• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen skripsi (Halaman 15-48)

Pada bab ini diuraikan tentang metode penelitian yang terdiri dari rancangan penelitian, batasan penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional dan pengukuran variabel, populasi sampel, dan teknik pengambilan sampel, data dan metode pengumpulan data serta yang terakhir adalah teknik analisis data.

6

BAB II

TINJAUAN PUSAKA

3.1 Penelitian Terdahulu

Berikut ini beberapa penelitian terdahulu yang mengambil topik mengenai word of mouth, penelitian terdahulu ini akan menjadi acuan dan poin-poin penting pada penelitian ini. Berikut ini penjelasannya.

1. Desmond Lam, Alvin Lee, Dan Richard Mizerski (2009)

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh nilai budaya konsumen terhadap perilaku WOM nya, Penelitian ini dilakukan Oleh Desmond Lam, Alvin Lee, dan Richard Mizerski, penelitian ini merupakan exploratory research. Penelitian ini adalah penelitian pertama yang meneliti secara empiris mengenai pengaruh nilai budaya pada WOM.

Peneliti menggunakan 4 dimensi budaya Hofstede untuk melihat pengaruh nilai budaya pada perilaku WOM dalam interaksi social in group maupun out  group. Penelitian ini menggunakan survey untuk menilai penyebaran WOM, peneliti mensurvey pelajar yang terdaftar dalam program studi dan jurusan dengan tingkatan yang sama namun dari kota yang berbeda yaitu kota Singapura dan Perth, Australia.

Peneliti menggunakan teknik analisis least square, dengan variabel independen yaitu individualism, uncertainty avoidance, masculinity, power  distance, dan depedent variabelnya adalah in-group WOM dan out-Group WOM.

7

Peneliti menemukan bahwa keempat dimensi tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan pada WOM yang terikat dalam suatu grup. Meskipun peneliti tidak dapat menjelaskan mengenai penyebab sebenarnya mengenai adanya hubungan tersebut dikarenakan desain sampel yang digunakan. Mereka berpendapat bahwa pemasar harus memonitor nilai budaya dalam pasar mereka untuk mengantisipasi adanya diskusi in dan out group dan memilih strategi komunikasi dalam pemasaran merek di Negara lain.

Persamaan penelitian

1. Penelitian terdahulu dan penelitian ini sama-sama bertujuan untuk  mengetahui pengaruh nilai budaya terhadap perilaku word of mouth

2. Penelitian terdahulu dan penelitian ini sama-sama menggunakan independen variable yaitu individualism, uncertainty avoidance, masculinity, dan power distance.

Perbedaan penelitian

1. Penelitian terdahulu melakukan penelitian di singapura dan perth sedangkan penelitian ini dilakukan di Indonesia tepatnya di kota Surabaya. 2. Penelitian terdahulu menggunakan teknik analisis least square sedangkan

penelitian ini menggunakan regressi berganda.

3. Penelitian terdahulu menggunakan in group dan out group WOM sebagai variabel dependen, sedangkan penelitian ini menggunakan WOM sebagai variabel dependen.

8

2. Sandi Ng , Meredith Dan Tracey S. Dagger (2011)

Penelitian yang dilakukan oleh Sandi Ng, Meredith, dan Tracey ini bertujuan untuk meneliti pengaruh akan manfaat hubungan dalam aspek kualitas  jasa yaitu kualitas teknis dan fungsional yang kemudian mempengaruhi perilaku

WOM. Penelitian ini melaporkan hasil dari sebuah persamaan struktur model yang mempergunakan data dari 591 konsumen dari beberapa tingkat industri jasa yaitu agen travel, penata rambut, dokter keluarga, jasa percetakan foto, perbankan, petugas hama, bioskop, penerbangan, dan outlet makanan siap s aji.

Variabel yang digunakan yaitu confidence benefits, special treatment  benefits, social benefits sebagai variabel independennya, Dan variabel dependennya yaitu  functional quality, technical quality dan relationship quality dengan teknik analisis yang digunakan adalah AMOS.

