• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI PENGARUH AGAMA KRISTEN PROTESTAN TERHADAP UPACARA ADAT SAUR MATUA DI JAKARTA ( )

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI PENGARUH AGAMA KRISTEN PROTESTAN TERHADAP UPACARA ADAT SAUR MATUA DI JAKARTA ( )"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH AGAMA KRISTEN PROTESTAN TERHADAP UPACARA ADAT SAUR MATUA DI

JAKARTA (1984-1998)

SKRIPSI

Disusun untuk memenuhi persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora

Program Studi Sejarah

Oleh

Sondang Ezra Novianti Manullang NIM: 174314028

PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2021

▸ Baca selengkapnya: hata sian simatua ni boru ulaon saur matua

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

Motto

Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Markus 11:24

(7)

vii

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk keluarga, kekasih, teman-teman dan dosen yang selalu mendukung saya dengan berbagai cara.

(8)

viii

ABSTRAK

Sondang Ezra Novianti Manullang, PENGARUH AGAMA KRISTEN PROTESTAN TERHADAP UPACARA ADAT SAUR MATUA DI JAKARTA (1984-1998). Skripsi.

Yogyakarta : Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2021.

Skripsi berjudul PENGARUH AGAMA KRISTEN PROTESTAN TERHADAP UPACARA ADAT SAUR MATUA DI JAKARTA (1984-1998) ini berusaha untuk menjawab dua permasalahan dalam penelitian ini. Pertama, mengapa gereja HKBP mengeluarkan peraturan terkait prosesi pada Upacara adat saur matua. Kedua, bagaimana dampak perubahan yang terjadi pada pelaksanaan upacara adat saur matua di Jakarta.

Pada penelitian kali ini metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan studi pustaka dengan memanfaatkan sumber tertulis seperti buku, laporan penelitian dan jurnal.

Hasil penelitian menunjukan bahwa upacara Saur Matua merupakan upacara adat kematian tingkat tertinggi pada masyarakat suku Batak, Saur memiliki arti yaitu lengkap atau sempurna sedangkan Matua adalah usia tua. Dalam adat Batak orang yang dikatakan Saur Matua yaitu orang yang meninggal dunia secara sempurna dalam kehidupan maupun adat, sudah memiliki cucu dan cicit dari anak juga keturunannya. Pelaksanaan upacara Saur Matua dilaksanakan karena adanya faktor adat yang harus dijalankan oleh para keturunannya, dengan harapan agar almarhum dapat menghormati kelangsungan hidup para keturunannya supaya sejahtera dan melimpah rejeki. Namun dalam perkembangannya, upacara Saur Matua mengalami perubahan yang dimulai saat berkembangnya agama Kristen Protestan dan gereja HKBP mengeluarkan peraturan gereja yaitu RPP atau hukum siasat gereja tahun 1984 di Tarutung.

Masuknya agama Kristen Protestan dan berdirinya gereja HKBP di tengah kehidupan masyarakat Batak memberikan pengaruh pada pelaksanaan upacara Saur Matua, kini gereja ikut berperan dari awal acara dimulai hingga akhir upacara selesai untuk memperhatikan dan memberikan arahan terhadap pihak keluarga agar menjalankan adat Batak yang sejalan dengan firman Tuhan.

Kata kunci: Saur Matua, kebudayaan Batak, RPP HKBP dan pengaruh Agama

(9)

ix

ABSTRACT

Sondang Ezra Novianti Manullang, THE INFLUENCE OF PROTESTANT CHRISTIANS RELIGION ON THE SAUR MATUA CEREMONY IN JAKARTA (1984-1998). Thesis. Yogyakarta: Letter Study Program, Faculty of Letter, Sanata Dharma University, 2021.

The study entitled The Influence of Protestant Christians Religion on the Saur Matua Ceremony in Jakarta (1984-1998) attempted to discuss two issues of this study. First, why the HKBP church publishes the rule regarding to the processional on the Saur Matua ceremony. Second, how the change affects the implementation of Saur Matua ceremony in Jakarta.

The method used in this study was qualitative research. The method of collecting the data used in this study were interview and library study by using the written sources such as books, research reports and journals.

The result of this research showed that the Saur Matua ceremony was the highest level of death ceremonial in Batak custom. Saur meant complete or perfect while the Matua was the old age. In Batak custom, people that concluded as the Saur Matua were people that passed away perfectly in both of life and custom, already had grandchildren and great-grandchildren of their children as well. The practice of the Saur Matua ceremony was done due to the custom factors that must be held by descendants, in the hope that the deceased will be able to honor the viability of their descendants in order to have the prosperous and the abundant of fortune. However, in the growth, the Saur Matua ceremony experienced the change, which began when the development of the Protestant Christians religion and the HKBP church published the church's rule of RPP or the church law strategy of 1984 in Tarutung.

The influx of Protestant Christians religion and the establishment of the HKBP church in the midst of life of Batak people affected the performance of the Saur Matua ceremony. Now, the church is taking part from the beginning of the ceremony to the end of the ceremony to give the attention and direction to the family in order to be able to enforce Batak custom, which is suitable with God's word as well.

Key words: Saur Matua, Batak Culture, RPP HKBP and the Influence of Religion

(10)

x

PRAKATA

Ucapan syukur dan terima kasih saya haturkan kepada:

1. Kedua orang tua saya bapak dan mama yang selalu membantu dan mendukung dalam setiap proses perjalanan kuliah. Sejak awal masuk universitas hingga tahap akhir penelitian ini.

2. Kakak saya Friskah Agnelly Manullang selalu menyemangati dan menjadi bank berjalan saya selama kuliah

3. Bapak Drs. Silverio Raden Lilik Aji Sampurno M. Hum. pembimbing yang sangat baik dan selalu meluangkan waktunya untuk membimbing, memberikan saran sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai.

4. Terima kasih kepada seluruh Dosen yang mengajar di Ilmu Sejarah Pak Hery Santosa, Pak Yerry, Mas Heri, Romo Heri, Romo Baskara yang telah membimbing dan mendukung saya sejak awal masuk kuliah hingga skripsi ini.

5. Mas Doni sebagai sekretaris Prodi Sejarah yang selalu siap direpoti untuk membantu urusan birokrasi kuliah.

6. Teman-teman Sejarah khususnya Angkatan 2017, Adrian, Alvin, Bryan, Christo, Daniel, Fince, Eka, Petra, Satria, Suryo, Teto, Vena, Yadi baik yang tidak bisa dituliskan satu persatu. Terima kasih sudah menjadi teman baik untuk berdiskusi.

7. Terima kasih kepada Kevin Rinangga Adriyan yang selalu menemani proses saya menulis skripsi hingga sidang ini.

8. Para informan yang sudah mau saya wawancarai yaitu Tulang Alma, Uda pendeta jetro dan sodara-sodara saya lainnya yang sudah saya repoti 9. Sahabat seperjuanganku di Sejarah sejak awal kuliah Jelita, Agatha, Novita.

Terimakasih sudah menjadi pendengar, teman belajar, teman jalan dan tempat keluhan saya selama ini.

10. Sahabat dan ibu kost di kost Lampar 38 Dina, Jelin dan Ibu Sum.

Terimakasih sudah menjadi penyemangat dan tempat keluh kesah diriku ya

(11)

xi

11. Sahabat-sahabat ku di Bekasi sejak SMA Fadhel, Qoniyya, Shinta, Resa, Rere, Tasya, Amel, Nabila. Terimakasih buat semangat yang tiada henti untuk lulus secapatnya dan bisa mencari cuan bersama

12. Sahabat sejak masih menjadi anak alim di gereja Lucy dan Agati yang selalu menjadi orang tersibuk tapi tetap perhatian

13. Kakak tingkat Kak Nita Sihotang, Kak Rosma, Kak Edut dan Kak Desy dukungan kalian sangat membantu aku.

14. Teman-teman ku selama partime di dazzle Lala, Mas Amin, Septi, Mbak Estu, Shafira, Mbak Fatimah terimakasih selalu mengingatkan aku untuk kerjain skripsi.

Seluruh orang yang selalu mendukung, saya haturkan terima kasih. Tanpa kebaikan dan pengertian mereka, skripsi saya akan terhambat. Sebuah ketulusan hati saya menyatakan bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna, dengan senang hati saya menerima kritik dan saran yang bersifat membangun.

