BAB I - PENDAHULUAN
1.8 Metode Penelitian
Metode dalam penulisan sejarah sangatlah penting dalam penelitian sejarah memiliki lima tahap yaitu; pemilihan topik, pengumpulan sumber atau heuristik, verifikasi {kritik sejarah, keabsahan sumber), interpretasi dan penulisan.17Yang pertama dilakukan dalam melakukan penelitian sejarah yaitu mencari topik, topik yang dipilih pun biasanya harus memiliki kedekatan emosional dan kedekatan intelektual dengan kita. Seperti dengan judul penelelitian yang saya ambil mengenai pengaruh agama Kristen protestan terhadap upacara adat Saur Matua memiliki kedekatan emosional dan juga intelektual dalam kehidupan saya di lingkungan kekerabatan orang Batak di Jakarta. Setelah melakukan pemilihan topik, selanjutnya mencari data yang dikumpulkan sesuai dengan tema penelitian maka sumber yang digunakan sumber lisan dan tertulis Pengumpulan data seumber tertulis dilakukan di Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Selanjutnya yaitu wawancara dengan kepala adat dalam suatu punguan marga dan orang tua berkisar umur 50-60 tahun baik perempuan ataupun laki-laki
16 Ance Juliet Panggabean, 2008, Peranan Gondang Sabagunan Batak Toba pada Upacara Kematian Saur Matua di kota Medan. Volume 16 Universitas HKBP Nommensen.
17 Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yayasan Bentang Budaya : Yogyakarta.
1995. Hlm: 69. a
yang terlibat dalam upacara saur matua. Umur tersebut menjadi patokan saya dalam mencari narasumber yaitu umur 50-60 tahun, karena orang tua yang berumur demikian lebih memahami perubahan apa yang terjadi dalam suatu acara adat saat mereka merantau ke daerah perkotaan selain itu pemahaman mereka mengenai Adat Batak lebih mendalam dibandingkan yang berumur dibawah 50 tahun
Ketiga verifikasi data, dengan melakukan kritik sumber diuji dan dianalisis secara kritis, agar hasil penelitiannya dapat dipertanggung-jawabkan. Langkah keempat merupakan interpretasi, penafsiran terhadap suatu data merupakan keharusan dalam tahap penelitian sejarah. Di tahap ini, data yang terkumpul bersifat saling mendukung, analisa data memiliki tujuan yaitu mendapatkan kebenaran hasil penelitian. Terakhir, penulisan ini merupakan sebuah hasil dari seluruh langkah penelitian yang di laksanakan di dalam tahap ini, fakta-fakta sejarah yang mendukung topik penelitian benar-benar tersaji dengan sistematis dan kronologis.
1.9 Sistemika penelitian
Penelitian ini pada hakikatnya akan dirumuskan dalam lima bab, dan sistematika penelitiannya adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, Bab ini mencakup: latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II menjelaskan sejarah kedatangan orang Batak ke Jakarta
BAB III berisi tentang seputar Upacara Adat Saur matua yang akan dijelaskan dalam beberapa sub bab yaitu proses upacara Saur matua sebelum masuknya agama Kristen ke tanah Batak.
BAB IV membahas mengenai perubahan yang terjadi dalam proses Upacara adat saur matua yang tertulis dalam peraturan yang dikeluarkan oleh gereja HKBP mengenai himbauan prosesi adat kematian yang mengandung unsur penyembahan dan bagaimana masyarakat tetap mempertahankan upacara adat di perkotaan.
BAB V Penutup. Bab ini memuat kesimpulan mengenai hal yang diperoleh dari pembahasan terhadap penelitian ini. Selain itu juga terdapat saran bagi penelitian diatas.
