• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode penelitian adalah tata cara bagaimana suatu penelitian akan dilaksanakan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk menghasilkan data yang deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamatinya.

Studi deskriptif dalam hal ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi secara aktual dan rinci yang melukiskan gejala yang ada, mengindentifikasi masalah, melukiskan secara sistematis, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi, kemudian mengangkat ke permukaan karakter atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun variabel tersebut (Bungin 2009 : 36).

Untuk memperoleh data yang akurat dan rinci maka peneliti akan menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sesuatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki. Peneliti menggunakan teknik observasi guna memperoleh gambaran penuh tentang segala tindakan, percakapan, tingkah

laku dan semua hal yang akan ditangkap oleh panca indera terhadap apa yang dilakukan masyarakat yang diteliti di lapangan. Observasi dapat dilakukan sesaat ataupun dapat diulang. Dalam observasi melibatkan 2 komponen yaitu si pelaku observasi yang lebih dikenal sebagai observer dan obyek yang diobservasi yang dikenal sebagai observee (Sukandarrumidi 2002 : 69).

Melalui teknik observasi peneliti mampu memahami permasalahan yang diteliti secara lebih mendalam. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan teknik observasi partisipan. Teknik observasi pertisipan, dimana peneliti terlibat langsung dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subyek yang diamati. Pelaku peneliti seolah-olah merupakan bagian dari mereka.

Dalam melakukan penelitian ini peneliti melakukan observasi terhadap kedua komunitas ini yaitu Komunitas Go River dan KOPASUDE. Peneliti melakukan observasi kurang lebih selama satu bulan. Hasil yang diperoleh oleh peneliti selama di lapangan bahwa kedua komunitas ini yaitu KOPASUDE dan Go River merupakan komunitas yang berperan aktif dalam melestarikan Sungai Deli. Peneliti dapat menyimpulkan hal seperti itu dikarenakan aktivitas yang mereka lakukan dalam mengembalikan keberadaan Sungai Deli dan ingin menjadikan Sungai Deli sebagai tempat wisata bukan sebagai tempat pembuangan masyarakat sekitar.

Hasil observasi yang peneliti dapatkan dari Komunitas Go River yaitu setiap sekali seminggu mereka membersihkan kawasan pinggiran Sungai Deli dengan menebang bambu-bambu yang bergantungan dan membersihkan

sampah-sampah yang ada disekitaran sungai. Komunitas ini membersihkan daerah aliran Sungai Deli dengan menggunakan perahu LSR yang dimiliki sendiri oleh komunitas ini. Komunitas ini juga bersama berbagai lembaga ikut menanam pohon yang bertema “Menanam untuk kotaku” yang dilaksanakan dari Avros sampe Sukaraja. Penanaman pohon ini tepatnya dilakukan di bawah jembatan Delta, Juanda Kelurahan Sukaraja yang dilaksanakan pada 21 Mei 2017 yang dihadiri oleh Ketua Go River, Biopalas USU, Yayasan Budaya Hijau Indonesia dan masyarakat sekitar. Dalam kegiatan ini peneliti ikut berpartisipasi dengan ikut menanam pohon. Sebelum bibit pohon di tanam di sekitar lahan kosong yang ada di pinggiran sungai, relawan-relawan komunitas Go River membersihkan dahulu lalang-lalang yang sudah merajalela dan kemudia menanam bibit pohon tersebut. Kegiatan ini diharapkan untuk memperindah kawasan Sungai Deli agar lebih indah dengan menanam bibit-bibit tanaman pohon.

Hasil observasi yang didapat peneliti selama di lapangan terhadap Komunitas Peduli Anak dan Sungai Deli yaitu peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan yang mereka lakukan untuk keberadaan Sungai Deli dan mereka juga besinergi dengan berbagai lembaga untuk mengembalikan fungsi Sungai Deli. Observasi yang pertama peneliti dapatkan dilapangan bahwa komunitas ini setiap hari senin, selasa, kamis dan sabtu jam 20.00 malam melakukan pengajaran kepada anak-anak yang ada di Kampung Badur Lingkungan X, Kelurahan Hamdan dan saat bulan puasa dilakukan setiap hari kamis jam 16.00 sore. Proses belajar mengajar ini mereka lakukan di Sanggar Pendidikan Silaturahmi yang tempatnya sangat sederhana yang bertingkat dan

terbuat dari kayu. Proses belajar mengajar ini dilakukan selama 2 jam dengan para relawan-relawan KOPASUDE. Relawan Kopasude terdiri dari berbagai mahasiswa yang ada di Kota Medan. Tujuan dari kegiatan belajar mengajar ini untuk mengisi waktu luang anak-anak yang berada di Kampung Badur dan memotivasi anak-anak yang ada di Kampung Badur untuk menjaga lingkungan dan tidak mengikuti hal-hal yang negatif. Kegiatan lain yang mereka lakukan yaitu Gerakan Sibuk Baca kota Medan yang mereka lakukan di taman-taman kota Medan. Tujuan ini mereka lakukan untuk meningkatkan budaya baca bagi anak-anak dan mengembalikan fungsi taman di Kota Medan.