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa confidence dan social benefits meningkatkan persepsi dari fungsional dan technical quality, special treatment  benefits akan mengurangi persepsi konsumen akan kualitas.

Persamaan penelitian

1. Penelitian terdahulu dan penelitian ini sama-sama melihat pengaruh terhadap perilaku WOM konsumen.

9

1. Penelitian terdahulu lebih menekankan pada adanya pengaruh hubungan dalam kualitas pelayanan jasa terhadap perilaku WOM, sedangkan penelitian ini menekankan pada pengaruh nilai budaya terhadap WOM

2. Penelitian terdahulu menggunakan AMOS sedangkan penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda.

2.2 Landasan Teori

Berikut ini akan dijelaskan menggenai dasar-dasar teori tentang word of mouth yaitu

2.2.1 Word Of Mouth

Word of Mouth dalam bahasa Indonesia disebut juga berita dari mulut ke mulut. Word of Mouth merujuk pada komunikasi lisan mengenai berbagai produk  dengan teman, keluarga, dan rekan sejawat. Word of Mouth merupakan salah satu cara menyebarkan desas-desus ( buzz) (Rosen, 2004:323).

Menurut Word of Mouth Marketing Association (WOMMA), word of  mouth merupakan usaha pemasaran yang memicu konsumen untuk  membicarakan, mempromosikan, merekomendasikan dan menjual produk atau merek kepada pelanggan serta calon konsumen lain.

Khasali dalam Sumarmi (2008) mendefenisikan word of mouth sebagai sesuatu hal yang dibicarakan banyak orang. Pembicaraan terjadi dikarenakan ada kontroversi yang membedakan dengan hal-hal yang biasa dan normal dilihat orang. Menurut Hutabarat (2008), beberapa hal yang umumnya dapat menimbulkan kontroversi antara lain:

10

1. Hal yang tabu (seks atau kebohongan) 2. Hal yang tidak biasa dilakukan

3. Hal yang sedikit di luar batas 4. Hal yang menggembirakan 5. Hal yang luar biasa

6. Pengungkapan rahasia

Sedangkan menurut Word of Mouth Marketing Association (WOMMA) dalam MIX terdapat dua kategori word of mouth yaitu:

1. Organic word of mouth

Terjadi ketika seorang konsumen merasa sangat puas dengan kinerja dari produk ataupun layanan sehingga berkeinginan untuk berbagi pengalaman dan informasi kepada teman-temannya. Ini menandakan petingnya kepuasan pelanggan (customer satisfication).

2.  Amplified word of mouth

Terjadi ketika pemasar merencanakan dan merancang suatu kampanye pemasraran yang ditujukan untuk mempercepat word of mouth baik pada komunitas yang telah ada maupun yang baru.

Menurut Rosen (2004:16) tiga alasan yang membuat word of mouth menjadi begitu penting:

11

Para calon konsumen hampir tidak dapat mendengar karena banyaknya kebisingan yang dilihatnya di berbagai media setiap hari. Mereka bingung sehingga untuk melindungi diri, mereka menyaring sebagian besar pesan yang berjejalan dari media massa. Sebenarnya mereka cenderung lebih mendengarkan apa yang dikatakan orang atau kelompok yang menjadi rujukan seperti teman-teman atau keluarga.

2) Keraguan ( skepticism)

Para calon konsumen umumnya bersikap skeptic ataupun meragukan kebenaran informasi yang diterimanya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kekecewaan yang dialami konsumen saat harapannya ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di saat mengkonsumsi produk. Dalam kondisi ini konsumen akan berpaling ke teman ataupun orang yang bisa dipercaya untuk mendapatkan produk  yang mampu memuaskan kebutuhannya.

