• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODELOGI PENELITIAN A. Waktu Dan Lokasi Penelitian

Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini akan dilakukan selama 2 (dua) bulan terhitung setelah pelaksanaan ujian seminar proposal. Dan lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto dengan alasan karena peneliti menemukan permasalahan mengenai pemberdayaan masyarakat melalui program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) di Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto.

B. Jenis Dan Tipe Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dimana penelitian ini berusaha untuk mendapatkan informasi secara lebih mendalam yang berkaitan dengan fenomena yang terjadi pada fokus penelitian.

2. Tipe Penelitian

Tipe Penelitian yang digunakan adalah tipe penelitin deskriptif. Penelitian deskriptif (penggambaran) yaitu suatu penelitian yang mendeskripsikan apa yang terjadi saat ini.

C. Sumber Data

Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti secara

langsung, sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sunber yang sudah ada.

1. Data Primer yaitu data terpenting dalam penelitian yang akan diteliti. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari lapangan baik melalui pengamatan sendiri, maupun melalui daftar pertanyaan yang telah disiapkan oleh peneliti. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara dan jawaban dari daftar pertanyaan yang akan diajukan. Data primer adalah data yang diperoleh peneliti langsung dari petani garam di Kec. Arungkeke Kab. Jeneponto untuk analisis deskriptif dalam hal ini data tambak garam melalui teknik berikut :

a. Observasi adalah kegiatan mengamati secara langsung objek penelitian dengan mencatat gejala-gejala yang ditemukan di lapangan untuk melengkapi data yang diperlukan sebagai acuan berkenaan dengan topik penelitian. b. Interview (wawancara) yaitu dengan cara memberikan

daftar pertanyaan langsung kepada sejumlah pihak terkait didasarkan percakapan intensif dengan tujuan memperoleh informasi yang dibutuhkan.

c. Dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data dengan melihat atau menganilisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang subjek.

2. Data Sekunder yaitu data yang mendukung data primer, mencakup data lokasi penelitian dan data lain yang mendukung masalah penelitian. Data sekunder diperoleh dari observasi dan literatur yang relevan dengan penelitian yang sedang dilakukan. Selain itu juga, data sekunder bisa diperoleh melalui foto-foto yang berhubungan dengan penelitian. data sekunder diperoleh daridinas-dinas atau instansi pemerintah, diantaranya adalah sebagai berikut : a. Data Produksi Garam Kecamatan Arungkeke Kabupaten

jeneponto pada tahun 2018 yang dinyatakan dalam ton, bersumber dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jeneponto.

b. Data jumlah luas tambak garam pada tahun 2018 yang dinyatakan dalam hektar, bersumber dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten jeneponto.

c. Data jumlah petani garam pada tahun 2018 yang dinyatakan dalam orang, bersumber dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jeneponto.

D. Informan Penelitian

Informan penelitian merupakan orang-orang atau pelaku yang benar-benar tahu dan menguasai masalah, serta terlibat lansung dengan masalah penelitian. Dengan mengunakan metode penelitian kualitatif, maka peneliti sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor kontekstual, Jadi dalam hal ini sampling dijaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai

sumber. Maksud kedua dari informan adalah untuk mengali informasi yang menjadi dasar dan rancangan teori yang dibangun. Penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah informan, tetapi bisa tergantung dari tepat tidaknya pemilihan informan kunci, dan komplesitas dari keragaman fenomena sosial yang diteliti. Informan pada penelitian ini yakni:

1. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jeneponto

Dalam penelitian ini peneliti memilih Kepala dan Staff Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jeneponto karena memiliki pengalaman yang lebih tahu tentang peningkatan produksi garam di kabupaten Jeneponto.

2. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jeneponto Dalam penelitian ini peneliti memilih Kepala dan Staff Dinas Perdagin Kabupaten Jeneponto karena memiliki pengalaman yang lebih tahu tentang peningkatan pendapatan garam di kabupaten Jeneponto.

3. Petambak garam yang ada di Kabupaten Jenponto.

Dalam penelitian ini peneliti memilih petambak garam karena sebagian dari mereka yang mengolah kristal-kristal tersebut untuk dibuat menjadi garam.

