilan data dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2013.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yangmerupakan data deret waktu (time series) selama sepuluh tahun dari tahun 2001 sampai tahun 2010 karena dengan adanya data selama sepuluh tahun sudah dapat memberikan gambaran tentang perkembangan dari komoditas ubi jalar tersebut. Sebelum tahun 2001 ubi jalar memang telah banyak diperdagangkan tetapi kapasitasnya tidak sebanyak sepuluh tahun terakhir ini, maka diambillah data dari tahun 2001-2010. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi jumlah produksi ubi jalar Indonesia dan dunia, nilaiekspor ubi jalar Indonesia, negara-negara produsen, dan eksportir ubi jalar di dunia, harga, pangsa pasar masing-masing Negara, nilai ekspor komoditas di Indonesia, dan data ekspor seluruh komoditas di dunia. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan informasi yang berkaitandengan potensi ubi jalar di Indonesia untuk kajian keunggulan kompetitif.Sumber data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Pertanian, Food and Agriculture Organization (FAO), Index Mundi, United Nation Department of Agriculture (USDA), dan United Nation Commodity Trade
(UN Comtrade), International Trade Center (ITC), UNCTAD yangditelusuri melalui jaringan internet. Sumber informasi lainya diperoleh dari buku,artikel, jurnal, dan internet. Dalam penelitian ini juga menggunakan data-data yangberasal dari literatur dan penelitian-penelitianterdahulu. Juga terdapat data primer yang di dapatkan dari wawancara singkat mengenai kegiatan ekspor ubi jalar kepada seorang petani ubi jalar di Kecamatan Dramaga sebagai bahan tambahan informasi teknis. Untuk jelasnya, jenis dan sumber data dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini.
Tabel 5 Jenis dan sumber data
Jenis Data Sekunder Sumber Data PIC Waktu
Produksi ubi jalar Indonesia Produksi ubi jalar dunia
Nilai ekspor ubi jalar
BPS USDA
Peneliti Peneliti
12 Maret 2013 12 Maret 2013 = Variabel
= Alat analisis
Indonesia
Metode analisis dan pengolahan data yang digunakan pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis situasi dan kondisi faktor penentu daya saing dan faktor strategis dalam menghadapi persaingan di pasar internasional.Analisis kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan Teori Berlian Porter.Sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis struktur pasar dan keunggulan komparatif ubi jalar di pasar internasional dengan metode Herfindahl Index (HI),
Concentration Ratio (CR), dan Revealed Comparative Advantage
(RCA).Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan software Microsoft Excel 2007.
Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR)
Indeks Herfindahl (juga dikenal sebagai Herfindahl–Hirschman Indeks, atau HHI) adalah ukuran dari ukuran perusahaan dalam kaitannya dengan industri dan indikator jumlah kompetisi di antara mereka.Dinamai dari ekonom Orris C. Herfindahl dan Albert O. Hirschman, adalah sebuah konsep ekonomi yang luas yang diterapkan dalam hukum persaingan, anti monopoli, dan juga manajemen teknologi.Dari analisis tingkat konsentrasi pasar akan dapatdiketahui struktur atau bentuk pasar yang dihadapi dari perdagangan komoditi ubi jalar yang pada akhirnya dapat menentukan tingkat persaingan yang dihadapi.