Observasi lain yang peneliti dapatkan di lapangan bahwa Komunitas ini melakukan sinergi dengan berbagai lembaga seperti yang dilakukan komunitas ini dengan Mahasiswa STIPAP-LPP Medan dengan tema “Langkah Hijau kembalikan nafas kota”. Kegiatan ini dilakukan dengan menanam pohon disekitaran sungai dan membersihkan sungai dari sampah-sampah.

Hasil observasi yang peneliti dapatkan dari kedua Komunitas ini bahwa komunitas ini berperan aktif dan berusaha melestarikan Sungai Deli dan berusaha mengembalikan fungsi Sungai Deli dan menjadikan Sungai Deli sebagai tempat wisata. Kedua komunitas ini memeiliki kegiatan atau program tersendiri untuk keberadaan Sungai Deli. Komunitas Go River lebih terfokus terhadap lingkungan dari Sungai Deli tersebut sedangkan Kopasude lebih memfokuskan mensejahterahkan masyarakat terutama anak-anak yang berada di Sungai Deli dan lingkungan Sungai Deli. Komunitas ini mempunyai prinsip yang utama kita sadarkan masyarakat kemudian bersama-sama untuk memperhatikan

lingkungannya. Kedua komunitas ini juga melakukan berbagai sinergi dengan berbagai lembaga yang membantu komunitas ini dalam mensukseskan program mereka untuk melstarikan Sungai Deli. Respon terhadap komunitas ini sangat baik dan berharap komunitas ini dapat berjalan lama dan mampu mengembalikan dan melestarikan Sungai Deli.

2. Teknik Wawancara

Teknik lain yang digunakan peneliti selain teknik observasi adalah teknik wawancara. Wawancara adalah proses tanya jawan lisan, dimana 2 orang atau lebih berhadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan telinga sendiri dari suaranya (Sukandarrumidi 2002 : 88). Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam dari para informan. Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara mendalam (indepth interview), dimana peneliti akan melakukan tanya jawab dan menggali informasi lebih mendalam, terbuka, tegas, dan terbuka yang menyangkut fokus penelitian. Dalam melakukan wawancara, peneliti mengali informasi mengenai kegiatan atau tindakan yang dilakukan komunitas dalam melestarikan Sungai Deli dan tanggapan masyarakat terhadap keberadaan dari komunitas tersebut.

Informan adalah orang yang akan memberikan informasi mengenai informasi yang akan ditanyakan. Pemilihan dan penetapan informan sangatlah penting dalam melakukan penelitian. Semua orang bisa dijadikan sebagai informan tetapi harus ada yang menjadi informan kunci yaitu informan yang

adalah informan yang mengetahui informasi atau jawaban atas pertanyaan yang diutarakan oleh peneliti.

Saat peneliti melakukan peneliti di Komunitas Go River pertama sekali peneliti menjumpai Kepala Lingkungan XIV yaitu Pak Sofian yang sering dipanggil Pak Ian. Sebelumnya peneliti sudah mengenal Pak Ian saat peneliti melakukan PKL –TBM. Peneliti bisa mengenal orang-orang yang ada di komunitas ini dari Pak Ian yang kebetulan beliau sangat mengenal dan akrab dengan orang-orang dari Komunitas ini dan kemudia peneliti diantarkan dan berkenalan dengan orang-orang di komunitas tersebut. Pak Ian merupakan informan peneliti, peneliti kurang lebihnya menanyakan keberadaan lokasi dan data-data kependudukan dari Pak Ian. Di komunitas Go River peneliti pertama sekali berjumpa dengan Pak Azmi yaitu salah satu pembina yang ada di Komunitas Go River dan peneliti menjadikan Pak Azmi sebagai informan kunci. Kemudian peneliti berkenalan dengan relawan Go River yang hampir setiap harinya berada di dermaga, dermaga merupakan Basecamp dari Go River. Relawan yang sering peneliti jumpai yaitu Bang Wiwin, Bang Ivan dan Pak De. Bang wiwin merupakan relawan dari Go River dan bang wiwin yang sering membagusi perahu LSR Go River jika rusak, Bang Ivan merupakan relawan dari Go River juga yang sering mengatur-mengatur soal administrasi di Go River dan Pak De relawan Go River yang sering-sering masak. Dari keempat informan ini yaitu Pak Azmi, Bang wiwin, Bang Ivan dan Pak De saya mendapatkan informasi yang mendalam mengenai Go River.

