Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian hibah BOPTN tahun 2013 yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS yang berjudul “Ketahanan Pangan dan Gizi serta Coping Mechanism pada Masyarakat Tradisional Kasepuhan Ciptagelar di Jawa Barat”. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional study. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan interview mendalam pada sejumlah responden dan beberapa tokoh adat, serta
Akses Fisik Pangan: Kondisi jalan Akses pasar/warung Kepemilikan transportasi Akses transportasi
Aspek Sosial Budaya Pangan:
Cara memperoleh pangan Cara pengolahan dan
penyiapan pangan Ideologi/ nilai pangan Tabu makanan Kebiasaan Makan Rumah
tangga:
Frekuensi pangan Preferensi pangan
Prioritas pemberian pangan
Konsumsi Pangan Rumah Tangga
Densitas energi dan zat gizi pangan
Karakteristik sosial ekonomi : Umur suami dan istri Besar keluarga
Pekerjaan & pendapatan rumah tangga
Jumlah padi dalam lumbung padi
Tingkat Kecukupan Gizi Rumah tangga Densitas Asupan Zat
11 observasi langsung terkait aspek sosial ekonomi, budaya pangan dan gizi, serta pola konsumsi pangan masyarakat selama satu periode waktu tertentu.
Penelitian ini dilaksanakan pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada bulan Juli 2013 hingga Januari 2014. Pemilihan lokasi penelitian tersebut dilakukan dengan pertimbangan bahwa masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tergolong masyarakat terasing yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Selain itu, meskipun dinilai memiliki karakteristik sosial budaya yang menarik, pengetahuan terkait aspek sosial ekonomi serta budaya pangan dan gizi pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar masih belum banyak digali oleh masyarakat luas.
Teknik Penarikan Contoh
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang ada di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Adapun responden dalam penelitian ini meliputi suami, istri, dan beberapa tokoh adat setempat. Informasi atau data yang diperoleh dari para tokoh adat digunakan sebagai data kualitatif yang selanjutnya digunakan sebagai penunjang data kuantitatif. Berdasarkan survei awal yang dilakukan, total populasi di Kasepuhan Ciptagelar pada tahun 2013 adalah sebanyak 108 rumah tangga atau kepala keluarga (KK). Ukuran minimal contoh dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus berikut (Krejcie & Morgan 1970):
n = Z2α/2 .N.p.(1-p) = (1.96)2 x 108 x 0.093 (1-0.093) d2(N-1) + Z2α/2 .p(1-p) [(0.05)2 x107] + [(1.96)2 x 0.093.(1-0.093)]
= 59
Keterangan :
n = ukuran contoh penelitian yang akan dipilih
N = total populasi di lokasi penelitian yaitu 108 rumah tangga
Z α/2 = nilai peubah acak normal baku pada derajat kepercayaan p (z>z α/2) = α/2 p = proporsi rumah tangga rawan pangan di Jawa Barat (9.3%) (DKP 2009,
RAN PG 2011-2015)
d = limit error atau presisi absolut (5%)
Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus di atas, ukuran minimal contoh yang digunakan adalah 59 rumah tangga. Selanjutnya dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya contoh yang drop-out selama penelitian berlangsung, khususnya pada saat dilakukan recall 2 x 24 jam, total contoh yang akan dipilih ditambah dengan 10% dari jumlah ukuran minimal contoh, sehingga total contoh pada penelitian ini adalah sebesar 65 rumah tangga.
Penarikan contoh selanjutnya dilakukan dengan sistem pengacakan sederhana tanpa pemulihan (simple random sampling without recovery). Proses pengacakan dimulai dengan cara meminta data nama-nama kepala keluarga terlebih dahulu kepada kepala desa setempat. Kepala keluarga (KK) yang akan diambil sebagai contoh dalam penelitian ini adalah KK atau rumah tangga yang tinggal di pemukiman sekitar kediaman ketua adat Kasepuhan Ciptagelar, yang hanya meliputi satu rukun warga (RW). Hal ini dikarenakan KK yang tinggal berjauhan dengan kediaman ketua adat sulit dijangkau karena kondisi jalan yang
12
kurang memungkinkan serta akses yang sangat terbatas. Selanjutnya kepada setiap KK atau rumah tangga yang terpilih, diberikan nomor atau identitas tertentu untuk mempermudah proses pengacakan. Proses pengacakan dilakukan dengan menggunakan fungsi random pada program Microsoft Excel 2007. Gambar 2 di bawah ini menunjukkan alur penarikan contoh pada penelitian ini.