Selain itu, analisis konsentrasi pasar dengan menggunakan Herfindahl Index danCocentration Ratio juga memperhitungkan pangsa pasar dari masing-masingnegara di dunia yang terlibat dalam perdagangan ubi jalar di pasar internasional.Pangsa pasar ubi jalar diperoleh dengan membandingkan ekspor ubi jalar suatu negaradengan total ekspor ubi jalar keseluruhan negara.Nilai
Herfindahl Index merupakan hasil penjumlahan kuadrat pangsa pasartiap negara. Formula Herfindahl Index adalah sebagai berikut:2
HI = Sij12 + Sij22 + Sij32 + … + Sijn2
Dimana:
Sij = pangsa pasar komoditi i (dalam hal ini adalah ubi jalar) negara j dipasar internasional
2
n = jumlah negara produsen ubi jalar di pasar internasional
Kisaran nilai Herfindahl Index yang diperoleh adalah antara 0 dan 1 (atau10000 yang merupakan kuadrat dari 100 persen). Jika nilai HI mendekati 0 berartistruktur pasar industri yang bersangkutan cenderung mengarah kepada pasarpersaingan (competitive market). Kemudian, jika nilai HI mendekati 1 (atau10000) maka struktur pasar industri tersebut cenderung berkonsentrasi tinggi. Sedangkan Concentration Ratio merupakan persentase dari pangsa pasar yang dimiliki oleh m perusahaan terbesar dalam industri, dimana m merupakan angka yang menunjukkan jumlah dari perusahaan, biasanya 4 atau 8 sehingga menjadi CR4 atau CR8.
3
Dalam penelitian ini nilai rasio konsentrasi yangdigunakan adalah nilai CR4yaitu empat Negara eksportir ubi jalar terbesar di dunia. CR4
dipilih karena telah dapat memberikan gambaran dan dapat menunjukkan pangsa pasar ubi jalar di dunia sehingga dapat diketahui struktur pasarnya. Empat Negara eksportir terbesar dari tahun 2001-2010 tersebut adalah Amerika Serikat, China, Indonesia, dan Israel. Pangsa pasar Negara-negara tersebut hampir selalu sama kecuali Amerika Serikat yang selalu menjadi eksportir utama dari ubi jalar didunia.Nilai rasio konsentrasi yang rendah berarti pasar ubi jalar di pasar internasional terdiri dari banyak negara produsen dengan tingkatpersaingan yang tinggi. Apabila rasio konsentrasi tinggi, maka produsen pasarcenderung didominasi oleh produsen terbesar dan pasar lebih terkonsentrasi.Rasio konsentrasi pasar dirumuskan sebagai berikut:4
CR4 = Sij1 + Sij2 + Sij3 + Sij4
Dimana:
CR4 =nilai konsentrasi pasar empat produsen utama ubi jalar di
pasarinternasional
Sij = pangsa pasar negara ke-i penghasil ubi jalar di pasar internasional
Jadi dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat konsentrasi pasar yang dapat dirumuskan dari nilai HerfindahlIndex dan CR4 adalah sebagai
berikut:
1. Konsentrasi pasar yang rendah dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisarantara
0-50 persen dan HI antara 0-1000.
2. Konsentrasi pasar sedang dicirikan dengan nilai CR4 antara 50-80 persendan
nilai HI yang berkisar antara 1000-1800.
3. Konsentrasi pasar yang tinggi dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisarantara
80-100 persen, sedangkan kisaran nilai HI yaitu antara 1800-10000.
Revealed Comparative Advantage (RCA)
Untuk menganalisis keunggulan komparatif dari komoditas tertentu di
suatu Negara dapat menggunakan RCA (Revealed Comparative Advantage) yang
bertujuan untuk membandingkan pangsa pasar ekspor sektor tertentu suatu Negara dengan pangsa pasar sektor tertentu negara atau produsen lainnnya serta menunjukkan daya saing industri suatu Negara. Menurut Basri (2010), tujuan
3
http://www.quickmba.com/econ/micro/indcon.shtml [20 Maret 2013]
4
penggunaan indeks RCA dalam penelitian ini yaitu ingin mengetahui keunggulan komparatif ubi jalar Indonesia diantara Negara-negara lain di pasar internasional dan juga RCA dapat digunakan untuk mengukur daya saing industri suatu Negara atau perusahaan.Formula RCA dirumuskan sebagai berikut:
RCA =
/ ∑
∑ / ∑ ∑
Dimana :
= nilai ekspor komoditas ubi jalar negara j
∑ = total nilai ekspor seluruh komoditas pertanian dari negara j
∑ = total nilai ekspor dunia dari komoditas ubi jalar
∑ ∑ = total nilai ekspor dunia untuk seluruh komoditas pertanian
Apabila nilai RCA produk suatu negara lebih besar dari 1, maka Negaratersebut memiliki keunggulan komparatif atau berdaya saing kuat pada produktersebut. Apabila nilai RCA kurang dari 1, maka negara tersebut tidak memilikikeunggulan komparatif dalam produk tersebut atau mempunyai daya saing yanglemah. Semakin tinggi nilai RCA maka daya saing suatu negara akan semakinkuat (Basri, 2010).