Daftar Informan

No. Nama

Informan Inisial Jabatan Jumlah

1. Asri AS Kabid Budidaya dan Daya Saing

DKP Kab. Jeneponto 1

2.

Maryam Saraswati

MS Ketua Koperasi Garam Pasar 1

3.

Hasnawati HW Admin Keuangan Koperasi

Garam Pasar

1

4.

Subhan SN Masyarakat/Petambak Garam 1

5. Abi

AB Masyarakat/Petambak Garam 1

E. Teknik Pegumpulan Data

Pada penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan dua cara yaitu:

1. Observasi (Pengamatan)

Teknik observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya mengukur sikap dari responden namun juga dapat digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal pada petambak garam di kabupaten jeneponto.

Teknik interview merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab secara langsung terhadap nara sumber. Untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara yang pelaksanaannya lebih bebas dan menggunakan pertanyaan terbuka yang dilakukan oleh porpusive dengan nara sumber atau responden yang dianggap paling banyak mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh petambak garam di kabupaten jeneponto.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data dengan melihat atau menganilisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang subjek. Menurut Sugiyono (2013), dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang.

F. Teknik Analisis Data

Menurut Sugiyono (2013) analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah dilapangan.

a. Analisis Sebelum di Lapangan

Analisis dilakukan terhadap data hasil studi terdahulu yang akan digunakan untuk menentukan focus penelitian. Fokus

penelitian masih bersifat sementara dan berkembang setelah memasuki dan selama di lapangan.

b. Analisis Selama di Lapangan

Analisis data dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Pengelolahan dan analisis data yang dilakukan secara kualitatif, bertujuan untuk mengungkapkan efektivitas program PUGAR melalui beberapa indikator proses pencapaian tujuan PUGAR, yaitu:

1. Produktifitas petambak garam 2. Pendapatan usaha garam 3. Kelayakan usaha garam

Proses analisis data dilakukan secara terus menerus dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen dan sebagainya sampai dengan penarikan kesimpulan. Didalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada beberapa tahapan yang dijelaskan Miles dan Huberman (2007), yang terdiri dari beberapa tahapan antara lain:

1. Pengumpulan informasi melalui wawancara terhadap informan yang

compatible terhadap penelitian kemudian observasi langsung ke

lapangan untuk menunjang penelitian yang dilakukan agar mendapatkan sumber data yang diharapkan.

2. Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerderhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan di lapangan selama meneliti tujuan diadakan transkrip data (transformasi data) untuk memilih informasi mana yang dianggap sesuai dan tidak sesuai dengan masalah yang menjadi pusat penelitian di lapangan.

3. Sajian data yaitu kegiatan sekumpulan informasi dalam bentuk naratif, grafik jaringan, tabel dan bagan yang bertujuan memempertajam pemahaman penelitian terhadap informasi yang dipilih kemudian disajikan dalam tabel ataupun uraian penjelasan.

4. Penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusiondrawing/verivication), yang mencari arti pola-pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat dan proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan verifikasi berupa tinjauan ulang pada catatan-catatan di lapangan sehingga data-data dapat diuji validitasnya.

G. Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian kualitatif menurut Sugiyiono (2012: 121) meliputi uji kredibilitas data, uji transfibility, uji depenability, dan uji

confirmability. Pada penelitian ini digunakan uji kredibilitas untuk menguji

keabsahan data. Uji kredibilitas data dilakukan dengan trigulasi. Trigulasi data diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Terdapat 3 trigulasi dalam keabsahan data, yaitu trigulasi sumber, trigulasi teknik, dan trigulasi waku. Pada penelitian ini, digunakan

trigulasi sumber. Trigulasi sumber adalah menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Trigulasi sumber akan dilakukan pada petambak garam yang tergabung dalam pemberdayaan usaha garam rakyat (PUGAR) di kabupaten Jeneponto. Menurut Sugiyono (2008), triangulasi dibagi menjadi tiga, antara lain sebagai berikut:

1. Triangulasi sumber, menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. 2. Triangulasi teknik, menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara

mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. 3. Triangulasi waktu, waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data.