BAB II
KEDATANGAN ORANG BATAK KE JAKARTA
2.1 Letak Geografis Jakarta
Jakarta merupakan ibukota dari Negara Republik Indonesia yang terletak di bagian Barat Laut pulau Jawa, dengan luas daratan yaitu 661,52 km2 dan lautan 6,977,5 km2. Letaknya Jakarta ini berada pada dataran rendah yang memiliki ketinggian 8 meter diatas permukaan laut dan juga dilewati oleh 13 sungai dan 2 kanal yang bermuara ke Teluk Jakarta. Kota Jakarta berbatasan dengan Kabupaten Bogor di selatan, Depok dan Bekasi di timur dan Tangerang di Barat.18
Secara astronomis Jakarta terletak diantara 5°19′ 12″ – 6°23′ 54″ Lintang Selatan (LS) dan 106°22` 42″ – 106°58′ 18″ Bujur Timur (BT), sehingga hal tersebut membuat Jakarta masuk dalam kategori wilayah iklim tropis dengan dua musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Suhu udara Jakarta berada di angka 22°C - 34°C dan rata-rata satu tahun ada di angka 27°C. Sementara untuk curah hujan, Jakarta hanya akan basah di bulan Januari, sehingga wajar Jakarta terkenal dengan udara panasnya.19
18 https://jakarta.go.id/artikel/konten/55/geografis-jakarta (Diakses tanggal 22 Februari 2021 Pukul 20:36 WIB).
19 Edi Sedyawati, Supratikno Rahardjo, Irmawati Marwoto, G.A. Manilet, Sejarah Kota Jakarta (1950-1980), Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987. Hlm 20
Secara administrasi pada tahun 2001, Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah kotamadya dan 1 Kabupaten administrasi yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan kabupaten Kepulauan Seribu.20
2.2 Sejarah Jakarta
Sejak Indonesia menyatakan kemerdekaannya hingga saat ini, telah beberapa kali terjadi perpindahan Ibukota dari Jakarta ke Bukit Tinggi hingga Yogyakarta. Meski demikian, Jakarta masih menjadi pilihan pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia. Sebelum dikenal dengan sebutan Jakarta, kota ini sudah beberapa kali mengalami perubahan nama dari Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia. Catatan sejarah membuktikan bahwa penggunaan nama Jakarta telah popular sejak 1942 dengan nama Jakarta Tokubetsu Shi, ketika Jepang berhasil merampas Nusantara dari Belanda. Meski kekuasaan Jepang atas Indonesia sudah lenyap di tanggal 17 Agustus 1945 nama Jakarta tetap digunakan dengan menghilangkan kata Tokubetsu Shi.
Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian nasional dan Soekarno yang merupakan Presiden Indonesia saat itu memiliki visi Jakarta sebagai kota modern penunjang dua aspek tersebut. Berbagai pembangunan dirancang oleh Presiden Sukarno, mulai dari pembangunan Monumen Nasional, Hotel Indonesia, Patung Selamat Datang, pusat perbelanjaan Sarinah, Bypass dan jembatan Semanggi. Rancangan-rancangan pembangunan tersebut bersifat
20 http://statistik.jakarta.go.id/tabel/luas-wilayah-kabupaten-kota-dki-jakarta-km%C2%B2/ (Diakses tanggal 22 Februari 2021, Pukul 19:36 WIB)
monumental, sebab Soekarno suka dengan simbol-simbol agung yang menjadikan Jakarta sejajar dengan kota modern mana pun.
Resmi menjadi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jakarta langsung dihadapkan pada permasalahan tata ruang, kepemilikan tanah, dan minimnya angka melek huruf membuat penduduk Ibukota menjadi gelandangan.