Metode Berlian Porter
Menurut Michael E. Porter dalam bukunya yang berjudul The Competitive Advantage of Nation, terdapat empat atribut yang dapatmenciptakan keunggulan kompetitif suatu industri nasional, yaitu kondisi faktor(factor conditions), kondisi permintaan (demand conditions), industri pendukungdan terkait (related and supporting industry), serta strategi perusahaan, struktur,dan persaingan (firms strategy, structure, and rivalry). Keempat atribut tersebutsaling berkaitan dan berhubungan satu sama lain sehingga membentuk suatusistem yang dikenal dengan Diamond’sPorter. Selain itu, tedapat dua variabeltambahan yang secara tidak langsung mempengaruhi daya saing suatu industriatau pengusahaan suatu komoditas dalam suatu negara.Penjelasan dari keempat atribut utama dan dua atribut tambahan yangmerupakan faktor pendorong daya saing suatu negara adalah sebagai berikut:
1. Kondisi Faktor
2. Kondisi Permintaan
Pasar domestik yang canggih merupakan elemen penting
untukmenciptakan daya saing. Keunggulan kompetitif akan tercipta ketika pasarlokal untuk produk tertentu lebih besar daripada pasar internasional danperusahaan lokal memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pasarlokal. Dengan semakin kuatnya pasar lokal maka perusahaan lokal akanmulai mengekspor produk tersebut ke pasar internasional. Selain itu,permintaan lokal yang lebih besar akan membawa keunggulan kompetitifsuatu negara. Pasar lokal yang kuat dapat membantu perusahaan lokaldalam mengantisipasi perubahan
global (global trends) dalam persainganyang kompetitif. Aspek yang
mempengaruhi kondisi permintaan dapatdilihat dari mutu dan juga selera pembeli yang tinggi.
3. Industri Terkait dan Industri Pendukung
Ketika industri pendukung mampu bersaing secara kompetitif,perusahaan dapat menikmati biaya dengan lebih efektif dan input yanginovatif. Salah satu komponen industri terkait adalah industri hulu yangmampu memasok input bagi industri utama dan juga industri hilir yaituindustri yang menggunakan produk industri utama sebagai bahan bakunya.Industri terkait dan pendukung akan semakin memperkuat posisi bersaingsuatu negara apabila supplier dan industri pendukung merupakan pesaingglobal yang kuat dalam perdagangan internasional. 4. Struktur, Persaingan dan Strategi.
Kondisi lokal dapat mempengaruhi strategi perusahaan yangberbeda-beda pada setiap negara. Contohnya, Jerman mempunyai strukturhierarki manajemen yang berlatar belakang teknik sementara Italiamempunyai struktur yang lebih kecil dan bersifat kekeluargaan. Strategi,persaingan, dan struktur dapat menentukan tipe industri perusahaan suatunegara. Tingkat persaingan bagi perusahaan akan mendorong kompetisidan inovasi. Keberadaan pesaing lokal yang handal merupakan penggerakdan memberikan tekanan pada perusahaan lain untuk meningkatkan dayasaing. Struktur perusahaan atau industri menentukan daya saing dengancara melakukan perbaikan atau inovasi. Hal ini jika dikembangkan dalamsituasi persaingan akan berpengaruh pada strategi yang dijalankan olehperusahaan.