Pengambilan data harus disesuaikan dengan kondisi narasumber. Dalam penelitian ini penulis menggunakan triangulasi sumber, dengan arti peneliti membandingkan informasi yang diperoleh dari satu sumber dengan sumber lain. Menggali satu sumber yang sama dengan teknik yang berbeda dan menentukan waktu yang berbeda (tepat).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penjelasan lokasi penelitian diperlukan agar dapat mengenal atau mengetahui objek terlebih dahulu sebelum melangkah ke pembahasan atau permasalahan yang di angkat atau dikaji dalam tulisan ini. Penjelasan lokasi dalam hal ini meliputi: profil singkat Kabupaten dan Kecamatan Arungkeke, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta visi misi yang akan dibahas yang menjadi objek penelitian.

Pada penelitian ini yang menjadi objek penelitian yakni pemberdayaan masyarakat melalui Program Usaha Garam Rakyat yang berada di Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto. Standar program pemberdayan usaha garam rakyat itu sendiri termasuk dalam Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri KP Dan Pedoman Teknis PUGAR. Tujuan dari program PUGAR terutama di Kabupaten Jeneponto yaitu untuk memberdayakan dan meningkatkan kapasitas petambak garam yang bergabung dalam kelompok usaha garam rakyat. Pemberdayaan itu sendiri dengan cara meningkatkan produktivitas dan kualitas melalui pemberdayaan usaha garam rakyat sehingga nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan para petambak garam.

A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Profil Kabupaten Jeneponto

Profil Kabupaten Jeneponto dalam hal ini dipaparkan agar dalam memberikan gambaran dasar atau yang paling umum dari objek dalam

penulisan ini, sebagaimana yang diketahui bahwa Kabupaten Jeneponto adalah salah satu penghasil garam yang berada di Indonesia terkhusus di Sulawesi Selatan.kabupaten Jeneponto adalah salah satu daerah tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota dari Kabupaten Jeneponto adalah Bontosunggu. Kabupaten jeneponto terletak antara 5º 16’13” - 5º 39’35” Lintang Selatan dn 12º 40’19” - 12º7’31” Bujur Timur. Kabupaten Jeneponto berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar di sebelah Utara, Kabupaten Bantaeng di sebelah timur, Kabupaten Takalar disebelah Barat dan Laut Flores di sebelah Selatan. Kabupaten Jeneponto memiliki kepadatan penduduk sekitar 457 jiwa/km. luas wilayah Kabupaten Jeneponto tercatat 749,79 km² yang meliputi 11 kecamatan yakni:

a. Kecamatan Bangkala b. Kecamatan Bangkala Barat c. Kecamatan Binamu d. Kecamatan Turatea e. Kecamatan Arungkeke f. Kecamatan Batang g. Kecamatan Bontoramba h. Kecamatan Kelara i. Kecamatan Rumbia j. Kecamatan Tamalatea k. Kecamatan Tarowang

Dari 11 kecamatan di Kabupaten Jeneponto 4 diantaranya adalah penghasil garam yakni, Kecamatan Bangkala, bangkala Barat, Arungkeke dan Tamalatea. Kondisi topografi Kabupaten Jeneponto pada bagian utara terdiri dari dataran tinggi dengan ketinggian 500 sampai dengan 1400 meter diatas permukaan air laut (mdpl) yang merupakan lereng pegunungan Gunung Baturape - Gunung Lompobattang. Sedangkan bagian tengah berada di ketinggian 100 sampai dengan 500 mdpl dan pada bagian selatan merupakan pesisir serta dataran rendah dengan ketinggian antara 0 sampai dengan 100 mdpl. Karena perbatasan dengan Laut Flores maka Kabupaten Jeneponto memiliki pelabuhan cukup besar yang terletak di desa Bungeng. Tabel 4.1

Data Luas lahan tambak di Kabupaten Jeneponto

NO. Kecamatan Luas (Ha) Pemilik

(orang) Penyewa (orang) Produksi (ton) 1 Bangkala Barat 20,41 70 80 2.073,39 2 Bangkala 429,93 1.650 1.662 20.396,65 3 Tamalatea 68,29 300 320 5.233,70 4 Arungkeke 291,37 890 910 11.065,81

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Jeneponto Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat luas lahan petambak garam yang ada di Kabupaten Jeneponto. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis mengungkapkan bahwa garam merupakan salah satu pelengkap kebutuhan pangan.

