dari dalam rumah kita dari depan Televisi kita. Media massa terbagi menjadi dua bagian yaitu :
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional 3.1.1. Metode penelitian
Metode yang digunakan untuk menganalisis dan mengintepretasikan sistem tanda komunikasi dalam serial animasi Upin dan Ipin yang memuat pesan moral prososial adalah metode semiotika. Dengan berdasarkan pada semiotika John Fiske yang menggali konstruksi makna melalui kode-kode televisi. Metode semiotikan merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda dan beserta maknanya. Menurut John Fiske (2004:282) semiotika adalah studi tentang pertandaan dan makna dari sistem tanda, tentang bagaimana makna dibangun dalam teks media atau studi bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat mengkomunikasikan makna. Metode analisis semiotika ini menurut Fiske (2004:189) tidak hanya dipusatkan pada transmisi pesan, melainkan pada penurunan dan pertukaran makna. Penekanan disini bukan pada tahapan proses, melainkan teks dan interaksinya dalam memproduksi dan menerima kultur/budaya; difokuskan pada peran komunikasi dalam memantapkan dan memelihara nilai-nilai tersebut memungkinkan komunikasi memiliki makna. Di sisi lain, semiotika melihat bahwa pesan merupakan konstruksi tanda-tanda, yang pada saat bersinggungan dengan penerima akan memproduksi makna (Fieske, 2004:2).
3.1.2. Corpus
Kode pesan adalah sekumpulan simbol yang dapat disusun sedemikian rupa, sehingga bermakna bagi seseorang. Isi pesan ialah bahan atau material yang dipilih sumber untuk menyatakan maksudnya. Wujud pesan adalah keputusan-keputusan yang dibuat sumber mengenai bagaimana cara sebaiknya menyampaikan maksud-maksud dalam bentuk pesan.
Perilaku moral merupakan suatu bentuk perilaku yang memiliki konsekuensi sosial yang positif. Beberapa perilaku yang tercakup dalam definisi ini antara lain, tidak memetingkan diri sendiri, menolong dan pemakaian bersama, kehangatan, bekerjasama, empati, memuji menasihati penyesalan dan kesopanan
Pada penelitian ini objek penelitian ini adalah cerita yang terdapat dalam film upindan ipin The Movie khususnya scene happy ending yakni pada saat masyarakat menangkap para penjahat dan tokoh-tokoh protaganis dalam cerita yaitu Upin dan Ipin, Badrol, Lim, Rajoo, dan Kak Ros merayakan kemenangan mereka meliputi gambar dan suara (kata-kata yang diucapkan toko cerita) yang terdapat dalam tersebut yang memuat moral prososial, maka nantinya akan dipilih beberapa kode sebagai unit analisisnya. Pesan moral prososial ini disampaikan lewat penampilan para tokoh film yang tercermin dalam perilaku , dialog , ekspresi , dan karakter tokoh-tokoh tersebur. Maka nantinya dipilih beberapa kode yang terkonstruksi dalam film Upin dan Ipintsb meliputi kode appeareance, (penampilan), dress (kostum), speech (cara berbicara), gesture (gerakan) ,behaviour,axpression (ekspresi), conflict (konflik), charakter (karakter) dan dialogue (dialog).
Tanda-tanda dalam tataran gambar bergerak (animasi film) tersebut telah dikombinnasikan menjadi kode-kode, untuk memungkinkan suatu pesan disampaikan
dari komunikator ke komunikan (penonton).Adapun tanda-tanda yang serinkali dalam film adalah dapat dikategorikan dalam tiga level yakni :
Level realitas , kode-kode sosial dalam level pertama ini yakni meliputi appeareance, (penampilan), dress (kostum), make up (riasan), environment (lingkungan), behaviour (perilaku), speech (cara berbicara ), gesture (gerakan ), ekspression (ekspresi).
Level representasi, kode-kode yang termasuk dalam level ini berkaitan dengan kode-kode teknik, seperti camera (kamera), lightning (pencahayaan), editing (perevisian), music (musik),dan sound (suara).
Level ideologi,pada l;evel ketiga ini mencakup kode-kode representatif seperti narrative (naratif), conflict (konflik), character (karakter), action (aksi), dialogue (dialog), setting (latar), casting (pemeran).