Purposive sampling
Simple random sampling without recovery
Gambar 2 Alur penarikan contoh pada rumah tangga di Kasepuhan Ciptagelar Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Jenis Data yang dikumpulkan
Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder, yang meliputi:
Data primer:
1. Data mengenai karakteristik sosial ekonomi rumah tangga meliputi umur, pendidikan, pekerjaan suami dan isteri, besar keluarga, dan pendapatan rumah tangga (/kap/bulan).
2. Data mengenai ketersediaan pangan rumah tangga meliputi jumlah kepemilikan lumbung padi dan jumlah padi dalam lumbung padi.
3. Data mengenai akses fisik pangan meliputi kondisi jalan, akses pasar/warung, kepemilikan serta akses transportasi.
4. Data mengenai kebiasaan makan rumah tangga meliputi: frekuensi pangan, preferensi pangan, serta prioritas pangan.
5. Data mengenai sosial budaya pangan meliputi cara memperoleh pangan, cara pengolahan dan penyiapan pangan, nilai/ideologi pangan, serta pantangan pangan (foods taboo)
6. Data mengenai konsumsi pangan meliputi recall 24 hours dan food frequency questionnaire (FFQ)
7. Data kualitatif mengenai aspek sosial ekonomi, budaya pangan dan gizi, serta pola konsumsi pangan masyakarat
Data sekunder:
1. Data mengenai demografi desa, pertanian, dan aspek ekologi meliputi curah hujan, altitude, kepemilikan lahan, serta penggunaan lahan.
Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, Kab. Sukabumi (n=108 KK)
Rumah tangga yang tinggal di pemukiman sekitar kediaman Ketua adat
(n=83 KK)
Rumah tangga sebagai contoh penelitian (n= 65 KK)
13 Cara Pengumpulan Data dan Instrumen yang Digunakan
Terdapat dua cara pengumpulan data yang dilakukan, yaitu pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara dan diskusi dengan responden serta observasi langsung di lokasi penelitian. Responden untuk data primer meliputi istri, suami, serta tokoh masyarakat setempat yaitu kepala desa, dukun, tokoh agama, tokoh adat, ketua pemuda, dan tokoh lain yang sering berinteraksi dengan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran pada pemerintahan desa, kecamatan dan kabupaten, serta Badan Pusat Statistik di tingkat kabupaten.
Instrumen penelitian yang dikembangkan berupa kuesioner untuk data primer serta daftar isian untuk data sekunder. Adapun jenis data serta cara pengumpulannya secara rinci disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Jenis data dan cara pengumpulannya
Jenis data Cara pengumpulan data
A. Data primer
1.Karakteristik sosial ekonomi rumah tangga: Umur (suami dan isteri)
Pendidikan (suami dan isteri) Besar keluarga
Pekerjaan (suami dan isteri) Pendapatan rumah tangga
Wawancara menggunakan kuesioner
(Responden: suami dan isteri)
2. Ketersediaan pangan rumah tangga: Jumlah kepemilikan lumbung padi Jumlah padi dalam lumbung padi
Wawancara menggunakan kuesioner
(Responden: suami dan isteri) 2. Akses fisik pangan:
Kondisi jalan Akses pasar/warung
Kepemilikan dan akses transportasi
Wawancara menggunakan kuesioner dan diskusi
(Responden: suami dan isteri, kepala desa, tokoh adat) 3. Kebiasaan makan rumah tangga:
Frekuensi makan Preferensi pangan Prioritas pangan
Wawancara menggunakan kuesioner
(Responden: suami dan isteri) 4. Sosial budaya pangan:
Cara memperoleh pangan
Cara pengolahan dan penyiapan pangan Nilai/ideologi pangan
Tabu makanan
Wawancara menggunakan kuesioner dan diskusi
(Responden: suami dan isteri, kepala desa, tokoh agama, ketua pkk tokoh adat)
5. Konsumsi pangan: Recall 24 hours
Food frequency questionnaire(FFQ)
Wawancara menggunakan kuesioner
(Responden: isteri)
B. Data sekunder
1. Demografi dan pertanian
Dikumpulkan dari data resmi pemerintah yang sudah tersedia (sumber: kantor statistik dan kantor kecamatan setempat)
14
Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan Data
Proses pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini meliputi editing, coding, entry, cleaning, dan analisis. Coding dilakukan dengan cara menyusun code book sebagai panduan entri dan pengolahan data. Kemudian dilakukan entri data berdasarkan kode yang telah dibuat, dan selanjutnya dilakukan cleaning data untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam memasukkan data. Selanjutnya data diolah serta dianalisis secara deskriptif dan inferensia dengan menggunakan program Microsoft Excell 2007 dan program SPSS 16.0 for Windows.