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu dinas Pemerintah yang ada di Kabupaten Jeneponto yang bergerak dalam hal hasil laut. Dinas Perikanan dan Kelautan terletak di Kecamatan Binamu dan terletak di jalan HV. Worang Tanrusampe. a. Tugas dan Fungsi Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Jeneponto

1. Tugas dinas perikanan dan kelautan mempunyai tugas membantu kepala daerah dalam melaksanakan urusan di bidang perikanan yang menjadi wewenang daerah kebupaten jeneponto.

2. Fungsi dinas perikanan dan kelautan dalam melaksanakan tugas tersebut yakni:

a) Perumusan kebijakan dibidang perikanan dan kelautan b) Pelaksanaan kebijakan dibidang perikanan dan kelautan c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang perikanan

dan kelautan

d) Pelaksanaan administrasi dinas di bidang perikanan dan kelautan

3. Kepala Dinas mempunyai fungsi tugas pokok membantu BUpati melaksanakan urusan pemerintahan bidang perikanan dan kelautan yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuyan ditugaskan kepala pemerintah daerah.

4. Sekretariat mempunyai tugas dan fungsi sesuai dengan ketentuan peratutan perundang-undangan, secretariat mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi di lingkungan dinas perikanan dan

kelautan. Dalam melaksanakan tugas, secretariat menyelenggarakan fungsi :

a) Merumuskan bahan penyusun anggaran dan pertanggung jawaban keuangan

b) Melaksanakan pembinaan organisasi dan tatalaksanana

c) Melaksanakan pengelolaan administrasi kepegawaian, keuangan dan perlengkapan

d) Melakukan monitoring, evaluasi dan penyusunan laporan serta melaksanakan analis dan pengendalian pelaksanaan program dan proyek

5. Sub bagian umum dan kepegawaian mempunyai tugas : a) Menyusun tata naskah Dinas Perikanan dan Kelautan b) Melakukan urusan rumah tangga, protocol dan hungan

masyarakat

c) Melakukan analisis kebutuhan barang-barang keperluan kantor serta pembekalan lainnya

6. Sub bagian program mempunyai tugas :

a) Menyusun dan menglah data untuk bahan penyusunan program

b) Menyusun penyiapan bahan perumusan rencana program dan proyek serta penetapan rencanan strategis pengembangan

d) Menyusun analisis dan pengendalian peaksanaan program dan proyek

7. Sub bagian keuangan mempunyai tugas :

a) Menyusun rencana operasional kegiatan berserta kebutuhan anggaran

b) Menyusun usulan anggaran

c) Menyusun dan mengolah tata usaha keuangan dan pembukuan, realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)

d) Melakukan pembayaran gaji pegawai, keuangan perjalan dinas, penyelesaian tuntutan ganti rugi serta biaya-biaya lainvsebagai engeluaran dinas

8. Bidang Perikanan dan Budidaya dan daya asing mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas perikanan, melaksanakan penyiapan koordinasi, fasilitasi perumusan dan pelaksanaan kebijakan, evaluasi serta pelaporan yang meliputi seksi budidaya dan perikanan, seksi sarana dan prasarana.

9. Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan mempunyai tugas yakni melaksanakan sebagian tugas dinas perikanan, penyiapan koordinasi, fasilitasi perumusan dan pelaksanaan kebijakan, evaluasi serta pelaporan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat pesisir.

10. Bidang Pengawasan dan Perlindungan mempunyai tugas yakni melaksanakan sebagian tugas dinas perikanan melakukan pegawasan dalam melakukan program dan proyek dan perlindungan dalam melakukan ealuasi serta monitoring pelaporan.

11. Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas yakni membantu sub bagian dan bidang-bidang lain dalam melaksanakan tugas dan fungsi pokoknya.

b. Uraian Visi Misi Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Jeneponto 1. Visi

Terwujudnya peningkatan perekonomian daerah melalui optimalisasi usaha dan pemberdayaan di bidang perikanan dan kelautan. Makna dari visi tersebut adalah keadaan masyarakat kabupaten jeneponto yang bekerja sebagai petambak garam di daerah pesisir yang mampu bertahan dalam berbagaiperubahan dan berupaya merubah dari kegiatan yang bersifat tradisional menjadi berwawasan industry dan berjiwa bisnis dengan mengutamakan potensi yang ada di daerah. Adapun tujuan dari visi tersebut adalah:

a) Mencerminkan keinginan yang akan dicapai b) Memberikan arah fokus dan strategis yang jelas c) Memberdayakan potensi yang tersedia di daerah d) Pengelolaan yang produktif dan lestari

2. Misi

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut maka perlu dirumuskan misi yag dapat menggerakkan dan mewujudkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai melalui berbagai usaha pelaksanaannya. Adapun misi dari dinas perikanan dan kabupaten jeneponto sebagai berikut :

a) Mengembangkan dan mendayagunakan sumber daya perikanan dan kelautan yang berkelanjutan dan bertanggungjawab

b) Mengembangkan sarana, prasaran teknologi dan informasi perikanan dan kelautan.

c) Mengembangkan kemandirian kelembagaan

pembudidaya yang tangguh dan berdaya asing

d) Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya serta memperluas lapangan dan kesempatan kerja.

3. Struktur Organisasi Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Jeneponto

Adapun gambaran administrasi Kabupaten Jeneponto sebagai berikut;

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Jeneponto

Sub Bagian Umum & Kepegawaian

Sub Bagian Program Sub Bagian Keuangan

Bid. Perikanan Budidaya & Daya saing

Bid. Bina Usaha & Kelembagaan

Bid. Pengawasan & Perlindungan Kelompok Jabatan Fungsional Seksi Budidaya & Perikanan Seksi Sarana & Prasana Seksi Pembinaan Kelembagaan & Mutu Pemasaran Seksi Perizinan saha Perikanan & Jasa Kelautan Seksi Pengelolaan Agribisnis & Agroindustri Seksi Pengawasan & Perlindungan Sumber Daya dan Ekosistem Kepala Dinas Sekretariat

Tabel 4.1 luas wilayah Kabupaten Jeneponto Menurut Kecamatan Pada Tahun 2019

No. Kecamatan Jumlah

Desa/Kel. Luas Wilayah (Km²) 1 Batang 6 38,04 2 Bangkala Barat 8 152,96 3 Tamalatea 12 57,58 4 Bontoramba 12 88,30 5 Binamu 13 69,49 6 Turatea 11 58,76 7 Arungkeke 7 29,91 8 Tarowang 8 57,48 9 Kelara 10 43,95 10 Rumbia 12 58,50 11 Bangkala 14 121,82 Jumlah 113 749,79

Sumber: Kabupaten Jeneponto Tahun 2019

2. Profil Kecamatan Arungkeke a. Letak Geografis

Kecamatan arungkeke merupakan salah satu dari 11 kecamatan di Kabupaten Jeneponto yang berbatasan dengan kecamatan Batang di sebelah Utara, Laut Flores di sebelah Timur, kecamatan Binamu di sebelah Barat dan Laut Flores disebelah Selatan. Sebanyak 7 Desa/Kelurahan di Kecamatan Arungkeke, sebanyak 6 desa di antaranya merupakan daerah pantai dan hanya 1 merupakan daerah bukan pantai. Luas wilayah kecamatan Arungkeke terdiri dari 7 Desa/Kelurahan dengan luas wilayah 29,91 km². dari luas wilayah tersebut nampak bahwa Desa Borong Lamu memiliki wilayah terluas yakni, 7,23 km², sedangkan luas wilayah yang paling kecil adalah Desa

Arungkeke Pallantikang yakni, 2,73 km². untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini;

Tabel 4.2 Luas Wilayah Kecamatan Arungkeke Menurut Desa Tahun 2019

No. Desa Luas (Ha) Persentase (%)