3.1.3. Representasi
Istilah representasi itu sendiri menunjuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Ada dua hal penting dalam representasi. Pertama, apakah seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan sebagaimana mestinya. Ini mengacu pada apakah seseorang atau kelompok itu diberitakan apa adanya, ataukah diburukkan. Penggambaran yang tampil bisa jadi adalah penggambaran yang buruk dan cenderung memarjinalkan seseorang atau kelompok tertentu. Di sini hanya citra yang buruk saja yang ditampilkan sementara citra atau sisi yang baik luput dari pemberitaan. Kedua, bagaimana representasi tersebut ditampilkan. Dengan kata lain, kalimat, aksentuasi, dan bantuan foto macam apa seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan kepada khalayak.
3.1.4. Moral
Moral adalah sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan benar salahnya sesuatu tingkah laku. Selain itu moral juga diartikan adanya kesesuaian dengan ukuran baik dan buruknya sesuatu tingkah laku atau karakter yang telah diterima oleh sesuatu masyarakat, termasuk di dalamnya tingkah laku spesifik ( Haicahyono, 1995:221).
Untuk dapat bertindak secara moral, seseorang harus tahu apa yang dikerjakan, disamping semua tindakan itu haris dilakukan secara bebas bukan karena paksaan (Haricahyono, 1995:67). Moral berkaitan dengan moralitas (sopan dan santun). Moralitas merupakan keadaan nilai-nilai moral dalam hubungan dengan kelompok sosial (Gunarsa, 2003:38). Moralitas diartikan pula kebiasaan dan peraturan perilaku yang berlaku dalam masyarakat (Sastrapratedja, para. 4).
3.1.5. Animasi
Pengertian animasi pada dasarnya adalah menggerakkan objek agar tampak lebih dinamis. Sebelum era komputerisasi seperti sekarang, animasi merupakan proses yang rumit dan menyita banyak waktu dan tenaga. Film-film animasi terdahulu menggunakan ratusan sampai ribuan gambar sketsa tangan untuk membuat sebuah animasi pergerakan satu-persatu. Tiap gambar bergerak tersebut dikenal dengan
banyak gambar. Setelah era komputer grafik seperti sekarang, proses animasi tidak lagi merupakan suatu proses yang terlalu rumit.
Seorang animator 2D atau 3D cukup menganimasikan frame awal dan akhir dari suatu pergerakan animasi, selebihnya komputer akan mengkalkulasi gerakan di antaranya (dikenal dengan istilah In-Between). Informasi pergerakan sebuah objek dicatat komputer dengan informasi berupa keyframe. Jumlah keyframe dan frame di antaranya inilah yang menentukan halus atau tidaknya sebuah pergerakan animasi.
Pengertian animasi sama halnya dengan kartun merupakan sebuah gambar yang bersifat represenatif atau sombolik. Sebuah kartun bisa dijabarkan sebagai sebah cerita panjang. Kartun memiliki potensi setara dengan sejuta kata-kata. Kartun merupakan kehidupan yang mengarah pada berbagai kecenderungan warna hidup (Kusnadi, 1985). Menurut John Fiske, kartun merupakan contoh pesan yang berupaya menyampaikan begitu banyak informasi secara sederhana dan langsung (Fiske, 1990:72).
3.2. Tokoh
Tokoh dalam penelitian ini adalah serial animasi Upin dan Ipin yakni tokoh yang terdapat dalam serial yaitu
- Upin ialah abang kembar Ipin, hanya lima menit lebih tua. Dia lebih banyak bicara dan selalu mendalangi perangai anak kembar ini. Dia dapat dibedakan dari adiknya melalui sehelai rambut di kepalanya.
- Ipin, Ipin ialah adik kembar Upin. Dia dikenali karena sering mengulang perkataan sebagai tanda setuju ..
- Kak Ros adalah kakak Upin dan Ipin. Dari luar ia nampak garang tetapi sebenarnya dia seorang kakak yang pengasih. Dia suka mempermainkan adik-adiknya.
- Mak Uda atau Nenek Uda Mak Uda adalah nenek Upin, Ipin dan Ros. Dia berhati bersih dan sering memanjakan Upin dan Ipin. Ia mengetahui banyak hal duniawi dan keagamaan.