Masalah tersebut terus menumpuk, semakin banyak para perantau yang datang ke Jakarta. Ramai perantau, membuat data penduduk Jakarta meningkat tajam. Pada tabel dibawah ini menjelaskan data statistik awal Kota Jakarta berpenduduk 1,4 juta orang di tahun 1945-1950, kemudian meningkat menjadi 1,8 juta warga pada tahun 1950-1955. Sensus penduduk tahun 1953 menunjukan bahwa mayoritas orang datang ke Jakarta karena alasan kemakmuran.21 Kenaikan tertinggi berada pada tahun 1961-1965, dengan data penduduk di angka 3,4 juta orang.22
Tabel 1 : Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta 1941-1950
Tahun Jumlah
Penduduk
Perkembangan per-tahun
Periode Presentase
petumbuhan per-tahun
1941 544,823 - -
1945 623,343 1941-1945 3,4
1950 1.432.085 1945-1950 18,1
1955 1.884.700 1950-1955 5,6
21 Susan Blackburn, 2011, Jakarta:Sejarah 400 Tahun, Jakarta : Masup Jakarta, 2011. Hlm 235.
22 Edi Sedyawati,Supratikno Rahardjo,Irmawati Marwoto, G.A. Manilet, Sejarah Kota Jakarta (1950-1980), Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987. Hlm 32
Tahun Jumlah Penduduk
Perkembangan per-tahun
Periode Presentase
petumbuhan per-tahun
1961 2.906.533 1955-1961 7,5
1065 3.462.945 1961-1965 4,5
1971 4.576.009 1965-1971 4,8
1976 5.701.469 1971-1976 4,5
1980 6.503.227 1976-1980 3,3
1941-50 11,3
1950-61 6,6
1961-71 4,6
1971-80 3,98
Sumber: Edi Sedyawati,Supratikno Rahardjo,Irmawati Marwoto, G.A. Manilet, Sejarah Kota Jakarta (1950-1980), Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987. Hlm 32
Proses pembangunan yang berlangsung di Jakarta tidak diimbangi dengan pembangunan atau perbaikan keadaan kehidupan di daerah pedesaan atau pembangunan di kota-kota kecil di luar Jakarta. Kesulitan kehidupan di daerah pedesaan membuat masyarakat di pedesaan berlomba-lomba pergi ke kota-kota besar. Ketidaksinambungan antara pembangunan dan perluasan fasilitas kota dengan jumlah penduduk yang terus meningkat melahirkan masyarakat gelandangan di kota-kota besar.
Semakin banyak manusia yang datang ke Jakarta untuk mencoba peruntungan ekonomi menjadikan naiknya angka migrasi lokal, akibatnya banyak orang membangun rumah di permukiman liar bahkan di kolong jembatan. Masalah
kekurangan tempat tinggal belum selesai, persoalan lain terus berdatangan seperti:
bencana kebakaran, pengelolaan sampah, jaringan listrik yang belum terjangkau ke seluruh wilayah, transportasi publik, pendidikan, lapangan pekerjaan dan ekonomi yang tidak stabil. Semua hal tersebut terjadi akibat melonjaknya pertumbuhan penduduk di Jakarta serta ketidakstabilan politik saat itu, pemerintah Kotapraja dengan segala program yang dirancang belum mampu mengatasi lonjakan penduduk serta kemiskinan warga.
Manfaat dari pembangunan di Jakarta tersebar secara tidak merata, di satu sisi tidak diragukan lagi bahwa kehidupan rata-rata warga Jakarta lebih baik daripada warga Indonesia lainnya tetapi di sisi lain kemiskinan meningkat. Terlihat jelas dari sejumlah peningkatan dalam kehidupan warga miskin selama masa Sadikin, pada periode 1970-1976 nilai rill pengeluaran 40% warga miskin dalam populasi meningkat 25%. Mereka yang berpenghasilan rendah masih menggunakan lebih dari setengah pendapatan mereka untuk makanan dan sisanya untuk keperluan lainnya. Sedangkan bagi warga kaya pada periode yang sama, awalnya pengeluaran 30% kemudian meningkat minimal 50%. Perbedaan ini terlihat jelas di Jakarta dengan dibangunnya gedung-gedung tinggi dan perumahan Real Estate di sekitar perkampungan warga yang sudah ada sejak lama, jurang pemisah antara kaya dan miskin sangat mudah ditemukan selama periode ini di Jakarta23.
Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta memiliki pengaruh besar dalam perubahan Jakarta, banyak pembangunan telah berhasil dibuat pada masa
23 Susan Blackburn, op.cit. Hlm. 318
pemerintahan Ali Sadikin seperti taman rekreasi, gedung kesenian terminal, bahkan pusat-pusat perbelanjaan dan rumah sakit. Kesuksesan Ali Sadikin dalam mengembangkan Jakarta justru menjadi timbal balik bagi pemerintahan DKI Jakarta. Kedinamisan dan efisiensi Sadikin menjadikan Jakarta sebagai pusat pemerintahan Ibu Kota Indonesia, kota ini semakin menarik investor dan imigran.
Atas dasar modernisasi Jakarta yang beliau laksanakan, kota Jakarta berkembang dan mengalami perubahan cepat mempermudah bagi periode kepemimpinan selanjutnya.
Masing-masing pemerintahan gubernur yang menjabat di Jakarta memang memiliki inovasi yang berbeda-beda, tetapi tujuannya memang untuk pembangunan dan kemajuan Jakarta. Pembangunan segala bentuk penunjang kesejahteraan masyarakat pada kepemimpinan Gubernur masa ke masa dibuat dengan sebaik mungkin, apalagi meningkatnya jumlah penduduk di Jakarta tidak dipungkiri juga masalah semakin bertambah.
2.2.1 Daya Tarik Kota Jakarta
Gemerlapnya kota Jakarta dengan kerlip lampu-lampu yang ada disekitar jalan-jalan Jakarta dan gedung-gedung tinggi membuat masyarakat luar daerah tertantang untuk datang Jakarta. Aktivitas di Jakarta bukan hanya dimulai pada siang hari tetapi juga pada malam hari, restoran-restoran, klub malam, tempat-tempat perjudian hingga tempat-tempat prostitusi. Hal lain yang menarik para perantau yaitu mudah terjangkau dan tersedianya segala fasilitas yang dibutuhkan di Jakarta, membuat para pendatang tertarik untuk datang dan menetap di Jakarta.
Daya Tarik Jakarta sebagai Ibukota banyak mengundang minat kaum perantau. Hal itu terjadi karena semakin berkembangnya pembangunan di banyak bidang maka akan bertambah pula perluasan kesempatan kerja. Perluasan kesempatan kerja inilah yang menjadi dorongan bagi mereka untuk meninggalkan tempat asalnya. Beberapa alasan selain pekerjaan yang sering dikemukakan oleh perantau yaitu kehidupan metropolitan perkotaan, melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan memperbaiki derajat perekonomian keluarga. Disamping itu ikatan kekeluargaan juga menjadi faktor kedatangan perantau, komunikasi yang terjalin dengan keluarga di daerah asal dan keberhasilan yang di dapat oleh seseorang maka ia akan menarik saudara sekampung untuk mengadu nasib.
Hubungan yang terjalin tersebut dengan harapan akan memperoleh pekerjaan yang sama kemudian akan menjadi alasan pendatang untuk ke Jakarta.
2.3 Kedatangan Orang Batak ke Jakarta
Suku Batak merupakan salah satu suku yang identik dengan budaya merantau, kegigihan dan keinginan yang besar dalam menggapai cita-cita menjadikan banyak orang Batak terutama anak muda banyak merantau ke daerah perkotaan. Gengsi yang tertanam pada diri orang Batak membuat mereka akan memilih tidak akan menginjak tanah kelahirannya jika belum sukses atau cita-citanya belum tercapai, karena bagi mereka jika sudah keluar dari tanah asal maka harus membawa hasil yang besar.
