• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama enam bulan, diawali sejak bulan April hingga bulan September 2015. Lokasi penelitian yaitu di Kecamatan Katibung, Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa saat ini pertumbuhan industri berkembang dengan pesat di Kecamatan Katibung yang berlokasi di Desa Rangai Tritunggal dan Desa Tarahan tepatnya sepanjang koridor jalan Trans-Sumatera yang berbatasan langsung dengan Teluk Lampung. Selain itu, di kawasan pantai Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Rajabasa saat ini berkembang kegiatan industri berbasis perikanan yaitu tambak udang, hatchery skala menengah dan skala kecil. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 6.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan pengamatan lapangan secara langsung dan melalui wawancara dengan panduan kuesioner kepada pihak-pihak yang terkait baik pemerintah, pelaku industri maupun masyarakat. Data sekunder berupa peta, peraturan/perundang-undangan yang berlaku dan data numerik didapatkan dari berbagai dinas/instansi yang terkait antara lain Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT), Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), Dinas Koperasi, Perindustrian dan UKM, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta Kecamatan. Jenis data, sumber data, teknik analisis data serta hasil yang diharapkan untuk setiap tujuan penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.

24

25

Tabel 3 Jenis data, sumber data, teknik analisis dan hasil yang diharapkan

No Tujuan Jenis Data Sumber Data Teknik Analisis Hasil Yang

Diharapkan 1. Menentukan status keberlanjutan

wilayah berbasis industri di Pesisir Kabupaten Lampung Selatan

Data Primer dan sekunder Atribut-atribut dimensi keberlanjutan (ekonomi, sosial,ekologi, kelembagaan) Hasil kuesioner pelaku industri dan masyarakat (Kec. Katibung, Kalianda, dan Rajabasa), data sekunder dari dinas/instansi terkait Rap-Wilindustri Status indeks keberlanjutan tiap dimensi (ekonomi, sosial, ekologi dan kelembagaan) dan status keberlanjutan wilayah pesisir Kabupaten Lampung Selatan 2. Merumuskan arahan kebijakan

pengembangan wilayah pesisir di Kecamatan Katibung, Kalianda dan Rajabasa. Data Primer berkaitan dengan variabel pengembangan wilayah pesisir

Hasil analisis Rap- Wilindustri (atribut-atribut dari empat dimensi keberlanjutan) Hasil wawancara dengan dinas/instansi, dan peraturan-peraturan yang terkait mengenai pengembangan wilayah pesisir Analisis AHP- Prospektif, Rap- Wilindustri dan Deskriptif Arahan kebijakan pengembangan wilayah berbasis industri di Kecamatan Katibung, Kalianda dan Rajabasa

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara dengan panduan kuesioner. Wawancara dilakukan kepada responden yang terkait dan mewakili unsur pemerintah, swasta (pelaku industri) dan masyarakat. Wawancara dilakukan dengan teknik purposive sampling.

Sampling Purposive adalah sampel yang dipilih dengan cermat hingga relevan dengan desain penelitian (Nasution 2007). Responden yang dipilih adalah responden yang mengetahui konsep pembangunan berkelanjutan, dan pelaku industri serta tokoh masyarakat yang berperan aktif dalam pembangunan wilayah, dengan demikian pemilihan responden dianggap cukup representatif. Penentuan responden dilakukan dengan dua cara yaitu :

Pertama, responden dari kalangan pelaku industri dan masyarakat, bertujuan untuk mengetahui keberlanjutan wilayah berbasis industri sesuai dengan atribut- atribut yang dianggap berpengaruh pada keberlanjutan dimensi ekonomi, sosial, ekologi dan kelembagaan. Kedua, responden dari kalangan pakar (pemerintah), bertujuan untuk mengetahui arahan kebijakan pengembangan wilayah berbasis industri pada tiga kecamatan, dimana tiap-tiap lokasi memiliki kekhasannya masing-masing. Sehingga arahan kebijakan pengembangan wilayah disesuaikan dengan keadaan wilayah, serta fasilitas pendukung yang terdapat di tiap kecamatan tersebut. Responden dari unsur pemerintah sebanyak 9 orang dipilih secara sengaja, responden yang dipiih memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji. Syarat-syarat responden pakar antara lain: (a) Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai bidang yang dikaji, (b) Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang yang dikaji dan telah menunjukkan kredibilitasnya sebagai ahli atau pakar pada bidang yang diteliti, (c) Mempunyaai komitmen terhadap permasalahan yang dikaji, (d) Bersifat netral dan bersedia menerima pendapat responden lain, dan (e) Memiliki kredibilitas tinggi dan bersedia dimintai pendapat (Suyitman et al. 2009). Jumlah responden pakar dari unsur pemerintah, masyarakat dan pelaku industri disajikan pada Tabel 4 dan 5.