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ...iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... v

MOTTO ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

PRAKATA ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I - PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Pembatasan Masalah ... 9

1.3 Rumusan Masalah ... 11

1.4 Tujuan Penelitian ... 12

1.5 Manfaat Penelitian ... 12

1.6 Landasan Teori ... 13

1.7 Kajian Pustaka ... 14

1.8 Metode Penelitian ... 16

1.9 Sistematika Penulisan ... 17

BAB II – KEDATANGAN ORANG BATAK KE JAKARTA ... 19

2.1 Letak Geografis Jakarta ... 19

2.2 Sejarah Jakarta... 20

2.2.1Daya Tarik Kota Jakarta ... 24

2.3 Kedatangan Orang Batak ke Jakarta ... 25

2.4 Deskripsi Orang Batak Toba ... 31

(13)

xiii

BAB III –UPACARA ADAT SAUR MATUA ... 38

2.1 Kematian dalam prespektif keyakinan Batak Toba ... 38

2.2 Upacara Adat Saur Matua ... 42

2.3 Proses pelaksanaan upacara Saur Matua ... 44

2.4 Perubahan upacara adat Saur Matua ... 71

BAB IV – UPACARA SAUR MATUA SETELAH MASUKNYA AGAMA KRISTEN PROTESTAN ... 80

4.1 Peraturan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (Ruhut Parmahanion Pamincangon) dalam menjalankan adat kematian Saur Matua ... 83

4.2 Perbedaan upacara adat Saur Matua sebelum dan sesudah masuknya agama kristen ... 88

4.3 Upaya masyarakat Batak dalam mempertahankan upacara Saur Matua... 96

BAB V - KESIMPULAN ... 99

5.1 Kesimpulan ... 99

5.2 Saran ... 101

DAFTAR PUSTAKA ... 103

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta 1941-1950. ... 21

Tabel 2. Sensus penduduk berdasarkan etnis tahun 1930. ... 29

Tabel 3 Kenaikan penduduk tahun 1961. ... 30

Tabel 4. Kewajiban adat yang diterima ... 69

Tabel 5. Perbedaan Upacara Saur Matua sebelum dan sesudah masuknya agama Kristen ... 91

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Sijagaron ... 11

Gambar 2. Gereja Kernolog ... 28

Gambar 3. Rumah Adat Batak Toba ... 37

Gambar 4 .Susunan kursi saat acara Martonggo Raja ... 47

Gambar 5 .Eme (Padi) ... 59

Gambar 6. Gambiri (Aleurites Moluccanus) ... 59

Gambar 7. Hariara ... 60

Gambar 8. Beringin (ficus benjamina) ... 60

Gambar 9. Telur ayam kampung ... 61

Gambar 10. Sanggar (themeda gigantea) ... 61

Gambar 11. Silinjuang/Hatunggal (Cordyline Fruticosa) ... 62

Gambar 12. Ompu-ompu (Lilium Regale) ... 62

Gambar 13. Sihilap (Hrysopogon Zizanioides) ... 63

Gambar 14. Ampang ... 64

Gambar 15. Hombung ... 67

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sumatera Utara merupakan Provinsi besar yang ada di pulau Sumatera, terkenal sebagai salah satu wilayah tempat tumbuh dan besar suku Batak. Suku ini dapat dikatakan sebagai salah satu suku yang cukup besar, karena orang Batak tersebar ke berbagai daerah di Indonesia salah satunya Jakarta. Suku Batak sendiri terbagi menjadi 6 kelompok besar yaitu Toba, Pakpak, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Karo. Namun kali ini peneliti akan menitik beratkan pada pembahasan Batak Toba sebagai salah satu yang terkenal di antara 6 sub suku Batak lainnya.

Suku Batak Toba berasal daerah induk tepi Danau Toba, Pulau Samosir, dataran tinggi Toba, Porsea, Tarutung, daerah antara Barus dan Sibolga. Namun seiring perkembangan zaman orang Batak toba melakukan diaspora ke berbagai daerah dan kota-kota besar lainnya seperti Medan, Jakarta, Manado, Yogyakarta, Semarang serta kota lainnya.

Dalam menjalani kehidupannya suku Batak memiliki tujuh falsafah Batak yaitu: Mardebata (Bertuhan), Marpinompar (Berketurunan), Martutur (memiliki kekerabatan), Marpangkiriman (Berpengharapan), Maradat (Mempunyai Adat Istiadat), Marpatik (memiliki aturan), dan Maruhum (Mempunyai Hukum).1 Tujuh

1 Djapiter Tinambunan, Orang Batak Kasar?: Membangun Citra dan Karakter, Jakarta, Gramedia, 2010.

(17)

falsafah hidup tersebutlah yang membentuk karakter juga memengaruhi cara berfikir masyarakat Batak baik dimanapun ia berada.

Suku Batak yang dikenal kaya akan kebudayaan memiliki sistem kekerabatan, adat, hukum, kesenian dan sistem kepercayaan yang berbeda dengan suku lainnya. Sistem kekerabatan yang melekat dalam kehidupan sosial orang Batak Toba yaitu Dalihan Na Tolu baik dari kelahiran hingga kematian, ini lah yang membuat hal ini tidak dipisahkan dari orang batak dalam melakukan apapun di kehidupannya. Bila didalam Batak Toba sistem kekerabatan dikenal dengan sebutan Dalihan Na Tolu berbeda dengan ke 5 batak lainnya.

Sesuai dengan konsep Dalihan Na Tolu, terdapat tiga peran penting dalam upacara adat kehidupan orang Batak Toba. Konsep Dalihan Na Tolu ini yaitu:

1. Somba Marhula-hula, artinya kita harus menghormati atau hormat terhadap hula-hula. Karena hula-hula merupakan sumber penerang dan serta kebahagian.

2. Manat mardongan tubu, artinya barhati-hati bersaudara laki-laki agar tidak ada kesalahpahaman.

3. Elek marboru, artinya ramah terhadap sesama teman karib. Boru merupakan pembantu utama Hula-hula, tenaga maupun materi. Sehingga boru bersifat manja terhadap Hula-hula dan pihak Hula-hula sedapatnya melayaninya.2

2 Gultom, Rajamarpodang, 1995. Dalihan Na Tolu “dan Prinsip Dasar Nilai Budaya Batak”. Medan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Utara.

(18)

Sejak dari masa dikenalnya Siraja Batak sebagai nenek moyang suku Batak, orang batak sudah memiliki kepercayaan yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut dengan nama Debata Mulajadi Nabolon.3 Dalam kepercayaan paganisme orang batak, Debata Mulajadi Nabolon merupakan maha pencipta dan maha kuasa yang tidak berawal dan tidak berakhir tidak ada sesuatu yang tidak bermula dari padanya.4

Unsur-unsur agama Batak Kuno itu pada mulanya belum dinamakan sebagai sebuah agama tetapi setelah datangnya agama asing di tanah batak penyebutan agama Batak itu adalah agama Malim. Agama Malim adalah ajaran keagamaan yang merupakan bawaan atau utusan debata mulajadi nabolon, para pengikutnya disebut dengan parugamo Malim. Menurut mereka keberadaan adat bukan hanya sekedar di jalankan, tetapi menjadi kebiasaan yang disahkan oleh roh dan yang berani mengabaikan prinsip-prinsip ajaran adat maka akan membawa sanksi.

Seiring dengan perkembangan zaman, agama Malim mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat suku Batak karena dianggap aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Meski tidak semua masyarakat suku Batak meninggalkan agama Malim, tetapi masyarakat lainnya yang sudah modern mulai memeluk salah satu agama yang diakui di Indonesia yaitu, Kristen, Katolik, Islam dan Budha. Kini masyarakat Batak mayoritas banyak memeluk agama Kristen Prostesan, Katolik dan Islam. Berkembangnya agama di kalangan masyarakat Batak Toba menjadikan

3 Gultom, Ibrahim, 2010. Agama Malim di Tanah Batak, Jakarta: Bumi Aksara.

Hlm. 2

4 Ibid., hlm. 77.

(19)

agama Malim bukan menjadi agama resmi masyarakat Batak, tetapi tradisi dan adat yang turun temurun dilaksanakan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Batak sejak upacara kelahiran, pernikahan hingga kematian.

Dalam tradisi Batak orang yang meninggal akan mengalami perlakuan khusus, upacara adat kematian tersebut di klasifikasikan berdasarkan usia dan status yang meninggal, semakin tinggi usia dan statusnya dalam keluarga besar maka saat meninggal perlakuan adat yang didapatkannya juga akan berbeda. Jika yang meninggal masih dalam kandungan (mate di bortian) belum mendapatkan perlakuan adat. Tetapi bila meninggal ketika masih bayi (mate poso-poso), mati saat anak-anak (mate dakdanak), mati saat remaja (mate bulung), dan mati saat sudah dewasa tapi belum menikah (mate ponggol), keseluruhan kematian tersebut juga mendapat perlakuan adat tetapi tidak sebesar pesta adat bagi orang yang meninggal saat usia lanjut dan ber-status.