3) Keterhubungan ( connectivity)

Kenyataan bahwa para konsumen selalu berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan yang lain, merek saling berkomentar mengenai produk yang dibeli ataupun bahkan bergosip mengenai persoalan lain. Dalam interaksi ini sering terjadi dialog tentang produk seperti pengalaman mereka menggunakan produk.

Word of Mouth belakangan mengalami perkembangan yang luar biasa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

12

1. Konsumen memiliki posisi yang semakin kuat dan semakin mudah dalam hal pencarian informasi dengan semakin banyaknya media yang dapat dipergunakan seperti internet dan telepon genggam

2. Konsumen juga semakin mudah mengutarakan opini atas produk baik  keluhan maupun rasa kecewa kepada masyarakat umum melalui berbagai media.

b. Keramaian media (cluttered media)

Ramainya kehadiran media cetak maupun elektronik menimbulkan dampak:

1. Pemasar semakin sulit menetukan media mana yang paling efektif.

2. Calon konsumen semakin sulit untuk menemukan sumber informasi yang relevan.

c. Tuntutan akuntabilitas perusahaan ( pressure to marketing accountability)

Semakin banyak perusahaan yang menagih pertanggungjawaban bagian pemasaran berkenaan alokasi dan efektivitas anggaran iklan seperti melalui pengukuran Return on Marketing Investment (ROMI ) (MIX).

Tiga tahapan word of mouth menurut perspektif strategi dan fungsi komunikasi pemasaran :

1) Word of Mouth membuat konsumen membicarakan produk/merek. 2) Word of Mouth membuat konsumen mempromosikan produk/merek. 3) Word of Mouth membuat konsumen menjual produk/merek.

13

Penyaluran word of mouth biasanya secara viral ataupun tradisional. Secara tradisional word of mouth dapat terjadi di rumah, sekolah, kampus, dan kafe. Secara viral dapat melalui saluran media berteknologi seperti internet dan telepon genggam. Dalam word of mouth, perbincangan membentuk saluran pribadi ( personal chanel) yang berarti si penerima pesan mengetahui jelas siapa yang menyampaikan informasi. Semakin menarik informasi yang diterima calon konsumen dari seorang atau kelompok rujuak maka akan semakin meningkat kecenderungan untuk mengadopsi produk.

2.2.2 Pengertian Budaya

Hofstede menurunkan konsep budaya dari program mental yang dibedakan dalam tiga tingkatan (Hofstede 1980: 15), yaitu: 1) tingkat universal, yaitu program mental yang dimiliki oleh seluruh manusia. Pada tingkatan ini program mental seluruhnya melekat pada diri manusia, 2) tingkat collective, yaitu program mental yang dimiliki oleh beberapa, tidak seluruh manusia. Pada tingkatan ini program mental khusus pada kelompok atau kategori dan dapat dipelajari. 3) tingkat individual, yaitu program mental yang unik yang dimiliki oleh hanya seorang, dua orang tidak akan memiliki program mental yang persis sama. Pada tingkatan ini program mental sebagian kecil melekat pada diri manusia, dan lainnya dapat dipelajari dari masyarakat, organisasi atau kelompok lain.

Dalam ilmu sosial, pada umumnya tidak dapat dilakukan pengukuran suatu konstruk secara langsung, sehingga paling tidak harus digunakan 2 pengukuran yang berbeda. Program mental ini oleh Hofstede dijelaskan dengan dua konstruk yaitu value (nilai) dan culture (budaya). Nilai didefinisikan sebagai

14

suatu tendensi yang luas untuk menunjukkan state of affairs tertentu atas lainnya, yang pengukurannya menggunakan belief, attitudes, dan  personality. Sedangkan culture didefinisikan oleh Hofstede (1991: 4) sebagai program mental yang berpola pikiran (thinking), perasaan ( feeling), dan tindakan (action) atau disebut dengan “software of the mind ”. Pemrograman ini dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian dilanjutkan dengan lingkungan tetangga, sekolah, kelompok  remaja, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakat. Dengan demikian kebudayaan adalah suatu sistem nilai yang dianut oleh suatu lingkungan, baik  lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, sampai pada lingkungan masyarakat luas.