Pada umumnya orang Batak merantau pastinya memiliki keinginan yang ingin dicapai, yaitu untuk meraih kehidupan yang lebih baik dalam hal materi atau
jabatan. Penghasilan yang diperoleh di daerah asal sangatlah rendah dan lama untuk mendapatkannya, sebab mayoritas pekerjaan disana ialah petani sehingga harus menunggu hasil panen. Dorongan utama memperoleh penghasilan yang lebih baik dan menghindari kemiskinan inilah yang menjadi alasan orang Batak merantau ke Kota24.
Faktor pendidikan juga masih menjadi alasan kuat orang Batak melakukan aktivitas migrasi, berkelana untuk menimba ilmu di luar kota demi cita-cita yang mulia yaitu membanggakan orang tua di kampung halaman. Melanjutkan pendidikan di jenjang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan, menjadi alasan orang tua untuk menyekolahkan anaknya jauh ke kota-kota besar. Pendidikan anak merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam hidup orang tua Batak, sesulit apapun pendapatannya di kampung halaman mereka akan tetap berusaha agar anaknya bisa bersekolah dan sukses
Selain itu ada faktor lain yang menjadi tujuan orang Batak merantau, supaya mendapatkan banyak pengalaman yang tidak didapatkan di kampung dan dapat menjadi orang yang kuat juga tangguh dalam menjalani kehidupan. Maka tidak heran jika banyak orang Batak memiliki hati yang keras, karena sudah ditanamkan dari lahir oleh orang tua jika kita sudah berani meninggalkan rumah berarti kita juga harus bisa menerima dan bertanggung jawab dengan kehidupan di luar sana. Maka
24 Apriyana Dewi Silalahi, Buchori Asyik, I Gede Sugiyanta, 2013. Migrasi Suku Batak Toba Asal Tapanuli Utara (Sumatera Utara) tahun 1965-1975 Ke Kelurahan Bandarjaya Timur Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal Vol 1 no 3.
bisa dikatakan dari ketiga faktor migrasi tersebut merupakan penyebab tingginya tingkat persebaran orang Batak di berbagai pulau yang ada di Indonesia.
Kota yang mejadi pilihan merantaunya orang Batak keluar daerah asalnya yaitu kota Jakarta, orang Batak pertama yang menginjakkan kaki di Jakarta ialah Simon Hasibuan. Beliau adalah tamatan sekolah Seminari Huria Kristen Batak Protestan yang berada di Tarutung. Ia tiba pada tahun 1907 di Jakarta dan sejak saat itu migrasi orang Batak ke Jakarta sudah mulai berdatangan. Menurut catatan F Harahap dan M Nababan keberadaan orang Batak di Jakarta sejak tahun 1910-1917 sudah ada sekitar 30 orang dan semua beragama kristen25
Permulaan pertumbuhan migrasi orang Batak merantau ke Batavia yang dikenal sekarang Jakarta yaitu pada tahun 1917 F Harahap yang menjadi sponsor orang Batak datang ke Jakarta. Pengumuman yang diberitakan melalui surat kabar mingguan di Laguboti tertulis demikian, “jika ada anak dari bapak ibu yang ingin memberangkatkan anaknya untuk bekerja atau sekolah silahkan datang ke alamat saya ia menjadikan kediamannya yang ada di Sawah Besar untuk menampung orang Batak yang akan merantau ke Jakarta”26.
Gelombang kehadiran orang Batak dari kampung halaman sudah mulai berdatangan semenjak surat kabar tersebut disebarkan, keberadaan mereka di
25https://www.kompasiana.com/hotman.lagi/5cea9b9795760e6d4310b8b3/gerej a-hkbp-kernolong-jakarta-dalam-lintasan-sejarah-pergerakan-kemerdekaan-indonesia diakses tanggal 16 Maret 2021 Pukul 20:36 WIB.
26 https://tirto.id/diaspora-orang-batak-dan-lapo-di-jakarta-chuy diakses pada tanggal 4-maret-2020, pukul 20:30 WIB.