Klasifikasi upacara adat kematian dalam adat Batak Toba selanjutnya yaitu yang sudah memasuki usia lanjut dan status dalam keluarga, perlakuan adat yang didapatkan oleh orang yang meninggal dalam kematian akan semakin tinggi apabila sudah memenuhi syarat seperti berikut:

1. Telah berumah tangga namun belum mempunyai anak maka dikatakan mate di paralang-alangan / mate punu

2. Telah berumah tangga dengan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil dikatakan sebagai mate mangkar

(20)

3. Telah memiliki anak-anak yang sudah dewasa bahkan sudah ada yang menikah namun belum bercucu maka acara adatnya disebut dengan mate hatungganeon,

4. Telah memiliki cucu namun masih ada anaknya yang belum menikah maka acara adatnya disebut dengan mate sari matua,

5. Semua anaknya sudah menikah, telah bercucu dan juga sudah memiliki cicit tetapi tidak harus dari semua anak-anaknya merupakan kematian yang ideal maka acara adatnya disebut dengan mate saur matua.

Saur matua menjadi tingkat tertinggi dari klasifikasi upacara kematian, karena meninggal saat semua anaknya telah berumah tangga, sudah tidak memiliki tanggungan, sempurna dalam kekerabatan, sudah memiliki cucu dan cicit.

Masyarakat Batak Toba dimanapun berada akan tetap melaksanakan upacara ini, apabila sesorang meninggal pada usia tua dan sudah saur matua akan dilaksanakan upacara kematian ini karena masih dianggap salah satu upacara adat yang penting dalam kehidupan orang Batak Toba

Kehadiran kerabat Dalihan Na Tolu sangat diperlukan karena pihak yang termasuk ke dalam dalihan na tolu inilah yang mengatur dan menjalankan perannya tersebut sehingga acara berjalan dari awal hingga akhir, biasanya sebelum itu pihak keluarga mengadakan musyawarah keluarga (martonggo raja). Pelaksanaan upacara ini tergantung pada lamanya mayat disemayamkan bisa hingga 3 hari bahkan 7 hari, karna harus mengumpulkan semua keluarga putra-putri dan pihak hula-hula. Selain itu kesiapan Ekonomi bagi keluarga yang meninggal dipertimbangkan juga dalam menentukan berlangsungnya acara ini. Hal seperti ini

(21)

dalam martonggo raja dapat dijadikan sebagai suatu pertimbangan dalam pelaksanaan upacara saur matua, Martonggo Raja selain membahas lamanya upacara tersebut dilakukan juga membahas waktu pelaksanaan acara, lokasi pemakaman, keperluan teknis dalam upacara seperti pengadaan peti mati, alat musik, makanan yang akan disediakan untuk tamu.

Setelah Martonggo Raja telah diselesaikan dan telah disepakati barulah acara bisa dimulai, Pelaksanaan upacara adat saur matua ini dibagi menjadi 7 yaitu: ria raja(tonggor raja), mompo,mangarapot,patuathon,mamboan tu udean, manuan ompu-ompu dan mangungkap hombung5. Pelaksanaan upacara ini dibagi menjadi dua tempat yaitu upacara di rumah dan upacara di halaman namun dalam pelaksanaanya di Jakarta upacara ini hanya berlangsung di dalam rumah saja.

Upacara ini pada masyarakat Batak Toba sangat penting dilaksanakan sebagai ungkapan sukacita keluarga karena salah satu keluarganya meninggal dalam usia sempurna saur matua, dalam adat Batak Toba kematian saur matua ini perasaan keluarga yang ditinggalkan harus sudah bahagia karena semua yang dilaksanakan saat hidup sudah tercapai. Dasar pelaksanaan upacara ini bukan hanya untuk orang yang meninggal saja, tetapi dengan harapan agar para keturunannya dapat hidup sejahtera dan damai dalam menjalankan kehidupannya.

Kini pemahaman masyarakat Batak Kristen mengenai upacara saur matua sudah berbeda, bukan lagi untuk menyembah orang yang meninggal agar kekuatan

5 T Bertha Etal Pardede, 1981, Bahasa Tutur Perhataan dalam Upacara Adat Batak Toba, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hlm. 41.

(22)

kemulian diberikan kepada anak cucunya, tetapi sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas anugerah umur panjang yang diberikan kepada yang meninggal semasa dia hidup. Sedangkan konsep religi mati saur matua yaitu “kematian ideal” tetap dipertahankan karena orientasi sosial budaya sampai sekarang masih menganggap mati saur matua adalah kematian yang paling baik.6

Pelaksanaan upacara saur matua masa kini lebih diarahkan sebagai pendewasaan rohani, gagasan itu didapatkan setelah merefleksikan upacara saur matua menjadi sebuah bentuk ucapan syukur dari seluruh anak-cucu kepada tuhan, bukan lagi arwah leluhur. Salah satu dari prosesi ritual adat upacara adat saur matua biasanya dilakukan untuk menandakan simbol keberhasilan seseorang yang memiliki keturunan yang sukses dengan tumbuh-tumbuhan dan makanan disebut dengan Sijagaron. Prosesi ini dilaksanakan saat patuahon tu alaman yaitu membawa mayat yang dari dalam rumah ke halaman, semua keluarga berkumpul dan menantu perempuan pertama lah yang menjungjung sijagaron tersebut.

Sebelum masuknya agama Kristen, keberadaan adat dan memuja roh dalam upacara adat terutama Saur Matua sangat di tinggikan tetapi semenjak masuknya pengaruh Agama Kristen Protestan menjadikan pelaksanaan dalam upacara Saur Matua yaitu prosesi sijagaron dianjurkan untuk diperhatikan saat melaksanakan prosesi tersebut terutama bagi umat Kristen protestan. Peraturan yang dikeluarkan

6 Relly Monika Hasugian, 2017, Upacara Kematiaan Saur Matua Batak Toba:

Analisis Tradisi Lisan, LINGUA, Vol 14, No 2, September 2017.

(23)

gereja HKBP pada tahun 1952 di Tarutung7, yang tertulis dalam Ruhut Parmahanion Pamincango (RPP) di bagian yang menjelaskan mengenai Upacara Kematian dikatakan seperti ini “harus ditegur atau diingatkan jika ada yang membuat prosesi sijagaron (sanggul marata) waktu meninggal orang tua, jangan lagi dilaksanakan kegiatan yang berbau dengan penyembahan, serahkanlah kehidupan kepada Tuhan yang menyampaikan berkat kepada keturunannya”, kemudian dalam pelaksanannya sijagaron ini mulai tidak digunakan bagi beberapa keluarga Kristen Batak Toba kegiatan ini kemudian diganti dengan cara didoakan oleh pendeta.8

Bukan hanya dalam prosesi adatnya saja yang mengalami perubahan, Upacara Saur Matua dikenal sebagai pesta kematian yang berbahagia dengan diiringi musik Gondang dan Tarian Tortor. Setiap upacara adat di Batak Toba pastinya akan selalu diiringi musik Gondang, jenis Gondang yang digunakan juga tertentu menurut kegunaanya, Gondang sabangunan memiliki peran penting dalam iringan musik saat Upacara saur matua. Dahulu sebelum masuknya agama Kristen dikalangan orang Batak, pemain Gondang tersebut dalam memainkan musik ada ungkapan-ungkapan yang harus disampaikan yang ditujukan kepada Debata Mula jadi Nabolon secara religious agar hadir didalam Upacara Saurmatua tersebut.

Hingga saat ini gondang sabagunan ini masih digunakan dalam adat Upacara Saurmatua, namun sekarang ini Gondang Sabagunan hanya difungsikan sebagai

7 Pada sidang Sinode Godang HKBP tahun 1984 diputuskan untuk diperbaiki namanya menjadi Ruhut Parmahanin dohot Pamisangon HKBP atau hukum siasat gereja.

8 Anonimous, Ruhut Parmahanion Dohot Paminsangon HKBP. Hlm 46

(24)

hiburan atau pelengkap dalam upacara saja dan Gondang pun sekarang dipadupadankan dengan instrument musik lainnya, sepeti keyboard, drum, gitar, dan saxophone. Tujuan penggunaan Gondang kali ini sudah berubah fungsi sebelum masyarakat mengenal agama, bukan lagi memuja atau meminta berkat seperti yang ada pada kepercayaan dahulu.