1 Kampla 3,94 13,17 2 Bulo-bulo 4,82 16,11 3 Palanjau 3,72 12,43 4 Kalumpang Loe 4,38 14,64 5 Arungkeke 3,09 10,33 6 Borong Lamu 7,23 24,17 7 Arungkeke Pallantikang 2,73 9,12 Jumlah 29,91 100

Sumber: Kecamatan Arungkeke Tahun 2019

Kegiatan pemerintahan di Kecamatan Arungkeke dilaksanakan oleh sejumlah aparat pemerintah atau pegawai negeri yang berasal dari berbagai dinas atau instansi pemerintah yang keseluruhannya berjumlah 116 orang, terdiri dari 75 oran laki-laki dan 41 orang perempuan. Jumlah tersebut mengalami penambahan sebanyak 27 orang dari jumlah tahun sebelumnya atau sekitar 24,03%. Dilihat dari sumber mata pencaharian menunjukkan bahwa dari jumlah peduduk yang bekerja sebanyak 5.648 orang adalah petani pangan, sedangankan peternak sebanyak 197 orang, pekerja tambak dan nelayan sebayak 942 orang. Penduduk yang bekerja diluar sector pertanian antara lain perdagangan sebanyak 707 orang, Industri sebanyak 295 orang, Angkutan sebanyak 609 orang, dan Jasa hanya 335 orang. Adapun penduduk yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ABRI sebanyak 265 orang.

Adapun struktur organisasi Kecamatan Arungkeke

Gambar 4.2 Stuktur Organisasi Kecamatan Arungkeke

b. Topografi dan Kelerengan

Kecamatan Arungkeke merupakan salah satu kecamata yang terletak di dataran rendah. Kecamatan Arungkeke pada ketinggian antara 0-500 mdpl. Ditinjau dari segi kemiringan lereng Kecamatan Arungkeke berada pada kemiringan 0-8. Kelerengan sangat terkait dengan kondisi drainase, yaitu keadaan tergenangnya bagian permukaan tanah oleh air

Kasubag Umum & Kepegawaian Kepala Seksi Pemerintahan Kepala Seksi Ketentraman & Ketertiban Umum Kepala Seksi Pembangunan Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial Kepala Seksi Pelayanan Umum Camat Sekretariat Kasubag Perencanaan Kasubag Keuangan

pada saat tertentu, yang tidak ditujukan khusus seperti kolam dan lainnya. Keadaan drainase disuatu tempat ditentukan oleh kemiringan tanahnya, semakin tinggi dan semakin bervariasi kemiringan maka cenderung drainasenya makin baik. Keadaan tofografi di Kabupaten Jeneponto yang bervariasi mulai dari datar sampai curam agak menguntungkan dari aspek ketergantungannya.

c. Klimatologi

Kecamatan Arungkeke memiliki suhu berkisar antara 30ºC - 40ºC dengan curah hujan 1200-3200 mm/tahun. Musim kemarau terjadi antara bulan april sampai oktober.

d. Geologi dan Jenis Tanah

Terdapat dua jenis tanah di Kecamatan Arungkeke yakni aluvium dan pasir, yang dimana tanah alluvium cocok untuk perkebunan, pertanian. Sedangkan tanah pasir yang terbentuk dari satuan batuan beku dan batuan sedimen, yang cocok untuk menggarak garam.

e. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kecamatan Arungkeke sebagian besar didominasi kawasan sawah/pertanian denganluas 187,84 Ha, perkebunan 449,82 Ha dan tamba seluas 498,2 Ha. Untuk lebih jelasnya dapat dlihat pada peta.

Jumlah penduduk Kabupaten Jeneponto pada tahun 2018 sebanyak 363,792 jiwa yang terdiri dari 175,607 jiwa penduduk laki-laki dan 188,185 jiwa penduduk perempuan, dengan

B. Pengelolaan Potensi Lokal Melalui Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat di Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto

Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan kelompok petambak garam kurang efektif disebabkan karena peran kelompok tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan atau dengan kata lain bahwa pembentukan kelompok hanya formalitas dalam persyaratan untuk memperoleh bantuan BLM PUGAR. Hal ini karena terbentuknya kelompok baik sebelum adanya program PUGAR maupun kelompok yang terbentuk setelah adanya program PUGAR tidak terjadi perubahan dalam

Dokumen terkait