Data mengenai karakteristik sosial ekonomi rumah tangga, ketersediaan pangan rumah tangga, akses fisik, serta sosial budaya gizi ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Data mengenai frekuensi pangan yang digunakan untuk menganalisis kebiasaan pangan dan mengukur konsumsi pangan secara kualitatif ditentukan menggunakan food frequency quesioner (FFQ).
Data konsumsi rumah tangga secara kuantitatif dihitung menggunakan metode recall, yaitu dengan menghitung jumlah dan jenis pangan aktual yang dikonsumsi oleh rumah tangga selama 2 x 24 jam. Data konsumsi pangan yang diperoleh kemudian dikonversikan ke dalam bentuk energi, protein, kalsium (Ca), zat besi (Fe), vitamin A, dan vitamin C menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (2007). Konversi zat gizi dihitung menggunakan rumus berikut:
Kgij = [(Bj/100) x Gij x (BDDj/100)] Keterangan :
Kgij = Kandungan zat gizi-i dalam bahan makanan-j yang dikonsumsi (g) Bj = Berat bahan makanan-j yang dikonsumsi (g)
Gij = Kandungan zat gizi dalam 100 gram BDD bahan makanan-j BDDj = Persen bahan makanan-j yang dapat dimakan (% BDD)
Perhitungan kecukupan energi dan protein rumah tangga pada penelitian ini didasarkan pada Institute of Medicine (IOM) tahun 2005. Kecukupan energi masing-masing kelompok umur dan jenis kelamin yang berbeda dihitung menggunakan rumus berikut:
Tabel 2 Model persamaan estimasi kecukupan energi berdasarkan kelompok umur
Model persamaan Kecukupan
Energi (Kal) Anak 0-9 tahun
Anak 0-2 tahun:
0-3 bulan: TEE = [89 x BB (kg) – 100] + 175 Kal 4-6 bulan: TEE = [89 x BB (kg) – 100] + 56 Kal 7-12 bulan: TEE = [89 x BB (kg) – 100] + 22 Kal 13-35 bulan: TEE = [89 x BB (kg) – 100] + 20 Kal
TEE + 0.05TEE
Anak Laki laki 3-9 tahun:
TEE = [88.5 – (61.9xU) + PA x (26.7xBB+903xTB)] + 20 Kal Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.26 (aktif) PA = 1.13 (ringan) PA = 1.42 (sangat aktif)
TEE + 0.1TEE
Anak Perempuan 3-9 tahun:
TEE = [135.3 – (30.8xU) + PA x (10xBB+934xTB)] + 20 Kal
15 Tabel 2 (Lanjutan)
Model persamaan Kecukupan
Energi (Kal)
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.31 (aktif) PA = 1.16 (ringan) PA = 1.56 (sangat aktif)
Remaja 10-18 tahun
Laki laki 10-18 tahun dengan status gizi normal:
TEE = [88.5 – (61.9xU) + PA x (26.7xBB+ 903xTB)]+ 25 Kal Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.13 (ringan) PA = 1.26 (aktif) PA = 1.42 (sangat aktif)
TEE + 0.1TEE
Perempuan 10-18 tahun dengan status gizi normal:
TEE = [135.3 – (30.8xU) + PA x (10xBB + 934xTB)]+ 25 Kal Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.31 (aktif) PA = 1.16 (ringan) PA = 1.56 (sangat aktif)
TEE + 0.1TEE
Dewasa 19-64 tahun
Laki laki 19-64 dengan status gizi normal:
TEE = 662 – (9.53xU) + PA x (15.91xBB+ 539.6xTB) Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.25 (aktif) PA = 1.11 (ringan) PA = 1.48 (sangat aktif)
TEE + 0.1TEE
Perempuan 19-64 tahun dengan status gizi normal: TEE = 354 – (6.91xU) + PA x (9.36xBB+726xTB)
Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.27 (aktif) PA = 1.12 (ringan) PA = 1.45 (sangat aktif) Tambahan bagi perempuan hamil (BB normal):
Trimester 1 = + 0 kkal Trimester 2 = + 340 kkal Trimester 3 = + 450 kkal
Tambahan bagi perempuan menyusui: 6 bulan pertama = 500 kkal - 700 kkal 6 bulan kedua = 400 kkal – 0 kkal
TEE + 0.1TEE
Usia lanjut (≥ 65 tahun) Laki laki usia lanjut
EB = (11.4xBB) + (541xTB) – 256 Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.11 (ringan) PA = 1.25 (aktif)
(EB x PA)+(0.1xTEE)
Perempuan usia lanjut
EB = (8.52xBB) + (421xTB) +10.7 Keterangan :
PA = 1.0 (sangat ringan) PA = 1.12 (ringan) PA = 1.27 (aktif)
(EB x PA)+(0.1xTEE)
Sumber : IOM (2005) Keterangan :
U= Umur (tahun), BB = Berat badan (kg), TB = Tinggi badan (m) TEE = Total Energy Expenditure - total pengeluaran energi, (Kal) EB = Energi Basal
PA = koefisien aktivitas fisik
Kecukupan protein dihitung berdasarkan angka kecukupan protein dalam LIPI (2013) dan IOM (2005). Perhitungan kecukupan protein disesuaikan dengan
16
berat badan masing-masing individu serta dikoreksi dengan faktor koreksi mutu protein, sebagaimana berikut:
Kecukupan protein = (AKP x BB) x faktor koreksi mutu protein Keterangan :
AKP = Angka kecukupan protein (g/kgBB/hari) BB = Berat badan aktual (kg)
Faktor koreksi mutu protein dewasa = 1.3 dan bagi anak dan remaja = 1.5 Faktor koreksi mutu protein perempuan hamil = 1.2
Angka kecukupan vitamin dan mineral meliputi vitamin A, vitamin C, kalsium, dan zat besi dihitung berdasarkan AKG 2012 (LIPI 2013) menggunakan rumus berikut ini:
AKGI = (Ba/Bs) x AKG Keterangan :
AKGI = Angka kecukupan zat gizi yang dicari
Ba = Berat badan aktual sehat (kg) Bs = Berat badan standar AKG = Angka kecukupan zat gizi berdasarkan AKG 2012
Selanjutnya tingkat kecukupan gizi diperoleh dengan cara membandingkan jumlah konsumsi zat gizi tersebut dengan kecukupannya sesuai dengan kelompok umur dan jenis kelamin (LIPI 2013). Berikut rumus kecukupan zat gizi yang digunakan:
TKG = (K/AKGI) x 100% Keterangan :
TKG = Tingkat kecukupan gizi K = Konsumsi zat gizi
AKGI = Angka kecukupan zat gizi yang dicari
Menurut Departemen Kesehatan (1996), tingkat kecukupan energi dan protein dibedakan menjadi lima cut off points yaitu defisit tingkat berat (< 70% AKG), defisit tingkat sedang (70-79% AKG), defisit tingkat ringan (80-89% AKG), normal (90-119% AKG), serta berlebih (≥ 120% AKG). Adapun klasifikasi tingkat kecukupan vitamin dan mineral dibagi menjadi dua kategori menurut Gibson (2005), yaitu defisit apabila < 77% AKG serta cukup apabila ≥ 77% AKG.
Skor densitas energi dan densitas zat gizi pangan ditentukan berdasarkan data asupan konsumsi dari recall konsumsi 2 x 24 jam. Nilai atau skor densitas energi pangan dihitung menggunakan metode dietary energy density (DED) yang membandingkan antara jumlah asupan energi dengan total berat pangan (kkal/g), sebagaimana tercantum berikut ini (Wang et al. 2013).