Demi mempertahankan peninggalan budaya Batak dalam bidang seni Gondang tetap dipergunakan dalam setiap upacara, tetapi hanya tujuannya saja yang dibedakan pada saat ini. Masuknya Agama di kalangan masyarakat Batak Toba mampu memberikan perubahan besar bagi Orang Batak, dimana masyarakat sudah mulai sedikit demi sedikit melupakan tradisi juga kebudayaan asli Suku Batak segala pemujaan yang dahulu dilakukan namun sekarang saat agama Kristen mulai masuk harus di tinggalkan. Peran agama dan kebudayaan erat sekali hubungannya dan bahkan sering sulit dipisahkan, masyarakat yang harus sudah menerima Kristus akan mampu menntukan sendiri unsur-unsur Kebudayaan mana yang masih bisa dipertahankan dan yang mana harus ditinggalkan.

1.2 Pembatasan Masalah

Melalui pembatasan masalah ini, penelitian ini akan lebih terfokus pada titik periode permasalahan yang telah ditentukan serta peneliti dapat melihat lebih mendalam pokok permasalah dan tidak menjadi luas, maka dari itu perlunya pembatasan masalah ini agar tulisan ini mencapai sasaran penelitian. Pelaksanaan Upacara saur matua pada orang Batak merupakan salah satu upacara adat kematian tertinggi yang patut dilaksanakan bagi orang Batak yang semasa hidupnya

(25)

menjalankan adat dan meninggal dengan kondisi saur matua, baik di tanah asal (tapanuli utara) maupun di perantauan.

Penulisan ini dimulai pada tahun 1984, pada tahun tersebut diadakannya Sidang Sinode Godang I dan di putuskannya peraturan gereja yaitu Ruhut Parmahanion Pamincango (RPP) HKBP, yang memang pada awalnya di tahun 1952 peraturan tersebut sudah dirancang namun masih memerlukan banyak masukan dan pembaharuan agar lebih diterima oleh warga jemaat. Maka dari itu tahun 1984 menjadi titik awal penelitian ini karena peraturan tersebut sudah mulai diterima oleh warga jemaat setelah mengalami pembaharuan. Ruhut Parmahanion Pamincango (RPP) terdiri dari 6 pasal dan pada pasal ke 4 point no 4 membahas mengenai upacara kematian, yang berisikan larangan segala bentuk yang berhubungan dengan penyembahan harus ditegur atau diperhatikan yaitu prosesi Sijagaron (sanggul marata)9 karena sijagaron merupakan simbol keberhasilan seseorang yang di ibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan, kemudian tahun 1998 menjadi titik akhir periode penelitian ini dimana mulai terbentuknya Revolusi Indonesia yang menjadi jalan baru bagi kebabasan masyarakat Indonesia dalam hal pemikiran baru.

9 Sijagaron adalah tanaman yang dirangkai dengan beberapa benda lain yang digunakan dalam upacara pemakaman.

(26)

Gambar 1: Sijagaron

Sumber: https://tanobatak.wordpress.com/2009/02/19/sijagaron/

Jakarta menjadi studi kasus dalam penelitian kali ini, karena Jakarta merupakan kota yang dijadikan tempat merantau bagi orang batak sehingga terjadinya perubahan pola pikir mengenai adat tradisi di perkotaan, karena berbaurnya berbagai kebudayaan yang ada di Jakarta. Selain itu saya memilih Jakarta dikarenakan memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan saya.

Penelitian ini juga melihat perubahan apa yang terjadi pada proses pelaksanaan upacara adat saur matua apakah terdapat perbedaan dengan upacara saur matua yang aslinya sebelum dikeluarkannya RPP.

1.3 Rumusan Masalah

1. Mengapa gereja HKBP mengeluarkan peraturan terkait prosesi pada Upacara adat saur matua?

(27)

2. Bagaimana dampak perubahan yang terjadi pada pelaksanaan upacara adat saur matua di Jakarta?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan bagaimana proses upacara saur matua di Jakarta setelah larangan acara adat kematian yang berbau penyembahan tidak boleh dilakukan kembali. Selain itu penelitian ini menjelaskan bagaimana perkembangan dan perubahan yang terjadi pada upacara Saur Matua di Jakarta. Penelitian ini dibuat dengan tujuan menjelaskanan sejarah mengenai salah satu ritual adat yang ada di suku Batak yaitu Upacara saur matua yang memiliki fungsi juga peran penting bagi orang Batak yang semasa hidupnya sudah menjalankan adat sedari hidup.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini secara praktis ialah memberikan pengetahuan juga informasi mengenai salah satu ritual adat dalam suku Batak yaitu upacara adat saur matua. Tetapi sasaran dari penelitian kali ini bukan hanya bagi orang Batak saja, tetapi juga untuk seluruh masyarakat dan berbagai kalangan suku manapun agar mengetahui salah satu kebudayaan Batak. Secara teoritis penelitian ini berguna sebagai bahan masukan atau referensi dalam penelitian sejarah kebudayaan tentang upacara adat saur matua yang mungkin saat ini masih jarang menemukan sumber. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi peneliti lain dalam pengembangan displin ilmu sejarah kebudayaan.

(28)

1.6 Landasan/kerangka teori

Pengaruh ilmu-ilmu sosial pada sejarah dibagi menjadi empat macam yaitu, konsep, teori, permasalahan dan pendekatan.10 Penggunaan landasan teori bagi penulisan sejarah mempermudah menerangkan masalah yang di bahas dalam penelitian. Untuk melengkapi semuanya dalam penulisan ilmu sejarah, sejarah membutuhkan ilmu sosial lainnya seperti Antropologi, Sosiologi, Agama, Politik dan juga Ekonomi yang dimana artinya ilmu sosial tersebut membantu Ilmu Sejarah dalam memberikan keterangan historis.

Dalam penelitian kali ini teori yang digunakan adalah teori enkulturasi budaya, enkulturasi adalah proses mempelajari kebudayaan baru yang dilakukan oleh sesorang atau kelompok masyarakat teretntu. Akan tetapi pada prosesnya tidak terjadi pada prosesnya tidak terjadi akulturasi dan asimilasi kebudayaan. Karena dalam kelompok-kelompok masyarakat tersebut tetap mempertahankan kebudayaan masing-masing, kelompok tersebut berkembang dan hidup berdampingan satu dengan lainnya dan hidup dengan cara masing- masing.11

Menurut koentjaraningrat ia mengemukakan bahwa enkulturasi sebagai suatu konsep, secara harifiah dapat diartikan sebagai proses pembudayaan yang

10 Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yayasan Bentang Budaya: Yogyakarta.

1995. Hlm. 87

11 Ariyono Suyono dan Aminudin Siregar, kamus antropologi, Jakarta:

Akademika Presindo, 1985. Hlm, 110

(29)

di transmisikan oleh satu generasi ke generasi berikutnya.12 Menurut Adamson Hoebel ia mengatakan bahwa enkulturasi adalah kondisi saat seseorang secara sadar maupun tidak sadar, mencapai kompetensi suatu budaya dan menginternalisasikan budaya tersebut kedalam kehidupan sehari-hari.13 Dari beberapa teori yang disampaikan beberapa ahli mengenai Enkulturasi penelitian kali ini akan menggunakana teori dari Adamson Hoebel, hal ini dikarenakan teori yang dipaparkan memiliki kemiripan dengan yang akan saya bahas mengenai pengaruh agama Kristen Protestan dalam upacara adat saur matua di Jakarta.

1.7 Tinjauan Pustaka

Berikut akan dijelaskan beberapa buku dan jurnal hasil penelitian mengenai upacara saur matua, mungkin tidak banyak buku atau jurnal yang membahas mengenai judul penelitian ini namun ada beberapa hasil penelitian yang sejenis dengan judul pada penelitian ini antara lain sebagai berikut:

Jurnal karya Hasugian, Relly Monika, 2017, Upacara Kematiaan Saur Matua Batak Toba: Analisis Tradisi Lisan. Jurnal ini membahas mengenai upacara adat saurmatua dari tata cara, pelaksanaan Upacara saurmatua secara umum dan menjelaskan tradisi lisan yang ada pada adat batak toba. Namun jurnal ini tidak

12 Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Aksara Baru 1980. Hlm 217

13 E. Adamson Hoebel, Anthropology: The Study of Man, USA, McGraw Hill, 1958. Hlm,40.

(30)

menjelaskan secara rinci dan jelas mengenai ruang dan waktu yang dibahas dalam penelitiannya hanya membahas mengenai upacara saur matua secara umum saja.