Tabel 4 Jumlah responden dari unsur pemerintahan di Kabupaten Lampung

Selatan

Asal Responden Jumlah (orang)

Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) 1 Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) 1

Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) 1

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) 1

Dinas Koperasi, Perindustrian dan UKM 1

Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) 1 Kecamatan Katibung 1 Kecamatan Kalianda 1 Kecamatan Rajabasa 1 Jumlah Responden 9

Tabel 5 Jumlah responden pelaku industri dan unsur Masyarakat

Kecamatan Industri Unsur Masyarakat

Katibung 6 1

Kalianda 8 1

Rajabasa 3 1

Jumlah 17 3

Sedangkan pengumpulan data sekunder berupa data numerik, peraturan/ perundang-undangan mengenai penataan ruang yang berlaku, dan peta diperoleh dari studi literatur, dan dari berbagai dinas/instansi yang terkait di wilayah penelitian. Beberapa peraturan dan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :

1) Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

2) Undang-Undang No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

4) Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional 5) Peraturan Daerah No. 15 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2011-2031, diperoleh dari Bappeda Kabupaten Lampung Selatan

6) Peta RTRW Kabupaten Lampung Selatan, diperoleh dari Bappeda Kabupaten Lampung Selatan

7) Data numerik Kabupaten Lampung Selatan, diperoleh dari BPS, BLHD, Dinas Koperasi, Perindustrian dan UKM, DKP dan Kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan.

Metode Analisis Data

Analisis Keberlanjutan

Metode analisis keberlanjutan wilayah berbasis industri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan dilakukan dengan pendekatan Multi-Dimensional Scaling (MDS) yang di sebut dengan Rap-Willndustri, merupakan modifikasi pendekatan dari program Rapfish (Rapid Appraisal Techniques for Fisheries), metode ini dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British Columbia (Kavanagh dan Pitcher 2004). Metode ini secara umum diperkenalkan untuk mengetahui status keberlanjutan perikanan tangkap (Pitcher dan Preikshot 2001). Di Indonesia, pada awalnya metode Rapfish juga digunakan mengetahui status keberlanjutan perikanan tangkap (Fauzi dan Anna 2002, Hartono et al. 2005). Implementasi Rapfish tidak hanya terbatas untuk mengetahui keberlanjutan perikanan tangkap. Oleh karena itu, beberapa penelitian menggunakan metode Rapfish dengan memodifikasi atribut-atribut yang digunakan. Maza (2013) menggunakan metode Rapfish dalam penentuan keberlanjutan sosial-ekonomi terhadap strategi penangkapan ikan tuna. Modifikasi Rapfish dilakukan oleh

Hidajat et al. (2013) untuk mengetahui status keberlanjutan wilayah permukiman disekitar area metropolitan Jakarta. Hal yang sama juga dilakukan oleh Marzuki (2014) Rapfish digunakan untuk mengetahui status keberlanjutan management mariculture (budidaya rumput laut dan kerapu).

Metode MDS dilakukan melalui beberapa tahapan (Kavanagh dan Pitcher 2004, Hidayanto et al. 2009). Tahapan penentuan status keberlanjutan wilayah pesisir berbasis industri di Kabupaten Lampung Selatan adalah sebagai berikut: (a) Penentuan atribut pada setiap dimensi keberlanjutan dan mengidentifikasinya melalui kajian pustaka dan pengamatan lapangan; (b) Penilaian atribut dalam skala ordinal (skoring) berdasarkan hasil survey dan wawancara; (c) Analisis ordinasi dengan MDS untuk menentukan posisi status keberlanjutan pada setiap dimensi dalam skala indeks keberlanjutan; (d) Menilai indeks dan status keberlanjutan pada setiap dimensi; (e) Melakukan sensitivity analysis (leverage analysis) untuk menentukan peubah yang sensitif mempengaruhi keberlanjutan; (f) Analisis Monte Carlo untuk memperhitungkan dimensi ketidakpastian. Bagan proses analisis keberlanjutan wilayah berbasis industri mengunakan Rap- Wilindustri dapat dilihat pada Gambar 7.