Jakarta saat itu mudah ditemui, orang batak biasa berkumpul di gereja atau Lapo27. Para pemuda batak pada saat itu berkumpul dan beribadah bersama harus pergi ke berbagai gereja yang tersebar bercampur dengan suku-suku lainnya, karena belum adanya gereja khusus orang Batak. Tahun 1919 akhirnya gereja pertama khusus jemaat Huria Kristen Batak Protestan pun didirikan yang berada di Jl Kwitang (Jakarta Pusat) yang diberi nama HKBP Kernolog, kebaktian pertama pun dalam Bahasa Batak karena ditujukan bagi para perantau yang ada di Jakarta. Seiring perkembangan zaman meningkatnya kedatangan orang Batak ke Jakarta maka HKBP kernolog sudah tidak mampu menampung jemaat dan sejak tahun 1955 digunakanlah tempat-tempat lain untuk beribadah28, bagaimanapun HKBP Kernolog ini merupakan tempat bersejarah bagi orang Batak yang merantau.
Gambar 2: Gereja Kernolog
Sumber: https://tribunjakartawiki.tribunnews.com/2020/12/29/sejarah-nama-jalan-kernolong-di-senen-jakpus-dan-kerukunan-antar-2-umat-beragama?page=4
27 Lapo adalah warung atau rumah makan khas orang Batak yang menyajikan makanan-makanan khas Suku Batak.
28 https://jakarta.go.id/artikel/konten/1760/hkbp-kernolong-gereja diakses pada tanggal 9-Maret-2021 pukul 14:30 WIB.
Pada tahun 1930 tabel dibawah ini menunjukan telah dilakukan sensus berdasarkan etnis, jumlah orang Batak di Jakarta berjumlah 1.300 kemudian pada tahun 1961 mengalami kenaikan menjadi 20.700 jiwa. Hal ini menujukan bahwa Jakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang paling banyak menerima migran dari berbagai suku bangsa salah satunya suku Batak. Seiring berjalannya waktu kenaikan perantau di Jakarta meningkat, paling besar pada tahun 1970-1990 yang menjadikan suku Batak suku ke tiga terbanyak di Jakarta29.
Tabel 2: Tabel sensus penduduk berdasarkan etnis tahun 1930 A
29 Loc. cit,. https://tirto.id/diaspora-orang-batak-dan-lapo-di-jakarta-chuy
A Sumber: Lance Castles. “The Ethnic Profile In Jakarta” 1967. Hlm 181
Tabel 3: Tabel kenaikan penduduk tahun 1961
Number Per Cent
Indigenous
Batavians (Djakarta Asli) 655,400 22.9
Sundanese 952,500 32.8
Javanese and Madurese 737,700 25.4
Atjehnese 5,200 0.2
Batak 28,900 1.0
Minangkabau 60,100 2.1
South Sumatra groups 34,900 1.2
Bandjarese 4,800 0.2
South Sulawesi groups 17,200 0.6
North Sulawesi groups 21,000 0.7
Maluku and Irian groups 11,800 0.4
East Nusatenggara groups 4,800 0.2
West Nusatenggara groups 1,300 0.0
Balinese 1,900 0.1
Malays and other Outer Island groups 19,800 0.7
Unknown 38,600 1.3
Total population 2,906,500 100.0
Sumber: Lance Castles. “The Ethnic Profile In Jakarta” 1967. Hlm 185.
Dari tabel diatas menunjukan bahwa kedatangan suku batak yang ingin hidup dan tinggal di Jakarta menunjukan bahwa kota ini memiliki potensi ekonomi yang baik. Alasan kuat para perantau ingin hidup di Jakarta yaitu tingkat
perkembangan kehidupan lebih baik dan dari segi pengetahuan mengalami peningkatan. Kedatangan para perantau ke Jakarta untuk melakukan perubahan bagi kehidupan mereka baik secara ekonomi, pendidikan atau mengenal dunia yang lebih luas. Sebanyak apapun persoalan yang ada di Jakarta, Kota ini sudah menjadi pilihan para perantau untuk tinggal dan memperbaiki kehidupannya.