Keterangan:
17 Adapun metode yang digunakan untuk menentukan densitas zat gizi pangan yaitu Nutrient Rich Food Index (NRF 9.3), yang merekomendasikan untuk mengoptimalkan konsumsi 9 jenis zat gizi esensial serta membatasi konsumsi 3 jenis zat gizi. Sembilan jenis zat gizi yang direkomendasikan untuk dioptimalkan konsumsinya yaitu protein, serat, vitamin A, vitamin C, vitamin E, kalsium (Ca), zat besi (Fe), magnesium (Mg), dan potasium (K); sedangkan tiga jenis zat gizi yang perlu dibatasi yaitu gula tambahan, asam lemak jenuh, serta natrium (Drewnowski 2009). Penentuan densitas zat gizi pangan dengan metode NRF 9.3 dihitung per 100 kkal makanan, sebagaimana berikut ini:
NRF 9.3 = ∑ 9(%DV/100kkal) - ∑ 3(%MRV/100kkal) Keterangan:
DV : Daily value (tingkat kecukupan gizi yang dianjurkan per hari) MRV : Maximum Recommended Value
Selanjutnya skor dietary energy density (DED) dan Nutrient Rich Food Index (NRF 9.3) diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sebagaimana Tabel 3. Tabel 3 Kategori skor densitas energi dan zat gizi pangan
Variabel Kategori Sumber
Densitas energi pangan
(DED)
DED tinggi (4-9 kkal/g pangan) Rolls (2009) DED sedang (1.5-4 kkal/g pangan)
DED rendah (0.6-1.5 kkal/g pangan) DED sangat rendah (0-0.6 kkal/g pangan) Densitas zat gizi
pangan (NRF 9.3) Kuintil 1 (skor < 1) Kuintil 2 (skor 1-10) Kuintil 3 (skor 11-20) Kuintil 4 (skor 21-30) Kuintil 5 (skor > 30) Drewsnowski (2010)
Skor NRF 9.3 kemudian dibandingkan dengan skor DED untuk mengetahui kualitas zat gizi pangan tersebut (Gambar 3). Semakin rendah skor DED dan semakin tinggi skor NRF 9.3 maka semakin baik kualitas gizi pangan tersebut dan sebaliknya. Ukuran lingkaran di dalam grafik menunjukkan jumlah makanan pada setiap kelompok pangan (Drewnowski 2009).
Gambar 3 Median skor Nutrient Rich Food Index (NRF 9.3) dan dietary energy density (DED)
18
Densitas asupan zat gizi (DG) ditentukan berdasarkan Drewnowski (2005) dan dikategorikan berdasarkan standar dari FAO. Rumus menentukan densitas asupan zat gizi (DG) adalah sebagai berikut:
DG = Asupan zat gizi x 1000 kkal Asupan energi (kkal)
Nilai densitas asupan zat gizi (DG), khususnya untuk vitamin dan mineral selanjutnya dikategorikan ke dalam kategori kurang apabila nilai DG lebih kecil dari standar FAO, serta kategori cukup apabila nilai DG sama atau lebih besar dari standar FAO. Sementara itu, densitas asupan protein memiliki tiga pengategorian menurut standar FAO, yaitu rendah, cukup, dan tinggi. Tabel 4 menjelaskan mengenai standar densitas asupan zat gizi berdasarkan standar FAO.