Setiap atribut pada masing-masing dimensi diberikan skor berdasarkan scientific judgement dari pembuat skor. Rentang skor berkisar 0-4, yang diartikan mulai dari yang buruk (0) hingga baik (4) ataupun sebaliknya. Kemudian nilai skor dari masing-masing atribut dianalisis secara multidimensional untuk menentukan beberapa titik yang mencerminkan posisi keberlanjutan wilayah berbasis industri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan yang dikaji terhadap dua titik acuan yaitu titik baik (good) dan titik buruk (bad). Adapun skala indeks keberlanjutan yang dikaji mempunyai selang 0 persen – 100 persen, secara rinci tertera pada Tabel 6.

Tabel 6 Kategori indeks dan status keberlanjutan

Nilai indeks (persen) Kategori

0 - 25 25,01 - 50 50,01 - 75 75,01 - 100

Buruk (tidak berkelanjutan) Kurang (kurang berkelanjutan)

Cukup (cukup berkelanjutan) Baik (berkelanjutan)

Analisis leverage dilakukan untuk mengetahui atribut yang sensitif dan intervensi atau perbaikan yang perlu dilakukan. Atibut yang sensitif diperoleh berdasarkan hasil analisis leverage yang terlihat pada perubahan Root Mean Square (RMS) ordinasi pada sumbu X. Semakin besar perubahan RMS, maka semakin sensitif peranan atribut tersebut terhadap peningkatan status keberlanjutan.

Analisis Monte Carlo, merupakan analisis yang berfungsi sebagai penduga pengaruh galat pada selang kepercayaan 95 persen. Nilai indeks Monte Carlo ini dibandingkan dengan indeks MDS. Apabila perbandingan kedua nilai indeks tersebut kecil, mengindikasikan bahwa: (1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil, (2) variasi pemberian skor akibat perbedaan opini relatif kecil, (3) proses analisis yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, (4) kesalahan pemasukan data dan data yang hilang dapat dihindari.

Nilai stress dan koefisien determinasi (R2) berfungsi untuk mengetahui perlu tidaknya penambahan atribut dan mencerminkan keakuratan dimensi yang dikaji dengan keadaan sebenarnya. Menurut Fauzi dan Anna (2002), Goodness of fit dalam MDS dicerminkan dari besaran nilai S-Stress. Nilai stress yang rendah menunjukkan good fit sementara nilai stress yang tinggi sebaliknya. Di dalam Rapfish model yang baik ditunjukkan dengan nilai stress yang lebih kecil dari 0,25 (S < 0,25).

Metode Rapfish telah mengalami sejumlah perbaikan dan penyempurnaan sejak pertama kali diperkenalkan oleh Pitcher dan Preikshot (2001). Evaluasi penilaian keberlanjutan pada bidang-bidang yang telah dikembangkan yaitu: ekologi, teknologi, ekonomi, sosial, etika dan kelembagaan. Pitcher et al. (2013) menyebutkan beberapa pembaruan dalam metode Rapfish, yaitu mengenai:

1. Adanya tambahan dan revisi atribut pada setiap bidang evaluasi keberlanjutan Rapfish.

2. Penjelasan dan pedoman dalam skoring

3. Rapfish selain dapat digunakan untuk mengevaluasi kelembagaan saat ini Rapfish juga dapat digunakan dalam menilai pemerintahan dan manajemen. 4. Pengenalan melalui pendekatan evaluasi bertingkat

5. Aplikasi terbaru dari Rapfish dapat menampilkan bentuk selain status keberlanjutan

6. Perbaikan algoritma Rapfish, termasuk analisis berbasis web R-kode.

Gambar 7 Bagan proses Rap-Wilindustri (dimodifikasi dari Fauzi dan Anna 2002)