- Mak Uda atau Nenek Uda adalah nenek Upin, Upin dan Ros. Dia berhati bersih dan sering memanjakan Upin dan Ipin. Ia mengetahui banyak hal duniawi dan keagamaan.
- Badrol adalah keponakan Tok Dalang atau bapak Senin bin Khamis yang tinggal di kota untuk studi
- Lim adalah teman Badrol yang bersama-sama tinggal satu kos dan sama-sama menuntut ilmu
- Rajoo ialah teman Upin dan Ipin, ia lebih tua lima tahun dibandingkan keduanya, mengerti bahasa binatang dan menyukai binatang.
3.3.Teknik Pengumpulan Data
Dalam mencari dan mengumpulkan data dilakukan dengan metode-metode studi lapangan yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan dimana penyusun langsung ke obyek penelitian dan hal ini dilakukan untuk mencari informasi dengan jalan mengadakan :
Mengadakan pengamatan langsung terhadap hal-hal yang berhubungan dengan serial animasi Upin dan Ipin, khususnya pada hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
3.4. Teknik Analisa dan Intepretasi Data
Seluruh data yang diperoleh dilakukan analisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Data diseleksi untuk menentukan apakah bahan tersebut mengandung pesan prososial
2. Data diklasifikasikan sesuai dengan kategori yang telah ditentukan.
3. Setelah diseleksi dan diklasifikasikan, data tersebut dianalisis berdasarkan kode-kode televisi john fiske, meliputi : appeareance, (penampilan), dress
(kostum), speech (cara berbicara), gesture (gerakan), behaviour (perilaku),
expression (ekpresi), conflict (konflik), character (karakter) dan dialogue
(dialog).
4. Dilakukan analisis dan intepretasi berdasarkan kode diatas dalam konteks moral.
5. Setelah dianalis dan diintepretasikan permasalahan dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana pesan moral pada film animasi Upin dan Ipin” maka ditarik kesimpulan.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.5. Pesan Moral Prososial 1. Perilaku sosial suka menolong
Bapak rajoo dengan senang hati menolong memberikan petunjuk jalan kepada badrol dan lim pada saat mereka bertanya mengenai alamat yang mereka tuju. Hal ini ditunjukkan dengan mimic muka (ekspresi) yang ramah, dan tangan terbuka dengan cara berbicara yang halus, tatapan mata yang bersahabat. Karakter bapak Rajoo kebapakan, sabar, perhatian dan sedikit pemarah. Dan bahkan meminta upin dan ipin menunjukkan dimana lokasi rumah tok dalang, dan upin dan ipin bersedia menolong dengan wajah gembira dan segera bergegas untuk menolong badrol dan lim
menunjukkan arah rumah tok dalang.
Demikian juga pada saat Badrol dan Lim berjalan menuju kampung Durian Runtuh, diatas truck Pak Singh melihat mereka dan kemudian berhenti untuk menawarkan tumpangan. hal tersebut menunjukkan disaat orang lain kesusahan dan membutuhkan bantuan, tanpa diminta kita harus menawarkan.
2. Perilaku sopan santun
Pada saat badrol dan Lim ditolong oleh pak Singh, badrol memberikan salam kepada pak Ismail dengan muka yang gembira dan tersenyum. Menunjukkan bahwa mereka sebagai orang yang terbuka dan bersopan santun.
3. Perilaku sosial berterima kasih
Pada saat sudah memasuki truck dengan mimik yang gembira Lim mengucapkan terima kasih pada pak Singh karena memberikan tumpangan.Dan Pak Singh pun dengan rendah hati mengucapkan tidak ada masalah dan dengan ramah.
5. Perilaku sosial untuk beramah tamah
Pada saat di atas truck Pak Singh kemudian bertanya kepada Badrol dan Lim menanyakan nama mereka untuk beramah tamah dan saling mengenal diantara mereka.
6. Patuh pada orang tua
Upin dan ipin mematuhi perintah orang yang lebih tua, biarpun sebelumnya dia dimarahi oleh bapak rajoo karena suka bermain-main di lapaknya. Tetapi mereka mau mendengarkan perintah dari orang yang lebih tua dan dengan senang hati melaksanakannya.