2.4 Deskripsi Orang Batak Toba
Suku Batak Toba merupakan sub suku bangsa batak yang ada di Indonesia.
Suku Batak Toba meliputi Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, sebagian Kabupaten Dairi, Kabupaten Tapanuli Tengah dan sekitarnya. Banyak sumber yang mengatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari utara lalu berpindah ke wilayah Filipina dan berpindah lagi ke wilayah Sulawesi Selatan, lalu mereka berlayar hingga ke wilayah Barus. Dari sana mereka menyebar hingga ke pedalaman dan wilayah kaki gunung Pusuk Buhit yang berada di tepi Pulau Samosir, dari situlah disebut sebagai asal mula peradaban orang Batak30.
Sepanjang sejarah, suku Batak Toba terbagi ke dalam beberapa kerajaan yang berpusat di Bakara, Kerajaan yang dalam pemerintahan Sisingamangaraja membagi Kerajaan Batak dalam 4 wilayah yang disebut Raja Maropat, yaitu:
1. Raja Maropat Silindung 2. Raja Maropat Samosir
30 Simanjuntak Bungaran Antonius, Struktur Sosial dan Sistem Politk Batak Toba, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2006, hlm, 24.
3. Raja Maropat Humbang 4. Raja Maropat Toba
Menurut kepercayaan bangsa Batak induk marga Batak dimulai dari Si Raja Batak yang diyakini sebagi asal mula orang Batak. Si raja Batak mempunyai dua orang putra yakni Guru Tatea Bulan dan Si Raja Isumbaon, Guru Tatea Bulan mempunyai 5 orang putra yakni Raja Uti (Raja Biak-Biak), Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja. Sementara Si Raja Isombaon mempunyai 3 orang putra yakni Tuan Sorimangaraja, Si Raja Asiasi, dan Sangkar Somalindang.
Dari keturunan keduanyalah kemudian menyebar ke segala penjuru daerah di Tapanuli, baik ke utara maupun ke selatan sehingga muncullah berbagai macam marga Batak.
• Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan pada masyarakat Batak Toba dikenal dengan Dalihan Na Tolu ialah Tungku nan Tiga dimana sistem ini mengatur pola interaksi sosial didalam kehidupan masyarakat batak. Masyarakat Batak Toba akan selalu menggunakan unsur Dalihan Na Tolu ini dalam melaksanakan upacara adat apa pun termasuk dalam adat saur matua31. Ketiga unsur yaitu hula-hula, dongan tubu dan boru menjadi sangat penting bagi masyarakat Batak Toba, nama setiap kelompok juga mengisyaratkan fungsi sosial setiap kelompok.
1. Hula-hula ialah keluarga dari pihak perempuan (istri). Dimana di sini terdiri dari saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan ayah kita, saudara laki-laki
31 Bungaran Antonius Simanjuntak. Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba Hingga 1945, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2006. Hlm. 99
dari pihak perempuan, serta saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan ayah kakek kita yang merupakan hula-hula bagi keluarga yang mengambil si perempuan. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaukan dan adat istiadat Batak karena mereka yang memberikan pasu-pasu atau restu. Hula-hula ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
o Hula-hula tangkas32 o Tulang33.
o Bona ni ari34. o Bonatulang35. o Tulang Rorobot36.
2. Dongan Tubu artinya saudara semarga, Jadi Dongan Tubu adalah teman satu marga, baik itu satu marga sedarah atau marga yang kita temui di tanah perantauan atau tempat ia tinggal. Didalam Batak Toba Dongan Tubu ini
2. Dongan Tubu artinya saudara semarga, Jadi Dongan Tubu adalah teman satu marga, baik itu satu marga sedarah atau marga yang kita temui di tanah perantauan atau tempat ia tinggal. Didalam Batak Toba Dongan Tubu ini