Analisis Monte Carlo (analisis ketidakpastian)

Analisis Leverage

(analisis anomali)

Review atribut

(berbagai kategori dan skoring kriteria)

Identifikasi dan pendefinisian industri (didasarkan kriteria yang konsisten)

Mulai

Penilaian skor setiap atribut

Multidimensional Scalling Ordination (untuk setiap atribut)

Analisis keberlanjutan (Assess Sustainability)

Arahan Pengembangan Wilayah Pesisir

Arahan pengembangan wilayah berbasis industri dipesisir Kabupaten Lampung Selatan diawali dengan menentukan prioritas atribut yang diupayakan untuk diperbaiki dari setiap dimensi keberlanjutan (ekonomi, sosial, ekologi dan kelembagaan) dengan pendekatan analytical hierarchy process. AHP dilakukan pada seluruh atribut sensitif tiap-tiap dimensi keberlanjutan untuk melihat atribut mana yang harus diprioritaskan dalam upaya perbaikan sehubungan dengan perencanaan pembangunan wilayah berbasis industri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan.

Proses hirarki analitik (analytical hierarchy proses) adalah suatu teknik kuatitatif yang dikembangkan untuk kasus-kasus yang memuliki berbagai tingkat (hirarki) analisis. Metode ini merupakan suatu cara praktis untuk menangani bermacam hubungan fungsional dalam suatu jaringan yang kompleks. Metode AHP menggunakan perbandingan berpasangan, menghitung faktor pembobot dan menganalisisnya untuk menghasilkan prioritas relatif di antara alternatif yang ada (Herjanto 2009).

Menurut Syaifullah (2008) AHP didasarkan pada tiga prinsip dasar yaitu: 1. Dekomposisi

Prinsip yang digunakan adalah dengan membagi masalah yang kompleks secara hierarki. Level paling atas dari hierarki merupakan tujuan yang terdiri dari satu elemen. Level berikutanya mungkin mengandung beberapa elemen, dimana elemen-elemen tersebut dapat dibandingkan, memiliki kepentingan yang hampir sama dan tidak memiliki perbedaan yang terlalu mencolok. 2. Perbandingan penilaian/pertimbangan (comparative judgements).

Dengan prinsip ini akan dibangun perbandingan berpasangan dari semua elemen yang ada dengan tujuan menghasilkan skala penilaian berupa angka. Perbandingan berpasangan dalam bentuk matriks jika dikombinasikan akan menghasilkan prioritas.

3. Sintesa Prioritas

Sintesa prioritas dilakukan dengan mengalikan prioritas lokal dengan prioritas dari kriteria bersangkutan di level atasnya dan menambahkan ke tiap elemen dalam level yang dipengaruhi kriteria. Hasilnya berupa gabungan atau dikenal dengan prioritas global yang kemudian digunakan untuk memboboti prioritas lokal dari elemen dilevel terendah sesuai dengan kriterinya.

Adapun tahapan-tahapan dalam metode AHP adalah sebagai berikut: 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan

Penentuan masalah yang akan dipecahkan secara jelas, detil dan mudah dipahami.

2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama

Dengan cara membuat tujuan utama sebagai level teratas, kemudian disusun hierarki dibawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai alternatif yang kita berikan dan menentukan alternatif tersebut.

3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya.

Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan.

4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah penilaian keseluruhan sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.

Hasil perbandingan tiap elemen berupa angka 1 sampai 9 yang menunjukkan perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Skala perbandingan berpasangan dan maknanya dijelaskan sebagai berikut:

Intesitas kepentingan:

1 = Kedua elemen sama pentingnya, sama-sama memiliki pengaruh yang besar

3 = Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya 5 = Elemen yang satu lebih penting daripada yang lainnya

7 = Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya 9 = Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen lainya

2,4,6,8 = Nilai-nilai diantara dua nilai pertimbanga-pertimbangan yang berdekatan

5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya Jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi 6. Mengulangi langkah 3,4,5 untuk seluruh tingkat hirarki

7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan Perhitungan dilakukan lewat cara menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap nilai dari kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks dan menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan rata-rata. 8. Memeriksa konsistensi hierarki

AHP menghitung konsistensi dengan melihat indeks konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Rasio konsistensi yang diharapkan adalah sebesar kurang dari atau sama dengan 10%.