5. Peran Pemerintah
Peran pemerintah sebenarnya tidak berpengaruh langsung
terhadappeningkatan daya saing tetapi berpengaruh terhadap faktor-faktor penentudaya saing tersebut. Pemerintah dapat bertindak sebagai fasilitator yaitumemfasilitasi lingkungan industri yang mampu memperbaiki kondisifaktor daya saing. Pemerintah juga dapat berperan sebagai regulatordimana pemerintah dapat mempengaruhi tingkat daya saing global melaluikebijakan yang memperlemah atau memperkuat faktor penentu daya saingindustri, tetapi pemerintah tidak dapat menciptakan keunggulan bersaingsecara langsung.
6. Peran Kesempatan atau Peluang
peran kesempatan yang sangat berpengaruh adalah kurs atau nilai mata uang. Dalam perdagangan internasional nilai kurs merupakan faktor yang dapat mempengaruhi daya saing suatu komoditas yang dijelaskan pada gambar 5 dibawah ini.
Sumber : Mankiw (2008)
Dalam perdagangan internasional, kurs atau mata uang merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi ekspor suatu komoditas. Dalam gambar 5 dapat dijelaskan bahwa jika kurs mata uang suatu Negara mengalami apresiasi maka akan menyebabkan ekspor Negara tersebut akan mengalami penurunan karena harga ekspor Negara tersebut akan menjadi lebih mahal diluar negeri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Ubi Jalar Indonesia
Ubi jalar merupakan salah satu komoditas yang potensial untuk dikembangkan dan memiliki potensi untuk pembangunan perekonomian nasional seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sampai saat ini terdapat bermacam-macam jenis ubi jalar yang banyak dikembangkan dan juga yang dibudidayakan di Indonesia. Ubi jalar telah berhasil dibudidayakan dan diperdagangkan secara luas dan dalam jumlah besar sebagai bahan makanan pokok ataupun bahan baku untuk sektor industri. Potensi pengembangan budidaya ubi jalar tersebut relatif tersebar di seluruh Indonesiadan memiliki pertumbuhan yang baik di seluruh wilayah Indonesia karena didukung oleh keadaan iklim dan geografis Indonesia yang sesuai untuk pertumbuhan ubi jalar. Daerah penyebaran ubi jalarterbesar di Indonesia dapat secara lengkap diperhatikan pada Tabel 6.
Pada tabel 6 dapat diketahui bahwa Propinsi Jawa Barat memiliki total produksi paling besar di Indonesia dengan besar 429 378 ton yang diikuti dengan Propinsi Papua, Jawa Timur, Sumetera Utara. Untuk Propinsi Papua sendiri memiliki luas tanam yang paling tinngi sebesar 34 414 hektar tetapi produksinya belum maksimal sehingga menyebabkan produktivitasnya juga masih lebih rendah dibandingkan dengan beberapa Propinsi di Indonesia.
Kurs
Ekspor netto Nx1
Nx2 e1
e2
Tabel 6 Sebaran propinsi sentra produksi ubi jalar Indonesia tahun 2011
Sumber: P2HP, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2013
Peluang pengembangan komoditas ubi jalar sampai saat ini masih sangat terbuka luas. Pada konteks perdagangan internasional, posisi dagang Indonesia di pasar Internasional semakin baik, bahkan Indonesia telah menjadi salah satu eksportir terbesar ubi jalar berdasarkan data FAO (2013). Indonesia juga telah mampu bersaing untuk memperebutkan pangsa pasar ubi jalar dunia.
Sebagai salah satu penghasil ubi jalar dunia, pola perdagangan komoditi ubi jalar Indonesia cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Volume perdagangan ubi jalar tahun 2001-2010 didominasi oleh produk segar sebagai bahan baku industri pengolahan. Perkembangan ekspor ubi jalar Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.