Selanjutnya salah satu karya buku T. M Sihombing yang berjudul Jambar Hata: Dongan Tu Ulaon berbahasa Batak. Buku ini membahas mengenai semua tata upacara adat Batak Toba, di buku ini dibahas juga mengenai upacara saur matua sebagai salah satu Adat yang penting bagi upacara kematian, penjelas dari yang harus dipersiapkan, kata-kata apa yang akan diucapkan, buku ini hanya menekankan pada seluruh upacara adat Batak Toba saja jadi tidak spesifik mengenai saur matua.14

Kemudian skripsi karya Eva Julia berjudul Upacara kematian Saurmatua pada Adat Masyarakat Batak Toba (studi kasus tentang kesiapan keluarga) di desa purbatua kecamatan purbatua kabupaten Tapanuli Utara. Pembahasan dalam skripsi ini cukup lengkap mengai Upacara saur matua, tetapi skripsi ini lebih menekankan pada aspek Ekonomi bukan ke Sejarahnya, selain itu skripsi ini berbeda dengan penelitian ini tidak menunjukan rentang waktu yang jelas.15

Karya majalah ilmah Universitas HKBP Nomensen oleh Ance Juliet Panggabean Volume 16 berjudul peranan gondang sabagunan Batak Toba pada Upacara Kematian Saur Matua di kota Medan dan beberapa aspek yang mempengaruhinya. Karya ilmiah ini menjelaskan mengenai music Gondang yang

14 T M Sihombing, 1989, Jambar Hata: Dongan Tu Ulaon, C. V Tulus Jaya

15 Eva, Junita S.2016.Upacara Kematian Saur Matua Pada Adat Masyarakat Batak Toba (Studi Kasus Tentang Kesiapan Keluarga) Di Desa Purbatua Kecamatan Purbatua Kabupaten Tapanuli Utara. JOM FISIP Vol. 3 No. 1

(31)

digunakan saat upacara saur matua dan juga menjelaskan mengenai tujuan gondang sabagunan ini dahulu pada upacara saur matua. Penelitian ini berbeda dengan apa yang akan diteliti, hasil penelitian ini tidak menjelaskan rentang waktu yang jelas.16

1.8 Metode penelitian

Metode dalam penulisan sejarah sangatlah penting dalam penelitian sejarah memiliki lima tahap yaitu; pemilihan topik, pengumpulan sumber atau heuristik, verifikasi {kritik sejarah, keabsahan sumber), interpretasi dan penulisan.17Yang pertama dilakukan dalam melakukan penelitian sejarah yaitu mencari topik, topik yang dipilih pun biasanya harus memiliki kedekatan emosional dan kedekatan intelektual dengan kita. Seperti dengan judul penelelitian yang saya ambil mengenai pengaruh agama Kristen protestan terhadap upacara adat Saur Matua memiliki kedekatan emosional dan juga intelektual dalam kehidupan saya di lingkungan kekerabatan orang Batak di Jakarta. Setelah melakukan pemilihan topik, selanjutnya mencari data yang dikumpulkan sesuai dengan tema penelitian maka sumber yang digunakan sumber lisan dan tertulis Pengumpulan data seumber tertulis dilakukan di Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Selanjutnya yaitu wawancara dengan kepala adat dalam suatu punguan marga dan orang tua berkisar umur 50-60 tahun baik perempuan ataupun laki-laki

16 Ance Juliet Panggabean, 2008, Peranan Gondang Sabagunan Batak Toba pada Upacara Kematian Saur Matua di kota Medan. Volume 16 Universitas HKBP Nommensen.

17 Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yayasan Bentang Budaya : Yogyakarta.

1995. Hlm: 69. a

(32)

yang terlibat dalam upacara saur matua. Umur tersebut menjadi patokan saya dalam mencari narasumber yaitu umur 50-60 tahun, karena orang tua yang berumur demikian lebih memahami perubahan apa yang terjadi dalam suatu acara adat saat mereka merantau ke daerah perkotaan selain itu pemahaman mereka mengenai Adat Batak lebih mendalam dibandingkan yang berumur dibawah 50 tahun

Ketiga verifikasi data, dengan melakukan kritik sumber diuji dan dianalisis secara kritis, agar hasil penelitiannya dapat dipertanggung-jawabkan. Langkah keempat merupakan interpretasi, penafsiran terhadap suatu data merupakan keharusan dalam tahap penelitian sejarah. Di tahap ini, data yang terkumpul bersifat saling mendukung, analisa data memiliki tujuan yaitu mendapatkan kebenaran hasil penelitian. Terakhir, penulisan ini merupakan sebuah hasil dari seluruh langkah penelitian yang di laksanakan di dalam tahap ini, fakta-fakta sejarah yang mendukung topik penelitian benar-benar tersaji dengan sistematis dan kronologis.

1.9 Sistemika penelitian

Penelitian ini pada hakikatnya akan dirumuskan dalam lima bab, dan sistematika penelitiannya adalah sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan, Bab ini mencakup: latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II menjelaskan sejarah kedatangan orang Batak ke Jakarta

BAB III berisi tentang seputar Upacara Adat Saur matua yang akan dijelaskan dalam beberapa sub bab yaitu proses upacara Saur matua sebelum masuknya agama Kristen ke tanah Batak.

(33)

BAB IV membahas mengenai perubahan yang terjadi dalam proses Upacara adat saur matua yang tertulis dalam peraturan yang dikeluarkan oleh gereja HKBP mengenai himbauan prosesi adat kematian yang mengandung unsur penyembahan dan bagaimana masyarakat tetap mempertahankan upacara adat di perkotaan.

BAB V Penutup. Bab ini memuat kesimpulan mengenai hal yang diperoleh dari pembahasan terhadap penelitian ini. Selain itu juga terdapat saran bagi penelitian diatas.

(34)

BAB II

KEDATANGAN ORANG BATAK KE JAKARTA

2.1 Letak Geografis Jakarta

Jakarta merupakan ibukota dari Negara Republik Indonesia yang terletak di bagian Barat Laut pulau Jawa, dengan luas daratan yaitu 661,52 km2 dan lautan 6,977,5 km2. Letaknya Jakarta ini berada pada dataran rendah yang memiliki ketinggian 8 meter diatas permukaan laut dan juga dilewati oleh 13 sungai dan 2 kanal yang bermuara ke Teluk Jakarta. Kota Jakarta berbatasan dengan Kabupaten Bogor di selatan, Depok dan Bekasi di timur dan Tangerang di Barat.18

Secara astronomis Jakarta terletak diantara 5°19′ 12″ – 6°23′ 54″ Lintang Selatan (LS) dan 106°22` 42″ – 106°58′ 18″ Bujur Timur (BT), sehingga hal tersebut membuat Jakarta masuk dalam kategori wilayah iklim tropis dengan dua musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Suhu udara Jakarta berada di angka 22°C - 34°C dan rata-rata satu tahun ada di angka 27°C. Sementara untuk curah hujan, Jakarta hanya akan basah di bulan Januari, sehingga wajar Jakarta terkenal dengan udara panasnya.19

18 https://jakarta.go.id/artikel/konten/55/geografis-jakarta (Diakses tanggal 22 Februari 2021 Pukul 20:36 WIB).

19 Edi Sedyawati, Supratikno Rahardjo, Irmawati Marwoto, G.A. Manilet, Sejarah Kota Jakarta (1950-1980), Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987. Hlm 20

(35)

Secara administrasi pada tahun 2001, Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah kotamadya dan 1 Kabupaten administrasi yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan kabupaten Kepulauan Seribu.20

2.2 Sejarah Jakarta

Sejak Indonesia menyatakan kemerdekaannya hingga saat ini, telah beberapa kali terjadi perpindahan Ibukota dari Jakarta ke Bukit Tinggi hingga Yogyakarta. Meski demikian, Jakarta masih menjadi pilihan pusat pemerintahan dan perekonomian Indonesia. Sebelum dikenal dengan sebutan Jakarta, kota ini sudah beberapa kali mengalami perubahan nama dari Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia. Catatan sejarah membuktikan bahwa penggunaan nama Jakarta telah popular sejak 1942 dengan nama Jakarta Tokubetsu Shi, ketika Jepang berhasil merampas Nusantara dari Belanda. Meski kekuasaan Jepang atas Indonesia sudah lenyap di tanggal 17 Agustus 1945 nama Jakarta tetap digunakan dengan menghilangkan kata Tokubetsu Shi.

Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian nasional dan Soekarno yang merupakan Presiden Indonesia saat itu memiliki visi Jakarta sebagai kota modern penunjang dua aspek tersebut. Berbagai pembangunan dirancang oleh Presiden Sukarno, mulai dari pembangunan Monumen Nasional, Hotel Indonesia, Patung Selamat Datang, pusat perbelanjaan Sarinah, Bypass dan jembatan Semanggi. Rancangan-rancangan pembangunan tersebut bersifat

20 http://statistik.jakarta.go.id/tabel/luas-wilayah-kabupaten-kota-dki-jakarta- km%C2%B2/ (Diakses tanggal 22 Februari 2021, Pukul 19:36 WIB)

(36)

monumental, sebab Soekarno suka dengan simbol-simbol agung yang menjadikan Jakarta sejajar dengan kota modern mana pun.