Pemrograman mental atau budaya ini dikembangkan melalui suatu sistem nilai yang berkembang dalam masyarakat, kemudian sistem nilai ini akan menjadi norma-norma sosial yang mempengaruhi perilaku sosial.

2.2.3 Tingkatan Budaya

Dengan mengacu pada tingkatan program mental tersebutHofstede menurunkan budaya dari tingkatan yang kedua ( collective) sehingga budaya adalah sesuatu yang dapat dipelajari bukan merupakan suatu gen tetapi diturunkan dari lingkungan sosial, organisasi ataupun kelompok lain. Budaya ini dibedakan antara sifat manusia dan dari kepribadian individu. Sifat manusia adalah segala yang dimiliki oleh manusia misalnya sifat cinta, sedih, sifat membutuhkan orang lain, dan sebagainya, ekspresi sifat ini dipengaruhi oleh budaya yang dianut pada masyarakat tersebut. Sedangkan kepribadian ( personality) seorang individu adalah

15

seperangkat program mental personal yang unik yang tidak dapat dibagikan dengan orang lain.

2.2.4 Dimensi Budaya

Seperti yang dinyatakan oleh Hofstede (1991) bahwa budaya adalah daerah program mental yang mempengaruhi cara berfikir dan perilaku manusia, secara kolektif program mental sekelompok orang dalam suatu negara disebut dengan kebudayaan nasional.

Beberapa teori yang mendasari penemuan dimensi budaya Hofstede, antara lain Kluckhon’s (1952) menjelaskan tentang dimensi budaya dalam 10 “Primary Message Systems” yaitu: interaction, association (with others), subsistence, isexuality, teritorality, temporality, learning, play, defense , dan exploitation. Sedangkan Parsons dan Shils (1951) mengklasifikasikan multimensional dalam “General Theory of Action”. Parsons dan Shils menyatakan bahwa seluruh tindakan manusia ditentukan oleh lima variabel, yaitu:

1.  Affectivity versus affectivity neutrality

2. Self-orientation versus Collectivity-orientation 3. Universalism versus particularism

4.  Ascription versus achievement   5. Specificity versus Diffuseness.

Kluckhohn dan Strodbeck (1961) berdasarkan hasil penelitiannya menemukan bahwa masyarakat dibedakan dalam orientasi nilai sebagai berikut: 1. Suatu evaluasi sifat manusia

16

3. Orientasi pada aktivitas 4. Hubungan antar manusia

Berdasarkan analisis faktor, Hofstede (1980) secara empiris menemukan ada empat dimensi program mental, yaitu:

a) Perbedaan kekuasaan ( power distance), merupakan dimensi budaya yang menunjukkan adanya ketidak sejajaran ( inequality) bagi anggota yang tidak  mempunyai kekuatan dalam suatu institusi (keluarga, sekolah, dan masyarakat) atau organisasi (tempat bekerja). Perbedaan kekuasaan ini berbeda-beda tergantung dari tingkatan sosial, tingkat pendidikan, dan jabatan. Misalnya politisi dapat menyukai status dan kekuasaan, pebisnis menyukai kesejahteraan dan kekuasaan, dan sebagainya. Ketidak sejajaran ini dapat terjadi dalam masyarakat (perbedaan dalam karakteristik mental dan phisik, status sosial, kesejahteraan, kekuasaan, aturan, hukum, dan hak), keluarga, sekolah, dan ditempat kerja/organisasi (nampak pada struktur organisasi dan hubungan antara boss-subordinate).