Tabel 4 Standar densitas asupan zat gizi
Zat gizi FAO
Protein*, g Rendah Cukup Tinggi < 20 20-40 > 40 Kalsium, mg 500-800 Zat besi, mg 7-40 Vitamin A, µg RE 700-1000 Vitamin C, mg 50-60 Keterangan:
*Diadaptasi berdasarkan WHO (1998) dan Drewnowski (2005) Analisis Data
Hasil pengolahan data selanjutnya dianalisis menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis univariat dilakukan menggunakan uji deksriptif untuk menggambarkan sebaran variabel yang diteliti berdasarkan persen dan rataan, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson untuk menganalisis hubungan antara: 1) karakteristik sosial ekonomi rumah tangga dengan tingkat kecukupan gizi rumah tangga; 2) karakteristik sosial ekonomi rumah tangga dengan densitas asupan zat gizi rumah tangga; 3) faktor kebiasaan makan dan sosio-budaya pangan dengan tingkat kecukupan gizi rumah tangga; dan 4) faktor kebiasaan makan dan sosio budaya pangan dengan densitas asupan zat gizi rumah tangga. Analisis multivariat dilakukan menggunakan uji regresi linear berganda untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi dan densitas asupan zat gizi rumah tangga. Model regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Model 1:
y1 = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + ε Keterangan:
y1 = Tingkat kecukupan gizi rumah tangga β0 = Intersep
19 β2X2 = Umur istri
β3X3 = Besar keluarga
β4X4 = Pendapatan rumah tangga (/kapita/bulan) β5X5 = Jumlah padi dalam lumbung padi (ikat) ε = Galat (error)
Model 2:
y2 = β0 + β1X1+ β2X2+ β3X3+ β4X4+ β5X5 + ε Keterangan:
y2 = Densitas asupan zat gizi rumah tangga β0 = Intersep
β1X1 = Umur suami β2X2 = Umur istri β3X3 = Besar keluarga
β4X4 = Pendapatan rumah tangga (/kapita/bulan) β5X5 = Jumlah padi dalam lumbung padi (ikat) Model 3:
y3 = β0 + β1X1+ β2X2+ β3X3 + ε Keterangan:
y3 = Tingkat kecukupan gizi rumah tangga β0 = Intersep
β1X1 = Frekuensi makan dalam rumah tangga (kali/hari) β2X2 = Preferensi pangan sumber zat gizi
β3X3 = Jumlah pantangan pangan dalam rumah tangga ε = Galat (error)
Model 4:
y4 = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + ε Keterangan:
y4 = Densitas asupan zat gizi rumah tangga β0 = Intersep
β1X1 = Frekuensi makan dalam rumah tangga (kali/hari) β2X2 = Preferensi pangan sumber zat gizi
β3X3 = Jumlah pantangan pangan dalam rumah tangga ε = Galat (error)
Definisi Operasional
Aspek sosial budaya gizi adalah faktor sosial budaya masyarakat setempat yang berpengaruh terhadap sistem pangan dan gizi masyarakat tersebut.
Densitas energi pangan adalah jumlah asupan energi yang terkandung dalam 100 gram makanan.
Densitas zat gizi pangan adalah jumlah asupan zat-zat gizi per unit kalori makanan atau perbandingan antara asupan zat-zat gizi terhadap total energi yang terkandung pada makanan.
20
Densitas asupan zat gizi adalah rasio jumlah jenis asupan zat gizi yang dikonsumsi per hari per 1000 kkal.
Frekuensi konsumsi pangan adalah jumlah atau seberapa sering individu mengonsumsi makanan lengkap dalam waktu sehari.
Frekuensi konsumsi menurut kelompok pangan adalah derajat keseringan mengonsumsi pangan dalam satu bulan terakhir.
Kebiasaan makan adalah kebiasaan individu atau rumah tangga dalam mengonsumsi pangan yang dipengaruhi oleh faktor fisiologi, psikologi, serta sosial budaya, baik meliputi frekuensi pangan, preferensi pangan, pola makanan yang dimakan, kepercayaan terhadap pangan, distribusi makanan dalam keluarga, penerimaan terhadap makanan, serta cara pemilihan bahan makanan yang hendak dimakan.
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dengan tersedianya pangan yang cukup, baik secara kuantitas maupun kualitas, aman, merata serta terjangkau.
Ketersediaan pangan rumah tangga adalah jumlah bahan makanan yang tersedia dalam rumah tangga atau keluarga baik yang diperoleh dari produksi sendiri, pembelian, ataupun pemberian yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan keluarga setiap harinya.
Konsumsi pangan adalah jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh individu atau rumah tangga dalam satuan gram per kapita per hari.
Pantangan pangan (foods taboo) adalah larangan/pantangan untuk mengonsumsi suatu jenis pangan tertentu yang dipercayai dan dianut secara turun temurun oleh suatu masyarakat, serta terdapat hukum adat atau akibat bagi yang melanggarnya.
Pola konsumsi pangan adalah susunan makanan yang biasa dikonsumsi mencakup jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi/dimakan oleh individu, rumah tangga, atau sekelompok masyarakat dalam frekuensi dan jangka waktu tertentu.
Preferensi pangan adalah tingkat kesukaan individu atau rumah tangga terhadap jenis pangan tertentu.