Resmi menjadi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jakarta langsung dihadapkan pada permasalahan tata ruang, kepemilikan tanah, dan minimnya angka melek huruf membuat penduduk Ibukota menjadi gelandangan.

Masalah tersebut terus menumpuk, semakin banyak para perantau yang datang ke Jakarta. Ramai perantau, membuat data penduduk Jakarta meningkat tajam. Pada tabel dibawah ini menjelaskan data statistik awal Kota Jakarta berpenduduk 1,4 juta orang di tahun 1945-1950, kemudian meningkat menjadi 1,8 juta warga pada tahun 1950-1955. Sensus penduduk tahun 1953 menunjukan bahwa mayoritas orang datang ke Jakarta karena alasan kemakmuran.21 Kenaikan tertinggi berada pada tahun 1961-1965, dengan data penduduk di angka 3,4 juta orang.22

Tabel 1 : Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta 1941-1950

Tahun Jumlah

Penduduk

Perkembangan per-tahun

Periode Presentase

petumbuhan per-tahun

1941 544,823 - -

1945 623,343 1941-1945 3,4

1950 1.432.085 1945-1950 18,1

1955 1.884.700 1950-1955 5,6

21 Susan Blackburn, 2011, Jakarta:Sejarah 400 Tahun, Jakarta : Masup Jakarta, 2011. Hlm 235.

22 Edi Sedyawati,Supratikno Rahardjo,Irmawati Marwoto, G.A. Manilet, Sejarah Kota Jakarta (1950-1980), Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987. Hlm 32

(37)

Tahun Jumlah Penduduk

Perkembangan per-tahun

Periode Presentase

petumbuhan per-tahun

1961 2.906.533 1955-1961 7,5

1065 3.462.945 1961-1965 4,5

1971 4.576.009 1965-1971 4,8

1976 5.701.469 1971-1976 4,5

1980 6.503.227 1976-1980 3,3

1941-50 11,3

1950-61 6,6

1961-71 4,6

1971-80 3,98

Sumber: Edi Sedyawati,Supratikno Rahardjo,Irmawati Marwoto, G.A. Manilet, Sejarah Kota Jakarta (1950-1980), Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1986/1987. Hlm 32

Proses pembangunan yang berlangsung di Jakarta tidak diimbangi dengan pembangunan atau perbaikan keadaan kehidupan di daerah pedesaan atau pembangunan di kota-kota kecil di luar Jakarta. Kesulitan kehidupan di daerah pedesaan membuat masyarakat di pedesaan berlomba-lomba pergi ke kota-kota besar. Ketidaksinambungan antara pembangunan dan perluasan fasilitas kota dengan jumlah penduduk yang terus meningkat melahirkan masyarakat gelandangan di kota-kota besar.

Semakin banyak manusia yang datang ke Jakarta untuk mencoba peruntungan ekonomi menjadikan naiknya angka migrasi lokal, akibatnya banyak orang membangun rumah di permukiman liar bahkan di kolong jembatan. Masalah

(38)

kekurangan tempat tinggal belum selesai, persoalan lain terus berdatangan seperti:

bencana kebakaran, pengelolaan sampah, jaringan listrik yang belum terjangkau ke seluruh wilayah, transportasi publik, pendidikan, lapangan pekerjaan dan ekonomi yang tidak stabil. Semua hal tersebut terjadi akibat melonjaknya pertumbuhan penduduk di Jakarta serta ketidakstabilan politik saat itu, pemerintah Kotapraja dengan segala program yang dirancang belum mampu mengatasi lonjakan penduduk serta kemiskinan warga.

Manfaat dari pembangunan di Jakarta tersebar secara tidak merata, di satu sisi tidak diragukan lagi bahwa kehidupan rata-rata warga Jakarta lebih baik daripada warga Indonesia lainnya tetapi di sisi lain kemiskinan meningkat. Terlihat jelas dari sejumlah peningkatan dalam kehidupan warga miskin selama masa Sadikin, pada periode 1970-1976 nilai rill pengeluaran 40% warga miskin dalam populasi meningkat 25%. Mereka yang berpenghasilan rendah masih menggunakan lebih dari setengah pendapatan mereka untuk makanan dan sisanya untuk keperluan lainnya. Sedangkan bagi warga kaya pada periode yang sama, awalnya pengeluaran 30% kemudian meningkat minimal 50%. Perbedaan ini terlihat jelas di Jakarta dengan dibangunnya gedung-gedung tinggi dan perumahan Real Estate di sekitar perkampungan warga yang sudah ada sejak lama, jurang pemisah antara kaya dan miskin sangat mudah ditemukan selama periode ini di Jakarta23.

Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta memiliki pengaruh besar dalam perubahan Jakarta, banyak pembangunan telah berhasil dibuat pada masa

23 Susan Blackburn, op.cit. Hlm. 318

(39)

pemerintahan Ali Sadikin seperti taman rekreasi, gedung kesenian terminal, bahkan pusat-pusat perbelanjaan dan rumah sakit. Kesuksesan Ali Sadikin dalam mengembangkan Jakarta justru menjadi timbal balik bagi pemerintahan DKI Jakarta. Kedinamisan dan efisiensi Sadikin menjadikan Jakarta sebagai pusat pemerintahan Ibu Kota Indonesia, kota ini semakin menarik investor dan imigran.

Atas dasar modernisasi Jakarta yang beliau laksanakan, kota Jakarta berkembang dan mengalami perubahan cepat mempermudah bagi periode kepemimpinan selanjutnya.

Masing-masing pemerintahan gubernur yang menjabat di Jakarta memang memiliki inovasi yang berbeda-beda, tetapi tujuannya memang untuk pembangunan dan kemajuan Jakarta. Pembangunan segala bentuk penunjang kesejahteraan masyarakat pada kepemimpinan Gubernur masa ke masa dibuat dengan sebaik mungkin, apalagi meningkatnya jumlah penduduk di Jakarta tidak dipungkiri juga masalah semakin bertambah.

2.2.1 Daya Tarik Kota Jakarta

Gemerlapnya kota Jakarta dengan kerlip lampu-lampu yang ada disekitar jalan-jalan Jakarta dan gedung-gedung tinggi membuat masyarakat luar daerah tertantang untuk datang Jakarta. Aktivitas di Jakarta bukan hanya dimulai pada siang hari tetapi juga pada malam hari, restoran-restoran, klub malam, tempat- tempat perjudian hingga tempat prostitusi. Hal lain yang menarik para perantau yaitu mudah terjangkau dan tersedianya segala fasilitas yang dibutuhkan di Jakarta, membuat para pendatang tertarik untuk datang dan menetap di Jakarta.

(40)

Daya Tarik Jakarta sebagai Ibukota banyak mengundang minat kaum perantau. Hal itu terjadi karena semakin berkembangnya pembangunan di banyak bidang maka akan bertambah pula perluasan kesempatan kerja. Perluasan kesempatan kerja inilah yang menjadi dorongan bagi mereka untuk meninggalkan tempat asalnya. Beberapa alasan selain pekerjaan yang sering dikemukakan oleh perantau yaitu kehidupan metropolitan perkotaan, melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan memperbaiki derajat perekonomian keluarga. Disamping itu ikatan kekeluargaan juga menjadi faktor kedatangan perantau, komunikasi yang terjalin dengan keluarga di daerah asal dan keberhasilan yang di dapat oleh seseorang maka ia akan menarik saudara sekampung untuk mengadu nasib.

Hubungan yang terjalin tersebut dengan harapan akan memperoleh pekerjaan yang sama kemudian akan menjadi alasan pendatang untuk ke Jakarta.

2.3 Kedatangan Orang Batak ke Jakarta

Suku Batak merupakan salah satu suku yang identik dengan budaya merantau, kegigihan dan keinginan yang besar dalam menggapai cita-cita menjadikan banyak orang Batak terutama anak muda banyak merantau ke daerah perkotaan. Gengsi yang tertanam pada diri orang Batak membuat mereka akan memilih tidak akan menginjak tanah kelahirannya jika belum sukses atau cita-citanya belum tercapai, karena bagi mereka jika sudah keluar dari tanah asal maka harus membawa hasil yang besar.