Kondisi demand yang sama juga berlaku untuk komoditi ubi jalar. Terjadi peningkatan demand yang cukup baik dimanfaatkan sebagai tambahan pendapatan negara. Berdasarkan kecenderungan ekspor dan impor produk ubi jalar selama periode 2001-2010, pasar dunia untuk produk ubi jalar segarrelatif meningkat setiap tahun. Peningkatan permintaan komoditi ubi jalar tersebut dikarenakan semakin banyaknya Negara importir ubi jalar yang produksi dalam negerinya tidak dapat mencukupi permintaan dalam negeri Negara importir tersebut. Salah satu faktor terbesar yang menyebabkan hal tersebut adalah faktor iklim dan keadaan geografis yang kurang mendukung perkembangan dan pertumbuhan ubi jalar. Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa permintan ubi jalar dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun kecuali pada tahun 2003 yang sempat mengalami penurunan permintaan komoditi ubi jalar.
Tabel 7 Jumlah dan nilai impor ubi jalar dunia tahun 2001-2010
Tahun Quantity (Tonnes) Value (1000 US$)
2008 210 267 146 988
2009 221 257 149 997
2010 249 591 175 328
Sumber: FAO, 2013
Melihat potensi produksi dan permintaan yang semakin positif, dapat digambarkanbahwa komoditi ubi jalar merupakan salah satu komoditi tanaman potensial untuk dapat menggerakkan perekonomian Indonesia melalui sektor pertanian tanaman pangan. Dukungan potensi Indonesia dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen ubi jalar dunia, juga dapat menjadikan ubi jalar sebagai salah satu sumber devisa yang patut dikembangkan. Oleh karena itu perlu dikembangkan penelitian ataupun kajian ubi jalar, baik dalam bidang produksi, budidaya, kualitas, ataupun posisi dagang Indonesia di pasar internasional yang berujung pada kemampuan Indonesia dalam bersaing dan memperebutkan pangsa pasar dunia.
Struktur Pasar dan Persaingan Ubi Jalar di Pasar Internasional
Struktur pasar ubi jalardi pasar internasional dapat diketahui dengan
menggunakan Herfindahl Index. Dimana Herfindahl Index merupakan
penjumlahan kuadrat dari pangsa pasar ubi jalar di masing-masing Negara didunia. Pangsa pasar ubi jalar suatu Negara didapatkan dari perbandingan ekspor ubi jalar suatu Negara dengan total ekspor ubi jalar dunia. Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa Amerika menguasai pangsa pasar ubi jalar terbesar didunia selama sepuluh tahun dengan rata-rata sebesar 29.7 persen diikuti oleh China 15.3 persen, Indonesia 8.0 persen, Israel 7.3 persen, dan Republik Dominika 6.7 persen.
Gambar 6 Rata-rata pangsa pasar ubi jalar 10 negara terbesar 2001-2010
pada tahun 2010 yang konsentrasi pasarnya mulai tinggi yaitu berada pada angka 2 231.99.
Tabel 8 Hasil analisis Herfindahl Index dan Concentration Ratio komoditas ubi jalar di pasar internasional tahun 2001-2010
Tahun Negara CR4 HI ∑ eksportir 2001 United States of America
56.59 1173.14 57
China Indonesia Israel
2002 United States of America
60.94 1264.84 64
China Indonesia Israel
2003 United States of America
60.73 1337.40 71
China Indonesia Israel
2004 United States of America
72.38 1572.02 70
China Indonesia Israel
2005 United States of America
63.82 1351.16 68
China Indonesia Israel
2006 United States of America
63.87 1366.46 71
China Indonesia Israel
2007 United States of America
51.04 1110.80 80
China Indonesia Israel
2008 United States of America
57.65 1517.64 69
China Indonesia Israel
2009 United States of America
54.36 1653.77 73
China Indonesia Israel
2010 United States of America
61.60 2231.99 77