2.2.5 Norma Perbedaan Kekuasaan

Norma perbedaan kekuasaan berikatan dengan tingkat ketidak sejajaran yang diinginkan atau tidak diinginkan, tingkat ketergantungan dan kesaling tergantungan dalam masyarakat. Nilai tentang ketidak sejajaran ini melekat pada nilai tentang kekuasaan yang dipraktekkan dalam masyarakat. Perbedaan nilai yang dianut menyebabkan perbedaan dalam mengartikan sesuatu yang ada. French dan Raven (1959) mengklasifikasikan dasar kekuatan sosial dalam 5 tipe, yaitu: reward power, coercive power, legitimate power  (didasarkan pada

17

aturan/hukum), referent power  (didasarkan pada kharisma seseorang) dan expert   power . Adanya perbedaan kekuasaan ini mempunyai konsekuensi pada sistem

politik, kehidupan beragama, ideologi, dan pada organisasi.

Ukuran-ukuran yang digunakan oleh Hosftede dalam mengukur tingkat perbedaan kekuasaan adalah:

1) Luasnya geografis (makin luas makin rendah tingkat perbedaan kekuasaan)

2) Besarnya populasi (makin besar makin tinggi tingkat perbedaan kekuasaan).

3) Kesejahteraan (makin sejahtera makin rendah tingkat perbedaan kekuasaan). Tingkat kesejahteraan yang tinggi diwakili dengan ukuran-ukuran: kurangnya pertanian tradisional, tehnologi lebih modern, lebih banyak kehidupan urban, mobilitas sosial lebih banyak, sistem pendidikan lebih baik, dan lebih banyak masyarakat tingkat menengah.

b) Pengelakan terhadap ketidak pastian ( uncertainty avoidance), merupakan dimensi budaya yang menunjukkan sifat masyarakat dalam menghadapi lingkungan budaya yang tidak terstruktur, tidak jelas, dan tidak dapat diramalkan. Masyarakat dapat melakukan pengelakan terhadap ketidak pastian ini dengan tehnologi, hukum, dan agama. Tehnologi digunakan untuk  membantu dalam mempertahankan diri dari ketidak pastian yang disebabkan oleh sifat alam, hukum digunakan untuk membantu dalam mempertahankan diri dari ketidak pastian atas perilaku orang lain, sedangkan agama digunakan untuk menerima ketidak pastian yang tidak dapat dipertahankan oleh diri

18

manusia sendiri. Ketidak pastian dalam suatu organisasi berkaitan dengan konsep dari lingkungan yang selalu dikaitkan dengan sesuatu yang diluar kendali perusahaan. Teori-teori yang berkaitan dengan ketidak pastian yang sering digunakan dalam organisasi adalah: 1) Teori pengambilan keputusan dalam kondisi tidak pasti, 2) Teori kontijensi, 3) Teori perilaku strategis. Dalam organisasi pengelakan ketidak pastian ini dilakukan dengan tehnologi, aturan, dan tatacara (ritual). Tehnologi digunakan untuk menciptakan prediksi  jangka pendek sebagai pencapaian hasil. Sedangkan aturan dan tatacara digunakan untuk mengurangi ketidak pastian akibat tidak dapat diprediksinya perilaku dari anggota organisasi.

c) Individualitas vs kolektivitas merupakan dimensi kebudayaan yang menunjukkan adanya sikap yang memandang kepentingan pribadi dan keluarga sebagai kepentingan utama ataukah sebagai kepentingan bersama di dalam suatu kelompok. Dimensi ini juga dapat terjadi di masyarakat, dan organisasi. Dalam organisasi yang masyarakatnya mempunyai dimensi Collectivism memerlukan ketergantungan emosional yang lebih besar dibandingkan dengan masyarakat yang memiliki dimensi  Individualism (Hofstede: 1980 217). Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat individualisme diantaranya adalah: tingkat pendidikan, sejarah organisasi, besarnya organisasi, tehnologi yang digunakan dalam organisasi, dan subkultur yang dianut oleh organisasi yang bersangkutan.

d) Maskulinitas vs femininitas, merupakan dimensi kebudayaan yang menunjukkan bahwa dalam tiap masyarakat terdapat peran yang berbeda-beda