Pada umumnya orang Batak merantau pastinya memiliki keinginan yang ingin dicapai, yaitu untuk meraih kehidupan yang lebih baik dalam hal materi atau

(41)

jabatan. Penghasilan yang diperoleh di daerah asal sangatlah rendah dan lama untuk mendapatkannya, sebab mayoritas pekerjaan disana ialah petani sehingga harus menunggu hasil panen. Dorongan utama memperoleh penghasilan yang lebih baik dan menghindari kemiskinan inilah yang menjadi alasan orang Batak merantau ke Kota24.

Faktor pendidikan juga masih menjadi alasan kuat orang Batak melakukan aktivitas migrasi, berkelana untuk menimba ilmu di luar kota demi cita-cita yang mulia yaitu membanggakan orang tua di kampung halaman. Melanjutkan pendidikan di jenjang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan, menjadi alasan orang tua untuk menyekolahkan anaknya jauh ke kota-kota besar. Pendidikan anak merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam hidup orang tua Batak, sesulit apapun pendapatannya di kampung halaman mereka akan tetap berusaha agar anaknya bisa bersekolah dan sukses

Selain itu ada faktor lain yang menjadi tujuan orang Batak merantau, supaya mendapatkan banyak pengalaman yang tidak didapatkan di kampung dan dapat menjadi orang yang kuat juga tangguh dalam menjalani kehidupan. Maka tidak heran jika banyak orang Batak memiliki hati yang keras, karena sudah ditanamkan dari lahir oleh orang tua jika kita sudah berani meninggalkan rumah berarti kita juga harus bisa menerima dan bertanggung jawab dengan kehidupan di luar sana. Maka

24 Apriyana Dewi Silalahi, Buchori Asyik, I Gede Sugiyanta, 2013. Migrasi Suku Batak Toba Asal Tapanuli Utara (Sumatera Utara) tahun 1965-1975 Ke Kelurahan Bandarjaya Timur Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal Vol 1 no 3.

(42)

bisa dikatakan dari ketiga faktor migrasi tersebut merupakan penyebab tingginya tingkat persebaran orang Batak di berbagai pulau yang ada di Indonesia.

Kota yang mejadi pilihan merantaunya orang Batak keluar daerah asalnya yaitu kota Jakarta, orang Batak pertama yang menginjakkan kaki di Jakarta ialah Simon Hasibuan. Beliau adalah tamatan sekolah Seminari Huria Kristen Batak Protestan yang berada di Tarutung. Ia tiba pada tahun 1907 di Jakarta dan sejak saat itu migrasi orang Batak ke Jakarta sudah mulai berdatangan. Menurut catatan F Harahap dan M Nababan keberadaan orang Batak di Jakarta sejak tahun 1910-1917 sudah ada sekitar 30 orang dan semua beragama kristen25

Permulaan pertumbuhan migrasi orang Batak merantau ke Batavia yang dikenal sekarang Jakarta yaitu pada tahun 1917 F Harahap yang menjadi sponsor orang Batak datang ke Jakarta. Pengumuman yang diberitakan melalui surat kabar mingguan di Laguboti tertulis demikian, “jika ada anak dari bapak ibu yang ingin memberangkatkan anaknya untuk bekerja atau sekolah silahkan datang ke alamat saya ia menjadikan kediamannya yang ada di Sawah Besar untuk menampung orang Batak yang akan merantau ke Jakarta”26.

Gelombang kehadiran orang Batak dari kampung halaman sudah mulai berdatangan semenjak surat kabar tersebut disebarkan, keberadaan mereka di

25https://www.kompasiana.com/hotman.lagi/5cea9b9795760e6d4310b8b3/gerej a-hkbp-kernolong-jakarta-dalam-lintasan-sejarah-pergerakan-kemerdekaan-indonesia diakses tanggal 16 Maret 2021 Pukul 20:36 WIB.

26 https://tirto.id/diaspora-orang-batak-dan-lapo-di-jakarta-chuy diakses pada tanggal 4-maret-2020, pukul 20:30 WIB.

(43)

Jakarta saat itu mudah ditemui, orang batak biasa berkumpul di gereja atau Lapo27. Para pemuda batak pada saat itu berkumpul dan beribadah bersama harus pergi ke berbagai gereja yang tersebar bercampur dengan suku-suku lainnya, karena belum adanya gereja khusus orang Batak. Tahun 1919 akhirnya gereja pertama khusus jemaat Huria Kristen Batak Protestan pun didirikan yang berada di Jl Kwitang (Jakarta Pusat) yang diberi nama HKBP Kernolog, kebaktian pertama pun dalam Bahasa Batak karena ditujukan bagi para perantau yang ada di Jakarta. Seiring perkembangan zaman meningkatnya kedatangan orang Batak ke Jakarta maka HKBP kernolog sudah tidak mampu menampung jemaat dan sejak tahun 1955 digunakanlah tempat-tempat lain untuk beribadah28, bagaimanapun HKBP Kernolog ini merupakan tempat bersejarah bagi orang Batak yang merantau.

Gambar 2: Gereja Kernolog

Sumber: https://tribunjakartawiki.tribunnews.com/2020/12/29/sejarah-nama-jalan- kernolong-di-senen-jakpus-dan-kerukunan-antar-2-umat-beragama?page=4

27 Lapo adalah warung atau rumah makan khas orang Batak yang menyajikan makanan-makanan khas Suku Batak.

28 https://jakarta.go.id/artikel/konten/1760/hkbp-kernolong-gereja diakses pada tanggal 9-Maret-2021 pukul 14:30 WIB.

(44)

Pada tahun 1930 tabel dibawah ini menunjukan telah dilakukan sensus berdasarkan etnis, jumlah orang Batak di Jakarta berjumlah 1.300 kemudian pada tahun 1961 mengalami kenaikan menjadi 20.700 jiwa. Hal ini menujukan bahwa Jakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang paling banyak menerima migran dari berbagai suku bangsa salah satunya suku Batak. Seiring berjalannya waktu kenaikan perantau di Jakarta meningkat, paling besar pada tahun 1970-1990 yang menjadikan suku Batak suku ke tiga terbanyak di Jakarta29.

Tabel 2: Tabel sensus penduduk berdasarkan etnis tahun 1930 A

1930 Whole Indigenous Pop.

B

1961 Immigrant Indigenous Pop.

Batavians

(incl.Depokkers etc.) 419,800 64.3% 25,700 2,0%

Sundanese 150,300 24,5 593,400 46,6

Javanese 60,000 9.2 509,400 40.0

Atjehnese X 0.0 4,000 0.3

Batak 1,300 0,2 20,700 1.6

Minangkabau 3,200 0.5 42,800 3.4

South Sumatra groups 800 0.1 25,700 2.0

Bandjarese X 0.0 3,600 0.3

South Sulawesi groups X 0.0 12,900 1.0

North Sulawesi groups 3,800 0,6 13,000 1.0

Maluku and Irian

groups 2,000 0.3 7,300 0.6

East Nusatenggara

groups X 0.0 3,600 0.3

West Nusatenggara

groups X 0.0 1.000 0.1

Balinese X 0.0 1,400 0.1

Malays and other Outer

Island groups 5,300 0.8 10,700 0.8

29 Loc. cit,. https://tirto.id/diaspora-orang-batak-dan-lapo-di-jakarta-chuy

(45)

A

1930 Whole Indigenous Pop.

B

1961 Immigrant Indigenous Pop.

Other and unknown 6,900 1.1 - -

653,400 100.0 1,275,200 100,00 Sumber: Lance Castles. “The Ethnic Profile In Jakarta” 1967. Hlm 181

Tabel 3: Tabel kenaikan penduduk tahun 1961

Number Per Cent

Indigenous

Batavians (Djakarta Asli) 655,400 22.9

Sundanese 952,500 32.8

Javanese and Madurese 737,700 25.4

Atjehnese 5,200 0.2

Batak 28,900 1.0

Minangkabau 60,100 2.1

South Sumatra groups 34,900 1.2

Bandjarese 4,800 0.2

South Sulawesi groups 17,200 0.6

North Sulawesi groups 21,000 0.7

Maluku and Irian groups 11,800 0.4

East Nusatenggara groups 4,800 0.2

West Nusatenggara groups 1,300 0.0

Balinese 1,900 0.1

Malays and other Outer Island groups 19,800 0.7

Unknown 38,600 1.3

Non-indigenous

Chinese 294,000 10.1

of whom: foreign Chinese 102,200

Others 16,500 0.6

of whom: foreign 10,200 Total foreign 112,400

Total population 2,906,500 100.0

Sumber: Lance Castles. “The Ethnic Profile In Jakarta” 1967. Hlm 185.