Saat peneliti melakukan penelitian di Kampung Badur, peneliti pertama sekali berjumpa dengan Bang Hendra yaitu pengurus dari Sanggar Silaturahmi yang ada di Kampung Badur. Saya mengenal bang Hendra dari temannya ayah saya yang kebetulan rumahnya di Kampung Badur. Setelah saya berkenalan dengan Bang hendra saya dijumpakan dengan ibu kepling lingkungan X Kampung Badur yaitu Ibu Emil. Saya dijumpakan sama ibu ini untuk meminta izin penelitian di lingkungannya yaitu lingkungan X Kampung Badur. Setelah saya menjelaskan maksud dan tujuan saya akhirnya ibu tersebut mengizinkan saya. Saya pun menjadikan ibu emil dan bang hendra sebagai informan saya. Informasi yang saya dapatkan dari bang hendra mengenai sanggar tempat anak-anak kampung badur belajar dan tentang kampung badur tersebut. Informasi yang saya dapatkan dari ibu emil mengenai keadaan lingkungannya dan data-data mengenai kependudukan dari lingkungan tersebut.

Setelah saya meminta izin dengan kepling lingkungan X Kampung Badur keesokan harinya saya dikenalkan oleh relawan-relawan Kopasude saat itu saya dijumpakan oleh sekretaris Kopasude yaitu Bang Fati dan kemudian saya menjelaskan maksud dan tujuan saya dan sambil memeberikan surat izin penelitian saya. Saya juga sempat berbincang-bincang dengan relawan yang pada saat itu sedang mengajar anak-anak di Sanggar. Saat itu saya berjumpa dengan Bang Agung, Bang Iqbal, Kak widya dan Kak Adel. Setelah saya mendapatkan izin untuk melakukan penelitian keesokan harinya saya memulai penelitian setiap malam dan pada saat saya melakukan pebelitian saat itu bulan puasa dan jadwal pengajaran dilakukan di sore hari.

Saat saya melakukan penelitian saya lebih sering berjumpa dan menanyakan informasi dengan Bang Agung dan kemudian saya menjadikan Bang Agung sebagai informan kunci saya untuk menjawab lebih dalam penelitian saya ini. Tetapi dengan relawan Kopasude yang lainnya saya tetap bertanya untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Peneliti juga mencari informan anak-anak yang ada di Kampung Badur dan masyarakat sekitar untuk mengetahui respon mereka dengan keberadaan dari Kopasude di tempat mereka. Peneliti mewawancarai 5 anak secara mendalam mengenai respon mereka terhadap Kopasude yaitu rara, tiara, selva, bayu dan fikri. Peneliti juga mewawancarai 5 masyarakat Kampung Badur mengenai respon mereka terhadap Kopasude dan menanyakan tentang kehidupan mereka selama berada di Kampung Badur yaitu nenek rahmi, ibu saida, kak risma, bang zul, pak husni.

3. Pengembangan Rapport

Dalam melakukan observasi dan wawancara peneliti harus bisa membangun rapport dengan informan yang akan ditelitinya. Membangun Rapport

adalah menjalin hubungan baik antara peneliti dengan informan agar terbangun rasa saling percaya antara informan dan peneliti. Dalam membangun rapport

peneliti harus bisa menanamkan rasa percaya dan memberikan rasa aman kepada informan yang akan diteliti. Peneliti juga harus bisa bersikap sopan, ramah terhadap informan dengan hal tersebut maka informan memberikan informasi yang akurat.

Saat peneliti melakukan penelitian, peneliti menjalin hubungan baik terhadap setiap informan-informannya baik yang ada di Go River dan Kopasude.

Hal yang dilakukan peneliti yaitu dengan mendekati informan-informan peneliti dengan bahasa yang sopan dan ramah dengan semua informan peneliti. Hal ini dilakukan peneliti agar informan mau memberikan semua informasi yang dibutuhkan. Peneliti juga mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini seperti yang dilakukan oleh komunitas Go River saat melakukan penanaman bibit pohon di Sukaraja dan membersihkan aliran sungai peneliti ikut serta dalam kegiatan tersebut agar lebih akrab dengan relawan-relawan yang ada di Go River. Hal serupa juga dilakukan oleh peneliti di Kopasude, peneliti melakukan pendekatan, menjalin hubungan baik terhadap relawan, anak-anak dan warga sekitar. Hal yang dilakukan peneliti yaitu dengan mengikuti kegiatan belajar-mengajar yang mereka lakukan dengan hal ini bisa lebih dekat dengan anak-anak di Kampung Badur dan lebih mudah untuk menanyakan informasi dari mereka begitu juga dengan masyarakat sekitar, peneliti ramah dan sopan saat melakukan wawancara dengan masyarakat sekitar.

4. Studi Dokumentasi

Selain menggunakan teknik observasi dan wawancara, peneliti menggunakan teknik dokumentasi. Melalui teknik dokumentasi, peneliti mengumpulkan data berupa foto, rekaman video melalui kamere handphone. Data yang lain berupa catatan lapangan, catatan pribadi.

5. Studi Kepustakaan

Pada tahap ini peneliti menggunakan data sekunder yang dipakai sebagai bahan perbandingan. Data sekunder merupakan data yang berhubungan dengan aspek yang diteliti yang bersumber dari buku, majalah, artikel baik media massa

maupun elektronik yang dianggap sinkron dan relevan yang menyangkut dalam pembahasan penelitian tersebut.

Dokumen terkait