19

tergantung perbedaan jenis para anggotanya. Pada masyarakat maskulin, menganggap pria harus lebih berambisi, suka bersaing, dan berani menyatakan pendapatnya, dan cenderung berusaha mencapai keberhasilan material. Dalam masyarakat feminin, kaum pria diharapkan untuk lebih memperhatikan kualitas kehidupan dibandingkan dengan keberhasilan materalitas. Lebih jauh dijelaskan bahwa masyarakat dari sudut pandang maskulinitas adalah masyarakat yang lebih menggambarkan sifat kelaki-lakian, sedangkan masyarakat femininitas lebih menggambarkan sifat kewanitaan. Jadi sudut pandangnya bukan dari sudut jenis kelamin.

2.2.6 Individualism/Collectivisim

Dimensi ini berhubungan dengan hubungan antara individu dan kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya. Masyarakat yang mempunyai budaya dengan tingkat individualism yang tinggi akan memberikan kebebasan personal dan otonomi kepada kepentingan individu. Sebaliknya masyarakat yang mempunyai budaya dengan tingkat collectivism yang tinggi, individu yang berada dalam suatu kelompok akan mementingkan kepentingan kelompok dan akan saling memperhatikan satu individu terhadap individu lainnya. System evaluasi yang dirancang dalam suatu organisasi akan memperhatikan budaya yang mempengaruhi kehidupan organisasi tersebut. Bagi organisasi dengan tingkat individualism tinggi, evaluasi akan dirancang berdasarkan pada perilaku dan pencapaian setiap individu. Sedangkan untuk organisasi yang mempunyai tingkat collectivism yang tinggi evaluasi didasarkan pada pencapaian tujuan kelompok.

20

2.2.7 Masculinity/Femininity

Dimensi ini menunjukkan suatu nilai-nilai yang dominan dalam suatu kelompok  yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam masyarakat yang maskulin, nilai yang dominan adalah untuk  show off, perform, achieve, dan make money. Sebaliknya dalam masyarakat feminim, nilai yang dominan adalah berorientasi pada manusia, kualitas kehidupan dan lingkungan. Bagi suatu organisasi yang mempunyai budaya maskulin mempunyai sistem reward yang didasarkan pada pengakuan individu dan promosi, bonus, dan sebagainya. Sedangkan suatu organisasi yang mempunyai budaya feminim sistem reward akan didasarkan pada system kerja sama, keamanan, dan rasa memiliki.

2.2.8 Uncertainty Avoidance

Uncertainty Avoidance berhubungan dengan kenyataan menghadapi suatu ketidak  pastian di masa yang akan datang dan bagaimana tingkat reaksi menghadapinya. Hofstede menggunakan tingkat stress untuk mengukur tingkat Uncertainty  Avoidance. Sistem monitoring digunakan untuk memonitor suatu proses dari

organisasi. Bagi suatu organisasi yang mempunyai budaya melakukan pengelakan ketidak pastian dengan tingkat rendah, maka cenderung untuk menggunakan sistem monitoring yang relatif simpel (misalnya menggunakan sistem penganggaran yang sedikit). Sedangkan organisasi yang mempunyai budaya pengelakan ketidak pastian yang tinggi maka akan mempunyai sistem monitoring yang komplek dan dilakukan dengan teliti.

21

2.2.9 Power Distance dan Struktur Hirarki

Power Distance berhubungan dengan bagaimana masyarakat menerima kenyataan bahwa kekuasaan pada suatu institusi dan organisasi didistribusikan secara tidak  sama. Hirarki menunjukkan bagaimana organisasi mendistribusikan kekuasaan diantara anggotanya. Dengan demikian  power distance yang tinggi, kekuasaan didistribusikan secara sangat tidak sama. Dengan kelompok yang berkuasa pada tingkat paling atas, maka pengambilan keputusan akan dilakukan secara sentralisasi dan menunjukkan adanya gaya kepemimpinan yang otokratik. Sebaliknya dengan  power distance yang rendah, maka hirarki sosial akan cenderung dilakukan dalam suatu gaya kepemimpinan yang konsultatif, dimana supervisi maupun bawahan bertindak interdependen.