Dari tabel diatas menunjukan bahwa kedatangan suku batak yang ingin hidup dan tinggal di Jakarta menunjukan bahwa kota ini memiliki potensi ekonomi yang baik. Alasan kuat para perantau ingin hidup di Jakarta yaitu tingkat

(46)

perkembangan kehidupan lebih baik dan dari segi pengetahuan mengalami peningkatan. Kedatangan para perantau ke Jakarta untuk melakukan perubahan bagi kehidupan mereka baik secara ekonomi, pendidikan atau mengenal dunia yang lebih luas. Sebanyak apapun persoalan yang ada di Jakarta, Kota ini sudah menjadi pilihan para perantau untuk tinggal dan memperbaiki kehidupannya.

2.4 Deskripsi Orang Batak Toba

Suku Batak Toba merupakan sub suku bangsa batak yang ada di Indonesia.

Suku Batak Toba meliputi Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, sebagian Kabupaten Dairi, Kabupaten Tapanuli Tengah dan sekitarnya. Banyak sumber yang mengatakan bahwa nenek moyang orang Batak berasal dari utara lalu berpindah ke wilayah Filipina dan berpindah lagi ke wilayah Sulawesi Selatan, lalu mereka berlayar hingga ke wilayah Barus. Dari sana mereka menyebar hingga ke pedalaman dan wilayah kaki gunung Pusuk Buhit yang berada di tepi Pulau Samosir, dari situlah disebut sebagai asal mula peradaban orang Batak30.

Sepanjang sejarah, suku Batak Toba terbagi ke dalam beberapa kerajaan yang berpusat di Bakara, Kerajaan yang dalam pemerintahan Sisingamangaraja membagi Kerajaan Batak dalam 4 wilayah yang disebut Raja Maropat, yaitu:

1. Raja Maropat Silindung 2. Raja Maropat Samosir

30 Simanjuntak Bungaran Antonius, Struktur Sosial dan Sistem Politk Batak Toba, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2006, hlm, 24.

(47)

3. Raja Maropat Humbang 4. Raja Maropat Toba

Menurut kepercayaan bangsa Batak induk marga Batak dimulai dari Si Raja Batak yang diyakini sebagi asal mula orang Batak. Si raja Batak mempunyai dua orang putra yakni Guru Tatea Bulan dan Si Raja Isumbaon, Guru Tatea Bulan mempunyai 5 orang putra yakni Raja Uti (Raja Biak-Biak), Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja. Sementara Si Raja Isombaon mempunyai 3 orang putra yakni Tuan Sorimangaraja, Si Raja Asiasi, dan Sangkar Somalindang.

Dari keturunan keduanyalah kemudian menyebar ke segala penjuru daerah di Tapanuli, baik ke utara maupun ke selatan sehingga muncullah berbagai macam marga Batak.

• Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan pada masyarakat Batak Toba dikenal dengan Dalihan Na Tolu ialah Tungku nan Tiga dimana sistem ini mengatur pola interaksi sosial didalam kehidupan masyarakat batak. Masyarakat Batak Toba akan selalu menggunakan unsur Dalihan Na Tolu ini dalam melaksanakan upacara adat apa pun termasuk dalam adat saur matua31. Ketiga unsur yaitu hula-hula, dongan tubu dan boru menjadi sangat penting bagi masyarakat Batak Toba, nama setiap kelompok juga mengisyaratkan fungsi sosial setiap kelompok.

1. Hula-hula ialah keluarga dari pihak perempuan (istri). Dimana di sini terdiri dari saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan ayah kita, saudara laki-laki

31 Bungaran Antonius Simanjuntak. Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba Hingga 1945, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2006. Hlm. 99

(48)

dari pihak perempuan, serta saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan ayah kakek kita yang merupakan hula-hula bagi keluarga yang mengambil si perempuan. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaukan dan adat istiadat Batak karena mereka yang memberikan pasu- pasu atau restu. Hula-hula ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:

o Hula-hula tangkas32 o Tulang33.

o Bona ni ari34. o Bonatulang35. o Tulang Rorobot36.

2. Dongan Tubu artinya saudara semarga, Jadi Dongan Tubu adalah teman satu marga, baik itu satu marga sedarah atau marga yang kita temui di tanah perantauan atau tempat ia tinggal. Didalam Batak Toba Dongan Tubu ini ialah orang yang memiliki perasaan yang sama dalam hal apapun memiliki

32 Hula-hula tangkas adalah keluarga dari pihak perempuan atau istri.

33 Tulang adalah paman atau saudara laki-laki dari ibu kita yang berarti ialah semarga dengan ibu kita.

34 Bona ni ari adalah moyang putri dari ayah/sapaan hormat kepada saudara laki- laki neneknya ayah.

35 Bona Tulang adalah paman dari keluarga orang tua ayah.

36 Tulang Rorobot adalah saudara laki-laki dari keluaga orang tua ibu.

(49)

rasa sepenanggungan sama seperti saudara kandung baik suka maupun duka.

3. Boru adalah pihak keluarga pengambil perempuan (istri). Fungsi boru dalam acara adat adalah sebagai pelayan atau Parhobas. Keberadaan boru haruslah selalu siap didekat hula-hula dengan tujuan agar mudah jika dimintai pertolongan saat acara adat sedang berlangsung. Tidak dipungkiri seorang boru bersifat manja, harus bisa diambil hatinya dan juga dibujuk, meski tugasnya sebagai pelayan tetapi tidak menjadikan boru mendapat perlakuan yang tidak pantas.

Dengan adanya sistem kekerabatan tersebut, maka muncullah berbagai kesatuan yang dalam bahasa Batak disebut Parsadaan Marga37, seperti marga Simatupang, Manullang, Sinaga, Siahaan, Siburian, Simbolon, Marbun dan marga lainnya.

Pembentukan Parsadaan marga ini mencirikan budaya Batak dan terbentuk atas dasar kesamaan marga, masyarakat Batak yakin dengan adanya punguan marga ini dapat membawa mereka pada sebuah wujud kepedulian pada nilai-nilai budaya yang selama ini dipertahankan. Dalihan Na Tolu ini mengajarkan bagaimana orang Batak harus dapat menempatkan diri dan berperan dalam bermasyarakat, kegiatan adat dan dalam kehidupan sehari-hari38.

• Sistem Kepercayaan

37 Parsadaan marga adalah perkumpulan kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal).

38 Nancy Lady Panjaitan, 2019. Pengaruh Nilai Adat Batak Dalihan Na Tolu Terhadap Prefensi Memilih Pasangan Calon Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Tapanuli Utara Di Kecamatan Tarutung Tahun 2018. Jurnal, Vol 8 No 02.

(50)

Sejak dari masa dikenalnya Siraja Batak sebagai nenek moyang suku Batak, orang batak sudah memiliki kepercayaan yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut dengan nama Debata Mulajadi Nabolon.39 Dalam kepercayaan paganisme orang batak, Debata Mulajadi Nabolon merupakan maha pencipta dan maha kuasa yang tidak berawal dan tidak berakhir tidak ada sesuatu yang tidak bermula dari padanya40.

Unsur-unsur agama Batak Kuno itu pada mulanya belum dinamakan sebagai sebuah agama tetapi setelah datangnya agama asing di tanah batak penyebutan agama Batak itu adalah agama Malim. Agama Malim adalah ajaran keagamaan yang merupakan bawaan atau utusan debata mulajadi nabolon, para pengikutnya disebut dengan parugamo Malim. Orang Batak mengenal tiga konsep, yaitu Tondi ialah jiwa atau roh seseorang yang sekaligus merupakan kekuatannya, Sahala ialah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang dan Begu ialah Tondi yang telah meninggal. Namun untuk saat ini orang Batak sudah menganut Agama Kristen, Katolik, Islam, Hindu ataupun Budha.

• Sistem Perkawinan

Perkawinan bagi masyarakat Batak Toba tidak hanya mengikat seorang laki- laki dan seorang perempuan saja, tetapi juga mengikat suatu keluarga besar yakni keluarga pihak laki-laki (paranak) dan pihak perempuan (parboru). Perkawinan dalam adat batak akan mengikat kedua belah pihak dalam suatu ikatan kekerabatan

39 Gultom, Ibrahim, 2010. Agama Malim di Tanah Batak, Jakarta: Bumi Aksara.

Hlm. 2

40 Ibid., hlm. 77.

Gambar

Gambar 1: Sijagaron
Tabel 1 : Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk DKI Jakarta 1941-1950
Gambar 2: Gereja Kernolog
Tabel 2: Tabel sensus penduduk berdasarkan etnis tahun 1930  A  1930 Whole Indigenous  Pop
+7

Referensi

Dokumen terkait