Penghitungan bobot setiap atribut sensitif pada masing-masing dimensi keberlanjutan untuk menentukan prioritas perbaikan atribut-atribut sensitif dilakukan dengan bantuan software expert choice 2000. Selanjutnya skenario pengembangan wilayah berbasis industri dipesisir Kabupaten Lampung Selatan dilakukan dengan mengadopsi teknik analisis prospektif. Analisis prospektif merupakan analisis peramalan hasil pada masa yang akan datang (Sholihin 2010), output dari analisis prospektif adalah hasil yang diharapkan pada masa yang akan datang dalam hal ini digunakan sebagai arahan pengembangan wilayah.

Pada penelitian ini analisis prospektif dilakukan dengan mempertimbangkan prioritas upaya perbaikan pada semua atribut sensitif berdasarkan hasil Analytical Hierarchy Process (AHP) yang mempengaruhi keberlanjutan dari empat dimensi keberlanjutan (ekonomi, sosial, ekologi dan kelembagaan) yang menjadi tolak ukur keberlanjutan wilayah berbasis industri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan. Analisis prospektif dilakukan dalam beberapa tahapan (Bourgeois dan Jesus dalam Damai et al. 2011, Apriyani et al. 2014). Tahapan analisis prospektif

pada penelitian ini dilakukan dengan beberapa modifikasi. Tahapan-tahapan analisis prospektif dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menentukan tujuan sistem yang dikaji secara spesifik dan dapat dimengerti oleh semua pakar yang diminta pendapatnya. Tujuan sistem yang dikaji adalah pengembangan wilayah pesisir berbasis industri.

2. Indentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh yang merupakan atribut-atribut sensitif hasil analisis leverage.

3. Penentuan prioritas upaya perbaikan atribut berdasarkan pendapat para pakar melalui analisis AHP.

4. Penyusunan keadaan yang mungkin terjadi (state) pada faktor. Keadaan bukan merupakan tingkatan atau ukuran suatu faktor (seperti besar, sedang, kecil, atau baik/buruk), tetapi merupakan deskripsi tentang situasi dari sebuah faktor. 5. Membangun dan memilih skenario. Skenario disusun berdasarkan kombinasi

dari hubungan beberapa keadaan faktor secara timbal balik (mutual compatibel) dari keadaan yang paling pesimis sampai paling optimis.

6. Analisis skenario dan penyusunan strategi.

Pada penelitian ini terdapat tiga skenario yang disusun sebagai arahan pengembangan wilayah berbasis industri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan, secara rinci disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Deskripsi masing-masing skenario pengembangan wilayah

Skenario Deskripsi

Konservatif-Pesimistik Mempertahankan kondisi sesuai dengan status pada keadaan eksisting dan melakukan upaya perbaikan seadanya terhadap atribut-atribut (faktor) kunci. (Sebanyak 25% dari seluruh atribut sensitif).

Moderat-Optimistik Mempertahankan kondisi sesuai dengan status pada

keadaan eksisting dan melakukan upaya perbaikan pada beberapa atribut-atribut (faktor) kunci. (Sebanyak 50% dari seluruh atribut sensitif).

Progresif-Optimistik Mempertahankan kondisi sesuai dengan status pada

keadaan eksisting dan melakukan upaya perbaikan terhadap atribut-atribut (faktor) kunci pada kondisi maksimal. (Mendekati 100% atau keseluruhan atribut sensitif).

Sumber : dimodifikasi dari Sampeliling et al. (2012)

Arahan kebijakan pengembangan wilayah berbasis industri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan, disusun berdasarkan instrumen hukum yang menjadi landasan dalam penentuan kebijakan pengembangan wilayah, atribut sensitif hasil analisis Rap-wilindustri, prioritas atribut yang diupayakan untuk diperbaiki, serta mempertimbangkan potensi dan karakteristik yang dimiliki oleh tiap-tiap wilayah.

Dokumen terkait