2.3 Kerangka pemikiran

Komunikasi word of mouth adalah variable yang tidak dapat secara langsung diamati, kita tidak mudah untuk mengukurnya dengan metode statistik  tradisional atau studi hubungan mereka. Oleh karena itu peneliti menerapkan model persamaan struktural, memilih beberapa variabel dan membangun sebuah model hubungan antara variabel.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Individualism

Masculinit

Uncertainty Avoidance

Word Of Mouth (WOM)

22

Sumber : Desmond Lam, Alvin Lee, and Richard Mizerski (2010)

2.4 Hipotesis Penelitian

H1 : Semakin tinggi nilai individualism konsumen dibandingkan kolektivisme, semakin besar kemungkinan ia untuk terlibat di WOM 

H2 : Semakin tinggi nilai maskulinitas konsumen dibandingkan feminitas, semakin besar kemungkinan ia untuk terlibat di WOM 

H3 : Semakin tinggi nilai penghindaran ketidak pastian konsumen dibandingkan penganut ketidak kepastian, semakin besar kemungkinan ia untuk terlibat di WOM 

H4 : Semakin tinggi nilai jarak kekuasaan konsumen dibandingkan jarak  kekuasaan yang rendah, semakin besar kemungkinan ia untuk terlibat di WOM 

23

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh nilai budaya terhadap perilaku word of mouth di STIE Perbanas Surabaya dengan rancangan penelitian sebagai berikut:

a. Dilihat dari aspek pengumpulan datanya,data diambil dengan menggunakan rancangan Cross-Sectional, yaitu satu jenis rancangan riset yang terdiri dari pengumpulan informasi mengenai sampel yang telah ditentukan dari elemen populasi hanya satu kali, menggunakan data primer.

b. Dilihat dari tujuan, rancangan penelitian ini adalah studi kausal, sebab tujuan penelitian berusaha menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam bentuk  pengaruh antar variabel melalui pengujian hipotesis.

3.2 Batasan Penelitian

Peneliti menetapkan batasan penelitian pada dua bagian untuk  menghindari kesimpangsiuran dalam membahas dan menganalisis permasalahan. Batasan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Menyadari keterbatasan dana, waktu dan data yang tersedia maka subyek  dalam penelitian ini adalah pegawai tetap di STIE Perbanas Surabaya.

2. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbagi ke dalam dua bagian yaitu :

24

a. variabel independennya (bebas) adalah individualism, uncertainty avoidance, masculinity, power distance,

b. variabel dependennya (terikat) adalah Word Of mouth

3.3 Identifikasi Variabel

Penelitian ini terdapat dua variabel yaitu: variabel bebas yang terdiri dari:  Individualism, masculinity, uncertainty avoidance, power distance. Serta variabel

terikat yaitu: WOM 

3.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Berikut ini akan diuraikan definisi operasional serta pengukuran dari masing-masing variabel:

3.4.1 Definisi Operasional

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan dikelompokkan dalam dua variabel, yaitu: variabel terikat dan variabel bebas dengan penjelasan sebagai berikut:

Variabel Bebas

 Individualism (IDV), yaitu: Menurut (Professor H. Michael Boyd, Ph.D., Global Human Resource Management) adalah di satu sisi versus kolektivisme yang berlawanan,, yaitu tingkat dimana individu diintegrasikan ke dalam kelompok. Di sisi individualis kita menemukan masyarakat di mana hubungan antara individu yang longgar: semua orang diharapkan untuk mengurus dirinya sendiri dan

Dalam dokumen skripsi (Halaman 15-48)

Dokumen terkait